Gamification

Gamification (Gamifikasi) adalah penerapan teknik dan strategi dari sebuah permainan ke dalam konteks nonpermainan untuk menyelesaikan suatu masalah. Metode ini bekerja dengan cara membuat materi atau teknologi menjadi lebih menarik dengan mendorong pengguna untuk ikut terlibat dalam perilaku yang diinginkan.Berikut beberapa video presentasi tentang gamification.

Gamification - 1. Introduction


What is Gamification? A Few Ideas.


Gamifying Sustainability - Changing Behavior with Fun: Christian Kaufmann at TEDxYouth@Adliswil


TEDxKids@Brussels - Gabe Zichermann - Gamification


Gamification to improve our world: Yu-kai Chou at TEDxLausanne


TEDxSantaCruz: Catherine Aurelio - Gamification


The Future of Creativity and Innovation is Gamification: Gabe Zichermann at TEDxVilnius


The Gamification of Education: Gavin Pouliot at TEDxYouth@IFTA


Jane McGonigal: Gaming can make a better world

Meja makan



Ada satu inspirasi saat membaca buku komik tentang Ahok yang judulnya Gebrakan Ahok, yaitu tentang fungsi meja makan. Selama ini memang ada masalah yang saya hadapi, yaitu anak-anak tidak punya ruang makan serta belajar yang baik. Seringkali hal itu dilakukan di kamar tidur yang mana saya memikirkan dampaknya antara lain kurang disiplin dan keterdekatan dengan keluarga mungkin terpengaruh. Inilah bagian komik yang memberi pencerahan itu.

Nah, saat membaca komik itu, saya merasa bahwa harus dicari solusinya. Memang ada satu ruangan di lantai satu (kamar-kamar ada di lantai dua), tapi kondisinya tidak nyaman. Dijadikan ruang makan juga kurang pas, ruang tamu juga semerawut. Tapi itu satu-satunya ruangan yang bisa dipakai. Saya ingin ada meja di sebuah ruangan yang bisa jadi tempat makan, tempat belajar sekaligus bisa juga jadi ruang keluarga dan ruang tamu.

Akhirnya diputuskan membuat model lesehan (saung). Bikin rangkanya  pakai kayu, multipleks, yang dikerjakan tiap hari minggu pas libur. Lalu saat mau cari meja, kok mahal, akhirnya bikin sendiri juga. Setelah selesai diberi lapisan vinyl agar lebih nyaman.

Kini kalau makan selalu di ruang tersebut. Tiko juga kalau belajar di sana.





 
 



Sukses butuh berani ambil resiko dan bertindak cepat




Dalam perjalanan ke kantor, sambil merenungkan pidato Pak Jokowi, "Mulai sekarang, petani kembali ke sawah. Nelayan kembali melaut. Anak kembali ke sekolah. Pedagang kembali ke pasar. Buruh kembali ke pabrik. Karyawan kembali bekerja di kantor", saya menghubungkan dengan mimpi pak Ciputra di mana
anak petani, anak nelayan, anak guru, anak buruh, anak pegawai negeri, anak polisi, anak tentara menjadi entrepreneur. Memang, entrepreneurship bisa membawa perubahan bagi bangsa ini. Namun memang tidak semudah itu membuat semua orang bisa menjadi entrepreneur. Lalu, bagaimana jika kita memilih menjadi seorang karyawan? Atau menjadi petani atau nelayan? 

Mengajar entrepreneurship bisa dilakukan baik oleh dosen maupun praktisi wirausaha. Namun jika tujuannya adalah mengubah seseorang menjadi entrepreneur, di situlah sering menjadi pertanyaan, sejauh mana keberhasilan sebuah pembelajaran entrepreneurship. Pengalaman dalam mengajar entrepreneurship kepada orang banyak, mungkin hanya 1% saja yang kemudian benar-benar memutuskan untuk menjadi pengusaha. Banyak yang masih bingung mau usaha apa, atau semangatnya jadi kendur ketika melihat lingkungan keluarganya tidak mendukungnya. Bahkan jika mau jujur, kebanyakan yang akhirnya memutuskan berentrepreneur adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah mencoba usaha sendiri tapi gagal. Jadi, kalau dipikir, jangan-jangan sudah ada bibit keentrepreneuran dalam dirinya. Lalu bagaimana dengan yang lain?

:Lalu saya mencoba mecari jawabannya, apa yang kira-kira dibutuhkan seseorang untuk berentrepreneur? Atau, kalau dia misalnya memilih untuk tidak menjadi pengusaha, namun bekerja yang lain, bagaimana sebaiknya sikap dan mindset yang harus dimiliki untuk menjadi pribadi yang entrepreneurial.
 
Ada sebuah kalimat yang menarik, dikemukakan oleh Andre Malraux (1901-1976), sejarawan Prancis, ”Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bukan karena yang satu memiliki kemampuan dan ide lebih baik, tapi karena dia berani mempertaruhkan ide, menghitung risiko, dan bertindak cepat.” Menurut saya ini pas sekali dan menjadi jawaban atas pertanyaan saya tadi. 

Ada empat hal yang penting menurut saya dari kalimat yang diungkapkan oleh Andre Malraux di atas. Pertama adalah ide itu sendiri, kedua adalah keberanian mempertaruhkan ide, ketiga menghitung resikonya dan yang keempat adalah bertindak cepat. 

Kalau kita bicara ide, menurut saya tentu ini yang dimaksud adalah ide yang inovatif. Sebuah ide yang baru, yang lebih baik dan orisinil. Kalau kita anggap bahwa entrepreneur itu orang yang sukses, maka tidak salah jika kita mau tidak mau harus melatih diri untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif. Peter Drucker mengatakan bahwa inovasi merupakan fungsi utama dalam proses kewirausahaan.

Nah, persoalannya, banyak orang yang tidak berani mengemukakan idenya. Takut dikatakan keminter, takut nanti dia yang disuruh mengerjakannya, atau sejumlah alasan lainnya. Kalau mengutarakan idenya saja tidak mau atau tidak bisa, bagaimana dapat mempertaruhkan idenya? Ini jelas membutuhkan sebuah determinasi diri. Determinasi diri adalah keteguhan hati untuk menentukan nasibnya sendiri. Ini memang dekat dengan pengertian wiraswasta itu sendiri, di mana merupakan orang yang berani bersikap, berpikir dan bertindak menurut kemampuan dan keberanian untuk menciptakan pekerjaan sendiri, mencari nafkah dan berkarir dengan sikap mandiri. Nah, mau tidak mau, hal ini merupakan langkah awal untuk mengubah cara pikir, cara pandang dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bisa menghasilkan ide dan berani mengutarakan serta memperjuangkannya. Hal yang satu ini saja belum tentu semua orang bisa melakukannya sebab tantangannya sangat besar.

Ketika Andre Malraux mengatakan bahwa orang sukses itu juga mereka yang menghitung resiko, saya juga setuju. Akan tetapi ini tidak cukup kalau tidak disertai dengan "bertindak cepat". Artinya, melakukan action. Tanpa action, itu berani kita tidak berani memulai. Artinya, itu hanya akan berhenti sampai pada niat saja. Dahlan Iskan mengatakan, itu berarti niatnya belum sungguh-sungguh.

Memang,  menjadi orang yang punya ide cemerlang, determinasi kuat, berani mengambil resiko dan segera bertindak, akan memiliki banyak tantangan. Sebab orang seperti ini pasti akan membuat perubahan. Orang sukses memang pasti akan membawa perubahan. Problemnya, banyak orang yang mungkin tidak siap dengan perubahan. Banyak di antara kita yang kemudian mengendurkan niatnya karena menjadi ragu-ragu setelah mendapat tentangan dari beberapa pihak. Tapi itu akan kembali lagi pada diri masing-masing, sejauh mana determinasi diri kita. Sejauh mana kita yakin bahwa kita mampu melakukannya. 

Kalau memang kita belum siap untuk berwirausaha,  ada baiknya kita mengembangkan kemampuan diri kita untuk lebih percaya diri, berlatih menghasilkan ide-ide baru. Seperti kata Pak Ciputra, ketika kita melihat hendaklah kita berpikir, sebab banyak yang melihat tapi tidak berpikir. Berpikir kreatif adalah satu hal yang sangat penting. Kita perlu juga membiasakan diri untuk berani mengusulkan ide-ide kita, tidak takut dengan resiko karena sudah kita kalkulasikan sebelumnya. Namum jangan sampai kita terbelenggu karena takut dianggap kurang ajar, atau merasa masih junior, sok keminter dan lainnya. Kita harus punya mental yang berani dan jangan hanya sekedar wacana saja, melainkan segera bertindak. Kadang, hal seperti itu sebenarnya bisa kita lakukan, terutama saat kita kepepet. Tapi apakah kita harus selalu kepepet baru bertindak? Aristoteles, filsuf Yunani kuno mengatakan, kesuksesan adalah akibat dari kebiasaan. Jadi, biasakanlah untuk itu.

Salam entrepreneur!