Mengapa Kita Suka Menunda?


Saya menonton sebuah video di Youtube, tentang kenapa orang suka melakukan penundaan. Video tersebut adalah sebuah seminar Ted Talks yangdibawakan oleh Tim Urban dengan judul “Inside the mind of a master procrastinator” (Di dalam pikiran seorang penunda yang hebat). Nah, saya berusaha sesegera mungkin menulis ini supaya tidak saya tunda juga.

Manusia hampir semua suka menunda. Jadi Anda jangan merasa malu atau bersalah jika termasuk orang yang suka melakukan penundaan. Kenyataan, seorang ibu rumah tangga, seorang pegawai, seorang direktur, seorang tentara, seorang mahasiswa yang sedang menulis skripsi, thesis atau disertasi, banyak melakukan penundaan. Apapun profesi kita, ternyata kita juga sering melakukan penundaan atau menunda-nunda dalam hal tertentu.



Nah, mengapa kita melakukan penundaan atau dalam istilah bahasa inggrisnya disebut procrastination? Untuk mengetahui ini, kita perlu sedikit mengulas tentang apa yang terjadi di dalam otak pikiran kita.
Ketika kita mempunyai rencana atau mendapat tugas (misalnya pekerjaan rumah atau tugas lain), maka otak kita pada dasarnya berpikir rasional. Tim Urban menyebut ini adalah bagian yang membuat keputusan secara rasional (Rational decision-maker). Misalnya, saya berpikir: "Ya saya harus segera mengerjakannya." "Kalau saya mau sukses, hal itu harus segera saya kerjakan." "Saya harus segera melakukan secepatnya." “Saya ingin segera pulang kampung dan buka usaha sendiri.” Saya harus segera membeli hal itu sebelum kedahuluan orang lain." Jadi, dalam otak kita ada pemikir rasional yang berpikir untuk segera melakukan apa yang kita rencanakan segera. Mewujudkan apa yang sudah kita putuskan sendiri. Tapi pada kenyataannya, hal itu tidak segera dilakukan. Mengapa? Apakah karena malas? Merasa waktu masih panjang? Tidak fokus?

Nah, menurut Tim Urban, ternyata di otak kita, selain ada seorang pengingat yang rasional dan mengingatkan kita untuk berbuat sesuai rencana itu, ternyata ada juga monyet nakal yang mengganggu. Monyet ini sifatnya selalu ingin mendapatkan hasil yang cepat kilat (langsung, instan) yang memuaskan dirinya (tentunya ini berarti adalah diri kita juga). Monyet ini membuat kita untuk melakukan hal lain yang bersifat mudah dan menyenangkan (easy and fun). Ya, contohnya, yang mudah dan menyenangkan misalnya membuka adalah membuka facebook, instagram, main bola, nonton bioskop, jalan-jalan, dll.

Dengan melakukan hal lain yang memang mudah dan menyenangkan, kita akan menunda apa yang sudah diputuskan. Sosok yang berpikir rasional itu, yang harusnya mengendalikan diri kita, terkena gangguan dan kalah dengan monyet nakal itu. Ibarat kita ini kapten kapal yang seharusnya memegang kendali kemudi kapal, monyet itu mengambil alih kemudi kita dan kita sebagai kaptennya tidak berkuasa mengendalikannya lagi... Lalu, Tim Urban mengatakan, lalu apa yang selanjutnya terjadi? Mengapa ada orang yang mendapat tugas, menunda tugas itu, lalu di batas-batas waktu yang sudah mepet, kemudian mengerjakan hal itu? Apa yang terjadi?

Menurut Tim Urban, ada sosok ketiga dalam pikiran kita yang disebut olehnya dengan nama "Panic Monster". Monster Panik ini akan muncul kalau waktunya sudah mepet. Ketika sudah dekat batas waktu deadlinenya, panic monster ini tiba-tiba muncul dan membuat kita jadi panik. "Ayo, segera kerjakan, waktunya tinggal sehari, lho..." Kira-kira panic monster ini bilangnya begitu. Kalau panic monster ini cukup perkasa, monyet nakalnya bisa kalah dan minggir. Kalau monyetnya bisa berhasil dipergikan, si pengendali yang rasional tadi bisa mengambil alih kemudi kapal atau diri kita. Hasilnya, kita akan mengerjakannya.

Nah, menurut Tim Urban, ada dua jenis penundaan. Pertama adalah penundaan dengan batas waktu (deadline), dan yang kedua adalah penundaan tanpa batas waktu. Batas waktu itu bisa diberikan oleh pihak lain (orang lain), misalnya ada batas waktu mengumpulkan tugas, atau kita sendiri berusaha membuat batas waktunya sendiri. Kalau gurunya tidak galak, batas waktu dari guru juga bisa dilanggar, akibatnya monster paniknya tidak bekerja... dia tetap jauh dan monyet nakal ini tetap menguasai diri kita.

Kalau kita memiliki sebuah rencana atau tugas yang tak ada batas waktunya (tidak ada deadlinenya, atau kita bisa mengatur batas waktu seenaknya), maka kecenderungan menunda makin besar dan lama. Ini karena monster paniknya tidak muncul.

Nah, untuk mencegah menunda-nunda, cara paling baik adalah membuat batas waktu atau deadline. Misalnya, aku segera harus memulai mengerjakan hal itu atau menyelesaikan sebelum bulan Agustus. Atau, misalnya saya akan memulai usaha pada tahun 2017. Kalau Anda tidak membuat batas waktu, pasti akan menunda lagi. Apalagi Anda tidak cukup galak terhadap diri sendiri, atau bisa mengubah/memundurkan batas waktunya. Ini membuat monster paniknya tidak bekerja.

Jadi, mengatasinya memang mudah dikatakan, tapi untuk melakukannya butuh komitmen. Harus ada batas waktunya. Itu sebabnya, kalau kita membuat rencana harus SMART di mana hruf T terakhir dari SMART berarti Timely atau punya batas waktu. Kalau kita tidak ada batas waktu deadline (batas akhir), pasti kita tetap santai dan menikmati monyet nakal itu menguasai diri kita. Tapi kalau tiba-tiba ada deadline, maka monster panik tiba-tiba muncul. Hanya monster panik yang bisa membuat si monyet nakal ini pergi.

For more from Tim Urban, visit Wait But Why: http://www.waitbutwhy.com/