Survei pasar, apa yang perlu diketahui?

Saat kita mau membangun bisnis atau usaha, penting untuk melakukan survei pasar. Namun perlu diingat, survei pasar ini tidak sama dengan survei pelanggan. Demikian juga tidak sama dengan tes pasar. tes pasar adalah menguji apakah produk kita disukai oleh pasar atau tidak. Survei pasar adalah melakukan penelitian atau riset mengenai apakah bisnis kita akan bisa berjalan dengan baik atau tidak. Tentu, hal ini tidak lepas dari tujuan bisnis untuk mendapatkan keuntungan. 

Nah, saat melakukan survei pasar, sebenarnya yang perlu diketahui adalah:
1. Besarnya pasar
2. Bagian pasar
3. Marjin keuntungan


Yang pertama kita melihat apakah pasar yang hendak dimasuki itu berapa besar ukurannya. Ini artinya, seberapa besar pasar YANG BISA KITA JANGKAU. Pasar di kota jelas lebih besar dari di desa. Tapi sekali lagi, kalau kita buka toko kecil, walau di kota, tapi kalau lokasinya ada di gang sempit, maka ukuran besar pasar kita adalah seluas daerah itu saja.

Nah, setelah kita bisa mengetahui seberapa besar pasar, berikutnya adalah berapa bagian pasar yang bisa kita dapatkan. Ibarat pasar itu adalah sepiring nasi, di mana itu dimakan bersama-sama dengan yang lain (pesaing), maka kita kira-kira bisa meraih berapa besar bagiannya. Ini tentu harus menganalisis pesaing yang ada.

Yang ketiga, berapa besar marjin keuntungan yang bisa diraih di pasar tersebut. Semisal, Anda berbisnis kuliner di kota kecil, di mana Anda hanya bisa menjual dengan harga yang murah (daya beli masyarakat rendah atau karakter pasarnya suka nawar harga rendah), maka akan lebih baik bila Anda berbisnis di mana marjinnya lebih besar. Seorang teman saya, memutuskan untuk buka depot di Bali daripada di Mojokerto karena jualan di Mojokerto untungnya sangat sedikit.

Nah, itulah yang harus dilakukan saat survei pasar.

Kunci berbisnis: Pilih pohon yang benar dan belajar memanjat yang baik



Orang berbisnis itu bisa kita ibaratkan mau memanjat pohon untuk memetik buahnya... nah, kita jangan sampai memanjat pohon yang salah. Sudah repot-repot memanjatnya, dengan resiko terjatuh... eh ternyata pohon yang kita panjat itu keliru, tidak ada buahnya, atau buahnya tidak bisa dimakan...

Nah, kalau kita berbisnis bersama keluarga, dan yang menjalankan orang di rumah, itu sama seperti kita menyuruh dia memanjat pohon itu.  Masalahnya, belum tentu orang yang kita percayai menjalankan usaha itu bisa memanjat pohonya... bahkan mungkin dia tidak suka memanjat.

Oleh karena itu, yang pertama, kita harus membuat orang tersebut, entah pasangan kita, saudara kita atau anak kita, agar menyukai memanjat pohon. Dalam hal ini berarti menyukai berbisnis.  Kedua, kita perlu mengajari bagaimana caranya memanjat pohon dengan baik. Ini penting agar tidak terpeleset dan jatuh... walau jatuh nanti bisa manjat lagi, tapi kan sudah sakit duluan... kadang-kadang karena jatuh itu sakit, trus takut manjat lagi...

Nah, lalu apa yang mesti dilakukan?

Pertama adalah, carilah passion dan minat yang cocok untuk orang yang bakal mengerjakan bisnis tersebut. Kadang, masalahnya, kita menentukan bisnis tersebut (karena kita suka dan anggap bagus peluangnya), namun bagi yang bakal menjalankan ini sebenarnya nggak cocok...

 Untuk mengetahui apa passion dan minat dari pasangan kita (atau anggota keluarga yang ingin dipercaya menjalankan bisnis), maka secara bersama ajaklah bicara untuk mengetahui apa kekuatan, kelebihan dan kemampuan yang dimilikinya. Ingat, jangan memaksakan keinginan kita, sebab yang menjalankan bisnis nanti adalah mereka, bukan kita. Ini tentunya berbeda kalau kita sendiri ikut terjun dalam menjalankan bisnis tersebut....

Kalau dia belum tahu tentang potensi yang dimiliki, namun seandainya kita tahu, maka arahkan dan bimbinglah untuk menemukan passionnya...
Tapi, bagaimana kalau keluarga kita itu belum berminat memanjat pohon? Belum punya keinginan berbisnis?

Di sinilah kita harus bisa mengubah mindsetnya, mengubah cara berpikirnya. Tentu ini ada caranya, jadi jangan kuatir atau langsung menyerah jika keluarga masih ragu berbisnis...

Bagaimana mengubah mindset itu? Ada tiga hal yang mesti "disentuh", pertama adalah cara berpikirnya, kemudian perasaannya, dan ketiga adalah keinginannya.

Yang pertama, mengubah cara berpikirnya, yaitu dengan menanamkan cara berpikir yang positif. Kita mesti bisa menanamkan bahwa dirinya itu bisa dan mampu. Ini harus dengan memberi contoh dari diri kita sendiri untuk berpikir positif. Kadang orang memang sulit berpikir di luar kebiasaan dan cenderung pesimis. Ini yang mesti kita semangati terus menerus.

Yang kedua, soal perrasaannya, banyak yang ragu akan kemampuannya, mudah frustasi, tidak fokus, gampang menyerah, merasa tidak disayang, dll...

Kita mesti bisa membuatnya merasa percaya diri, bergairah.

Lalu, mungkin ada yang tanya, gimana caranya? Gampang kok... caranya adalah sering-sering memberi pujian kepadanya...
Pasti tiap orang punya pengalaman sendiri, kalau diri kita selalu saja diacuhkan, diremehkan, dimarahi, disalahkan, pasti lama-lama kita juga merasa frustasi dan malas... tapi coba kemudin ketemu dengan orang yang suka memuji kita... maka diri kita bisa jadi semangat karena ada yang memperhatikan kita. Kita tahu juga, banyak perselingkuhan gara-gara pasangan sendiri sudah tidak pernah memuji, namun kemudin mendapat pujian dari orang lain...

Kalau teman-teman berkomunikasi dengan pasangan, keluarga, anak, jangan lupa memujinya... jangan langsung menyalahkannya jika ada sesuatu yang tidak berkenan, tapi berilah pujian dan katakan kebanggan Anda kepadanya baru kita sarankan bagaimana sebaiknya. Niscaya dia akan senang dan berubah.

Nah, yang ketiga, kita perlu "mengutak-atik" keinginannya.... banyak orang yg ingin kaya, tapi tidak sungguh-sungguh mau berusaha. Kita mesti bisa membuatnya memiliki cita-cita atau tujuan hidup yang jelas baginya. Lalu membuatnya memiliki keyakinan yang kuat bahwa dia bisa mencapainya.

Carilah tokoh yang bisa dibuat idola. Tapi jangan membandingkan dia dengannya, melainkan caranya, misalnya saya yakin kamu bisa, sebab orang itu (beri contoh tokoh idola0 meski tidak punya kaki dan tangan, bisa melakukannya. Kita juga bisa mencari tokoh idola lain atau yang menjadi tokoh idolanya.

Kadang, kita hidup tanpa cita-cita. Ini membuat hidup kita mengalir tak jelas... Membuat diri kita memanjat pohon seadanya, dan kadang atau bahkan sering, memanjat pohon yang salah.

Sejak kecil, anak-anak kita mesti diarahkan memiliki cit-cita dan keyakinan yang kuat akan cita-citanya.

Saya yakin, kita semua dulu punya cita-cita. Kalau saya bertanya, mungkin ada yang ingin jadi dokter, ada yang ingin jadi bidan, ada yang ingin jadi polwan, ada yang ingin jadi guru, ada yang ingin jadi desainer, mungkin ada yang ingin jadi penulis, atau mungkin jadi pramugari...  tapi kadang cita-cita itu kandas... dan kita salahkan orang lain karenanya, kita salahkan keadaan yang membuat kita gagal mencapainya....
Ingat, yang menentukan hidup kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Milikilah keyakinan itu, bahwa masa depan kita di tangan kita sendiri... dengan izin dari Tuhan pasti kita bisa mencapainya.

Nah, mungkin apa yang terjadi pada diri kita, di mana cita-cita dulu tidak tercapai, tetaplah jangan menyerah.... canangkan cita-cita baru dan berusahalah mewujudkan dengan penuh keyakinan. Selalulah miliki harapan masa depan yang lebih baik.

Menurut saya, kalau memang ingin membangun bisnis bersama keluarga, kunci utama adalah kepercayaan dan komunikasi. Saling menghargai dan biarlah kita dalam posisi yang membina, artinya mendengarkan apa yang dimaui.  Tapi kita juga bisa mengarahkan yang menurut kita baik dan benar, sebab perlu diingat, jangan sampai memanjat pohon yang salah....

Mungkin tidak sesederhana yang saya kemukakan, tetapi kekuatan bersama jauh lebih baik daripada sendri. Ibarat lidi, lebih sulit dipatahkan jika menjadi sebuah sapu lidi.

Kalau teman-teman sudah memiliki pasangan atau keluarga yang siap diajak memanjat pohon bersama, itu jauh lebih baik dan mudah. Karena bersama-sama juga akan belajar bagaimana memanjat pohon yang benar.

Maka, ada dua hal yang mesti dipikirkan. Pilih pohon yang benar, artinya pilih bisnis yang benar atau sesuai dengan passion yang akan menjalankan bisnis tersebut, dan kedua belajar memanjat yang benar, artinya belajar mengelola bisnisnya dengan benar, termasuk di dalamnya nanti tentang mengelola keuangan, manusianya dan juga pemasarannya. Jangan sampai dalam perjalanan kita memanjat, salah memilih dahan untuk berpijak, jadi patah dan membuat kita jatuh...

MEA, kontribusi dan peluang meningkatkan kesejahteraan



Oleh: Nur Agustinus

Masyarakat Ekonomi Asean sudah diberlakukan sejak akhir tahun 2015. Apa pengaruhnya untuk kita dan bagaimana kita harus proaktif menyikapinya? Kita sering mendengar pembahasan peluang dan tantangan menghadapi MEA. Namun sejauh manakah kita menyadari apa pengaruh MEA bagi kehidupan kita? Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.

Saya membayangkan seperti ini. Kita bekerja di sebuah perusahaan. Pertanyaannya, apakah kita bekerja di kota tempat kita berasal? Misalnya, apakah Anda warga Surabaya bekerja di Surabaya? Atau warga kota Semarang bekerja di Surabaya? Sebenarnya, kalau kita amati, banyak sekali warga dari kota lain bekerja di kota yang berbeda. Warga kota Malang bekerja di Jakarta. Orang Yogyakarta bekerja di Bandung, dan lain sebagainya. Boleh jadi, ketika sudah berlama-lama tinggal di kota lain tersebut di mana dia mencari nafkah, lantas pindah domisili dan menjadi warga kota tersebut. 

Nah, pertanyaannya, apakah misalnya saya yang orang asli Surabaya, merasa terancam dengan datangnya orang dari Yogyakarta, yang dari Semarang, yang dari Madiun, yang dari banyuwangi, atau lainnya, yang mencari nafkah di kota saya? Rasanya tidak. Banyak orang dari kota kecil, pindah ke kota yang lebih besar, untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Itu sangat wajar. Bahkan, bagi seorang entrepreneur sekalipun, wajar akhirnya pindah ke kota yang lebih besar, seperti ibu kota, karena melihat peluang di sana jauh lebih bagus.

MEA, memang membuat sepuluh negara yang menjadi anggota ASEAN, memiliki visi dan komitmen bersama yakni Satu Visi – Satu IdentitasSatu Komunitas”. Jadi, mestinya, jika ada warga dari Thailand mau bekerja di Indonesia, hal yang sama seperti orang Jakarta ingin kerja di Bali, misalnya. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan sesungguhnya. Jadi saya membayangkan, MEA ini ibarat dulu, di tahun 1928 , Sumpah Pemuda yang menjadi awal mempersatukan Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.  

Oleh karenanya, sebuah peluang jika kita ingin meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan bekerja di negara lain, khususnya di negara ASEAN, yang bisa memberikan penghasilan jauh lebih baik daripada bekerja di daerah sendiri. Tentu, untuk itu butuh kompetensi dan keunggulan kompetitif menghadapi pasar kerja di luar negeri. Adalah sama seperti banyaknya orang yang mengadu nasib di luar negeri menjadi buruh migran, karena di sana penghasilannya jauh lebih besar ketimbang di negara sendiri. 

Tentu, di sisi lain, ada yang mengkhawatirkan banjirnya tenaga kerja dari luar negeri ke Indonesia. Ini yang kita sering kali tidak siap. Bahkan sikap kita sering kali juga tidak bisa menerima dengan hal itu. Mungkin kalau dibandingkan, ketika sebuah perusahaan didirikan di sebuah daerah, maka penduduk setempat menuntut dan melakukan demo agar pegawai perusahaan banyak yang diambil dari daerah setempat dan bukannya mengambil tenaga dari daerah lain. Padahal, kesempatan kerja terbuka di mana saja. Kalau kita membatasi ruang lingkup kita sendiri, maka kita justru tidak memiliki keunggulan dan pada akhirnya membuat kita tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

MEA sendiri sebenarnya menguntungkan bagi konsumen, karena dengan terbukanya arus perdagangan barang atau jasa, maka harga akan semakin murah. Yang sering dikhawatirkan adalah, akan banjirnya produk-produk dari luar negeri datang ke Indonesia. Sebenarnya kekhawatiran ini barangkali terlalu berlebihan, karena selama ini, Indonesia sudah kebanjiran produk dari luar negeri.  Baik itu produk branded atau produk dari negara lain yang sebenarnya memalsukan merk (produk KW atau grade ori yang diproduksi di negara lain). Di sinilah peran usaha kecil dan menengah yang harus bisa juga bersaing di pasar lokal, domestik maupun internasional. 

Indonesia sebenarnya unggul dalam industri kreatif. Indonesia juga unggul dalam hal keindahan alamnya yang bisa mengangkat industri pariwisata. Di sini butuh semangat kolaborasi antara pemerintah, swasta, akademisi dan komunitas setempat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama sambil tetap mempertahankan kearifan lokal. Ketika sebuah daerah dikembangkan menjadi tempat wisata, komunitas di sana harus siap menyambut peluang yang ada. Jangan kemudian malah pengusaha dari daerah lain yang datang untuk berjualan di sana. Juga bagaimana membudayakan kebersihan dan semangat menjaga kelestarian alam. Banyak tempat wisata yang kemudian tidak terawat dan kotor. 

Memang, kalau kita lihat dari skope yang lebih kecil, yakni diri kita sendiri. Adalah baik jika kita menempa diri untuk berjiwa pemimpin dan semangat entrepreneurial. Jadilah pelaku bisnis maupun penggerak masyarakat yang memiliki jiwa kewirausahaan sosial yang kuat. Tentu, peran komunitas di sini sangat besar sebab adalah sulit untuk melakukan seorang diri. Alangkah baiknya jika komunitas-komunitas membangun dirinya untuk mempunyai keinginan kuat berprestasi, mempunyai ambisi dan cita-cita yang tinggi. Anak muda kita perlu diajak untuk berani bercita-cita besar. Fokuslah pada apa yang menjadi impian kita agar bisa merencanakan masa depan dengan lebih baik. Jadilah pribadi yang percaya diri, mampu dan yakin pada kemampuan yang dimiliki.  

Dengan demikian, MEA bukanlah sebuah ancaman. Kalau kita bisa mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain, maka kita akan bisa bersaing di pasar global. MEA memiliki semangat bagaimana negara-negara yang tergabung dalam Asean menjadi satu jati diri. Sama seperti kita merasa sebagai orang Indonesia, bukan sekedar menjadi warga Jawa Timur, Sumatera Utara, Papua, atau lainnya. Dengan demikian, nantinya, kita berhubungan dengan warga dari negara Asean lainnya merasa sebagai satu komunitas. “One Vision, One Identity, One Community”.