Mempelajari filsafat

Dulu waktu saya kuliah di S1, saya beruntung diajar oleh seorang dosen filsafat yang menurut saya piawai, yakni pak Poerwadi (alm). Namun, kalau boleh saya bilang, sepertinya yang paling suka pelajaran filsafat waktu itu cuma saya seorang di antara sekitar seratusan mahasiswa yang ada bersama di kelas.

Tentu saya tidak akan menguraikan di sini apa itu filsafat. Anda mungkin sudah jenuh dengan mata kuliah yang menurut Anda tidak bermanfaat ini. Namun, kalau kita belajar sejarah psikologi, maka psikologi di awali melalui tokoh-tokoh filsafat yang membahas manusia. Filsafat juga mempelajari yang namanya filsafat logika, filsafat manusia dan juga filsafat ilmu. Hal mana yang penting menurut saya buat siapa saja, tidak terkecuali mahasiswa yang kuliah di psikologi.

Saya jadi teringat waktu saya kuliah dulu, saat belajar filsafat logika, ada banyak mahasiswa yang bingung soal silogisme, pemikiran deduktif dan induktif serta kesalahan-kesalahan logika. Padahal, sepertinya hal itu mudah-mudah saja. Orang sudah merasa sesuatu yang disebut "filsafat" itu sulit sehingga sudah ada hambatan.

Pak Poerwadi mengajarkan mahasiswanya tidak dengan mengharuskan membaca textbook filsafat yang tebal dan sulit dipahami. Namun dia menyuruh mahasiswanya membuat ringkasan buku, seperti buku novel "Anak Bajang Menggiring Angin", "Pengakuan Pariyem" dan sejenisnya. Melalui karya-karya seperti itu, beliau mengajak mahasiswanya untuk memahami, apa itu manusia.

Filsafat memang sepertinya momok, tapi sebenarnya tidak harus begitu. Belajar filsafat juga tidak membuat orang menjadi atheis. Seseorang seperti Jalaluddin Rumi juga bisa dikategorikan sebagai filsuf. Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana".

Belakangan, ketika saya kuliah S2, saya baru mendapatkan pencerahan bahwa tidak semua orang suka filsafat. Hal ini barangkali berkaitan dengan tipe kepribadian, dan saya melihatnya melalui tipe kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) yang dasarnya adalah tipe kepribadian menurut Carl G. Jung.

Pembagian dikotomi MBTI adalah sebagai berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator
Extraversion (E) >< Introversion (I)
Sensing (S) >< iNtuition (N)
Thinking (T) >< Feeling (F)
Judging (J) >< Perceiving (P)

Menurut dosen saya di S2, Prof. Dr. M. As'ad Djalali, SU., yang saat itu mengajar Filsafat Ilmu, saat saya bertanya apakah ada ciri tertentu seseorang itu suka berfilsafat, beliau menjawab barangkali hal itu berkaitan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung introversion (introvert), intuition (intuisi), Thinking (pemikir) dan Perceiving (pengamat) atau INTP. Walau ini tidak mutlak, namun ada kecenderungan seperti itu, sebab orang yang mau menyendiri dan merenung untuk berpikir (bukan melamun), biasanya adalah orang yang introvert + intuisi + pemikir. Seseorang yang "Perceiving" (pengamat) lebih mudah untuk menggali lebih jauh pada esensi ketimbang seorang judging (penilai) yang cenderung menentukan dan memberi label (memvonis).

Berdasarkan hal itu, saya jadi paham, mengapa tidak semua orang suka atau bisa diajak berfilsafat. Lebih jauh lagi, mahasiswa yang suka filsafat, sering dianggap "nerd" oleh teman-temannya... Beruntung saya tidak dianggap begitu saat itu...
(nur agustinus - 10 September 2008)

0 Komentar:

Posting Komentar