Setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu

Saat saya pergi ke sebuah gereja untuk studi banding perangkat multimedia dan broadcast system-nya, saya menyimak kotbahnya Pendeta Moh. Riza Solihin. Ada yang menarik buat saya, di mana temanya adalah tentang rest area. Sebuah kalimat yang saya ingat karena saya anggap penting adalah, setiap perjalanan pasti mengkonsumsi sesuatu. Ya, benar sekali. Apapun bentuk perjalanannya, pasti kita membutuhkan tenaga, waktu bahkan juga uang. Tak jarang hal itu merupakan pengorbanan yang harus dilakukan. Terlebih, hidup ini sendiri bukankah juga merupakan sebuah perjalanan?

Perjalanan memang pasti berkaitan dengan dua hal, yakni ruang dan waktu. Ruang artinya bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Setiap pergerakan selain menempuh ruang, tentu membutuhkan waktu. Ketika saya belajar di sekolah, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kuliah, ini juga merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan dari saya kecil hingga dewasa, membutuhkan waktu dan pastinya mengkonsumsi banyak hal.

Demikian juga soal perjalanan hidup, perjalanan menjadi sesuatu, termasuk menjadi seorang entrepreneur, pasti mengkonsumsi sesuatu. Semua itu pasti berkaitan dengan resiko. Namun seorang entrepreneur bukan seorang yang mencari resiko (risk seeker), tapi seorang pengambil resiko (risk taker). Resiko yang diambil tentunya apa yang dikonsumsi ternyata tidak memperoleh imbalan seperti yang diharapkan. Bisa rugi dalam hal waktu, tenaga, pikiran bahkan modal finansial.

Berkaitan dengan hal ini, maka di sinilah pentingnya seorang entrepreneur melakukan sesuai dengan passionnya. Apakah passion itu? 

Passion adalah apa yang kita sukai untuk kerjakan. Sesuatu yang dari dalam akan membuat kita mau melakukannya, walau tanpa imbalan. Jadi ini menjadi motivasi dari dalam diri (motivasi intrinsik). Ada buku lama yang bagus dari Stephen Covey yakni "The Seven Habits of Highly Effective People". Juga buku dari penulis yang sama: "The 8th Habit : From Effectiveness to Greatness"

Memang tidak semua orang berhasil dengan mudah menemukan passionnya. Ada yang berpendapat bahwa passion tidak bisa dipaksakan, tapi sebenarnya passion bisa dibiasakan. Ibarat pepatah mengatakan, "Witing tresna jalaran saka kulina." Jadi ini mengatakan bahwa melalui habit, bisa menjadi sebuah passion. Aristoteles juga mengatakan, "We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." Hal ini yang membuat Dave Evans, pengajar pendamping dari sebuah kursus popular mengenai “Designing Your Life” dari Stanford University, mengatakan , “Kita tidak memulai dengan bertanya 'apa passionmu?' Kebanyakan orang tidak memiliki sebuah passion, atau bahkan punya banyak. Namun dimulai dengan pertanyaan, apa yang kita lakukan?"

Ketika perjalanan menjadi seorang entrepreneur mengkonsumsi banyak hal, ketika dilakukan sesuai passionnya maka gairah yang ada membuatnya tak mudah lelah. Memang bisa saja orang bekerja atau melakukan usaha yang tidak sesuai dengan passionnya. Tapi hal ini pasti akan membuatnya cepat lelah, stress atau bahkan mudah menyerah. Lakukan dengan passion maka perjalanan Anda menjadi dan sebagai entrepreneur akan lebih menyenangkan.

Ada sebuah puisi tentang mengapa kita perlu mencintai apa yang kita kerjakan...


CINTAILAH APA YANG KAMU KERJAKAN

Kalau engkau tidak menyukai pekerjaanmu,
Engkau akan membutuhkan tenaga tiga kali lipat!
Untuk memaksa dirimu untuk bekerja,
Untuk melawan dorongan itu, dan akhirnya untuk bekerja.

Kalau engkau mencintai pekerjaanmu,
Keinginanmu untuk mengerjakannya
Akan seperti angin yang mendorong kapalmu
Dengan bahan bakar yang jauh lebih sedikit.

Kalau engkau menyukai pekerjaanmu
engkau sebenarnya tidak bekerja lagi
karena pekerjaan apabila disukai,
bukan lagi pekerjaan melainkan kenikmatan!!

Kalau engkau menikmati pekerjaanmu,
Engkau akan bekerja,dan
bekerja tanpa menghitung jam, dan
Engkau akan menuai dan menikmati hasilnya juga.



Film lama 8mm

Proyektornya tidak sama persis, namun kira-kira seperti ini
Jauh sebelum ada Youtube, DVD, VCD, digital video seperti laser disk, bahkan VHS dan Betamax, waktu masih kecil di rumah ada proyektor film 8mm. Yang saya ingat ada 3 film. Memang ada persewaan film 8mm saat itu dengan film-film bisu. Film yang ada di rumah adalah Abbot Costello, Apollo XI dan sebuah film keluarga saat saya masih kecil. Film ini yang saya ingat merekam ketika saya berusia mungkin belum 2 tahun (sekitar akhir tahun 1967), karena sepertinya waktu itu ibu saya sedang hamil adik saya. Sebuah film saat pergi ke kota Probolinggo, ke tempat pelelangan kayu di mana Opa Suryo bekerja, serta saat ke Bali. Sayang, film ini sudah tidak ada lagi, entah hilang waktu kapan dan di mana. Alat proyektornya juga sudah tidak ada.

Film Abbot Costello ini belakangan saya temukan ada di Youtube. Melihatnya jadi mengenang kembali masa kecil. Cerita tentang balapan mobil yang seru. Film ini kalau tidak ada Youtube, saya tidak akan tahu judulnya, yakni "Midget Car Maniacs".



Film yang satu lagi tentang perjalanan manusia ke bulan. Filmnya hitam putih dan tanpa suara. Saya tidak tahu persis apakah video yang ada di Youtube di bawah ini sama dengan yang saya lihat dulu. Tapi kemungkinan besar adalah itu. Entah, apakah karena saya berulang kali menonton film ini, membuat saya suka dengan astronomi dan perjalanan antariksa.



Kini perkembangan teknologi sudah sangat luar biasa. Video-video lama bisa kita dapatkan dengan mudah. Yang sangat saya sayangkan adalah video keluarga yang hilang entah kemana. Yang pasti hanya tinggal memori yang merekam potongan-potongan adegan dari film tersebut. Saya merasa keluarga saya sudah sejak awal membiasakan untuk mendokumentasikan peristiwa. Entah berupa cerita, foto maupun film.

Role Model


A role model is a person who inspires and encourages us to strive for greatness, live to our fullest potential and see the best in ourselves.

Mengapa banyak remaja atau mahasiswa yang tidak tahu tujuan hidupnya atau juga bingung dengan passionnya. Mereka tidak tahu cara meraih mimpi, mencapai sukses, bahkan tidak berani bermimpi. Cenderung memilih menjalani saja apa yang ada saat ini. Ketika punya mimpi pun, tak sedikit yang kehilangan arah dalam mewujudkannya. Saat ditanya apa passionnya, mereka juga bingung.

Salah satu cara untuk membentuk passion sekaligus tujuan hidup adalah adanya role model. Ini erat kaitannya dengan keteladanan. Albert Bandura yang terkenal dengan teori pembelajaran sosial, mengemukakan sebagian besar tingkah laku manusia dipelajari melalui peniruan maupun penyajian, contoh tingkah laku (modeling).
Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu "Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakukan, perbuatan, sifat, dan sebagainya)". Sedangkan Wikipedia menjelaskan role model sebagai "person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others" yang artinya "Orang yang berfungsi sebagai contoh, yang perilakunya ditiru orang lain". - See more at: http://masvi2n.blogspot.com/2013/04/role-model-itu-penting.html#sthash.c0xFscH6.dpuf
Role model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu "Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk di contoh (tentang kelakukan, perbuatan, sifat, dan sebagainya)". Sedangkan Wikipedia menjelaskan role model sebagai "person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others" yang artinya "Orang yang berfungsi sebagai contoh, yang perilakunya ditiru orang lain". - See more at: http://masvi2n.blogspot.com/2013/04/role-model-itu-penting.html#sthash.c0xFscH6.dpuf

Role model terdekat adalah keluarganya, orang tuanya. Tapi seringkali, orang tua tidak mendidik anaknya sesuai dengan dirinya. Misalnya, ayahnya seorang guru, tidak ingin anaknya juga jadi guru. Orangtuanya petani dan tidak ingin anaknya jadi petani juga. Orang tua juga seringkali ingin anaknya bisa hidup layak sehingga merasa perlu campur tangan dengan bidang studi anaknya di perguruan tinggi. Tapi semua itu menurut saya yang penting adalah role model.

Nah, role model ini bisa dibentuk melalui film. Film yang ditonton anak-anak kita, barangkali kebanyakan adalah sinetron di televisi. Kita tahu sinetron apa yang lagi trend. Banyak sinetron menggambarkan situasi keluarga yang sangat kaya raya (entah dapat uangnya dari mana), dengan empat kondisi yang selalu ada yakni: keserakahan, iri hati, dendam dan perselingkuhan.

Coba kita bandingkan dengan film seri di luar negeri, seperti di AS. Ada film seri tentang dokter, misalnya Doogie Houser MD, ER, dan lain sebagainya. Ada cerita tentang pengacara, ada yang tentang polisi, bahkan ada yang tentang kehidupan pemadam kebakaran, tentara, dan lain sebagainya. Ini bisa menjadi sebuah role model. Paling tidak, film ini jika ditonton anak-anak, akan membuatnya ada yang tertarik menjadi polisi, menjadi perawat, dokter, atau mungkin juga pengacara. Film yang disuguhkan juga membentuk karakter, bagaimana etika dan integritas perlu dijaga.

Saya tidak tahu sejauh mana pengaruh film sinetron kita saat ini terhadap pemikiran anak-anak dan remaja kita. Di sekolah juga dipacu untuk mencari nilai terbaik. Anak barangkali bukan saja kurang diberi kesempatan untuk mengungkapkan ingin jadi apa, tapi seringkali memang benar-benar tidak tahu ingin jadi apa.  Menurut saya, kuncinya adalah role model atau tokoh yang dikaguminya. Repotnya, sekarang yang dikagumi kebanyakan adalah artis.

Jadilah Entrepreneur!


Bagaimana menjadi entrepreneur? Ada banyak resep dan tips untuk melangkah menjadi seorang pengusaha. Setidaknya yang diperlukan adalah perubahan mindset, sikap dan ketrampilan. Tentu saja tidak mengubah hal ini karena tantangan selalu ada.


Memang jika sudah punya keluarga dan sudah bekerja mapan di sebuah perusahaan, menjadi sebuah hambatan untuk memulai bisnis sendiri. Banyak saran mengatakan bahwa lakukan keduanya, yakni bekerja dan juga berwirausaha. Tapi benar, ini juga tidak mudah. Kita perlu fokus. Kalau usaha kita lakukan secara sampingan, nanti hasilnya juga sampingan. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Setiap langkah yang diambil pasti ada resiko. Keraguan untuk memulai yang baru, ini memang bukan sekedar sudah enak di zona nyaman. Tapi tentu banyak yang harus dipikirkan. Menjadi makin berat kalau selama ini tabungan yang berhasil dikumpulkan juga masih belum banyak, plus kalau masih banyak tanggungan cicilan pinjaman, entah rumah atau lainnya. Ini tidak mudah.

Ilustrasi di atas adalah ringkasan seminar tentang entrepreneurship yang pernah saya berikan. Banyak hambatan untuk menjadi entrepreneur, antara lain merasa kurang cukup modal, merasa sulit, tidak  tahu harus berusaha apa, merasa tidak aman, takut resiko gagal dan sebagainya.

Tentunya, untuk memasuki dunia yang serba tidak pasti ini butuh keteguhan hati. Yang diperlukan sejatinya bukan uang sebagai modal, tapi diri kita sendiri. Siapa kita, apa yang bisa kita lakukan dan siapa saja yang kita kenal. Selanjutnya memang kita perlu menempa diri lebih percaya diri, berusaha memimpin diri kita sendiri. Punya semangat yang tahan uji dan determinasi yang kuat.

Memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa.

Salam entrepreneur!

Beda Entrepreneur yang satu dengan yang lain





Jadi entrepreneur itu tidak mudah. Walau banyak yang ingin jadi entrepreneur, namun niat ini seringkali tidak berakhir sesuai harapan. Bagi yang sudah melangkah menjadi entrepreneur, dan sukses, ceritanya bisa lain.

Ketika menjadi moderator di acara temu darat UCEO (Universitas Ciputra Entrepreneurship Online) di kota Malang, 18 Desember 2013, ada temuan menarik. Saat itu saya menanyakan, apa yang membuat seorang entrepreneur berbeda dengan yang lainnya? Bukankah produk inovatif dengan mudah ditiru orang lain, bisnis model juga bisa diadopsi dengan mudah. Ternyata ada tiga hal dari jawaban para peserta yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang lain. Tiga hal itu adalah:

1. Mimpi
2. Daya juang
3. Link.

Yang pertama adalah mimpi. Mimpi seseorang berbeda dengan orang lain. Misalnya, dalam hal beli rumah saja, meski banyak orang punya rumah yang besar, tapi tiap orang beda besarnya. Bahkan ada yang tidak mau punya rumah besar karena repot mengurusnya. Mimpi yang berbeda ini membuat orang berbeda dalam melangkah. Repotnya, ada yang untuk bermimpi saja tidak bisa. Tidak tahu apa tujuan hidupnya, bingung mau jadi apa. Kalau kita sama sekali tidak punya mimpi atau angan, maka kita perjalanan hidup kita tidak akan terarah. Hidup tanpa arah tujuan ibarat kapal yang hanyut di tengah lautan.

Kedua adalah daya juang. Ini bisa diterjemahkan juga dengan determinasi. Seberapa kuat keinginannya untuk mencapai tujuan. Ada orang yang mudah menyerah. Ada orang yang memiliki kemauan kuat dan tahan uji. Ada buku yang berjudul Adversity Quotient (AQ) ditulis oleh Paul G. Stoltz. Adversity adalah daya tahan menghadapi masalah. Stoltz membagi tiga tipe manusia yang diibaratkan sedang dalam perjalanan mendaki sebuah gunung. Pertama adalah tipe high-AQ dinamakan Climbers, kelompok yang suka mencari tantangan. Yang kedua, low-AQ dinamakan Quitters. Kelompok ini mudah menyerah dan melarikan diri dari tantangan. Yang ketiga AQ sedang/moderat (campers). Jika para qutters adalah para pekerja yang  sekadar untuk bertahan hidup dan gampang putus asa serta menyerah di tengah jalan, tipe Camper  (berkemah di tengah  perjalanan) lebih baik, karena  biasanya  mereka  berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap cepat merasa puas dan tidak ingin berusaha lebih lagi mencapai puncak yang lebih tinggi.

Nah, yang ketiga adalah link atau jaringan/network. Setiap orang berbeda temannya, berbeda siapa yang dikenalnya. Tak ada entrepreneur yang bisa sukses seorang diri. Pasti membutuhkan orang lain, entah sebagai partner bisnis, rekan bisnis, pelanggan atau supplier, bahkan mentor. Menurut prinsip efektuasi yang dikemukakan oleh Saras D. Sarasvathy,  ini merupakan salah satu dari komponen bird in hand (siapa saya, apa yang bisa saya lakukan dan siapa yang saya kenal). Tentu saja, kenal saja tidak cukup. Entrepreneur harus bisa menjalin kerja sama dan komitmen saling menguntungkan dengan kenalan yang dimilikinya.

Ketiga hal inilah yang membuat seorang entrepreneur berbeda dengan yang lainnya. Jadilah entrepreneur dengan memiliki mimpi besar, daya juang yang kuat serta link yang berkualitas.


"A dream doesn't become reality through magic; it takes sweat, determination and hard work." - Colin Powell

Salam entrepreneur!



Apa passion Anda?

 

Apa itu passion? Kata passion ini sudah menjadi trend dalam seminar-seminar. Passion itu terjemahan mudahnya adalah hasrat. Apa yang membuat kita berhasrat melakukannya. Sebenarnya dalam kelompok besarnya bisa dibagi ke dalam 6 jenis. Pembagian ini berdasarkan value yang dianut oleh manusia. Teorinya dikemukakan oleh pakar psikologi yang namanya Eduard Spranger. Keenam tipe ini adalah:

1. Tipe agama
2. Tipe pengetahuan
3. Tipe ekonomi
4. Tipe politik
5. Tipe sosial
6. Tipe artistik.

Urutan di atas bukan merupakan mana yang lebih baik, tapi berdasarkan apa yang menjadi hasratnya. Cara mengujinya memang mudah. Misalnya, kalau anda dapat rejeki, apa yang akan anda lakukan dengan uang anda. Apakah berencana untuk membantu orang lain (tipe sosial), atau untuk beli buku atau belajar (tipe pengetahuan), atau untuk dana jadi kepala desa (tipe politik), atau untuk bikin sanggar seni entah musik, tari, lukis, dll (tipe artistik), atau untuk bisnis (tipe ekonomi).

Lalu, apa tipe yang bukan tipe ekonomi ini tidak cocok jadi entrepreneur? Tentu saja bisa. Untuk itu, akan ada seniman yang entrepreneurial, ada pemimpin daerah yang entrepreneurial, guru yang entrepreneurial, dan sebagainya.

Ada novel bagus dari Dee (Dewi Lestari) yang judulnya Perahu Kertas dan juga Madre. Jika sudah baca novelnya atau lihat filmnya, ini berkaitan dengan passion. Dalam Perahu Kertas, ada pelukis, Keenan (tipe artistik), yang oleh keluarganya harus jadi pemimpin perusahaan (tipe ekonomi), serta Kugy, yang tipe sosial, harus bekerja sementara keinginannya untuk membantu anak-anak untuk belajar ejadi terbengkalai. Dalam film Madre juga sama, seorang yang boleh dibilang seniman, karena dapat warisan, harus mengelola usahanya. Ini memang bicara passion.

Jadi, coba gali, apa passion dari Sri Redjeki. Di antara keenam tipe itu, mana yang paling kuat. Bisa saja ada kombinasi, misalnya agama dan pengetahuan. Sebagai contoh, Gus Dur, menurut saya adalah tipe pengetahuan, dan karena lingkungan keluarganya, beliau juga tipe agama. Tapi ketika menjadi presiden, di mana harus menjadi manusia politik, beliau tidak bisa "berbasa-basi" sebagaimana harusnya politikus.  Hal yang sama juga dengan BJ. Habibie, yang juga gabungan tipe pengetahuan dan ekonomi. Bagi beliau, asal menguntungkan, pesawat ditukar ketan juga tak masalah. Tapi ini dianggap aneh bagi orang yang bukan tipe ekonomi dan menjadi buruk di mata politik.

Memang, bagi manusia tipe ekonomi di mana lebih mudah ke arah mencari uang lewat berjualan atau berbisnis, maka tipe ini yang paling getol ingin cepat kaya. Kalau tipe lain barangkali tidak. Mereka ingin berkarya sesuai dengan pilihannya.

Dari semuanya ini, tak ada pilihan yang benar atau salah. Namun semua pilihan memiliki konsekuensi. Kalau kita siap menerima konsekuensinya, berusahalah untuk bisa menyenangi apa yang kita lakukan. Cintai apa yang kita kerjakan maka kita akan melakukannya dengan penuh hasrat. Passion bisa berawal dari diri kita sebelumnya, namun melalui apa yang kita lakukan dan menjadi kebiasaan, itu lama-lama juga akan menjadi passion kita.

Aristoteles, filsuf Yunani kuno mengatakan, “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Keunggulan, oleh karena itu bukan suatu tindakan, melainkan suatu kebiasaan.”

Salam entrepreneur!

Buku-buku masa kecil

Bulan Desember, menjelang Natal, mengingatkan saya waktu kecil dapat hadiah dari sinterklas. Malamnya mengisi rumput di sepatu dan besoknya ada hadiah dari sinterklas. Tentu saja setelah besar baru tahu bahwa yang memberi hadiah adalah orang tua sendiri. Hadiah yang saya ingat adalah buku cerita Teddy Beruang. Keluarga saya memang membiasakan buku menjadi menu utama.

Waktu kecil setiap malam minggu, ayah saya mengajak keluarga ke toko buku. Waktu itu namanya TB Sari Agung di Jl Tunjungan, Surabaya. Kini toko buku ini sudah kalah bersaing dengan Gramedia dan Gunung Agung. Ada juga kemudian toko buku Indira dan juga Grafiti tapi sudah tutup juga.

Kalau ke toko buku, biasanya mencari buku cerita, yakni Cerita dari Lima Benua terbitan Gramedia. Cerita paling berkesan adalah "Simon dan Orang Bercahaya". Waktu kecil juga saya dibelikan majalah Bobo, Kawanku. Ada loper koran datang ke rumah, namanya Pak Musa, membawakan juga seri album cerita ternama. Ada juga komik seperti Deni Manusia Ikan, dan sebuah cerita komik yang saya suka adalah Wiro Anak Rimba. Buku yang diperkenankan saya memilih sendiri untuk pertama kalinya, kalau tidak salah waktu itu SD mungkin kelas 5 atau 6, saya memilih buku kalau tidak salah judulnya "roket dan antariksa".

Saya dari kecil, entah kenapa, suka dengan antariksa, roket, perjalanan luar angkasa. Saya suka membaca majalah, dan waktu itu majalah kesukaan saya adalah Mekatronika, Scientiae dan Aku Tahu. Ketiganya majalah ilmu pengetahuan. Dari sana saya mengenal Carl Sagan. Sayang saat ini sedikit sekali majalah sains seperti dulu.

Saya adalah anak laki tertua dari tiga bersaudara. Dua adik saya perempuan, semuanya tidak begitu suka baca buku seperti saya. Ayah saya (alm), Basuki Soejatmiko, adalah wartawan dan redaktur di majalah Liberty (sejak 1960 hingga 1985) dan Jawa Pos (sejak 1985 hingga 1990), ibu saya, Wuri Soedjatmiko, awalnya adalah ibu rumah tangga, namun saat saya SMP, ibu saya didorong oleh ayah saya untuk kuliah lagi hingga menjadi doktor di bidang pengajaran bahasa Inggris dan kemudian menjadi dosen di Unika Widya Mandala. Barangkali saya yang mengikuti jejak ayah dan ibu saya, menjadi pengajar sekaligus suka membaca dan menulis. Ayah saya yang wartawan (generasi wartawan jaman dulu) tentu menunjang rasa ingin tahu yang besar.

Surabaya 22 Desember 2013.




Refleksi akhir semester mengajar di kelas Social Entrepreneurship 5

http://satunama.org/id/2013/09/berbagi-ilmu-dan-pengalaman-social-entrepreneurship/

Teman-teman, mahasiswa kelas Social Entrepreneurship UC, terima kasih telah bergabung bersama di kelas E Sosial, mulai semester 4 dan 5. Tak terasa satu tahun telah berlalu. Teringat waktu lalu, ketika pertama kali saya masuk kelas E5 Sosial bersama bu Ianinta Sembiring, mencoba untuk membimbing teman-teman bersama agar bisa memahami apa sih social entrepreneurship dan bagaimana bentuk bisnis sosial itu. Memang kelas E5 kita barangkali tidak seheboh kelas E yang lain, tapi saya berharap pembelajaran yang kita alami bersama dapat bermanfaat tidak hanya untuk prestasi saat ini, tapi juga untuk kehidupan teman-teman di masa mendatang.

Meski hanya setahun (dua semester), sepertinya banyak yang telah kita jalani bersama. Tentu banyak kekurangan di sana sini dari kami, tim fasilitator, tapi semua ini sejatinya kami lakukan untuk kebaikan bersama. Tentu tidak mudah melihat hasil karya sebuah project sosial business dalam waktu singkat. Perjalanan seorang social entrepreneur memang butuh proses yang panjang dan tidak bisa dikarbit. Kita menjalani semua proses itu secara perlahan dan semoga perjalanan teman-teman, baik yang waktu di E4 ketika mengunjungi bisnis sosial yang ada, bahkan ada yang sampai pergi ke Madiun, Batu dan lain sebagainya, hingga kita bersama-sama pergi ke Yogyakarta mengunjungi beberapa tempat, bisa memberi inspirasi yang menggugah diri teman-teman.

Akhir kata, walau perkuliahan E Sosial kita sudah berakhir, semoga di masa mendatang terjalin kerja sama atau kolaborasi sebuah kegiatan bisnis sosial di antara kita semua. Ayo kobarkan terus semangat social entrepreneurship. Bersama kita yakin akan dapat mengubah dunia dengan mengawali sebuah perubahan dari diri kita sendiri.

Salam entrepreneur!

Surabaya, 5 Desember 2013
nur agustinus