Meta-Kosmik

Meta-Kosmik

Setiap orang ingin hidup lama
Tapi siapa yang akan sangka…
Pagi itu menjadi sarapan terakhirnya
Siapa yang bisa mengira…
Siang itu jadi saat terakhir menyapa ibunya
Siapa yang mampu menduga..
Malam ini jadi tidur terakhirnya..

Adalah harapan untuk panjang usia
Tapi kala panggilan itu datang
Siapa yang bisa menampik?
Saat waktunya sudah tiba,
Tak ada lagi kuasa untuk angan
Bila memang sudah waktunya,
Hanya pasrah yang bisa dihaturkan..

Saat meta-kosmik menyapa
Tubuh yang tegar kuat sekalipun
Tak ada lagi yang mampu berdiri tegak
Tak ada lagi yang sanggup tetap tengadah
Tak ada lagi yang kuat menahan nyawa
Luluh lantak, rapuh, semua terkoyak.

Saat meta-kosmik memilih
Mengapa aku hidup tapi yang lain mati
Apakah ini sebuah keuntungan?
Sesaat, kukira kutahu segalanya
Tapi, siapa yang tahu masa depan?
Mungkin giliranku juga tak lama lagi

Apakah hidup ini hanya ilusi?
Apakah semua ini hanya kebetulan?
Atau kita hanya ikut saja alur cerita?
Tak tahu dari mana dan mau kemana
Tak jelas apakah hari ini saat terakhirku
Biarlah meta-kosmik menjadi rinduku...

Nur Agustinus
1 Oktober 2018


Caraka Langit

Hanacaraka, ada utusan
datang dengan membawa pesan
Mereka telah turun dari langit
berkata punya kuasa atas planit

Siapa mereka? Dari mana mereka?
Datang dengan kereta terbang berapi
Membangun istana menjulang tinggi.
Mengajari manusia ilmu rahasia...

Mereka pada awalnya adalah satu
Tapi setelah sekian lamanya waktu
Tak ada lagi pemimpin pemersatu
dan semua ingin jadi nomor satu

Datasawala, saling bertengkar
Planet bumi membara terbakar
Perang tak dapat lagi dihindarkan
Kedua pihak saling menekan

Bumi yang awalnya ibarat surga
dan manusia hidup dengan bahagia
berubah jadi sebuah mala petaka
dan porak poranda seluruh isinya...

Padajayanya, sama hebatnya
Tak ada yang menang atau kalah
Yang ada hanya kehancuran bersama
Kalau mereka tidak menyadarinya

Ibarat Gajah dan gajah berkelahi,
pelanduk mati di tengah-tengah
Begitulah nasib penghuni bumi
meski ini bukan akhir bagi manusia

Magabathanga, habislah mereka
Para pangeran tewas di medan laga
Tak ada air mata, tak ada tangis duka
Sunyi sepi, tak ada lagi yang menjaga 

Perlahan manusia menata hidup kembali..
Berharap dengan terbitnya matahari
Sambil menunggu lagi caraka langit,
berupaya memimpin rumah sendiri...


(Nur Agustinus, 18 Desember 2008)