Bicara Basa-basi


Kadang ketika berbicara dengan seseorang, kita merasa apa yang dibicarakan hanyalah sekedar basa-basi. Pengertian basa-basi sudah beralih dari yang awalnya bertujuan untuk sopan-santun menjadi sebuah sikap yang dianggap cuma manis di luar saja atau sebuah pembicaraan yang percuma. Apakah memang basa-basi itu sudah tidak penting?

Basa basi kadang perlu juga, sebab dalam ilmu berkomunikasi, sebenarnya yang lebih penting adalah cara kita menyampaikannya. Kadang maksud yang ingin disampaikan itu benar, tapi kalau caranya tidak tepat, maka tidak akan diterima dengan baik. Nah, basa-basi ini kadangkala diperlukan. Tapi kalau bicara cuma basa basi saja, ya memang tidak ada gunanya.

Bagaimana membedakan percakapan yang basa-basi? Sebenarnya pengertian basa-basi adalah sopan santun atau tata krama (good manners) dalam berinteraksi antar manusia. Bentuknya bisa berupa salam, menanyakan khabar, menyampaikan ungkapan simpati dan penghargaan (terima kasih).

Mungkin perlu dibedakan antara basa-basi dengan kata-kata penuh bunga-bunga. Basa-basi harus disampaikan pada tempatnya dan dalam takaran yang pas (wajar). Dalam hal ini perlu dibedakan antara basa-basi dengan bunga-bunga kata. Basa-basi adalah cara penyampaiannya sedangkan bunga-bunga kata adalah kemasan pesan itu sendiri.

Pentingnya Refleksi dalam Proses Belajar-Mengajar


Apa pengertian refleksi dalam dunia pendidikan?

Refleksi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar berupa penilaian tertulis maupun lisan (umumnya tulisan) oleh anak didik kepada guru/dosen, berisi ungkapan kesan, pesan, harapan serta kritik membangun atas pembelajaran yang diterimanya. Bahasa yang paling sederhana dan mudah dipahami adalah refleksi ini sangat mirip dengan curhatan anak didik terhadap guru/dosennya tentang hal-hal yang dialami dalam kelas sejak dimulai hingga berakhirnya pembelajaran.

Mengapa refleksi itu penting dan seharusnya dilakukan oleh guru/dosen masa kini?

Karena melalui diary (instrumen refleksi) dapat diperoleh informasi positif tentang bagaimana cara guru/dosen meningkatkan kualitas pembelajarannya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Selain itu, melalui kegiatan ini dapat tercapai kepuasan dalam diri peserta didik yaitu memperoleh wadah yang tepat dalam menjalin komunikasi positif dengan guru/dosennya.

Bagaimana seharusnya guru/dosen menghadapi hasil refleksi peserta didik?

Jika tercapai dengan baik dan disenangi oleh peserta didik, maka guru/dosen dapat mempertahankannya, tetapi jika masih kurang diminati oleh peserta didik, maka kewajiban guru/dosen yang bersangkutan adalah segera mengubah model pembelajaran dengan memadukan metode-metode atau teknik-teknik yang sesuai berdasarkan kesimpulan dari hasil refleksi yang dilakukan sebelumnya. Sebagai tambahan, apapun hasil refleksi peserta didik seharusnya dihadapi dengan bijaksana dan positif thinking, karena tujuan akhir dari ini semua tidak lain dan tidak bukan, just for our education.


Sumber: http://rumahp1nt4r.blogspot.com/2012/02/refleksi-pentingnya-refleksi-dalam.html

Membuat tujuan yang SMART


Anda punya rencana? Ide yang hendak diwujudkan? Tujuan yang hendak dicapai? Ada banyak cara untuk merumuskan tujuan secara efektif, salah satunya yang terkenal adalah konsep SMART (specific, measurable, achievable, realistic, time-based). Konsep ini pertama kali digunakan oleh George T. Doran pada tahun 1981. Mungkin Anda juga tidak asing dengan konsep SMART ini, namun barangkali masih belum terbiasa menerapkannya.

Specific
Tujuan yang Anda tetapkan harus jelas dan spesifik. Jelas akan membantu menguraikan apa yang akan Anda lakukan, sedangkan spesifik akan membuat segala upaya Anda fokus pada target yang akan dicapai.

Measurable
Apa yang ingin Anda capai haruslah bisa diukur, misalnya seberapa kuat, seberapa sering, seberapa banyak, atau seberapa dalam.

Achievable
Tujuan yang Anda tetapkan haruslah bisa dicapai. Dengan begitu Anda akan berkomitmen untuk mencapainya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai Anda menetapkan tujuan yang tidak mungkin Anda capai.

Realistic
Realistis atau masuk akal adalah hal lain yang harus dipenuhi oleh tujuan yang ingin Anda capai. Jangan membuat tujuan yang terlalu sulit sehingga tidak mungkin Anda capai atau membuat tujuan yang tidak sejalan dengan keinginan atau hasrat hati Anda.

Timely
Anda harus bisa menetapkan kapan tujuan tersebut harus dicapai. Apakah minggu depan, tahun depan, atau lima tahun lagi. Dengan adanya batasan waktu, Anda akan terpacu untuk segera memulai melakukan tindakan.

Sumber: http://www.kirmansyam.com/merumuskan-tujuan-secara-efektif

3 Nasihat Bisnis dari CEO Google


Google adalah salah satu contoh perusahaan yang sukses berkat adanya inovasi yang terus-menerus. Berawal dari sebuah mesin pencari, perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin itu kini telah menciptakan beragam aplikasi dan layanan serta merajai Internet.

Ada beberapa kebiasaan unik yang dikembangkan Google untuk memupuk budaya inovasi dan kreativitas dalam perusahaannya. Salah satunya adalah pertemuan mingguan. Setiap karyawan Google dari seluruh dunia bebas memberikan pertanyaan kepada para eksekutif Google, baik secara langsung maupun melalui email.

Para karyawan juga dapat memberikan kritik ataupun mengemukakan ide-ide mereka kepada para pemimpin perusahaan.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Wired.com, CEO Google, Larry Page, menyampaikan beberapa tips sukses perusahaannya dalam berbisnis. Berikut adalah beberapa nasihatnya yang sangat menarik.

1. Lakukan hal-hal yang "gila"

Banyak perusahaan besar menjadi lengah dan lupa berinovasi. Hal itu dihindari oleh Google dengan memupuk budaya inovasi di lingkungan perusahaannya. Setiap karyawan di perusahaan ini dituntut untuk "Think Big", berpikir dan melakukan hal-hal yang tidak biasa.

Sejak kecil, Page bermimpi untuk menjadi seorang penemu. Dia tidak hanya ingin bisa menciptakan produk yang hebat, tetapi juga ingin mengubah dunia. Mimpi itu tetap hidup hingga kini dan dia wujudkan bersama Google.

Bagi Page, kepuasan adalah ketika dia dan timnya bisa mengembangkan inovasi 10 kali lipat dari yang telah mereka kembangkan sebelumnya. Jadi, tak heran jika inovasi menjadi inti dari bisnis Google. Lihat saja Gmail, layanan email yang menawarkan kapasitas penyimpanan 100 kali lebih besar ketimbang kapasitas yang diberikan oleh layanan-layanan email lainnya.

Google juga telah menciptakan layanan penerjemah berbagai bahasa serta melahirkan Google Maps dan Google Drive, layanan penyimpanan data berbasis teknologi cloud computing. Selain itu, masih ada YouTube, Android, dan Chrome yang menarik dan telah digunakan banyak orang.

Google bahkan dikabarkan membangun sebuah proyek dan lab khusus bernama Google X. Berbagai fasilitas dalam lab Google X dibuat untuk mendukung riset Google untuk menciptakan beragam teknologi masa depan, seperti mobil yang bisa berjalan sendiri dan kacamata berbasis teknologi Augmented Reality.

“Jika tidak melakukan hal-hal gila, kamu melakukan hal-hal yang salah,” kata Page. Sebagai CEO, dia selalu mendorong timnya untuk berinovasi.

2. Inovasi harus diikuti dengan komersialisasi

Inovasi yang sukses harus diikuti dengan komersialisasi. Page mencontohkan Xerox PARC, salah satu anak perusahaan Xerox Corp, yang didirikan pada tahun 1970. Xerox PARC terkenal dengan berbagai inovasinya di bidang teknologi dan hardware. Beberapa inovasinya memegang peranan penting dalam dunia komputasi modern, di antaranya, ethernet, graphical user interface (GUI), dan teknologi laser printing.

"Namun, mereka tidak fokus pada komersialisasi," kata Larry. Hal itulah yang membuat Xerox PARC gagal.

Larry memberikan contoh lain, yakni Tesla. Tesla adalah salah satu perusahaan yang dia kagumi, yang mengembangkan mobil inovatif. Namun, perusahaan yang didirikan oleh Nikola Tesla itu menghabiskan 99 persen tenaganya untuk mengembangkan produknya agar disukai banyak orang. Hal itulah yang menyebabkan Tesla akhirnya jatuh.

Xerox PARC dan Tesla gagal karena hanya fokus pada inovasi. Setiap perusahaan membutuhkan dua hal untuk sukses, yakni inovasi dan komersialisasi.

3. Jangan fokus pada persaingan

Google berbeda dari perusahaan-perusahaan teknologi lainnya. Google fokus pada pengembangan produk-produk dan layanannya, bukan fokus pada kompetisi.

"Apa yang menarik dari bekerja jika hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengalahkan perusahaan lain yang melakukan hal yang sama dengan kita? Itulah yang membuat banyak perusahaan jatuh secara perlahan. Mereka cenderung melakukan hal yang sama dengan yang pernah mereka lakukan dan membuat beberapa perubahan kecil," kata Page.

Menurut Page, memang wajar jika banyak orang ingin mengerjakan hal-hal yang mereka yakin tidak akan gagal. Namun, untuk sukses, perusahaan teknologi perlu membuat suatu perubahan yang besar.

Ketika merilis Gmail, misalnya, Google masih menjadi sekadar perusahaan mesin pencari. Menciptakan layanan email berbasis web merupakan suatu lompatan besar bagi Google, apalagi Gmail berani menyediakan kapasitas penyimpanan email yang sangat besar jika dibandingkan penyedia layanan serupa pada saat itu.

Pada saat mengembangkan Gmail, sudah ada beberapa perusahaan lain yang memiliki mesin pencari. Gmail tidak akan ada jika Google hanya fokus untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan itu. Google memilih untuk fokus mengembangkan produk-produk dan layanannya.

Editor: Wicaksono Surya Hidayat

Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2013/02/04/13270892/3.Nasihat.Bisnis.dari.CEO.Google?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

Inovasi es batu

Salah satu inovasi yang menurut saya sukses adalah es batu kubus. Walau inovasi ini boleh dibilang sudah lama, namun dari es batu balok, banyak yang kemudian beralih hanya mau mengkonsumsi es batu kubus ini yang dianggap lebih higienis. Ketika saya masih bekerja di perusahaan multinasional, saat ada kunjungan dari Jepang, mereka hanya mau ke restoran yang menggunakan es batu kubus. Itu sekitar 20 tahun lalu, saat es batu jenis ini masih menjadi barang eksklusif dan hanya beberapa restoran besar saja yang menyajikannya.

Kini, penggunaan es batu kubus ini sudah biasa. Bentuknya ada yang kotak, ada yang silinder dengan lubang di tengahnya. Kesan lebih higienis ketimbang es batu balok, menjadi semakin besar karena es batu balok banyak digunakan di warung-warung pinggir jalan. Bisa juga persepsi lebih higienis ini karena mengingatkan pada es batu bikinan lemarin es di rumah, yang menggunakan cetakan menghasilkan es batu kecil-kecil.

Es batu kubus yang biasanya berlubang tengah ini juga menjadi "mainan" tersendiri dengan penggunaan sedotan. Sedotan juga mengubah cara orang minum, di mana kalau dulu sedotan hanya untuk minum dari botol, kini setiap ke warung atau rumah makan, jika tak ada sedotan maka pelanggan menjadi tidak suka. Orang tidak suka minum dengan menempelkan mulut ke gelas, kecuali minum kopi.

Inovasi memang membuat perubahan perilaku dan ini membawa perubahan gaya hidup tersendiri dalam masyarakat. Sehingga apakah inovasi itu lahir karena kebutuhan manusia, atau sebaliknya, dengan inovasi, manusia menjadi berubah kebutuhannya.... Kini juga sudah biasa menggunakan es batu kubus ini untuk perawatan kecantikan.


Saya yakin, ketika orang yang menginovasi es batu ini dan masuk ke pasar, maka mereka adalah yang melihat dan berpikir....  sama dengan ketika Aqua pertama kali mengemas air dalam botol, atau mengubah dari orang menggunakan pipa besi ke pipa PVC.... Setiap inovasi akan membawa perubahan bagi umat manusia juga...

Bibit, Bobot, Bebet

Teori efektuasi, yang dikemukakan oleh Saras Sarasvathy, khususnya prinsip pertama yakni "The Bird-in-hand". Prinsip The Bird-in-hand ini adalah "Who I Am", "What I Know", dan "Whom I Know". Prinsip ini, sebenarnya kalau digathukkan (dihubungkan) dengan budaya jawa, ada kesamaannya. Budaya jawa yang mana? Teman-teman pasti ingat, kalau mencari jodoh, orang tua kita selalu mengukur calon pasangan dengan "bibit, bobot dan bebet." Lho, apa hubungannya? BIBIT itu adalah siapa kita. Siapa kita ditentukan juga, mau tidak mau, oleh bibit. Nah, BOBOT artinya, kualitas seseorang (nilai) dalam arti yang luas. Artinya, apa yang kita bisa, baik secara kemampuan intelek maupun kemampuan material. Dan yang terakhir, BEBET, adalah jenis yang sangat ditentukan dengan lingkungan, siapa saja teman-temannya. Jadi ini juga sama dengan siapa saja yang kita kenal. Ini merupakan modal utama (means) dari diri seseorang.

Jadi, kalau dipikir-pikir, falsafah Jawa tentang bibit, bobot dan bebet ini, bisa digunakan dalam prinsip entrepreneurship. Seorang entrepreneur perlu dipertimbangan bibit, bobot dan bebetnya juga....

Kerjakan sebisanya, jangan tunggu sempurna

Satu hal yang menyebabkan orang tidak berhasil adalah karena dia ingin menghasilkan sesuatu yang harus sempurna. Sempurna menurut standardnya dia. Orang seperti ini biasanya disebut sebagai perfeksionis. Dia merasa malu atau takut jika menghasilkan karya yang menurutnya tidak bagus. Padahal, bagus atau tidak, itu hanyalah persepsi. Bagus atau tidak, itu juga tergantung zaman. Coba kalau kita lihat film jaman dulu, maka kita bisa lihat kualitasnya kurang bagus, aktingnya biasa-biasa saja, juga cara membuat filmnya juga sepertinya tidak istimewa. Namun di masa lalu, film itu sudah luar biasa. Oleh karena itu, janganlah punya mindset hanya mau menampilkan hasil yang sempurna. Sempurna itu justru akan membuat kita frustasi. Berusahalah dengan maksimal, hasilkan karya sebisanya. Sekarang jika masih dianggap kurang baik, itu tidak menjadi masalah...

Stumbling on Happiness

Ada buku psikologi yang menarik, judulnya Stumbling on Happiness. Buku ini sudah lama terbitnya, tahun 2007 terjemahannya diterbitkan oleh Gramedia. Saya baru melihat buku ini di lemari yang ada di kantor dan meminjamnya untuk baca-baca saat liburan... berikut saya kutipkan infonya dari internet tentang buku ini.

Mengapa dua orang yang saling mencinta lebih mudah memaafkan pasangan mereka yang selingkuh ketimbang bila pasangannya itu mangkir dari tugas mencuci piring seusai makan? Mengapa orang melek lebih bingung soal menjadi buta daripada orang buta yang ingin bisa melihat lagi? Mengapa teman santap malam cenderung memesan menu berbeda ketimbang yang sesungguhnya mereka inginkan? Mengapa pasien cenderung menganggap prosedur medis yang lama tidak terlalu menyiksa dibanding prosedur yang ringkas? Mengapa penjual rumah cenderung mengajukan penawaran harga yang tak akan mereka bayar andai mereka sendiri menjadi pembeli? Mengapa kita tidak bisa mengingat sebuah lagu ketika sedang mendengarkan yang lain; dan mengapa antrean di kasir toko swalayan selalu menjadi lambat begitu kita bergabung?

Dalam buku yang cemerlang, cerdas, dan terjangkau ini, psikolog Harvard yang terkenal Daniel Gilbert bercerita tentang kekurangsempurnaan dalam imajinasi dan ilusi tentang masa mendatang yang membuat kita salah tafsir tentang hari esok kita dan salah duga tentang rasa puas kita.

Gilbert mengungkapkan penemuan beberapa ilmuwan tentang kemampuan unik manusia untuk membayangkan masa mendatang, pun tentang kemampuan kita memrakirakan seberapa banyak kita akan menyukainya ketika kita tiba di sana. Dengan wawasannya yang mendalam dan gaya bertuturnya yang memikat, Gilbert menerangkan mengapa kita seperti tahu terlalu sedikit tentang hati dan pikiran kita sendiri di masa mendatang.

http://www.jamilazzaini.com/ciptakanlah-kebahagiaan/

Menurut Daniel Gilbert, Professor bidang Psikologi dari Harvard University dan pengarang buku “Stumbling on Happiness”, ada dua jenis kebahagiaan yaitu: kebahagiaan alami dan kebahagiaan sintesis. Kebahagiaan alami adalah apa yang secara spontan kita rasakan saat mendapatkan apa yang diinginkan. Misalnya, rasa bahagia ketika Anda mendapat bonus yang cukup besar. Sedangkan kebahagiaan sintetis ialah sesuatu yang sengaja kita pilih untuk kita pikirkan atau lakukan supaya bahagia. Bahagia sintesis adalah bahagia yang kita ciptakan. Misalnya, ketika terjebak macet Anda berpikir, “Nah ini kesempatan untuk menelpon dan twitteran..”

Kebahagiaan mana yang bertahan lama, apakah kebahagian yang alami atau sintesis? Ternyata, kebahagiaan sintetis bertahan lebih lama. Sedangkan kebahagian alami akan segera hilang seiring dengan berjalannya waktu. Contohnya, ketika mendapat kenaikan gaji Anda merasa senang dan bahagia, namun seiring berjalannya waktu kenaikan gaji itu akhirnya menjadi biasa..

Lalu, bagaimana caranya menciptakan kebahagiaan sintetis? Banyak jalan menuju Roma, begitu pula ada banyak cara untuk menciptakan kebahagiaan sintesis. Pertama, bekerjalah sesuai passion, gairah atau minat Anda. Bila Anda memilih pekerjaan sesuai passion Anda maka Anda semakin hari akan semakin mencintai pekerjaan itu. Anda akan hanyut dalam pekerjaan itu dan akan semakin bahagia melakukan pekerjaan itu. Karena Anda semakin enjoy maka Anda akan semakin ahli dalam pekerjaan itu. Asyiknya lagi, apabila Anda seorang profesional, semakin Anda mencintai dan menguasai pekerjaan itu, bayaran Andapun akan semakin meningkat. Bahagia, bukan?

Kedua, teruslah belajar untuk mengasah pikiran dan hati Anda. Bacalah buku-buku berkelas, ikuti berbagai training dan seminar bermutu. Lalu, butir-butir kehidupan dari buku, seminar dan training tersebut Anda aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu belajar lagi, terapkan lagi, belajar lagi, terapkan lagi, begitu terus menerus…

Terakhir, pasrahkan hidup kita kepada Sang Pencipta. Milikilah keyakinan bahwa Yang Maha Kuasa tidak akan pernah menelantarkan kita. Dia pasti menjaga kita.. Dia pasti mencintai kita.. Dia pasti menjaga kita, selama kita patuh pada ketentuan-Nya.

Mulai hari ini mari kita ciptakan selalu kebahagian agar hidup kita selalu diselimuti kebahagiaan yang semakin berlimpah…

Apa kepribadian bermain Anda?

Bermain dengan bekerja itu berbeda. Saat bermain, kita langsung mendapatkan yang kita inginkan yaitu kesenangan. Bekerja atau bahkan belajar adalah sebuah usaha yang hasilnya baru kita nikmati setelah berakhir. Itu membuat bermain lebih menyenangkan dan bisa membuat kita ketagihan. Stuart Brown melakukan penelitian dan menggolongkan manusia dari caranya bermain. Menurutnya, lawan kata dari bermain bukan bekerja, tapi depresi. Orang yang tidak suka bermain adalah orang yang mengalami kesedihan. Saat bermain orang akan gembira. Di bawah ini ada artikel yang ditulis oleh Tanadi Santoso, yang juga pernah memberikan ceramah kepada para dosen di Universitas Ciputra tentang hal ini. Berikut artikelnya saya kutip di sini:

Bermain selalu lebih menyenangkan daripada bekerja. Secara natural manusia melakukan kegiatan bermain sejak kecil, dengan antusias, semangat, dan penuh kegembiraan. Kita mulai terpasung ketika menjadi dewasa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang “berdosa”, “kekanak kanak an”, dan tidak “bertanggung jawab”. Stuart Brown, pendiri National Institude of Play, mencoba menggali kembali esensi bermain ini dalam riset panjang puluhan tahun.

Menurut Neuroscientist Jaak Panksepp, penelitian pada hewan, menunjukkan bahwa “bermain” telah ada sejak jaman dinosaurus, dan bermukim pada reptilian brain kita, dimana kegiatan survival, bernafas, kesadaran juga berada. Kera, anjing, kucing, dan binatang lainpun memiliki kecenderungan untuk melakukan kegiatan bermain ini, setelah kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup terpenuhi.

Bermain adalah kunci terbesar pada kreatifitas dan inovasi, dan merupakan kunci pada peningkatan IQ, optimisme, kebahagiaan, dan umur panjang kita. Einstein, Picasso, Michaelangelo, dikenal sebagai orang yang penuh semangat bermain. Semua dari kita, juga memulai kehidupan kanak2 kita dengan bermain, dan pelahan lahan mengundurkan diri dari kegiatan ini menjelang dewasa.

"Bermain" adalah kegiatan yang lebih mementingkan kenikmatan daripada tujuan pencapaiannya; dilakukan dengan antisipasi diri sendiri tanpa paksaan apapun; membuat kita lupa diri dan hanya fokus pada apa yang kita lakukan; menghanyutkan sehingga lupa waktu; menimbulkan idea baru dan otak yang segar sehingga meningkatkan kreatifitas dan inovasi; dan setelah selesaipun masih membuat kita ingin melakukannya lagi lain kali. Inilah karakter dari “bermain”.

Ada 8 personality orang didasarkan pada caranya bermain.

1. The Joker, yang selalu bersenda gurau dalam hal apapun (tiba2 teringat kawan saya Joger).

2. The Kinesthete, orang yang selalu bergerak untuk dapat berpikir, jalan, olah raga, break dance, adalah caranya bermain.

3. The Explorer, seperti Richard Branson, yang melakukan esplorasi aneh2 dan sering menyengsarakan tubuh dalam mencari kebahagiaan bermainnya.

4. The Competitor, pemain yang mementingkan sukses dan kemenangan dalam berkompetisi apa saja.

5. The Director, pemain yang ingin menjadi dalang dan pengatur semua hal, berkuasa dan menunjukkan kekuasaannya.

6. The Collector, selalu ingin mengumpulkan sesuatu, perangko, koin, barang antik, sepatu, atau apa saja untuk museum kehidupannya.

7. The Artist, yang unik dan ingin eksistensi dirinya diakui: penulis, pelukis, penari, pemahat.

8. The Storyteller, pencerita, seperti para pembuat filem, penulis buku, bahkan orang2 penari, acting, dan guru pun termasuk pada kelompok orang yang menemukan dirinya bermain dengan bercerita.

Setiap orang menyukai hal yang berbeda, bahkan bisa saja “bermain” nya seseorang adalah “siksaan” orang lain: memancing, sepak bola, golf, mendaki gunung, gameboy, facebook, balapan mobil, dan seterusnya. Bermain yang berlebihan pun tidak baik, karena menjadi sebuah kecanduan dan kegilaan.

Kalau anda pikirkan kembali, orang2 yang paling menarik dalam kehidupan kita, adalah orang2 yang selalu bermain pada kehidupannya, dengan caranya sendiri. Banyak orang kehilangan jiwa bermainnya, tercecer pada perjalanan kehidupan yang secara pelahan menelan dan membunuh semangat kekanak kanakan yang bersinar pada dirinya.

Ada 5 langkah yang membantu kembali menumbuhkan semangat ini, dan memeliharanya:

Remember back your Playtime. Ingatlah kembali nikmatnya bermain dulu. Apa yang dulu membuat anda bahagia pada saat kanak kanak. Apa yang membuat anda ingin bangun pagi, dan melupakan kelelahan anda, sehingga yang ada hanya kebahagiaan dan nikmatnya saja?

Expose yourself to Play. Temui banyak permainan. Berjalanlan pada kehidupan yang mempunyai banyak kesempatan bermain; carilah teman, pekerjaan, kegiatan, dan komunitas yang mempunyai kesamaan dengan gaya kenikmatan bermain anda.

Give yourself permission. Ijinkan diri anda untuk bermain. Kekanak kanakan, sedikit kegilaan, nonsense, bodoh, lucu. Bebaskan diri anda dari ketakutan, lupakan batas2nya, ijinkan diri anda kembali bermain. Mungkin hanya untuk waktu yang pendek, sekali seminggu untuk 2 jam, ijinkan, dan rasakan kembali semangat bermain anda menghidupkan jiwa anda.

Combine play to your work. Sambungkan “bermain” dan “bekerja” anda. Bawalah esensi bermain anda pada pekerjaan anda. Hiaslah ruang kerja anda menjadi menyenangkan, bawalah pekerjaan anda pada perjalanan bermain anda. Gabungkan konsep bermain anda pada pekerjaan anda, sehingga anda akan mulai mencintai pekerjaan anda seperti juga anda menginginkan waktu lebih untuk bermain anda. Pekerjaan terbaik adalah bermain, sehingga hidup kita bisa menjadi “bermain saja kerjanya”.

Nourish your state of play. Peliharalah semangat bermain anda. Berhati hatilah pada penghadang dan pembunuh “semangat bermain”. Ciptakan kultur dan semangat memelihara kenikmatan dan kegiatan bermain ini saat anda bermain ataupun bekerja. Temukan network yang tepat dalam memelihara semangat ini. Bentuklah kegiatan kehidupan yang mengutamakan bermain sebagai landasan kehidupan.

Semangat bermain, akan menumbuhkan kreatifitas dan inovasi. Bermain juga membuat anda semakin menguasai sesuatu bidang, karena larutnya kita saat bermain akan membuat kita menjadi lebih ahli dalam bidang tersebut. Dan bermain adalah sebuah kenikmatan, sebuah kebahagiaan. Salam bermain.

*) Tanadi Santoso
**) Inpired by the book: PLAY by Stuart Brown,MD

Kelas dari masa ke masa

Suasana kelas masa lalu, abad ke-14, hingga sekarang tetap sama... ada buku teks, pengajar di depan podium, dan ada yang tertidur di belakang serta ada juga yang asyik ngobrol sendiri di pojok. Kalau kini mungkin ditambah ada yang asyik main BB atau gadgetnya sendiri...

The Dog in the Manger


Ada cerita fabel yang menarik disampaikan Rm. Yohanes Wayan Marianta, SVD waktu datang ke UC (31 Agustus 2012), cerita tentang anjing di atas palung jerami (The Dog in the Manger). Ceritanya, ada seekor anjing sedang berbaring di atas tumpukan jerami, yang sebenarnya disediakan untuk makanan para sapi. Tetapi setiap kali sapi-sapi itu mendekati tumpukan jerami itu si anjing menggeram marah dan mencegah mereka mendekat.

Para sapi kemudian menjauh pergi sambil bersungut-sungut: "Ia tidak memerlukan jerami itu bagi dirinya tetapi ia tidak membiarkan kita memakannya. Dasar binatang egois!"

Pesan moral dari cerita ini adalah, jika kamu tak memerlukannya, jangan menyimpannya atau menghalangi orang lain yang memerlukannya untuk mendapatkannya. Masalahnya, seringkali di perusahaan ada orang yang seperti itu, menghalangi hak orang lain padahal dia sendiri sebenarnya tidak bisa menggunakannya. Advis yang bagus untuk membuat organisasi lebih baik dengan menyadarkan kita agar jangan sampai seperti itu...

Majalah ANIMA


Kapan hari waktu ngobrol dengan teman satu alumni, psikologi Ubaya, jadi ingat dulu pernah menerbitkan majalah ANIMA mulai no 1 hingga 4 di tahun 1985-86 (waktu semester 5-6) sebagai wakil pemimpin redaksi. Menjadi pengelolanya, termasuk mencari inspirasi namanya hingga menjadi ANIMA, dengan logo dan desain sampulnya, hingga mendapatkan ISSN. Waktu itu Anima masih majalah ilmiah populer, belum menjadi jurnal ilmiah seperti sekarang. 4 edisi perdana itu masih saya simpan hingga hari ini...

Melihat dan berpikirlah

Ada sebuah sajak berjudul ”Sang Entrepreneur” yang dibuat sendiri oleh Pak Ciputra. Bait pertama dari sajak itu berbunyi, “Ada yang melihat namun tidak berpikir.” Kalimat ini nampaknya sederhana, namun sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Apa hubungannya dengan seorang entrepreneur? Bukankah melihat dan berpikir itu sudah sering kita lakukan? Mengapa juga dikatakan ada yang melihat namun tidak berpikir? Apa yang dimaksudkan dengan melihat dan berpikir itu?

Dalam kalimat itu ada dua hal, yakni melihat dan berpikir. Apakah melihat itu? Ada sebuah kalimat yang sering diucapkan, “Barang siapa punya mata hendaklah melihat” Ya, kita punya mata yang bisa melihat. Tapi makna dari hendaklah melihat, bukan sekedar membuka mata. Kemampuan melihat adalah salah satu karunia yang diberikan kepada kita.  Kemampuan melihat merupakan salah satu nikmat ilahi. Nah, ketika dikatakan, barang siapa punya mata hendaklah melihat, sebenarnya ini bukan sekedar melihat tapi juga memperhatikan. Dalam bahasa Jawa hal ini disebut niteni. Kalau dalam bahasa Inggris, ini beda antara “see dengan “watch”. Melihat dan memperhatikan itu beda. Melihat belum tentu memperhatikan. Sedang memperhatikan sudah pasti melihat.

Melihat tanpa memperhatikan tidak akan mungkin membuat kita berpikir. Saya coba beri contoh saat Isaac Newton melihat buah apel jatuh dari pohon. Semua orang akan tahu kalau apel itu jatuh ke bawah. Tapi Newton kemudian berpikir dan akhirnya menghasilkan sebuah teori gravitasi. Mengapa Newton bisa melihat dan berpikir, sementara yang lain hanya melihat saja?  Ini yang membedakan satu orang dengan orang lainnya. 

Ketika pak Ciputra mengatakan,  “Ada yang melihat namun tidak berpikir”, maka ini juga yang membedakan antara seorang entrepreneur atau bukan. Suatu contoh sederhana, kalau kita lihat seekor sapi, apakah kita hanya melihatnya saja, atau kita lantas kemudian berpikir? Apa yang Anda pikirkan ketika melihat seekor sapi? Banyak orang yang kemudian tidak berpikir apa-apa. 

Orang biasanya hanya berpikir jika mendapat sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini bisa bersumber dari sebuah permasalah atau persoalan. Kita baru berpikir jika ditanya, berapa hasil dari 24 dikali 6. Kita tidak akan berpikir apa-apa jika melihat angka “24”, misalnya. Jadi, ketika tadi kita melihat seekor sapi, tanpa ada yang bertanya, kita tidak akan berpikir. Baru ketika ditanya, apa yang Anda pikirkan ketika melihat sapi? Bisa jadi Anda baru mulai berpikir. Tapi apa yang harus dipikirkan jika pertanyaannya juga tidak begitu jelas? 

Kalau berpikir itu terjadi ketika kita mendapat pertanyaan, maka sebenarnya kata tanya itu tidak banyak. Orang bertanya itu bisa dengan: apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana. Dalam bahasa Inggris adalah what, who, when, where, why dan How, yang disingkat dengan 5W + 1H.  Kombinasi dari pertanyaan ini bisa lebih banyak, misalnya, dari “mengapa” menjadi “mengapa tidak?”, atau dari “bagaimana” menjadi “bagaimana mungkin”. 
Seorang entrepreneur harus mempunyai pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri. Sikap untuk bertanya ini berarti ada tiga hal yang perlu ada, pertama adalah rasa ingin tahu yang membuatnya penasaran. Yang kedua, adalah sikap kritis.  Sementara yang ketiga adalah berpikir kreatif. Jadi, sikap pertama diawali dengan pertanyaan “mengapa begini”, kedua adalah “mengapa tidak begitu” dan ketiga adalah “bagaimana supaya bisa begitu.”

Cara berpikir itu bisa beraneka ragam. Ada berpikir logis dan ada juga berpikir kreatif. Lebih jauh lagi, seorang ahli tentang berpikir, Edward de Bono, memperkenalkan cara berpikir yang disebutnya berpikir lateral. Berpikir lateral ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari berpikir kreatif, namun sangat tepat untuk digunakan dalam menghasilkan ide bisnis. Bagaimana prinsip dari berpikir lateral ini? Apa bedanya berpikir lateral dengan cara berpikir yang lain?
Misalnya begini, berapa 4 dikali 2? Jawabnya adalah 8. Berapa 7 ditambah 8, maka jawabnya adalah 15. Nah, berpikir lateral ini justru sebaliknya. Misalnya Anda mendapat pertanyaan, berapa ditambah berapa supaya hasilnya adalah 15? Nah, jawabannya bisa macama-macam. Bisa 2 ditambah 13, bisa juga 6 ditambah 9, dan masih banyak kemungkinan jawaban lain. Dalam buku “Berpikir Lateral” yang ditulis olej Edward de Bono, berpikir lateral adalah cara berpikir yang berusaha mencari solusi untuk masalah terselesaikan melalui metode yang tidak umum, atau sebuah cara yang biasanya akan diabaikan oleh pemikiran logis. Nah, lantas apa kaitannya dengan entrepreneurship.

Kembali ke soal sapi, ketika Anda melihat sapi, apa yang Anda pikirkan? Ketika sang entrepreneur melihat dan berpikir, apa yang dipikirkannya? Entrepreneur adalah orang yang mampu memberi nilai tambah melalui inovasi. Nah, kalau cara berpikir kita tidak terbiasa secara lateral, kita sulit sekali menemukan jawabannya. Kita lebih mudah menjawab berapa 5 dikali 6, ketimbang untuk menjadi 30, perlu berapa kali berapa? Apa yang bisa kita inovasikan agar diperoleh nilai tambah dari seekor sapi?
Saya beri contoh lain. Kalau kita memiliki satu bongkah besi yang harganya misalnya 10 ribu rupiah, maka kalau kita ubah menjadi mur dan baut, harga jualnya bisa lebih mahal. Bahkan kalau kita bisa mengubahnya menjadi jarum, nilai tambah yang didapatkan bisa lebih banyak lagi. Nah, mari kita kembali lagi ke sapi. Ketika melihat sapi, apakah Anda berpikir untuk melakukan inovasi agar menghasilkan nilai tambah yang besar? Saya tidak akan memberikan jawabannya, sebab sama halnya dengan berapa kali berapa untuk bisa menghasilkan angka 30, maka jawaban itu ada di diri kita masing-masing.  Ketika dalam benak Anda punya aneka jawaban, sapi tersebut bisa diapakan untuk mendapatkan nilai tambah, di sinilah Anda mulai mempunyai ide bisnis.

Nah, melihat dan berpikir untuk menghasilkan nilai tambah, itulah kunci awal seorang entreprenuer. Bahkan tak berlebihan jika ketika melihat rongsongkan sekalipun, kita kemudian berpikir untuk mengubahnya menjadi emas. Maka mulai sekarang, mari membiasakan diri untuk melihat dan berpikir. Barang siapa punya mata hendaklah ia melihat. Kita punya mata sebagai anugerah untuk melihat. Barang siaiapa ingin menjadi entrepreneur, hendaklah ia berpikir. Melihatlah dan berpikirlah untuk kesejahteraan bersama.

Salam entrepreneur!
Ada sebuah sajak berjudul ”Sang Entrepreneur” yang dibuat sendiri oleh Pak Ciputra. Bait pertama dari sajak itu berbunyi, “Ada yang melihat namun tidak berpikir.” Kalimat ini nampaknya sederhana, namun sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Apa hubungannya dengan seorang entrepreneur? Bukankah melihat dan berpikir itu sudah sering kita lakukan? Mengapa juga dikatakan ada yang melihat namun tidak berpikir? Apa yang dimaksudkan dengan melihat dan berpikir itu?

Dalam kalimat itu ada dua hal, yakni melihat dan berpikir. Apakah melihat itu? Ada sebuah kalimat yang sering diucapkan, “Barang siapa punya mata hendaklah melihat” Ya, kita punya mata yang bisa melihat. Tapi makna dari hendaklah melihat, bukan sekedar membuka mata. Kemampuan melihat adalah salah satu karunia yang diberikan kepada kita. Kemampuan melihat merupakan salah satu nikmat ilahi. Nah, ketika dikatakan, barang siapa punya mata hendaklah melihat, sebenarnya ini bukan sekedar melihat tapi juga memperhatikan. Dalam bahasa Jawa hal ini disebut niteni. Kalau dalam bahasa Inggris, ini beda antara “see dengan “watch”. Melihat dan memperhatikan itu beda. Melihat belum tentu memperhatikan. Sedang memperhatikan sudah pasti melihat.

Melihat tanpa memperhatikan tidak akan mungkin membuat kita berpikir. Saya coba beri contoh saat Isaac Newton melihat buah apel jatuh dari pohon. Semua orang akan tahu kalau apel itu jatuh ke bawah. Tapi Newton kemudian berpikir dan akhirnya menghasilkan sebuah teori gravitasi. Mengapa Newton bisa melihat dan berpikir, sementara yang lain hanya melihat saja? Ini yang membedakan satu orang dengan orang lainnya.

Ketika pak Ciputra mengatakan, “Ada yang melihat namun tidak berpikir”, maka ini juga yang membedakan antara seorang entrepreneur atau bukan. Suatu contoh sederhana, kalau kita lihat seekor sapi, apakah kita hanya melihatnya saja, atau kita lantas kemudian berpikir? Apa yang Anda pikirkan ketika melihat seekor sapi? Banyak orang yang kemudian tidak berpikir apa-apa.

Orang biasanya hanya berpikir jika mendapat sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini bisa bersumber dari sebuah permasalah atau persoalan. Kita baru berpikir jika ditanya, berapa hasil dari 24 dikali 6. Kita tidak akan berpikir apa-apa jika melihat angka “24”, misalnya. Jadi, ketika tadi kita melihat seekor sapi, tanpa ada yang bertanya, kita tidak akan berpikir. Baru ketika ditanya, apa yang Anda pikirkan ketika melihat sapi? Bisa jadi Anda baru mulai berpikir. Tapi apa yang harus dipikirkan jika pertanyaannya juga tidak begitu jelas?

Kalau berpikir itu terjadi ketika kita mendapat pertanyaan, maka sebenarnya kata tanya itu tidak banyak. Orang bertanya itu bisa dengan: apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana. Dalam bahasa Inggris adalah what, who, when, where, why dan How, yang disingkat dengan 5W + 1H. Kombinasi dari pertanyaan ini bisa lebih banyak, misalnya, dari “mengapa” menjadi “mengapa tidak?”, atau dari “bagaimana” menjadi “bagaimana mungkin”.

Seorang entrepreneur harus mempunyai pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri. Sikap untuk bertanya ini berarti ada tiga hal yang perlu ada, pertama adalah rasa ingin tahu yang membuatnya penasaran. Yang kedua, adalah sikap kritis. Sementara yang ketiga adalah berpikir kreatif. Jadi, sikap pertama diawali dengan pertanyaan “mengapa begini”, kedua adalah “mengapa tidak begitu” dan ketiga adalah “bagaimana supaya bisa begitu.”

Cara berpikir itu bisa beraneka ragam. Ada berpikir logis dan ada juga berpikir kreatif. Lebih jauh lagi, seorang ahli tentang berpikir, Edward de Bono, memperkenalkan cara berpikir yang disebutnya berpikir lateral. Berpikir lateral ini sebenarnya merupakan salah satu bagian dari berpikir kreatif, namun sangat tepat untuk digunakan dalam menghasilkan ide bisnis. Bagaimana prinsip dari berpikir lateral ini? Apa bedanya berpikir lateral dengan cara berpikir yang lain?

Misalnya begini, berapa 4 dikali 2? Jawabnya adalah 8. Berapa 7 ditambah 8, maka jawabnya adalah 15. Nah, berpikir lateral ini justru sebaliknya. Misalnya Anda mendapat pertanyaan, berapa ditambah berapa supaya hasilnya adalah 15? Nah, jawabannya bisa macama-macam. Bisa 2 ditambah 13, bisa juga 6 ditambah 9, dan masih banyak kemungkinan jawaban lain. Dalam buku “Berpikir Lateral” yang ditulis olej Edward de Bono, berpikir lateral adalah cara berpikir yang berusaha mencari solusi untuk masalah terselesaikan melalui metode yang tidak umum, atau sebuah cara yang biasanya akan diabaikan oleh pemikiran logis. Nah, lantas apa kaitannya dengan entrepreneurship.

Kembali ke soal sapi, ketika Anda melihat sapi, apa yang Anda pikirkan? Ketika sang entrepreneur melihat dan berpikir, apa yang dipikirkannya? Entrepreneur adalah orang yang mampu memberi nilai tambah melalui inovasi. Nah, kalau cara berpikir kita tidak terbiasa secara lateral, kita sulit sekali menemukan jawabannya. Kita lebih mudah menjawab berapa 5 dikali 6, ketimbang untuk menjadi 30, perlu berapa kali berapa? Apa yang bisa kita inovasikan agar diperoleh nilai tambah dari seekor sapi?

Saya beri contoh lain. Kalau kita memiliki satu bongkah besi yang harganya misalnya 10 ribu rupiah, maka kalau kita ubah menjadi mur dan baut, harga jualnya bisa lebih mahal. Bahkan kalau kita bisa mengubahnya menjadi jarum, nilai tambah yang didapatkan bisa lebih banyak lagi. Nah, mari kita kembali lagi ke sapi. Ketika melihat sapi, apakah Anda berpikir untuk melakukan inovasi agar menghasilkan nilai tambah yang besar? Saya tidak akan memberikan jawabannya, sebab sama halnya dengan berapa kali berapa untuk bisa menghasilkan angka 30, maka jawaban itu ada di diri kita masing-masing. Ketika dalam benak Anda punya aneka jawaban, sapi tersebut bisa diapakan untuk mendapatkan nilai tambah, di sinilah Anda mulai mempunyai ide bisnis.

Nah, melihat dan berpikir untuk menghasilkan nilai tambah, itulah kunci awal seorang entreprenuer. Bahkan tak berlebihan jika ketika melihat rongsongkan sekalipun, kita kemudian berpikir untuk mengubahnya menjadi emas. Maka mulai sekarang, mari membiasakan diri untuk melihat dan berpikir. Barang siapa punya mata hendaklah ia melihat. Kita punya mata sebagai anugerah untuk melihat. Barang siapa ingin menjadi entrepreneur, hendaklah ia berpikir. Melihatlah dan berpikirlah untuk kesejahteraan bersama.

Salam entrepreneur!
Surabaya, 26 Juni 2013
nur agustinus


Sejatinya kita adalah entrepreneur



Oleh Nur Agustinus

Saya sangat terkesan dengan ucapan yang pernah disampaikan oleh Muhammad Yunus, seorang entrepreneur sosial asal Bangladesh, peraih Nobel. “All human beings are entrepreneurs. When we were in the caves, we were all self-employed … finding our food, feeding ourselves. That’s where human history began. As civilization came, we suppressed it. We became ‘labor’ because they stamped us, ‘You are labor.’ We forgot that we are entrepreneurs.” Artinya kira-kira, kita semua adalah entrepreneur. Saat kita tinggal di gua dulu, kita semua adalah bekerja untuk diri kita sendiri… mencari makan, mensuplai kebutuhan kita sendiri. Itulah sejarah awal manusia. Ketika peradaban berkembang, kita kemudian menekan hal itu. Kita menjadi ‘pekerja’ karena mereka mencap kita, “kamu adalah pekerja.’ Kita lupa bahwa kita ini adalah entrepreneur.

Apa yang diucapkan Muhammad Yunus ini menggugah diri saya. Ya, mengapa kita sekarang harus tergantung pada pemberian orang lain sebagai pekerja? Manusia memang telah dibudayakan sedemikian rupa, entah oleh siapa, barangkali juga karena sistem perekonomian kita, bahwa siapa yang menganggur dianggap sebagai beban. Orang harus bekerja, sehingga dengan demikian, dia harus bisa menjadi manusia yang berguna. Lulus sekolah harus bekerja. Bahkan bekerja jadi sebuah tuntutan dan keharusan. Ibu juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bekerja dalam sebuah sistem, bergabung dengan sebuah industri, di mana kemudian terbentuk dua jenis masyarakat yang berbeda, kaum borjuis dan kaum proletar. Kaum borjuis adalah sebuah kelas sosial dari orang-orang yang dicirikan oleh kepemilikan modal dan kelakuan yang terkait dengan kepemilikan tersebut. Mereka adalah bagian dari kelas menengah atau kelas pedagang, dan mendapatkan kekuatan ekonomi dan sosial dari pekerjaan, pendidikan, dan kekayaan. Berada di sisi yang lain adalah kaum proletar, yakni kelas yang menerima gaji oleh kelas pertama yaitu kelas majikan. Mereka bekerja guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedang kelas majikan bekerja dengan mencari untung atau laba.

Di India masyarakat dibatasi dengan adanya kasta yang dilegalisasi oleh agama mereka. Kaum proletar di sana dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah kaum sudra yang merupakan kelas orang-orang pekerja dan pelayan. Kedua adalah Pariah, sebenarnya kelas ini adalah kelas terbuang dari kelas-kelas sebelumnya bahkan bisa dibilang kelas ini merupakan kelompok masyarakat yang tidak diakui dalam kasta.

Kehidupan manusia kemudian dibagi-bagi dalam strata yang bertingkat-tingkat. Saya tidak ingin membuat rumit pembahasan ini dengan membawa kita ke dalam sistem budaya yang tampaknya membeda-bedakan manusia. Namun kembali kepada kata-kata dari Muhammad Yunus tadi, kita sejatinya adalah entrepreneur. Sejarah awal manusia menunjukkan hal itu. Namun kita menjadi kehilangan keberanian mengambil resiko, menjadi tumpul kemampuan kita melihat buruan kita yang harusnya merupakan peluang, serta berhenti melakukan inovasi karena terpenuhinya kebutuhan kita oleh pihak lain. Kita benar-benar menjadi tak berdaya, ibarat singa yang sudah menjadi tua dan ompong, terlebih kemudian terbiasa mendapatkan makanan yang sudah dijatah sehingga kita tak perlu lagi pusing mencari di luar.

Tapi… kita sejatinya adalah entrepreneur. Kata-kata itu terngiang terus, membuat saya lantas bertanya, mengapa bangsa kita kekurangan entrepreneur saat ini. Apakah karena memang disebabkan karena kita terjajah cukup lama? Atau secara mental kita terkonstruksi sedemikian rupa?

Saya jadi teringat ketika saya masih kelas 1 SMA dulu, guru sejarah saya seorang frater, kami memanggilnya frater Fidelis, mengajar dengan cara yang tidak biasa. Menggunakan buku karya Mochtar Lubis yang berjudul “Manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”. Dari buku itu saya belajar tentang ciri-ciri manusia Indonesia. Mochtar Lubis menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya akan takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Hal ini membuat saya menjadi berpikir, dan kini saya tahu bahwa guru saya itu menyuruh murid-muridnya membaca buku ini agar berpikir. Hingga kinipun saya berpikir, apakah ini yang membuat manusia Indonesia ragu untuk menjadi entrepreneur dan lebih suka menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri?

Ketika beberapa waktu lalu saya ke Bandung dan mampir ke sebuah toko buku, saya melihat sebuah buku yang ukurannya cukup besar, berjudul “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” karya Olivier Johannes Raap. Ada satu buku yang dibuka plastiknya sehingga saya bisa membuka dan membaca isinya. Lalu saya melihat satu-satu gambar foto dari masa lalu tentang pekerjaan yang dilakukan oleh bangsa kita. Ada tukang kopi, tukang es, penjual tebu, penjual jagung, penjual rujak ulek, penjual ikan, penjual roti, penjual gulali, penjual rokok dan masih banyak lainnya. Ada juga tukang oncom, penjual gula jawa, pedagang ternak, penjual singkong. Bahkan ada warung makan, toko alat kerja, rumah gadai, pemintal benang, penenun, perajin topi, perajin keris, emas, kulit, wayang dan lainnya. Termasuk juga penjual jasa, mulai dari penatu, tukang pos, babu, guru, pengemudi becak, pengemudi perahu, hingga pelacur. Semua pekerjaan ada fotonya di sana. Belum lagi pekerjaan yang berhubungan dengan keahlian seperti tukang kunci, tukang sepeda, tukang pijat, tukang jahit, hingga seniman mulai penari ular, wayang senggol, artis keroncong sampai dalang.

Buku ini menarik perhatian saya, sehingga walau harganya Rp. 127.500,- akhirnya saya beli juga. Sudah lama sejak sepulang dari Bandung saya ingin menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Apa yang membuat saya tergelitik untuk menulis? Saya melihat bahwa sebenarnya banyak sekali pekerjaan yang dilakukan itu adalah pekerjaan yang sifatnya mandiri, di mana sesungguhnya itu adalah cikal bakal entrepreneur atau seorang wirausaha. Walau memang, kalau menurut Robert Kiyosaki, kebanyakan masih dalam kuadran S atau Self employee. Robert Kiyosaki membagi dalam 4 kuadran, yakni E (Employee), S (Self-Employed), B (Business Owner) dan I (Investor). Sebenarnya juga, sektor informal kita banyak orang yang berkerja sendiri atau memiliki perniagaan kecil yang di usahakan sendiri. Masalahnya, ada banyal orang yang sudah berada di kategori S (self employed) akhirnya memilih menjadi E (employee) karena merasa lebih aman dan hidupnya terjamin.

Kalau saya lihat di buku ini, sejatinya bangsa kita adalah bangsa yang mau bekerja keras dan hidup secara mandiri. Tiap orang punya keahliannya sendiri-sendiri. Mungkin juga secara turun temurun. Sebenarnya, kalau kita kembal ke sistem peradaban manusia di jaman dahulu, ketika barter masih terjadi, maka tiap orang pasti punya sesuatu untuk dipertukarkan. Nampaknya ketika alat tukar itu diseragamkan menjadi uang, yang dicari kini adalah uang untuk bisa membeli kebutuhan kita yang lain. Salah satu yang bisa dijual adalah tenaga atau pikiran. Akhirnya kita lantas memilih menjadi pekerja bukan lagi berusaha sendiri.

Saya sependapat betul dengan apa yang dikatakan Muhammad Yunus. Seharusnya, kita ini sejatinya adalah entrepreneur. Namun kita telah lupa, karena kita telah terlena sedemikian lama. Saya pikir terlalu naif jika kita menyalahkan ini karena penjajah. Tapi betul bahwa pikiran kita dibentuk dan dikonstruksi secara sosial, mungkin untuk kepentingan salah satu pihak agar kita kemudian yang bekerja untuk mereka lantas membeli produk mereka juga. Kita harusnya ingat, menggali kembali jati diri kita, menelusuri keahlian yang harusnya bisa kita miliki dan kembangkan, membangkitkan keberanian kita untuk mengambil resiko yang terukur serta mempertajam naluri kita untuk berusaha, agar ketika kita melihat sekitar maka kita akan kemudian berpikir. Sebab sejatinya… kita adalah entrepreneur!

Salam Entrepreneur.


Sejatinya kita adalah entrepreneur

Oleh Nur Agustinus

Saya sangat terkesan dengan ucapan yang pernah disampaikan oleh Muhammad Yunus, seorang entrepreneur sosial asal Bangladesh, peraih Nobel. “All human beings are entrepreneurs. When we were in the caves, we were all self-employed … finding our food, feeding ourselves. That’s where human history began. As civilization came, we suppressed it. We became ‘labor’ because they stamped us, ‘You are labor.’ We forgot that we are entrepreneurs.” Artinya kira-kira, kita semua adalah entrepreneur. Saat kita tinggal di gua dulu, kita semua adalah bekerja untuk diri kita sendiri… mencari makan, mensuplai kebutuhan kita sendiri. Itulah sejarah awal manusia. Ketika peradaban berkembang, kita kemudian menekan hal itu. Kita menjadi ‘pekerja’ karena mereka mencap kita, “kamu adalah pekerja.’ Kita lupa bahwa kita ini adalah entrepreneur.

Apa yang diucapkan Muhammad Yunus ini menggugah diri saya.  Ya, mengapa kita sekarang harus tergantung pada pemberian orang lain sebagai pekerja? Manusia memang telah dibudayakan sedemikian rupa, entah oleh siapa, barangkali juga karena sistem perekonomian kita, bahwa siapa yang menganggur dianggap sebagai beban. Orang harus bekerja, sehingga dengan demikian, dia harus bisa menjadi manusia yang berguna. Lulus sekolah harus bekerja. Bahkan bekerja jadi sebuah tuntutan dan keharusan. Ibu juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bekerja dalam sebuah sistem, bergabung dengan sebuah industri, di mana kemudian terbentuk dua jenis masyarakat yang berbeda, kaum borjuis dan kaum proletar.  Kaum borjuis adalah sebuah kelas sosial dari orang-orang yang dicirikan oleh kepemilikan modal dan kelakuan yang terkait dengan kepemilikan tersebut. Mereka adalah bagian dari kelas menengah atau kelas pedagang, dan mendapatkan kekuatan ekonomi dan sosial dari pekerjaan, pendidikan, dan kekayaan. Berada di sisi yang lain adalah kaum proletar, yakni kelas yang menerima gaji oleh kelas pertama yaitu kelas majikan. Mereka bekerja guna memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedang kelas majikan bekerja dengan mencari untung atau laba.

Di India masyarakat dibatasi dengan adanya kasta yang dilegalisasi oleh agama mereka. Kaum proletar di sana dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah kaum sudra yang merupakan kelas orang-orang pekerja dan pelayan. Kedua adalah Pariah, sebenarnya kelas ini adalah kelas terbuang dari kelas-kelas sebelumnya bahkan bisa dibilang kelas ini merupakan kelompok masyarakat yang tidak diakui dalam kasta. 

Kehidupan manusia kemudian dibagi-bagi dalam strata yang bertingkat-tingkat.  Saya tidak ingin membuat rumit pembahasan ini dengan membawa kita ke dalam sistem budaya yang tampaknya membeda-bedakan manusia. Namun kembali kepada kata-kata dari Muhammad Yunus tadi, kita sejatinya adalah entrepreneur. Sejarah awal manusia menunjukkan hal itu. Namun kita menjadi kehilangan keberanian mengambil resiko, menjadi tumpul kemampuan kita melihat buruan kita yang harusnya merupakan peluang, serta berhenti melakukan inovasi karena terpenuhinya kebutuhan kita oleh pihak lain. Kita benar-benar menjadi tak berdaya, ibarat singa yang sudah menjadi tua dan ompong, terlebih kemudian terbiasa mendapatkan makanan yang sudah dijatah sehingga kita tak peru lagi pusing mencari di luar.

Tapi… kita sejatinya adalah entrepreneur. Kata-kata itu terngiang terus, membuat saya lantas bertanya, mengapa bangsa kita kekurangan entrepreneur saat ini. Apakah karena memang disebabkan karena kita terjajah cukup lama? Atau secara mental kita terkonstruksi sedemikian rupa? 
 
Saya jadi teringat ketika saya masih kelas 1 SMA dulu, guru sejarah saya seorang frater, kami memanggilnya frater Fidelis, mengajar dengan cara yang tidak biasa. Menggunakan buku karya Mochtar Lubis yang berjudul “Manusia Indonesia: sebuah pertanggungjawaban”. Dari buku itu saya belajar tentang ciri-ciri manusia Indonesia.  Mochtar Lubis menceritakan sifat-sifat yang melekat pada manusia Indonesia, yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya akan takhayul. Kelima, artistik. Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Hal ini membuat saya menjadi berpikir, dan kini saya tahu bahwa guru saya itu menyuruh murid-muridnya membaca buku ini agar berpikir. Hingga kinipun saya berpikir, apakah ini yang membuat manusia Indonesia ragu untuk menjadi entrepreneur dan lebih suka menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri? 
 
Ketika saya beberapa waktu lalu say di Bandung dan mampir ke sebuah toko buku, saya melihat sebuah buku yang ukurannya cukup besar, berjudul “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe” karya Olivier Johannes Raap.  Ada satu buku yang dibuka plastiknya sehingga saya bisa membuka dan membaca isinya. Lalu saya melihat satu-satu gambar foto dari masa lalu tentang pekerjaan yang dilakukan oleh bangsa kita. Ada tukang kopi, tukang es, penjual tebu, penjual jagung, penjual rujak ulek, penjual ikan, penjual roti, penjual gulali, penjual rokok dan masih banyak lainnya. Ada juga tukang oncom, penjual gula jawa, pedagang ternak, penjual singkong. Bahkan ada warung makan, toko alat kerja, rumah gadai, pemintal benang, penenun, perajin topi, perajin keris, emas, kulit, wayang dan lainnya. Termasuk juga penjual jasa, mulai dari penatu, tukang pos, babu, guru, pengemudi becak, pengemudi perahu, hingga pelacur. Semua pekerjaan ada fotonya di sana. Belum lagi pekerjaan yang berhubungan dengan keahlian seperti tukang kunci, tukang sepeda, tukang pijat, tukang jahit, hingga seniman mulai penari ular, wayang senggol, artis keroncong sampai dalang. 
 
Buku ini menarik perhatian saya, sehingga walau harganya Rp. 127.500,- akhirnya saya beli juga. Sudah lama sejak sepulang dari Bandung saya ingin menulis tentang ini dan baru sempat sekarang. Apa yang membuat saya tergelitik untuk menulis? Saya melihat bahwa sebenarnya banyak sekali pekerjaan yang dilakukan itu adalah pekerjaan yang sifatnya mandiri, di mana sesungguhnya itu adalah cikal bakal entrepreneur atau seorang wirausaha.  Walau memang, kalau menurut Robert Kiyosaki,  kebanyakan masih dalam kuadran S atau Self employee. Robert Kiyosaki membagi dalam 4 kuadran, yakni E (Employee), S (Self-Employed), B (Business Owner) dan I (Investor).  Sebenarnya juga, sektor informal kita banyak orang yang berkerja sendiri atau memiliki perniagaan kecil yang di usahakan sendiri. Masalahnya, ada banyal orang yang sudah berada di kategori S (self employed) akhirnya memilih menjadi E (employee) karena merasa lebih aman dan hidupnya terjamin. 
 
Kalau saya lihat di buku ini, sejatinya bangsa kita adalah bangsa yang mau bekerja keras dan hidup secara mandiri. Tiap orang punya keahliannya sendiri-sendiri. Mungkin juga secara turun temurun. Sebenarnya, kalau kita kembal ke sistem peradaban manusia di jaman dahulu, ketika barter masih terjadi, maka tiap orang pasti punya sesuatu untuk dipertukarkan. Nampaknya ketika alat tukar itu diseragamkan menjadi uang, yang dicari kini adalah uang untuk bisa membeli kebutuhan kita yang lain. Salah satu yang bisa dijual adalah tenaga atau pikiran. Akhirnya kita lantas memilih menjadi pekerja bukan lagi berusaha sendiri.
 
Saya sependapat betul dengan apa yang dikatakan Muhammad Yunus. Seharusnya, kita ini sejatinya adalah entrepreneur. Namun kita telah lupa, karena kita telah terlena sedemikian lama. Saya pikir terlalu naif jika kita menyalahkan ini karena penjajah. Tapi betul bahwa pikiran kita dibentuk dan dikonstruksi secara sosial, mungkin untuk kepentingan salah satu pihak agar kita kemudian yang bekerja untuk mereka lantas membeli produk mereka juga. Kita harusnya ingat, menggali kembali jati diri kita, menelusuri keahlian yang harusnya bisa kita miliki dan kembangkan, membangkitkan keberanian kita untuk mengambil resiko yang terukur serta mempertajam naluri kita untuk berusaha, agar ketika kita melihat sekitar maka kita akan kemudian berpikir. Sebab sejatinya… kita adalah entrepreneur!

Salam Entrepreneur.

www.nuragustinus.com

Lima Jalan Membuktikan Eksistensi Tuhan dari St. Thomas Aquinas

Hari Kamis, 23 September 2010, saya mengikuti kuliah filsafat yang disampaikan oleh Romo Adrian Adiredjo, OP. Kuliah filsafatnya mengenai lima jalan membuktikan eksistensi Tuhan menurut St. Thomas Aquinas (Summa Theologiae, I, q. 2, a. 3). Ada 5 argumen, yaitu: (1) gerak (2) penyebab efisien (3) keberadaan niscaya (4) kesempurnaan, dan (5) keteraturan/order. Berikut adalah penjelasannya.

Yang pertama adalah tentang gerak (motion). Gerak itu berarti berubah, yaitu perubahan dari potensi ke actus. Hal ini berdasarkan teori Aristoteles tentang actus potensi. Apa itu potensi? Potensi adalah sesuatu dari benda yang belum menjadi realitas namun punya kemungkinan untuk menjadi sesuatu, misalnya: air berpotensi menjadi uap. Seorang dosen berpotensi menjadi seorang profesor. Sementara actus adalah sesuatu yang telah menjadi realitas. Potensi ini akan menjadi actus melalui agent of change. Tidak mungkin potensi ini berubah sendiri tanpa ada agen perubahan. Misalnya air tidak akan menjadi uap, walau dia berpotensi menjadi uap, tanpa adanya panas hingga 100 derajat celsius yang membuat air menjadi uap.

Contoh lain adalah, jika diumpamakan kita mengatur sebuah susunan domino balok yang berjajar, di mana ketika satu balok jatuh akan membuat balok di depannya jatuh. Maka jika satu dijatuhkan maka semua balok domino ini akan jatuh. Itu artinya, domino A bergerak jatuh menyebabkan domino B bergerak jatuh dan menimpa domino C, demikian seterusnya. Pertanyaan filsafatnya adalah, kita melihat bahwa alam semesta ini selalu berubah (ibarat domino jatuh), sehingga bagaimana atau apa yang mem buat jatuhnya domino pertama? Thomas Aquinas yang mengembangkan filsafat Aristoteles, menyebut hal itu sebagai the first mover. First mover ini menurut Thomas Aquinas adalah supreme being, sementara menurut aristoteles adalah energia. Dengan pemikiran ini, maka harus ada penggerak pertama, dan itu bukti eksistensi supreme being, di mana supreme being ini kalau menurut agama adalah Tuhan. Itu dalil yang pertama...

Dalil kedua adalah penyebab efisien (efficient cause). Sesuatu itu ada karena disebabkan oleh yang lain. Misalnya, api itu ada karena ada korek, atau karena ada lilin. Dalil kedua ini dalil yang sering dibicarakan orang, yaitu misalnya kita ada karena orang tua kita, orang tua kita ada karena orang tuanya lagi. Demikian seterusnya sehingga dengan dalil  yang kedua ini, jika ditarik bahwa eksistensi sesuatu disebabkan karena yang lain, maka secara logika tentunya ada yang pertama, di mana ada yang eksistensinya tidak ditentukan oleh yang lain.  Nah ini yang menurut thomas Aquinas adalah Tuhan (being yang eksistensinya tidak disebabkan oleh yang lain).

Yang ketiga adalah keberadaan niscaya (nessecary). Artinya niscaya adalah selalu ada, tidak pernah menjadi dan tidak pernah berakhir untuk ada. Penjelasannya adalah sebagai berikut. Kita ada saat ini, suatu saat akan menjadi tiada. Dulu belum ada laptop, sekarang ada laptop, dan suatu saat pasti laptop ini juga tidak ada lagi (digantikan yang lain). Dulu ada dinosaurus, sekarang tidak ada. Dulu belum ada manusia, sekarang ada manusia. Padahal, untuk mengadakan ini, perlu ada sesuatu yang harus selalu ada, dan tidak pernah diciptakan dan tidak pernah ada matinya (tidak akan musnah). Itu dalil ketiga, bahwa harus ada yang selalu ada, dan itu disebut sebagai supreme being, atau Tuhan jika menurut agama katolik, agamanya Thomas Aquinas.

Dalil keempat adalah kesempurnaan. Kita sering menganggap bahwa itu manusia sempurna. Tapi mengapa kita tahu bahwa kita sempurna? Ini berarti kita tahu ada yang tidak sempurna, ada yang kurang sempurna, ada yang cukup sempurna, ada yang lumayan sempurna, ada yang sangat sempurna dan ada yang mutlak sempurna. Contoh lain misalnya, anjing yang sempurna itu bagaimana? Anjing yang sempurna misalnya yang berkaki empat, matanya dua, punya mulut, hidung, ekor. Tapi kalaupun ada ajing yang misalnya kakinya hanya tiga, dia tetap anjing, kan? Namun dia akan disebut anjing yang kurang sempurna.

Nah, di sini kita punya konsep bagaimana yang dimaksud sempurna itu. St. Thomas Aquinas memang menggunakan dalil ini dengan pola pikir Plato. Ada idea yang sempurna. Semakin mendekati "kesempurnaan", kita mengetahui bahwa sesuatu itu makin sempurna. Thomas Aquinas juga menunjukkan bahwa dengan keberadaan reaitas yang ada, kita bisa mengatakan bahwa sebenarnya eksistensinya belum mutlak sempurna. Namun karena kita punya konsep kesempurnaan, tentunya ada yang mutlak sempurna.  Lalu... yang kesempurnaan itu sendiri apa? Siapa? Itu yang oleh Thomas Aquinas disebutkan sebagai supreme being, sesuatu yang eksistensinya harus mutlak sempurna.

Dalil yang kelima adalah dalil keteraturan (order by intelligence).  Perjalanan semua hal di alam semesta ini berjalan menuju akhir. Tapi dalam perjalanan menuju akhir ini, ada keteraturan... yang berarti, semua yang terjadi ini mempunyai tujuan. Bahkan cacing tanah pun eksistensinya punya tujuan. Hal lain misalnya, kalau kita mengalami penderitaan, itu juga ada tujuannya. Keteraturan ini, menurut Thomas Aquinas, tentunya diatur oleh sesuatu yang sangat cerdas. Bayangkan kalau dunia kita ini tidak teratur. Obat A yang harusnya menyembuhkan penyakit B, tapi karena tidak teraturnya alam semesta ini, maka obat A tidak mesti menyembuhkan penyakit B. Contoh keteraturan lain, jika saya menekan keyboard laptop huruf G, maka yang keluar di layar juga G.  Nah, alam semesta juga bekerja dengan keteraturan dan setiap kejadian punya tujuan. Semua diatur oleh yg cerdas. Jadi, yang cerdas ini siapa? Thomas Aquinas menunjukkan bahwa ini bukti eksistensi supreme being.

Supreme being itu apa atau siapa? Kalangan new age mungkin akan menyebut ini sebagai energi alam. Mungkin juga The Law. Tapi sebagai orang katolik atau beragama, kita menyebutnya itu sebagai Tuhan. Ini adalah masalah terminologi kata. Semua itu sebenarnya sama, namun orang sering terjebak dalam esensialisme yang berusaha mendefinisi tentang Tuhan yang kemudian membatasinya sehingga nampak berbeda.

Manusia memang makhluk yang mencari pengertian. Man's search for meaning. Ingin mengerti tentang alam semesta ini, ingin paham tentang dirinya, dari mana dia dan akan kemana. Jika orang tidak mempunyai dasar yang kuat dan menelan mentah-mentah, kita tidak bisa berpikir kritis dan open minded.  Romo Adrian Adiredjo juga menjelaskan, ketika seseorang kurang memahami dasar-dasar sebuah ajaran, sering jatuh pada fideisme. Apa itu fideisme? Fideisme adalah kepercayaan buta, namun karena dia hanya comot sana comot sini ajaran yang cocok dengan dirinya, atau yang mudah dipahami (yang pas dengan dirinya), maka meski dia tampak mengimani sungguh-sungguh keyakinannya, namun dasarnya sangat lemah. Orang mungkin menonton film The Secret, kemudian merasa cocok, maka diimani sebagai kebenaran. Melihat film “What the bleep”, kemudian cocok, maka diimani, bahkan mungkin nonton film The Matrix, jika merasa cocok akan diimani juga sebagai sebuah kebenaran. Tentu bukan suatu hal yang terlarang untuk mencerna informasi, namun ada baiknya kita tetap berpikir secara kritis. Bahkan menurut Romo Adrian, agama yang baik juga harus siap dikritik. (Nur Agustinus, Surabaya, 24 September 2010)

Open-minded, namun tetap harus skeptis

B.M. Purwanto, Ph.D. memberikan ceramah metodologi penelitian

Saya mengikuti acara lokakarya metodologi penelitian yang diselenggarakan oleh Unika Widya Mandala, Surabaya. Ini tentu saja bukan lokakarya UFO, namun berhubung ada yang pernah bertanya soal bagaimana metode meneliti fenomena UFO, saya coba pelajari materi yang ada. Acara berlangsung hari ini, 30 Oktober, dan besok. Materi disampaikan oleh B.M. Purwanto, Ph.D., dosen dari Universitas Gadjah Mada. Materinya bagi saya sangat menarik dan memberi gambaran tentang apa itu pengetahuan, apa itu science dan juga paradigma-paradigma yang ada. Tentu saja, lokakarya metodologi penelitian untuk bidang manajemen, namun saya ingin berbagi apa yang saya dapatkan tadi pagi yang kira-kira berkaitan dengan pengetahuan fenomena UFO.

Saya teringat pada Dr. Thomas Jamaluddin, Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), yang pernah mengatakan bahwa secara ilmiah keberadaan UFO sulit dibuktikan. Dalam nomenklatur kajian antariksa, UFO tidak pernah masuk sebagai kajian ilmiah. Saya sangat setuju akan hal itu dan harus diakui, pengetahuan tentang UFO masih dalam ranah pseudoscience. Tapi, apakah benar kita tidak bisa meneliti soal UFO? Bagaimana pengetahuan tentang UFO dibangun?

B.M. Purwanto mengemukakan bahwa manusia sebagai makhluk yang sadar diri, sadar lingkungan, memiliki sejumlah pengetahuan. Apa yang diketahui manusia mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan dibuatnya. Di awal presentasinya, Purwanto menjelaskan tentang Style of Thinking, dalam hal bagaimana manusia memperoleh pengetahuan (knowledge). Ada 8 cara manusia memperoleh pengetahuan, yaitu: (1) Authority and tradition, (2) Postulate, (3) Self-Evident Truth, (4) Personal Experience, (5) Common Sense, (6) Case Studies, (7) Myth and superstition, dan (8) Science.

Pengetahuan otoritas dipercaya karena orang yang menyampaikan misalnya dianggap benar, baik, jujur dan powerful. Sebagai contoh, percaya pada pengetahuan yang diberikan oleh guru kita, atau pemimpin agama. Sementara pengetahuan berdasarkan common sense, biasanya tergantung dari pengalaman dan logika seseorang. Sifatnya memang subyektif. Yang menarik tentunya adalah pengetahuan berdasarkan mitos (myth) dan superstition (tahayul). Misalnya, kursi pesawat tidak ada yang nomor 13, lantai apartemen atau hotel tidak ada yang diberi nomor 13.

Science sendiri merupakan sebuah cara berpikir untuk memperoleh pengetahuan. Sebagai sebuah cara berpikir, metode ilmiah berada dalam ranah rasionalisme dan empirisme. Empirisme adalah observasi dan proposisi berdasarkan pada pengalaman dengan menggunakan metode induktif logic, termasuk matematik dan statistik. Sementara rasionalisme, sumber utama pengetrahuan adalah penalaran (reasoning dan judgment). Pengetahuan dideduksi dari kebenaran dan hukum alam. Seorang yang berpikir secara ilmiah, harus memiliki sikap skeptis.

Sebagai orang yang ingin berpikir secara ilmiah, Purwanto mengatakan bahwa kita tidak bisa menjadi orang yang naif 100%. Artinya, terbuka dan menerima segala hal. Namun, Purwanto juga menegaskan bahwa kebenaran ilmiah tidak pernah mutlak, dan ini ditandai dengan selalu ada error atau deviasi. Oleh karena itu, cara berpikir science juga menuntut keterbukaan terhadap hal baru (open minded), namun tetap dilandasi dengan sikap skeptis. Kalau tidak terbuka dan skeptis, maka pengetahuan yang kita miliki menjadi ideologi. Memang dikemukakan juga oleh B.M. Purwanto bahwa tidak menarik jika sumber pengetahuan hanya bersumber pada science saja. Namun aneh juga kalau hanya didominasi oleh mitos dan otoritas saja.

Pengetahuan ilmiah menuntut harus bisa dilakukan verifikasi, sementara itu, sebuah case study sulit untuk direplikasi dan lemah dalam generalisasi. Ini menjadi menarik karena saya teringat pada studi kasus orang-orang yang mengaku mengalami perjumpaan (alien encounter) atau penculikan oleh alien (alien abduction). Saya tahu betul, bahwa studi seperti ini jelas sulit untuk diverifikasi bahkan sangat subyektif. Dalam hal ini Purwanto mengemukakan dengan tepat memang bahwa tanpa bisa diverifikasi, akhirnya akan hanya menjadi belief (kepercayaan) saja. Jadi, itu tergantung saya percaya dengan kasus yang diceritakan itu atau tidak. Setelah itu, ketika saya menyampaikan laporan studi kasus, maka pembaca atau pemirsa juga tinggal percaya atau tidak. Tentu saja, dengan demikian tidak bisa disebut sebagai sebuah studi ilmiah.

Contoh lain yang sempat dibicarakan oleh salah seorang peserta lokakarya, ketika gunung Merapi meningkat status bahayanya, ahli vulkanologi memperkirakan akan meletus, namun mbak Marijan mengatakan bahwa Merapi tidak akan meletus. Mbah Marijan yang benar, akan tetapi, pengetahuan mbak Marijan ini tidak bisa dianggap sebagai ilmiah karena tidak dapat direplikasi oleh orang lain. Science bagaimanapun juga menuntut verifikasi.

Purwanto juga sempat menyinggung soal pseudoscience. Ada “tabu besar” yang dilakukan oleh pseudoscience, misalnya, seringkali hanya memilih data yang mendukung saja. Dengan demikian ada norma komunitas ilmiah yang dilanggar, yaitu kejujuran (honesty). Saat menjelaskan soal norma komunitas ilmiah, selain kejujuran, ada 4 norma lagi, yaitu (1) universalism, (2) organized skepticism, ilmuwan harus selalu bersikap kritis dan berhati-hati dalam menerima ide baru, (3) Disinterestedness, di mana ilmuwan harus netral dan terbuka terhadap hal-hal baru, (4) Communnalism, pengetahuan ilmiah hatrus disebarluaskan dan dimiliki bersama dan proses riset harus dipaparkan secara rinci.

Kembali ke fenomena UFO, yang secara empiris sulit untuk dibuktikan dan tidak bisa diverifikasi validitasnya, maka memang studi-studi mengenai UFO atau alien tidak bisa melakukan pendekatan positivisme. Namun benar itu sendiri ada dua, yaitu apakah yang dirasakan atau apa yang dilihat. Bagi orang yang mengalami atau menjadi saksi mata, dan jika dia memang mengemukakan hal itu dengan kejujuran, maka dia tentu tahu apa yang dirasakannya dan apa dilihatnya. Walau tentu saja, hal itu tidak bisa dirasakan atau dilihat oleh orang lain. Menurut saya, sebagai sebuah studi kasus, tentu hal ini bisa dilakukan, namun sekali lagi karena fenomena UFO ini tidak bisa dikaji secara ilmiah, maka sejauh ini akhirnya tetap kembali kepada diri masing-masing, percaya atau tidak. Namun demikian, sebagaimana tadi disebutkan oleh Purwanto, saya menganjurkan sebuah sikap ilmiah meski kita mengamati fenomena yang masih dianggap tidak ilmiah sampai saat ini, yaitu dengan bersikap open minded skeptic.

Surabaya, 30 Oktober 2009
nur agustinus

Takut Salah Yang Berakibat Fatal


Kalau Anda punya bawahan, mungkin sekali waktu Anda menemui anak buah Anda sering melakukan kesalahan. Ini sering terjadi pada sekretaris atau staf bawahan lainnya. Akibatnya, mereka dinilai tidak mau serta kurang berhasil. Namun sering kali, dalam pengamatan lebih lanjut, ternyata penyebabnya justru karena sang bawahan takut salah. Mengapa takut salah ini justru menyebabkan kesalahan?

Bagi siapa saja, bekerja dengan baik akan bisa tercapai kalau kondisi psikologis seseorang sedang dalam keadaan mantap dan baik. Sebagai contoh, kalau Anda ada masalah, misalnya anak sakit, boleh jadi karena kepikiran, maka banyak pekerjaan Anda yang keliru atau tidak selesai tepat waktu. Demikian juga, kalau seseorang takut salah, maka dalam bekerja ia cenderung tegang. Akibatnya, bukan hasil kerja yang baik yang diperoleh melainkan justru banyak kesalahan yang sepele-sepele. Dalam bahasa Jawa-nya  disebut nggreweli.

Hal ini jelas perlu kita perhatikan dengan seksama. Sebab orang yang cukup baik sekalipun, kalau kerjanya nggreweli, hasilnya juga kurang baik. Konsentrasi menurun sehingga ketelitian juga kurang baik.

Persoalan yang lebih serius adalah, mengapa seseorang takut salah? Apakah orang-orang tersebut memiliki sifat yang perfeksionis atau ingin sempurna? Ataukah, ia justru merasa bersalah karena kekurang-mampuan yang ada dalam dirinya. Ini yang sebaiknya dikaji secara seksama.

Bagaimanapun, seorang karyawan yang takut pada atasan atau boss-nya, dia tidak akan bisa bekerja dengan baik. Akibat yang paling buruk sering kali adalah ia sendiri terpaksa mengundurkan diri dari posisi yang dijabatnya. Padahal, kalaupun ia melakukan kesalahan dan boss-nya marah, mestinya, ia masih mendapat kesempatan untuk belajar dan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya.

Proses timbulnya rasa takut ini bisa disebabkan karena beberapa kali dimarahi karena kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Susahnya, semakin sering dimarahi, justru semakin nggreweli. Akibatnya bisa diduga, yakni berbuat kesalahan  lagi. Hal ini lama-kelamaan akan menjadi lingkaran setan.

Lalu, bagaimana cara memperbaiki hubungan yang kurang baik ini? Di satu sisi pihak atasan merasa anak buahnya tersebut banyak salah, sementara sang anak buah merasa tidak berhasil dalam bekerja. Belum lagi kalau ia merasa selalu dicari-cari kesalahannnya sehingga merasa dikejar-kejar. Ini yang perlu dihindari.

Yang penting, kalau ini terjadi pada diri Anda sebagai manajer atau supervisor, maka sebaiknya Anda perlu mengevaluasi sikap terhadap bawahan. Apakah sikap Anda pada anak buah Anda tersebut memang sering memarahi akhir-akhir ini. Jadi intinya, perlu ditanyakan dulu, apakah kesalahan itu dibuat memang karena ia tidak bisa, atau karena kerja dengan perasaan tegang tersebut. Bagaimanapun, dari pihak Andalah sebagai atasan yang bisa memulai memperbaiki hubungan tersebut. Kalau dibiarkan terus menerus seperti itu, kerja dengan tegang tentunya tidak enak. Dan yang justru takut salah, akhirnya justru salah sungguhan.

Barter kaos UFO di Gembong, Surabaya



Ini pengalaman sudah lama, tepatnya tanggal 29 September 2003. Waktu saya jalan-jalan ke daerah jalan Gembong, Surabaya, sebuah tempat yang banyak pedagang kaki lima yang menjual barang-barang bekas. Kadang memang saya suka ke sana karena bisa menemukan benda yang aneh-aneh dengan harga miring.

Setelah berjalan-jalan agak lama, tak sengaja saya melihat ada seseorang yang menggunakan kaos hitam lengan panjang dengan gambar alien (gambarnya ada di muka dan belakang). Wah, menarik sekali ... pikir saya dalam hati. saya dekati orang itu dan bertanya, "Mas, beli di mana kaos itu?" Dia rupanya agak heran saya tanya seperti itu, namun dia juga mengatakan bahwa dulu dapatnya ya di salah satu pedagang di jl gembong ini (surabaya). Memang di gembong ini banyak sekali kaos, jaket, dll dari luar negeri (barang bekas luar negeri).

Gambarnya tentang ufo yang jatuh di roswell, 1947, corona, wah... walau cuma berwarna hitam dan putih saja... namun bagi saya keren sekali.

Trus dia beranjak pergi dan saya juga mau pulang. Hanya dalam hati, saya membayangkan... ah seandainya saya punya kaos itu, walau bukan untuk dipakai, buat koleksi juga bagus. Dasar maniak ufo ya?

Waktu itu saya berjalan-jalan dengan pegawai saya, Moch. Sanusi, lalu saya ajak teman saya untuk nekad bertanya kepada orang itu sekali lagi. "Mas, baju kaosnya boleh nggak saya beli? Saya akan ganti Rp 50 ribu. Nanti mas cari kaos lagi yang lain dan ganti di situ ya?" Dia sempat berpikir sejenak, terus bertanya, "Bener nih, 50 ribu?" Saya jawab, "ya, gimana?" Lalu ternyata dia setuju. Wah, ibarat pucuk dicinta ulam tiba... 

Akhirnya, setelah dia pilih-pilih kaos, lalu dia langsung ganti dan memberikan kaosnya kepada saya. Segera saja setelah tiba di rumah saya cuci dan saat ini saya pamerkan gambarnya kepada teman-teman sekalian.

Kaos itu kini menghuni "museum ufo" saya, sebab tidak mungkin pas dengan ukuran saya yang gemuk ini.

Begitulah cerita lama pengalaman mendapat kaos UFO.

Dekonstruksi Wajah Homo Economicus menjadi Homo-Ethicus

Oleh: Nur Agustinus

Waktu adalah uang. Begitu nampaknya kapitalisme telah membuat mindset para pelaku ekonomi benar-benar menjadi homo-economicus dan melupakan moralitasnya sebagai homo-ethicus. Hal ini yang kemudian melahirkan kecenderungan homo homini lupus, di mana manusia adalah serigala bagi yang lain. Terjadi eksploitasi di mana-mana terhadap sumber daya, baik alam maupun manusia. Pelumpuhan (disempowerment) dan pemiskinan (impoverishment) sosial-ekonomi.

Memang, menurut Karl Marx manusia selalu terkait dengan hubungan-hubungan kemasyarakatan yang melahirkan sejarah. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat, yang beraktivitas, terlibat dalam suatu proses produksi. Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans, homo faber). Dalam hal ini Marx bertolak dari ajaran Adam Smith. Smith melihat  kodrat manusia sebagai homo economicus, yang cenderung melakukan pertukaran. Hal ini tak lepas dari asumsi dasar pemikiran Marx yang memandang manusia sebagai homo faber, makhluk pekerja, makhluk produktif. Manusia baru akan merasa bermakna bila ia memproduksi yang berguna buat dirinya dan orang lain, kemudian, hal ini menjadi perbincangan di kalangan Frankfurt School dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terhadap kritik kapitalisme.

Wajah Homo Economicus
Memang, perilaku homo economicus memiliki prinsip maksimalisasi keuntungan dan minimalisasi pengorbanan (sacrifice). Homo economicus, mendorong semangat berebut dan bertarung adu kekuatan, yang telah terbukti tak henti-hentinya membentukkan suatu ”restless society” ataupun “stressful society”. Teresa Lunati, penulis ”Ethical Issues in Economics: From Altruism to Cooperation to Equity”, mengemukakan  bahwa Homo economicus atau manusia ekonomi adalah agen individual yang berada di pusat teori ekonomi neoklasik (teori utilitarian, hedonis dan menitikpusatkan pada diri-sendiri, yang rasionalis dan beretika individualis). Ia egois, rasional, berupaya untuk mencapai utilitas secara maksimum. Ia bertindak secara independen dan nonkooperatif, sebagai atom sosial yang terisolasi tanpa mempunyai naluri akan masyarakat sekitarnya, dan perilakunya dimotivasi semata-mata oleh kepentingan-diri pribadi secara sempit.
Maka tak heran jika wajah homo economicus modern kemudian menjadi tamak dan oportunistik; tak dapat dipercaya dan tidak mempercayai orang lain, tak mampu memberi komitmen dan akan selalu berupaya untuk mendapat manfaat secara cuma-cuma; bahkan menganggap keegoisannya serta segala sifat dan perilakunya sebagai hal yang wajar. Sebaliknya, Homo ethicus samasekali berbeda dan bahkan merupakan kebalikan dari homo economicus. Namun di sinilah sering terjadi masalah. Homo economicus memperlakukan para pekerja dengan semena-mena, sehingga sering melupakan aspek etika dan moralitas.

Padahal menurut Emmanuel Lévinas, moralitas merupakan pengalaman dasar manusia, pengalaman dasar tersebut bersifat etis, pengalaman dasar tersebut adalah pengalaman untuk bertanggung jawab. Eksistensi fenomenologi paling dasar adalah pengalaman moral sebagai titik tolak kesadaran, sikap, dan dimensi penghayatan manusia sekaligus kesadaran akan Yang Ilahi.

Lévinas mengemukakan bahwa kehadiran itu merupakan undangan atau panggilan untuk bersikap etis. Siapapun orang lain itu, dikenal atau tidak dikenal, hadir sebagai panggilan yang harus dijawab. Bahkan penderitaan dari orang lain yang hanya dirasakan atau ditangkap melalui imaginasi, merupakan undangan untuk bersikap etis. Maka sikap yang paling tepat terhadap orang lain pada umumnya, dan orang yang menderita pada khususnya, adalah sebuah tanggung jawab. Terhadap penderitaan orang lain, setiap manusia semestinya merasa punya tanggung jawab sebagai manusia untuk meringankan bebannya.

Di sini solidaritas sosial berarti jawaban etis atau reaksi kemanusiaan terhadap penderitaan orang lain. Lévinas menyebut hal ini sebagai moralitas “penampakan wajah” atau “Lyan”. Setiap tindakan manusia harus mengutamakan “teriakan” objek. Ketika subjek melihat wajah objek, subjek harus mengutamakan apa yang diteriakannya. Ketika J.P. Sartre meneriakan “others is hell” (yang lain adalah neraka) sehingga harus segera dilenyapkan, Lévinas degan tegas mengatakan yang lain adalah wujud kebenaran yang harus segera didengarkan (teriakannya) oleh subjek.

 Pemikiran Lévinas ini menjadi sangat kontekstual ketika kita harus memasuki ranah bisnis dan industri. Bisnis memaksa sebuah kumpulan manusia membentuk sebuah strata sosial. Tingkatan ini menggambarkan adanya masyarakat yang lebih tinggi dan yang lebih rendah kedudukannya. Ada manusia yang mengatur dan ada yang diatur. Lévinas akan mengatakan bahwa subjek adalah pemimpin dan objek adalah mereka yang dipimpin. Tindakan pemimpin harus mengutamakan “penampakan wajah” pekerja yang dipimpin.

Oleh karenanya, sikap egosentrisme pengusaha (subjek) harus dibuang demi kebenaran yang diteriakan sang pekerja (objek). Ketika pengusaha sebagai subjek mengabaikan wajah objek (pekerja), disinilah moralitas berteriak meminta sebuah kebenaran. Di sinilah pencurian atas hak pekerja terjadi. Hak pekerja dicuri oleh pengusaha yang menggalang sebuah ide pragmatisme konstruktif demi sebuah kepuasan diri. Ketika pencurian hak pekerja terjadi, mungkinkah kebenaran moral masih bisa bersuara?

Dari egosentris menuju solidaritas

Lévinas menggunakan istilah totalitè untuk menjelaskan totalitas sikap manusia yang egois, yang senantiasa menjadikan dirinya sebagai pusat segala. Manusia adalah pusat makna yang memaknai yang lain. Ia adalah pusat nilai yang menjadi standar nilai bagi yang lain. Egoisme manusia memandang realitas lain sebagai obyek kenikmatan dirinya. Segala sesuatu berputar-putar mengelilingi sang aku (le Moi), karena sang aku adalah pusat yang mempunyai daya tarik untuk mereduksi segala yang lain ke dalam kesenangan. Sesungguhnya sikap seperti ini telah menempatkan manusia pada posisi tunggal: Aku adalah satu-satunya yang paling utama. Lévinas menyebutnya ”le Moi comme singularitè”. Memang benar, di alam semesta ini manusia adalah makhluk satu-satunya yang paling ekspansif, progresif dan bahkan sekaligus destruktif.

Robert A. Sirico menandaskan, solidaritas adalah “the acceptance of our social nature and the affirmation of the bonds we share with all our brothers and sisters.” Jelas bagi Sirico, solidaritas dapat ditimbulkan melalui perasaan simpati atau bela rasa (compassionate) atas keadaan penderitaan yang dialami orang lain. Tapi perasaan ini saja tidak cukup. Solidaritas haruslah merupakan pengakuan akan hakikat diri kita sebagai mahkluk sosial yang tidak ingin membiarkan orang lain berkembang tanpa bantuan dan kerja sama kita, karena kesadaran bahwa kita pun tidak mungkin hidup dan berkembang tanpa bantuan orang lain.

Ini berarti, seperti diungkap oleh Lévinas, solidaritas bermakna memandang orang lain, siapa pun dia, hingga kita menangkap “wajah” mereka yang menuntut sebuah perhatian (care), perawatan (nurturing), dan tanggung jawab. Wajah adalah bagian tubuh yang langsung menampakan diri ketika kita berelasi dengan orang lain. Tidak peduli dalam keadaan riang-bersemangat atau sedih penuh derita, wajah yang menampakan diri selalu merupakan realitas normatif yang menuntut keterlibatan dan tanggung jawab. Tentu wajah memelas penuh derita karena suatu bencana alam atau kesulitan hidup akan menuntut keterlibatan yang lebih besar dari pada wajah yang penuh canda dan tawa.

Derrida menawarkan teori dekonstruksi yang begitu identik dengan filsafat posmodernisme. Dekonstruksi menolak sesuatu yang absolut dan memilih menjadi kontekstual. Dekonstruksi tidak terikat pada bentuk yang sudah ada, karenanya makna yang dihadirkan tidak mengacu pada bentuk final. Oleh karenanya, dekonstruksi merupakan strategi untuk menguliti lapisan-lapisan makna yang terdapat di dalam "teks", yang selama ini telah ditekan atau ditindas.

Persoalannya adalah, wajah pekerja ini seringkali tidak terlihat oleh pengusaha. Mereka hanya nampak sebagai deretan angka atau nomor urut pekerja, atau bahkan nama-nama yang tidak bisa mewakili kehadiran seutuhnya dari wajah mereka.  Terlebih lagi, kewajiban para pekerja untuk menggunakan seragam yang sama, membuat penampilan yang mirip satu sama lain, menghilangkan keunikan individu dan ini membuat wajah yang sesungguhnya tenggelam sehingga sulit untuk terjadi sebuah relasi yang baik.

Menerima kehadiran orang lain
Semua ini akan berbeda jika kita mendalami pemikiran Gabriel Marcel. Menurut Marcel, keharmonisan hidup bersama akan terjadi bila terpatri dimensi cinta. Cinta hakekatnya adalah sebuah seruan hendaknya engkau hidup bersama dengan aku (penerimaan akan orang lain). Bagi Marcel, eksistensi manusia adalah berada di dunia. Menurut pendapatnya pengalaman eksistensial yang paling mendasar adalah hubungan manusia sebagai subjek. Maka demi terciptanya suatu hubungan pribadi antara dua subjek atau lebih perlulah pertemuan antarsubjek itu sendiri. Sedangkan pertemuan antarsubjek itu barulah mungkin apabila masing-masing subjek tersebut memakai prinsip partisipasi dalam saling mendekati satu sama lain. Artinya, masing-masing subjek mendekati satu sama lain sebagai misteri.

Hubungan antarpribadi pada gilirannya akan terwujud sempurna dalam cinta. Dalam hubungan cinta aku dan engkau naik ke taraf yang lebih tinggi yaitu menjadi kita. Dalam cinta, aku mengimbau engkau supaya bersatu menjadi kita. Namun kebersamaan dalam cinta itu tidak berlangsung sesaat saja. Kebersamaan cinta menurut kodratnya harus berlangsung terus. Maka perlulah kesetiaan. Merosotnya hubungan terjadi bilamana salah satu pihak mulai memasang berbagai macam penilaian terhadap pihak lainnya. Ikatan persekutuan antarsubjek yang dibangun atas dasar cinta akan mencapai puncaknya. Dalam hubungan ini setiap pihak yang terlibat merasakan dan mengalami kehadiran bersama.

Gagasan dasar Marcel di atas seringkali digunakan dalam menyikapi orang-orang yang terlalu menganggap dirinya menjadi pusat. Untuk itu Marcel mencoba mengajak orang tersebut untuk sadar bahwa pentingnya Aku mengenali diriku sebagai manusia jika hanya dalam relasiku dengan orang lain, Aku bukanlah pusat dari segalanya, Adanya aku bukanlah karena aku sebagai pusat segalanya melainkan karena aku menjadi bagian dari orang lain dan mengakui eksistensi seseorang dan juga perlunya keterbukaan hati.

Erich Fromm dalam bukunya The Anatomy on Human Destructiveness berpendapat bahwa segala tindakan manusia (termasuk mencinta) berkutat pada dua energi psikis. Energi psikis ini yaitu pertama, necrophilia yakni dorongan destruktif, yang mengarah kepada kesakitan, perusakan dan kematian serta kebusukan. Dominasi energi ini akan sering tampak dalam mimpi, bahasa dan tindakan sehari-hari. Seorang necrophilis cendrung bermimpi mengenai kekerasan, kekejaman, perusakan bahkan pembunuhan. Dalam tindakan misalnya gairah necrophilis bisa muncul dalam diri anak kecil yang kegemarannya menangkap serangga lalu mempreteli sayap-sayapnya atau mengadu kalajengking dengan kepiting. Dalam percakapan seorang necrophilis mudah meluncurkan umpatan dan wacana kekerasan. Kondisi seperti ini lebih banyak dilakukan oleh kaum pria, From menyebut tokoh seperti Hitler dan Stalin sebagai manusia dengan keperibadian yang didominasi oleh energi necrophilia.

Energi psikis kedua adalah biophilia yaitu dorongan konstruktif, yang mengarah kepada sikap memelihara, mencintai dan menumbuhkan kehidupan. Kalau diamati seorang gadis kecil sudah biasa melakukan tindakan yang lebih banyak diwarnai oleh energi psikis ini. Maka tak heran jika dalam budaya dengan sistem patriakhi, kecenderungan necrophilis ini menjadi dominan dalam masyarakat, melupakan etika dengan prinsip utamanya, “jangan melakukan sesuatu yang tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu.”

Merekonstruksi Homo Ethicus kembali

Etika eksis selama kita menyadari keberadaan manusia sebagai mahluk yang memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab terhadap tindakannya. Manusia adalah adalah pengada dengan status ontologisnya yang oleh Heiddeger disebut “Dasein”, yakni pengada yang mempertanyakan adanya dan memaknai pengada diluar dirinya. Sehingga subjek memiliki titik sentral dalam dirinya, sehingga keputusan yang diambil manusia adalah manifestasi dari status ontologisnya.

Dalam hal ini Herbert Spencer dengan tepat mengemukakan bahwa kesejahteraan hidup suatu masyarakat akan selalu berjalan lurus dengan kualitas pendidikan dan pengetahuannya. Kemiskinan struktural dan segala bentuk penindasan tidak perlu terjadi. Jika mereka punya pengetahuan yang cukup. Karena dengan pengetahuan itu, mereka mampu melakukan perlawanan. Melakukan pembongkaran terhadap ketidakberesan-ketidakberesan hidup dan mekanisme dominasi sosial yang terjadi di lingkungannya.

Namun tak dipungkiri, kapitalis bagaimanapun adalah musuh yang tangguh bagi kaum buruh. Kaum buruh secara sengaja dan terstruktur memang dienyahkan dari akses pengetahuan oleh mereka. Sehingga perlawanan yang diharapkan Spencer di atas tak perlu dikhawatirkan. Eksploitasi atas hak-hak manusia oleh homo economicus harus berjalan tenang tanpa gelombang perlawanan. Karena bagaimana mungkin buruh memikirkan untuk mengakses informasi dan pengetahuan sebagai kebutuhan dirinya, apabila jam kerja mereka yang dipatok oleh kaum pemilik modal tidak memungkinkan untuk itu. Tidak taat pada disiplin kerja, berarti sama halnya memutuskan urat nadi sendiri ditengah-tengah kungkungan dunia materialisme. Sehingga praktik penindasan terus terjadi, sekalipun penindasan itu berwujud dalam bentuknya yang paling “santun” atau kekuasaan simbolik, seperti kata Pierre Bourdieu.

Untuk itu, perlu upaya subversif untuk melakukan dekonstruksi wajah homo economicus menjadi lebih ramah, baik dan peduli. Gabriel Marcel menyodorkan solusi dalam bentuk cinta, demikian juga Erich Fromm. Memang bagi Marc Gafni, eros adalah energi vital yang suci. Eros dan spiritualitas ternyata berkaitan erat secara mendalam. Tegasnya, yang erotik dan yang kudus sebenarnya serupa dan sama. Gafni mengemukakan, bahwa jika segala kegagalan dari etika adalah hasil dari runtuhnya eros.

 Maka, hidup yang erotik merupakan hidup yang sakral. Bahkan tanpa eros, menurut Marc Gafni, kesalehan kita hanyalah pura-pura saja, tidak meresap sampai ke batin. Tanpa eros, tatanan etika kita di semua tingkat: personal-interpersonal, profesional-organisasional, dan sosio-politikal cuma topeng-topeng saja, membebani dan mematikan gairah. Dan kita tahu, tatanan semacam ini akhirnya akan runtuh dari dalam meskipun dari luar terlihat masih utuh. Gafni menekankan, salah satu wajah dan karakter eros adalah ”kesalingterhubungan dengan semua kehidupan”. Kerinduan, keinginan, dan hasrat yang bergetar selalu membisikkan bahwa kita saling terhubung.

Tentu semua ini memerlukan kesadaran bersama serta niat sungguh-sungguh untuk mengubah wajah homo economicus menjadi homo ethicus. Sebuah nilai manusia yang perlu dikonstruksi ulang, melalui proses dekonstruksi, di mana kehadiran orang lain, melalui wajah-wajah yang selama ini dianggap tidak sederajad atau direndahkan, menjadi lebih bermakna melalui pengakuan dan penerimaan, dari semua pihak.

Referensi:
  • Fenomenologi Liyan Emmanuel Levinas--Wajah Sebagai Landasan Etika, http://www.scribd.com/doc/20911470/Fenomenologi-Liyan-Emmanuel-Levinas-Wajah-Sebagai-Landasan-Etika
  • Majalah Religion & Liberty, edisi September dan Oktober 2001, Vol. 11, No. 5, http://jeremiasjena.wordpress.com/2007/03/23/solidaritas/
  • http://www.institutmahardika.com/artikel/artihidu.php
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Marc_Gafni
  • http://raflesia0981.multiply.com/reviews
  • Titik tolak pemikiran Gabriel Marcel dalam Man Against Mass Society, http://jeremiasjena.wordpress.com/2008/02/05/titik-tolak-pemikiran-gabriel-marcel-dalam-man-against-mass-society/