10 Seni dalam Memulai Startup Bisnis

Sumber: 7bidder.com

Guy Kawasaki (lahir 30 Agustus 1954) adalah seorang marketing executive Silicon Valley. Dia adalah salah satu karyawan Apple yang bertanggung jawab untuk pemasaran Macintosh pada tahun 1984. Dia mempopulerkan kata evangelist dalam memasarkan Macintosh dan konsep evangelism pemasaran dan evangelism teknologi. Berikut ini adalah 10 Seni dalam Memulai Startup Bisnis (The Art of The Start) menurut Guy Kawasaki.

1. Buat makna
Kesalahan utama dari startup bisnis dalam memulai bisnis mereka adalah menjadikan uang sebagai tujuan utama, padahal inti dari entrepreneurship adalah membuat makna. Perusahaan yang secara fundamental didirikan untuk membuat makna, untuk mengubah dunia, menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik, adalah perusahaan yang membuat perbedaan. Mereka adalah perusahaan yang akan sukses. Cara untuk membuat makna adalah:
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Membetulkan sesuatu yang salah
  • Mencegah berakhirnya sesuatu yang baik
2. Buat mantra
Pernyataan misi atau mission statement adalah hal yang umumnya dibuat oleh semua perusahaan yang ada, namun sebagai startup Anda tidak dianjurkan untuk membuat pernyataan misi. Anda lebih baik membuat mantra yang lebih mudah diingat dan lebih beresonansi dengan hati Anda.
Contoh:
  • 7bidder – Menghubungkan bisnis dengan cara sederhana
  • Nike – Authentic athletic performance
  • Mary Kay – Enriching women’s lives
3. Mulai segera
Ironisnya, banyak entrepreneur yang telah memiliki ilmu untuk memulai startup, malah tidak dapat memulai dengan segera. Hal ini akibat dari keinginan untuk membuat segalanya sempurna, ingin menambah lagi fitur-fitur, ingin mendapatkan validasi (pengakuan) eksternal mengenai ide mereka. Lalu bagaimana cara untuk dapat memulai dengan segera:
  • Berfikir secara berbeda, tidak hanya sedikit berbeda atau memodifikasi ide startup sebelumnya.
  • Jangan takut akan polarisasi, startup yang baik selalu ada yang pro dan kontra, Anda tidak bisa membuat SEMUA orang menyukai produk Anda.
  • Carilah “soulmate” Anda dalam membangun startup, bahkan Steve Jobs juga membutuhkan Steve Wozniak.
4. Definisikan model bisnis
Yang dimaksud di sini adalah pengguna spesifik produk Anda, bukan hanya persentase market ataupun angka-angka estimasi saja. Model bisnis Anda juga sebaiknya sederhana, apabila model bisnis Anda terlalu unik, maka itu adalah hal yang menakutkan karena mungkin tidak ada pengguna yang akan tertarik. Kemudian tanyakan model bisnis Anda kepada wanita, karena laki-laki memiliki gen “pembunuh” yang membuat laki-laki ingin perusahaan yang “membunuh” Google, Apple, Microsoft, dll.

5. Milestones, Assumptions, Tasks (MAT)
Ketika Anda memulai perusahaan startup, maka Anda memulai segalanya dengan bersih. Tidak ada perlengkapan, kantor, karyawan, dll, sehingga banyak sekali hal-hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan pada periode ini. Anda mungkin lalu mengerjakan hal-hal yang tidak esensial, seperti membuat logo, membeli perlengkapan, dll, yang membuat prioritas Anda menjadi kacau. Sehingga rumus MAT ini dapat berguna:
  • Milestones (pencapaian) – selesaikan desain/produk Anda.
  • Assumptions (asumsi) – uji asumsi Anda, berapa banyak penjualan per klik misalnya.
  • Tasks (tugas) – adalah tugas yang digunakan untuk menguji asumsi atau menyelesaikan milestone.
6. Niche
Terdapat dua sumbu, yaitu kemampuan untuk menyediakan produk atau jasa yang unik, dan nilai untuk pengguna. Idealnya startup Anda sebaiknya tinggi untuk keduanya, unik sekaligus bernilai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

7. Ikuti aturan 10/20/30
Pitching adalah menawarkan startup bisnis Anda pada investor. Bagi Anda yang hendak melakukan presentasi pitching, aturan 10/20/30 mungkin berguna untuk Anda.
Yang pertama, gunakan maksimal 10 slide, ingat bahwa investor memiliki keterbatasan waktu sehingga tidak menyukai presentasi yang panjang. Tugas Anda adalah banyak menjelaskan, bukan banyak membaca slide. 10 slide tersebut adalah:
  1. Judul
  2. Masalah
  3. Solusi
  4. Model bisnis
  5. Underlying magic
  6. Marketing dan sales
  7. Kompetisi
  8. Tim
  9. Proyeksi
  10. Status dan timeline
Kedua, waktu maksimal adalah 20 menit, idealnya Anda dapat menyelesaikan presentasi dalam 15 menit, namun mungkin akan ada hambatan teknis, atau keterlambatan yang akan dapat diatasi dengan kelebihan waktu.
Ketiga, gunakan font minimal berukuran 30. Investor biasanya sudah senior, sehingga font yang berukuran kecil akan mengganggu mata mereka.

8. Pekerjakan orang yang “terinfeksi”
Orang yang menyukai produk Anda lebih penting daripada orang yang memiliki gelar akademik dan pengalaman kerja. Fokus pada orang-orang yang mencintai produk Anda. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai produk Anda dapat menjual produk Anda?
Kemudian pekerjakan orang lebih baik dari Anda, Anda mungkin adalah programer yang handal dan mengira bahwa Anda juga dapat menjadi marketer yang handal. Pekerjakan orang yang lebih baik dari Anda, A player hire A+ player. Gunakan intuisi Anda untuk mempekerjakan karyawan, karena dalam startup semua adalah keluarga.

9. Menurunkan penghalang untuk adopsi
Maksudnya, permudah learning curve dalam produk Anda. Produk anda seharusnya dapat digunakan dengan mudah, pengguna yang merasa sulit ketika menggunakan produk Anda mungkin tidak akan menggunakan produk Anda sama sekali. Ini mungkin tugas seorang evangelist untuk mempermudah learning curve produk Anda.

10. Lihat ke awan
Ini adalah teknik penjualan yang memiliki poin-poin sebagai berikut:
  • Biarkan ratusan bunga mekar – maksudnya biarkan pasar yang bereaksi. Kadang akan ada pengguna yang bukan target market Anda malah membeli produk Anda dalam jumlah besar. Fokuslah pada mereka, abaikan mereka yang tidak membeli produk Anda.
  • Ijinkan test drive.
  • Suck down – maksudnya dekatilah level bawah, bukan level atas karena orang yang menggunakan produk Anda mungkin bukan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.
Itulah 10 seni dalam memulai startup bisnis yang diutarakan oleh Guy Kawasaki, apabila Anda tertarik saat ini sudah ada buku yang terbaru The Art of The Start 2.0.


Lessons of Steve Jobs: Guy Kawasaki at TEDxUCSD


Sumber tulisn dari Facebook Tanadi Santoso:

Guy Kawasaki adalah penulis buku tentang Entrepreneurship "The Art Of The Start" yang sangat bagus sekali. Guy Kawasaki telah menulis 10 buku2 menarik yang kebanyakan telah saya baca dan sukai. Dia juga seorang pembicara hebat. Dulu dia bekerja di Apple, dan bukunya "The Macintosh Way" sangat menarik. Dalam Tedx-talk ini dia bercerita tentang bekas boss nya, Steve Jobs, dan 12 hal yang dapat kita semua pelajari bersama.



Benny Dharmawan membuat catatan dari video di atas:

1. Ahli adalah memahami.
Guru tidak dapat membantu Anda sebagai pengusaha. "Steve Jobs tidak mendengarkan ahli justru sebaliknya ahli mendengarkannya."

2. Pelanggan tidak dapat memberitahu Anda apa yang mereka butuhkan.
Steve Jobs sering mengatakan: "Banyak orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkan kepada mereka."

3. Melompat ke kurva berikutnya.
Jika Anda benar-benar ingin menjadi seorang pengusaha dan inovator, Anda harus melompat kurva. "Anda tidak dapat hanya melakukan hal-hal yang lebih baik 10%, Anda harus melakukan 10 kali lebih baik." Pikirkan bagaimana ipod menggantikan Walkman, atau bagaimana iPhone menganti Blackberry. Inovasi besar dapat terjadi ketika pengusaha mencoba untuk melompat kurva.

4. Tantangan yang besar akan akan melahirkan karya terbaik.
Pikirkanlah tentang keluhan-keluhan klien Anda maka anda tidak dapat menyangkal fakta bahwa memecahkan masalah mereka membuat Anda menjadi lebih baik.
Tantanglah tim Anda, dan jangan lari dari tantangan. Anda nantinya mungkin akan terkejut dengan kemampuan tim anda.

5. Perhitungkan Desainnya.
Dalam dunia di mana semua orang berbicara tentang harga, desain kurang diperhitungkan. Apakah anda mau punya laptop sebesar koper?

6.Gunakan grafis besar dan huruf yang besar.
Ini adalah kunci untuk memperkuat pesan Anda dan menjelaskan secara sederhana seperti menggunakan PowerPoint.
Ingat prinsip KISS:. Keep It Short and Simple.

7. Mengubah pikiran Anda adalah tanda kecerdasan.
Jadilah fleksibel bila diperlukan.

8. "Nilai" berbeda dengan "harga".
Ongkos produksinya mungkin rendah, tapi apa nilainya? Bagaimana faktor-faktor kemudahan bagi pengguna, apakah bisa meningkatkan produktivitas bagi pengguna? Berapa besar dapat mumbuat efisiensi untuk pelanggan?
Perusahaan seperti Apple, McKinsey, dan Mercedes dibangun agar walaupun pelanggan harus membayar harga tinggi tapi mereka akan mendapatkan barang dengan kualitas tinggi.
Jadi tanyakan pada diri Anda: Apa persepsi pelanggan tentang nilai produk atau jasa perusahaan saya?

9. Pemain A menyewa pemain A+.
Biasanya, ketika sebuah perusahaan masih kecil hanya mempekerjakan pemain A. Tetapi ketika perusahaan tumbuh beberapa pemimpin manjadi takut karyawan barunya akan lebih baik dari dia. Mereka bahkan mungkin takut akan mengambil alih pekerjaan mereka.
Carilah karyawan yang terbaik. Jika memungkinkan, mempekerjakan orang-orang yang lebih baik dari Anda.

10. Demo nyata dari CEOs.
Steve Jobs terkenal sering memimpin demo sendiri. Anda juga harus.

11. Betul-betul pengusaha.
Bila Anda telah melompat kurva, mungkin produk atau jasa Anda tidak segera menjadi besar. Tentunya ini akan mengganggu pikiran anda, “kok bisnis saya malah turun?”
Jangan biarkan hal itu menghambat Anda. Karena jika Anda tidak melakukannya mungkin Anda akan menunggu selamanya untuk masuk ke pasar dan jendela kesempatan akan hilang.

12. Pemasaran = Nilai Unik.
Produk atau jasa Anda hurus memiliki “nilai yang tinggi” dan “keunikan yang tinggi”.

Startup Lessons from Guy Kawasaki



Sumber Tyovan Ari Widagdo


11 kesalahan yang biasa dilakukan oleh startup menurut Guy Kawasaki adalah:


1. Multiplying big numbers by 1 percent

Banyak startup pemula membuat kesalahan dengan mengukur market dengan asumsi dirinya sendiri. ” Bayangkan jika kita menguasai market 1% saja dari seluruh pengguna internet, produk kita akan berhasil, kita yakin bisa menguasai 1% itu ! “, pasti diantara kita ada yang pernah mengatakan kata-kata yang mirip dengan kalimat tadi, padahal untuk menguasai market yang 1% itu tidak semudah apa yang kalian omongkan ! untuk menguasai yang 1% itu butuh kerja keras dan tentunya modal yang tak sedikit.

Investor tentunya juga tidak mau mempercayakan dana investasinya kepada startup yang ketika melakukan pitching mengungkapkan jika dia hanya ingin menguasai 1% saja. Tak akan ada investor yang mau memberikan dana kepada anda.

2. Scaling to soon

Ini yang paling sering dilakukan oleh startup, melebarkan bisnis tanpa membuat milestone yang jelas. Ketika usaha kita mulai berkembang, kita cenderung bernafsu untuk berekspansi secepat mungkin tanpa fondasi bisnis yang kuat. Hal ini akan menjadi bumerang kita dikemudian hari jika apa yang kita bangun tidak kokoh fondasinya. Ibarat gedung kalau fondasinya rapuh dan kita paksa bangun 20 lantai maka akan ambruk segera mungkin.

Buatlah fondasi bisnis yang kokoh dulu baru pikirkan untuk ekspansi !

3. Partnering

Partnering itu sebetulnya adalah omong kosong, Satu hal yang harus diingat oleh para pelaku startup, yaitu sales ! yap, startup harusnya focus pada sales, monetisasi dan memikirkan caranya agar mendapatkan uang dari user secepat mungkin yang menggunakan layanan kita.

4. Pitching instead of prototyping

Ketika melakukan pitching, disarankan untuk menunjukan demo atau prototype dari produk yang akan kita bikin, kerena dengan menunjukan hal tersebut maka investor akan yakin bahwa kita sesungguhnya mampu membuat produk itu. So, the key is not the ” PITCH “, but the key is the ” PROTOTYPE “.

5. Using too many slides and to small of font

Banyak diantara startup yang sering melakukan kesalahan dalam hal pitching, Mr. Guy menuturkan bahwa jumlah ideal untuk slide PowerPoint adalah 10 slides dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pitching adalah 20 menit. Ukuran font juga jangan terlalu kecil, idealnya adalah 30 point atau lebih. Aturan ini dikenal dengan istilah 10/20/30.

6. Doing things serially

Kesalahan terbesar yang biasa dilakukan oleh startup adalah melakukan semua hal dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya kita harus bisa mengatur sejumlah tugas untuk dikerjakan secara bertahap, tidak sekaligus semuanya. Semua rencana yang akan kita lakukan harus di breakdown secara detil menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian kita selesaikan satu persatu secara berkelanjutan. Bicara mengenai startup kita bicara mengenai management bung !

7. Believing 51% = Control

Banyak founder startup berpikir seperti ini, mentang-mentang memiliki 51% saham, maka otomatis control perusahaan ada di tangan si founder, ups, that’s wrong guys !

Namanya ngambil duit dari luar atau investor itu sebenarnya anda sudah kehilangan control atas startup anda. Lho kok bisa ? ya tentu saja, karena anda sudah melibatkan orang lain untuk ikut bagian dari masa depan startup anda. Ingat, control perusahaan itu tidak seperti anggota DPR yang harus vote beberapa orang untuk mengambil keputusan, tetapi isu terbesarnya adalah bagaimana anda bisa menjaga hubungan emosional, masalah keuangan dan bertanggung jawab terhadap si investor.

So kalau kalian tidak mau beban dengan masalah tadi, mending jangan mengambil uang dari investor, gunakan modal sendiri. 51% is an illusion of control !

8. Believing patents = defensibility

Paten adalah salah satu isu kadang dipikirkan sang founder, berkutat di panten sesungguhnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Untuk startup sesungguhnya paten tidak akan berarti untuk anda, kecuali memang ada penemuan teknologi spesifik yang memang belum ada.

Ingat, pemain-pemain besar bisa saja mempermainkan paten anda, mereka mempunyai modal besar untuk bersaing dengan paten anda. Investor sesungguhnya tahu benar akan hal ini.

9. Hiring in your own image

Sebagai startup, anda harus belajar untuk memperkerjakan dan berkerjasama dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak anda miliki. Jika anda adalah seorang programmer, maka seharusnya anda berkerjasama dengan orang yang ahli dalam bidang management, sales dan business, begitu pula sebaliknya. Jangan mengerjakan semua hal sendiri, you are not superman guys !

Tim di dalam startup butuh keseimbangan dalam menjalankan operational. Diversity is really important. Skills & culture. Complement each others

10. Befriending your VC’s

Bro, investor actually is not your friend. They are in the business of making money, mereka bertemu dengan anda, tertarik dengan anda dan mau bekersama dengan anda karena alasan UANG, mereka berharap mendapat keuntungan dari menjalin hubungan dengan anda, itu faktanya.

The key to managing any VC or investor is just by MEETING YOUR PROJECTIONS.

Masa-masa bulan madu antara founder dan VC itu hanya ada di awal.

Don’t be friend with them.
They are not friend or loyal to you.
Be friendly is okay.

11. Thingking VC’s can add value

Jangan terlalu berharap kepada VC yang mengatakan bahwa dia bisa menambah suatu value bagi startup anda, yang bisa memberikan value terhadap startup anda ya anda sendiri, bukan orang lain.

Ingat, VC adalah orang yang super sibuk, jangan mengira mereka akan mau membantu bisnis anda. You have to make your business !


Note :
Artikel ini diambil dari tulisan Tyovan Ari Widagdo yang diterbitkan oleh startupbisnis.com.
sumber : http://startupbisnis.com/startup-lessons-from-guykawasaki/

Lima tanda kelompok mulai berantakan


 Anda punya kelompok kerja atau bisnis, namun merasa keadaannya hanya itu-itu saja. Waspadalah, jangan-jangan kelompok Anda sudah tidak berfungsi dengan baik dan mulai berantakan. Bagaimana menyikapi hal ini dan apa saja tandanya? Ada lima tanda kelompok sudah tidak berfungsi dengan baik. Hal ini dikemukakan oleh Patrick Lencioni dalam bukunya “The Five Dysfunctions of a Team”.

Tanda pertama dari tim yang tidak berfungsi adalah the absence of trust. Ketiadaan kepercayaan. Kehilangan rasa saling percaya dalam kelompok adalah gejala mendasar dalam tim yang mulai tak berfungsi dengan baik. Hal ini sangat berbahaya karena menyumbangkan lenyapnya ikatan dalam tim. Bagaimana mungkin tim yang setiap komponennya memegang peranan dalam pencapaian tujuan ternyata tidak percaya satu sama lain. Pasti akan berantakan.

Rasa percaya berarti anggota tim tahu rekan satu tim mereka takkan memanfaatkan kerapuhan mereka. Tiap orang pasti punya kelemahan atau kerapuhan. Kerapuhan itu termasuk:
1.      Ketidakmampuan dalam pekerjaan
2.      Kelemahan dalam pergaulan
3.      Kesalahan
4.      Permintaan bantuan

Dengan rasa percaya, anggota tim benar-benar bisa memfokuskan semua energi dan perhatian mereka pada pekerjaan yang sedang dilakukan.

Nah ketika orang lain menggunakan kelemahan pihak lainya untuk menjatuhkannya, itu indikator mulai adanya perpecahan. Kalau dalam tim sudah mulai suka ngerasani yang lain, menjelekkan, curiga, tidak saling percaya, maka itu tanda awal kelompok mulai tidak berfungsi/pecah. Walau tujuan dari tim sudah ditetapkan dari awal, hal ini bisa saja terjadi. Mengelola manusia tdk mudah.

Tanda-tanda tim yang tidak ada rasa percaya:
1.      Mereka tak suka menghadiri rapat
2.      Jarang meminta bantuan atau menawarkan bantuan kepada orang lain,
3.      Saling menyembunyikan kelemahan dan kesalahan mereka dan jarang menawarkan saran di luar area tanggung jawab mereka,
4.      Mereka saling menduga yang terburuk,
5.      Menyimpan dendam,
6.      Gagal mengenali dan memanfaatkan keterampilan dan pengalaman satu sama lain, dan
7.      Mencari alasan untuk tidak menghabiskan waktu bersama.

Dibutuhkan peran pemimpin yang bisa masuk ke semua kalangan, tidak bersikap memihak dan mau terbuka dengan kerapuhannya sendiri. Namun pemimpin jangan sampai memanipulasi tindakan dan emosi orang lain, sebab hal itu akan cepat membuatnya kehilangan rasa percaya dari kelompoknya.

Yang kedua adalah fear of conflict... Takut konflik... Kecenderungannya adalah tidak mau konflik karena mggak mau ada yg sakit hati. Akan tetapi...ternyata menggunakan serangan dari belakang yg lebih menyakitkan...

Apa indikatornya?
1.      Membuang banyak waktu dan energi untuk menjaga dan mengelola relasi interpersonal.
2.      Rapat berlangsung membosankan karena menghindari isu-isu kontroversial yang penting bagi kesuksesan mereka,
3.      Tapi di luar rapat, politik “pintu belakang” dan serangan pribadi tumbuh subur
4.      Gagal memanfaatkan perspektif semua anggota tim.

Di sini seorang pemimpin harus bisa mengelola konflik dengan baik. Jangan mengabaikan jika ada konflik atau senang jika melihat seakan tak ada konflik. Kalau itu yang dilakukan, hal itu akan membiarkan kekacauan bertahan dan bahkan berkembang. Ibarat membiarkan adanya bara api dalam sekam.

Tanda yang ketiga adalah tidak adanya komitmen. Tanda tim yang tidak ada komitmen adalah tidak memiliki arah, tujuan dan prioritas yang jelas. Untuk mengatasi hal ini, pemimpin harus bisa memastikan kelompoknya memiliki arah, prioritas dan tujuan yang jelas untuk setiap orang.

Yang keempat adalah anggota kelompok mulai melakukan penghindaran tanggung jawab. Sering kali anggota tim yang hubungannya cukup dekat dengan anggota tertentu menjadi ragu-ragu untuk meminta pertanggungjawaban karena tidak mau merusak hubungan pertemanan mereka. Padahal, ketika seseorang tidak memenuhi harapan, hal itu justru akan merusak hubungan pertemanan. Hal lain, kondisi ini memicu para anggota kelompok bersikap bahwa pemimpin menjadi satu-satunya “sumber disiplin”. Ini akan membuat anggota kelompok yang lain akan tetap diam dan cuek meskipun jelas-jelas tahu ada sesuatu yang salah. Padahal seperti diketahui, tekanan dari rekan membuat orang lebih bertanggung jawab.

Adalah baik jika sebuah kelompok bisa terbuka untuk meminta anggotanya untuk bertanggung jawab atas peran dan tugasnya.  Untuk itu perlu adanya:
1.      Punya standar yang sama untuk semua orang
2.      Setiap anggota tim selalu saling mengingatkan anggota lain untuk lebih bertanggung jawab
3.      Mereka mempertanyakan masalah secara terbuka. 

Pemimpin perlu mendorong dan mengizinkan anggota untuk saling memantau pelaksanaan tanggung jawab mereka dan saling meminta pertanggungjawaban. Bersikap jelas tentang apa yang perlu dicapai oleh tim, siapa yang harus mengerjakan apa dan bagaimana semua orang harus bersikap.  Dengan demikian perlu ada pembagian tugas yang jelas. Membuat semua keputusan jelas dan kasat mata supaya tidak ada yang lupa
Tanda yang terakhir, yang kelima adalah, ketidakpedulian pada hasil. Kondisi ini biasanya ditunjukkan dengan anggota tim lebih peduli pada prestasi pribadi daripada tujuan kelompoknya. Anggota tim hanya egois dan hanya mementingkan keberhasilan pribadi atau kelompoknya. Tidak peduli pada apa yang terjadi pada orang lain. Untuk dia, yang penting adalah keberhasilannya.

Oleh karenanya, pemimpin harus bisa mengambil peran penting yakni mengarahkan anggotanya agar berfokus pada hasil bersama. Jika timnya merasakan pemimpinnya lebih menghargai tujuan pribadi, mereka akan terdorong untuk melakukan hal serupa. Pemimpin tim juga tidak boleh egois dan berikan pengakuan pada mereka yang benar-benar mengupayakan pencapaian tujuan kelompok.







Tahap Perkembangan Kelompok


Anda berpartner bisnis namun tak lama setelah dibentuk sudah mulai ribut dan bertengkar bahkan mungkin mau bubar? Ada sebuah teori perkembangan sebuah kelompok yg dikemukakan oleh seorang ahli yang bernama Bruce Tuckman. Sebuah tim akan melalui 4 tahap, yaitu: forming (pembentukan), lalu storming (badai), kemudian norming (membuat norma/aturan bersama), dan kemudian bisa performing (berkarya optimal)

Mirip dengan dengan orang pacaran...Ada tahap jadian... Trus mulai ribut... Nah, di sini tahap yg paling bahaya sebab banyak konflik. Bisa putus atau bubar...

Kalau pemimpinnya tidak bisa mengatur dgn baik, maka badai ini tidak berakhir dengan baik. Mungkin kelihatannya saja kelompok itu "rukun" tapi di dalamnya saling curiga, saling menusuk.

Namuin, kalau dapat dikelola dengan baik, maka akan terwujud norming, terbentuknya kesepakatan bersama, sebuah normalisasi dan ada aturan main yang disepakati bersama.


Banyak usaha yang partneran, pecah di tahap storming ini. Kalau Anda pengalaman berada di sebuah kelompok, pasti akan merasakan hal ini, terutama saat terjadinya badai. Sebuah kelompok yang sudah dibentuk, sdah melalui fase forming... seperti dikemukakan teori ini, pasti nanti akan memasuki fase badai (ribut).

Nah, dengan memahami teori ini, kita mestinya bisa menyikapinya lebih baik, tidak ikut emosioal. Bagi yang tidak tahu teori ini, mungkin ketika menghadapi fase badai ini akan terasa menjengkelkan... Kok ribut melulu, tidak menyenangkan... hingga mungkin timbul keinginan untuk keluar saja dari lelompok itu. Lebih buruk lagi jika masuk dalam pusaran konflik. Namun semua itu pasti akan terjadi dan membutuhkan proses untuk bisa melalui fase badai ini.

Di sinilah kepemimpinan dari ketua kelompok tersebut diuji. Di kelompok mana saja pasti terjadi. Bedanya, ada pemimpin yang bisa mengatasi konflik, ada yang tidak mampu sehingga fase badai ini berkepanjangan dan timnya tidak efektif...Kalau Anda ikut kelompok, apalagi yg baru dibentuk, pasti mengalami fase badai ini....

Dengan mengetahui teori ini, kita saat mengelola kelompok, tahu tahap-tahapnya. Ada saat kelompok itu ribut, iri-irian pekerjaan, pembagian tugas dan berebut haknya... Trus jadi muncul geng gengan. Itu biasanya karena pemimpinnya tidak sadar akan fase-fase ini dan terhisap pada pusaran konfliknya, bukan menyelesaikannya.

Kalau kelompok tersebut sudah bisa melalui tahap badai, maka akan masuk ke tahap norming, yaitu tahap Normalisasi (Norming). Pada tahap akan terbentuk hubungan yang dekat antar anggota kelompok dan menetapkan aturan-aturan serta menemukan cara berkomunikasi yang efektif supaya dapat saling bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan. Tanda-tanda Kelompok berada di tahap norming adalah adanya peninjauan ulang dan penjelasan mengenai tujuan kelompok, timbulnya persahabatan dan kerjasama antar anggota kelompok, mulai dapat mendengar pendapat anggota lain serta dapat memahami dan mensinergikan kekuatan dan kelemahan.

Persoalannya, kadang sulit melangkah ke tahap norming ini karena adanya kecenderungan sukanya ngerasani, tidak berani bicara di depan, namun di belakang mengosipkannya. Yang suka ngomong bicara langsung justru dimusuhi, dirasani. Kalau ada anggota kelompok yang tampak menonjol, yang lain tidak mau bicara namun kasak kusuk di belakang. Kalau karakter pemimpinnya sendiri mudah dihasut, tipe Asal Bapak/Ibu Senang (ABS), memang akan memperburuk keadaan.

Dari storming ke norming, peran pemimpin sangat penting. Pemimpin harus membuat hubungan yang dekat antar anggota kelompok dan menetapkan aturan-aturan serta menemukan cara komunikasi yang tepat supaya dapat membantu anggota tim mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi di tahap storming ini ada dua kemungkinan arahnya, yakni masuk ke tahap norming atau masuk ke tahap seperti tadi disebut timnya datar2 saja atau bahkan memburuk hingga pecah...

Di sinilah dibutuhkan pemimpin yang memiliki sikap terbuka dan bisa membina kelompoknya dengan baik. Jika tahap norming ini bisa dicapai maka akan mudah untuk masuk ke tahap berikutnya yaitu performing, yakni menghasilkan kinerja atau prestasi yang maksimal.

Tips agar lebih percaya diri


Bagaimana menjadi percaya diri? Menurut saya ada tiga cara yang perlu dan bisa dilakukan.

Pertama, latihan, latihan dan latihan. Ingat, latihan itu penting. Kalau Anda tidak percaya diri berjualan, maka berlatihlah berjualan. Latihan itu bisa sambil pura-pura, misalnya di depan cermin belajar cara bicaranya. Bisa juga latihan dengan teman (pura-pura latihan jualan). Kemudian latihan. Jadi, mesti latihan. Semakin banyak latihan akan semakin bisa. Semakin bisa maka semakin percaya diri. Cara lain sebelum praktek, bisa juga dengan membayangkan dalam benak kita. Membayangkan diri kita berjualan, menerangkan produk ke orang lain dan berkomunikasi dengan orang itu. Dengan membayangkan (visualisasi) akan memudahkan kita untuk melakukannya nanti.

Yang kedua, biasakan berpikir dan berkata positif dalam hati. Misalnya, "saya pasti bisa" "Menjual pasti bisa saya lakukan." "Saya adalah orang yang hebat" "Saya orang yang bahagia" "Saya orang yang sukses". Biasakan berkata pada diri sendiri yang hebat-hebat. Sebab kalau Anda berkata dalam hati yang negatif, seperti: "Saya mana bisa?" "Kalau nanti ditolak, bagaimana malunya?" "Sepertinya pasti gagal deh". Kata-kata negatif seperti ini akan menyurutkan langkah kita.

Otak kita ini ada dua bagian utama, ada otak kiri dan otak kanan. Otak kanan itu otak yang kreatif, imajinatif dan penuh ide. Sementara otak kiri lebih logis dan sangat mengatur hidup kita. Kalau Anda punya ide kreatif, itu prosesnya di otak kanan. Tapi otak kiri ini sering bilang, "ah ide seperti apa hebatnya?" "Apakah saya mampu melakukannya?" Nah, biasakan otak kanan Anda yang berbicara. Ide kalau dibiarkan berlama-lama tidak dijalankan, maka otak kiri yang menguasai sehingga ide itu tidak dijalankan.

Nah yang ketiga, hargai dan ingatlah keberhasilan-keberhasilan yang Anda telah capai. Jangan mengingat kegagalan-kegagalan atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Rayakan kemenangan. Kalau semisal, Anda berhasil melakukan penjualan yang pertama, rayakanlah itu. Tidak harus pesta besar-besaran, tapi bisa dengan memuji diri Anda sendiri. Rayakan sendiri kalau perlu dengan cara yang Anda sukai. Nikmati saat-saat itu sebagai sebuah kemenangan.

Dari tiga hal yang bisa Anda lakukan itu... dan saya yakin bisa dilakukan, pasti akan membawa perubahan. Lakukan latihan terus menerus, kata-kata positif dalam hati, dan rayakan kemenangan, maka kepercayaan diri Anda akan terpupuk makin besar. Jangan pernah ragu, mulai dari langkah kecil. Seperti kata pepatah, perjalanan seribu kilometer dimulai dari langkah pertama. Anda untuk bisa sukses berjualan, mesti memulai berjualan yang pertama.  There is always a first time for everything. Selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya.

Jadi, jangan hanya duduk menunggu, bersikaplah proaktif. Kalau Anda ingin bisa lebih trampil dalam berkomunikasi, maka banyaklah berbicara dengan orang yang tidak dikenal, misalnya saat di dalam bus, di taman dan lain sebagainya. Mungkin Anda diacuhkan, mungkin Anda ditolak, tapi jangan membuat hati Anda surut. Latihlah, tempalah diri Anda makin hebat. Percayalah, Anda pasti bisa.

3 Ketrampilan yang harus dimiliki Entrepreneur

Dalam berbisnis itu, terutama yang bukan sekedar jualan, ada 3 ketrampilan yang perlu dimiliki seorang entrepreneur. Pertama adalah membuat produk atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kita bisa saja pintar membuat produk atau jasa, tapi kalau tidak dibutuhkan masyarakat juga percuma. Umumnya. banyak orang memulai usaha karena produk atau jasa yang dibuatnya itu awalnya digunakan oleh dirinya sendiri. Misalnya: menjahit baju untuk keperluannya sendiri, memasak untuk keluarganya, dll.

Itu ketrampilan pertama yang perlu dimiliki. Kalau bisnis Anda adalah toko atau jualan, maka ketrampilan yang ini bisa diabaikan.

Ketrampilan kedua adalah ketrampilan menjual. Percuma bisa buat produk atau jasa namun tidak bisa jualan. Ketrampilan menjual ini penting sebab di luaran pasti juga ada pihak lain yang menawarkan produk atau jasa serupa. Jadi Anda harus bisa menjual. Artinya membuat orang membeli produk atau jasa Anda. Anda tidak bisa hanya berdiam diri saja menanti orang datang membeli produk atau jasa Anda. Anda harus bisa jualan. Kalau produk atau jasa Anda benar-benar dibutuhkan, memang bisa saja ada yang datang sendiri untuk membelinya. Tapi, menjual itu harus dilakukan. Itu butuh ketrampilan tersendiri.

Banyak kegagalan bisnis karena yang punya usaha tidak bisa jualan, tidak mau jualan, gengsi, malu, takut ditolak, nggak punya nyali untuk jualan. Jadi, bisa bikin tapi tidak bisa jualan, juga akan membawa kegagalan.

Yang ketiga, ini yang juga sangat-sangat penting sebab kalau ketrampilan yang ketiga ini diabaikan, juga bisa membuat bisnis kita berantakan. Apakah itu? Yang tak kalah pentingnya adalah ketrampilan mengumpulkan uang.

Kalau Anda sudah bisa jualan, Anda akan mendapatkan uang. Tapi... tidak semua orang memiliki ketrampilan mengumpulkan uang. Ibarat nasihat orang jaman dulu, kumpulkan sen demi sen...

Pepatah mengatakan dikit dikit lama-lama jadi bukit

Ketrampilan mengumpulkan ini tidak semua orang bisa. Ada yang boros, ada yang kurang sabar sehingga terlalu cepat mengembangkan bisnisnya padahal belum saatnya. Anda mesti bisa mengumpulkan uang (collecting money) dengan baik.

Kalau Anda punya ketiga ketrampilan ini, bisa membuat produk atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, mampu menjualnya dengan baik serta bisa mengumpulkan pendapatan dengan maksimal. pasti bisnis Anda akan lebih berumur panjang dan bisa berkembang.
Banyak usaha yang jalan di tempat, tidak bisa berkembang, adalah karena pemiliknya tidak bisa mengumpulkan uang dengan baik.

Kelas Online: Mengelola Usaha Warung Makan

Anda ingin membuka usaha warung makan? Ada sebuah buku yang menurut saya bagus dan praktis bagi yang ingin membuat warung makan. Buku ini berjudul "Sukses Mengelola Usaha Warung Makan" ditulis oeh Wulan Ayodya.

Warung makan merupakan usaha skala kecil yang menjual makanan. Kebanyakan warung makan merupakan tempat makan yang sederhana dan dikunjungi oleh kalangan menengah ke bawah. Tetapi banyak pula kalangan kelas menengah ke atas yang makan di sini. Ciri khas warung makan adalah adanya tempat makan dengan ruang dan perabot yang sederhana. Meskipun demikian, banyak warung makan yang menyajikan makanan dengan rasa yang sangat enak dan biasanya dijual dengan harga yang murah.

Saya mencoba membacakan garis besar isi buku ini, bisa dilihat dalam rangkaian seri 8 (delapan) video yang saya buat di bawah ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan beli bukunya langsung.

Bagian 1: Jenis-jenis warung makan




Bagian 2: Tujuh langkah memulai usaha warung makan.




Bagian 3: Survei Pasar & Lokasi, Modal dan Pemasaran




Bagian 4: Tenaga kerja untuk warung makan




Bagian 5: Modal warung makan




Bagian 6: Tips memilih lokasi dan penentuan harga jual




Bagian 7: Pengelolaan Usaha dan Pelayanan Pelanggan




Bagian 8 (terakhir): Mengatasi keluhan pelanggan



Buku ini sangat cocok bagi mereka yang sedang berada pada tahap awal untuk membuka usaha ini. Selain itu, buku ini juga bisa digunakan sebagai panduan bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia ini, tapi ingin mencari informasi tambahan mengenai bisnis mereka untuk mengembangkan usaha.

Semoga bermanfaat.