Smackdown


Smackdown menjadi bahan pembicaraan akhir-akhir ini tidak terlepas dari satu korban yang telah meninggal yang kemudian disusul dengan munculnya korban lain dengan luka-luka di tubuhnya. Semua itu diekspos di televisi, radio dan surat kabar.

Lalu, mengapa baru sekarang? Apa karena memang ada korban?

Mengapa juga Lativi?

Saya coba bahas dari sudut yang agak melebar, terutama mengapa Lativi. Ini bukan karena pertimbangan politik alias Lativi itu milik siapa, namun sebenarnya dari potitioning market yang dibuat oleh Lativi beberapa waktu lalu.

Tidak dipungkiri bahwa Lativi adalah channel tv yang disukai anak-anak. Dengan semboyan Lativi-Kid serta tayangan hebohnya beberapa tahun lalu yakni SpongeBob, membuktikan bahwa Lativi berhasil memikat anak-anak di Indonesia. Belum lagi serial kartunnya yang lain, entah Johny Neutron, Rutgrats, dan lain-lain.

Maka, tak heran, termasuk anak saya, lebih suka memilih channel Lativi ketika sekeluarga menyalakan televisi. Ini merupakan keberhasilan Lativi memikat anak-anak. Namun, sebagaimana pertelevisian di indonesia, seringkali tidak melakukan hal itu terus menerus dan fokus. Artinya, program-program tv yang dulunya milik Lativi Kid (umumnya dari Nikleodeon) kini sudah pindah tayang ke stasiun tv lain. Tapi anak-anak masih teringat akan Lativi.

Bahwa kemudian Lativi menayangkan acara smackdown, itu juga barangkali tidak lepas dari kebiasaan mereka untuk memilih channel Lativi. Dengan kata lain, apa banyak anak-anak yang memilih channel metro tv (misalnya)?

Di masa kini, televisi bukan lagi barang mewah. Beberapa keluarga sudah menyediakan perangkat televisi plus vcd atau dvd player di kamar tidur anaknya. Anak saya juga senang melihat acara smackdown. Bahkan dengan saudara sepupunya, mereka punya tokoh kegemaran. Apalagi salah satunya, kini main film The Marine (John Cena). Popularitas para pemain smackdown sudah lama dan kini makin hebat. Kalau di masa lalu (beberapa tahun lalu), The Rock (WWC) menjadi idola, kini sudah beralhir ke selebriti-selebriti smackdown yang lain. Acara smackdown juga diikuti dengan permainan-permainan playstation dan sejenisnya. Bahkan minggu lalu, salah melihat di department store Matahari Surabaya, di bagian mainan anak-anak, ada sebuah smackdown yang disinya beberapa pegulat smackdown, plus ring dengan sejumlah perangkat seperti tangga, kursi dan lain-lain yang dikemas seperti mainan tentara-tentaraan. harganya sekitar 59 ribu. Anak saya awalnya tertarik, tapi kemudian tidak, karena dia lebih suka membeli hotwheels.

Foto-foto selebriti smackdown juga dijual di banyak pedagang asongan dekat sekolah, toko-toko kelontong dan menjamur. Itulah hebatnya kapitalisme. Kaos-kaos bergambar smackdown juga laris manis. VCD-VCD atau bahkan DVD serial smackdown juga banyak dijual... dan laku!

Yang jadi pertanyaan, mengapa tayangan yang lebih bersifat ilmiah macam animal planet, discovery channel, national geography, lebih membosankan ketimbang acara hiburan kekerasan? Mungkin jawabannya adalah karena anak-anak indonesia tidak terbiasa dididik dalam keluarga secara science. Mereka kurang memiliki jiwa sebagai seorang ilmuwan. Dalam psikologi, mereka bukan tipe "knowledge".

Anak laki-laki, khususnya, sangat besar kemungkinannya menyukai tayangan ala smackdown ini. Mengapa? Hal ini karena acara itu mempertontonkan keperkasaan, kehebatan. Hal yang bisa jadi menjadi self image dari anak-anak indonesia yang masih butuh akan pengakuan dan harga diri. Berdasarkan hal ini, memang acara smackdown ini jelas berpeluang ditiru ketimbang acara kekerasan serupa yang ada dalam film seri Tom and Jerry atau Buser sekalipun.
(nur agustinus- 2 Desember 2006)

0 Komentar:

Posting Komentar