Takut Salah Yang Berakibat Fatal


Kalau Anda punya bawahan, mungkin sekali waktu Anda menemui anak buah Anda sering melakukan kesalahan. Ini sering terjadi pada sekretaris atau staf bawahan lainnya. Akibatnya, mereka dinilai tidak mau serta kurang berhasil. Namun sering kali, dalam pengamatan lebih lanjut, ternyata penyebabnya justru karena sang bawahan takut salah. Mengapa takut salah ini justru menyebabkan kesalahan?

Bagi siapa saja, bekerja dengan baik akan bisa tercapai kalau kondisi psikologis seseorang sedang dalam keadaan mantap dan baik. Sebagai contoh, kalau Anda ada masalah, misalnya anak sakit, boleh jadi karena kepikiran, maka banyak pekerjaan Anda yang keliru atau tidak selesai tepat waktu. Demikian juga, kalau seseorang takut salah, maka dalam bekerja ia cenderung tegang. Akibatnya, bukan hasil kerja yang baik yang diperoleh melainkan justru banyak kesalahan yang sepele-sepele. Dalam bahasa Jawa-nya  disebut nggreweli.

Hal ini jelas perlu kita perhatikan dengan seksama. Sebab orang yang cukup baik sekalipun, kalau kerjanya nggreweli, hasilnya juga kurang baik. Konsentrasi menurun sehingga ketelitian juga kurang baik.

Persoalan yang lebih serius adalah, mengapa seseorang takut salah? Apakah orang-orang tersebut memiliki sifat yang perfeksionis atau ingin sempurna? Ataukah, ia justru merasa bersalah karena kekurang-mampuan yang ada dalam dirinya. Ini yang sebaiknya dikaji secara seksama.

Bagaimanapun, seorang karyawan yang takut pada atasan atau boss-nya, dia tidak akan bisa bekerja dengan baik. Akibat yang paling buruk sering kali adalah ia sendiri terpaksa mengundurkan diri dari posisi yang dijabatnya. Padahal, kalaupun ia melakukan kesalahan dan boss-nya marah, mestinya, ia masih mendapat kesempatan untuk belajar dan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya.

Proses timbulnya rasa takut ini bisa disebabkan karena beberapa kali dimarahi karena kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Susahnya, semakin sering dimarahi, justru semakin nggreweli. Akibatnya bisa diduga, yakni berbuat kesalahan  lagi. Hal ini lama-kelamaan akan menjadi lingkaran setan.

Lalu, bagaimana cara memperbaiki hubungan yang kurang baik ini? Di satu sisi pihak atasan merasa anak buahnya tersebut banyak salah, sementara sang anak buah merasa tidak berhasil dalam bekerja. Belum lagi kalau ia merasa selalu dicari-cari kesalahannnya sehingga merasa dikejar-kejar. Ini yang perlu dihindari.

Yang penting, kalau ini terjadi pada diri Anda sebagai manajer atau supervisor, maka sebaiknya Anda perlu mengevaluasi sikap terhadap bawahan. Apakah sikap Anda pada anak buah Anda tersebut memang sering memarahi akhir-akhir ini. Jadi intinya, perlu ditanyakan dulu, apakah kesalahan itu dibuat memang karena ia tidak bisa, atau karena kerja dengan perasaan tegang tersebut. Bagaimanapun, dari pihak Andalah sebagai atasan yang bisa memulai memperbaiki hubungan tersebut. Kalau dibiarkan terus menerus seperti itu, kerja dengan tegang tentunya tidak enak. Dan yang justru takut salah, akhirnya justru salah sungguhan.

0 Komentar:

Posting Komentar