Melintas batas waktu

by Nur Agustinus (Notes) on Monday, May 31, 2010
Film seri Time Tunnel (1966)


Saya sangat suka dengan perbincangan soal mesin waktu. Tapi tentu saja tidak dengan rumus-rumus fisika namun lebih pada pemikiran filosofi maupun logikanya. Time travel yang sering dibicarakan mengandaikan sebuah kemampuan untuk mengubah masa lalu. Kalau time travel ke masa depan, apakah sejarah masa depan juga akan berubah?

Dari beberapa hari melihat film Shrek, Prince of Persia, plus salah satu episode serial The Outer Limits (A Stitch In Time) di SciFi Channel, mesin waktu yang mengubah sejarah bagi saya masih sangat absurd. Dapatkah kita mengubah masa kini kita dengan kembali ke masa lalu dan melakukan sesuatu yang berbeda? Jika kita melakukan itu, bagaimana efeknya terhadap orang lain? Jika seandainya ada mesin waktu dan saya punya alat itu, dan orang lain juga punya, maka akan berapa banyak perubahan masa lalu dan masa depan. Ini tentunya bisa sangat mengacaukan. Hidup menjadi tidak ada artinya dan hanya sebuah permainan saja. Ini tidak bisa saya terima menurut hati kecil saya.

Setelah menonton bioskop kemarin, saya berdiskusi dengan teman saya yang bersama saya nonton itu. Menyadari kompleksitas itu, jika ada pelancong waktu, nampaknya orang itu bisa melihat apa yang terjadi, tapi tidak bisa berinteraksi. Ibaratnya, dia akan menjadi semacam "hantu" yang bisa melihat kejadian tapi tidak bisa dilihat kehadirannya oleh orang itu. Sebab jika ada orang yang melihat kehadirannya, atau keberadaannya ada secara fisik di dunia waktu itu, maka secara langsung akan berakibat pada perubahan dan mengacaukan universe ini. Bahkan walau tidak bertemupun (tanpa kontak), pendatang dari waktu berbeda bisa membawa virus atau penyakit yang tidak ada di masa itu tapi ada di masanya dia.

Jadi, kesimpulannya, mesin waktu hanya bisa dibuat dan itu menjadi semacam vision bagi si pelancong. Semacam televisi atau kalau penyihir jaman dulu melihatnya di air dalam baskom. Pelacong bisa berada di sana, namun kebaradaannya saya ibaratkan seperti hantu. Dia bahkan bisa menembus tembok karena bukan materi, namun hanya energi.

Saya pikir, apa yang dilakukan di Montauk Project, itu juga sama. Perjalanan waktu tidak secara fisik kembali ke masa lalu atau ke masa depan. Demikian juga kapal di Philadelpia experiment, dia hanya "muncul" di masa atau tahun berbeda, namun keberadaannya tidak diketahui (tidak terlihat) oleh orang di jaman yang berbeda itu. Melihat masa lalu, masa depan, barangkali akan seperti seorang cenayang... sebuah vision. Dengan kata lain, bisa saja "time machine" ini bukan seperangkat teknologi dengan transistor atau reaktor fusi nuklir, tapi sekumpulan orang-orang dengan kemampuan psychic, sehingga jelas sekali kaitannya dengan mind control. Saya jadi ingat sebuah film tentang hal ini, kalau tidak salah judulnya Minority Report, di mana ada 3 manusia yang direndam dan bisa memprediksi masa depan karena mereka melihatnya. Itu adalah mesin waktu yang sebenarnya, menurut aku. Kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, tapi bisa mengubah masa depan...

Salam,
nur agustinus

nb. Jika ingin tahu tentang Montauk Project: http://en.wikipedia.org/wiki/Montauk_Project