Setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu

Saat saya pergi ke sebuah gereja untuk studi banding perangkat multimedia dan broadcast system-nya, saya menyimak kotbahnya Pendeta Moh. Riza Solihin. Ada yang menarik buat saya, di mana temanya adalah tentang rest area. Sebuah kalimat yang saya ingat karena saya anggap penting adalah, setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu. Ya, benar sekali. Apapun bentuk perjalanannya, pasti kita membutuhkan tenaga, waktu bahkan juga uang. Tak jarang hal itu merupakan pengorbanan yang harus dilakukan. Terlebih, hidup ini sendiri bukankah juga merupakan sebuah perjalanan?

Perjalanan memang pasti berkaitan dengan dua hal, yakni ruang dan waktu. Ruang artinya bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Setiap pergerakan selain menempuh ruang, tentu membutuhkan waktu. Ketika saya belajar di sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kuliah, ini juga merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan dari saya kecil hingga dewasa, membutuhkan waktu dan pastinya mengkonsumsi banyak hal.

Demikian juga soal perjalanan hidup, perjalanan menjadi sesuatu, termasuk menjadi seorang entrepreneur, pasti mengkonsumsi sesuatu. Semua itu pasti berkaitan dengan resiko. Namun seorang entrepreneur bukan seorang yang mencari resiko (risk seeker), tapi seorang pengambil resiko (risk taker). Resiko yang diambil tentunya apa yang dikonsumsi ternyata tidak memperoleh imbalan seperti yang diharapkan. Bisa rugi dalam hal waktu, tenaga, pikiran bahkan modal finansial.

Berkaitan dengan hal ini, maka di sinilah pentingnya seorang entrepreneur melakukan sesuai dengan passionnya. Apakah passion itu? 

Passion adalah apa yang kita sukai untuk kerjakan. Sesuatu yang dari dalam akan membuat kita mau melakukannya, walau tanpa imbalan. Jadi ini menjadi motivasi dari dalam diri (motivasi intrinsik). Ada buku lama yang bagus dari Stephen Covey yakni "The Seven Habits of Highly Effective People". Juga buku dari penulis yang sama: "The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness"

Memang tidak semua orang berhasil dengan mudah menemukan passionnya. Ada yang berpendapat bahwa passion tidak bisa dipaksakan, tapi sebenarnya passion bisa dibiasakan. Ibarat pepatah mengatakan, "Witing tresna jalaran saka kulina." Jadi ini mengatakan bahwa melalui habit, bisa menjadi sebuah passion. Aristoteles juga mengatakan, "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." Hal ini yang membuat Dave Evans, pengajar pendamping dari sebuah kursus popular mengenai “Designing Your Life” dari Stanford University, mengatakan , “Kita tidak memulai dengan bertanya 'apa passionmu?' Kebanyakan orang tidak memiliki sebuah passion, atau bahkan punya banyak. Namun dimulai dengan pertanyaan, apa yang kita lakukan?"

Ketika perjalanan menjadi seorang entrepreneur mengkonsumsi banyak hal, ketika dilakukan sesuai passionnya maka gairah yang ada membuatnya tak mudah lelah. Memang bisa saja orang bekerja atau melakukan usaha yang tidak sesuai dengan passionnya. Tapi hal ini pasti akan membuatnya cepat lelah, stress atau bahkan mudah menyerah. Lakukan dengan passion maka perjalanan Anda menjadi dan sebagai entrepreneur akan lebih menyenangkan.

Ada sebuah puisi tentang mengapa kita perlu mencintai apa yang kita kerjakan...


CINTAILAH APA YANG KAMU KERJAKAN

Kalau engkau tidak menyukai pekerjaanmu,
Engkau akan membutuhkan tenaga tiga kali lipat!
Untuk memaksa dirimu untuk bekerja,
Untuk melawan dorongan itu, dan akhirnya untuk bekerja.

Kalau engkau mencintai pekerjaanmu,
Keinginanmu untuk mengerjakannya
Akan seperti angin yang mendorong kapalmu
Dengan bahan bakar yang jauh lebih sedikit.

Kalau engkau menyukai pekerjaanmu
engkau sebenarnya tidak bekerja lagi
karena pekerjaan apabila disukai,
bukan lagi pekerjaan melainkan kenikmatan!!

Kalau engkau menikmati pekerjaanmu,
Engkau akan bekerja,dan
bekerja tanpa menghitung jam, dan
Engkau akan menuai dan menikmati hasilnya juga.



Film lama 8mm

Proyektornya tidak sama persis, namun kira-kira seperti ini
Jauh sebelum ada Youtube, DVD, VCD, digital video seperti laser disk, bahkan VHS dan Betamax, waktu masih kecil di rumah ada proyektor film 8mm. Yang saya ingat ada 3 film. Memang ada persewaan film 8mm saat itu dengan film-film bisu. Film yang ada di rumah adalah Abbot Costello, Apollo XI dan sebuah film keluarga saat saya masih kecil. Film ini yang saya ingat merekam ketika saya berusia mungkin belum 2 tahun (sekitar akhir tahun 1967), karena sepertinya waktu itu ibu saya sedang hamil adik saya. Sebuah film saat pergi ke kota Probolinggo, ke tempat pelelangan kayu di mana Opa Suryo bekerja, serta saat ke Bali. Sayang, film ini sudah tidak ada lagi, entah hilang waktu kapan dan di mana. Alat proyektornya juga sudah tidak ada.

Film Abbot Costello ini belakangan saya temukan ada di Youtube. Melihatnya jadi mengenang kembali masa kecil. Cerita tentang balapan mobil yang seru. Film ini kalau tidak ada Youtube, saya tidak akan tahu judulnya, yakni "Midget Car Maniacs".



Film yang satu lagi tentang perjalanan manusia ke bulan. Filmnya hitam putih dan tanpa suara. Saya tidak tahu persis apakah video yang ada di Youtube di bawah ini sama dengan yang saya lihat dulu. Tapi kemungkinan besar adalah itu. Entah, apakah karena saya berulang kali menonton film ini, membuat saya suka dengan astronomi dan perjalanan antariksa.



Kini perkembangan teknologi sudah sangat luar biasa. Video-video lama bisa kita dapatkan dengan mudah. Yang sangat saya sayangkan adalah video keluarga yang hilang entah kemana. Yang pasti hanya tinggal memori yang merekam potongan-potongan adegan dari film tersebut. Saya merasa keluarga saya sudah sejak awal membiasakan untuk mendokumentasikan peristiwa. Entah berupa cerita, foto maupun film.

Role Model


A role model is a person who inspires and encourages us to strive for greatness, live to our fullest potential and see the best in ourselves.

Mengapa banyak remaja atau mahasiswa yang tidak tahu tujuan hidupnya atau juga bingung dengan passionnya. Mereka tidak tahu cara meraih mimpi, mencapai sukses, bahkan tidak berani bermimpi. Cenderung memilih menjalani saja apa yang ada saat ini. Ketika punya mimpi pun, tak sedikit yang kehilangan arah dalam mewujudkannya. Saat ditanya apa passionnya, mereka juga bingung.

Salah satu cara untuk membentuk passion sekaligus tujuan hidup adalah adanya role model. Ini erat kaitannya dengan keteladanan. Albert Bandura yang terkenal dengan teori pembelajaran sosial, mengemukakan sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku (modeling).
Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu "Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakukan, perbuatan, sifat, dan sebagainya)". Sedangkan Wikipedia menjelaskan role model sebagai "person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others" yang artinya "Orang yang berfungsi sebagai contoh, yang perilakunya ditiru orang lain". - See more at: http://masvi2n.blogspot.com/2013/04/role-model-itu-penting.html#sthash.c0xFscH6.dpuf
Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu "Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakukan, perbuatan, sifat, dan sebagainya)". Sedangkan Wikipedia menjelaskan role model sebagai "person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others" yang artinya "Orang yang berfungsi sebagai contoh, yang perilakunya ditiru orang lain". - See more at: http://masvi2n.blogspot.com/2013/04/role-model-itu-penting.html#sthash.c0xFscH6.dpuf

Role model terdekat adalah keluarganya, orang tuanya. Tapi seringkali, orang tua tidak mendidik anaknya sesuai dengan dirinya. Misalnya, ayahnya seorang guru, tidak ingin anaknya juga jadi guru. Orangtuanya petani dan tidak ingin anaknya jadi petani juga. Orang tua juga seringkali ingin anaknya bisa hidup layak sehingga merasa perlu campur tangan dengan bidang studi anaknya di perguruan tinggi. Tapi semua itu menurut saya yang penting adalah role model.

Nah, role model ini bisa dibentuk melalui film. Film yang ditonton anak-anak kita, barangkali kebanyakan adalah sinetron di televisi. Kita tahu sinetron apa yang lagi trend. Banyak sinetron menggambarkan situasi keluarga yang sangat kaya raya (entah dapat uangnya dari mana), dengan empat kondisi yang selalu ada yakni: keserakahan, iri hati, dendam dan perselingkuhan.

Coba kita bandingkan dengan film seri di luar negeri, seperti di AS. Ada film seri tentang dokter, misalnya Doogie Houser MD, ER, dan lain sebagainya. Ada cerita tentang pengacara, ada yang tentang polisi, bahkan ada yang tentang kehidupan pemadam kebakaran, tentara, dan lain sebagainya. Ini bisa menjadi sebuah role model. Paling tidak, film ini jika ditonton anak-anak, akan membuatnya ada yang tertarik menjadi polisi, menjadi perawat, dokter, atau mungkin juga pengacara. Film yang disuguhkan juga membentuk karakter, bagaimana etika dan integritas perlu dijaga.

Saya tidak tahu sejauh mana pengaruh film sinetron kita saat ini terhadap pemikiran anak-anak dan remaja kita. Di sekolah juga dipacu untuk mencari nilai terbaik. Anak barangkali bukan saja kurang diberi kesempatan untuk mengungkapkan ingin jadi apa, tapi seringkali memang benar-benar tidak tahu ingin jadi apa.  Menurut saya, kuncinya adalah role model atau tokoh yang dikaguminya. Repotnya, sekarang yang dikagumi kebanyakan adalah artis.

Jadilah Entrepreneur!


Bagaimana menjadi entrepreneur? Ada banyak resep dan tips untuk melangkah menjadi seorang pengusaha. Setidaknya yang diperlukan adalah perubahan mindset, sikap dan ketrampilan. Tentu saja tidak mengubah hal ini karena tantangan selalu ada.


Memang jika sudah punya keluarga dan sudah bekerja mapan di sebuah perusahaan, menjadi sebuah hambatan untuk memulai bisnis sendiri. Banyak saran mengatakan bahwa lakukan keduanya, yakni bekerja dan juga berwirausaha. Tapi benar, ini juga tidak mudah. Kita perlu fokus. Kalau usaha kita lakukan secara sampingan, nanti hasilnya juga sampingan. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Setiap langkah yang diambil pasti ada resiko. Keraguan untuk memulai yang baru, ini memang bukan sekedar sudah enak di zona nyaman. Tapi tentu banyak yang harus dipikirkan. Menjadi makin berat kalau selama ini tabungan yang berhasil dikumpulkan juga masih belum banyak, plus kalau masih banyak tanggungan cicilan pinjaman, entah rumah atau lainnya. Ini tidak mudah.

Ilustrasi di atas adalah ringkasan seminar tentang entrepreneurship yang pernah saya berikan. Banyak hambatan untuk menjadi entrepreneur, antara lain merasa kurang cukup modal, merasa sulit, tidak  tahu harus berusaha apa, merasa tidak aman, takut resiko gagal dan sebagainya.

Tentunya, untuk memasuki dunia yang serba tidak pasti ini butuh keteguhan hati. Yang diperlukan sejatinya bukan uang sebagai modal, tapi diri kita sendiri. Siapa kita, apa yang bisa kita lakukan dan siapa saja yang kita kenal. Selanjutnya memang kita perlu menempa diri lebih percaya diri, berusaha memimpin diri kita sendiri. Punya semangat yang tahan uji dan determinasi yang kuat.

Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Salam entrepreneur!

Beda Entrepreneur yang satu dengan yang lain





Jadi entrepreneur itu tidak mudah. Walau banyak yang ingin jadi entrepreneur, namun niat ini seringkali tidak berakhir sesuai harapan. Bagi yang sudah melangkah menjadi entrepreneur, dan sukses, ceritanya bisa lain.

Ketika menjadi moderator di acara temu darat UCEO (Universitas Ciputra Entrepreneurship Online) di kota Malang, 18 Desember 2013, ada temuan menarik. Saat itu saya menanyakan, apa yang membuat seorang entrepreneur berbeda dengan yang lainnya? Bukankah produk inovatif dengan mudah ditiru orang lain, bisnis model juga bisa diadopsi dengan mudah. Ternyata ada tiga hal dari jawaban para peserta yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang lain. Tiga hal itu adalah:

1. Mimpi
2. Daya juang
3. Link.

Yang pertama adalah mimpi. Mimpi seseorang berbeda dengan orang lain. Misalnya, dalam hal beli rumah saja, meski banyak orang punya rumah yang besar, tapi tiap orang beda besarnya. Bahkan ada yang tidak mau punya rumah besar karena repot mengurusnya. Mimpi yang berbeda ini membuat orang berbeda dalam melangkah. Repotnya, ada yang untuk bermimpi saja tidak bisa. Tidak tahu apa tujuan hidupnya, bingung mau jadi apa. Kalau kita sama sekali tidak punya mimpi atau angan, maka kita perjalanan hidup kita tidak akan terarah. Hidup tanpa arah tujuan ibarat kapal yang hanyut di tengah lautan.

Kedua adalah daya juang. Ini bisa diterjemahkan juga dengan determinasi. Seberapa kuat keinginannya untuk mencapai tujuan. Ada orang yang mudah menyerah. Ada orang yang memiliki kemauan kuat dan tahan uji. Ada buku yang berjudul Adversity Quotient (AQ) ditulis oleh Paul G. Stoltz. Adversity adalah daya tahan menghadapi masalah. Stoltz membagi tiga tipe manusia yang diibaratkan sedang dalam perjalanan mendaki sebuah gunung. Pertama adalah tipe high-AQ dinamakan Climbers, kelompok yang suka mencari tantangan. Yang kedua, low-AQ dinamakan Quitters. Kelompok ini mudah menyerah dan melarikan diri dari tantangan. Yang ketiga AQ sedang/moderat (campers). Jika para qutters adalah para pekerja yang  sekadar untuk bertahan hidup dan gampang putus asa serta menyerah di tengah jalan, tipe Camper  (berkemah di tengah  perjalanan) lebih baik, karena  biasanya  mereka  berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap cepat merasa puas dan tidak ingin berusaha lebih lagi mencapai puncak yang lebih tinggi.

Nah, yang ketiga adalah link atau jaringan/network. Setiap orang berbeda temannya, berbeda siapa yang dikenalnya. Tak ada entrepreneur yang bisa sukses seorang diri. Pasti membutuhkan orang lain, entah sebagai partner bisnis, rekan bisnis, pelanggan atau supplier, bahkan mentor. Menurut prinsip efektuasi yang dikemukakan oleh Saras D. Sarasvathy,  ini merupakan salah satu dari komponen bird in hand (siapa saya, apa yang bisa saya lakukan dan siapa yang saya kenal). Tentu saja, kenal saja tidak cukup. Entrepreneur harus bisa menjalin kerja sama dan komitmen saling menguntungkan dengan kenalan yang dimilikinya.

Ketiga hal inilah yang membuat seorang entrepreneur berbeda dengan yang lainnya. Jadilah entrepreneur dengan memiliki mimpi besar, daya juang yang kuat serta link yang berkualitas.


"A dream doesn't become reality through magic; it takes sweat, determination and hard work." - Colin Powell

Salam entrepreneur!



Apa passion Anda?

 

Apa itu passion? Kata passion ini sudah menjadi trend dalam seminar-seminar. Passion itu terjemahan mudahnya adalah hasrat. Apa yang membuat kita berhasrat melakukannya. Sebenarnya dalam kelompok besarnya bisa dibagi ke dalam 6 jenis. Pembagian ini berdasarkan value yang dianut oleh manusia. Teorinya dikemukakan oleh pakar psikologi yang namanya Eduard Spranger. Keenam tipe ini adalah:

1. Tipe agama
2. Tipe pengetahuan
3. Tipe ekonomi
4. Tipe politik
5. Tipe sosial
6. Tipe artistik.

Urutan di atas bukan merupakan mana yang lebih baik, tapi berdasarkan apa yang menjadi hasratnya. Cara mengujinya memang mudah. Misalnya, kalau anda dapat rejeki, apa yang akan anda lakukan dengan uang anda. Apakah berencana untuk membantu orang lain (tipe sosial), atau untuk beli buku atau belajar (tipe pengetahuan), atau untuk dana jadi kepala desa (tipe politik), atau untuk bikin sanggar seni entah musik, tari, lukis, dll (tipe artistik), atau untuk bisnis (tipe ekonomi).

Lalu, apa tipe yang bukan tipe ekonomi ini tidak cocok jadi entrepreneur? Tentu saja bisa. Untuk itu, akan ada seniman yang entrepreneurial, ada pemimpin daerah yang entrepreneurial, guru yang entrepreneurial, dan sebagainya.

Ada novel bagus dari Dee (Dewi Lestari) yang judulnya Perahu Kertas dan juga Madre. Jika sudah baca novelnya atau lihat filmnya, ini berkaitan dengan passion. Dalam Perahu Kertas, ada pelukis, Keenan (tipe artistik), yang oleh keluarganya harus jadi pemimpin perusahaan (tipe ekonomi), serta Kugy, yang tipe sosial, harus bekerja sementara keinginannya untuk membantu anak-anak untuk belajar ejadi terbengkalai. Dalam film Madre juga sama, seorang yang boleh dibilang seniman, karena dapat warisan, harus mengelola usahanya. Ini memang bicara passion.

Jadi, coba gali, apa passion dari Sri Redjeki. Di antara keenam tipe itu, mana yang paling kuat. Bisa saja ada kombinasi, misalnya agama dan pengetahuan. Sebagai contoh, Gus Dur, menurut saya adalah tipe pengetahuan, dan karena lingkungan keluarganya, beliau juga tipe agama. Tapi ketika menjadi presiden, di mana harus menjadi manusia politik, beliau tidak bisa "berbasa-basi" sebagaimana harusnya politikus.  Hal yang sama juga dengan BJ. Habibie, yang juga gabungan tipe pengetahuan dan ekonomi. Bagi beliau, asal menguntungkan, pesawat ditukar ketan juga tak masalah. Tapi ini dianggap aneh bagi orang yang bukan tipe ekonomi dan menjadi buruk di mata politik.

Memang, bagi manusia tipe ekonomi di mana lebih mudah ke arah mencari uang lewat berjualan atau berbisnis, maka tipe ini yang paling getol ingin cepat kaya. Kalau tipe lain barangkali tidak. Mereka ingin berkarya sesuai dengan pilihannya.

Dari semuanya ini, tak ada pilihan yang benar atau salah. Namun semua pilihan memiliki konsekuensi. Kalau kita siap menerima konsekuensinya, berusahalah untuk bisa menyenangi apa yang kita lakukan. Cintai apa yang kita kerjakan maka kita akan melakukannya dengan penuh hasrat. Passion bisa berawal dari diri kita sebelumnya, namun melalui apa yang kita lakukan dan menjadi kebiasaan, itu lama-lama juga akan menjadi passion kita.

Aristoteles, filsuf Yunani kuno mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Keunggulan, oleh karena itu bukan suatu tindakan, melainkan suatu kebiasaan.”

Salam entrepreneur!

Buku-buku masa kecil

Bulan Desember, menjelang Natal, mengingatkan saya waktu kecil dapat hadiah dari sinterklas. Malamnya mengisi rumput di sepatu dan besoknya ada hadiah dari sinterklas. Tentu saja setelah besar baru tahu bahwa yang memberi hadiah adalah orang tua sendiri. Hadiah yang saya ingat adalah buku cerita Teddy Beruang. Keluarga saya memang membiasakan buku menjadi menu utama.

Waktu kecil setiap malam minggu, ayah saya mengajak keluarga ke toko buku. Waktu itu namanya TB Sari Agung di Jl Tunjungan, Surabaya. Kini toko buku ini sudah kalah bersaing dengan Gramedia dan Gunung Agung. Ada juga kemudian toko buku Indira dan juga Grafiti tapi sudah tutup juga.

Kalau ke toko buku, biasanya mencari buku cerita, yakni Cerita dari Lima Benua terbitan Gramedia. Cerita paling berkesan adalah "Simon dan Orang Bercahaya". Waktu kecil juga saya dibelikan majalah Bobo, Kawanku. Ada loper koran datang ke rumah, namanya Pak Musa, membawakan juga seri album cerita ternama. Ada juga komik seperti Deni Manusia Ikan, dan sebuah cerita komik yang saya suka adalah Wiro Anak Rimba. Buku yang diperkenankan saya memilih sendiri untuk pertama kalinya, kalau tidak salah waktu itu SD mungkin kelas 5 atau 6, saya memilih buku kalau tidak salah judulnya "roket dan antariksa".

Saya dari kecil, entah kenapa, suka dengan antariksa, roket, perjalanan luar angkasa. Saya suka membaca majalah, dan waktu itu majalah kesukaan saya adalah Mekatronika, Scientiae dan Aku Tahu. Ketiganya majalah ilmu pengetahuan. Dari sana saya mengenal Carl Sagan. Sayang saat ini sedikit sekali majalah sains seperti dulu.

Saya adalah anak laki tertua dari tiga bersaudara. Dua adik saya perempuan, semuanya tidak begitu suka baca buku seperti saya. Ayah saya (alm), Basuki Soejatmiko, adalah wartawan dan redaktur di majalah Liberty (sejak 1960 hingga 1985) dan Jawa Pos (sejak 1985 hingga 1990), ibu saya, Wuri Soedjatmiko, awalnya adalah ibu rumah tangga, namun saat saya SMP, ibu saya didorong oleh ayah saya untuk kuliah lagi hingga menjadi doktor di bidang pengajaran bahasa Inggris dan kemudian menjadi dosen di Unika Widya Mandala. Barangkali saya yang mengikuti jejak ayah dan ibu saya, menjadi pengajar sekaligus suka membaca dan menulis. Ayah saya yang wartawan (generasi wartawan jaman dulu) tentu menunjang rasa ingin tahu yang besar.

Surabaya 22 Desember 2013.




Refleksi akhir semester mengajar di kelas Social Entrepreneurship 5

http://satunama.org/id/2013/09/berbagi-ilmu-dan-pengalaman-social-entrepreneurship/

Teman-teman, mahasiswa kelas Social Entrepreneurship UC, terima kasih telah bergabung bersama di kelas E Sosial, mulai semester 4 dan 5. Tak terasa satu tahun telah berlalu. Teringat waktu lalu, ketika pertama kali saya masuk kelas E5 Sosial bersama bu Ianinta Sembiring, mencoba untuk membimbing teman-teman bersama agar bisa memahami apa sih social entrepreneurship dan bagaimana bentuk bisnis sosial itu. Memang kelas E5 kita barangkali tidak seheboh kelas E yang lain, tapi saya berharap pembelajaran yang kita alami bersama dapat bermanfaat tidak hanya untuk prestasi saat ini, tapi juga untuk kehidupan teman-teman di masa mendatang.

Meski hanya setahun (dua semester), sepertinya banyak yang telah kita jalani bersama. Tentu banyak kekurangan di sana sini dari kami, tim fasilitator, tapi semua ini sejatinya kami lakukan untuk kebaikan bersama. Tentu tidak mudah melihat hasil karya sebuah project sosial business dalam waktu singkat. Perjalanan seorang social entrepreneur memang butuh proses yang panjang dan tidak bisa dikarbit. Kita menjalani semua proses itu secara perlahan dan semoga perjalanan teman-teman, baik yang waktu di E4 ketika mengunjungi bisnis sosial yang ada, bahkan ada yang sampai pergi ke Madiun, Batu dan lain sebagainya, hingga kita bersama-sama pergi ke Yogyakarta mengunjungi beberapa tempat, bisa memberi inspirasi yang menggugah diri teman-teman.

Akhir kata, walau perkuliahan E Sosial kita sudah berakhir, semoga di masa mendatang terjalin kerja sama atau kolaborasi sebuah kegiatan bisnis sosial di antara kita semua. Ayo kobarkan terus semangat social entrepreneurship. Bersama kita yakin akan dapat mengubah dunia dengan mengawali sebuah perubahan dari diri kita sendiri.

Salam entrepreneur!

Surabaya, 5 Desember 2013
nur agustinus

Mengelola barang di toko: FIFO, LIFO dan FEFO

Jika menjalankan bisnis ritel, dalam mengelola persediaan barang, umumnya dikenal ada model FIFO dan LIFO. FIFO adalah First In First Out. Yang masuk pertama kali, maka dia keluar pertama kali. Misalnya, anda jual beras, maka yang anda jual terlebih dahulu adalah beras yang pertama kali masuk ke toko anda. Anda tidak benar jika menjual beras yang belakangan masuk. Jika Anda melakukan itu, maka beras yang awal masuknya, akan makin lama dan bisa rusak. Gampangnya, kalau anda punya tempat penyimpanan beras (dispenser beras), maka kalau anda menuangkan beras ke dalamnya, maka nanti ketika anda mengeluarkannya, maka yang awal dulu anda masukkan akan keluar lebih dulu. Jadi tidak mungkin ada beras lama yang tetap saja berada di dalam dtempat itu kalau yang terakhir masuk malah keluar duluan. Itu bisa juga pada penjualan barang-barang lain, misalnya rokok, sabun, shampo, termasuk juga misalnya telur. Contoh lain FIFO adalah kalau Anda datang antri dokter, maka yang datang duluan akan dilayani lebih dulu.
 
Kalau LIFO, Last In First Out. Barang yang terakhir masuk harus dikeluarkan/dijual lebih dahulu. Contohnya toko buku. Mereka akan memajang buku baru di depan. Buku baru adalah buku yang datang belakangan atau last in/terakhir datang. Demikian juga toko baju. Dia akan mengusakan yang terakhir masuk akan terjual lebih dahulu. Kalau dia menjual yang duluan masuk, maka barang yang baru akan lama keluarnya dan khawatirnya jadi ketinggalan mode. Jadi yang terakhir masuk harus pertama kali keluar.
 
Selain FIFO dan LIFO, ada juga pengelolaan persediaan dengan sistem FEFO, yaitu First Expired First Out. Ini berarti yang kadaluarsa terlebih dahulu harus keluar lebih dulu. Sistem ini biasanya dilakukan apotik, khususnya penjualan obat, atau bisa juga ritel yang menjual makanan (misalnya makanan kaleng) atau minuman yang ada masa kadaluarsanya. Jadi, walaupun barang itu datang duluan atau datang belakangan, kalau barang itu masa kadaluarsanya sudah paling dekat, maka itu yang harus dijual duluan. Ini bisa diandaikan kalau kita datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit, apabila misalnya ada orang yang lebih gawat, maka ia akan dilayani lebih dulu walaupun datang belakangan dari Anda yang sudah antri duluan tapi dinilai kalah gawat darinya. Jadi persediaan barang yang punya masa kadaluarsa terlebih dahulu akan ditempatkan di posisi yang di depan agar diambil dulu oleh pelanggan, atau yang kadaluarsanya masih lama, mungkin masih disimpan di gudang.

Solusi inovatif adalah peluang

Sering kita mendengar, di mana ada masalah, di sana ada peluang. Ya, itu benar. Ketika seseorang mempunyai masalah, maka dia membutuhkan solusi. Tentu saja, jika solusi diberikan secara tepat, orang akan rela untuk membayarnya.

Saya coba ambil contoh sebuah produk yang saat ini sudah tidak asing lagi, yakni power bank. Alat ini isinya adalah batery, yang bisa digunakan untuk mengisi ulang (recharge) batery handphone. Kalau kita tidak punya alat ini, maka handphone kita ketika baterynya habis akan mati dan mesti mencari colokan listrik untuk mengisi ulang tenaga baterynya. Itu akan menyulitkan jika kita sedang dalam perjalanan atau lupa membaca charger.

Nah, pertanyaan yang muncul, mengapa alat yang begitu berguna ini baru muncul sekitar setahun lalu? Mengapa poduk yang inovatif ini tidak ada sejak lama? Jawabannya sederhana, karena dulu orang belum butuh. Kini, dengan hadirnya smartphone dan Blackberry yang membuat ponsel tersebut selalu terhubung dengan internet, membuat boros batery. Ini beda dengan masa lalu, ketika ponsel hanya digunakan untuk telepon dan SMS. Batery bisa awet sampai berhari-hari. Kita masih ingat bagaimana produk ponsel bersaing dengan memberi informasi daya tahan baterynya, termasuk kalau digunakan untuk bicara dan jika hanya standby. Bahkan di masa lalu, orang siap membawa batery cadangan jika memang punya kebiasaan bertelepon lama-lama atau sering.

Perubahan jaman membuat gaya hidup berubah. Perkembangan teknologi juga menuntut sesuatu yang berbeda. Ponsel pintar (smartphone) membutuhkan koneksi internet terus menerus. Orang ingin melakukan update status serta menyimak informasi hampir setiap saat. Ini menimbulkan masalah. Batery handphone kita tidak lama akan segera habis, sementara kita belum bisa mengisi ulang. Apalagi kalau kita selalu bergerak (mobile), tentu akan sulit harus menunggu batery handphone kita dicharge ulang. Ini masalah... dan kita ingat, di setiap masalah, di situ ada peluang.

Saya tidak tahu, siapa yang punya ide power bank. Barangkali ketika sebuah ponsel dicolokkan ke laptop untuk transfer data, ternyata sekaligus bisa mengisi daya baterynya, muncul ide kalau sebuah batery yang bertenaga bisa dimanfaatkan untuk mengisi batery ponsel.

Inilah contoh sebuah solusi yang inovatif. Ketika ada masalah, muncul ide kreatif. Power bank adalah barang yang sangat berguna. Namun dia memang menjadi solusi atas masalah yang memang muncul belakangan ini. Ketika orang makin sering menggunakan ponselnya untuk berinternet, melakukan chatting baik melalui whatsapp, blackberry messenger atau lainnya, masalahnya adalah baterynya cepat habis. Power bank adalah solusi inovatif sehingga saat ini hampir tiap pengguna ponsel akan merogoh koceknya juga untuk membeli alat ini. Tentu di masa depan mungkin akan ada masalah lain. Saat itu pula akan muncul solusi inovatif yang bisa menjadi peluang bisnis.

Mari melatih diri peka terhadap perubahan. Dengan mindset entrepreneur, bukan sekedar konsumen, kita coba melihat masalah apa yang bakal muncul. Dari sana, kita bisa berpikir kreatif untuk menghasilkan solusi yang inovatif. Ini juga yang dikatakan, entrepreneur harus bisa melihat, berpikir, berkesan dan bertindak.

Salam entrepreneur!

Opportunity creation

Orang biasanya berkata bahwa seorang entrepreneur itu harus pandai menemukan peluang. Tapi sesungguhnya hal yang lebih baik kalau kita bisa menciptakan peluang. Apa bedanya mencari peluang dengan menciptakan peluang?

Kalau kita mencari peluang, sebenarnya kita berusaha menemukan apa kebutuhan pasar. Namun, kalau memang pasar membutuhkan produk itu, umumnya juga sudah banyak pengusaha lain yang tahu. Jadi, ketika peluang itu ditemukan, maka berbondong-bondong orang berusaha memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Tapi bagaimana dengan menciptakan peluang? Ini kondisinya agak berbeda, bahwa pasar belum menyadari kebutuhannya, tapi kita menciptakan akan kebutuhan itu.

Saya coba memberikan ilustrasi yang semoga bisa memberi pemahaman bagaimana menemukan peluang dengan menciptakan perluang bisa berbeda hasilnya.

Beberapa tahun yang lalu, di Indonesia masuk motor produksi dari Cina. Harganya relatif lebih murah dengan model yang sama. Tujuannya adalah merebutkan pasar yang sudah ada. Permintaan sudah ada dan penawaran produk sejenis yang lain juga sudah banyak. Akibatnya, daya tarik yang ditawarkan adalah menjual motor tersebut lebih murah. Tapi ternyata hasilnya tidak semulus yang dibayangkan. Entah karena urusan kredit yang lebih sulit (karena pihak leasing ragu karena harga setelah setahun, motor tersebut turun drastis), maka motor produk Cina ini tidak bisa mengalahkan motor dari Jepang yang sudah membanjiri pasar sebelumnya.

Nah, entrepreneur meski gagal akan berusaha bangkit kembali. Benarkah pasar motor Cina memang tidak bisa berhasil? Inilah pentingnya kreativitas dan inovasi. Bagaimana dengan hal ini bisa menciptakan peluang. Apa yang kemudian dilakukan? Sudah sejak beberapa tahun ini kita mengenal motor roda tiga atau motor gerobak. Motor gerobak yang bisa mengangkut barang ini laris untuk usaha. Segmen yang berbeda, yakni para pengusaha kecil menjadi salah satu segmen pasar yang cukup besar. Jadi, dalam opportunity creation ini, atau penciptaan peluang, pasarnya yang semula belum terpikirkan serta produknya juga belum ada, menjadi sebuah peluang yang luar biasa.

Seperti diberitakan di berbagai media, pasar kendaraan bermotor roda tiga atau motor niaga di dalam negeri mulai mengalami peningkatan yang cukup meningkat. Bahkan Kementerian Perindustrian memprediksi, permintaan kendaraan roda tiga lokal bakal terus meningkat. Mereka tidak bersaing dengan merk-merk motor lain di pasar yang sudah ada, melainkan membuat pasar dengan segmen pasar tersendiri. Bahkan produknya sebelumnya tidak terpikirkan. Tentu, kini motor niaga ini sudah menjadi hal yang umum. Mulai banyak pebisnis yang masuk di bidang ini. Tapi inilah contoh sebuah kreativitas dan inovasi, yang menciptakan peluang. Bahkan karena motor yang jenis ini untuk niaga, maka proses kredit lebih mudah.

Bahwa dulu motor produksi Cina tidak laku, namun akhirnya bisa laris dalam bentuknya yang dimodifikasi. Ini seperti dalam strategi blue ocean, ada yang dikurangi, ada yang ditambahkan, dan semuanya ini untuk membuat value meningkat dengan cost yang bisa diturunkan. Tentu saja, produk ini akhirnya diterima oleh pasar. Jadi, jika suatu ketika Anda berbisnis mengalami kegagalan, jangan menyerah, bangkit lagi dan berinovasilah.

Salam entrepreneur.


Semangat sebuah kepedulian

Siang ini baru bisa membuka laptop lagi, ada status di facebook, ada tulisan yang cukup panjang, lalu klik "see more", ternyata ada nama saya di sana.... Mungkin ini respon dari status saya pagi ini, "Jika terlalu peduli kepada orang lain memang membuat hidup jadi repot. Haruskah lebih baik menjadi seorang yang tidak peduli?" Terima kasih untuk Vivi Dwi Andriani yang telah berempati dan memberi semangat. Berikut saya salin dari status di FBnya:

Bila keadaan hidupmu menjadi sulit dan terasa berat,
Itu semua adalah hal wajar, karena engkau sedang menanjak tinggi ...

Maka kurangi beban dipundakmu,
Lepaskan yang tidak perlu, agar lebih ringan langkah kakimu ....

Buang segala keluh kesahmu
Semua pedih perihmu
Sejuta rintih tangismu,
Ikhlaskan tertinggal di masalalu ...
Lalu teruslah berlalu, menuju istana impianmu ....

Bila dalam perjalananmu engkau berpeluh debu,
Terganjal batu, dan duri tajam menusuk tubuh, usah kau hiraukan itu,
Teruslah berlalu, menuju puncak kerajaanmu ...

Namun jika keresahaan terus menggelayuti jiwamu,
Beristirahatlah sejenak ...
Sandarkan semua harapanmu
Dan lepaskan lelah jiwamu dalam pelukan kasih sayang-NYA ....

Selamat pagi dan tetap semangat Pak Nur Agustinus.

(10 September 2013)

Inovasi Oreo

Inovasi dalam hal makanan, baik itu mulai dari makanan kecil, snack, kue, atau masakan hingga restoran, itu tidak hanya pada produknya saja, tapi bisa dari banyak aspek... termasuk cara memakannya. Salah satu contoh adalah burger McD... dulu pada awalnya, burger itu berbentuk roti persegi. Sama seperti roti tawar yang bujur sangkar, lalu dua roti di tengahnya diberi daging dan selada serta bahan lainnya. Tapi dalam perkembangannya, bentuk roti burger ini diinovasi dengan membuatnya bulat agar orang lebih mudah memakannya. Dengan betuk yang bundar, orang bisa memegang dan memakan dari arah manapun.

Contoh lain, semua pasti tahu oreo. Apa hebatnya atau uniknya oreo? Oreo terkenal dengan cara memakannya, yakni: diputar, dijilat dan dicelupin. Kalau kita lihat, oreo sebagai biskuit, itu tak ada bedanya dengan biskuit lainnya. Tapi mengapa bisa demikian terkenal? Itu terletak pada inovasi iklannya serta bagaimana mereka membudayakan cara makan yang berbeda. Inovasi cara memakan oreo, membuat orang menjadi ingat akan oreo, bukan biskuit lain. Bagi anak-anak, ini adalah menarik dan merupakan penerapan dari teori psikologi yang namanya fun theory (kegiatan memutar, menjilat dan mencelup ini menyenangkan).

Kini oreo juga melakukan inovasi secara tidak langsung, yakni membuat para penjualan minuman juice atau kedai kopi, menggunakan oreo sebagai salah stau campurannya, misalnya juice dengan oreo maupun roti dengan oreo.
Di McD juga ada es cream oreo. Bahkan kita bisa mendapatkan banyak resep yang menggunakan oreo sebagai salah stau bahan makanan atau minuman di internet.

Unggul, Langgeng, Tumbuh



Bagaimana sebuah bisnis bisa sukses? Menurut ilmu manajemen strategi yang saat ini banyak dianut, kesuksesan sebuah bisnis syaratnya ada tiga:

1. Memiliki keunggulan dalam bersaing
2. Memiliki kelanggengan hidup yang baik (sustainabilitasnya bagus).
3. Bertumbuh (growth).

Bagaimana supaya unggul dalam bersaing? Tentu supaya unggul dalam persaingan, usaha kita harus memiliki keunggulan, kelebihan atau keistimewaan tertentu dibandingkan pesaing. Inilah pentingnya inovasi. Tapi juga harus memperhatikan soal sumber daya yang dimiliki. Kalau dalam Business Model Canvas (BMC), maka key resources ini menjadi penting. kalau kita punya sumber daya yang lebih baik dari pesaing, maka kita bisa lebih unggul.

Nah, unggul dalam bersaing saja tidak cukup. Ibarat seperti manusia yang ingin hidup langgeng, maka bisnis yang kita bangun juga diharapkan bisa hidup lama atau sustain (langgeng). Kunci supaya usaha langgeng biasanya harus memiliki kinerja yang baik. Tentu saja kriteria kinerja yang baik ini bisa bermacam-macam, misalnya menghasilkan profit, dipercaya oleh pelanggan, atau lainnya.

Nah yang ketiga, kalau kita umur panjang tapi kondisi tidak sehat, maka akan membawa masalah. Bisnis akan lebih sukses kalau usaha kita bisa terus bertumbuh. Tumbuh di sini ukurannya biasanya bisa market share (pangsa pasar) yang makin besar, aset yang dimiliki makin banyak namun yang lebih utama adalah profit yang terus meningkat.

Bagaimana kita bisa mengembangkan usaha kita atau lebih dikenal dengan istilah scale-up? Ada tiga cara untuk bisa meningkatkan usaha. Pertama adalah modal. Kalau Anda punya modal banyak, usaha bisa lebih cepat berkembang. Kedua, network, kalau Anda punya relasi yang luas, ini bisa membantu pengembangan usaha Anda. Termasuk dalam hal ini adalah partnership. Nah yang ketiga adalah penggunaan teknologi. Bisnis bisa berkembang dengan memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya saja teknologi komputer, alat-alat teknologi yang bisa membantu produksi.

Hal-hal ini harus dipelajari, bagaimana mengelola usaha dengan baik. Seringkali orang membuka bisnis baru (start-up), bahkan bisa mengembangkan secara pesat, namun akhirnya mengalami kegagalan karena tidak bisa mengelola manajemennya dengan baik. Banyak yang ingin segera action, tapi melupakan pengetahuan manajemen, akhirnya kewalahan ketika usahanya makin besar. Untuk itu, jangan abaikan ilmu manajemen. Membuka bisnis memang sebuah langkah besar, namun manajemen perlu agar usaha kita bisa unggul, langgeng dan terus berkembang.


Entrepreneur harus scale-up

Diskusi entrepreneur vs pedagang masih belum selesai... Kalau memang entrepreneur itu sama dengan pedagang, maka apa tujuan dari belajar entrepreneurship? Apa yang membedakan belajar entrepreneurship dengan belajar bisnis? Banyak artikel yang membahas soal perbedaan antara pedagang dan entrepreneur. Dikatakan bahwa tidak semua pedagang adalah entrepreneur. Ada pedagang yang entrepreneurial dan ada yang tidak. Teori dan definisi entrepreneur memang macam-macam. Salah satu pendapat ada yang menulis seperti di sini.

 
Ini memang soal pengertian bahasa atau definisi. Apakah entrepreneur itu seorang pengusaha? Apakah businessman itu seorang pengusaha? Sepertinya, dua-duanya juga pengusaha. Dengan begitu, ada pengusaha yang entrepreneur dan da pengusaha yang businessman. Kita yang belajar entrepreneurship, biasanya mengatakan, pengusaha yang bukan entrepreneur adalah sebagai pengusaha yang SEKEDAR menjadi businessman (atau pedagang). Tapi, pedagang dalam hal ini sebagai pengusaha, tetap ada pedagang yang entrepreneurial dan ada juga pedagang yang "biasa". Namun sebenarnya kalau dikupas tuntas, tidak sesederhana hitam dan putih...



Coba lihat ilustrasi di atas, bukankah ibu penjual ayam itu seorang wirausaha? Bukankah dia berusaha sendiri... lalu, mengapa dia dibilang bukan entrepreneur? Jadi, jika pedagang belum tentu entrepreneur... maka pengusaha juga belum tentu entrepreneur... kemarin ada yang bilang, seorang bisnisman aja belum tentu entrepreneur... Nah, ini yang dari kemarin saya tanyakan, untuk bisa disebut entrepreneur itu bagaimana? Sebagian besar dengan pengetahuannya mengatakan untuk menjadi entrepreneur itu perlu invasi. Memangnya kita yakin bahwa pedagang, pengusaha atau bisnisman tersebut tidak berinovasi? Bahkan ada yang bilang, kalau cuma sekedar di kaki lama, itu belum entrepreneur. Atau, kalau masih di pasar tradisional, itu bukan entrepreneur... nah, nggak salah kalau si ibu lantas bilang, "Emangnya entrepreneur itu seperti apa sih? kok kesannya spesial dan hebat banget?"

Saya menemukan info yang menarik di internet untuk menjelaskan perjalanan seorang pengusaha. Kita bisa melihat di awal mula biasanya seorang ingin berusaha sendiri. Hal yang sama mungkin juga bisa mewakili kondisi ibu penjual ayam potong ketika pertama kali buka usaha. Di sini dikategorikan sebagai "exploring entrepreneurs". Lalu dia mulai buka warung, di mana ini menunjukkan dirinya sudah menjadi solo-preneur. Bisa jadi ibu penjual ayam itu juga sudah termasuk solo-preneur. Biasanya solo-preneur ditandai dengan keterlibatan teman, keluarga dan bootstraping.

Nah, jika dia ingin mengembangkan usahanya (scale-up), untuk itu butuh pinjaman modal agar usahanya berkembang, maka dia menjadi "Normal Growth Company". Di sini si pengusaha mulai memikirkan peningkatan revenue (pendapatan). Artinya, dia sudah ingin memperoleh lebih banyak lagi. Ada orang yang berhenti di solo-preneur... tapi ada juga yang berhenti di "Normal Growth Company". Ini akan balik kepada diagram jenis usaha yang tergantung berat ringannya masalah dan juga sedikit atau banyaknya masalah.

Kalau kemudian pengusaha tersebut mulai melebarkan sayap, buka cabang di banyak kota, maka dia bisa dianggap sebagai "High Growth Company". Penghasilan per tahunnya bisa miliaran (kalau sukses). Menarik bukan? Anda ingin menjadi apa? Tidak semua berani bermimpi menjadi "Extreme High Growth Company".

Are you an Entrepreneur?
Don't delay! 
Do it Today! 
Whatever it is...
Scale-up!

I'm the world's worst salesman



"I'm the world's worst salesman. Therefore, I must make it easy for people to buy." Arti terjemahannya adalah "Saya adalah penjual yang paling buruk sedunia, untuk itu, saya harus membuat orang mudah untuk membeli." Nah, artinya... kalau kita memang tidak pandai menjual, maka kita mesti punya gagasan inovatif yang membuat pelanggan mudah membeli produk atau jasa yang kita tawarkan...

Saya jadi ingat ketika di awal saya mendirikan perusahaan saya (tahun 1990). Saya adalah orang yang kurang percaya diri dan tidak bisa menjual. Lalu, saya bikin sistem yang membuat pelanggan saya mau beli jasa saya, yakni mereka bisa mengirimkan orang untuk dipsikotes kapan saja, baik pagi, sore, malam atau bahkan di hari libur. Saya juga bilang bahwa hasilnya nanti akan diantar. Semua ini merupakan pelayanan, tapi kalau dipikir lagi, sebenarnya ini membuat orang lebih mudah untuk membeli. Tidak perlu repot, tidak perlu nunggu lama. Nah, membaca kata-kata yang nampaknya sederhana di gambar yang saya temukan itu, sebenarnya kalau kita bisa menerapkannya dalam usaha kita... hasilnya akan sungguh luar biasa.


Sehubungan dengan bagaimana membuat orang mudah membeli. Saya mau sharing juga pengalaman saya. Saya pernah ke sebuah toko furniture yang tergolong besar di surabaya. Ingin beli kursi untuk kerja. Setelah memilih, akhirnya memilih satu kursi yang nampaknya bagus, kuat dan enak (menurut saya). Tapi, ternyata stoknya tidak ada, harus pesan dan ini butuh waktu. Penjualnya bilang bisa diantar nanti. Tapi... katanya kalau diantar itu mesti pembelian 2 juta ke atas baru gratis, kalau di bawah itu mesti ada ongkos kirim. Wah, kok merepotkan begitu? Saya sudah menaruh uang untuk beli, menunggu, lalu harus bayar lagi untuk ongkos kirim hanya karena beli barangnya tidak sampai 2 juta. Akhirnya ya saya tidak jadi beli... Saya hanya mengomel dalam hati, kok bisa manajemen toko ini bikin aturan yang bikin susah pembelinya. Belajar dari hal ini, buatlah sistem transaksi penjualan yang memudahkan dan memberi nilai tambah kepada pelanggan.  Make it easy for people to buy.

Tips memulai usaha agar sukses

Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan saat kita hendak memulai bisnis, yaitu:
 
1. Ide bisnis yang luar biasa akan percuma jika Anda sulit menjualnya. Produk atau jasa yang Anda tawarkan harus bisa diterima pasar. Dengan kata lain, percuma ide bisnis yang bagus tapi bukan merupakan sebuah peluang.

2. Sukses tidak datang dalam satu malam. Jadi Anda mesti tekun dan ulet. Mengharap sukses dalam waktu singkat dan kemudian tidak tahan banting, menyebabkan Anda akan gagal.

3. Kendalikan cash flow dengan baik. Anda jangan sampai kehabisan uang akibat banyak menjual namun uangnya tidak ada, entah yang beli berutang atau Anda menggunakan uang dengan sembrono.


Nasib orang itu ditentukan oleh karakternya


Seorang filsuf Yunani kuno, Heraclitus, pernah mengatakan "nasib orang itu ditentukan oleh karakternya." Orang-orang sukses itu bukan karena dia pintar atau kaya, tapi karena karakter yang dimiliki. Sekaya, berkuasa atau seterkenal apapun dia, kalau karakternya buruk, ya akhirnya nasibnya juga buruk... Jadi, jangan peduli soal reputasi saja, tapi memilikilah karakter yang baik.

Antara sifat, karakter dan watak memang hampir sama. Demikian juga dengan kepribadian. Sifat adalah karakteristik psikologis yang berasal dari dalam diri seseorang yang mendapat nilai dari masyarakat. Sementara kepribadian itu lebih merupakan ciri-ciri seseorang yang menggambarkan dirinya. Yang agak beda adalah temperamen. Temperamen ini berkaitan dengan faktor biologis. Albert Einstein pernah bilang, “Weakness of attitude becomes weakness of character.” Sikap yang lemah akan menjadi karakter yang lemah.

Jangan berhenti berinovasi

Apakah Anda dulu pelanggan produk Rugos ini? Sekarang dengan adanya komputer dan printer, produk ini sudah tidak begitu laku lagi. Setiap produk memang mempunyai daur hidup. Ada masa diperkenalkan, ada masa laris dibutuhkan oleh pasar, dan kemudian juga mulai ditinggalkan. Produk yang sekarang sudah mulai ditinggalkan juga adalah film foto yang sudah diganti dengan kamera digital.

Anda mungkin juga masih ingat ketika booming orang bikin usaha wartel (warung telekomunikasi). Kini dengan banyaknya orang memiliki ponsel, wartel sudah tidak ada yang bisa bertahan. Inovasi memang membuat hidup semakin mudah, tapi bagi pebisnis, inovasi harus terus dilakukan, sebab kalau sampai terlena, bisa-bisa akan ditinggalkan oleh pasar karena sudah ada inovasi yang baru, Entrepreneur harus selalu berinovasi.

Inovasi tidak harus rumit


Melakukan inovasi adalah hal yang tidak mudah. Padahal ini adalah salah satu kunci entrepreneurship. Inovasi memang berangkat dari sebuah ide kreatif. Tidak harus rumit, kadang malah sederhana. Yang jadi hambatan seringkali ide-ide itu sudah dilakukan oleh pihak lain. Kita terbiasa jadi penikmat inovasi yang diciptakan orang lain. Kalau kita termasuk generasi yang sudah cukup umur, kita akan melihat banyak perubahan. Sebagai contoh, inovasi di bidang penjualan, seperti memasang makanan ringan (snack) atau krupuk dengan cara digantung renteng, untuk memudahkan pembeli untuk mengambil (tinggal dicabut), adalah sebuah inovasi yang luar biasa. Sederhana, tapi ini merupakan inovasi juga. Jadi, retail is detail. Pikirkan inovasi dalam hal-hal kecil, sebab dari hal-hal yang tampaknya sepele, justru bisa menciptakan hasil yang spektakuler...

The Speed of Trust

Ada buku bagus, judulnya: "The Speed of Trust" karya Stephen M. R. Covey. Ada sebuah blod di internet yang mengulas buku ini. Silahkan dibaca bagi yang berminat...

Di era persaingan bisnis yang semakin ketat ini, kecepatan menjadi kunci kesuksesan sebuah bisnis. Hanya lewat kecepatan, sebuah organisasi dapat bersaing melawan kompetitornya. Lalu, apa yang dapat meningkatkan kecepatan dari sebuah organisasi? Apa yang membuat atasan dan bawahan dapat bersama-sama menjadi pelari yang unggul melewati pesaingnya?

Anda akan menemukan jawabannya dalam buku The Speed of Trust. Buku ini ditulis oleh Stephen M.R. Covey, anak dari Stephen Covey, penulis buku klasik The Seven Habit of Highly Effective People.

Menjadi anak dari pakar kepemimpinan dan bisnis terkemuka, Stephen junior menanggung beban berat pada awal kariernya. Walaupun lulus dari program master sekolah bisnis Harvard University, dia menghadapi pandangan sinis dari berbagai pihak. Perusahaannya, Covey Leadership Center, baru saja merger dengan Franklin Quest dan menghasilkan FranklinCovey Company.

Merger ini meskipun menggabungkan dua kekuatan besar menjadi satu, namun menghasilkan masalah baru, yakni krisis kepercayaan. Masalah ini pun harus dialami Stephen. Ada pandangan yang menilai dia hanya mendompleng nama besar sang ayah untuk mendapatkan posisi sebagai pemimpin di salah satu unit bisnis perusahaan. Namun, menarik untuk melihat bagaimana hal ini menjadi pelajaran bagi Stephen untuk merumuskan satu prinsip demi meningkatkan produktivitas dalam organisasi, yakni menanamkan keterpercayaan.

Keterpercayaan, menurut Covey, bukan sesuatu yang bersifat abstrak, melainkan dapat diukur dan dikuantifikasi. Dampak dari menanamkan keterpercayaan dalam lingkungan kerja juga dapat mengeluarkan hasil nyata dalam bentuk kenaikan profit, meningkatnya efektivitas kerja, menjaga kesetiaan pelanggan, dan lain sebagainya.

Rumus Keterpercayaan

Menurut Covey, ketika keterpercayaan menurun, kecepatan berkurang dan biaya akan naik. Ini tentu berbahaya ketika kita sedang berada dalam sebuah kompetisi bisnis. Hal sebaliknya, kata Covey, terjadi jika keterpercayaan naik. Saat keterpercayaan meningkat, kecepatan juga akan naik dan biaya turun. Bayangkan dampaknya bagi organisasi Anda.

Lima tingkatan Keterpercayaan

Buku ini mengingatkan bahwa membangun keterpercayaan dalam organisasi terdiri atas lima tingkatan yang akan menghasilkan gelombang perubahan. Kelima tingkatan gelombang itu adalah percaya pada diri sendiri, percaya dalam hubungan dengan orang di sekitar kita, percaya dalam organisasi, dipercaya pasar, serta dipercaya masyarakat. Kelima tingkatan ini saling berkaitan.

Perubahan dalam organisasi dimulai dengan tingkatan pertama, yaitu percaya pada pada diri sendiri. Pada tahap ini, kita membangun kredibilitas diri sendiri sehingga pihak lain akan percaya pada kita. Selanjutnya, pada tahap hubungan dengan orang di sekitar, kita perlu membangun keterpercayaan melalui tindakan baik yang konsisten dan berulang-ulang. Ini kemudian menjadi dasar bagi terbentuknya keterpercayaan organisasi. Di level ini, kita perlu membangun struktur, sistem kerja dan symbol-simbol yang menumbuhkan sikap saling percaya.

Dari keterpercayaan dalam organisasi, selanjutnya kita bergerak ke tingkat keterpercayaan pasar. Kerja tim yang solid dalam organisasi kita akan membantu terciptanya reputasi. Reputasi ini berdampak positif pada brand organisasi kita. Terakhir, kita dapat membuat organisasi kita dipercaya masyarakat dengan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Tugas pertama seorang pemimpin adalah menginspirasi keterpercayaan. Keterpercayaan terdiri atas dua dimensi ; karakter dan kompetensi. Karakter mencakup integritas, motif, dan niat. Kompetensi mencakup kemampuan, ketrampilan, kinerja dan rekam jejak. Kedua dimensi tadi (karakter dan kompetensi) sangat penting.

Mulai dari Lingkungan Terkecil: Rumah


Buku ini juga mengingatkan bahwa membangun keterpercayaan dimulai dari rumah. Hal ini terlihat saat Stephen menulis tentang pengalamannya saat diperkenalkan dengan prinsip dipercaya oleh ayahnya, Stephen senior.

Oleh ayahnya, Stephen diberi tugas untuk memelihara rumput halaman rumahnya agar tetap subur dan bersih. Dia benar-benar dibiarkan oleh ayahnya untuk melakukan hal itu. Ayahnya memperlihatkan dengan jelas bahwa ia memberikan delegasi wewenang kepada Stephen kecil untuk mengurus halaman rumahnya. Stephen kecil belum mengerti tentang uang, pangkat, gaji, atau persaingan. Tetapi saat itu dia tahu bahwa dia dipercaya ayahnya, dan itu membuatnya tidak ingin mengecewakannya. Itulah yang kemudian membuatnya berusaha dengan maksimal untuk membersihkan halaman depan rumahnya.

Percaya seperti inilah yang dapat mendorong produktivitas dan kemudian menaikkan profit. Ini dijelaskan dalam salah satu cerita mengenai seorang penjual donat dan kopi di jalanan di New York City. Selama waktu sarapan dan makan siang, tokonya selalu dipenuhi antrian orang yang ingin membeli donat dan kopinya. Meskipun hal ini pertanda bagus, tetapi Jim juga melihat bahwa banyak orang yang merasa bosan mengantri, lalu pergi begitu saja dan tidak jadi membeli. Jim sadar, bahwa karena dia harus melayani semua pelanggan, dia menjadi penghambat terbesar bagi dirinya sendiri untuk menjual lebih banyak donat.

Jim kemudian memutuskan untuk menaruh satu keranjang yang berisi uang pecahan kecil untuk kembalian. Dia mempercayakan pelanggannya untuk membayar sendiri dan mengambil sendiri kembaliannya di dalam keranjang itu, tanpa perlu harus melalui Jim.

Alih-alih uangnya dicuri, Jim malah menemukan bahwa banyak pelanggan justru memberi tip dalam jumlah besar. Ini juga mempercepat antrian orang yang akan membeli donatnya, sehingga dia bisa menjual lebih banyak donat. Jim menemukan, bahwa pelanggannya senang merasa dipercaya. Tidakkah demikian juga dengan rekan kerja, bawahan dan atasan anda?

Kesimpulan

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan tentang pentingnya berinvestasi untuk membuat kita dipercaya oleh orang-orang di sekitar kita, termasuk bos, bawahan, sesama karyawan dan pelanggan. Buku tentang strategi bisnis ini juga memuat prinsip-prinsip yang akan mendorong kita untuk berkembang dalam berbagai bidang kehidupan.

Siapkah Anda untuk bergerak tambah cepat mengalahkan para pesaing Anda dengan membangun keterpecayaan ?

Makin tertarik ingin baca buku ini? klik http://www.johnmcgeelive.com/?p=11

Menjalankan bisnis dengan Bootstrap

Saya punya contoh bootstrap yang saya lakukan dulu. Di tahun 1990, setelah saya lulus kuliah, dan sempat bekerja di perusahaan orang lain selama 2 tahun (di sebuah perusahaan pengolahan udang windu/cold storage dan perusahaan property jual beli rumah), saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri yakni sebuah konsultan psikologi. Latar belakang pendidikan saya memang dari psikologi, dan kemudian ada teman ayah saya yang membiayai saya untuk kuliah MBA (Master of Business Administration). Lulus MBA di tahun 1990, saya kemudian mendirikan perusahaan saya yang bernama Bina Grahita Mandiri. Saat itu usia saya masih 24 tahun.

Tahun 1990 itu, ayah saya meninggal dunia. Bekal yang saya miliki adalah pendidikan dan sebuah rumah yang saya tempati bersama ibu dan adik-adik saya. Saya anak pertama, satu-satunya anak laki-laki. Modal saya waktu itu tidak banyak, tabungan saya dari hasil menulis artikel dan bekerja sebelumnya adalah sekitar Rp 1 juta rupiah. Di rumah ada garasi mobil. Nah, saya menggunakan garasi mobil ini untuk kantor. Saya lantas memikirkan bagaimana membuat kantor saya itu bisa diubah kalau siang jadi tempat untuk bekerja, namun kalau malam mobilnya bisa masuk. Lalu saya merancang partisi yang bisa dilipat sehingga kalau siang saya pasang sebagai penyekat ruangan, meja dan kursi lipat sehingga praktis untuk dipindah saat mobil masuk. Modal uang yang ada saya gunakan untuk merenovasi ruangan, membeli meja dan kursi.

Saya punya hobby menulis, banyak tulisan saya yang dimuat di surat kabar saat itu. Ini juga karena ayah saya melatih saya aktif menulis. Ayah saya adalah seorang wartawan dan redaktur di Jawa Pos (1985-1990), sebelumnya di majalah Liberty selama 25 tahun. Jadi, saya cukup akrab dengan dunia jusnalistik dan percetakan, termasuk mendesain brosur. Hal ini sangat membantu saya dalam membuat surat penawaran, brosur serta promosi lainnya. Padahal, saya kurang pandai bertutur kata/komunikasi. Kekurangan ini, kalau dianalisis secara SWOT, saya atasi dengan promosi dengan katalog dan brosur yang menarik.

Karena ayah saya meninggal, saya lalu menemui pimpinan Jawa Pos, Bapak Dahlan Iskan, dan menawarkan diri untuk bergabung di Group Jawa Pos. Bekerja sambil punya usaha juga merupakan bootstrap. Pendapatan bulanan dari bekerja bisa membantu untuk biaya operasional usaha. Saya lalu ditempatkan di sebuah harian bisnis, namanya Suara Indonesia (saat ini media ini sudah tidak ada). Lalu saya mengisi kolom di sana, rubrik inspirasi bisnis, marketing dan SDM. Nah, setelah setahun bergabung di sana, bisnis saya ternyata makin berkembang. Dari model direct mail (mengirim surat penawaran) ke perusahaan-perusahaan, banyak sekali order untuk melakukan psikotes. Karena itu, saya kemudian mengajukan ke pimpinan surat kabar tersebut untuk bekerja secara jarak jauh. Jadi saya menulis di rumah, mengirim via email. Nah, ide bootstrap yang saya lakukan waktu itu adalah dengan cara menukar honor tulisan saya (saya bilang, saya tidak perlu lagi digaji bulanan karena saya sudah tidak lagi masuk kerja) dengan memasang iklan perusahaan saya. Jadi, saya menulis diganti dengan iklan gratis. Itu saya lakukan di surat kabar tersebut dan juga di media lain.

Hasilnya sangat besar. Mungkin ibarat prinsip Pareto 80/20, dari upaya yang lakukan, yakni 20% menyediakan waktu untuk menulis di media massa, order bisnis saya meningkat. Jadi bisa dibilang hasil 80% dari usaha saya adalah dari upaya 20% yang saya lakukan itu.

Itu contoh bootstrap yang ingin saya sharing ke teman-teman. Meski saat itu, saya sendiri belum tahu dengan belum dengar istilah bootstrap, namun sudah saya lakukan. Jadi, kalau ada orang bilang, dia tidak bisa menjadi entrepreneur karena tidak punya modal, itu adalah salah besar dan bodohnya dia. Kalau kita belajar entrepreneurship, tahu prinsip-prinsipnya, seperti efektuasi, bootstrap, dan lainnya... tidak ada yang mustahil. Kini perusahaan saya, yang bernama Bina Grahita Mandiri masih terus berjalan sudah 22 tahun. Pelanggan sudah ribuan dan tiap hari ada bisnis yang harus dilakukan. Karena saya senang sharing dan mengajar, saya kemudian bergabung dengan Universitas Ciputra. Istri saya yang mengelola bisnis ini.

Sekedar sharing, mudah-mudahan bermanfaat.

Salam entrepreneur!

Jangan tunggu sempurna

Satu hal yang menyebabkan orang tidak berhasil adalah karena dia ingin menghasilkan sesuatu yang harus sempurna. Sempurna menurut standardnya dia. Orang seperti ini biasanya disebut sebagai perfeksionis. Dia merasa malu atau takut jika menghasilkan karya yang menurutnya tidak bagus. Padahal, bagus atau tidak, itu hanyalah persepsi. Bagus atau tidak, itu juga tergantung zaman. Coba kalau kita lihat film jaman dulu, maka kita bisa lihat kualitasnya kurang bagus, aktingnya biasa-biasa saja, juga cara membuat filmnya juga sepertinya tidak istimewa. Namun di masa lalu, film itu sudah luar biasa. Oleh karena itu, janganlah punya mindset hanya mau menampilkan hasil yang sempurna. Sempurna itu justru akan membuat kita frustasi. Berusahalah dengan maksimal, hasilkan karya sebisanya. Sekarang jika masih dianggap kurang baik, itu tidak menjadi masalah...

Belajar dari pelanggan yang komplain


Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan Pak Bambang Hermanto, dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra. Beliau bercerita tentang sebuah restoran yang pemiliknya marah besar karena ada pelanggan yang komplain makanannya agak bau. Dia marah karena merasa orang itu mengada-ada dan tidak mungkin kualitas makanan di tempatnya buruk. Akibatnya, justru bukannya da belajar dan menerima masukan dari pelanggannya, tapi malah bersikap emosional. Ketika pelanggan itu sudah pergi, lalu dia diberitahu oleh stafnya bahwa bahan makanan yang dibuat untuk pelanggan itu ternyata sisa kemarin dan sudah tidak segar. Semoga ketika kita berbisnis, kalau ada pelanggan yang komplain, reaksi kita bisa lebih bijaksana, bukan mempertahankan diri namun belajar untuk selalu memperbaiki kualitas.

Ketika Passion Bertemu Visi, Tercipta Peluang

Mindset adalah sangat penting, dan seperti dikemukakan oleh Pak Ciputra, hal itu harus merupakan habit (kebiasaan). Misalnya, kalau pergi ke sebuah mall, biasanya akan datang dengan mindset pengunjung atau pembeli. Coba datang ke mall dengan mindset entrepreneur. Misalnya melihat, mengapa toko yang ini sepi dan yang itu ramai pengunjung. Kalau saya jadi pemilik toko yang sepi itu, apa yang bisa saya lakukan? Atau, Anda melihat ada stand yang masih tutup. Jika saya punya stand ini, saya akan berbisnis apa? Lihat sebuah restoran, jika saya yang punya restoran itu, menu istimewa apa yang akan saya jual ke pelanggan? Jadi, melihat dan berpikir itu adalah kunci penting.

Melihat lingkungan kita, melihat apa saja yang ada saat kita sedang di perjalanan, sambil berpikir. Nah, ini akan berkaitan sekali dengan apa yang menjadi passion kita. Melalui passion kita akan mempunyai visi. Saat passion bertemu dengan peluang yang kita ciptakan, di sana nanti secara otomatis kita akan punya visi yang lebih jelas lagi. Kalau kita tidak punya passion atau visi, maka sering peluang datang tapi kita lewatkan begitu saja. Kita harus tahu apa yang membuat kita sungguh-sungguh ingin lakukan serta mengetahui cita-cita, visi, arah tujuan yang hendak kita capai

Ini semua memang tidak bisa serta merta ada dalam diri kita, Ini harus dilatih dan dibiasakan, untuk selalu melihat dan berpikir secara entrepreneurial. Nah, untuk membentuk kebiasaan yang menunjang, ini diperlukan nilai hidup yang sesuai. Kembangkan keyakinan , filosofi hidup, prinsip maipun norma dan etika yang baik. Kadang kita sudah sungguh-sungguh ingin, tapi kalau prinsip atau nilai hidup kita tidak menunjang, maka tidak akan membuat kita bergerak. Kita sering terhalang oleh value yang kita anut. Maka ubahlah nilai hidup yang tidak produktif atau menghambat Anda.

* Passion merupakan bahan bakar dari bisnis atau usaha kita.
* Visi membuat kita punya arah dan sasaran untuk diraih sesuai passion.
* Peluang adalah ruang di mana passion dan visi datang bersama untuk membuat apa yang kita lakukan sebelumnya dengan sukarela dan senang hati bisa menjadi dan menghasilkan uang serta manfaat yang menguntungkan.

Salam entrepreneur!

Pendidikan di masa depan adalah online


Ketika di awal tahun 2011 saya mulai mengelola sebuah pusat pembelajaran jarak jauh (distance learning), saya melihat bahwa ini memang akan menjadi sebuah trend model pendidikan di masa mendatang. Apalagi kini makin banyak open course (kuliah terbuka) yang dilakukan secara massal. Istilahnya adalah MOOC (Massive Online Open Course) seperti yang dilakukan oleh Coursera, Udacity, edX dan lainnya.

Generasi masa mendatang, nampaknya tidak harus lagi mengambil kuliah di sebuah perguruan tinggi, tapi bisa mengumpulkan kredit dari berbagai mata kuliah yang diikuti lewat program MOOC yang diselenggarakan oleh berbagai universitas terkenal. Kini, tempat saya mengajar kelas online, yakni di Universtas Ciputra, juga telah menjadi penyelenggara pertama MOOC di Asia. Mereka yang mau belajar bisa memilih sendiri materi-materi yang diminati. Ini akan menjadi terobosan yang luar biasa. Terlebih lagi, kebanyakan program MOOC ini adalah gratis. Tentu, orang bertanya-tanya, apakah pembelajaran online ini efektif atau tidak? Atau, kalau MOOC ini gratis, bagaimana model bisnisnya agar bisa berkelanjutan? Saya coba tampilkan beberapa infographics untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.



Ngobrol ruang dan waktu, di ruang dan waktu yang terbatas

Di ruang waktu terbatas bersama mas Imam dan Pak Eric Pramono
Jum'at, 23 Agustus 2013, di atas awan-awan, di dalam pesawat Citilink perjalanan menuju Jakarta, mengisi waktu, saya dengan pak Eric Pramono dan mas Imam, ngobrolin soal ruang dan waktu. Ini bukan bahasan filosofis, meski obrolan ini mengingatkan saya pada pelajaran filsafat kosmologi yang pernah saya ikuti beberapa waktu lalu di Unika Widya Mandala saat sit in di kelas filsafat.

Ah, saya jadi ingin membahas dulu soal ruang dan waktu secara filsafat. Kita pasti tahu, di dunia kita ini, yang tidak pernah tetap adalah perubahan itu sendiri. Apa yang ada selalu mengalami perubahan. Nah, setiap perubahan yang terjadi (dan karena hal itu selalu terjadi), akan melibatkan ruang dan waktu. Mengapa? Apa maksudnya?

Ketika kita berubah sebenarnya kita melakukan pergerakan. Bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Diri kita sendiri mempunyai dimensi. Misalnya, ada jarak antara jarak tangan saya yang kiri dan yang kanan. Bahkan jari kelingking dengan jempol saya juga ada jarak. Ada ruang yang bisa diukur. Lalu manusia membuat perbedaan ruang itu dengan alat ukur. Mulai dari ukuran milimeter, ada yang menggunakan satuan ukuran hasta, kaki, yard dan lain sebagainya. Ini baru soal ruang. Ketika manusia bergerak dari satu titik ke titik yang lain, misalnya saya berpindah dan Surabaya ke Jakarta, maka ada ruang yang harus saya tempuh. Inilah esensi dari ruang.

Lalu, bagaimana dengan waktu? Sebelum manusia menggunakan satuan waktu, manusia menandai waktu dengan pembanding. Misalnya, si Badu lahir pada waktu gunung Merapi meletus. Dia meninggal dunia saat huru hara terjadi di kota itu. Konsep waktu biasanya ada pembanding. Akan tetap, konsep waktu ini sangat melekat pada ruang. Bagaimana penjelasannya?

Ketika saya berpindah antara satu titik ke titik yang lain, saya membutuhkan waktu. Bumi bergerak mengitari matahari, berarti perjalanan itu dari satu titik ke titik yang lain, kita merasakan tidak seketika. Namun ada waktu yang harus dialami. Waktu ini kemudian disebut sebagai satu tahun. Kita menandainya dengan posisi matahari kembali ke titik semula. Demikian pula pergerakan bumi berputar, kita tandai sebagai satu hari. Lalu kita bagi menjadi 24 jam.

Kembali ke soal obrolan, sebelum makin melantur memikirkan soal ruang dan waktu secara filosofis. Apa yang dibahas sebenarnya hal yang simple namun sering kita abaikan. Ruang dan waktu mempunyai kesamaan. Pertama keduanya adalah hal yang tidak terbatas sekaligus terbatas. Hakikatnya adalah tidak terbatas, namun karena ruang dan waktu itu kemudian menjadi milik kita, itu yang membuat menjadi terbatas.

Misalnya, kita hanya punya waktu 24 jam tiap harinya. Kita tidak bisa membuat waktu kita sehari ada 30 jam, misalnya. Demikian juga ruang, kita juga batas, misalnya ruang kantor yang kita miliki, ruang kamar punya kita.

Apa yang kita bahas adalah soal manajemen ruang dan waktu. Kalau soal ruang, sering kali kita ini membeli barang, tapi lupa soal ruang penyimpanannya. Mungkin kita sudah sempat kita pikirkan, tapi sering diabaikan. Coba lihat, barangkali pakaian yang Anda miliki sudah tidak cukup lagi untuk masuk ke lemari pakaian Anda. Atau mainan anak-anak kita menjadi berserakan karena tidak tahu harus disimpan di mana. Bagi penggemar buku seperti saya, buku-buku yang dibeli makin bertumpuk-tumpuk dan tak muat lagi untuk ditata di lemari buku yang ada. Jadi, ruang ini terbatas. Karena keterbatasan ruang ini, membuat kita harus pandai-pandai melakukan manajemen ruang.

Bagaimana supaya ruang yang kita miliki masih tersisa ruang? Caranya memang sederhana, yakni harus mengeleminasi (menghilangkan) barang yang sudah tidak berguna. Bagi mereka yang terbiasa dengan Kaizen atau 5 S (silahkan lihat penjelasan tentang 5S ini di http://id.wikipedia.org/wiki/5s), maka barang-barang yang sudah tidak terpakai, harus rela disingkirkan. Ini tujuannya agar kita bisa menempatkan barang yang kita gunakan atau yang baru dibeli.

Soal ruang yang terbatas ini, mirip dengan konsep rumah susun atau apartemen, di mana kalau lahan terbatas, maka sebaiknya dibangun ke atas, Pak Eric Pramono menginvestasikan untuk membeli lemari plastik susun untuk menyimpan mainan-mainan anaknya. Nah, dia kemudian membuat aturan, di mana ada 2 harus ada rak ruang kosong dari lemari itu. Dia mengajarkan pada anaknya, kalau seandainya penuh semua, tidak akan ada mainan baru. Supaya bisa kosong, anaknya harus menyingkirkan mainan itu dari lemari, entah memberikan kepada saudaranya atau temannya. Kalau berjiwa bisnis, barangkali bisa dijual. Nah, kalau sudah ada ruang kosong, baru bisa akan ada mainan baru. Aturan yang bagus saya pikir.

Nah, hal yang sama soal waktu. Waktu yang kita miliki ini terbatas. Kalau kita dibebani tugas yang menyita waktu, maka mirip dengan lemari pakaian kita, akan semakin sesak. Lama-lama, akan ada tugas-tugas yang tidak terselesaikan karena memang sebenarnya sudah tidak muat lagi dalam slot waktu kita. Inilah esensi dari manajemen waktu.

Kita harus bisa memilah, mana yang harus dieleminasi. Tugas apa yang harus didelegasikan, tugas apa yang harus ditolak. Kalau kita tidak bisa menolak dan mudah memberi janji, maka ini akan bahaya. Selain kita makin terbebani, kita juga akan makin stress.

Obrolan singkat yang dibatasi lamanya perjalanan di angkasa dan di dalam pesawat Citilink yang ruangnya terbatas karena sempitnya kursi, menambah wawasan soal ruang dan waktu.

Semoga bermanfaat dan mari kita kelola ruang dan waktu kita.