Unreasonable People

 Rabu, 24 Juli 2013, saya mengajar kembali di kelas Social Entrepreneurship. Melanjutkan semester lalu, kini masuk ke kelas bagi mahasiswa semester 5. Agak berbeda dengan semester lalu, saat ini saya tidak lagi ditemani oleh Bu Ianinta Sembiring. Kali ini yang akan bersama saya menjadi fasilitator adalah Pak Freddy dan Pak Dewa. Mudah-mudahan komposisi fasilitator kali ini tidak membuat mahasiswa jadi keder, tapi justru bisa memberi inspirasi baru bagi mereka.

Saya memulai kelas dengan mengatakan bahwa kita yang ada di kelas ini adalah para "Unreasonable People", orang-orang yang tidak masuk akal. Inspirasi istilah ini dari buku karya John Elkington dan Pamela Hartigan yang berjudul "The Power Of Unreasonable People". Mengapa disebut begitu? Bisnis, yang selama ini dikenal sebagai ajang mengejar kekayaan personal, oleh orang-orang "gila" (unreasonable people) ini diubah menjadi sarana untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan membantu banyak orang. Hal ini diperjelas oleh Pak Freddy H. Istanto yang terkenal banyak berkiprah dalam hal budaya melalui the Surabaya Heritage Society (SHS), memang keterpanggilan dirinya untuk menangani masalah budaya ini sama sekali tidak terdorong untuk mencari keuntungan atau uang. Tapi justru hal itu membawa pak Freddy menjadi seorang yang penting dalam hal pelestarian budaya.

Pak Dewa yang juga menekuni bidang budaya dan pariwisata juga menunjukkan bahwa banyak hal bisa dilakukan sebagai seorang social entrepreneur. Selain itu, pak Dewa juga aktif dalam menulis di media. Salah satu harapan dari kelas ini adalah dimuatnya tulisan-tulisan mahasiswa di media publik. 

Kelas E5 Sosial ini memang akan fokus untuk mengajak mahasiswa memikirkan program kerja nyata di bidang sosial, namun bukan bersifat charity. Untung menjawab tantangan global, program kerja ini dikaitkan dengan MDG (Millenium Development Goals). Ada 8 hal yang bisa menjadi acuan dari misi program mahasiswa, ditambah dengan aspek budaya yang juga bisa digarap sebagai project.

Tantangan yang diberikan barangkali terasa berat, namun di sinilah tugas para fasilitator serta mentor untuk membimbing mahasiswa. Kalaupun dirasa sulit, itu bukan berarti tidak bisa. Untuk menjadi seorang Unreasonable People dalam artian yang positif, memang nampaknya kita harus melakukan sebuah Mission Imposible. Tapi, kata impossible sendiri bisa menjadi I'm possible selama kita yakin dan mau berusaha melakukannya sungguh-sungguh dengan hati. Besar harapan agar mahasiswa saya tetap semangat dan mau berusaha dengan maksimal, selain untuk mendapat nilai yang baik, tapi juga punya keinginan sungguh untuk berbuat sesuatu agar dunia bisa menjadi lebih baik.

 

Reaktif atau Proaktif



Tadi pagi, waktu berangkat ke kampus, saat belok di persimpangan jalan, ada truk ngebut dan memotong jalur perjalanan saya seenaknya. Tentu saja reaksi normal adalah jengkel dan marah. Entah kebetulan atau bukan, kemarin saya membaca lagi sekilas buku "The 7 Habits of Highly Effective People", di mana kebiasaan pertama yang penting adalah jadilah proaktif. Reaksi orang atas sebuah peristiwa bisa dua pilihan, pertama reaktif, dan yang kedua proaktif. Dulu saya sempat mengalami kejadian serupa dan saya reaktif. Saya marah dalam hati, dan sepanjang jalan pikiran saya tak bisa lepas dari kemarahan saya pada pengemudi yang seenaknya. Tapi hari ini saya memilih untuk proaktif. Seperti saran di buku itu, saya lalu berkata dalam hati, saya maafkan kamu. Dan yang terjadi justru berbeda. Perasaan saya jadi tenang dan saya jadi bisa konsentrasi pada perjalanan saya berikutnya. Hati saya damai. Tak ada rasa dongkol dalam hati. Membuat hati tenteram itu memang sebuah pilihan...

Tips membuka usaha warung makan

Anda ingin membuka usaha warung makan? Ada sebuah buku yang menurut saya bagus dan praktis bagi yang ingin membuat warung makan. Buku ini berjudul "Sukses Mengelola Usaha Warung Makan" ditulis oeh Wulan Ayodya.

Warung makan merupakan usaha skala kecil yang menjual makanan. Kebanyakan warung makan merupakan tempat makan yang sederhana dan dikunjungi oleh kalangan menengah ke bawah. Tetapi banyak pula kalangan kelas menengah ke atas yang makan di sini. Ciri khas warung makan adalah adanya tempat makan dengan ruang dan perabot yang sederhana. Meskipun demikian, banyak warung makan yang menyajikan makanan dengan rasa yang sangat enak dan biasanya dijual dengan harga yang murah.

Saya mencoba membacakan garis besar isi buku ini, bisa dilihat dalam rangkaian seri 8 (delapan) video yang saya buat di bawah ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan beli bukunya langsung.


Bagian 1: Jenis-jenis warung makan



Bagian 2: Tujuh langkah memulai usaha warung makan.



Bagian 3: Survei Pasar & Lokasi, Modal dan Pemasaran



Bagian 4: Tenaga kerja untuk warung makan.



Bagian 5: Modal warung makan



Bagian 6: Tips memilih lokasi dan penentuan harga jual.



Bagian 7: Pengelolaan Usaha dan Pelayanan Pelanggan



Bagian 8: Mengatasi keluhan pelanggan



Buku ini sangat cocok bagi mereka yang sedang berada pada tahap awal untuk membuka usaha ini. Selain itu, buku ini juga bisa digunakan sebagai panduan bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia ini, tapi ingin mencari informasi tambahan mengenai bisnis mereka untuk mengembangkan usaha.
Informasi buku

Inovasi jangan sekedar asal berbeda

  
Bagaimana melakukan inovasi yang baik dan tidak sekedar asal lantas tak berguna?

Inovasi itu harus berdasarkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Tujuan inovasi adalah untuk memecahkan masalah yang dihadapi seseorang atau kelompok orang. Nah, setiap ada masalah, di sana ada peluang. Untuk mengatasi masalah, diperlukan inovasi. Ketika kita sebagai entrepreneur harus bisa memberikan solusi atas masalah, bahkan jika masalah itu masih belum dirasakan sebagai masalah.

Banyak yang mengatakan setelah belajar entrepreneurship bahwa cara berinovasi antara lain dengan Takutiruko (tambah, kurangi, tiru, ubah, dan kombinasikan). Tapi saya melihat masih belum paham tujuan sebenarnya dari inovasi. Misalnya, ada yang mau berinovasi membuat pecel tapi bukan dari kacang namun mente... apakah ini inovasi? Inovasi bukan sekedar membuat hal yang lain. Kalau mengikuti prinsip takutiruko, ya itu memang termasuk mengubah. Namun apakah perubahan itu dibutuhkan oleh masyarakat? Apakah perubahan itu memecahkan masalah orang lain? Kalau tidak, itu pasti tidak akan diterima oleh pasar. Lho pak, kalau tidak dicoba, mana tahu hasilnya? Ya, seringkali kemudian melakukan hanya dengan coba-coba. Ingat, bisnis bukan sekedar coba-coba lho...

Kita selalu ditanamkan pemahaman bahwa inovasi itu adalah yang diterima pasar. Tapi kita lupa bahwa yang diterima pasar itu berarti dibutuhkan pasar. Jadi, mestinya kita harus berpegang pada, apakah inovasi kita dibutuhkan oleh pasar atau tidak? Bagaimana supaya dibutuhkan? Bagaimana agar pasar tidak bisa berkata tidak? Ya berarti inovasi kita harus bisa menjadi solusi atau masalah pelanggan kita. Kalau tidak, ya percuma. Mungkin mereka hanya sekali beli, lalu tidak lagi,

Ingat, inovasi itu adalah bagaimana kita memecahkan masalah orang lain. Orang rela membeli, mengeluarkan uang, untuk mengatasi masalahnya. Kita menjual baju yang menarik, untuk mengatasi masalah orang yang ingin tampil cantik dan percaya diri dengan gaun tersebut. Jadi, kita memberi nilai tambah... ada value yang kita tawarkan kepada pelanggan. Kalau yang kita tawarkan ke pasar adalah sama dengan yang ditawarkan oleh orang lain, maka cara satu-satunya agar orang membeli barang kita adalah dengan membuat harga barang kita lebih murah. Ya, itu yang dilakukan pedagang. Tapi entrepreneur bukan sekedar pedagang, oleh karenanya, bersaing dengan menjual lebih murah itu bukan cara entrepreneur. Entrepreneur bersaing dengan memberi nilai tambah lebih baik bagi pelanggannya. Tapi, bagaimana supaya pelanggan tetap bisa beli dengan harga yang wajar walau kita memberi nilai tambah?

Perlu diperhatikan, seringkali kita punya inovasi tapi membuat biaya kita makin besar. Contohnya, pasang wifi agar orang betah makan di rumah makan kita. Ya, memang ini menambah value, tapi sekaligus menambah biaya. Entrepreneur harus bisa memikirkan menambah value, tapi juga mengurangi biaya.

Kalau inovasi membuat Anda rugi, hal itu percuma saja. Jadi, bagaimana supaya inovasi Anda berhasil? Inovasi itu haruslah menjawab apa yang dibutuhkan pasar. Bahkan kalau Anda bisa melihat dan berpikir, maka Anda bisa mengetahui kebutuhan pasar yang masih belum terlihat saat ini. Misalnya, apa yang akan dibutuhkan orang lima tahun mendatang, tapi saat ini belum? Wah, belum tentu semua orang bisa memikirkan lho... Bayangkan lima belas tahun lalu saja, belum tentu semua orang butuh handphone. Kini, tanpa handphone, sepertinya ada yang kurang.

Nah, untuk tahu kebutuhan pasar yang ada saat ini (untuk menemukan peluang) atau kebutuhan mendatang (untuk menciptakan peluang), memang tidak sederhana... tapi juga tidak sulit asal mau berpikir dan bertindak yang benar. Jangan sekedar menambah, mengurangi atau mengubah. Apa yang dimaksud dengan tes pasar, sebenarnya harus diawali dengan melakukan empati terhapap pasar. Apa itu empati terhadap pasar? Artinya, Anda harus bisa mendengar, melihat, merasakan apa yang diinginkan serta dibutuhkan oleh pasar. Kemampuan peka terhadap lingkungan ini perlu dimiliki.

Sebagai pembelajar entrepreneurship, kita selalu ditekankan soal passion, vision, inovasi dan peluang. Sebenarnya hal-hal ini berkaitan. Ketika apa yang menjadi passion Anda bertemu dengan peluang, ini akan menjadi sebuah vision. Bagaimana kita bisa tahu itu adalah peluang? Ya dengan cara kita peka teradap kebutuhan pasar, baik pasar masa kini maupun pasar masa depan.
Dapatkah kita "melihat" tanah tandus ini sebagai tanah subur?
 Saya beri contoh dari cerita Pak Ciputra saat mengunjungi lahan yang saat ini telah menjadi kota mandiri Citraland di Surabaya. Saat itu, daerah ini adalah kawasan surabaya barat yang sama sekali tidak ada yang tertarik karena sangat kering dan tandus. Tanahnya pecah-pecah dan sangat gersang. Waktu itu Pak Ciputra naik mobil bersama walikota Surabaya saat itu, Pak Poernomo Kasidi. Pak Walikota waktu itu berkata kepada pak Kresnayana Yahya, seorang ahli statistik dan konsultan usaha, "kok ya ada orang yang berminat dengan daerah seperti ini?" Nah, apa yang "dilihat" (vision) oleh pak Ciputra adalah gabungan dari pasion dan opportunity. Beliau melihat peluang masa depan dan itu hanya bisa terlihat karena beliau memiliki pasion di bidang tersebut. Passion beliau adalah mengubah sampah menjadi emas, mengubah tanah tandus menjadi permai. Tidak semua orang bisa melihat dan berpikir seperti itu. Dari sanalah lahir inovasi, menjawab apa yang dibutuhkan pasar di masa mendatang.

Tentu, kita dalam skala yang berbeda, bisa menghasilkan inovasi-inovasi juga. Namun buatlah inovasi untuk mengatasi masalah pelanggan. Inovasi tidak selalu dalam produknya, tapi bisa juga dari segi prosesnya, pembayarannya, pemasarannya, atau lain sebagainya. Contoh inovasi di masa lalu adalah, dulu roti burger itu berbentuk kotak, seperti roti sandwich... tapi McDonald melakukan inovasi untuk membuat orang mudah membawa dan memakan roti burger dengan mengubahnya menjadi bundar. Perubahan ini membuat mudah orang membawa dan makan sebab bisa dimakan dari sudut mana saja cukup dengan menggeser rotinya. Ini inovasi, yang walaupun pasar saat itu tidak menganggap sebagai masalah dengan makan, tapi pihak McD sudah berpikir ke depan bahwa masalah itu ada dan dijawab melalui inovasi.

Inovasi itu pada dasarnya adalah untuk membuat hidup manusia lebih mudah serta meningkatkan kualitas hidup yang ada. Beri value lebih pada pelanggan, namun jangan lupa inovasi yang baik adalah yang bisa menurunkan biaya juga.

Salam entrepreneur, selamat berinovasi!

Membina hubungan yang sehat

Siapa yang tak ingin membina hubungan yang baik dengan orang lain, khususnya dengan teman, keluarga dan pasangannya? Kalau ditanya, apa kunci terjalinnya hubungan yang baik? Banyak orang menjawab bahwa kepercayaan, komunikasi, terbukaan, kejujuran dan komitmen adalah hal yang penting. Ya, hal itu adalah untuk menjaga sebuah hubungan agar bisa langgeng dengan baik.

Sebuah hubungan antar manusia pada dasarnya mengharapkan adanya sebuah pertumbuhan. Hubungan yang tidak sekedar begitu-begitu saja, namun ada hal yang bisa membuat makna. Sebuah hubungan tanpa makna akan menjadi kering dan membosankan. Lalu, bagaimana kita menjalin sebuah hubungan yang sehat? Hubungan ini tidak terbatas pada hubungan antara sepasang kekasih, tapi bisa juga antar teman, antara guru dengan muridnya, antar pimpinan dengan bawahannya, atau lain sebagainya.

Ada empat hal yang dibutuhkan manusia untuk tumbuh. Untuk menjadi pribadi yang bertumbuh, kita butuh kondisi dan lingkungan tertentu. Kadangkala, situasi yang tidak tepat membuat seseorang bukannya bertumbuh melainkan menderita.

Pertama, hubungan yang sehat adalah hubungan yang bisa membuat tertawa. Ada suasana yang menghibur. Kita tidak boleh mengabaikan hal ini. Dalam sebuah hubungan perlu ada entertaining. Tapi, bagaimana kalau kita memang tidak pandai melawak? Bagaimana kalau kita memang tidak tampak lucu? Sebenarnya ada banyak cara membuat hubungan ini menyegarkan dan menghibur. Saya yakin tiap manusia punya rasa humor dan menyukai hiburan. Manfaatkan waktu luang dengan berkomunikasi yang bisa membuat tertawa, menonton bersama, menikmati waktu yang menyenangkan. Ini sangat penting karena hubungan yang tidak menghibur akan menjadi kaku dan kering. Coba bandingkan teman-teman Anda yang bisa menghibur Anda dengan yang tidak, maka siapakah yang lebih Anda sukai untuk diajak makan siang bersama?

Yang kedua adalah, hubungan yang sehat adalah yang bisa memberi dukungan dan saling memberi dorongan. Ada orang tertentu yang bahkan bisa membuat kita patah semangat. Hubungan dengan orang seperti ini jelas tidak sehat. Tapi kalau kita bisa mendapatkan pasangan atau teman yang memberikan motivasi dan dukungan, maka hidup kita akan lebih bergairah. Untuk membina hubungan yang sehat, sebaiknya Anda juga membiasakan diri untuk selalu mendukung teman atau pasangan Anda. Jadi, kunci yang kedua adalah supporting.

Lalu, apa kunci yang ketiga? Pernahkah Anda berhubungan dengan seseorang yang membuat ide-ide kreatif Anda muncul? Atau mungkin Anda menjadi makin bersemangat untuk melakukan hal-hal baru? Orang seperti ini adalah yang mampu membuat Anda melakukan hal-hal yang tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Hubungan yang sehat juga membutuhkan hal ini. Inilah kemampuan inspiring, atau bagaimana dalam hubungan tersebut terjadi proses saling menginspirasi.

Orang yang bisa mengispirasi dan membawa perubahan biasanya akan selalu kita kenang. Kita bisa memperoleh inspirasi dari sebuah novel, film atau ucapan seseorang. Memberi inspirasi juga bisa dilakukan melalui tindakan. Coba Anda pikirkan, siapa-siapa saja orang yang bisa memberi inspirasi bagi Anda? Saya yakin orang tersebut akan membuat hidup Anda lebih bergairah. Nah, bagaimana kita membuat diri kita juga bisa memberi inspirasi bagi teman, pasangan dan keluarga kita.

Kunci yang keempat, yang tak kalah pentingnya untuk membina hubungan yang sehat adalah sikap saling menghargai. Yang dimaksud di sini adalah ucapan dan tindakan yang appreciating. Apresiasi adalah sebuah bentuk respons yang mempunyai hubungan timbal balik antara dua pihak yang saling berkaitan. Apresiasi itu membutuhkan adanya perhatian, kesungguhan hati untuk memberikan penilaian.

Kadang kala, kesalahan terjadi ketika memberi komentar dengan asal-asalan. Misalnya saat anak ingin menunjukkan hasil karya gambarnya, kemudian mengatakan, “wah, bagus sekali.” Tapi melihat lukisannya hanya sepintas, tidak sungguh-sungguh. Ini sering tidak disadari, karena apresiasi itu membutuhkan kesungguhan hati dan upaya memperhatikan. Di sini butuh empati yang besar untuk bisa merasakan dan menghargai hasil orang lain.

Mari kita introspeksi diri, apakah kita sendiri telah menjadi seorang yang bisa entertaining, supporting, inspiring dan appreciating bagi orang lain? Jika ya, belum terlambat untuk berubah memperbaiki diri, sekaligus nantinya akan membuat hubungan Anda dengan orang lain juga semakin baik dan menyenangkan.

 [nur agustinus]



Haruskah seorang guru entrepreneurship adalah entrepreneur?





Saya membaca sebuah buku yang berjudul “ACTION! For One Family One Entrepreneur” yang ditulis oleh A. Khoerussalim Ikhs., di salah satu uraiannya mengenai pendidikan kewirausahaan, dikemukakan: “Mengajar kewirausahaan tidak sama dengan mengajarkan ilmu-ilmu lainnya. Mengajarkan kewirausahaan harus mampu melakukannya. Kesalahan terbesar pengajar kewirausahaan di sekolah adalah gurunya bukan pelaku usaha.” (hal 41). Apa yang dikemukakan ini tidak salah memang. Argumentasinya, kalau sebagai pengajar entrepreneurship kita sendiri tidak bisa meyakinkan bahwa kita bisa berbisnis, bagaimana kita akan bisa memotivasi atau menginspirasi orang lain menjadi pengusaha?

Khoerussalim menegaskan bahwa itulah kesalahan terbesar selama ini para pengajar kewirausahaan di banyak SMK dan perguruan tinggi. Mereka mengajarkan bisnis tanpa dirinya pernah menjadi pelaku bisnis.  Ibaratnya, seorang pengajar renang memberi pelajaran tentang bagaimana cara berenang, namun dirinya sendiri takut air dan tidak pernah berenang. Jelas mereka tidak bisa menjadi seorang penyelamat yang baik jika muridnya tenggelam.  Yang terburuk, bisa saja muridnya menjadi takut berenang karena gurunya sendiri tidak berani mencebur ke kolam. Jika kita sendiri tidak pernah berani terjun sebagai pengusaha, dapatkah kita mengharapkan murid kita menjadi entrepreneur?

Beberapa waktu lalu, Universitas Ciputra kedatangan seorang profesor dari  University of Missouri-Kansas City yang bernama Prof. John Norton. Beliau adalah Institute Managing Director dari  Department of Global Entrepreneurship and Innovation UMKC.  Dalam satu kesempatan berdiskusi bersama dengannya, John Norton mengatakan bahwa seorang pengajar entrepreneurship seharusnya adalah seorang yang kalau dalam bahasa Jepang disebut sebagai SENSEI. Apa itu sensei?

Sensei (先生) adalah berarti "person born before another",  sebuah istilah yang digunakan oleh orang-orang Jepang sebagai panggilan untuk orang yang dihormati karena posisinya.  Sen pada kata Sensei berasal dari kata sakidatsu (先立って?, lebih dulu di depan), sedangkan sei berarti murid. John Norton mengartikan bahwa seorang sensei adalah orang yang sudah pernah menjalani lebih dahulu. Jadi, jika dia seorang sensei di bidang entrepreneurship, seharusnya dia sudah pernah menjadi seorang entrepreneur.

Namun, bukankah seorang guru kimia tidak harus berpengalaman di industri kimia? Apakah tidak cukup seorang guru melalui proses pendidikan keguruan yang telah membekalinya dengan teori dan praktek serta cara mengajar yang baik? Ya, dalam hal ini memang benar.  Tapi sebagai pengajar entrepreneurship memang bisa berbeda situasi dan kondisinya.

Kalau dalam pengamatan saya, mengajar apapun itu, kita perlu menguasai tiga hal, yakni pengetahuan (knowledge), semangat (spirit) dan nilai (value) yang terkandung di dalamnya. Kegagalan pengajar entrepreneurship, sebagaimana juga dikemukakan oleh Khoerussalim dalam bukunya ini, adalah hanya mampu melakukan transfer knowledge.  Padahal pengetahuan saja tidak cukup.

Mengajar entrepreneurship paling cocok barangkali dianalogikan dengan pendidikan ketentaraan. Seorang instruktur militer, memang seharusnya dia adalah juga seorang tentara. Seorang yang mengajarkan bagaimana menembak, tentu dia sendiri harus bisa menembak. Seorang yang melatih pasukan katak, juga harus sering menyelam. Nah, pertanyaannya kini adalah apakah seorang instruktur militer harus pernah terjun ke medan perang?

Mengajar entrepreneurship ada berbagai tingkatan. Ada yang level basic seperti halnya basic training di kemiliteran. Pelatih untuk baris berbaris, lari, latihan fisik dan lainnya, tidak harus seorang yang pernah berperang, namun mereka yang memang ahli di bidangnya. Misalnya saat pelajaran bela diri, harus dilatih oleh mereka yang jago bela diri. Bahkan mereka yang melatih ini, pangkatnya juga tidak terlalu tinggi.

Entrepreneurship juga sama. Banyak kecakapan yang harus dilatih, misalnya bagaimana menjual, berkomunikasi, mendesain produk, membuat rencana bisnis dan lain sebagainya. Menurut saya, pengajar di bidang ini tidak harus seorang yang pernah terjun langsung sebagai pengusaha, namun harus yang benar-benar paham dan mampu mengajar dengan baik. Hanya saja, pendidikan entrepreneurship tidak berhenti sampai di sini. Transfer knowledge saja tidak cukup. Bagaimana kita bisa menularkan spirit, semangat serta value, ini dibutuhkan seorang mentor yang bisa memotivasi dan menginspirasi. Mereka ini yang bisa menjadi seorang entrepreneur enabler, menemukan dan mengembangkan potensi entrepreneurial orang lain.

Kembali ke perbandingan dengan pendidikan militer, seorang prajurit yang pernah terjun ke medan perang dengan yang tidak pernah, jelas berbeda.  Hampir mirip di dunia pendidikan dan praktisi, ada yang academic smart dan ada juga yang disebut dengan street smart.  Pendidikan entrepreneurship jelas tidak bisa hanya duduk di bangku sekolah atau kampus. Tidak juga cukup membaca dan menghafal teori-teori atau rumus. Pendidikan entrepreneurship harus melalui pengalaman dan latihan yang dibuat semirip mungin dengan kondisi di lapangan. Metode pembelajaran yang digunakan harus berupa project-based learning. Ibarat seorang calon pilot, setelah mencoba berlatih di dalam sebuah simulator, harus juga berlatih menerbangkan pesawat sungguhan.  Namun berlatih menjadi pilot tidak boleh gagal. Pesawat jatuh, bisa jadi nyawa juga melayang. Berlatih entrepreneurship, jatuh beberapa kali masih dan harus bisa bangkit lagi.

Problem para praktisi atau mereka yang sudah berpengalaman sebagai entrepreneur adalah tidak semuanya bisa mengajarkan apa yang diketahuinya. Banyak entrepreneur sukses juga tidak bisa mengajarkan ilmu entrepreneurshipnya kepada anak-anaknya sendiri. Pengetahuan yang mereka miliki, yang ditempa oleh pengalaman bertahun-tahun, telah menjadi sebuah “tacit knowledge”.  Tacit knowledge adalah pengetahuan yang ada dalam otak/pikiran kita.

Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang pada umumnya belum terdokumentasi karena pengetahuan ini masih ada pada keahlian atau pengalaman seseorang. Pada umumnya, tacit knowledge berhubungan dengan hal yang bersifat praktek dan untuk menularkannya dilakukan dengan cara sosialisasi langsung. Tacit knowledge dapat didokumentasikan, tetapi membutuhkan penjelasan rinci agar tidak terjadi kesalahpahaman kepada orang yang membaca dokumentasi dari pengetahuan tersebut. Nah, pengetahuan yang sudah didokumentasikan akan menjadi explicit knowledge.

Explicit knowledge adalah pengetahuan yang formal dan mudah untuk dibagikan ke orang lain. Umumnya merupakan pengetahuan yang bersifat teori yang memudahkan para ahli untuk membagi pengetahuannya kepada orang lain melalui buku, artikel dan jurnal tanpa harus datang langsung untuk mengajari orang tersebut. Misalnya pelajaran manajemen, di mana mahasiswa dapat belajar dari modul-modul yang disediakan oleh dosen. Pertanyaannya, bagaimana mengubah pendidikan entrepreneurship menjadi sebuah explicit knowledge?

Menurut saya hal ini bukan mustahil untuk dilakukan. Banyak sekali kini buku yang ditulis untuk mendokumentasikan tacit knowledge para entrepreneur atau orang yang sukses. Misalnya buku Jack Welch, Warren Buffet, Steve Jobs, Bill Gates, hingga tokoh dari Indonesia seperti Dahlan Iskan, Jokowi, Chairul Tanjung, Ciputra, Sandiaga Uno, dan masih banyak lainnya.

Saya jadi teringat buku “The Richest Man in Town: The Twelve Commandments of Wealth” yang ditulis oleh W. Randall Jones, di mana salah satu tipsnya adalah “Learn from the best and the worst”. Kita bisa belajar dari yang terbaik sekaligus yang terburuk (untuk tidak melakukan kesalahan yang sama).  Membaca biografi orang sukses adalah sangat baik, karena ini sekaligus menggali tacit knowledge dari para entrepreneur.

Maka belajar entrepreneurship memang tak ada salahnya dari mereka yang sudah terbukti terjun sebagai entrepreneur. Namun entrepreneurship itu bukan sekedar terjun berbisnis. Untuk terjun ke medan pertempuran yang sesungguhnya, banyak sekali kecakapan yang harus dimiliki. Untuk itu, belajarlah kepada siapa saja. Jangan karena melihat sang guru belum pernah terjun sebagai pengusaha, maka berkurang rasa hormat kita. Belajarlah marketing kepada sensei marketing, belajarlah keuangan pada sensei keuangan. Belajarlah berbisnis kepada sensei bisnis.

Salam entrepreneur!


Bagaimana menjadi Entrepreneur yang sukses?


Ada banyak buku yang berisikan tips atau ajakan untuk menjadi seorang entrepreneur. Kemarin saat saya membaca-baca buku di perpustakaan Universitas Ciputra, ada sebuah buku yang menarik perhatian saya. Bukunya sederhana tapi cara penjelasannya cukup gamblang. Judulnya “How to be an entrepreneur”, ditulis oleh Steve Parks. Saya ingin share beberapa hal yang saya baca dari buku ini. Barangkali bisa bermanfaat.

Satu hal yang dianggap penting oleh Steve Parks adalah membedakan antara pemilik usaha kecil dengan seorang entrepreneur. Sekilas kalau dibaca, seorang entrepreneur harus tidak mau hanya mendirikan bisnis dan kemudian seumur hidupnya mengerjakan bisnis yang rutin, berkutat pada permintaan dan masalah dengan pelanggan, bank, supplier atau lainnya. Menurutnya itu bukan seorang entrepreneur. Karena jika sampai hari-harinya tenggelam dalam rutinitas seperti itu, tentu tidak akan punya waktu untuk mengembangkan perusahaannya. Seorang entrepreneur tidak akan menjadi seperti seekor hamster yang hanya berlari di roda putarnya, tanpa ke mana-mana. Jika dia tidak bisa lepas dari rutinitas ini, maka operasi usahanya hanya menjadi sekedar “usaha kecil” daripada usaha yang entrepreneurial.

Jadi memang  seorang entrepreneur dituntut untuk mengembangkan perusahaannya. Selalu memikirkan untuk naik kelas, menuju ke level berikutnya. Jadi bukannya bekerja sampai 16 jam sehari dengan gila-gilaan, tapi harus bisa mendelegasikan tugas-tugasnya lalu mengembangkan ide-ide inovatifnya agar usahanya tumbuh, berkembang dan tahan lama.

Nah, bagaimana caranya? Inilah yang ingin dibagikan oleh Steve Parks. Menurutnya, ada enam rahasia yang bisa membuat diri kita sukses. Keenam hal ini adalah:

  1. Sikap. Entrepreneur punya sikap yang pasti yang membantu mereka meraih prestasi lebih dari orang lain. Jadi mereka memang tidak ingin menjadi seperti orang lain yang biasa-biasa saja. Mereka punya keinginan dan keyakinan dari bawah sadarnya bahwa dirinya harus menjadi orang sukses, bukan sekedar menjalani hidup saja.
  2. Peluang (Opportunity).  Seorang entrepreneur memiliki kepekaan dan terus menempa dirinya untuk menemukan atau menciptakan peluang, dalam setiap tingkatan mengembangkan usahanya.
  3. Fokus. Di antara sejumlah kerjaan yang harus dilakukan saat memulai dan mengembangkan bisnis, entrepreneur mempunyai fokus yang sangat kuat, ibarat seperti sinar laser. Ini sangat penting karena fokus adalah sebuah faktor sukses. Banyak pengusaha yang gagal atau kurangberhasil karena kurang fokus. Fokus ini adalah fokus pada perusahaannya, fokus pada personil yang bekerja untuknya, fokus dalam hal berpikir dan bertindak serta fokus pada team.
  4. Bakat. Orang yang sukses bukan sekedar membawa baket dari lahirnya, namun bakat itu harus ditempa dan dilatih. Mereka menjadi ahli karena selalu melatih potensi yang dimiliki. Kita tidak bisa mengatakan mereka berhasil karena bakat yang dimiliki, tapi sesungguhnya di balik itu, mereka selalu secara tekun belajar dan mengembangkan bakat-bakatnya untuk mencapa sebuah tujuan yang spesifik. Bakat yang dilatih dengan fokus ini akan memberikan hasil yang luar biasa.
  5. Membangun (building). Daripada menjalani hidup dengan mengerjakan sesuatu pekerjaan yang rutin, entrepreneur yang sukses lebih tertarik membangun usahanya sendiri. Mereka membangun brand (merk), membangun team, membangun sumber daya (resources), membangun sistem dan juga membangun keamanan (security).  Ini akan membuatnya memiliki modal yang kuat untuk menciptakan peluang dengan mengambil resiko yang terukur.
  6. Komunikasi. Entrepreneur adalah seorang komunikator yang hebat. Ini bukan berarti sekedar berbicara, tapi juga mampu mendengar/menyimak dengan baik. Kemampuan komunikasi yang baik akan menciptakan komunitas yang mendukung usaha mereka.

Entrepreneur sukses tidak mungkin bisa berhasil tanpa orang lain. Mereka harus membangun team, organisasi dan sistem. Untuk bisa membangun team yang kuat, sebagai pemimpin harus memiliki sikap yang kuat, fokus pada tujuan dan kecakapan untuk menemukan atau menciptakan peluang. Dengan demikian tidak akan sekedar jalan di tempat. Hal ini juga harus ditunjang dengan kesungguhan untuk membangun usahanya. 

Jadi Steve Parks menekankan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri, untuk menjadi entrepreneur sukses, harus ada keinginan kuat untuk selalu mengembangkan usahanya.  Tentu tidak salah orang harus bekerja keras, tapi jangan kemudian hanya berlari di tempat seperti seekor hamster. Entrepreneur perlu mempunyai sasaran yang ingin dicapainya, dan sasaran itu harus bisa diraih dalam waktu dekat untuk kemudian menuju ke sasaran yang lain. Tapi ini harus fokus, jangan semua ingin dicapai bersama-sama. 

Masih penasaran dengan apa yang dikemukakan oleh Steve Parks lewat bukunya ini? Klik http://www.flyingstartups.com/

Imaginaerum, sebuah memori menjelang kematian

Film Imaginaerum ini bercerita tentang seorang tua yang dulunya adalah seorang komposer yang jatuh sakit dan ingatan-ingatan masa lalunya muncul kembali. Lebih merupakan sebuah visualisasi dari near death experience. Jadi teringat om saya yang pernah koma, saat sadar berkata bahwa dirinya berada di sebuah ruangan dansa. Demikian juga ketika ayah saya koma, setelah sadar juga menceritakan dirinya sedang berada menapak sebuah tangga yang sangat tinggi.

"Memory... is the diary that we all carry about with us." ~ Oscar Wilde

 Salah satu kutipan dari film: "When you get old enough you don't fear death anymore, you wait for it. And, after a while, you hope for it, even if you don't admit IT. Do you know why? Because losing your mind before you go is worse than dying."

Film ini cocok untuk yang suka hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi dan makna kehidupan. Hidup manusia menjadi bermakna bagi dirinya karena ingatan yang dimilikinya. "Will our imagination help us find the spark of life in the deepest darkness?"