Simon Dan Orang Bercahaya



Waktu masih SD dulu (sekitar tahun 70an) ada buku seri terbitan Gramedia yang namanya "Ceritera dari Lima Benua". Salah satu buku yang paling berkesan, judulnya "Simon dan Orang Bercahaya". Ceritanya sangat luar biasa, dan belakangan ketika ada internet, baru tahu kalau itu karangan Leo Tolstoy dan judul bahasa Inggrisnya "What Men Live By"

Berikut ceritanya:

Simon Dan Orang Bercahaya

Udara di Rusia sangat dingin. Kebanyakan orang memakai kulit biri-biri supaya jangan kedinginan. Tentu saja kulit biri-biri itu di potong hingga jadi jas. Jas kulit biri-biri sangat mahal. Orang miskin hampir tak kuat membelinya. Beberapa tahun yang lalu, ada tukang sepatu bernama Simon. Isterinya bernama Matrena. Mereka sangat miskin. Tapi masih banyak orang yang lebih miskin dari Simon. Orang-orang itu hutang pada Simon. Mereka tak dapat membayar ongkos perbaikan sepatu.

Pada suatu hari Simon ingin membeli jas kulit biri-biri yang baru. Harganya delapan rubel. Rubel adalah nama mata uang Rusia. la sendiri hanya punya uang tabungan tiga rubel. Dua tahun menabung hanya mendapat tiga rubel! Masih kurang lima rubel. Yang lima rubel akan ia tagih dari orang-orang yang berhutang kepadanya.

Jadi sebelum pergi ke toko, Simon harus menagih hutang lebih dulu! Simon berangkat membawa tongkat. la memakai pakaian rangkap tiga. Yang paling dalam bajunya sendiri. Yang tengah jas isterinya. Yang paling luar, jasnya sendiri. Jasnya sendiri sudah tua dan berlubang-lubang.

Perjalanan Simon sehari sial belaka. Orang-orang tak dapat membayar hutang. Uang lima rubel tak dapat dikumpulkan. Seorang miskin hanya membayar Simon duapuluh kopek. Kopek juga nama mata uang Rusia. Orang miskin itu juga memberi Simon sepasang sepatu bot. la minta, supaya sepatu diperbaiki.

Simon tak dapat membeli jas baru. Untuk menghangatkan badan, ia membeli vodka. Vodka adalah nama minuman keras di Rusia. Uang duapuluh kopek habis. Tapi badan merasa hangat.

“Isteriku pasti marah, aku pulang tak membawa jas baru,” kata Simon sendirian.

Waktu hari sudah agak gelap, Simon tiba di dekat gereja. Di belakang gereja ia melihat sesuatu berwarna putih.

Simon bertanya dalam hati, “Apakah itu? Batu atau lembu? Tapi tadi pagi tak ada batu putih di situ. Lembu juga bukan, sebab seperti ada kepala manusia. Mengapa begitu putih? Dan kalau itu manusia, mengapa ia ada di situ?”

Waktu agak dekat, Simon menjadi takut. Benda putih tersebut ternyata orang. Tak jelas, sudah mati atau masih hidup. la telanjang, tak berpakaian secarik pun. la duduk bersandar di dinding gereja. Orang itu tak bicara dan tak bergerak.

“Mungkin ia baru saja dirampok, ditelanjangi dan dibunuh. Kalau kutolong, mungkin aku sendiri akan terlibat,” pikir Simon.

Simon berjalan terus. la berjalan di depan gereja. Kemudian Simon menengok ke belakang. Orang itu tak bersandar pada dinding lagi. tapi bergerak dan memandang Simon. Simon menjadi lebih takut.

“0 Tuhan, tolonglah saya! Harus saya apakan orang itu? Saya takut dan bingung. Saya tak kenal orang itu. Kalau kutolong, bagaimana kalau ia mencekik leherku? Saya sendiri miskin dan kedinginan. Jasku hanya satu. Saya tak dapat memberikan jas ini kepadanya.” kata Simon sendirian.

Simon berjalan terus. Langkahnya dipercepat. Setelah agak jauh, Simon berkata kepada dirinya sendiri, “Hai Simon! Tak malukah kau? Kau memakai baju rangkap tiga. Orang itu mungkin akan mati kelaparan atau kedinginan. Kau orang miskin. Siapa yang akan mau merampok kau. Hai Simon, sadarlah!”

Simon berpaling dan berjalan kembali. Waktu tiba di belakang gereja, orang tersebut tampak lebih jelas. la masih muda. Tubuhnya bersih, sehat dan kuat. Wajahnya menyenangkan. Tampaknya sangat baik hatinya. Tapi ia kedinginan dan ketakutan. Matanya tertutup. la seperti tak bertenaga untuk membuka matanya.

Dengan segera Simon mengangkat dia. Qrang itu menengadah. Pandangan matanya sayu. Menimbulkan rasa belas kasihan. Rasa takut Simon hilang. La menjadi tertarik kepadanya. Simon memberikan jas kepada orang muda itu. Bahkan Simon membantu mengenakan pakaian. Sepatu bot juga dipakai orang muda. Orang muda berjalan memakai tongkat. Mereka berjalan bersama-sama.

“Siapa namamu?” tanya Simon.

“Mikael,” jawab orang tak dikenal itu.

“Dari mana asalmu?”

“Saya tidak berasal dari sini.”

“Bagaimana kau sampai di belakang gereja?”

“Aku tak boleh mengatakannya.”

Aneh, pikir Simon. Orang ini tak jelas asal usulnya. Tapi pandangan matanya sangat menyenangkan.Caranya bicara sangat sopan dan sedap. Simon merasa senang, punya teman Mikael.

Udara sangat dingin. Mikael tidak memakai topi. Untunglah rambutnya tebal dan gondrong. Jas Simon, yang ia pakai, cukup panjang. Hampir sampai lutut panjangnya. Tak lama kemudian mereka tiba di rumah. Matrena, isteri Simon, marah. Matrena melihat Simon tak membawa jas baru. Bahkan jas Simon dipakai tamu yang tak ia kenal.

Kecuali itu Matrena mencium bau vodka. Siapakah tamu itu? Tanya Matrena dalam hati. Mengapa ia memakai jas Simon? Mengapa ia tak memakai baju? Mengapa ia diam saja? Mengapa selalu memandang ke tanah? Matrena berdiri di dekat perapian.

Simon duduk, dan berkata kepada Mikael, “Mari duduk, sebentar lagi kita makan malam.”

Tapi Matrena diam saja. Sebab ia sedang marah. Mukanya masam, dan tidak mau menyiapkan makan malam. Matanya memandang Simon, kemudian memandang Mikael.

“Saya lapar. Segera siapkan makan malam!” kata Simon.

Sekarang Matrena tak dapat menahan marahnya.

Dengan suara keras ia berkata, “Aku memang sudah masak. Tapi tidak untukmu! Kau bau vodka. Kau pasti baru saja minum. Uangmu pasti kau habiskan untuk minuman keras. Mana jasmu yang baru? Dan mengapa kau membawa orang ini?”

Simon menarik napas, dan menjawab, “Sabar, Matrena. Mengapa kau tidak bertanya lebih dulu?”

“Ya mengapa, mengapa! Mengapa kau juga tidak menjelaskan lebih dulu? Di mana uangnya? Siapa orang ini?” tanya Matrena.

Simon mengambi! uang dari baju dalam. Uang ditebarkan di atas meja. Dengan cepat uang diambil Matrena. Matrena khawatir, kalau uang akan disalah gunakan oleh Simon.

“Mengapa hanya tiga rubel. Mana yang lima rubel?” tanya Matrena.

“Orang-orang tak mau membayar hutangnya. Katanya belum punya uang,” jawab Simon.

“Kau tak usah makan malam. Kau bau vodka. Kau tentu sudah makan di warung. Kau peminum dan pemabuk. Saya tak mau memberi makan pemabuk. Kau past! menghambur-hamburkan uang dengan orang ini. Seprei pemberian ibuku kau jual. Karena kau peminum dan pemabuk!”

Matrena marah sekali. la bicara terus-menerus. Simon tak dapat menyelanya. Bahkan kejadian-kejadian sepuluh tahun yang lalu, ia ungkapkan kembali. la tak percaya kepada Simon. Mungkin uang lima rubel dipakai Simon untuk membeli vodka.

“Berikan kembali jas saya!” bentak Matrena.

Matrena menarik jasnya sendiri yang dipakai Simon. Karena terlalu keras, jas robek.

“Mana uang yang lima rubel?” teriaknya.

“Sudah kukatakan, orang-orang tak bisa membayar hutangnya! Apa kau tak percaya? Kalau tak percaya pada saya, mau percaya kepada siapa? Saya hanya membeli vodka duapuluh kopek!” jawab Simon.

Matrena berhenti sebentar. la berjalan menuju pintu. Maksudnya akan pergi ke luar. Tapi ia ingin tahu tentang tamunya tersebut.

Sebab itu ia berkata, “Orang baik pasti punya pakaian. Orang baik tidak datang ke rumah orang pakai jas tuan rumah. Mengapa kau tidak mengenalkan orang ini kepada saya?”

“Bagaimana saya dapat mengenalkan? Kau bicara terus menerus seperti hujan lebat. Orang ini kudapati telanjang di belakang gereja. la kedinginan dan ketakutan. Tuhan mengutus saya supaya menolongnya. Siapa tahu ia baru saja mendapat kecelakaan! Haruskah dia saya biarkan. Haruskah dia kubiarkan mati kedinginan?” jawab Simon.

la juga pandai bicara selancar isterinya.

Matrena ingin menjawab, tapi Simon berkata lagi, “Jangan cepat marah Matrena, sebelum kau tahu duduk perkaranya. Pada suatu ketika kita semua akan mati. Dan kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan. Lihat orang ini, apa kau tak punya rasa belas kasihan?”

Matrena memandang Mikael. Mikael duduk di pinggir kursi. Tangannya berpegangan di atas lutut. la diam dan tak bergerak. Matanya tertutup. Kelihatannya seperti orang dalam kesakitan.

“Matrena, tidakkah kau punya cinta kasih Tuhan?” tanya Simon.

Tiba-tiba Matrena merasa kasihan terhadap Mikael. la pergi mengambil piring, cangkir dan sendok. Makan malam disiapkan. la menuang minuman dan bir. Roti diiris dan sop dihidangkan.

“Silahkan makan,” kata Matrena kepada Mikael dan Simon.

Secara aneh muka Mikael bercahaya. Mikael memandang Matrena, dan tersenyum untuk pertama kalinya. Tampaknya rasa sakitnya sudah hilang.

“Siapa namamu? Dan di mana rumahmu?” tanya Matrena.

“Namaku Mikael. Aku tak berasal dari sini,” jawab Mikael.

“Mengapa kau ada di belakang gereja?”

“Aku tak boleh mengatakannya.”

“Apakah kau baru saja dirampok orang?”

“Tidak. Tuhan menghukum aku.”

“Mengapa kau tak berpakaian?”

“Ya, aku tak berpakaian. Tapi banyak hal yang tak boleh aku ceriterakan. Simon menolong aku. Aku dipinjami jas dan sepatu. Aku dibawa ke sini. Kau memberi makan aku. Tuhan sangat senang atas perbuatanmu berdua,” jawab Mikael.

Sekarang Matrena merasa senang mendapat tamu Mikael. la ingin tahu lebih banyak, tapi tak berani bertanya. Mikael selalu menjawab “aku tak dapat mengatakan.” Selanjutnya Matrena memberikan baju dan celana Simon kepada Mikael.

“Kalau sudah mengantuk, silahkan tidur. Kau boleh tidur sesukamu. Di atas balai-balai, atau di dekat perapian,” kata Matrena.

Malam hari Matrena tidak dapat tidur. Besok pagi sudah tak ada roti. Tamu itu menimbulkan berbagai-bagai pertanyaan dalam hatinya. Ternyata Simon juga tak dapat tidur.

“Simon, siapakah sebenarnya orang itu? Mengapa ia tak mau menjawab segala pertanyaan?” tanya Matrena.

“Tentu ada alasannya. Tapi aku yakin ia orang baik. Sikap dan tingkah lakunya menyenangkan,” jawab Simon.

“Simon, kita suka memberi kepada orang lain. Mengapa orang lain tidak suka memberi kepada kita ? Mengapa mereka tak mau membayar hutangnya ?”

“Aku sendiri tidak tahu. Sekarang sudah larut malam. Mari kita tidur saja, dan jangan bertanya lagi.”

Maka Simon dan Matrena lalu jatuh tertidur. Keesokan harinya Matrena pergi ke rumah tetangga. la ingin meminjam roti. Mikael duduk di kamar. Matanya selalu memandang ke atas. la memakai baju dan celana Simon. Wajahnya berseri-seri. Lebih gembira dari pada hari sebelumnya.

“Mikael, orang hidup harus bekerja. Kalau tidak bekerja, tidak dapat mencari makan. Sebelum ke sini, kau bekerja di mana?” tanya Simon.

“Saya tidak pernah bekerja,” jawab Mikael.

Simon heran, tapi tak mau bertanya lebih lanjut. Sebab jawaban Mikael pasti “aku tak dapat mengatakan.”

Namun Simon berkata lagi, “Manusia harus bekerja, jika ia ingin makan.”

“Mudah-mudahan Tuhan memberkatimu, Simon. Aku mau bekerja. Katakan apa yang harus aku kerjakan,” jawab Mikael.

Simon mengajar Mikael membuat benang. Benang dicampur dengan lilin supaya kuat. Kecuali itu Mikael diajar menjahit sepatu. Mikael cepat sekali menguasai pekerjaannya. Baru tiga hari, ia sudah ahli. Kelihatannya seperti orang yang telah berpengalaman bertahun-tahun.

Mikael tidak pernah bicara. la hanya bicara kalau perlu. la bekerja terus menerus. Makannya sedikit. la tak pernah tersenyum, tertawa, atau bergurau. la suka melihat ke atas. la jarang pergi ke luar. Pekerjaan Mikael sangat mengagumkan. Kata orang, tak ada manusia dapat menjahit sepatu sekuat itu. la jadi terkenal. Dan perusahaan Simon jadi maju. Orang dari seluruh daerah memesan sepatu pada Simon. Simon mulai jadi kaya.

Kira-kira satu tahun kemudian, Simon kedatangan tamu orang kaya. Keretanya ditarik tiga ekor kuda. la punya pelayan namanya Fedka. Orang kaya itu bertubuh besar dan tinggi. Ototnya kekar seperti terbuat dari besi. Mukanya merah dan jasnya

berbulu tebal. la terpaksa membungkuk waktu masuk rumah Simon. Waktu ada di dalam, hampir memenuhi seluruh kamar. Simon dan Mikael tampak kurus dan kecii. Orang kaya itu rupanya datang dari dunia lain.

Jas bulu diletakkan di kursi. la duduk dan berkata, “Siapa pemimpin perusahaan sepatu ini?”

“Saya, Simon,” jawab Simon, sambil maju ke depan.

“Kau pernah melihat kulit semacam ini?”

Fedka membentangkan kulit di atas meja. Simon mengamat-amati.

“Belum tuan. Tapi kulit ini sangat baik,” jawab Simon.

“Dengar, dan perhatikan baik-baik. kulit ini berasal dari Jerman. Harganya duapuluh rubel. Kau harus membuat sepatu untukku. Sepatu itu harus tahan satu tahun. Bentuknya tidak boleh berubah. Jahitannya tak boleh robek. Kalau kau bisa membuat sepatu seperti itu, kau kubayar sepuluh rubel. Kalau kau berkata bisa, tapi ternyata sepatu jebol sebelum satu tahun, kau kumasukkan penjara!” kata orang kaya.

Suaranya besar menggelegar seperti halilintar.

Mikael memberi isyarat kepada Simon, supaya mau menerima pesanannya. Sebenarnya Simon merasa takut. Hatinya berdebar-debar. dan tangannya gemetar. Sebab belulang itu sangat mahal. Bagaimana kalau gagal? Tapi Simon percaya kepada Mikael.

Oleh karena itu ia menjawab, “Baik, tuan. Pesanan tuan kami terima. Mari kami ukur.”

Simon mengukur kaki orang kaya. Sementara kaki diukur, orang kaya melihat keliling. Matanya tertumbuk pada Mikael.

la bertanya kepada Simon, “Siapa itu?”

“Pembantu saya, tuan. Namanya Mikael. Dialah yang akan menjahit sepatu tuan,” jawab Simon.

“Hai, Mikael. Awas, jahitanmu harus tahan setahun. Mengerti?” kata orang kaya.

Simon melihat Mikael. Tapi Mikael tidak memandang ke arah orang kaya. Mikael memandang ke sudut kamar. Seolah-olah di sudut kamar ada seseorang. Mikael memandang terus ke sudut kamar. Kemudian ia tersenyum untuk kedua kalinya. Wajahnya bercahaya lebih terang.

“Kau menertawakan saya, orang tolol? Sepatu harus selesai pada saat kubutuhkan. Tahu?!” bentak orang kaya dengan marah.

“Ya, tuan. Pada saat tuan membutuhkan, sepatu pasti sudah selesai,” jawab Mikael.

“Awas, kalau kau mengingkari janji!”

Orang kaya mengenakan sepatu bot, jas berbulu, dan berpamitan. la berjalan menuju pintu. Tapi lupa membungkuk. Kepalanya terbentur pada bingkai pintu. la berteriak marah, dan menggosok-gosok kepalanya. Sebentar kemudian kereta berangkat.

Setelah orang kaya hilang dari pandangan, Simon berkata, “Kuat benar orang itu. Bingkai pintuku hampir lepas. Tapi dia kelihatannya tak merasa sakit.”

“Tentu saja ia kuat seperti raksasa. Makannya banyak dan lezat-lezat. Dia kaya. Orang seperti dia tak takut siapa saja. Kepada maut pun ia tak takut.” kata Matrena.

Tugas membuat sepatu bot untuk orang kaya diserahkan kepada Mikael.

Kata Simon, “Mikael, berhati-hatilah. Aku takut pada orang itu. Kau lebih muda, dan lebih teliti. Kerjakan sepatu itu. Nanti aku yang akan menjahit. Waspadalah, kulitnya sangat mahal. Jangan sampai salah potong.”

Mikael mulai bekerja. Kulit diukur dan dilipat. Kemudian dipotong menjadi dua. Waktu itu Simon sedang makan. Yang melihat perbuatan Mikael adalah Matrena. Matrena sudah biasa melihat orang membuat sepatu bot. la heran, mengapa Mikael memotong belulang jadi dua. Matrena ingin menegur, tapi tidak berani. Mungkin Mikael lebih tahu dari pada dirinya.

Waktu sepatu mulai dijahit, Matrena lebih heran lagi. Mikael tidak membuat sepatu bot, tapi sepatu biasa. Padahal Matrena mendengar dengan jelas, orang kaya memesan sepatu bot. Apakah Mikael ingin, supaya Simon dipenjara? Namun, meski pun begitu, Matrena tidak berani bertanya.

Sesudah makan, Simon melihat perbuatan Mikael. la

terkejut dan menegur, “Mikael, apa yang telah kau kerjakan? Mengapa kulit kau potong demikian!? Mengapa kau membuat sepatu biasa? Aduh celaka besar! Apa yang akan terjadi, kalau orang kaya tahu!”

Sebelum Simon selesai bicara, pintu diketuk orang.

Fedka, pelayan orang kaya masuk, dan berkata, “Majikan saya tak jadi memesan sepatu bot. la mati mendadak di tengah jalan. Isteri majikan memesan sepatu biasa saja.”

“Sepatu sudah selesai pada saat ia membutuhkan, “jawab Mikael.

Mikael memberikan sepatu dan sisa kulit.

Enam tahun lamanya Mikael ikut Simon. Selama itu ia hanya tersenyum dua kali. Simon tak berani menanyai asal usul Mikael. la takut, kalau Mikael merasa tak senang, dan pergi.

Pada suatu pagi Simon kedatangan tamu. Seorang ibu beserta dua anak kembar. Keduanya perempuan. Yang satu kakinya pincang. Dan ia tak dapat berjalan seperti anak biasa. Simon heran, sebab Mikael seperti gelisah dan terkejut. la biasanya tak demikian. Mikael memandang terus menerus kepada kedua anak itu. Ada hal yang sangat menarik perhatian Mikael. Setelah kaki diukur, Matrena bertanya kepada ibu kedua anak.

“Siapa kedua anak ini? Mengapa yang satu kakinya pincang?”

“Ini bukan anakku sendiri,” jawab ibu angkat kedua anak.

“Kira-kira enam tahun yang lalu, kedua orang tuanya meninggal dunia. Ayahnya dikubur hari Selasa. Tiga hari kemudian kedua anak ini lahir. Sesudah melahirkan anak kembar, ibunya juga meninggal. Waktu meninggal, kaki ibunya menindih kaki bayi. Oleh karena itu anak ini jadi pincang. Hal ini baru diketahui keesokan harinya. Karena kasihan, maka kedua anak ini kupelihara. Saya sendiri tidak punya anak. Karena anakku mati waktu ia berumur dua tahun. Sekarang kedua anak ini kuanggap seperti anakku sendiri. Aku sangat mencintainya. Rasanya aku tak dapat hidup tanpa anak-anak ini.”

“Manusia dapat hidup tanpa ayah dan ibunya. Tapi ia tak dapat hidup tanpa Tuhan,” kata Matrena.

Tiba-tiba seluruh ruangan penuh cahaya terang-benderang. Cahaya itu berasal dari tubuh Mikael. Mikael sedang duduk di sudut. Tangannya berpegangan di atas lutut. Dan matanya memandang ke atas. Wajahnya bersinar berseri-seri. la tersenyum untuk ketiga kalinya.

Sesudah ibu dengan kedua anak kembar pulang, Mikael menghampiri Simon. Mikael membungkuk rendah di depan Simon dan Matrena.

“Maafkan segala kesalahanku. Sebentarlagi aku harus kembali ke asalku. Aku dihukum Tuhan. Tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Maka aku minta diri. Aku ingin pulang,” kata Mikael.

“Nanti dulu, Mikael. Sabar dan jawablah pertanyaanku. Siapakah kau sebenarnya ? Mengapa selama enam tahun kau hanya tersenyum tiga kali ? Dan mengapa waktu tersenyum kau bercahaya ?” tanya Simon yang tercengang dan keheran-heranan.

“Sebenarnya aku adalah malaikat Tuhan di surga. Enam tahun yang lalu, aku disuruh mencabut nyawa ibu kedua anak kembar. Tapi aku menolaknya. Aku kasihan kepada kedua bayi. Ayahnya baru saja mati. Ibunya harus mati juga. Siapa akan memelihara bayi? Ibu bayi berkata, bayi tak dapat hidup tanpa ayah dan ibunya. Aku kembali ke Tuhan.

Tapi Tuhan berkata, “Mikael, kembalilah ke bumi. Cabutlah nyawa ibu anak kembar. Kemudian peiajarilah ketiga kebenaran ini:

Apa yang hidup dalam hati manusia?

Apa yang tak diijinkan pada manusia?

Apa yang diperlukan manusia?

Aku kembali ke bumi. Nyawa ibu bayi kucabut dan kuantar ke surga. Tapi di tengah jalan ada badai besar. Sayapku patah dan aku jatuh ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Aku jadi manusia, bersandar di belakang gereja. Aku kedinginan, kelaparan, dan kesakitan. Kemudian Simon mau menolong aku. Aku dibawa ke rumahnya.

Mula-mula Matrena marah-marah dan ingin mengusir aku. Waktu itu aku melihat maut padanya. Seandainya Matrena jadi mengusir aku, ia pasti mati.

Tapi kau Simon, berkata, ‘Tidakkah kau punya cinta kasih Tuhan?’ Dan Matrena tiba-tiba suka padaku. la menjadi baik hati, dan mau member! makan aku. Aku tahu kebenaran yang pertama. Yang hidup dalam hati manusia adalah cinta kasih Tuhan. Dan aku tersenyum untuk pertama kalinya. Setahun sesudah itu, ada orang kaya memesan sepatu. Orang itu memesan sepatu yang tahan setahun. Aku melihat maut di sudut kamar. Orang lain tidak dapat melihatnya. Malaikat maut akan mencabut nyawa orang kaya sebelum matahari terbenam. Tapi orang kaya memesan sepatu yang tahan satu tahun. la tidak tahu, kalau hidupnya hanya tinggal beberapa jam saja. Oleh karena itu aku membuat sepatu biasa. Aku tahu kebenaran yang ke dua. Manusia tidak diperbolehkan mengetahui kebutuhannya. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Wajahku lebih berseri-seri dan lebih terang. Sebab sesudah mengetahui kebenaran yang ketiga, aku dapat kembali ke surga.

Hari ini ada ibu angkat dengan dua anak kembar. Simon pasti heran mengapa aku sangat memperhatikan kedua anak kembar itu. Ibu kedua anak kembar itulah yang kucabut nyawanya. Sebelum mati ibu bayi berkata, ‘Bayi tak dapat hidup tanpa ayah dan ibunya’. Tapi kemudian ternyata, kedua bayi dapat hidup.

Orang lain yang bukan apa-apanya, mencintai kedua bayi sepenuh jiwanya. Aku masih ingat, tadi Matrena berkata, ‘Manusia dapat hidup tanpa ayah dan ibunya. Tapi ia tak dapat hidup tanpa Tuhan’. Dengan demikian aku tahu kebenaran yang ketiga. Yang diperlukan manusia, supaya dapat hidup, adalah Tuhan. Aku tersenyum yang ketiga kalinya. Wajahku bercahaya terang sekali, karena aku sangat gembira. Masa hukumanku telah habis.

Tuhan telah mengampuni aku. Dan aku boleh segera kembali ke surga. Aku sekarang tahu, manusia dapat hidup, tidak karena mementingkan diri sendiri. Mereka hidup karena saling mencintai. Cinta kasih Tuhan yang menyebabkan manusia hidup. Tuhan hidup dalam hati manusia.”

Bersamaan dengan kata-kata itu, pakaian Mikael jatuh ke tanah. Suaranya makin berwibawa. Seolah-olah berasal dari surga. Tubuhnya diselubungi cahaya yang sangat menyilaukan mata. Nyala api yang besar keluar dari tanah. Mikael terangkat ke atas, sambil memuji Tuhan. Mikael kembali ke surga.

TAMAT

Dikutip dari http://sekumpulan-cerita.blogspot.com/2010/06/simon-dan-orang-bercahaya-rusia.html#more

0 Komentar:

Posting Komentar