Pertemuan UFO di Manggala Wanabakti


Tanggal 12 Desember 2009, lingkar kecil Metafisika Study Club mengadakan pertemuan dan membahas soal UFO bersama BETA-UFO di Manggala Wanabakti, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Topik dibahas oleh dua orang nara sumber, yang pertama oleh Nur Agustinus, membawakan presentasi yang berjudul "Perspektif Baru Eksistensi E.T. dalam Kehidupan Manusia" yang kemudian dilanjutkan dengan membahas "Kisah Pilot UFO yang selamat ketika jatuh di Roswell, USA" oleh Sita Soedjono. Acara ini dipandu oleh Ketua Umum Metafisika Study Club, Dr Sabdono Surohadikusumo.

Kiamat, 2012 dan Fenomena UFO



(Oleh: Nur Agustinus)

Menjelang tahun 2012, khususnya tanggal 21 Desember 2012, banyak film, banyak komentar dan pendapat, banyak orang yang konon bisa meramal kemudian memberikan ramalannya, dengan penjelasan dan analisa yang berbeda-beda. Entah kenapa, berita kiamat 2012 ini nampaknya menyentuh pemirsa fenomena UFO. Padahal, kalau kita bahas soal 2012 ini, maka kaitannya adalah dengan penanggalan kalender Maya, yang perlu dipertanyakan, apa hubungannya dengan UFO?

Tema 2012 mau tidak mau menyinggung masalah keyakinan dan juga tema spiritualitas. Banyak orang yang percaya (sekaligus berharap) akan ada jaman baru yang membawa pada peningkatan kesadaran baru pada manusia. Ada yang berteori bahwa itu karena adanya penyelarasan galaksi dan lain-lain. Namun, apa hubungannya dengan UFO, atau dengan makhluk luar angkasa?

Ramalan kiamat barangkali juga disebabkan karena saat ini kondisi bumi yang sedang bergejolak. Terjadi gempa di beberapa tempat, khususnya di Indonesia. Cuaca yang berubah, panas yang semakin luar biasa. Ahli antariksa dan astronomi yang mempelajari matahari mengemukakan bahwa terjadi peningkatan badai matahari, yang konon bisa menyebabkan kutub magnetik bumi bergeser bahkan mungkin beralih, yang utara menjadi selatan dan sebaliknya. Kalau ini benar terjadi, maka berdasarkan petunjuk jarum kompas, kita akan melihat bahwa matahari terbit di sebelah barat. Kita tunggu saja apakah itu akan terjadi atau tidak, namun ada yang pernah bilang, bahwa salah satu tanda kiamat konon katanya matahari terbit di sebelah barat.

Saya sendiri selalu bertanya-tanya, apakah 2012 ini ada hubungannya dengan UFO atau tidak? Saya pernah membicarakan hal ini dalam sebuah pertemuan yang membahas kaitan UFO dengan 2012 di Bogor tahun 2008 lalu bersama Metafisika Study Club. Saya memang mengatakan bahwa dari penelitian ilmuwan, memang terjadi peningkatan badai matahari, namun ini terjadi berkala 11 tahun sekali. Artinya, ini pernah terjadi. Namun, ada beberapa hal yang menurut hasil penelusuran saya bisa berkaitan dengan masalah makhluk cerdas selain manusia. Bagaimana hubungannya?

Penelusuran saya mulai dari penanggalan Maya itu sendiri. Kita tahu berdasarkan konversi penanggalan, maka kalender itu akan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Walau soal tanggal ini ada yang tidak sepakat karena kalender kita banyak mengalami perubahan, namun marilah kita anggap bahwa asumsi itu benar. Lalu, kalau berakhir, kapan kalender itu dimulai? Bukankah jika ada akhir maka ada awal? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dengan mudah dijawab lewat pencarian di internet, misalnya melalui wikipedia. Menurut http://en.wikipedia.org/wiki/Maya_calendar, awal kalender maya jika dikonversi dengan penanggalan kita saat ini adalah sama dengan 11 Agustus 3114 SM. Sebagian yang lain menetapkan 13 Agustus 3114 SM (Kalender Gregorian) dan  8 September 3114 BC (Kalender Julian). Namun pada umumnya sepakat bahwa tahunnya adalah 3114 SM. Saya sendiri bukan ahli mengenai kalender Maya, namun saya mencoba mencari hubungan yang ada, yaitu apa yang terjadi sebelum 3114 SM? Ada apa di planet bumi ini sebelum tahun itu?

Lalu, saya mencoba mencari, kalender atau jaman apa yang kira-kira mulainya pada masa yang sama dengan permulaan kalender Maya? Dengan mudah saya menemukan bahwa jaman Kaliyuga, ternyata juga dimulai saat tahun 3102 SM. Dengan demikian, jaman kaliyuga dimulai 12 tahun sebelum permulaan kalender Maya. Adakah ini semua hanya kebetulan? Padahal saya memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang kebetulan di alam semesta ini. Menurut ajaran agama Hindu, jaman Kaliyuga adalah jaman dimana keadaan tidak menentu, kacau atau tidak harmonis. Terlepas dari ajaran atau kepercayaan yang ada tentang jaman kaliyugas ini, dan juga karena saya bukan ahli di bidang tersebut, namun penting untuk dicatat bahwa permulaan jaman Kaliyuga ini hanya beda 12 tahun dengan permulaan kalender Maya. Apa yang terjadi sebelum itu?


Ada apa sebelum tahun 3114 SM?

Telah kita ketahui bahwa permulaan kalender Maya adalah tahun 3114 dan permulaan jaman Kaliyuga adalah 3102 SM. Beda waktu yang sangat kecil ini, yakni 12 tahun, menurut pendapat saya sangat menarik. Lalu. apa yang terjadi sebelum tahun 3114 SM? Apakah ada peristiwa besar di planet bumi ini sekitar tahun-tahun itu? Adakan catatan sejarah, tulisan-tulisan kuno atau bahkan temuan arkeologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai hal-hal yang berhubungan dengan jaman itu? Peristiwa apa yang cukup bisa dianggap menghebohkan?

Saya mencoba membuat urutan kronologi, dan menurut pendapat saya, ada sebuah peristiwa besar yang dicatat di tulisan-tulisan kuno yang dekat dengan masa itu yakni yang dikenal dengan banjir air bah di jaman nabi Nuh (Noah). Sejumlah ahli mencatat bahwa bencana itu terjadi sekitar tahun 3150 SM +/- 50 tahun. Memang ada berbagai perbedaan informasi tahun terjadinya bencana air bah (perubahan cuaca global yang membawa dampak besar). Dr. Barry M. Warmkessel menulis sebuah artikel dengan judul "Noah's Ark, Verification of Alien Contact", di mana dalam tulisannya disajikan beberapa informasi perkiraan tanggal saat terjadinya peristiwa tersebut.

1. Josephus Great Flood Date: (3148 BC)
2. Dr. Hales Great Flood Date: (3155 BC)
3. Septuagint Great Fload Date: (3246 BC)
4. Samaritan Pentateuch Great Flood Date: (2998 BC)

Lihat di: http://barry.warmkessel.com/NOAH.html

Dengan demikian, bisa kita lihat bahwa ada sebuah peristiwa yang mendahului permulaan kalender Maya atau jaman Kaliyuga, yakni bencana air bah tersebut. Lalu, apa penyebab bencana air bah ini, atau ada peristiwa apa yang terjadi sebelumnya?

Karena hasil penelusuran saya sampai pada jaman nabi Nuh, maka mau tidak mau akhirnya akan menggunakan beberapa teks kitab suci maupun tulisan-tulisan kuno dari masa lalu. Tentu saja hal ini bisa sangat sensitif dan saya yakin banyak yang skeptik karena hal ini dianggap tidak ilmiah.

Kita tahu bahwa cerita nabi Nuh ini menunjukkan bahwa masyarakat mereka tinggal di kawasan Irak (Sumeria). Bukti arkeologi menunjukkan dengan jelas bahwa telah terjadi perubahan iklim yang berdampak buruk di kawasan sungai Tigris dan Eufrat antara 4000 dan 3000 SM, yang berupa bencana air bah tak umum.

Lalu, apa hubungan banjir bah ini dengan makhluk luar angkasa? Apa ada hubungannya dengan tahun 2012 mendatang?


Kunjungan dan koloni makhluk Angkasa Luar

Apa yang saya kemukakan tentu tidak dapat dianggap sebagai sebuah hasil penelitian ilmiah. Tulisan ini lebih merupakan opini atau hasil pemikiran saja. Tentu saja masih dibutuhkan berbagai pembuktian atas pendapat yang saya kemukakan. Menurut saya, sebelum terjadi banjir bah, ada kunjungan dan koloni makhluk angkasa luar ke planet bumi. Apa buktinya? Sejauh mana bukti yang ada bisa dipercaya akurasinya?

Kalau kita membaca kitab Kejadian (Genesis) dari Alkitab (Bible), maka diceritakan bahwa "anak-anak Allah" (host of heaven) telah bergaul dengan "anak-anak manusia". Teks terjemahan bahasa Indonesianya dari Kitab Kejadian 6:1-4 adalah sebagai berikut:

-Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja." Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.

Teks ini sangat menarik dan penting serta sering dijadikan referensi mengenai keberadaan astronaut dari luar bumi. Pengertian kalimat "karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja" adalah bahwa saat itu terjadi tepat 120 tahun sebelum terjadinya banjir bah, sehingga dinyatakan bahwa 120 tahun setelah peristiwa kontak dengan makhluk luar bumi itu, terjadi air bah yang memusnahkan sebagian besar penduduk bangsa di sekitar sungai Tigris dan Eufrat.

Lalu, apakah teks di atas benar-benar bisa dianggap sebagai bukti bahwa telah terjadi kontak dan interaksi dengan makhluk luar bumi? Ada sebuah kitab yang mendukung hal ini, yaitu yang dinamakan sebagai kitab Henokh (Book of Enoch). Kitab Henokh ini menjelaskan lebih detail tentang kedatangan makhluk cerdas bukan manusia ke bumi dan berinteraksi dengan manusia, mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan tertentu pada manusia. Namun kedatangan dan interaksi ini diceritakan menimbulkan ketidaksukaan dari kelompok makhluk luar bumi yang lain sehingga menyebabkan konflik peperangan di antara mereka (antar makhluk luar bumi). Peperangan ini dikenal sebagai peperangan antara penghulu malaikat (archangels) dengan malaikat yang jatuh (fallen angels).

Catatan peperangan ini ditulis juga dalam kitab Wahyu 12:7-9, di mana dikatakan: "Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya." Teks ini jika dibaca dalam bahasa Inggris ditulis dalam tatanan bahasa masa lampau: "And there was war in heaven..." Kalau kita membaca dan mempelajari Kitab Henokh, maka semua menjadi lebih jelas, termasuk komunikasi antara Henokh dengan malaikat dan bagaimana deskripsi Henokh saat dibawa ke "surga" menunjukkan keadaan yang sama persis ketika astronaut pergi ke luar angkasa. Kitab Henokh juga menyebutkan bahwa Nuh memiliki bentuk seperti malaikat, sementara dari studi diketahui bahwa Nuh adalah albino (bule). Dengan kata lain, makhluk luar angkasa yang datang ini boleh jadi adalah tipe nordic, rambut perak dan mata merah (atau biru?).

Peperangan antar makhluk luar bumi ini diketahui dimenangkan oleh kelompok archangels (Michael, Gabriel, Uriel dan Rafael), sementara kelompok Semjaza dikalahkan dan seperti ditulis dalam kitab Wahyu, maka kelompok yang kalah ini kemudian disebut sebagai iblis atau satan, yang dilemparkan ke bumi bersama dengan bala tentaranya. Mereka ini, yang disebut juga sebagai "naga besar" atau si ular tua, boleh jadi yang berperan dan dikenal sebagai "para dewa" bagi manusia di bumi. Suku bangsa Maya mengenal Quetzalcoalt yang merupakan dewa ular berbulu. Bangsa Mesir juga memiliki dewa reptilian dan menggunakan mahkota bersimbol ular. Kita tahu bahwa peradaban bangsa Mesir dimulai sekitar 3150 SM. Info lebih lanjut bisa dilihat di: http://en.wikipedia.org/wiki/Ancient_Egypt

Kumpulan yang terbuang

Peperangan di surga (langit) membawa hasil pada kekalahan pihak yang disebut kemudian sebagai iblis. Iblis yang sama yang dianggap pembujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Iblis yang dkatakan tidak mau sujud kepada Adam sehingga dia dan kelompoknya dianggap membangkang, takabur dan kafir. Ini secara lebih detail bisa kita baca dalam Al Quran.  Nah, kalau saya menggunakan acuan dari hal ini, biasanya ada yang mulai kurang suka. Tapi akan saya coba lanjutkan dengan hati-hati karena menurut saya petunjuk yang penting ada di dalam Al Quran. Saya bukan ahli di bidang penafsiran Al Quran sehingga pasti tidak pantas untuk menggunakan dasar ini, namun mungkin ada para ahli yang mau melakukan pengkajian lebih lanjut atau ide-ide liar yang ingin saya sampaikan. Silahkan kalau mau meneliti lebih lanjut.

Singkat kata, dalam fragmen kejadian itu diceritakan bahwa Iblis kemudian akan dihukum. Berikut adalah salah satu petunjuk yang ada dari surah Al-A'raaf 12-15:

Allah berfirman:"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Menjawab iblis:"Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Allah berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab:"Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman:"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh".

Hal serupa juga terdapat dalam surah Al-Hijr 33-38:

Berkata iblis:"Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". Allah berfirman:"Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat". Berkata iblis:"Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan". Allah berfirman:"(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan".

Di sini kita bisa melihat bahwa ada semacam perjanjian yang disepakati, bahwa hukuman final Iblis akan dijatuhkan sampai hari manusia dibangkitkan atau dengan kata lain adalah kiamat.  Hari itu telah ditentukan sebenarnya dan kedua belah pihak sebenarnya tahu kapan itu akan terjadi. Permintaan, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan" menunjukkan bahwa ada suatu saat manusia akan dibangkitkan. Pertanyaannya, konsep "dibangkitkan" itu bagaimana? Apakah bangkit dari kubur (mati)? Atau manusia dibangkitkan kesadarannya? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan kuno yang juga ada dalam Al Quran:

Itulah balasan bagi mereka, karena sesungguhnya mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan (karena mereka) berkata:"Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk baru" (QS. 17:98)

Yang ingin saya kemukakan, masa tangguh itu adalah sampai hari di mana manusia akan dibangkitkan. Dalam konsep saya, kebangkitan ini adalah peningkatan kesadaran yang dimiliki manusia. Istilah yang umum adalah "awakening".

Kembali ke masalah eksistensi Iblis, ayat di atas menunjukkan bahwa Iblis dulunya ada bersama di surga namun kemudian diturunkan. Pertanyaannya, diturunkan ke mana? Menurut saya, jika kita temukan dengan apa yang ada di dalam Alkitab, maka Iblis dan bala tentaranya diturunkan ke bumi dengan seluruh teknologinya dilucuti. Hal ini juga ditunjang dengan apa yang ada dalam surah Al-Jin 8-11:

"...dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda."

Bagi saya, informasi ini jelas sangat menarik. Ada sekumpulan makhluk yang disebut sebagai jin, yang dulunya dapat menduduki beberapa tempat di langit (punya koloni di luar bumi), namun kini tidak lagi dan bahkan jika berusaha mengetahui rahasia langit, mereka mendapat ancaman "panah-panah api". Menarik juga bahwa di antara mereka sendiri terpecah-pecah, ada yang "saleh" dan ada yang tidak. Menempuh jalan yang berbeda-beda sehingga akan banyak sekali kelompok-kelompok di antara mereka. Lebih jauh lagi mereka juga bertanya, penjagaan yang ketat itu, apakah demi kebaikan manusia di bumi atau sebaliknya?

Bukankah jika kita mencoba membayangkan hal ini, sungguh luar biasa? Apa yang sesungguhnya terjadi di sana?

Buku Dzyan

Apakah ada petunjuk lain yang bisa kita peroleh selain dari kitab suci? Ya, ada sebuah manuskrip yang disebut sebagai "Buku Dzyan", yang merupakan naskah paling kuno di India dan dibuat pada waktu orang di sana mulai dapat menulis. Salah satu cerita di dalamnya ialah mengenai sekelompok kecil makhluk yang datang di bumi beberapa ribu tahun yang lalu di dalam sebuah pesawat logam yang mengeliling bumi beberapa kali sebelum mendarat. Makhluk-makhluk itu hidup menyendiri dan dihormati oleh manusia-manusia di tempat di mana mereka bermukim. Akan tetapi, kemudian timbullah perbedaan paham di antara mereka dan timbullah perpecahan. Beberapa pria, wanita dan anak-anak memisahkan diri dan mengungsi ke kota lain, di sana mereka dinobatkan menjadi penguasa oleh penduduk yang ketakutan.

Pemisahan diri itu ternyata tidak memulihkan perdamaian di antara makhluk-makhluk itu dan akhirnya kemarahan mereka memuncak sehingga pemimpin dari kelompok di kota yang pertama mengumpulkan sekelompok kecil prajuritnya dan mereka membubung ke udara menaiki sebuah pesawat logam yang besar dan mengkilap. Ketika mereka masih jauh dari kota musuhnya, mereka meluncurkan sebuah tombak yang besar dan bercahaya yang bergerak menuruti sebuah berkas sinar cahaya. Senjata itu meledak di kota musuhnya menjadi bola api yang besar yang menjulang ke langit, hampir mencapai bintang-bintang.

Semuanya yang berada di dalam kota menjadi hangus secara mengerikan dan bahkan mereka yang tidak berada di dalam kota, akan tetapi berada di daerah sekitarnya, terbakar pula. Mereka yang memandang ke arah tombak dan bola api tadi menjadi buta selamanya. Mereka yang kemudian berjalan kaki memasuki kota, jatuh sakit dan mati. Bahkan debu dari kota tadi menjadi beracun, begitu juga air dari sungai-sungai yang mengalir melalui kota itu. Tidak ada manusia yang berani mendekati kota tersebut, yang berangsur-angsur punah dan dilupakan manusia.

Ketika pemimpin dari makhluk-makhluk pendatang itu melihat apa yang telah ia perbuat terhadap anak buahnya sendiri, ia mengundurkan diri ke dalam istananya dan tidak mau bertemu dengan siapa saja. Akhirnya ia mengumpulkan prajuritnya yang masih ada, serta anak dan istri mereka, lalu masuk ke dalam pesawat masing-masing, membubung ke langit satu per satu dan pergi untuk tidak kembali lagi.

Kisah di atas dimuat dalam buku "Introductory Space Science - Volume II", Chapter XXXIII, yang diterbitkan oleh Department Of Physics - USAF, editor: Major Donald G. Carpenter dengan co-editor: Lt. Colonel Edward R. Therkelson. Buku ini sejak tahun 1968 merupakan buku resmi yang digunakan oleh Air Force Academy, di Colorado Springs, Colorado.

Kisah ini nampaknya memberi gambaran tentang koloni makhluk luar bumi di masa lalu. Apakah kisah ini menggambarkan peristiwa yang sama dengan peperangan di surga antara Michael dengan sang naga (iblis) atau Semjaza dan kawan-kawannya? Entahlah. Boleh jadi ada peristiwa kelanjutan lain yang tidak diketahui oleh penulis Buku Dzyan. Kemana mereka mengungsi, apakah ke luar angkasa atau ke tempat lain di belahan bumi yang lain?

Kumpulan kisah-kisah yang saya utarakan sebelumnya menunjukkan bahwa telah ada kunjungan makhluk dari luar bumi. Keberadaan mereka di bumi ternyata menimbulkan perpecahan dan berakhir pada peperangan di antara mereka. Peristiwa itu terjadi sebelum bencana air bah dan bisa saja diduga yang menjadi penyebabnya. Karena nampaknya salah satu pihak mempunyai rencana proses anihilisasi (pemusnahan) dengan mendatangkan banjir besar. Caranya bagaimana, tidak akan saya uraikan di sini, karena maksud saya mengemukakan kejadian ini adalah berkaitan dengan awal peradaban baru manusia setelah bencana besar. Masa di masa mulainya penanggalan kalender Maya dan juga dimulainya jaman Kaliyuga.

Pertanyaan yang sering muncul di benak saya adalah, kapan akhir dari masa tangguh itu? Jika Bangsa Maya erat kaitannya dengan makhluk dari luar bumi dengan dewa Queltzalcoalt (ular berbulu), lalu mereka membuat penanggalan seperti itu, yang berakhir pada 21 Desember 2012, pertanyaan saya yang langsung muncul adalah, apakah itu merupakan tanda dari akhir masa tangguh itu? Jika tidak, maka kita tidak perlu merisaukan apa-apa. Namun jika memang benar, apakah yang akan terjadi setelah masa tangguh itu?

Dijelaskan bahwa masa tangguh itu berlaku sampai manusia "dibangkitkan". Kita bisa berdebat panjang lebar tentang makna manusia "dibangkitkan" ini. Manusia sendiri kalau kita tinjau dari sejarah, maka sudah pernah mengalami "kebangkitan" yaitu di jaman Renaisans. Renaisans adalah suatu periode sejarah yang mencapai titik puncaknya kurang lebih pada tahun 1500. Perkataan "renaisans" berasal dari bahasa Perancis renaissance yang artinya adalah "Lahir Kembali" atau "Kelahiran Kembali". Yang dimaksudkan biasanya adalah kelahiran kembali budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno. Namun zaman sekarang hal ini bisa menyangkut segala hal.

Saya sendiri langsung terhenyak dengan tahun yang ada, yakni 1500, di mana ini berarti 1000 tahun setelah jaman nabi Muhammad SAW. Saya pernah mempunyai ide liar yang tentu banyak yang tidak setuju, bahwa sebagian besar yang tercantum dalam Kitab Wahyu adalah sudah terjadi. Kerajaan 1000 tahun juga sudah berlalu, dan tahun 1500 menjadi awal "lahir kembali" manusia. Apakah ini sebuah kebetulan? Atau hanya saya yang menggathuk-gathukkan saja padahal sama sekali tidak ada hubungannya? Sejak masa itu dimulai juga jaman imperialisme, penjajahan oleh sebuah bangsa atas bangsa lain.

Dalam kitab Wahyu 20:7 disebutkan "Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya." Wah, ini tentu sangat menarik sekali untuk dipelajari. Ini berarti, Iblis yang selama ini dipenjara, dilepaskan dan menurut kitab Wahyu 20:8 dikatakan "dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut." Menariknya adalah, Iblis yang disebutkan di sini tentunya adalah entiti yang sama yang dulu kalau perang, dan mereka adalah makhluk dari luar bumi.

Kita tahun, bahwa setelah tahun 1500 hingga kini, di planet bumi ini terjadi beberapa kali peperangan, termasuk dua kali perang dunia. Ada banyak peristiwa di bumi yang terjadi yang bisa dibandingkan dengan nubuat yang ada dalam Kitab Wahyu. Namun, tentu saja saya bisa salah. Saya hanya melihat bahwa fenomena makhluk luar angkasa yang dulunya pernah berkuasa di bumi ini, kemudian dipenjara setelah kalah perang, diberi tangguh hingga manusia "dibangkitkan" dan kemudian mulai berkuasa lagi hingga suatu saat akan mengalami penghancuran atau hukuman. Saya pikir, saat ini mereka sedang kejar-kejaran dengan waktu. Kalau memang mereka yang membuat kalender dan mencatat batas waktu akhirnya, maka bukankah wajar jika 21 Desember 2012 menjadi batas akhir nasib mereka ditentukan? Jika memang itu merupakan sebuah "kiamat", pertanyaannya adalah apakah kiamat itu adalah untuk mereka atau untuk manusia?

Lalu, apakah yang akan terjadi pada saat itu?

Persiapan Menghadapi 2012

Jika saya adalah berasal dari kelompok makhluk luar angkasa yang dulu kalah perang dan kini menghadapi penetuan akhir, pertanyaannya adalah apakah yang akan saya lakukan? Apa-apa saja yang harus saya persiapkan? Apakah saya akan menyerah begitu saja menerima "hukuman", atau saya akan berusaha mempersiapkan diri untuk membuat perlawanan akhir, dengan harapan siapa tahu bisa menang dan mengubah nasib? Namun, seperti diketahui. di antara kelompok ini telah terpecah-pecah. Seperti diungkapkan sebelumnya, ada kelompok yang "saleh" dan ada yang tidak.

Kini, sejak tahun 1500, mulai banyak medium yang menjadi perantara atau lebih sering dikenal dengan istilah channeling. Kita tahu yang terkenal adalah Nostradamus, dan apakah sebuah kebetulan kalau  lahirnya tanggal 14 Desember 1503? Nostradamus meninggal 2 Juli 1566 dalam umur 62 tahun. Apakah Nostradamus mendapat pengelihatan dan pesan-pesan dari makhluk luar angkasa yang telah dibebaskan dari "penjara"nya? Tentu pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan mudah dan memuaskan semua pihak.

Fenomena UFO mulai marak setelah perang dunia kedua. Ada informasi kalau pemerintah Jerman di masa PD2 telah menjalin kerja sama dengan mereka dan membuat pesawat Haunebu dan Vrill yang berbentuk seperti piring terbang. Kemudian ditengarai pemerintah Amerika Serikat juga menjalin kerja sama rahasia dengan alien. Yang menarik adalah kedatangan alien jenis grey yang nampaknya menjadi tamu tak diundang sekaligus memberi keuntungan strategis karena dapat diambilnya teknologi yang dimiliki oleh greys untuk kepentingan mereka. Apakah juga sebuah kebetulan jika di tahun 1980-an, pemerintahan Ronal Reagan mulai membangun persenjataan "star wars"? Menarik jika membaca pengakuan dari Dr. Carol Rosin yang pernah bekerja untuk Wernher Von Braun (pakar peroketan AS yang berasal dari Jerman yang kemudian bekerja untuk NASA) bahwa di tahun 1977 mereka telah membuat persenjataan luar angkasa untuk menghadapi ancaman aliens. (sumber: http://www.illuminati-news.com/ufos-and-aliens/html/carol_rosin.htm) Menjadi makin menarik juga saat mendengar pidato Ronald Reagan di sidang PBB tanggal 21 September 1987,  "I occasionally think how quickly our differences, worldwide, would vanish if we were facing an alien threat from outside this world."

Maka menjadi pertanyaan kembali, apa yang akan terjadi pada setelah 21 Desember 2012? Apakah kelahiran kembali umat manusia? Padahal bisa saja hal itu telah terjadi saat jaman Renaisans. Apakah ada peningkatan kesadaran baru? Apakah masa tangguh telah berakhir dan dimulainya proses hukuman? Jika semua ini dikaitkan, maka nampaknya ada upaya untuk melawan balik, upaya setidaknya mempertahankan diri dari kedatangan makhluk luar angkasa yang lain. Itulah yang membawa saya pada pemikiran, barangkali setelah kalender Maya berakhir, maka akan terjadi lagi peperangan di langit, semacam pertempuran penentuan. Tentu saja kitab-kitab suci telah menubuatkan kekalahan mereka. Namun bukankah tak ada salahnya untuk melawan, mencoba mengubah nasib, walau mungkin umat manusia sekali lagi akan mengalami penderitaan.

Di sini saya mencoba mengemukakan pandangan saya, kaitan antara 2012 dengan fenomena UFO. Apa yang saya kemukakan bisa saja salah karena tidak ada dasar ilmiahnya. Kaitan antara 2012 dengan pertemuran antar makhluk luar angkasa ini memang masih kabur, tidak semua bisa menerima penjelasan yang saya sampaikan. Alhasil, semua itu akan kembali kepada kita masing-masing. Apakah akan ada kiamat, tentu saja saya tidak tahu. Namun mungkin akan terjadi bencana di sana-sini. Akan ada penderitaan dan mungkin sekali akan terjadi sebuah perang besar. Mudah-mudahan saja tidak. Terburuk jika ide liar saya ini benar, maka terjadi perang bintang lagi. Semua ini tergantung dari apa yang kita percayai dan harapan apa yang kita inginkan terjadi... mari berharap yang terbaik bagi umat manusia...

A Baby Born in Space

By: Patty Currier
Payload Scientist NASA Kennedy Space Center, Cape Canaveral, FL. 
August 26, 1999

http://quest.arc.nasa.gov/people/journals/space/currier/08-26-99.html
 
I was recently contacted by Brandt Secosh who had received a question from Nur Agustinus, a student in Indonesia, regarding the birth of a baby in space (microgravity). I thought this was an interesting question that should be shared with all of the Space Team Online followers!
First, the question:

If a baby were born in space (microgravity) and grew up there, would it influence the structure of the bone or body? Would microgravity cause the muscles to be smaller than a child growing up normally on Earth?

graphic showing iss and a babyI work with a lot of students here at Kennedy Space Center, but before I started doing this, I worked in a bone lab. So I think I can help you with your question.
This is for a lady who is going to have a baby as soon as she gets in space. Things will be more complicated if the fetus develops in space and is then born, so I'm not going to try to answer that one yet.

If a pregnant woman flies in space and gives birth almost right away, the baby will be born pretty normal because it will develop in the womb very normally at Earth's gravity. What happens then is very interesting.

The bone cells are programmed to grow--they don't stop until you are a teenager or so. But it is gravity as a stress that makes the cells in the bones have the right alignment, or stack up properly and pull the bone so that it forms straight. Without gravity, the baby's bones won't get long and thin like adult bone. They will be very easy to break, and they won't grow as fast. This is true for arms and legs. 

The bones at the top of the baby's head will actually grow thicker and stronger than on Earth. This is because your heart does not have to work so hard to move blood and other fluid from your feet to your upper body because there is no gravity. What happens is that the heart still pulls on the fluid in the legs, which now comes out much more easily. This causes the upper body to have more fluid and more pressure, which causes stress. Stress is always what makes bone grow and change. So, more pressure, more growth in the skull.
The bones in the hands will probably be normal because the baby/child/adult will use his hands just like on Earth. The feet will probably not grow much because they don't get the stress from having the weight of your whole body on them--no stress, not much growth. Ribs are interesting. Ribs protect your lungs and give support to your body so they don't collapse. They would probably be okay, but develop thinner than on Earth, so they wouldn't be nearly as strong. The spine is really going to be affected. The gravity won't push / pull down on you, so the vertebrae don't feel the stress, so they won't grow. But they will get stress from the spinal cord as it grows and pushes out. So you would probably end up with thinner, very easily crushed vertebrae.

Muscles work the same way. They need stress to grow and develop. Gravity is a stress force that pulls in one direction causing the muscle to develop in the right shape. So, if it is a muscle that won't be used much (say, the muscles that move your feet), they won't grow nearly as strong. Some muscles will be almost the same, such as your hand muscles. They aren't much affected by gravity--they are more affected by how the other muscles in your hands contract and release. They are stressed independently of gravity. Other muscles, like your heart, will be different. Your heart won't have to work as hard because there is no gravity to make blood circulation difficult. This takes a while to happen though. With a baby just born, probably the heart will never develop nearly as strong as a baby on Earth will. 

Muscles and bones work together. The muscles are attached to bone, and they are very tightly connected. If you exercise a muscle, it pulls on the bone and causes a pulling stress. This helps the bone grow stronger in that area. This is why kids are told to play around outside when they are young--their bones grow very fast and if the child does a lot of exercise, the muscles get strong, making the bone very strong. 

So, a baby born in space is going to have pretty strange and weak bones in most parts of their body. This shouldn't affect them too much if they spend their whole life in space, but they will be in a lot of trouble if they come back to Earth. Their leg and feet bones will be too weak to hold them, the spine will probably crush under its own weight. The heart muscle will not be strong enough to pump blood around the whole body because of gravity pulling the blood down, and leg muscles will be too weak for you to stand. Basically, your bones and muscles will be much too heavy to support, and you will fall down in a big heap and die - (unless the mother is very insistent and special equipment is made so the baby can exercise muscles and bones to make them similar to the ones on Earth -but you still have heart and other things...).

But if you are a baby born in space and someone drops you on your head when you return to Earth, your skull will be nice and thick.

Isn't bone a really neat thing?

Membayar hutang budi

Waktu lulus dari program MBA, saya diajak teman-teman satu kelas di MBA itu untuk bikin usaha (sampai sudah ke notaris untuk bikin akte). Saya mau aja, tapi saya bilang, saya tidak punya uang namun saya yang akan kerja. Jadi, saya punya semacam saham kosong. Tapi teman yang lain tidak setuju, saya tetap harus nyetor duit. Nah, ada teman sekelas saya yang lain (yang tidak ikut dalam join itu), namanya pak Susanto, mau membantu saya dengan meminjamkan uang rp 1 juta kepada saya. Eh, tidak tahu kenapa, tiba-tiba teman-teman saya itu (lupa jumlahnya berapa, mungkin sekitar 6 orang), membatalkan niat kerja sama itu sehingga saya dipanggil lagi untuk datang ke notaris dalam rangka pembubaran badan usaha. Jadi, uangnya yang sudah terlanjur saya pinjam 1 juta itu akhirnya terpakai buat nambah modal untuk usaha sendiri, yaitu yang membuka sebuah biro psikologi. Saya sempat hanya mencicil 100 rb kepada teman saya dan berjanji akan membayar sisanya secara mencicil juga. Jadi, saya masih punya utang rp 900.000,-

Waktu berjalan berlalu, bertahun-tahun, saya tidak berjumpa dengan teman saya. Kurs mata uang sudah berubah. Nilai sejuta saat itu sudah berbeda dengan sekarang. Saya sempat berpikir, saya ingin mengembalikan uang dengan nilai kurs dolar yang disesuaikan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan dia lagi saat kuliah S2 (dia malah kuliah S3). Waktu itu sempat menyapa. Pertemuan berikutnya yang tidak sengaja adalah saat di toko buku, dan saya bilang kalau saya masih punya utang kepadanya. Ternyata dia sudah lupa dan saya ingatkan detailnya lagi. Katanya, "ah sudahlah, nggak perlu dipikirin, sudah aku anggap lunas." Jadi lega...hilang beban yang saya bawa selama sepuluh tahun lebih... Saya hanya bisa membalas kebaikan itu dengan berusaha membantu orang lain yang memerlukan. Sebelumnya, waktu kuliah MBA itu juga dibayari oleh teman ayah saya yang nilainya juga sekitar 10 jutaan.

Saya teringat akan petuah paman saya. Saya pernah bertanya, “Bagaimana cara seorang anak membalas orangtuanya?” Beliau menjawab, "Balaslah dengan cara merawat dan mendidik anakmu dengan sebaik-baiknya." Budi baik seseorang hanya bisa dibayar dengan cara memberi kebaikan kepada orang yang lain lagi.
(nur agustinus - 27 Februari 2009)

Perilaku utang

Dulu waktu kuliah S2, sempat soal pinjam meminjam uang ini mau aku jadikan topik penelitian untuk menulis thesis namun tidak jadi.

Di budaya jawa, memang orang kalau sudah meminta pinjam uang dan ditolak, rasa malunya besar sekali dan itu berubah jadi marah. Lah, mau pinjam uang, ditolak, malah marah... lucu bukan... Tapi itulah yang terjadi.

Kita juga sulit menolak dengan alasan tidak ada uang, orang tidak akan percaya.

Di sisi lain, orang yang pinjam uang, kalaupun dia dapat rejeki berlebih, maka prioritas membayar utang adalah yang terakhir.

Sebenarnya ada dua tipe pengutang, pertama yang ingin segera utangnya lunas, ini biasanya jarang utang dan kalau utang biasanya kalau terdesak saja. Kalau dia punya rejeki lebih, maka dia akan segera membayar. Utang akan membuatnya susah tidur.

Tipe yang lain, dia nyaman dengan utang, kalaupun ada rejeki lebih, dia tetap akan membayar sesuai dengan aturan, malah kalau bisa dijadwal ulang, akan diperpanjang. Tak jarang mereka akhirnya gali lubang tutup lubang.
(nur agustinus - 24 Februari 2009)

Apa manfaat psikologi?

Saya teringat ucapan dosen saya waktu saya kuliah dulu. Nama dosen saya adalah pak Ino Yuwono. Beliau mengatakan, psikologi itu adalah ibarat kembangan sebuah ban. Maksud "kembangan ban" itu adalah kalau sebuah ban itu gundul, maka mobil atau kendaraan yang berjalan akan bisa saja jalan, tapi keselamatannya bisa berbahaya. Bukan berarti tanpa "kembangan ban" pasti kecelakaan, namun kalau kita naik mobil yang bannya masih bagus, maka kita bisa lebih selamat.

Di sisi lain, sebenarnya mau tidak mau harus diakui bahwa psikologi banyak memberi manfaat dan membawa dampak yang sangat siginifikan bagi perkembangan budaya dan kualitas hidup manusia. Tentu saja, ibarat koin uang, psikologi bisa punya dua sisi yang berbeda, tergantung mau dipakai buat apa. Misalnya saja, dengan psikologi diketahui bahwa ada dampak tayangan televisi pada seseorang, sehingga itu bisa mengerem tayangan-tayangan yang sangat sadis tidak muncul di tv. Atau, perubahan pola asuh anak, proses belajar, juga karena sumbangan dari psikologi.

Ada banyak rumah tangga yang tidak jadi bercerai, atau mungkin akhirnya bercerai namun secara baik-baik, itu juga bisa karena bantuan dari psikolog. Walau tidak menutup kemungkinan, ada psikolog yang secara tak sengaja (atau mungkin sengaja) membuat kesalahan dalam penanganan sehingga hasilnya menjadi buruk.

Banyak perusahaan yang kemudian melakukan seleksi saat menerima pegawainya dengan bantuan dari psikologi. Walau karena ini pula, ada orang yang kemudian ciut nyalinya kalau mesti mengikuti psikotes. Atau kemudian sering merasa gagal dalam proses seleksi yang satu itu. Namun proses seleksi ini sudah ada sejak jaman bahuela. Kalau pernah baca di kitabnya orang kristen yang disebut bibel itu, di kitab Hakim-Hakim 4, saat itu Gideon jadi pemimpin bangsa Israel yang mau menggempur bangsa Midian dan Amalek, ada cerita bahwa Gideon menyaring tentaranya untuk dipilih mana yang bakal maju ke medan perang dan mana yang tidak. Caranya agak aneh dan tidak pernah dipakai dalam ilmu psikologi maupun strategi militer Sun Tzu, yakni Gideon menyuruh rakyatnya turun minum air ke sungai dan memilih serta memisahkan antara yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat dengan orang yang berlutut untuk minum. waktu itu, jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Yang dipilih maju perang adalah yang minum dengan cara menghirup pakai tangan.

Kalau dipikir.... apa kira-kira ada penjelasan ilmiahnya? Tapi ini barangkali merupakan sebuah "tes psikologi" paling awal yang tercatat dalam sebuah buku.
(nur agustinus - 14 Maret 2007)

Apa gunanya hukuman?

Soal hubungan antara penjahat dengan hukuman, memang sepertinya kuat atau lemahnya hukuman tidak mempengaruhi banyak atau sedikitnya penjahat. Namun apa sih gunanya hukuman itu?

Kita coba bicara pada lingkup yang lebih sederhana, yaitu pada anak-anak. Ketika seorang anak sekolah melakukan pelanggaran, misalnya mencontek, dan hal itu diketahui oleh sang guru, maka dia akan mendapatkan hukuman. Apakah dengan adanya guru yang sangat tegas dan hukuman yang sangat berat akan membuat si tukang contek jera? Belum tentu. Barangkali si tukang contek akan terus menerus berpikir secara kreatif, bagaimana mengembangkan ilmu mencontek yang tidka ketahuan oleh gurunya. Namun, hukuman itu cukup efektif untuk mencegah anak lain yang bukan tukang contek untuk kemudian mencontek.

Ah, mungkin ada yang protes. Anak yang tidak suka mencontek, dia tetap tidak akan mencontek meski tidak ada hukuman. Bahkan tak ada guru yang mengawasipun, dia tetap tidak akan mencontek.

Ya, ini bisa benar. Hukuman ternyata tidak mempunyai makna apa-apa bagi mereka yang jujur. Dengan kata lain, ada hukuman atau tidak, dia tetap tidak akan mencontek.

Lalu, di mana fungsinya hukuman? Apakah hukuman hanya sekedar bentuk menunjukkan power dari pemberi hukuman kepada yang terhukum?

Bagi penjahat, fungsi hukuman bisa tidak hanya dengan harapan supaya dia jera, tapi selama dia dalam penjaranya, maka dia tidak akan melakukan tindak kriminalnya. Maka, hukuman paling efektif bagi siswa yang suka mencontek adalah menempatkannya duduk di paling depan yang sangat ketat pengawasannya. Dengan kata lain, fungsi hukuman bukan mengubah kebiasaan pelakunya, namun meniadakan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan perbuatannya itu.

Kita tentu pernah dihukum, mungkin oleh orangtua, oleh guru, atau bahkan oleh atasan maupun orang lain. Hukuman dibuat tidak menyenangkan karena secara teori dan secara akal sehat, mestinya, hal yang tidak menyenangkan cenderung untuk tidak diulang.

Ada yang mengatakan bahwa fungsi hukuman adalah untuk mencegah orang lain untuk melakukan perbuatan serupa. Di sini, diharapkan orang belajar melakukan melihat pengalaman orang lain yang melanggar aturan. Ini bisa efektif, terutama bagi yang 'bawaan'nya penakut dan punya kecenderungan untuk patuh (tingkat konformnya tinggi). Tapi tidak untuk mereka yang termasuk tipe pemberontak.

Dalam sebuah tayangan discovery health (discovery channel) tentang anak-anak yang memiliki gangguan perhatian yang disertai hiperaktif (ADHD), ternyata banyak penjahat yang kambuhan serta cenderung psikopat, mempunyai kecenderungan ADHD. Mereka pemarah, mudah kehilangan kontrol atas dirinya dan sangat agresif. Sebagian mungkin justru pendiam, pintar namun menggunakan kepintarannya untuk mencari celah-celah untuk menipu. Meski kita membaca bahwa ada banyak hacker yang ditangkap dan dihukum berat, namun hacker-hacker baru tetap bermunculan.

Kesimpulannya menurut saya, fungsi hukuman bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang untuk supaya dia jera, ada yang untuk supaya dia tidak melakukan apa yang dipikirkannya, atau agar dia tidak punya kebebasan untuk melakukan tindakannya.

Adalah menarik jika kita belajar dari perancis, dengan legiun tentara asingnya, di mana mereka memberi kesempatan kepada para kriminal dan penjahat untuk menjadi tentara yang dikirim ke medan perang dan kalau mereka selamat dan melaksanakan tugasnya dengan baik, maka kebebasan akan menanti dirinya. Dalam banyak hal, sepertinya ini cukup efektif.
(nur agustinus - 11 Januari 2007)

Mempelajari filsafat

Dulu waktu saya kuliah di S1, saya beruntung diajar oleh seorang dosen filsafat yang menurut saya piawai, yakni pak Poerwadi (alm). Namun, kalau boleh saya bilang, sepertinya yang paling suka pelajaran filsafat waktu itu cuma saya seorang di antara sekitar seratusan mahasiswa yang ada bersama di kelas.

Tentu saya tidak akan menguraikan di sini apa itu filsafat. Anda mungkin sudah jenuh dengan mata kuliah yang menurut Anda tidak bermanfaat ini. Namun, kalau kita belajar sejarah psikologi, maka psikologi di awali melalui tokoh-tokoh filsafat yang membahas manusia. Filsafat juga mempelajari yang namanya filsafat logika, filsafat manusia dan juga filsafat ilmu. Hal mana yang penting menurut saya buat siapa saja, tidak terkecuali mahasiswa yang kuliah di psikologi.

Saya jadi teringat waktu saya kuliah dulu, saat belajar filsafat logika, ada banyak mahasiswa yang bingung soal silogisme, pemikiran deduktif dan induktif serta kesalahan-kesalahan logika. Padahal, sepertinya hal itu mudah-mudah saja. Orang sudah merasa sesuatu yang disebut "filsafat" itu sulit sehingga sudah ada hambatan.

Pak Poerwadi mengajarkan mahasiswanya tidak dengan mengharuskan membaca textbook filsafat yang tebal dan sulit dipahami. Namun dia menyuruh mahasiswanya membuat ringkasan buku, seperti buku novel "Anak Bajang Menggiring Angin", "Pengakuan Pariyem" dan sejenisnya. Melalui karya-karya seperti itu, beliau mengajak mahasiswanya untuk memahami, apa itu manusia.

Filsafat memang sepertinya momok, tapi sebenarnya tidak harus begitu. Belajar filsafat juga tidak membuat orang menjadi atheis. Seseorang seperti Jalaluddin Rumi juga bisa dikategorikan sebagai filsuf. Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana".

Belakangan, ketika saya kuliah S2, saya baru mendapatkan pencerahan bahwa tidak semua orang suka filsafat. Hal ini barangkali berkaitan dengan tipe kepribadian, dan saya melihatnya melalui tipe kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) yang dasarnya adalah tipe kepribadian menurut Carl G. Jung.

Pembagian dikotomi MBTI adalah sebagai berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator
Extraversion (E) >< Introversion (I)
Sensing (S) >< iNtuition (N)
Thinking (T) >< Feeling (F)
Judging (J) >< Perceiving (P)

Menurut dosen saya di S2, Prof. Dr. M. As'ad Djalali, SU., yang saat itu mengajar Filsafat Ilmu, saat saya bertanya apakah ada ciri tertentu seseorang itu suka berfilsafat, beliau menjawab barangkali hal itu berkaitan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung introversion (introvert), intuition (intuisi), Thinking (pemikir) dan Perceiving (pengamat) atau INTP. Walau ini tidak mutlak, namun ada kecenderungan seperti itu, sebab orang yang mau menyendiri dan merenung untuk berpikir (bukan melamun), biasanya adalah orang yang introvert + intuisi + pemikir. Seseorang yang "Perceiving" (pengamat) lebih mudah untuk menggali lebih jauh pada esensi ketimbang seorang judging (penilai) yang cenderung menentukan dan memberi label (memvonis).

Berdasarkan hal itu, saya jadi paham, mengapa tidak semua orang suka atau bisa diajak berfilsafat. Lebih jauh lagi, mahasiswa yang suka filsafat, sering dianggap "nerd" oleh teman-temannya... Beruntung saya tidak dianggap begitu saat itu...
(nur agustinus - 10 September 2008)

Menjadi bahagia

Orang bilang, kalau kebutuhan kita terpenuhi, maka kita akan bahagia. Namun, kebutuhan manusia terus menerus berubah. Dengan kata lain, manusia nampaknya tidak bisa dalam keadaan terus menerus bahagia.

Nampaknya ada teori yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:

Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.

Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.

Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.

Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.

Sophocles: Success is dependent on effort.

http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html

dan masih banyak lagi lainnya.... dan dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.

Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsangn agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.

Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia.

Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "seven spiritual laws of success". Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?

apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation."

Bahkan Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what
you think, what you say, and what you do are in harmony
."
http://www.thehappyguy.com/definition-of-happiness.html
(nur agustinus - 10 Januari 2007)

Budaya berontak

Kalau melihat sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, sepertinya kejatuhan seorang pemimpin dikarenakan adanya kudeta atau suksesi dari bapak ke anaknya. Boleh dibilang hampir tidak ada cerita rakyat berontak. Kenapa? Barangkali ini karena masalah kasta yang telah ditanamkan sejak agama Hindu menjadi agama yang populer di Nusantara dulu. Boro-boro rakyat jelata mau jadi bangsawan. Tentu bagai mimpi seorang petani bisa jadi presiden.

Yang terjadi adalah, sebuah kerajaan hancur karena serbuan kerajaan lain. Bahkan Majapahit hancur karena serbuah dari Demak yang dimotori oleh anak raja Majapahit itu sendiri. Kudeta versi militer terjadi saat Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Namun Tunggul Ametung bukan raja, melainkan hanya penguasa Tumapel, di bawah kekuasaan raja Kediri, Kertajaya. Baru kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari dan berusaha menyerbu Kediri.

Oleh karena itu, tidak mudah rakyat Indonesia berontak. Mungkin yang bisa berontak hanya dari kalangan militer saja. Seperti misalnya peristiwa september 1965 dan juga di masanya Habibie jadi presiden, disinyalir ada upaya kudeta oleh sekelompok petinggi militer. Namun biasanya yang muncul adalah orang yang pandai mengambil peluang di tengah kekacauan. Aksi pemberontakan di Indonesia sebenarnya banyak juga.

Orang Indonesia tidak mudah disuruh untuk berontak, apalagi terhadap penguasa. Kecuali kalau dirinya secara langsung terkena imbasnya. Misalnya, konon pangeran Diponegoro berontak kepada belanda karena belanda membuat jalan baru yang akan dibangun melewati makam dan tanah leluhur Diponegoro. Hal itu membuat Diponegoro tersinggung.

Kalau berontak terhadap atasan, itu bisa saja. Bahkan berontak kepada pimpinan perusahaan juga tidak masalah. Berontak kepada raja itu lain cerita. Memang, semenjak tahun 1998, orang Indonesia lebih berani untuk berontak. Terbukti sudah berhasil membuat soeharto turun dari tahtanya. Bukan cuma itu, seorang Gus Dur juga berhasil dicopot dengan konsitusional. Bahkan kalau boleh dibilang, Indonesia merdeka tanpa berontak, namun saat mempertahankannya memang dibutuhkan pengorbanan banyak nyawa.

Untuk berontak butuh pemimpin. Sebab hanya pemimpin yang mampu membuat perubahan, sebab dia harusnya punya visi dan misi yang ingin dicapainya. Seperti di film Braveheart, bagaimana William Wallace (Mel Gibson) memimpin orang-orang skotland terhadap Inggris.

Dalam situasi yang tidak menyenangkan atau kacau, selalu saja akan ada orang yang memilih tinggal diam, tapi ada juga yang mungkin melakukan perubahan dan pemberontakan. Di sisi lain, ada juga yang memilih pindah ke tempat lain yang dirasa lebih nyaman. Ada yang menjadi pengungsi, ada juga yang menjadi imigran di negara lain.
(nur agustinus - 16 Februari 2007)

Mindset & The Secret

Seandainya ada orang yang menawari saya untuk ikutan seminar atau workshop LoA (Law of Attraction), jelas saya juga tidak akan mau ikut. Lha training NLP (Neuro-linguistic programming) saja saya malas ikut . Saya tertarik karena saya lihat videonya The Secret. Mungkin seperti banyak orang bilang kalau itu benar sebab bukti ilmiahnya tidak ada atau lemah. Oleh karenanya, itu cuma masalah masuk akal atau tidak. Buat saya, itu masuk akal, sementara buat orang lain tidak.

Kemarin juga waktu ke toko buku, saya bertemu dengan seorang spiritualis. Dia sudah tua sekali tapi suka ke toko buku dan saya tanya ke beliau soal "The Secret". Dia ketawa dan bilang bahwa penjelasannya tidak lengkap dan tidak dibuka semua. Memang, kuncinya ada pada diri kita sendiri dan cara aplikasinya tidak diuraikan secara gamblang, terlebih memang harus ada unsur keyakinan, sementara keyakinan ini bisa berubah dan tidak sama antara satu orang dengan yang lain. Beliau bilang, baca saja bukunya Deepak Chopra dan terapkan The Seven Spiritual Laws of Success". Kalau sudah mempraktekkan itu, maka sudah sakti katanya. Terus saya dianjurkan juga untuk baca bukunya Deepak Chopra yang berjudul "Kitab Rahasia" dan buku "Boundless Healing" karangan Tulku Thondup.

Memang, saya sudah puas dengan keadaan saya seperti sekarang ini. Namun saya ingin hidup saya tidak cuma begini-begini saja. Apalagi, banyak orang kalau bertemu dengan saya mengatakan bahwa saya seharusnya bisa lebih dari sekedar sekarang. Kita bukan cuma hidup dengan mengikuti aliran air. Tapi kita harus melakukan pilihan untuk memilih aliran air yang benar. Tentu saja, kita tidak pernah tahu aliran mana yang benar. Seperti contoh, apakah si A adalah jodoh yang tepat buat menjadi pasangan saya? Apakah usaha ini merupakan pilihan tepat untuk diri saya? Tidak akan ada yang tahu sebelum dicoba. Tapi, beberapa orang tidak ingin mencoba karena khawatir menghabiskan banyak waktu, biaya dan tenaga.

Saya pikir, tidak ada yang salah dengan berpikir secara positif dan menset pikiran kita dengan perasaan yang baik di setiap hari. Sebab, seringkali kalau di pagi hari kita sudah bad mood, maka seharian bisa banyak masalah. Dan kita bisa memilih, apakah kita mau menjadi donald bebek atau si untung.

Saya juga berprinsip bahwa saya tidak perlu ngoyo, rejeki akan datang tanpa perlu dikejar. Saya juga sudah puas dengan keadaan saya sekarang ini. Tapi.... jika saya tidak menset pikiran saya misalnya saya akan menjadi seorang doktor, maka saya tidak akan pernah untuk kuliah di program S3. Apalagi kalau setiap saat saya mau mendaftar saya lantas kepikiran dengan biayanya.... Jadi saya pikir, kalau memang itu yang ingin saya capai, maka saya harus optimis dan yakin bahwa saya bisa melakukannya. Uang dan waktu akan tersedia dengan sendirinya mengikuti keoptimisan saya. Dan betul sekali, bahwa ini tidak ada bukti ilmiahnya, tapi saya yakin ini bukan mistik atau klenik. Itu cuma masalah sugesti diri sendiri dan keberuntungan akan menyertai kita.

Semuanya itu pada awalnya adalah keinginan atau niat. Jika niat ada, maka akan dicari-cari kesempatan untuk mewujudkan niat itu. Namun meski ada kesempatan atau peluang, tapi niat tidak ada, maka kita tidak akan berusaha apa-apa. Niat itulah yang ditanamkan dalam pikiran kita dan alam semesta, whatever istilahnya, akan menyertai apa yang kita inginkan.
(nur agustinus - 5 Nopember 2007)

Cantik itu konstruksi sosial

Saya pernah lihat sebuah film dokumenter, tentang apa sih kriteria "cantik" itu? Kita sering beranggapan bahwa cowo bule senang dengan cewek indonesia yang di bawah standard itu lebih karena mereka memilih yang hitam. Apakah hitam itu berkonotasi substandard? Ya, itulah yang terjadi di Indonesia. Karena konstruksi sosial, putih dianggap lebih baik dari hitam. Itu sebabnya produk pemutih laku di indonesia.

Coba lihat, apa komentar orang yang misalnya cewe indonesia yang kuning/putih kawin dengan cowo dari daerah timur seperti Flores atau Ambon bahkan Papua. Trus, mengapa si cewe mau?

Kembali ke soal kriteria "cantik", menurut film yang pernah saya lihat itu, kritetria cantik adalah kriteria simetris. Yang simetris itu adalah yang cantik. Bro Santo mungkin pernah lihat film ini . Kalau tidak salah serial BBC. Yang tidak simetris, seperti misalnya mulut mencong, mata kiri dan kanan beda jauh, pipi yang kiri tembem sementara yang kanan kempot, tentu kurang sedang dipandang mata. Manusia terbiasa dengan simetris. Kaki lengkap kiri dan kanan sama panjang, demikian juga tangan. Telinga di kiri kanan juga ada sama. Kalau misalnya telinganya satu lebih besar dari yang lain, mungkin akan mengurangi nilai kecantikannya (baik cewek maupun cowok). Tapi kalaupun besar namun simetris, akan tetap nampak indah dan menarik.

Cewek indonesia yang disukai bule, walau dianggap substandard karena hitam, tetap memiliki sisi simetris yang baik alias tetap bisa dianggap cantik.

Walau demikian, ada titik-titik tertentu yang tidak simetris yang bisa menambah daya tarik, misalnya tahi lalat di dekat mulut. Kalau simetris mungkin tambah nggak menarik. :-) Demikian pula gigi yang biasanya tidak rata (agak masuk di bagian belakang taring gara-gara desakan gigi bungsu), bisa menambah daya tarik kalau pas senyum. Simetris lebih pada bentuk wajah dan badan.

Saya pikir semua itu bisa dikembalikan kepada masalah seksualitas. Bahwa faktor seksualitas dipengaruhi oleh konstruksi sosial, itu memang tidak dipungkiri. Namun ada upaya dekonstruksi masalah seksualitas ini.

Di sini kita sering terperangkap dengan pandangan bahwa cowo bule itu memang "hebat" dan punya "derajat" sementara cewe yang substandard ini dianggap "rendah" sering dianggap sebagai "pelacur" atau "pembantu".

Memang, hubungan beda ras bisa dianggap sebagai "bad sex" (menurut Gale S Rubin). Sehari-hari ini juga terjadi, misalnya ketika pasangan suami istri beda suku (yang satu keturunan cina, sementara yang satu orang jawa), maka misalnya si cowo yang cina, akan dianggap istrinya itu pembantunya, dan kalau yang cewe yang cina, maka diangggap suaminya adalah sopirnya. Masyarakat (hampir di mana-mana) seringkali memang rasis (lihat juga sebuah film dokumenter, kalau tidak salah dari National Geography, BBC atau Discovery Channel). Mungkin itu juga membuat kita "heran" dan bertanya-tanya, mengapa cowok bule demen cewek indonesia yang substandard.
(nur agustinus - 5 Agustus 2007)

Smackdown


Smackdown menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini tidak terlepas dari satu korban yang telah meninggal yang kemudian disusul dengan munculnya korban lain dengan luka-luka di tubuhnya. Semua itu diekspos di televisi, radio dan surat kabar.

Lalu, mengapa baru sekarang? Apa karena memang ada korban?

Mengapa juga Lativi?

Saya coba bahas dari sudut yang agak melebar, terutama mengapa Lativi. Ini bukan karena pertimbangan politik alias Lativi itu milik siapa, namun sebenarnya dari potitioning market yang dibuat oleh Lativi beberapa waktu lalu.

Tidak dipungkiri bahwa Lativi adalah channel tv yang disukai anak-anak. Dengan semboyan Lativi-Kid serta tayangan hebohnya beberapa tahun lalu yakni SpongeBob, membuktikan bahwa Lativi berhasil memikat anak-anak di Indonesia. Belum lagi serial kartunnya yang lain, entah Johny Neutron, Rutgrats, dan lain-lain.

Maka, tak heran, termasuk anak saya, lebih suka memilih channel Lativi ketika sekeluarga menyalakan televisi. Ini merupakan keberhasilan Lativi memikat anak-anak. Namun, sebagaimana pertelevisian di indonesia, seringkali tidak melakukan hal itu terus menerus dan fokus. Artinya, program-program tv yang dulunya milik Lativi Kid (umumnya dari Nikleodeon) kini sudah pindah tayang ke stasiun tv lain. Tapi anak-anak masih teringat akan Lativi.

Bahwa kemudian Lativi menayangkan acara smackdown, itu juga barangkali tidak lepas dari kebiasaan mereka untuk memilih channel Lativi. Dengan kata lain, apa banyak anak-anak yang memilih channel metro tv (misalnya)?

Di masa kini, televisi bukan lagi barang mewah. Beberapa keluarga sudah menyediakan perangkat televisi plus vcd atau dvd player di kamar tidur anaknya. Anak saya juga senang melihat acara smackdown. Bahkan dengan saudara sepupunya, mereka punya tokoh kegemaran. Apalagi salah satunya, kini main film The Marine (John Cena). Popularitas para pemain smackdown sudah lama dan kini makin hebat. Kalau di masa lalu (beberapa tahun lalu), The Rock (WWC) menjadi idola, kini sudah beralhir ke selebriti-selebriti smackdown yang lain. Acara smackdown juga diikuti dengan permainan-permainan playstation dan sejenisnya. Bahkan minggu lalu, salah melihat di department store Matahari Surabaya, di bagian mainan anak-anak, ada sebuah smackdown yang disinya beberapa pegulat smackdown, plus ring dengan sejumlah perangkat seperti tangga, kursi dan lain-lain yang dikemas seperti mainan tentara-tentaraan. harganya sekitar 59 ribu. Anak saya awalnya tertarik, tapi kemudian tidak, karena dia lebih suka membeli hotwheels.

Foto-foto selebriti smackdown juga dijual di banyak pedagang asongan dekat sekolah, toko-toko kelontong dan menjamur. Itulah hebatnya kapitalisme. Kaos-kaos bergambar smackdown juga laris manis. VCD-VCD atau bahkan DVD serial smackdown juga banyak dijual... dan laku!

Yang jadi pertanyaan, mengapa tayangan yang lebih bersifat ilmiah macam animal planet, discovery channel, national geography, lebih membosankan ketimbang acara hiburan kekerasan? Mungkin jawabannya adalah karena anak-anak indonesia tidak terbiasa dididik dalam keluarga secara science. Mereka kurang memiliki jiwa sebagai seorang ilmuwan. Dalam psikologi, mereka bukan tipe "knowledge".

Anak laki-laki, khususnya, sangat besar kemungkinannya menyukai tayangan ala smackdown ini. Mengapa? Hal ini karena acara itu mempertontonkan keperkasaan, kehebatan. Hal yang bisa jadi menjadi self image dari anak-anak indonesia yang masih butuh akan pengakuan dan harga diri. Berdasarkan hal ini, memang acara smackdown ini jelas berpeluang ditiru ketimbang acara kekerasan serupa yang ada dalam film seri Tom and Jerry atau Buser sekalipun.
(nur agustinus- 2 Desember 2006)

Gampang depresi karena genetik?

Saya melihat VCD yang dikeluarkan BBC seri Horizon dengan judul Designer Babies (dijual di toko vcd original), salah satunya mengemukakan tentang gen yang menentukan kepribadian manusia. Ada sebuah gen, yang jika ukurannya tertentu, maka membuat orangnya jadi pesimis, sementara kalau ukurannya berbeda, membuat orangnya optimis.
http://www.bbc.co.uk/science/horizon/1999/designer_babies_script.shtml

Secara umum, kalau dikatakan secara genetik mudah depresi, memang dirinya rentan terhadap masalah/stress. Namun walau dia orang yang secara genetik "kuat", sementara stress yang datang bertubi-tubi dan besar, maka bisa saja dia menjadi depresi.

Ketika saya kuliah MBA dulu, saya diajarkan matrix yang berkaitan dengan high risk high gain, serta no pain no gain, yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam merespon serta menghadapi stress atau masalah.

Teorinya begini: Masalah bisa dibagi dalam dua kategori, pertama adalah banyaknya (kuantitas) masalah, dan kedua adalah beratnya (kualitas) masalah. Dengan demikian, kita bisa membagi dari segi kuantitas ada dua (mau dibagi tiga juga boleh), yakni sedikit masalah dan banyak masalah. Dari segi beratnya, kita bisa membagi dua juga, yaitu masalah ringan dan masalahnya berat.

Nah, dengan demikian ada empat kategori, yaitu orang yang mampu dan suka menghadapi:
1. masalah sedikit dan yang ringan-ringan saja.
2. masalah berat/rumit namun jumlahnya sedikit saja
3. masalah banyak namun yang ringan-ringan saja
4. masalah berat/rumit dan dengan jumlah yang banyak.

Nah, dari segi "no pain no gain", maka yang nomor 4 harusnya menjanjikan hasil yang banyak.

Memang, setiap orang ingin hasil yang sebanyak-banyaknya. Namun banyak orang yang "salah tempat" karena ketika dia masuk ke daerah matrix yang tidak sesuai dengan kemampuan "mental"-nya, maka dia akan mengalami stress. Jika orang salah masuk tempat yang di bawah kemampuannya, maka dia juga akan merasa jenus. Seperti dalam grafik hubungan antara stress dan produktivitas, maka kalau stress terlalu rendah atau terlalu tinggi, maka produktivitas menurun.

Depresi berat bisa terjadi karena genetik karena memang dari sononya dia tidak bisa menghadapi masalah yang berat dan banyak. Namun ada juga yang karena faktor lingkungan. Ini tergantung dari ketahanan mentalnya. Sebagai contoh, ada orang yang rumahnya habis (seluruh hartanya habis) misalnya karena bencana, masih tenang dan menerima cobaan dengan tawakal, namun ada yang kemudian depresi berat.

Banyak orang mengatakan bahwa agama merupakan solusi. Sebab ketika orang mengalami tekanan, biasanya ingat om Han (kecuali kalau dia memang tidak percaya adanya tuhan). Di sini menjadi pertanyaan atau perlu dilakukan studi, apakah orang yang rentan terhadap masalah (secara genetik) bisa ditingkatkan dengan pengimanan terhadap agama?

Lalu, jika depresinya karena faktor genetik, apakah masih bisa diterapi? Maka jawabnya bisa diterapi. Dengan kehadiran teman, konselor, pendamping, obat, gejala depresinya bisa diringankan. Trus kalau ditanya, apakah bisa diubah? Jawabnya: ya dan tidak. Ya, karena dengan obat tertentu membuat otaknya menghasilkan neurotransmiter tertentu yang membuat orang gembira sehingga tidak depresi. Tidak, karena secara genetik yang tidak berubah. Itulah hebatnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bukankah ada yang mengatakan, "Tuhan tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan kita..."
(nur agustinus - 8 Oktober 2006)

Dimarahi ayah

Ayah saya bukan tipe yang suka marah, tapi bukan berarti saya tidak pernah dimarahi. Mungkin karena jarang marah, saya ingat peristiwa-peristiwa di mana saya dimarahi. Berikut adalah beberapa kejadian yang saya ingat. Saya mau bercerita, sekaligus dalam rangka supaya nostalgia ini tidak lupa dan hilang begitu. Orang mungkin mengatakan, mengapa mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan. Bukan itu tujuannya, namun saya mencoba menulisnya dalam rangka mengenang masa lalu. Saya sendiri semasa kecil, tidak pernah dipukul oleh orang tua.

Pertama saya berbohong. Waktu itu di kelas saya diberi tahu bahwa pada tanggal sekian akan libur sebab guru-guru ada acara. Tapi beberapa hari kemudian ada pengumuman bahwa acara guru-guru itu dibatalkan sehingga tidak jadi libur. Saya yang sudah bilang ke orang tua bahwa hari itu libur tidak mengatakan bahwa sebenarnya masuk. Jadi saya membolos. Lah karena rumah saya dekat dengan sekolah, maka saat itu terlihatlah bahwa ada banyak anak-anak pulang sekolah dengan seragam yang khas. Saya ketahuan bohong dan saya dihukum dengan menghadap tembok selama beberapa jam. Hasilnya jelas, saya tidak suka berbohong lagi ke orang tua saya. Jadi, hukuman ini saya pikir mendidik.

Kedua, saat saya mengecat dinding tembok kamar mandi menjadi hitam (dengan cat untuk membuat papan tulis). Saya pikir kesalahan itu memang fatal. Mengecat tembok dengan warna hitam sudah salah, tidak ada estetikanya sama sekali. Kemudian, mengecatnya dengan cat untuk papan tulis, bukan cat tembok. Selain itu, mestinya saya meminta ijin terlebih dahulu jika ingin membuat lukisan di dinding. Maunya ingin bikin gambar orang-orangan untuk obyek latihan kung fu (pengaruh nonton film Na Cha yang dimainkan Fu Sen, alm), tapi karena jelek, maka saya blok seluruh dinding dengan warna hitam. Ayah saya marah dan mengusir. Sorenya saya dipanggil kembali. Saya tahu kesalahan saya di mana dan tidak saya ulangi. Namun saya yakinkan kepada teman-teman semua, saya tetap kreatif. Saya tetap suka melukis dan tidak trauma karena hukuman itu.

Ketiga, saat saya masih kecil, SD, dilempar sandal (tapi tidak kena) oleh ayah saya. Padahal saya tidak merasa punya salah apa-apa. Gara-garanya waktu saya ulang tahun, saya dipanggil sama tetangga depan rumah ke rumahnya. Lha namanya anak kecil, dipanggil ya datang. Trus saya dicari dan disuruh pulang. Begitu masuk pintu, sandal melayang, tapi nggak kena. Kena semprot, "Bikin malu saja, datang ke rumah orang lain minta hadiah." Tapi saya sama sekali tidak minta hadiah
kok. Dalam hati protes, namun saya kemudian belajar soal norma atau budaya yang harus saya pelajari, yakni jangan pernah meminta.

Hm... saya jadi ingat satu kasus lagi, dan ini memang extraordinary...

Peristiwa ini berkaitan dengan ayah saya. Memang, hubungan antara seorang ayah dan putranya cukup istimewa. Ini bukan berarti saya tidak punya memori tentang ibu saya. Kalau ada pengalaman tidak menyenangkan yang teringat bukan berarti saya trauma atau dendam. Tapi saya ingin cerita justru dalam rangka untuk mengenang beliau. Baiklah saya mau mulai cerita.

Suatu hari, saat itu saya masih sekolah dasar. Saya tidak ingat kelas berapa, namun hari itu, kami sekeluarga pergi ke toko buku, namanya toko Sari Agung, di jalan tunjungan, surabaya. Kebiasaan ke toko buku memang rutin setiap hari sabtu, selain setiap liburan kami juga pergi ke kota Selecta (dekat kota Batu, Malang). Saya ingat waktu itu masih sekolah dasar karena hari itu, saya sangat senang sekali karena dibelikan sebuah tas president (model seperti tas koper, bagi yang sejaman dengan saya atau lebih tua, pasti tahu tas merk president ini. Ada juga yang merk, kalau tidak salah echolac). Betapa senangnya saya mempunyai sebuah tas yang kokoh, berwarna coklat, dengan pegangan besi yang mantap, serta nomor kombinasi untuk menguncinya. Saya tidak berpikir waktu itu, berapa duit yang dikeluarkan ayah saya untuk membelinya. Ayah saya kerja sebagai wartawan di majalah Liberty. Jangan bayangkan gajinya seperti wartawan saat ini. Yang penting saya senang dan saya yakin orang tua saya tahu bahwa saya sangat senang dengan tas itu.

Setelah belanja dari toko buku, seperti biasa, kami kemudian makan di sebuah rumah makan di jalan embong malang, tak jauh dari jalan tunjungan. Depot itu masih ada sampai sekarang meski tidak terlihat seapik dulu atau seramai masa lalu. Namanya depat sputnik. Ketika makan, ada orang yang menjual mainan, seingat saya mainan itu berupa kodok-kodokan yang bisa melompat. Ayah saya membelikan mainan itu. Saya tidak ingat, apakah saya memang meminta untuk dibelikan mainan itu atau tidak. Tapi yang pasti saya mendapat mainan itu. Mainan itu murah, saya tidak ingat harganya. tapi saya yakin itu mainan murah yang dijajakan oleh penjual keliling.

Kemudian, sesampai di rumah, mainan itu dimainkan oleh adik-adik saya. Adik saya dua orang, kami berbeda masing-masing dua tahun. Keduanya perempuan dan cantik-cantik. Entah bagaimana ceritanya, setelah dimainkan oleh adik saya, mainan itu rusak. Sungguh, bukan saya yang merusakkannya. Saya melihat bahwa mainan itu telah rusak dan saya tidak mengatakan apa-apa, namun saya tahu bahwa yang merusakkan adalah salah satudari adik saya tersebut.

Ayah saya kemudian melihat bahwa mainan itu rusak. Marahnya bukan main. Saya dimarahin karena dianggap telah merusakkan mainan yang baru saja dibeli. Dengan sekali sentakan kuat dengan kakinya ke arah tas president, maka tas saya yang baru dibeli hari itu, langsung penyok di bagian atas. Maklum, ayah saya adalah seorang karateka. Saya memandangi tas itu dengan menangis... meski dalam hati. Saya cuma diam. Saya tidak mengatakan apa-apa, tidak juga melaporkan bahwa yang merusakkan mainan itu adalah adik saya, dan bukan saya. Toh tak ada gunanya.... tas sudah rusak.

Ayah saya memang tidak pernah mengetahui yang sebenarnya. Memang, ketika ditanya ibu saya mengapa saya merusakkan mainan itu, dengan menangis saya kemudian mengatakan bahwa yang merusakkan mainan itu adalah adik. Tapi saya bilang bahwa tak perlu ayah saya tahu. Saya tidak ingin jadi pengadu.

Sayang, tas itu sudah tidak ada lagi saat ini. Tak ada lagi yang bisa dilihat untuk dikenang kecuali cerita yang teringat dalam benak. Memang tas itu sempat saya pakai untuk beberapa hari, namun saya kemudian memakai tas saya yang lama kembali.

Saya sama sekali tidak dendam dengan ayah saya. Tak ada dendam, tak ada trauma. Saya bukan tipe pendendam dan juga bukan orang yang suka melawan. Yang pasti, dengan bekal yang telah diberikan ayah dan ibu saya selama saya masih kecil hingga dewasa, kini saya bisa membeli tas apa saja yang saya inginkan.

Ayah saya, Basuki Soejatmiko, mencintai saya dengan caranya. Saya menjadi seperti saat ini juga besar sekali peran dari ayah saya. Setidaknya, karena ayah saya, saya masuk ke fakultas psikologi. Padahal saya inginnya dulu masuk astronomi atau setidaknya meterologi dan geofisika. Karena ayah saya pula, saya terbiasa menulis dan diberi kesempatan menulis di media massa seperti majalah Liberty, harian Jawa Pos dan lain-lain. Bahkan karena ayah saya telah membuat seorang temannya merasa berutang budi padanya sehingga mendorong teman ayah saya itu untuk memberi bea siswa penuh bagi kuliah MBA saya. Saya bangga terhadap ayah saya, dan saya merasa sangat bahagia bisa membuat ayah saya bangga dengan menjadi juara di Lomba Karya Ilmiah LIPI-TVRI pada tahun 1983. Seandainya ayah saya masih hidup.... saya sangat ingin bisa membalas segala kebaikan dan jasa-jasanya terhadap saya. Ayah saya meninggal di tahun 1990.
(nur agustinus - 28 Maret 2007)

Bagaimana konstruksi sosial tercipta?

Awalnya adalah manusia. Manusia hidup di daratan di planet bumi ini dan untungnya, dia tidak tinggal sendiri. Dia ada diberi teman supaya tidak kesepian, sebab teman kalau cuma burung, kuda atau panda, kurang cukup. Dia butuh teman yang serupa dengannya. Maka, manusia itu ada banyak. Nah, ketika ada 2 manusia bertemu, maka yang terjadi adalah interaksi.

Interaksi adalah sebuah hubungan. Lalu, apa bentuk interaksi yang dilakukan oleh manusia? Bentuk interaksinya adalah interaksi simbolik. Manusia adalah makhluk yang bisa menciptakan simbol-simbol, baik itu berupa bahasa, huruf, angka, tanda melalui gerak tangan, mimik muka dan lain sebagainya. Binatang lain barangkali juga sama menggunakan simbol, seperti kucing akan menyeringai dan melengkungkan badannya serta bulunya berdiri jika mau menyerang. Tapi manusia menggunakan simbol jauh lebih kompleks.

Simbol-simbol inilah yang kemudian disusun, diciptakan, disepakati bersama dan kemudian dibangun dalam suatu lingkungan sosial. Itulah yang namanya konstruksi sosial. Misalnya, laki-laki itu harus begini, nggak boleh nangis, harus berani, dll, sementara perempuan itu harus begitu, nurut, sabar, dll. Itu adalah konstruksi sosial, sehubungan dengan interaksi antar manusia melalui simbol-simbol. Melalui konstruksi sosial juga, lahirlah ideologi-ideologi, sebab menurut Roland Barthes (filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang paling eksplisit mempraktikkan semiologi Ferdinand de Saussure), tak ada satu pun aktivitas penggunaan tanda yang bukan ideolog.

Lalu, apakah hal itu bukan karena manusia dengan kesadaran akan keberadaannya yang sudah dari sononya sehingga punya kecenderungan untuk mempertanyakan asal usul dirinya thus terciptalah yang namanya agama?

Menurut saya tidak begitu. Tentu saya punya alasan dan saya mengikuti cara berpikir Nietzsche tentang lahirnya agama. Jalan pemikiran Nietzsche (filsuf) adalah sebagai berikut. Manusia jaman dulu itu yang menjadi pemimpin atau diakui menjadi penguasa adalah yang kuat, secara fisik hebat dan tidak terkalahkan. Tentu kita akan menganggap bahwa itu merupakan sikap yang primitif. Tapi memang itulah yang terjadi. Kepala suku adalah orang yang terkuat di kampungnya. Mereka percaya bahwa sifat dan keperkasaan itu diturunkan secara genetis, sehingga ahli waris dari seorang raja, berhak menjadi raja juga. Namun, tentu saja ada orang-orang yang bukan turunan raja atau secara fisik tidak hebat, juga ingin berkuasa alias jadi pemimpin. Mereka ini kemudian membentuk sebuah sistem bahwa manusia bisa berkuasa atas manusia lain kalau dia mendapat "perintah" atau "wahyu" dari yang dianggap sebagai tuhan. Nietzsche kemudian mengatakan bahwa moralitas agama adalah moralitas kaum budak di mana agama selalu berbicara menggunakan bahasa "harus" bagi setiap pemeluknya

Tuhan itu sendiri tentu menurut pandangan antropologi adalah sebuah mitos, tidak beda dengan kita menganggap dewa Zeus sekarang ini cuma mitos. Tapi menurut Roland Barthes, mitos itu sendiri merupakan konstruksi sosial yang membuat sesuatu yang tidak pasti ada menjadi ada. Sebab, melalui mitos, agama berhasil menyediakan peta-peta makna yang dijadikan instrumen dalam memandang dunia, di mana matinya peran agama dalam kehidupan sosial berarti runtuhya mitos itu sendiri.

Jadi, mengenal "tuhan" adalah melalui konstruksi sosial. Seorang seperti Tarzan yang hidup di tengah hutan dan dibesarkan oleh kerja, tidak akan mengenal "tuhan". Dengan kata lain, tidak ada kesadaran manusia akan keberadaan tuhan yang memang dari sononya.

Menurut hasil studi antropologi, nenek moyang kita mengenal "tuhan" dengan diawali dari pengetahuannya tentang adalah entitas-entitas spiritual. Dari mana mereka tahu akan hal itu? Jawabnya adalah karena mereka memakan jamur-jamuran yang bersifat halusinogen, seperti Ayuascha atau bahan yang mengandung zat DMT (Dimethyltryptamine), yang banyak dikonsumsi - kemudian dibatasi hanya boleh - oleh para shaman (dukun) untuk kekuasaan, di mana kemudian mereka bisa melihat dan bertemu bahkan berkomunikasi dengan para dewa.
(nur agustinus - 24 September 2008)

Psikologi pengecut

"Kamu pengecut!" teriak Lesmana kepada Parikesit. Dikata-katai begitu, Parikestit tidak tinggal diam. Darahnya mulai mendidih, mukanya memerah, kepalanya sudah nampak mau mengeluarkan asap, tangan mulai kepalkan, sikapnya terlihat makin garang. "Kamu juga seorang pengecut," begitu teriaknya membalas sambil menuding Lesmana. Sontak Lesmana balik berkata, "maju sini, lawan aku." Dijawab dengan mantap, "Siapa takut?"

Itu hanyalah ilustrasi, namun sering kali terjadi, ketika seseorang dikatakan "pengecut", maka harga dirinya langsung tersentak. Darahnya mendidih, emosinya meluap, seakan ingin menunjukkan bahwa dirinya itu bukanlah seorang pengecut. Ya, hampir semua orang tidak mau disebut pengecut. Laki-laki sejati tidak boleh jadi pengecut. Laki-laki yang jantan harus seorang jagoan.

Saya sendiri waktu kecil sering jadi bahan olok-olok. Ketidakpercayaan diri saya membuat saya jadi korban bullying teman-teman sekolah. Tapi untungnya, saya tidak peduli dengan omongan orang lain. Saya adalah saya. Termasuk ketika seorang teman menawarkan rokok kepada saya, dan saat saya menolak, saya dikatakan seperti perempuan, saya terima dengan apa adanya, tanpa ada rasa marah atau jengkel. Jadi, kalau kalau saya dibilang pengecut, ya saya terima saja. Nothing to lose, tak ada yang hilang dari diri saya, apalagi harga diri.

Menarik jika kita mempelajari, mengapa kata "pengecut" ini menjadi kata yang ampuh untuk terjadinya perkelahian atau konflik. Barangkali kata ini berhubungan dengan kebutuhan survival. Pengecut berarti lari, dan lari menunjukkan suatu ciri makhluk yang gagal, terbuang, tidak berharga. Dalam sebuah peperangan, seorang pengecut bisa membuat teman lain seperjuangannya mati. Pengecut adalah suatu stempel yang sangat buruk dirasakan sebab ini bisa menyebabkan rasa malu yang sangat besar.

Pertanyaannya, mengapa seseorang yang berani menjadi marah dan tersinggung harga dirinya ketika disebut pengecut? Bagaimana pula jika seorang yang benar-benar dikatai pengecut? Apakah dia akan marah? Atau dia akan menerima saja? Lalu, perlukah kita bereaksi emosional jika disebut sebagai seorang pengecut?

Barangkali lawan kata pengecut adalah berani, ebuah sifat yang dimiliki oleh seorang pahlawan/hero. Seseorang yang suka main keroyokan juga bisa dianggap pengecut. Bahkan ada yang bilang, dia itu pengecut karena beraninya hanya memukuli anak istrinya saja. Apa definisi yang pas untuk sifat pengecut ini? Memang sifat pengecut ini dikonstruksi secara sosial sebagai sifat tercela yang tidak boleh dimiliki, terutama oleh seorang laki-laki. Julukan di amerika untuk menyebut pengecut biasanya adalah "chicken", kadang juga "sissy" (banci).

Dalam sebuah konflik, kadang sifat tidak menerima tantangan disebut pengecut. Tetapi, apakah seorang Mahatma Gandhi bisa disebut sebagai seorang pengecut karena beliau memilih melawan dengan diam? Apakah seorang dengan nilai pasifisme bisa disebut seorang pengecut? Justru, ada juga yang bilang, banyak orang yang sebenarnya pengecut dan takut tetatpi justru bersembunyi dengan kegarangan dan sikapnya yang seenaknya. Mantan presiden Chechnya, Vaclav Havel, mengatakan, "Fanatics and fundamentalists are the people who often cover up their fear and cowardice in a deeper philosophical sense by their arrogance, aggressiveness and confidence."

Kamus internet Wikipedia menyebutkan "Cowardice is the characteristic of submitting to fear, pain, risk/danger, uncertainty, or intimidation. It is viewed as a negative characteristic and is almost generally frowned upon within most, if not all global cultures, while courage is generally rewarded and encouraged."

Tentu saja ini bisa dibahas dari berbagai teori. Kalau menurut saya, memang ini bisa jadi berkaitan dengan pengalaman masa lalu, lingkungan yang ada dan juga konstruksi sosial. Saya tidak tahu, apakah korban bullying leih sensitif jika disebut "pengecut" atau malah sudah terbiasa. Atau justru orang-orang yang selalu jago dan tidak pernah kalah, adalah orang yang rentan jika disebut pengecut. Saya pikir ini bahan studi yang menarik buat para mahasiswa untuk bahan thesis atau skripsinya. Siapa tahu ada yang serius mau bikin skala kepengecutan.
(nur agustinus - 5 Nopember 2008)

Film dan empati

Kalau kita bicara film, sebenarnya yang dimanfaatkan oleh para sineas adalah kemampuan manusia dalam berempati. Jika kita melihat orang tertawa, kita ikut tertawa. Jika kita melihat orang sedih, kita ikut sedih. Jika kita melihat orang marah, kita ikut marah. Lebih jauh lagi, bukan cuma empati yang dicari, tapi simpati. Misalnya melihat orang ditindas, kita ikut menderita dan marah. Ini merupakan kemampuan manusia sejak kecil. Seperti misalnya seorang anak kalau melihat ayahnya tersenyum, pasti anaknya ikut tersenyum. Demikian juga sebaliknya. Agak sulit dibayangkan kalau melihat anak senyum, terus bapaknya menangis.

Nah, sinetron atau semua film juga begitu. Ketika melihat sang pemain sedang ketakutan mau dibunuh oleh penjahat, kita yang menontonnya juga merasakan ketakutannya. Apalagi dibumbui dengan suara dan lagu yang menyertainya.

Pemunculan karakter anatgonis dan protagonis tetap dibutuhkan untuk setiap film. Harus ada "the good, the bad an the ugly". Ini mewakili manusia secara umum dan biasanya, hampir kebanyakan orang (tidak selalu) akan menempatkan diri pada posisi sang hero, karakter protagonis. Tentu saja, penggambaran yang ideal akan lebih disuka. Namun pada tipe penonton tertentu, yang sudah biasa dunia tak sekedar hitam dan putih namun ada banyak warna lain (tidak hanya abu-abu), maka seorang lakon bisa saja punya "dosa". Bahkan film sekaliber Star Wars dengan beberapa episodenya juga menampilkan karakter antagonis dan protagonis. Namun dalam ilmu perfilman, sebuah film akan terasa hambar kalau tidak ada unsur romannya.

Yang ingin saya kemukakan, pada tingkat masyarakat tertentu, mengeluarkan perasaan itu adalah sangat wajar dan biasa. Hanya saja, makin berpendidikan seseorang, biasanya perasaan ini makin ditekan dan tidak dengan mudah dikeluarkan. Ingat di jaman dulu, kalau orang menonton bioskop, bisa tertawa terbahak-bahak dengan keras bahkan ketika sang jagoan keluar, mereka bisa bertepuk tangan. Mengungkapkan perasaan adalah hal biasa dan wajar. Tapi kini sudah jarang. Menangis karena melihat film bioskop akan dianggap cengeng, jadi orang akan berusaha menghidari untuk ketahuan bahwa dia sedang menangis.

Sinteron kita atau hampir semua film drama, pasti bertujuan menggugah perasaan itu. Bagi banyak orang, tergugahnya perasaan atau emosi bukan merupakan masalah besar. Tapi untuk sebagian orang, melihat adegan yang ada di sinetron itu, membuat dirinya gemes, jengkel dan mungkin marah. Karena dia tidak tahan dengan munculnya emosi seperti itu (tidak bisa membiarkan larut dalam cerita), maka dia tidak menyukai sinetron itu.

Jadi, masalahnya bukan dari tingkat pendidikan. Namun lebih pada kecenderungan untuk menekan perasaan agar tidak diketahui oleh orang lain. Kita sadar bahwa dengan melihat sinteron atau film apapun, perasaan kita akan terbawa. Justru disinilah kita biasanya memilih film, yang mana yang kita pilih dan cocok untuk penyaluran emosi kita. Di sisi lain, untuk sebagian banyak orang, sinetron seperti yang ada sekarang ini merupakan hal yang biasa. Melihat secara bersama, jengkel bersama, nangis bersama dan gembira bersama saat sang lakon yang terlunta-lunta akhirnya bahagia. Saya pikir, hal yang sama akan kita rasakan, misalnya kita melihat film seperti "Pursuit of Happiness", apalagi itu merupakan kisah nyata.
(nur agustinus - 27 Juli 2007)

Anak-anak dan televisi

Dulu memang banyak serial TV dari amerika yang diputar di sini. Namun berkembangnya jaman, teknologi dan kemampuan di bidang sinema, bangkit film-film dari asia maupun amerika tengah seperti Meksiko. Apalagi masyarakat amerika serikat di daerah selatan banyak yang berasal dari Meksiko atau Kuba plus Puerto Rico, mereka mulai memikirkan memproduksi film serial dengan bahasa Spanyol. Film-film ini memang menarik karena dikemas dengan menyentuh emosi dasar manusia, yakni rasa marah, takut dan cinta.

Indonesia sendiri mulai kebanjiran film-film dari India dan Hong Kong. Kebanyakan film di sana mengemas drama percintaan dan juga adegan kekerasan, entah polisi yang korup, permusuhan, dendam dan keserakahan. Beberapa stasiun TV swasta di masa lalu pernah membanjiri pemirsanya dengan tayangan film india hampir tiap hari. Plus juga tayangan telenovela maupun drama dari Hong Kong dan Korea seperti Hosiang hosiang :-). Semuanya menjadi menarik karena ada dubbing sehingga pemirsa dengan mudah memahami dialog yang ada.

Tayangan serial yang bagus seperti Dogie Howser MD, Star Trek, Lost in Space, Hunter dan lain-lain, memang tersisihkan. Di Amerika sendiri, tayangan serial berkualitas seperti ini juga bersaing keras dengan tayangan opera sabun. Kita masih ingat bahwa dulu ada serial drama cengeng juga (namun dianggap bagus) seperti Dynasty. Masalahnya adalah, dulu tayangan TV seperti ini biasanya diputar di malam hari. Kini televisi dengan tayangan hampir 24 jam harus diisi dengan banyak acara yang bisa menghidupi operasional bisnis mereka. Tayangan serial yang berkualitas itu akhirnya lebih banyak masuk ke jaringan TV kabel maupun dikemas dalam format dvd.

Di sisi lain, aspek kapitalisme tidak boleh dilupakan. Target industri adalah mencapai keuntungan dengan cara menembak pasar dengan tepat. Ketika perempuan sudah tidak suka lagi pakai anting-anting, maka pengusaha berlian atau emas bisa gulung tikar. Oleh karena itu, kini laki-laki ditarget sebagai pasar perhiasan. Itu sebabnya melalui tayangan sinetron, dibiasakan agar penonton melihat idola mereka menggunakan anting-anting dan diberi embel-embel cowo metropolis. Banyak sekali titipan 'kapitalisme' dalam sebuah tayangan film.

Saya pernah bekerja di sebuah modeling club, di mana mereka dilarang mengenakan asesoris sembarangan. Semua asesoris yang dipakai harus melalui sang manajer sebab disitu uang masuk. Misalnya, kacamata yang dipakai, jam tangan bahkan baju maupun sepatu. Semua yang melekat harus bisa menghasilkan duit. Coba saja lihat, baju yang dipakai oleh penyiar berita TV saja harus disebutkan dari butik mana. Oleh karena itu, ketika seorang aktris atau aktor muncul, maka semua yang melekat itu, termasuk mobil yang dibawa, rokok yang dihisap, kacamata yang dipakai, semua adalah titipan para kapitalis. Bahkan sampai film Matrix maupun Terminator. Semua itu bagian dari fashion dan gaya hidup.

Nah, secara bisnis, segmen pasar yang paling mudah dibidik adalah anak-anak. Melalui proses 'indoktrinasi' lewat film secara jangka panjang, jelas ini merupakan investasi yang menjanjikan.

Sebenarnya, kita tidak bisa begitu saja menuding bahwa acara tv kita yang buatan dalam negeri ini tidak memikirkan kepentingan pendidikan. Saya pikir hampir semua produser di banyak negara melakukan hal yang sama. Misalnya saja serial Sinchan. Banyak yang bilang itu tidak bagus karena memberi contoh yang buruk dan melecehkan perempuan. Tapi itu bisa begitu laku dan menarik. Belum lagi serial Doraemon, di mana Nobita yang malas sering mendapat bantuan dari kucing robotnya yang bisa mengeluarkan macam-macam alat istimewa. Bagi orang dewasa, mungkin bisa membedakan antara mana yang hiburan dan mana yang realita. Itu sebabnya, diperlukan kesediaan orang tua untuk mendampingi anaknya saat menonton TV.
(nur agustinus - 27 Juli 2007)