Apa gunanya hukuman?

Soal hubungan antara penjahat dengan hukuman, memang sepertinya kuat atau lemahnya hukuman tidak mempengaruhi banyak atau sedikitnya penjahat. Namun apa sih gunanya hukuman itu?

Kita coba bicara pada lingkup yang lebih sederhana, yaitu pada anak-anak. Ketika seorang anak sekolah melakukan pelanggaran, misalnya mencontek, dan hal itu diketahui oleh sang guru, maka dia akan mendapatkan hukuman. Apakah dengan adanya guru yang sangat tegas dan hukuman yang sangat berat akan membuat si tukang contek jera? Belum tentu. Barangkali si tukang contek akan terus menerus berpikir secara kreatif, bagaimana mengembangkan ilmu mencontek yang tidka ketahuan oleh gurunya. Namun, hukuman itu cukup efektif untuk mencegah anak lain yang bukan tukang contek untuk kemudian mencontek.

Ah, mungkin ada yang protes. Anak yang tidak suka mencontek, dia tetap tidak akan mencontek meski tidak ada hukuman. Bahkan tak ada guru yang mengawasipun, dia tetap tidak akan mencontek.

Ya, ini bisa benar. Hukuman ternyata tidak mempunyai makna apa-apa bagi mereka yang jujur. Dengan kata lain, ada hukuman atau tidak, dia tetap tidak akan mencontek.

Lalu, di mana fungsinya hukuman? Apakah hukuman hanya sekedar bentuk menunjukkan power dari pemberi hukuman kepada yang terhukum?

Bagi penjahat, fungsi hukuman bisa tidak hanya dengan harapan supaya dia jera, tapi selama dia dalam penjaranya, maka dia tidak akan melakukan tindak kriminalnya. Maka, hukuman paling efektif bagi siswa yang suka mencontek adalah menempatkannya duduk di paling depan yang sangat ketat pengawasannya. Dengan kata lain, fungsi hukuman bukan mengubah kebiasaan pelakunya, namun meniadakan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan perbuatannya itu.

Kita tentu pernah dihukum, mungkin oleh orangtua, oleh guru, atau bahkan oleh atasan maupun orang lain. Hukuman dibuat tidak menyenangkan karena secara teori dan secara akal sehat, mestinya, hal yang tidak menyenangkan cenderung untuk tidak diulang.

Ada yang mengatakan bahwa fungsi hukuman adalah untuk mencegah orang lain untuk melakukan perbuatan serupa. Di sini, diharapkan orang belajar melakukan melihat pengalaman orang lain yang melanggar aturan. Ini bisa efektif, terutama bagi yang 'bawaan'nya penakut dan punya kecenderungan untuk patuh (tingkat konformnya tinggi). Tapi tidak untuk mereka yang termasuk tipe pemberontak.

Dalam sebuah tayangan discovery health (discovery channel) tentang anak-anak yang memiliki gangguan perhatian yang disertai hiperaktif (ADHD), ternyata banyak penjahat yang kambuhan serta cenderung psikopat, mempunyai kecenderungan ADHD. Mereka pemarah, mudah kehilangan kontrol atas dirinya dan sangat agresif. Sebagian mungkin justru pendiam, pintar namun menggunakan kepintarannya untuk mencari celah-celah untuk menipu. Meski kita membaca bahwa ada banyak hacker yang ditangkap dan dihukum berat, namun hacker-hacker baru tetap bermunculan.

Kesimpulannya menurut saya, fungsi hukuman bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang untuk supaya dia jera, ada yang untuk supaya dia tidak melakukan apa yang dipikirkannya, atau agar dia tidak punya kebebasan untuk melakukan tindakannya.

Adalah menarik jika kita belajar dari perancis, dengan legiun tentara asingnya, di mana mereka memberi kesempatan kepada para kriminal dan penjahat untuk menjadi tentara yang dikirim ke medan perang dan kalau mereka selamat dan melaksanakan tugasnya dengan baik, maka kebebasan akan menanti dirinya. Dalam banyak hal, sepertinya ini cukup efektif.
(nur agustinus - 11 Januari 2007)

0 Komentar:

Posting Komentar