26 Des 2013

Setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu

Saat saya pergi ke sebuah gereja untuk studi banding perangkat multimedia dan broadcast system-nya, saya menyimak kotbahnya Pendeta Moh. Riza Solihin. Ada yang menarik buat saya, di mana temanya adalah tentang rest area. Sebuah kalimat yang saya ingat karena saya anggap penting adalah, setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu. Ya, benar sekali. Apapun bentuk perjalanannya, pasti kita membutuhkan tenaga, waktu bahkan juga uang. Tak jarang hal itu merupakan pengorbanan yang harus dilakukan. Terlebih, hidup ini sendiri bukankah juga merupakan sebuah perjalanan?

Perjalanan memang pasti berkaitan dengan dua hal, yakni ruang dan waktu. Ruang artinya bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Setiap pergerakan selain menempuh ruang, tentu membutuhkan waktu. Ketika saya belajar di sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kuliah, ini juga merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan dari saya kecil hingga dewasa, membutuhkan waktu dan pastinya mengkonsumsi banyak hal.

Demikian juga soal perjalanan hidup, perjalanan menjadi sesuatu, termasuk menjadi seorang entrepreneur, pasti mengkonsumsi sesuatu. Semua itu pasti berkaitan dengan resiko. Namun seorang entrepreneur bukan seorang yang mencari resiko (risk seeker), tapi seorang pengambil resiko (risk taker). Resiko yang diambil tentunya apa yang dikonsumsi ternyata tidak memperoleh imbalan seperti yang diharapkan. Bisa rugi dalam hal waktu, tenaga, pikiran bahkan modal finansial.

Berkaitan dengan hal ini, maka di sinilah pentingnya seorang entrepreneur melakukan sesuai dengan passionnya. Apakah passion itu? 

Passion adalah apa yang kita sukai untuk kerjakan. Sesuatu yang dari dalam akan membuat kita mau melakukannya, walau tanpa imbalan. Jadi ini menjadi motivasi dari dalam diri (motivasi intrinsik). Ada buku lama yang bagus dari Stephen Covey yakni "The Seven Habits of Highly Effective People". Juga buku dari penulis yang sama: "The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness"

Memang tidak semua orang berhasil dengan mudah menemukan passionnya. Ada yang berpendapat bahwa passion tidak bisa dipaksakan, tapi sebenarnya passion bisa dibiasakan. Ibarat pepatah mengatakan, "Witing tresna jalaran saka kulina." Jadi ini mengatakan bahwa melalui habit, bisa menjadi sebuah passion. Aristoteles juga mengatakan, "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." Hal ini yang membuat Dave Evans, pengajar pendamping dari sebuah kursus popular mengenai “Designing Your Life” dari Stanford University, mengatakan , “Kita tidak memulai dengan bertanya 'apa passionmu?' Kebanyakan orang tidak memiliki sebuah passion, atau bahkan punya banyak. Namun dimulai dengan pertanyaan, apa yang kita lakukan?"

Ketika perjalanan menjadi seorang entrepreneur mengkonsumsi banyak hal, ketika dilakukan sesuai passionnya maka gairah yang ada membuatnya tak mudah lelah. Memang bisa saja orang bekerja atau melakukan usaha yang tidak sesuai dengan passionnya. Tapi hal ini pasti akan membuatnya cepat lelah, stress atau bahkan mudah menyerah. Lakukan dengan passion maka perjalanan Anda menjadi dan sebagai entrepreneur akan lebih menyenangkan.

Ada sebuah puisi tentang mengapa kita perlu mencintai apa yang kita kerjakan...


CINTAILAH APA YANG KAMU KERJAKAN

Kalau engkau tidak menyukai pekerjaanmu,
Engkau akan membutuhkan tenaga tiga kali lipat!
Untuk memaksa dirimu untuk bekerja,
Untuk melawan dorongan itu, dan akhirnya untuk bekerja.

Kalau engkau mencintai pekerjaanmu,
Keinginanmu untuk mengerjakannya
Akan seperti angin yang mendorong kapalmu
Dengan bahan bakar yang jauh lebih sedikit.

Kalau engkau menyukai pekerjaanmu
engkau sebenarnya tidak bekerja lagi
karena pekerjaan apabila disukai,
bukan lagi pekerjaan melainkan kenikmatan!!

Kalau engkau menikmati pekerjaanmu,
Engkau akan bekerja,dan
bekerja tanpa menghitung jam, dan
Engkau akan menuai dan menikmati hasilnya juga.



Popular Posts