Anak-anak dan televisi

Dulu memang banyak serial TV dari amerika yang diputar di sini. Namun berkembangnya jaman, teknologi dan kemampuan di bidang sinema, bangkit film-film dari asia maupun amerika tengah seperti Meksiko. Apalagi masyarakat amerika serikat di daerah selatan banyak yang berasal dari Meksiko atau Kuba plus Puerto Rico, mereka mulai memikirkan memproduksi film serial dengan bahasa Spanyol. Film-film ini memang menarik karena dikemas dengan menyentuh emosi dasar manusia, yakni rasa marah, takut dan cinta.

Indonesia sendiri mulai kebanjiran film-film dari India dan Hong Kong. Kebanyakan film di sana mengemas drama percintaan dan juga adegan kekerasan, entah polisi yang korup, permusuhan, dendam dan keserakahan. Beberapa stasiun TV swasta di masa lalu pernah membanjiri pemirsanya dengan tayangan film india hampir tiap hari. Plus juga tayangan telenovela maupun drama dari Hong Kong dan Korea seperti Hosiang hosiang :-). Semuanya menjadi menarik karena ada dubbing sehingga pemirsa dengan mudah memahami dialog yang ada.

Tayangan serial yang bagus seperti Dogie Howser MD, Star Trek, Lost in Space, Hunter dan lain-lain, memang tersisihkan. Di Amerika sendiri, tayangan serial berkualitas seperti ini juga bersaing keras dengan tayangan opera sabun. Kita masih ingat bahwa dulu ada serial drama cengeng juga (namun dianggap bagus) seperti Dynasty. Masalahnya adalah, dulu tayangan TV seperti ini biasanya diputar di malam hari. Kini televisi dengan tayangan hampir 24 jam harus diisi dengan banyak acara yang bisa menghidupi operasional bisnis mereka. Tayangan serial yang berkualitas itu akhirnya lebih banyak masuk ke jaringan TV kabel maupun dikemas dalam format dvd.

Di sisi lain, aspek kapitalisme tidak boleh dilupakan. Target industri adalah mencapai keuntungan dengan cara menembak pasar dengan tepat. Ketika perempuan sudah tidak suka lagi pakai anting-anting, maka pengusaha berlian atau emas bisa gulung tikar. Oleh karena itu, kini laki-laki ditarget sebagai pasar perhiasan. Itu sebabnya melalui tayangan sinetron, dibiasakan agar penonton melihat idola mereka menggunakan anting-anting dan diberi embel-embel cowo metropolis. Banyak sekali titipan 'kapitalisme' dalam sebuah tayangan film.

Saya pernah bekerja di sebuah modeling club, di mana mereka dilarang mengenakan asesoris sembarangan. Semua asesoris yang dipakai harus melalui sang manajer sebab disitu uang masuk. Misalnya, kacamata yang dipakai, jam tangan bahkan baju maupun sepatu. Semua yang melekat harus bisa menghasilkan duit. Coba saja lihat, baju yang dipakai oleh penyiar berita TV saja harus disebutkan dari butik mana. Oleh karena itu, ketika seorang aktris atau aktor muncul, maka semua yang melekat itu, termasuk mobil yang dibawa, rokok yang dihisap, kacamata yang dipakai, semua adalah titipan para kapitalis. Bahkan sampai film Matrix maupun Terminator. Semua itu bagian dari fashion dan gaya hidup.

Nah, secara bisnis, segmen pasar yang paling mudah dibidik adalah anak-anak. Melalui proses 'indoktrinasi' lewat film secara jangka panjang, jelas ini merupakan investasi yang menjanjikan.

Sebenarnya, kita tidak bisa begitu saja menuding bahwa acara tv kita yang buatan dalam negeri ini tidak memikirkan kepentingan pendidikan. Saya pikir hampir semua produser di banyak negara melakukan hal yang sama. Misalnya saja serial Sinchan. Banyak yang bilang itu tidak bagus karena memberi contoh yang buruk dan melecehkan perempuan. Tapi itu bisa begitu laku dan menarik. Belum lagi serial Doraemon, di mana Nobita yang malas sering mendapat bantuan dari kucing robotnya yang bisa mengeluarkan macam-macam alat istimewa. Bagi orang dewasa, mungkin bisa membedakan antara mana yang hiburan dan mana yang realita. Itu sebabnya, diperlukan kesediaan orang tua untuk mendampingi anaknya saat menonton TV.
(nur agustinus - 27 Juli 2007)

0 Komentar:

Posting Komentar