Antara Hobby dan Passion


Banyak nasihat yang mengatakan bahwa bekerjalah sesuai passion yang kita miliki. Steve Jobs juga mengatakan, “satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya hebat adalah dengan mencintai apa yang Anda kerjakan.”  Anda harus menemukan apa yang Anda cintai. Konghucu juga mengemukakan, “Pilihlah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah merasa harus bekerja seumur hidupmu.” Nampaknya, passion telah menjadi sebuah kunci utama dalam bekerja. Tapi, ada juga yang berpendapat sinis terhadap passion. Untuk apa harus mengikuti passion? Yang penting adalah kerja dan segera action. Namun Mike Rowe mengatakan: “Jangan hanya Follow Your Passion, tapi hiduplah di dalamnya.

Memang, tidak semua orang berhasil menemukan passion yang dimilikinya. Apakah passion itu sebenarnya?  Banyak orang mengartikan passion ini secara berbeda-beda. Ada yang menyebutkan bahwa passion adalah hobby yang menghasilkan. Passion adalah kombinasi antara kenikmatan, makna dan perasaan. Yang lain mengatakan passion adalah aktivitas yang paling kita cintai. Sementara ada juga yang menjelaskan passion adalah di mana kita akan mengorbankan segala hal untuk mencapai itu.

Menurut pandangan saya, passion adalah sesuatu yang membuat kita bergairah untuk melakukannya, memikirkan terus menerus dan mempunyai sebuah kekuatan emosional yang luar biasa. Dengan banyaknya pengertian tentang passion ini, orang sering mencampuradukkan antara passion dengan hobby. Ya, memang hobby adalah sebuah aktivitas yang kita sukai. Tapi seringkali kita terperangkap bila memaknai passion itu sama dengan hobby. Penting untuk disadari bahwa passion tidak sama dengan hobby. Lalu apa bedanya?

Hobby adalah kegiatan yang kita sukai dan dilakukan diwaktu senggang kita. Misalnya, saya punya hobby membaca, maka kegiatan membaca itu saya lakukan ketika saya memiliki waktu luang. Contoh lain, ada yang punya hobby berenang, mendagi gunung, menonton film, atau bermain musik. Nah apa bedanya dengan passion? Passion tidak dilakukan di waktu luang. Passion dilakukan terus menerus, tanpa henti mengusik pikiran kita akan hal tersebut. Jika Anda punya passion terhadap sesuatu, maka Anda akan memikirkannya siang dan malam. Anda akan melakukannya tanpa kenal lelah. Contoh yang sederhana, kalau Anda gandrung (cinta) dengan kekasih Anda, maka Anda juga akan memikirkannya terus dan tak mungkin merasa lelah ketika diminta untuk mendampinginya. Inilah bedanya dengan hobby. Hobby dilakukan di waktu senggang, sementara passion itu totalitas.
 
Persoalan yang sering dihadapi, jika passion itu membuat kita selalu memikirkannya, sementara dalam kehidupan sehari-hari kita tersibukkan oleh pekerjaan kita, maka lama kelamaan kita tidak ingat lagi apa yang menjadi passion kita. Kita akan bekerja sesuai tuntutan pekerjaan dan jika ada waktu luang, entar saat weekend, kita baru melakukan apa yang menjadi hobby kita, bukan passion kita.

Barangkali karena itu, ada orang yang kemudian merasa bahwa ajakan untuk mengikuti passion itu adalah sesuatu yang percuma. Memang, tidak mudah menemukan passion kita. Tidak mudah kita mencari apa yang membuat kita sangat jatuh cinta terhadap sesuatu. Yang terjadi adalah banyak yang kemudian mengira hobbynya adalah passionnya. Ketika itu kemudian menjadi pilihannya untuk bekerja atau berwirausaha, maka akan banyak masalah yang dihadapi. Ingat, hobby hanya sekedar dilakukan di waktu senggang. Belum tentu itu menarik jika dilakukan terus menerus. Hobby itu bersifat menyenangkan, passion belum tentu selalu menyenangkan karena passion membuat kita harus berjuang keras untuk melakukannya. Tapi, dengan passion, kita melakukannya tanpa merasa terpaksa. Ingat, dalam bahasa Inggris kuno, kata passion itu berarti penderitaan (suffering).

Nah, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau kita menyadari perbedaan antara hobby, minat dan passion, maka saran yang harus diingat adalah: ketika kita mencari passion kita, itu bukanlah menemukan apa yang kita sukai, namun melainkan di hal apa Anda siap menderita untuk terus melakukannya. Di sinilah akan muncul determinasi dengan sendirinya. Hobby tidak akan memunculkan determinasi.  Anda akan menemukan passion Anda, ketika Anda ingin melakukan hal itu dan terus menerus Anda tetap usahakan untuk lakukan. Tak peduli apa rintangannya, Anda akan tetap berusaha dan selalu berusaha mengerjakannya. Kalau Anda sudah menyerah, barangkali itu bisa menjadi tanda bahwa itu bukan passion Anda yang sebenarnya. (nur agustinus)


Zona nyaman yang menghambat

Ketika kita memutuskan untuk membuka usaha dan membicarakan hal itu ke keluarga kita, boleh jadi tidak semuanya berjalan mulus. Banyak dari kita justru menghadapi perlawanan atau penolakan dari keluarga, entah orang tua atau pasangan hidup kita. Alasannya bisa banyak, mulai dari kekhawatiran uangnya habis, merasa tidak ada penghasilan tetap, tidak ada dalam sejarah keluarga yang menjadi pebisnis, hingga apa kata orang kok Cuma jualan seperti itu.

Ya, pertentangan inilah yang akan menunjukkan sejauh mana determinasi yang kita miliki. Determinasi adalah sebuah ketetapan hati untuk terus melakukannya. Determinasi adalah kata ajaib yang bisa mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik. Tapi, sayangnya, banyak juga di antara kita yang kemudian surut dan mengurungkan niatnya. Merasa bukan menjadi anak yang berbakti jika mengabaikan nasihat orang tua, atau dianggap sebagai keras kepala.

Memang, berwirausaha adalah sebuah pilihan. Bagi yang berasal dari keluarga pebisinis, tentu hal ini sudah biasa dan akan mendapatkan dukungan. Namun jika kita bukan berasal dari keluarga pengusaha, tentu sulit membayangkan bagaimana bakal hidup sebagai seorang wirausaha. Ibaratnya, anak petani akan menjadi petani, anak guru akan menjadi guru, anak nelayan akan jadi nelayan, anak tentara juga akan jadi tentara. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi, bagaimana jika seorang anak petani, anak nelayan, anak guru, punya keinginan menjadi seorang wirausaha? Ini berarti dia sudah melihat masa depannya di luar kotak yang membatasi pikirannya. Dia sudah berpikir out of the box. Tentu ini tidak mudah.

Sebenarnya, mengapa orang sekitar kita, khususnya keluarga, tidak mendukung cita-cita sang anak? Kunci sebenarnya adalah karena mereka berada di zona nyaman. Kalau dipikir benar-benar, zona nyaman ini sebenarnya belum tentu merupakan zona yang aman. Di setiap kondisi pasti ada resiko. Nah, kalau kita menyadari bahwa orang di sekitar kita berada di zona nyaman dan masih sulit untuk mau keluar dari kondisi itu, adalah tugas kita untuk menyadarkan mereka. Kalau kita kemudian yang mengurungkan niat, maka kita akan masuk dalam zona nyaman itu dan tak akan pernah membuat sebuah perubahan. Jangan pernah ragu untuk memulai perubahan. Keraguan hanya membawa kita pada keberhasilan yang selalu tertunda. (nur agustinus)


Kunjungan ke Pusdakota Ubaya bersama mahasiswa Social Entrepreneurship UC

Rabu, 3 September 2014, mahasiswa Social Entrepreneurship (E5 Sosial) Universitas Ciputra melakukan kunjungan ke Pusdakota Ubaya (Pusat Pemberdayaan Komunitas Kota Universitas Surabaya). Diterima oleh Bu Laila dan bertemu dengan Pak Cahyo Suryanto, pimpinan Pusdakota Ubaya. Mahasiswa belajar tentang bagaimana berbisnis sosial dengan melibatkan komunitas. Ada pembuatan tas dari bahan sampah bekas pembungkus, ada juga budidaya tanaman organik, pembuatan kompos, dan masih banyak lainnya.