10 Seni dalam Memulai Startup Bisnis

Sumber: 7bidder.com

Guy Kawasaki (lahir 30 Agustus 1954) adalah seorang marketing executive Silicon Valley. Dia adalah salah satu karyawan Apple yang bertanggung jawab untuk pemasaran Macintosh pada tahun 1984. Dia mempopulerkan kata evangelist dalam memasarkan Macintosh dan konsep evangelism pemasaran dan evangelism teknologi. Berikut ini adalah 10 Seni dalam Memulai Startup Bisnis (The Art of The Start) menurut Guy Kawasaki.

1. Buat makna
Kesalahan utama dari startup bisnis dalam memulai bisnis mereka adalah menjadikan uang sebagai tujuan utama, padahal inti dari entrepreneurship adalah membuat makna. Perusahaan yang secara fundamental didirikan untuk membuat makna, untuk mengubah dunia, menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik, adalah perusahaan yang membuat perbedaan. Mereka adalah perusahaan yang akan sukses. Cara untuk membuat makna adalah:
  • Meningkatkan kualitas hidup
  • Membetulkan sesuatu yang salah
  • Mencegah berakhirnya sesuatu yang baik
2. Buat mantra
Pernyataan misi atau mission statement adalah hal yang umumnya dibuat oleh semua perusahaan yang ada, namun sebagai startup Anda tidak dianjurkan untuk membuat pernyataan misi. Anda lebih baik membuat mantra yang lebih mudah diingat dan lebih beresonansi dengan hati Anda.
Contoh:
  • 7bidder – Menghubungkan bisnis dengan cara sederhana
  • Nike – Authentic athletic performance
  • Mary Kay – Enriching women’s lives
3. Mulai segera
Ironisnya, banyak entrepreneur yang telah memiliki ilmu untuk memulai startup, malah tidak dapat memulai dengan segera. Hal ini akibat dari keinginan untuk membuat segalanya sempurna, ingin menambah lagi fitur-fitur, ingin mendapatkan validasi (pengakuan) eksternal mengenai ide mereka. Lalu bagaimana cara untuk dapat memulai dengan segera:
  • Berfikir secara berbeda, tidak hanya sedikit berbeda atau memodifikasi ide startup sebelumnya.
  • Jangan takut akan polarisasi, startup yang baik selalu ada yang pro dan kontra, Anda tidak bisa membuat SEMUA orang menyukai produk Anda.
  • Carilah “soulmate” Anda dalam membangun startup, bahkan Steve Jobs juga membutuhkan Steve Wozniak.
4. Definisikan model bisnis
Yang dimaksud di sini adalah pengguna spesifik produk Anda, bukan hanya persentase market ataupun angka-angka estimasi saja. Model bisnis Anda juga sebaiknya sederhana, apabila model bisnis Anda terlalu unik, maka itu adalah hal yang menakutkan karena mungkin tidak ada pengguna yang akan tertarik. Kemudian tanyakan model bisnis Anda kepada wanita, karena laki-laki memiliki gen “pembunuh” yang membuat laki-laki ingin perusahaan yang “membunuh” Google, Apple, Microsoft, dll.

5. Milestones, Assumptions, Tasks (MAT)
Ketika Anda memulai perusahaan startup, maka Anda memulai segalanya dengan bersih. Tidak ada perlengkapan, kantor, karyawan, dll, sehingga banyak sekali hal-hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan pada periode ini. Anda mungkin lalu mengerjakan hal-hal yang tidak esensial, seperti membuat logo, membeli perlengkapan, dll, yang membuat prioritas Anda menjadi kacau. Sehingga rumus MAT ini dapat berguna:
  • Milestones (pencapaian) – selesaikan desain/produk Anda.
  • Assumptions (asumsi) – uji asumsi Anda, berapa banyak penjualan per klik misalnya.
  • Tasks (tugas) – adalah tugas yang digunakan untuk menguji asumsi atau menyelesaikan milestone.
6. Niche
Terdapat dua sumbu, yaitu kemampuan untuk menyediakan produk atau jasa yang unik, dan nilai untuk pengguna. Idealnya startup Anda sebaiknya tinggi untuk keduanya, unik sekaligus bernilai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

7. Ikuti aturan 10/20/30
Pitching adalah menawarkan startup bisnis Anda pada investor. Bagi Anda yang hendak melakukan presentasi pitching, aturan 10/20/30 mungkin berguna untuk Anda.
Yang pertama, gunakan maksimal 10 slide, ingat bahwa investor memiliki keterbatasan waktu sehingga tidak menyukai presentasi yang panjang. Tugas Anda adalah banyak menjelaskan, bukan banyak membaca slide. 10 slide tersebut adalah:
  1. Judul
  2. Masalah
  3. Solusi
  4. Model bisnis
  5. Underlying magic
  6. Marketing dan sales
  7. Kompetisi
  8. Tim
  9. Proyeksi
  10. Status dan timeline
Kedua, waktu maksimal adalah 20 menit, idealnya Anda dapat menyelesaikan presentasi dalam 15 menit, namun mungkin akan ada hambatan teknis, atau keterlambatan yang akan dapat diatasi dengan kelebihan waktu.
Ketiga, gunakan font minimal berukuran 30. Investor biasanya sudah senior, sehingga font yang berukuran kecil akan mengganggu mata mereka.

8. Pekerjakan orang yang “terinfeksi”
Orang yang menyukai produk Anda lebih penting daripada orang yang memiliki gelar akademik dan pengalaman kerja. Fokus pada orang-orang yang mencintai produk Anda. Bagaimana bisa orang yang tidak menyukai produk Anda dapat menjual produk Anda?
Kemudian pekerjakan orang lebih baik dari Anda, Anda mungkin adalah programer yang handal dan mengira bahwa Anda juga dapat menjadi marketer yang handal. Pekerjakan orang yang lebih baik dari Anda, A player hire A+ player. Gunakan intuisi Anda untuk mempekerjakan karyawan, karena dalam startup semua adalah keluarga.

9. Menurunkan penghalang untuk adopsi
Maksudnya, permudah learning curve dalam produk Anda. Produk anda seharusnya dapat digunakan dengan mudah, pengguna yang merasa sulit ketika menggunakan produk Anda mungkin tidak akan menggunakan produk Anda sama sekali. Ini mungkin tugas seorang evangelist untuk mempermudah learning curve produk Anda.

10. Lihat ke awan
Ini adalah teknik penjualan yang memiliki poin-poin sebagai berikut:
  • Biarkan ratusan bunga mekar – maksudnya biarkan pasar yang bereaksi. Kadang akan ada pengguna yang bukan target market Anda malah membeli produk Anda dalam jumlah besar. Fokuslah pada mereka, abaikan mereka yang tidak membeli produk Anda.
  • Ijinkan test drive.
  • Suck down – maksudnya dekatilah level bawah, bukan level atas karena orang yang menggunakan produk Anda mungkin bukan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi.
Itulah 10 seni dalam memulai startup bisnis yang diutarakan oleh Guy Kawasaki, apabila Anda tertarik saat ini sudah ada buku yang terbaru The Art of The Start 2.0.


Lessons of Steve Jobs: Guy Kawasaki at TEDxUCSD


Sumber tulisn dari Facebook Tanadi Santoso:

Guy Kawasaki adalah penulis buku tentang Entrepreneurship "The Art Of The Start" yang sangat bagus sekali. Guy Kawasaki telah menulis 10 buku2 menarik yang kebanyakan telah saya baca dan sukai. Dia juga seorang pembicara hebat. Dulu dia bekerja di Apple, dan bukunya "The Macintosh Way" sangat menarik. Dalam Tedx-talk ini dia bercerita tentang bekas boss nya, Steve Jobs, dan 12 hal yang dapat kita semua pelajari bersama.



Benny Dharmawan membuat catatan dari video di atas:

1. Ahli adalah memahami.
Guru tidak dapat membantu Anda sebagai pengusaha. "Steve Jobs tidak mendengarkan ahli justru sebaliknya ahli mendengarkannya."

2. Pelanggan tidak dapat memberitahu Anda apa yang mereka butuhkan.
Steve Jobs sering mengatakan: "Banyak orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkan kepada mereka."

3. Melompat ke kurva berikutnya.
Jika Anda benar-benar ingin menjadi seorang pengusaha dan inovator, Anda harus melompat kurva. "Anda tidak dapat hanya melakukan hal-hal yang lebih baik 10%, Anda harus melakukan 10 kali lebih baik." Pikirkan bagaimana ipod menggantikan Walkman, atau bagaimana iPhone menganti Blackberry. Inovasi besar dapat terjadi ketika pengusaha mencoba untuk melompat kurva.

4. Tantangan yang besar akan akan melahirkan karya terbaik.
Pikirkanlah tentang keluhan-keluhan klien Anda maka anda tidak dapat menyangkal fakta bahwa memecahkan masalah mereka membuat Anda menjadi lebih baik.
Tantanglah tim Anda, dan jangan lari dari tantangan. Anda nantinya mungkin akan terkejut dengan kemampuan tim anda.

5. Perhitungkan Desainnya.
Dalam dunia di mana semua orang berbicara tentang harga, desain kurang diperhitungkan. Apakah anda mau punya laptop sebesar koper?

6.Gunakan grafis besar dan huruf yang besar.
Ini adalah kunci untuk memperkuat pesan Anda dan menjelaskan secara sederhana seperti menggunakan PowerPoint.
Ingat prinsip KISS:. Keep It Short and Simple.

7. Mengubah pikiran Anda adalah tanda kecerdasan.
Jadilah fleksibel bila diperlukan.

8. "Nilai" berbeda dengan "harga".
Ongkos produksinya mungkin rendah, tapi apa nilainya? Bagaimana faktor-faktor kemudahan bagi pengguna, apakah bisa meningkatkan produktivitas bagi pengguna? Berapa besar dapat mumbuat efisiensi untuk pelanggan?
Perusahaan seperti Apple, McKinsey, dan Mercedes dibangun agar walaupun pelanggan harus membayar harga tinggi tapi mereka akan mendapatkan barang dengan kualitas tinggi.
Jadi tanyakan pada diri Anda: Apa persepsi pelanggan tentang nilai produk atau jasa perusahaan saya?

9. Pemain A menyewa pemain A+.
Biasanya, ketika sebuah perusahaan masih kecil hanya mempekerjakan pemain A. Tetapi ketika perusahaan tumbuh beberapa pemimpin manjadi takut karyawan barunya akan lebih baik dari dia. Mereka bahkan mungkin takut akan mengambil alih pekerjaan mereka.
Carilah karyawan yang terbaik. Jika memungkinkan, mempekerjakan orang-orang yang lebih baik dari Anda.

10. Demo nyata dari CEOs.
Steve Jobs terkenal sering memimpin demo sendiri. Anda juga harus.

11. Betul-betul pengusaha.
Bila Anda telah melompat kurva, mungkin produk atau jasa Anda tidak segera menjadi besar. Tentunya ini akan mengganggu pikiran anda, “kok bisnis saya malah turun?”
Jangan biarkan hal itu menghambat Anda. Karena jika Anda tidak melakukannya mungkin Anda akan menunggu selamanya untuk masuk ke pasar dan jendela kesempatan akan hilang.

12. Pemasaran = Nilai Unik.
Produk atau jasa Anda hurus memiliki “nilai yang tinggi” dan “keunikan yang tinggi”.

Startup Lessons from Guy Kawasaki



Sumber Tyovan Ari Widagdo


11 kesalahan yang biasa dilakukan oleh startup menurut Guy Kawasaki adalah:


1. Multiplying big numbers by 1 percent

Banyak startup pemula membuat kesalahan dengan mengukur market dengan asumsi dirinya sendiri. ” Bayangkan jika kita menguasai market 1% saja dari seluruh pengguna internet, produk kita akan berhasil, kita yakin bisa menguasai 1% itu ! “, pasti diantara kita ada yang pernah mengatakan kata-kata yang mirip dengan kalimat tadi, padahal untuk menguasai market yang 1% itu tidak semudah apa yang kalian omongkan ! untuk menguasai yang 1% itu butuh kerja keras dan tentunya modal yang tak sedikit.

Investor tentunya juga tidak mau mempercayakan dana investasinya kepada startup yang ketika melakukan pitching mengungkapkan jika dia hanya ingin menguasai 1% saja. Tak akan ada investor yang mau memberikan dana kepada anda.

2. Scaling to soon

Ini yang paling sering dilakukan oleh startup, melebarkan bisnis tanpa membuat milestone yang jelas. Ketika usaha kita mulai berkembang, kita cenderung bernafsu untuk berekspansi secepat mungkin tanpa fondasi bisnis yang kuat. Hal ini akan menjadi bumerang kita dikemudian hari jika apa yang kita bangun tidak kokoh fondasinya. Ibarat gedung kalau fondasinya rapuh dan kita paksa bangun 20 lantai maka akan ambruk segera mungkin.

Buatlah fondasi bisnis yang kokoh dulu baru pikirkan untuk ekspansi !

3. Partnering

Partnering itu sebetulnya adalah omong kosong, Satu hal yang harus diingat oleh para pelaku startup, yaitu sales ! yap, startup harusnya focus pada sales, monetisasi dan memikirkan caranya agar mendapatkan uang dari user secepat mungkin yang menggunakan layanan kita.

4. Pitching instead of prototyping

Ketika melakukan pitching, disarankan untuk menunjukan demo atau prototype dari produk yang akan kita bikin, kerena dengan menunjukan hal tersebut maka investor akan yakin bahwa kita sesungguhnya mampu membuat produk itu. So, the key is not the ” PITCH “, but the key is the ” PROTOTYPE “.

5. Using too many slides and to small of font

Banyak diantara startup yang sering melakukan kesalahan dalam hal pitching, Mr. Guy menuturkan bahwa jumlah ideal untuk slide PowerPoint adalah 10 slides dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pitching adalah 20 menit. Ukuran font juga jangan terlalu kecil, idealnya adalah 30 point atau lebih. Aturan ini dikenal dengan istilah 10/20/30.

6. Doing things serially

Kesalahan terbesar yang biasa dilakukan oleh startup adalah melakukan semua hal dalam waktu yang bersamaan. Padahal seharusnya kita harus bisa mengatur sejumlah tugas untuk dikerjakan secara bertahap, tidak sekaligus semuanya. Semua rencana yang akan kita lakukan harus di breakdown secara detil menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian kita selesaikan satu persatu secara berkelanjutan. Bicara mengenai startup kita bicara mengenai management bung !

7. Believing 51% = Control

Banyak founder startup berpikir seperti ini, mentang-mentang memiliki 51% saham, maka otomatis control perusahaan ada di tangan si founder, ups, that’s wrong guys !

Namanya ngambil duit dari luar atau investor itu sebenarnya anda sudah kehilangan control atas startup anda. Lho kok bisa ? ya tentu saja, karena anda sudah melibatkan orang lain untuk ikut bagian dari masa depan startup anda. Ingat, control perusahaan itu tidak seperti anggota DPR yang harus vote beberapa orang untuk mengambil keputusan, tetapi isu terbesarnya adalah bagaimana anda bisa menjaga hubungan emosional, masalah keuangan dan bertanggung jawab terhadap si investor.

So kalau kalian tidak mau beban dengan masalah tadi, mending jangan mengambil uang dari investor, gunakan modal sendiri. 51% is an illusion of control !

8. Believing patents = defensibility

Paten adalah salah satu isu kadang dipikirkan sang founder, berkutat di panten sesungguhnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Untuk startup sesungguhnya paten tidak akan berarti untuk anda, kecuali memang ada penemuan teknologi spesifik yang memang belum ada.

Ingat, pemain-pemain besar bisa saja mempermainkan paten anda, mereka mempunyai modal besar untuk bersaing dengan paten anda. Investor sesungguhnya tahu benar akan hal ini.

9. Hiring in your own image

Sebagai startup, anda harus belajar untuk memperkerjakan dan berkerjasama dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak anda miliki. Jika anda adalah seorang programmer, maka seharusnya anda berkerjasama dengan orang yang ahli dalam bidang management, sales dan business, begitu pula sebaliknya. Jangan mengerjakan semua hal sendiri, you are not superman guys !

Tim di dalam startup butuh keseimbangan dalam menjalankan operational. Diversity is really important. Skills & culture. Complement each others

10. Befriending your VC’s

Bro, investor actually is not your friend. They are in the business of making money, mereka bertemu dengan anda, tertarik dengan anda dan mau bekersama dengan anda karena alasan UANG, mereka berharap mendapat keuntungan dari menjalin hubungan dengan anda, itu faktanya.

The key to managing any VC or investor is just by MEETING YOUR PROJECTIONS.

Masa-masa bulan madu antara founder dan VC itu hanya ada di awal.

Don’t be friend with them.
They are not friend or loyal to you.
Be friendly is okay.

11. Thingking VC’s can add value

Jangan terlalu berharap kepada VC yang mengatakan bahwa dia bisa menambah suatu value bagi startup anda, yang bisa memberikan value terhadap startup anda ya anda sendiri, bukan orang lain.

Ingat, VC adalah orang yang super sibuk, jangan mengira mereka akan mau membantu bisnis anda. You have to make your business !


Note :
Artikel ini diambil dari tulisan Tyovan Ari Widagdo yang diterbitkan oleh startupbisnis.com.
sumber : http://startupbisnis.com/startup-lessons-from-guykawasaki/

Lima tanda kelompok mulai berantakan


 Anda punya kelompok kerja atau bisnis, namun merasa keadaannya hanya itu-itu saja. Waspadalah, jangan-jangan kelompok Anda sudah tidak berfungsi dengan baik dan mulai berantakan. Bagaimana menyikapi hal ini dan apa saja tandanya? Ada lima tanda kelompok sudah tidak berfungsi dengan baik. Hal ini dikemukakan oleh Patrick Lencioni dalam bukunya “The Five Dysfunctions of a Team”.

Tanda pertama dari tim yang tidak berfungsi adalah the absence of trust. Ketiadaan kepercayaan. Kehilangan rasa saling percaya dalam kelompok adalah gejala mendasar dalam tim yang mulai tak berfungsi dengan baik. Hal ini sangat berbahaya karena menyumbangkan lenyapnya ikatan dalam tim. Bagaimana mungkin tim yang setiap komponennya memegang peranan dalam pencapaian tujuan ternyata tidak percaya satu sama lain. Pasti akan berantakan.

Rasa percaya berarti anggota tim tahu rekan satu tim mereka takkan memanfaatkan kerapuhan mereka. Tiap orang pasti punya kelemahan atau kerapuhan. Kerapuhan itu termasuk:
1.      Ketidakmampuan dalam pekerjaan
2.      Kelemahan dalam pergaulan
3.      Kesalahan
4.      Permintaan bantuan

Dengan rasa percaya, anggota tim benar-benar bisa memfokuskan semua energi dan perhatian mereka pada pekerjaan yang sedang dilakukan.

Nah ketika orang lain menggunakan kelemahan pihak lainya untuk menjatuhkannya, itu indikator mulai adanya perpecahan. Kalau dalam tim sudah mulai suka ngerasani yang lain, menjelekkan, curiga, tidak saling percaya, maka itu tanda awal kelompok mulai tidak berfungsi/pecah. Walau tujuan dari tim sudah ditetapkan dari awal, hal ini bisa saja terjadi. Mengelola manusia tdk mudah.

Tanda-tanda tim yang tidak ada rasa percaya:
1.      Mereka tak suka menghadiri rapat
2.      Jarang meminta bantuan atau menawarkan bantuan kepada orang lain,
3.      Saling menyembunyikan kelemahan dan kesalahan mereka dan jarang menawarkan saran di luar area tanggung jawab mereka,
4.      Mereka saling menduga yang terburuk,
5.      Menyimpan dendam,
6.      Gagal mengenali dan memanfaatkan keterampilan dan pengalaman satu sama lain, dan
7.      Mencari alasan untuk tidak menghabiskan waktu bersama.

Dibutuhkan peran pemimpin yang bisa masuk ke semua kalangan, tidak bersikap memihak dan mau terbuka dengan kerapuhannya sendiri. Namun pemimpin jangan sampai memanipulasi tindakan dan emosi orang lain, sebab hal itu akan cepat membuatnya kehilangan rasa percaya dari kelompoknya.

Yang kedua adalah fear of conflict... Takut konflik... Kecenderungannya adalah tidak mau konflik karena mggak mau ada yg sakit hati. Akan tetapi...ternyata menggunakan serangan dari belakang yg lebih menyakitkan...

Apa indikatornya?
1.      Membuang banyak waktu dan energi untuk menjaga dan mengelola relasi interpersonal.
2.      Rapat berlangsung membosankan karena menghindari isu-isu kontroversial yang penting bagi kesuksesan mereka,
3.      Tapi di luar rapat, politik “pintu belakang” dan serangan pribadi tumbuh subur
4.      Gagal memanfaatkan perspektif semua anggota tim.

Di sini seorang pemimpin harus bisa mengelola konflik dengan baik. Jangan mengabaikan jika ada konflik atau senang jika melihat seakan tak ada konflik. Kalau itu yang dilakukan, hal itu akan membiarkan kekacauan bertahan dan bahkan berkembang. Ibarat membiarkan adanya bara api dalam sekam.

Tanda yang ketiga adalah tidak adanya komitmen. Tanda tim yang tidak ada komitmen adalah tidak memiliki arah, tujuan dan prioritas yang jelas. Untuk mengatasi hal ini, pemimpin harus bisa memastikan kelompoknya memiliki arah, prioritas dan tujuan yang jelas untuk setiap orang.

Yang keempat adalah anggota kelompok mulai melakukan penghindaran tanggung jawab. Sering kali anggota tim yang hubungannya cukup dekat dengan anggota tertentu menjadi ragu-ragu untuk meminta pertanggungjawaban karena tidak mau merusak hubungan pertemanan mereka. Padahal, ketika seseorang tidak memenuhi harapan, hal itu justru akan merusak hubungan pertemanan. Hal lain, kondisi ini memicu para anggota kelompok bersikap bahwa pemimpin menjadi satu-satunya “sumber disiplin”. Ini akan membuat anggota kelompok yang lain akan tetap diam dan cuek meskipun jelas-jelas tahu ada sesuatu yang salah. Padahal seperti diketahui, tekanan dari rekan membuat orang lebih bertanggung jawab.

Adalah baik jika sebuah kelompok bisa terbuka untuk meminta anggotanya untuk bertanggung jawab atas peran dan tugasnya.  Untuk itu perlu adanya:
1.      Punya standar yang sama untuk semua orang
2.      Setiap anggota tim selalu saling mengingatkan anggota lain untuk lebih bertanggung jawab
3.      Mereka mempertanyakan masalah secara terbuka. 

Pemimpin perlu mendorong dan mengizinkan anggota untuk saling memantau pelaksanaan tanggung jawab mereka dan saling meminta pertanggungjawaban. Bersikap jelas tentang apa yang perlu dicapai oleh tim, siapa yang harus mengerjakan apa dan bagaimana semua orang harus bersikap.  Dengan demikian perlu ada pembagian tugas yang jelas. Membuat semua keputusan jelas dan kasat mata supaya tidak ada yang lupa
Tanda yang terakhir, yang kelima adalah, ketidakpedulian pada hasil. Kondisi ini biasanya ditunjukkan dengan anggota tim lebih peduli pada prestasi pribadi daripada tujuan kelompoknya. Anggota tim hanya egois dan hanya mementingkan keberhasilan pribadi atau kelompoknya. Tidak peduli pada apa yang terjadi pada orang lain. Untuk dia, yang penting adalah keberhasilannya.

Oleh karenanya, pemimpin harus bisa mengambil peran penting yakni mengarahkan anggotanya agar berfokus pada hasil bersama. Jika timnya merasakan pemimpinnya lebih menghargai tujuan pribadi, mereka akan terdorong untuk melakukan hal serupa. Pemimpin tim juga tidak boleh egois dan berikan pengakuan pada mereka yang benar-benar mengupayakan pencapaian tujuan kelompok.







Tahap Perkembangan Kelompok


Anda berpartner bisnis namun tak lama setelah dibentuk sudah mulai ribut dan bertengkar bahkan mungkin mau bubar? Ada sebuah teori perkembangan sebuah kelompok yg dikemukakan oleh seorang ahli yang bernama Bruce Tuckman. Sebuah tim akan melalui 4 tahap, yaitu: forming (pembentukan), lalu storming (badai), kemudian norming (membuat norma/aturan bersama), dan kemudian bisa performing (berkarya optimal)

Mirip dengan dengan orang pacaran...Ada tahap jadian... Trus mulai ribut... Nah, di sini tahap yg paling bahaya sebab banyak konflik. Bisa putus atau bubar...

Kalau pemimpinnya tidak bisa mengatur dgn baik, maka badai ini tidak berakhir dengan baik. Mungkin kelihatannya saja kelompok itu "rukun" tapi di dalamnya saling curiga, saling menusuk.

Namuin, kalau dapat dikelola dengan baik, maka akan terwujud norming, terbentuknya kesepakatan bersama, sebuah normalisasi dan ada aturan main yang disepakati bersama.


Banyak usaha yang partneran, pecah di tahap storming ini. Kalau Anda pengalaman berada di sebuah kelompok, pasti akan merasakan hal ini, terutama saat terjadinya badai. Sebuah kelompok yang sudah dibentuk, sdah melalui fase forming... seperti dikemukakan teori ini, pasti nanti akan memasuki fase badai (ribut).

Nah, dengan memahami teori ini, kita mestinya bisa menyikapinya lebih baik, tidak ikut emosioal. Bagi yang tidak tahu teori ini, mungkin ketika menghadapi fase badai ini akan terasa menjengkelkan... Kok ribut melulu, tidak menyenangkan... hingga mungkin timbul keinginan untuk keluar saja dari lelompok itu. Lebih buruk lagi jika masuk dalam pusaran konflik. Namun semua itu pasti akan terjadi dan membutuhkan proses untuk bisa melalui fase badai ini.

Di sinilah kepemimpinan dari ketua kelompok tersebut diuji. Di kelompok mana saja pasti terjadi. Bedanya, ada pemimpin yang bisa mengatasi konflik, ada yang tidak mampu sehingga fase badai ini berkepanjangan dan timnya tidak efektif...Kalau Anda ikut kelompok, apalagi yg baru dibentuk, pasti mengalami fase badai ini....

Dengan mengetahui teori ini, kita saat mengelola kelompok, tahu tahap-tahapnya. Ada saat kelompok itu ribut, iri-irian pekerjaan, pembagian tugas dan berebut haknya... Trus jadi muncul geng gengan. Itu biasanya karena pemimpinnya tidak sadar akan fase-fase ini dan terhisap pada pusaran konfliknya, bukan menyelesaikannya.

Kalau kelompok tersebut sudah bisa melalui tahap badai, maka akan masuk ke tahap norming, yaitu tahap Normalisasi (Norming). Pada tahap akan terbentuk hubungan yang dekat antar anggota kelompok dan menetapkan aturan-aturan serta menemukan cara berkomunikasi yang efektif supaya dapat saling bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan. Tanda-tanda Kelompok berada di tahap norming adalah adanya peninjauan ulang dan penjelasan mengenai tujuan kelompok, timbulnya persahabatan dan kerjasama antar anggota kelompok, mulai dapat mendengar pendapat anggota lain serta dapat memahami dan mensinergikan kekuatan dan kelemahan.

Persoalannya, kadang sulit melangkah ke tahap norming ini karena adanya kecenderungan sukanya ngerasani, tidak berani bicara di depan, namun di belakang mengosipkannya. Yang suka ngomong bicara langsung justru dimusuhi, dirasani. Kalau ada anggota kelompok yang tampak menonjol, yang lain tidak mau bicara namun kasak kusuk di belakang. Kalau karakter pemimpinnya sendiri mudah dihasut, tipe Asal Bapak/Ibu Senang (ABS), memang akan memperburuk keadaan.

Dari storming ke norming, peran pemimpin sangat penting. Pemimpin harus membuat hubungan yang dekat antar anggota kelompok dan menetapkan aturan-aturan serta menemukan cara komunikasi yang tepat supaya dapat membantu anggota tim mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi di tahap storming ini ada dua kemungkinan arahnya, yakni masuk ke tahap norming atau masuk ke tahap seperti tadi disebut timnya datar2 saja atau bahkan memburuk hingga pecah...

Di sinilah dibutuhkan pemimpin yang memiliki sikap terbuka dan bisa membina kelompoknya dengan baik. Jika tahap norming ini bisa dicapai maka akan mudah untuk masuk ke tahap berikutnya yaitu performing, yakni menghasilkan kinerja atau prestasi yang maksimal.

Tips agar lebih percaya diri


Bagaimana menjadi percaya diri? Menurut saya ada tiga cara yang perlu dan bisa dilakukan.

Pertama, latihan, latihan dan latihan. Ingat, latihan itu penting. Kalau Anda tidak percaya diri berjualan, maka berlatihlah berjualan. Latihan itu bisa sambil pura-pura, misalnya di depan cermin belajar cara bicaranya. Bisa juga latihan dengan teman (pura-pura latihan jualan). Kemudian latihan. Jadi, mesti latihan. Semakin banyak latihan akan semakin bisa. Semakin bisa maka semakin percaya diri. Cara lain sebelum praktek, bisa juga dengan membayangkan dalam benak kita. Membayangkan diri kita berjualan, menerangkan produk ke orang lain dan berkomunikasi dengan orang itu. Dengan membayangkan (visualisasi) akan memudahkan kita untuk melakukannya nanti.

Yang kedua, biasakan berpikir dan berkata positif dalam hati. Misalnya, "saya pasti bisa" "Menjual pasti bisa saya lakukan." "Saya adalah orang yang hebat" "Saya orang yang bahagia" "Saya orang yang sukses". Biasakan berkata pada diri sendiri yang hebat-hebat. Sebab kalau Anda berkata dalam hati yang negatif, seperti: "Saya mana bisa?" "Kalau nanti ditolak, bagaimana malunya?" "Sepertinya pasti gagal deh". Kata-kata negatif seperti ini akan menyurutkan langkah kita.

Otak kita ini ada dua bagian utama, ada otak kiri dan otak kanan. Otak kanan itu otak yang kreatif, imajinatif dan penuh ide. Sementara otak kiri lebih logis dan sangat mengatur hidup kita. Kalau Anda punya ide kreatif, itu prosesnya di otak kanan. Tapi otak kiri ini sering bilang, "ah ide seperti apa hebatnya?" "Apakah saya mampu melakukannya?" Nah, biasakan otak kanan Anda yang berbicara. Ide kalau dibiarkan berlama-lama tidak dijalankan, maka otak kiri yang menguasai sehingga ide itu tidak dijalankan.

Nah yang ketiga, hargai dan ingatlah keberhasilan-keberhasilan yang Anda telah capai. Jangan mengingat kegagalan-kegagalan atau peristiwa yang tidak menyenangkan. Rayakan kemenangan. Kalau semisal, Anda berhasil melakukan penjualan yang pertama, rayakanlah itu. Tidak harus pesta besar-besaran, tapi bisa dengan memuji diri Anda sendiri. Rayakan sendiri kalau perlu dengan cara yang Anda sukai. Nikmati saat-saat itu sebagai sebuah kemenangan.

Dari tiga hal yang bisa Anda lakukan itu... dan saya yakin bisa dilakukan, pasti akan membawa perubahan. Lakukan latihan terus menerus, kata-kata positif dalam hati, dan rayakan kemenangan, maka kepercayaan diri Anda akan terpupuk makin besar. Jangan pernah ragu, mulai dari langkah kecil. Seperti kata pepatah, perjalanan seribu kilometer dimulai dari langkah pertama. Anda untuk bisa sukses berjualan, mesti memulai berjualan yang pertama.  There is always a first time for everything. Selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya.

Jadi, jangan hanya duduk menunggu, bersikaplah proaktif. Kalau Anda ingin bisa lebih trampil dalam berkomunikasi, maka banyaklah berbicara dengan orang yang tidak dikenal, misalnya saat di dalam bus, di taman dan lain sebagainya. Mungkin Anda diacuhkan, mungkin Anda ditolak, tapi jangan membuat hati Anda surut. Latihlah, tempalah diri Anda makin hebat. Percayalah, Anda pasti bisa.

3 Ketrampilan yang harus dimiliki Entrepreneur

Dalam berbisnis itu, terutama yang bukan sekedar jualan, ada 3 ketrampilan yang perlu dimiliki seorang entrepreneur. Pertama adalah membuat produk atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kita bisa saja pintar membuat produk atau jasa, tapi kalau tidak dibutuhkan masyarakat juga percuma. Umumnya. banyak orang memulai usaha karena produk atau jasa yang dibuatnya itu awalnya digunakan oleh dirinya sendiri. Misalnya: menjahit baju untuk keperluannya sendiri, memasak untuk keluarganya, dll.

Itu ketrampilan pertama yang perlu dimiliki. Kalau bisnis Anda adalah toko atau jualan, maka ketrampilan yang ini bisa diabaikan.

Ketrampilan kedua adalah ketrampilan menjual. Percuma bisa buat produk atau jasa namun tidak bisa jualan. Ketrampilan menjual ini penting sebab di luaran pasti juga ada pihak lain yang menawarkan produk atau jasa serupa. Jadi Anda harus bisa menjual. Artinya membuat orang membeli produk atau jasa Anda. Anda tidak bisa hanya berdiam diri saja menanti orang datang membeli produk atau jasa Anda. Anda harus bisa jualan. Kalau produk atau jasa Anda benar-benar dibutuhkan, memang bisa saja ada yang datang sendiri untuk membelinya. Tapi, menjual itu harus dilakukan. Itu butuh ketrampilan tersendiri.

Banyak kegagalan bisnis karena yang punya usaha tidak bisa jualan, tidak mau jualan, gengsi, malu, takut ditolak, nggak punya nyali untuk jualan. Jadi, bisa bikin tapi tidak bisa jualan, juga akan membawa kegagalan.

Yang ketiga, ini yang juga sangat-sangat penting sebab kalau ketrampilan yang ketiga ini diabaikan, juga bisa membuat bisnis kita berantakan. Apakah itu? Yang tak kalah pentingnya adalah ketrampilan mengumpulkan uang.

Kalau Anda sudah bisa jualan, Anda akan mendapatkan uang. Tapi... tidak semua orang memiliki ketrampilan mengumpulkan uang. Ibarat nasihat orang jaman dulu, kumpulkan sen demi sen...

Pepatah mengatakan dikit dikit lama-lama jadi bukit

Ketrampilan mengumpulkan ini tidak semua orang bisa. Ada yang boros, ada yang kurang sabar sehingga terlalu cepat mengembangkan bisnisnya padahal belum saatnya. Anda mesti bisa mengumpulkan uang (collecting money) dengan baik.

Kalau Anda punya ketiga ketrampilan ini, bisa membuat produk atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat, mampu menjualnya dengan baik serta bisa mengumpulkan pendapatan dengan maksimal. pasti bisnis Anda akan lebih berumur panjang dan bisa berkembang.
Banyak usaha yang jalan di tempat, tidak bisa berkembang, adalah karena pemiliknya tidak bisa mengumpulkan uang dengan baik.

Kelas Online: Mengelola Usaha Warung Makan

Anda ingin membuka usaha warung makan? Ada sebuah buku yang menurut saya bagus dan praktis bagi yang ingin membuat warung makan. Buku ini berjudul "Sukses Mengelola Usaha Warung Makan" ditulis oeh Wulan Ayodya.

Warung makan merupakan usaha skala kecil yang menjual makanan. Kebanyakan warung makan merupakan tempat makan yang sederhana dan dikunjungi oleh kalangan menengah ke bawah. Tetapi banyak pula kalangan kelas menengah ke atas yang makan di sini. Ciri khas warung makan adalah adanya tempat makan dengan ruang dan perabot yang sederhana. Meskipun demikian, banyak warung makan yang menyajikan makanan dengan rasa yang sangat enak dan biasanya dijual dengan harga yang murah.

Saya mencoba membacakan garis besar isi buku ini, bisa dilihat dalam rangkaian seri 8 (delapan) video yang saya buat di bawah ini. Untuk lebih lengkapnya silahkan beli bukunya langsung.

Bagian 1: Jenis-jenis warung makan




Bagian 2: Tujuh langkah memulai usaha warung makan.




Bagian 3: Survei Pasar & Lokasi, Modal dan Pemasaran




Bagian 4: Tenaga kerja untuk warung makan




Bagian 5: Modal warung makan




Bagian 6: Tips memilih lokasi dan penentuan harga jual




Bagian 7: Pengelolaan Usaha dan Pelayanan Pelanggan




Bagian 8 (terakhir): Mengatasi keluhan pelanggan



Buku ini sangat cocok bagi mereka yang sedang berada pada tahap awal untuk membuka usaha ini. Selain itu, buku ini juga bisa digunakan sebagai panduan bagi mereka yang sudah berkecimpung di dunia ini, tapi ingin mencari informasi tambahan mengenai bisnis mereka untuk mengembangkan usaha.

Semoga bermanfaat.

Apa beda sales dan marketing?

Banyak perusahaan membuka lowongan marketing, tapi ternyata tugasnya sebenarnya adalah melakukan penjualan. Atau, orang banyak yang sering mencampuradukkan antara fungsi penjualan dengan pemasaran (marketing). Ada yang bilang marketing itu pasif, sementara selling itu aktif. Atau marketing itu di bagian dalam sementara sales di luar. Kalau marketing itu harus banyak mendengarkan, sementara sales banyak berbicara. Sebenarnya antara sales dan marketing adalah dua hal yang berbeda. Di manakah letak perbedaannya?

Kalau bisa saya beri gambaran secara umum, bedanya seperti ini. Kalau semisal Anda mau beli sebuah handphone, maka tentunya Anda punya kriteria HP yang hendak dibeli. Mungkin Anda tahu ada beberapa merk terkenal dan tipe yang sangat bagus. Tapi bisa jadi HP tersebut tidak cocok untuk Anda karena harga yang ditawarkan tidak pas. Demikian juga ada HP yang sangat murah, tapi tidak juga cocok. Artinya, Anda akan punya kisaran harga yang sesuai dengan HP yang diinginkan. Misalnya, Anda memilih merk "ABC", pertanyaannya adalah kenapa memilih merk itu? Nah, inilah tugas bagian marketing. Tujuan utama marketing adalah melakukan positioning. Apa itu? Positioning adalah bagaimana meletakkan produk ke benak pelanggan. Marketing dikatakan berhasil kalau di benak pelanggan yang ditarget, telah terjadi positioning tersebut.

Contoh lain, Anda ingin beli laptop. Merk apa yang muncul di benak Anda yang ingin Anda miliki? Itulah keberhasilan marketing. Karena dalam marketing melibatkan soal harga, promosi, tempat (place) dan produk. Contoh lain, Anda mau ke minimarket, ke manakah Anda pergi? 7 eleven? Indomaret? Toko biasa? Yang muncul di benak Anda dan membuat Anda ingin pergi, itulah keberhasilan marketing.

Lalu? Apa bedanya dengan sales? Sales bertujuan supaya orang membeli produk mereka. Marketing tidak bisa dibilang lebih luas cakupan daripada sales. Kedua hal ini sama sekali berbeda. Sekali lagi, Sales tujuannya adalah supaya orang membeli produknya. Jadi, kalau misalnya Anda dalam benak sudah senang dengan merk HP tertentu dan butuh ingin beli sebuah HP. Maka Anda pergi ke sebuah toko. Di sana, setelah ditawari macam-macam, ternyata Anda membeli merk yang lain, yang mungkin sebelumnya tidak pernah Anda pikirkan atau bayangkan bakal membelinya. Inilah keberhasilan seorang sales. Bahkan bisa saja, Anda tidak berencana membeli, tapi tiba-tiba tergerak membeli. Misalnya, tak ada rencana belanja, tapi lewat sebuah toko, bertuliskan diskon besar-besaran, 80% misalnya. Lantas Anda beli. Itu adalah bagian dari program penjualan. Anda tidak tertarik beli sesuatu, tapi karena penjualnya menarik, tampan atau cantik, bisa saja kemudian Anda kena rayu dan beli. Inilah bedanya.


Kalau Anda ke sebuah toko mau beli susu merk tertentu untuk anak, dan di sana ada SPG (sales promotion girl) dari susu merk lain. Kalau dia SPG yang handal, dia bisa membelokkan Anda untuk membeli susu merknya. Mungkin dengan menyampaikan manfaat, keunggulan dan hal lainnya. Bisa jadi Anda mengatakan, saya tidak mungkin membeli susu yang lain untuk anak saya. Itu berarti, Anda belum bertemu dengan seorang sales yang hebat.
 
Jadi, beda sales dan marketing bukan pada yang sales di luar sementara marketing di dalam. Bukan juga marketing itu lebih luas cakupannya. Marketing bertujuan agar produk atau toko atau usaha kita tertanam di benak pelanggan (atau calon pelanggan). sementara sales adalah berusaha membuat orang membeli produk/jasa yang dijualnya. Sales yang baik bisa membuat orang tertarik membeli, meski orang itu awalnya tidak berniat membeli merk tersebut. Fasilitas seperti garansi (layanan purna jual), fasilitas layanan antar, itu adalah program penjualan, bukan marketing. Marketing berusaha menentukan siapa target pelanggannya (customer segment yang disasar), lalu membuat produk yang sesuai. Dengan demikian, jangan sampai produk itu diluncurkan di pasar yang salah. Namun sales yang hebat, dia bisa menjual kepada siapa saja. Misalnya, saya bukan penggemar HP merk Apple. Brand Apple tidak cocok untuk saya. Tentu saya punya banyak alasan. Tapi kalau ada sales yang hebat, bisa saja kemudian membelinya. Contoh lain, program asuransi ditujukan kepada orang yang butuh rasa aman dan proteksi. Meski saya tahu manfaatnya, mungkin saya merasa saya tidak perlu beli asuransi. Atau, kalau ada program marketing yang bagus dan berhasil, mungkin di benak saya akan ada asuransi yang saya sukai, meski saya tetap saja belum tentu membelinya. Nah, sales yang hebat, bisa membuat saya membeli program asuransinya.




Kelas Online: Pengantar Manajemen Bisnis

Yang dipelajari selama 5 bulan:

1. Konsep dasar Manajemen Bisnis
2. Kepemimpinan & Entrepreneurship
3. Pengertian dan Bentuk Usaha
4. Fungsi-Fungsi Manajemen
5. Konsep Dasar Pemasaran
6. Perilaku Konsumen
7. Dasar Manajemen Keuangan
8. Pembelanjaan dan Modal
9. Perilaku Organisasi
10. Analisis Lingkungan Bisnis
11. Komunikasi Bisnis dan Networking
12. Tanggung Jawab dan Etika Bisnis
13. Manajemen Risiko
14. Inovasi dan Pertumbuhan
15. Manajemen Perubahan


Segera daftar, kelas dimulai 2 Desember 2015:
www.akademiwirausaha.com/pendaftaran.html



Kelas online menggunakan Edmodo untuk belajar.



Petunjuk mendaftar jika menggunakan HP:


Jangan abaikan ilmu manajemen

Menurut Michael E. Gerber dala, bukunya "The E-Myth, Why Most Small Businesses Don't Work and What to Do About It ", ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang yang menjalankan usaha. Pertama adalah ketrampilan di bidang teknisnya. Artinya, seorang yang jualan makanan harus tahu seluk beluk memasak. Yang jadi perias juga harus tahu cara merias. Artinya tahu betul tentang cara melakukan kegiatan usahanya.

Yang kedua adalah kemampuan entrepreneurshipnya. Di sini adalah kemampuan melihat peluang, keberanian mengambil resiko serta inovasi ditambah ketrampilan menjual. Entrepreneurship diperlukan untuk memulai sebuah usaha.


Nah, yang ketiga yang sering dilupakan adalah kemampuan manajemen. Yang ketiga ini sering diabaikan karena memang banyak yang tidak mau mempelajarinya. Maunya segera action. Padahal ini pondasinya menjalankan bisnis. Akibatnya, menghadapi persaingan bisnis, seringkali gagal. Tidak bisa mengelola usaha dengan baik. Banyak kebocoran di sana-sini. Banyak usaha yang tutup di tahun pertama karena pemiliknya tidak memahami ilmu dan ketrampilan manajemen. Jadi, sebelum itu terjadi, jangan mengabaikan ilmu manajemen.

Dynamic People Skills

Dynamic People Skills

Developing Relationships That Develop Success

By: Dexter Yager

Characteristics of an immature person

  1. Living in the immediate
  2. Short on discipline
  3. Dominated by emotions
  4. Limited knowledge without knowledge of the limits
  5. Operating from a sentimentality base, not a reality base
  6. Sexually absorbed
  7. Identity sensitive



Ten Obstacles to personal change
  1. Get rid of the “Positive Cover”
  2. Avoid the “Hidden Hooks” of Life
  3. Let go of your “comfort blanket”
  4. Give up deceptive desires
  5. Quit being suspicious of change
  6. Spring the trap of small thinking
  7. Don’t ignore the passing of time
  8. Avoid fantasy-filled failure
  9. Destroy lethal laziness before it destroy you
  10. Quit sabotaging yourself by focusing on yourself

Positive patterns for success: Personal nonnegotiables
  1. Health
  2. Family and friends
  3. Morality
  4. Spiritual life

Developing Principles for successful living
  1. Make friends with the realities of life
  2. Take responsibility for your action – and your reactions
  3. Choose inspiring role models
  4. Get excited by the posibilities
  5. Get a direction and a mission
  6. Practice forgiveness
  7. Maintain sensible security
  8. Balance time with people and time alone
  9. Live in obedience to God

Productivity guidelines
  1. Know and control your aggravation scale
  2. Be willing to stretch
  3. Ride the emotional flow of your life
  4. Declare war on personal weakness
  5. Keep your promises

Twenty one Dynamic People Skills

  1. Practice a friendly flexibility
  2. Broadcast positive body language
  3. Keep your voice pleasant
  4. Express convictions appropriately
  5. Listen Attentively
  6. Be prepared
  7. Be autenthic
  8. Find a connection
  9. Build bridges
  10. Be empathetic
  11. Stand firm
  12. Defuse conflict
  13. Focus on a solution
  14. Use a “Can you help me?” approach
  15. Practice the “duck response”
  16. Develop a sense of humor
  17. Express genuine praise and appreciation
  18. Exude Happiness
  19. Make change easy
  20. Becoma a storyteller
  21. Pray with and for people

What motivates people
  1. Desire for respect
  2. A sense of legacy
  3. Need for financial security

The Pursuit of Pleasure
  1. Unreached golas of childhood
  2. Desire for power
  3. Desire for good health
  4. Desire to please God
  5. Helping others
  6. The joy of life itself

Motivation murderers
  1. Withdrawal from relationship
  2. Loss of energy
  3. Moral muck
  4. Surrendering to doubt
  5. Trying to be somebody else
  6. Gorillas from the past
  7. Laziness and pessimism
  8. Guilt

Staying Motivated
  1. Focus on your dream
  2. Remember who you influence
  3. Remember honor and duty
  4. Keep good role models in front of you
  5. Get your daily surge
  6. Jus do it!


Deal with regret:

Sources of regret
  1. Emotional baggage
  2. Halfheartedness
  3. Deliberately hurting someone
  4. Missed opportunities
  5. Not taking care of yourself
  6. Financial missteps
  7. Relationship blunders
  8. Unfulfilled personal expetations

Why it’s hard to deal with regret?
  1. Fear of personal guilt
  2. Fear of ongoing damage
  3. Fear of emotional exhaustion
  4. Powerless depression
  5. Spontanious anger

How to handle regret
  1. Make a clean sweep
  2. Commit to forward focus
  3. Be your own best friend
  4. Develop a desciplined memory
  5. Practice thankfulness
  6. Concentrate of giving
  7. Acknowledge a spiritual base
  8. Believe on yourself

Seven reasons people reject you
  1. You’ve become a threat to their lack of performance
  2. Jealousy
  3. Reluctance to change
  4. Misconceptions
  5. Mistrust
  6. Dislike 
  7. Experiences of personal rejection and disappointment

How rejection affects you
  1. It causes you to soubt your judgment
  2. It challenges relationships you thought
  3. It feed your natural insecurity
  4. It cracks your confidence
  5. It attacks your most basic motivation

How Not to respond to rejection
  1. Rapid retreat
  2. Sellout to self-doubt
  3. Camouflage compromise
  4. Approval pursuit
  5. Becoming a turtle
  6. Recycling the rejection
  7. Rejection reflection

Right ways to respond to rejection
  1. Spiritual  clarity
  2. Battle training
  3. A love of excellence
  4. True grit

True grit give you three things:
  1. Emotional control
  2. Mental discipline
  3. The power of chosen optimism

How’s your ego doing?
  1. You feel secretly hurt or resentful when other people are recognized or rewarded
  2. You tend to resist new information
  3. You talk about yourself too much
  4. You tend to de-edify other people
  5. You resist constructive feedback
  6. You treat the laws of God Lightly

How to retain humility
  1. Never lose your sense of wonder at what you’re learning from others
  2. Cultivate gratefullness
  3. Make people your priority
  4. Learn to see yourself from God’s perspective

Eliminate negative patterns

Negative Relationship patterns
  1. Temperamentalism
  2. Response laziness
  3. Reaction ruts
  4. Relational fantasies
  5. Operating from assumptions, not facts
  6. Pouring negatives onto others\
  7. Manipulation games
  8. Attack of the raptor

Changing negative patterns
  1. Don’t be trapped by perfectionism
  2. Don’t ignore your vulnerabilities
  3. One other thing to avoid


The Humanistic View of People
  1. Life is primarily a physical phenomenon
  2. People are simply an advanced form og animal life
  3. People are morally neutral
  4. People are environmentally controlled and developed


Negative emotions
  1. Fear
  2. Worry
  3. Anger
  4. Depression
  5. Hatred


Positive emotions
  1. Desire
  2. Confidence
  3. Excitement
  4. Happiness
  5. Love

How emotions work?
  1. Emotions are responders – not inisiators
  2. Emotions follow an ebb-and-flow pattern
  3. Emotion have only the power you give
  4. Emotions can be mistaken


Mastering your emotions
  1. Understand them
  2. Accept them
  3. Control them

Wrong reasons for dating
  1. Sex
  2. Status
  3. Social preassure

Right reasons for dating
  1. To honor God
  2. To build up the orthe person
  3. For personal development
  4. To prepare  for marriage

Vital quality in the person you date
  1. Respect
  2. Good manners
  3. Emotional stability
  4. Sense of humor
  5. Thins in common
  6. Strong identity
  7. Be the right kind of person yourself

Communication blockages
  1. Controlling
  2. Crushing
  3. Ridiculing
  4. Negative comparisons
  5. Extracurricular satisfaction
  6. Lack of responsibility and discipline
  7. Inability to accept reality
  8. Living by lies

How to restore intimacy
  1. Respect your partner
  2. Act and speak with honesty
  3. Lead in love
  4. Protect your source
  5. Dream together an celebrate
  6. Make sex a priority
  7. Be united spiritually      

7 hal penting dalam perjalanan menggapai sukses

Banyak orang ingin sukses, tapi maunya dengan cara yang instan, akibatnya justru sering gagal. Ada 7 hal yang perlu diperhatikan dalam perjalanan menggapai sukses. Apa sajakah itu?

Pertama adalah impian. Orang tanpa impian tak akan tahu mau kemana arah tujuan hidupnya. Kita perlu punya sesuatu yang sangat kita idamkan atau harapkan. Ingat, impian tidak sama dengan mimpi. Jadi, jangan bermimpi tapi milikilah impian yang sangat ingin kita wujudkan.
 
Ada yang bilang, kalau berangan-angan jangan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh akan sakit. Tapi, jangan juga terlalu rendah, sebab hal itu nantinya akan membuat kita tidak bersemangat dan cenderung bersantai-santai. Miliki impian yang besar, sebab tanpa begitu kita akan hidup bagai jalan di tempat. Proklamator Bangsa Indonesia, Ir Soekarno pernah berkata, ""Gantungkan cita-cita mu setinggi langit!"

Kita tahu bahwa impian kita itu pasti tidak mudah untuk mencapainya. Tapi kita jangan sampai kehilangan keyakinan. Miliki kepercayaan bahwa Tuhan pasti menyertai perjalanan hidup kita. Miliki juga keteguhan hati, yakin dan tidak ragu-ragu. Jangan mudah terbelokkan karena kita sendiri merasa tidak yakin akan tujuan yang hendak dicapai.
Nah, hal berikutinya, yang ketiga adalah ilmu. Tanpa ilmu kita tidak tahu harus bagaimana jika menghadapi masalah atau ingin mengerjakan sesuatu. Ada nasihat yang mengatakan, jangan buang hari-hari Anda tanpa mempelajari sesuatu, karena itu berarti menutup hari dengan kegagalan. Semakin banyak ilmu yang anda pelajari, semakin mudah bagi anda memahami ilmu yang lainnya. Untuk itu, belajarlah hal-hal kecil setiap hari, namun rutin setiap hari. Lakukan peningkatan kecil setiap hari, dan akan menjadi berarti sangat banyak di tahun-tahun yang akan datang.
Anda ingin sukses? Anda harus berusaha. Sukses tidak akan datang sendiri. Bahkan orang yang sangat beruntungpun melakukan usaha atau berikhtiar. Tak ada orang yang hanya berdiam diri atau bermalas-malasan akan menjadi sukses. Berikhtiar bisa dalam berbagai cara dan bentuk. Berusaha untuk mengumpulkan ilmu, modal, teman, atau apa saja yang baik. Untuk ini memang perlu prioritas, mana yang harus dikerjakan dan yang tidak. Hal yang kiranya membawa pengaruh buruk sebaiknya dihindari.
Lalu, banyak orang bekerja namun merasa berat melakukannya. Kunci kesuksesan adalah ikhlas. Melalui iklas kita akan bekerja dengan sepenuh hati. Kita akan siap untuk bekerja keras. Orang lain akan melihat dan menilai apa yang kita kerjakan. Ini akan membawa kita pada peluang-peluang baru karena orang melihat kesungguhan hati kita.
Hal yang keenam, dalam hidup kita perlu melakukan dengan sebaik mungkin. Do your best. Lakukan yang terbaik. Jadilah sempurna atau ihsan. Kalau kita mengerjakan dengan biasa saja, maka tak akan ada bedanya dengan yang lain. Kita perlu melakukan lebih dari yang lain, baik melalui kerja keras dan kerja cerdas. Inovasi perlu dilakukan untuk lebih baik.
Akhirnya yang ketujuh adalah istiqomah. Kerjakan segala sesuatunya secara konsisten. Dengan daya juang yang baik serta komitmen yang tinggi, niscaya apa yang kita lakukan akan membawa pada kesuksesan. Kesuksesan tidak selalu berarti harta berlimpah, tapi bisa juga hidup bahagia, berkecukupan dan apa yang kita lakukan memberi manfaat yang besar bagi banyak orang.
Demikianlah ketujuh hal yang perlu kita perhatikan, lakukan dan jadikan kebiasaan hidup agar membuat perjalanan kita menggapai sukses bisa lebih baik. Kalau kita ulang, ketujuh hal itu adalah:
 Akhirnya, barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil.
Semoga bermanfaat.

nur agustinus
8 Agustus 2015

Belajar menerima kekalahan itu penting


Pelajaran penting untuk kehidupan salah satunya adalah belajar menerima kekalahan. Dalam sebuah pertandingan, pasti ada yang menang atau kalah. Demikian juga kompetisi antar pribadi, baik dengan teman, atau bahkan keluarga sendiri, misalnya ayah dengan anak. Masalahnya, banyak orang tidak terbiasa untuk menerima kekalahan. Akibatnya, ketika dia kalah dalam sebuah kompetisi, langsung marah dan menghindari hal itu lagi. Orang bilang langsung mutung. Menurut pak Lucky Cahyana Subadi​, seorang rekan kerja saya yang berprofesi sebagai pendidik, hal ini bisa jadi karena kebiasaan main game di komputer atau gadget. Lho kok bisa? Karena kalau kita main game, ada banyak cara untuk menang. Kalau kita kalah, kita bisa cari cheat code agar bisa mengalahkan lawannya. Jadi, anak atau kita yang suka main game, akan tidak terbiasa menerima kekalahan. Nah, kalau begitu, sepertinya kita mesti memikirkan kembali dampak permainan ini. Kalau sehari-hari anak kita bermain dengan gadgetnya dan tampak menyenanginya, itu bisa jadi karena memang dia tidak pernah terkalahkan. Kalaupun kalah, tidak kontak dengan orang lain yang mengganggu emosinya. Dia akan berusaha untuk selalu menang, bahkan jeleknya, dengan curang. Bagaimana pendapat Anda?

Kelas Online: Analisis SWOT

Pokok Bahasan:

Analisis SWOT ( Strengths, weaknesses, opportunities, and threats). Analisis SWOT ini merupakan sebuat cara melakukan analisis kondisi internal dan eksternal usaha. Bisa juga dilakukan untuk menganalisis produk. Kedua kekuatan, baik internal maupun eksternal akan menentukan keberhasilan sebuah usaha. Ada perusahaan yang memiliki keunggulan namun tidak dipungkiri ada juga yang memiliki banyak kelemahan. Demikian juga situasi eksternal bisa menjadi peluang atau ancaman tergantung dari bagaimana kondisi usaha tersebut. Dengan melakukan analisis SWOT, kita dapat memilih strategi yang tepat.

Sub Pokok Bahasan
  • Analisis internal: Kekuatan dan kelemahan
  • Analisis eksternal: Peluang dan ancaman
  • Pemilihan strategi berdasarkan analisis SWOT
Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti dan mempelajari materi minggu pertama ini, UC Onliners bisa memperoleh pemahaman tentang bagaimana cara berpikir seorang pemasar dalam menganalisis lingkungan usahanya, baik internal maupun eksternal.

http://ciputrauceo.com/marketing/Jun2014/preview/

Transkrip video ada di bagian bawah video.

Video 1: Analisis SWOT


Video 2: Analisis Kekuatan dan Kelemahan


Video 3: Analisis Peluang dan Ancaman


Video 4: Strategi berdasarkan analisis SWOT


Transkrip keseluruhan video:

Analisis SWOT

Salam Entrepreneur UC Onliner. Bersama saya Nur Agustinus, kita kembali mempelajari tentang Strategi Pemasaran. Melanjutkan modul yang pertama tentang 3C, kini kita masuk pada analisis SWOT. Analisis SWOT itu adalah singkatan dari Strenghts, Weaknesses, kemudian Opportunities, dan Threats. Empat hal ini, Strenghts adalah kekuatan, Weaknesses adalah kelemahan, Opportunities/ peluang, kemudian Threats adalah ancaman, itu berhubungan dengan apa yang ada di perusahaan kita dan apa yang ada di luar perusahaan kita.

Di luar perusahaan kita tentunya ada beraneka ragam. Ada competitors, ada pelanggan, ada pemerintah, ada apa saja. Nah, kita akan melihat bahwa apa yang ada di perusahaan atau internal perusahaan itu sangat ,mempengaruhi bagaimana nantinya memasarkan sebuah produk atau jasa. Demikian juga peluang dan ancaman yang dari luar itu juga bisa mempengaruhi bagaimana perkembangan dari usaha kita.

Analisis SWOT itu berbicara soal kondisi internal. Kalau kita berbicara kondisi internal, itu bicara tentang kekuatan yang kita miliki dan kelemahan yang ada dalam diri kita. Tentunya dalam kaitan dengan produk dan usaha kita. Sementara di luaran itu ada opportinity, ada peluang dan juga ada ancaman. Ancaman bisa beraneka ragam. Bahkan bisa sekecil sekali pun. Misalnya ada perubahan aturan di jalan raya, di jalan tempat usaha kita berada katakanlah tiba-tiba dipasang rambu dilarang parkir, mungkin itu bisa mempengaruhi pendapatan kita. Jadi, semua ini harus kita analisis. Jangan sampai kita kemudian ceroboh dan kemudian mengabaikkan hal itu.

Dalam modul yang kedua ini, kita akan mempelajari bagaimana melakukan Analisis SWOT yang baik. Kita akan mendalami satu per satu bagaimana menganalisis kekuatan kita, kelemahan kita, peluang yang ada, dan ancaman. Keempat hal inilah yang akan kita pelajari untuk merumuskan strategi yang baik, strategi marketing agar kita bisa menjalankan usaha kita secara entrepreneurial, mampu bersaing, dan lebih baik lagi.

Strenghts and Weakness


Salam entrepreneur UC Onliners. Kali ini bersama saya Nur Agustinus akan membahas mengenai bagaimana menganalisis kekuatan dan kelemahan. Jadi artinya kalau kita membahas dari analisis SWOT, Strenghts,Weaknesses, Opportunities, and Treats, itu ada dua elemen yang pertama, yaitu Strenghts dan Weakness (Kekuatan dan kelemahan) yang sebetulnya merupakan bagaimana kita melakukan pengukuran dari sisi internal organisasi atau perusahaan.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita itu memiliki kelebihan atau kekurangan? Kadang-kadang ada kritik dari analisis SWOT ini bahwa orang cenderung subjektif dalam melakukan penilaian. Misalnya cenderung mngunggul-unggulkan. Jadi, artinya merasa bahwa sumber daya yang dimilikinya itu bagus. Atau mungkin orangnya itu cenderung atau pimpinannya itu pesimis sehingga merasa dirinya kalah dan banyak kekurangannya. Sebetulnya ada banya cara, antara lain misalnya bagaimana kita mengukur apakah sumber daya yang kita miliki itu memang terlatih dengan baik apakah dari sisi financial kita juga kuat atau pun misalnya dari aspek-aspek lain apakah sistem operasi kita itu berjalan dengan efisien dan efektif.

Pada dasarnya adalah kalau kita kembali pada pembelajaran value chain dimana kita melakukan company analysis, di sini kita bisa lihat bahwa operasi atau hal-hal atau faktor-faktor utama atau faktor-faktor pendukung yang ada dalam value chain itu, itulah nanti yang akan dianalisis dalam kaitannya dengan mengukur kekuatan dan kelemahan. Tetapi seringkali orang mengukur hanya sepihak, yaitu mengukur dari dirinya sendiri. Padahal untuk melakukan analisis SWOT, itu harus dibandingkan dengan pesaing. UC Onliner harus ingat, jangan dibandingkan dengan pesaing yang bukan dari segmen pasar yang sama. Misalnya sebuah industri mobil, tentunya tidak bisa dibandingkan antara mobil yang untuk kelas menengah dengan yang untuk kelas premuim (yang harganya mahal). Harus dibandingkan yang setara.

Kalau UC Onliner punya usaha dan tahu pesaing-pesaing mana saja yang mempunyai segmen pasar yang sama, maka usahakanlah untuk membandingkan. Apa yang bisa dibandingkan? Misalnya yang pertama adalah lokasi usaha. Apakah lokasi usaha itu lebih baik atau lebih tidak menguntungkan. Jika lebih baik, maka masukkanlah itu dalam kategori kekuatan. Tapi jika lebih buruk atau lebih tidak menguntungkan, masukkanlah dalam posisi yang kelemahan.

Hal lain misalnya market share/ pangsa pasar. Ini bisa diketahui sebetulnya apakah pelanggan Anda itu lebih banyak daripada pesaing. Kalau lebih banyak, masukkan pada kekuatan, kalau lebih sedikit, masukkan pada kelemahan. Demikian juga misalnya untuk kualitas produk Anda. Bandingkan dengan segmen pasar atau target pasar Anda yang sama. Jadi, kualitas barang yang diminati dari pesaing Anda itu apakah kualitas Anda lebih baik atau lebih buruk. Kalau lebih baik, masukkan pada kekuatan, kalau lebih buruk, masukkan pada kelemahan. Demikian juga masalah harga. Apakah harga Anda lebih kompetitif, karena orang toh cenderung di segmen pasar yang sama untuk produk yang sejenis, orang akan memilih akhirnya barang yang lebih murah.

Masalah harga ini tentunya berkaitan dengan policy pricinbg. Artinya sejauh mana UC onliner menentukan margin yang hendak diperoleh. Tentunya kalau kita soal margin, kita akan kembali pada teori value chain. Ada hal-hal yang harus kita amati. Mengapa margin kita itu tipis atau msialnya margin kita itu besar tapi harga kita tidak bisa lebih murah, tentunya biasanya karena biaya-biaya yang lebih besar.

Demikian juga soal pelayanan. Pelayanan ini berhubungan dengan sumber daya manusia. Apakah pelayanan dari usaha kita itu lebih baik atau lebih buruk dari kompetitor. Kalau lebih baik, masukkan pada kekuatan, kalau lebih buruk, masukkan pada kelemahan. Dengan begitu, kita akan bisa menghasilkan sebuah analisis kekuatan dan kelemahan secara objektif. Bukan secara subjektif dalam arti mengumpulkan kebaikan-kebaikan atau kekuatan-kekuatan yang ada atau kemudian mengira bahwa, “O, ini kelemahan saya, kelemahan usaha saya di sini”, dan sebagainya, tanpa membandingkan dengan pesaing. Jadi, untuk menentukan analisis dari internal usaha kita, bandingkanlah dengan pesaing. Demilikanlah mengenai Analisis Strenghts and Weakness.

Opportunities and Threats


Salam Entrepreneur UC Onliners. Setelah kita membahas kekuatan dan kelemahan dalam analisis SWOT, kita akan bahas sekarang mengenai peluang dan ancaman (Opportunities and Threats). Sebetulnya kalau tadi kita telah membahas tentang kekuatan dan kelemahan, itu berarti adalah hal-hal yang ada dalam internal usaha kita. Tentunya karena dalam internal, kita sebetulnya bisa punya akses untuk memperbaiki namun berbeda dengan kondisi di luar kita atau lingkungan eksternal yang bisa menjadi ancaman atau mungkin juga peluang. Barangkali ada orang yang tidak suka dengan kata ancaman, tapi mengartikan sebagai tantangan. Namun lingkungan di luar ini seringkali tidak bisa kita kendalikan. Berbeda dengan lingkungan yang ada di internal kita.

Tentunya lingkungan itu dianggap merupakan ancaman jika keadaan atau perubahan yang terjadi di luar kita memberikan dampak yang negatif. Jadi misalnya membuat turunnya omset penjualan atau mungkin prospek usaha menjadi tidak menentu, itu adalah merupakan ancaman. Berbeda misalnya ketika perubahan-perubahan yang ada di luar kita itu malah memudahkan. Itu bisa mebajdi sebuah peluang.

Sebuah analisis yang kita bisa pakai untuk mengetahui peluang dan ancaman, itu dengan PESTEL analysis, yaitu PESTEL merupakan singkatan dari Political, Environment, Social, Technological, Economic, dan juga Legal atau hukum.

Dari aspek politik, tentunya itu akan mempengaruhi usaha. Memang ada politik yang sifatnya nasional, ada yang sifatnya global. Mungkin ada juga politik yang sifatnya sangat-sangat regional atau sangat-sangat kecil. Ini bisa mempengaruhi usaha kita. Demikian juga masalah lingkungan. Itu bisa juga memberikan dampak yang positif maupun yang negatif. Kalau kita bicara sosial, perubahan sosial, perubahan gaya hidup juga akan memberikan peluang tapi sekaligus bisa memberikan ancaman. Teknologi juga sama. Perkembangan teknologi, kalau kita bisa mengikutinya dengan baik, maka itu akan membawa dampak yang positif. Bagaimana pun juga teknologi bisa mendongkrak atau meleverage usaha kita. Namun juga teknologi kadang-kadang kalau kita tidak bisa mengadopsinya dengan baik, itu akan menjadi ancaman. Ekonomi, keadaan inflasi, juga perubahan aturan perdagangan di dunia misalnya. Itu juga akan mempengaruhi usaha kita. Masalah hukum juga sama. Kadang-kadang perubahan peraturan, perubahan regulasi, kalau misalnya itu memudahkan, tentunya akan memberikan suatu peluang, tetapi apabila itu semakin menyulitkan, justru bsia menyebabkan sebuat masalah.

Kalau kita bisa merinci satu per satu, apa-apa saja yang dari keenam aspek ini itu memberikan dampak positif, maka kita bisamasukkan sebagai sebuah peluang, sementara kalau dampaknya negatif untuk usaha kita, itu akan menjadi sebuah ancaman.

Kalau kita kembali pada analisis SWOT, kita nanti akan bisa menimbang-nimbang apakah posisi usaha kita ini lebih banyak peluangnya atau lebih banyak ancamannya. Seperti tadi apakah lebih banyak kekuatannya atau lebih banyak kelemahannya. Nantinya dari semua ini kita akan pelajari untuk video pembelajaran berikutnya mengenai bagaimana strategi jika kita mempunyai kondisi-kondisi tertentu.

Demikian mengenai analisis SWOT khususnya Opportunities and Threats.


Strategi Berdasarkan Analisis SWOT


Salam entrepreneur UC Onliner. Kini kita masuk pada video terakhir di minggu ke-2, yaitu mengenai analisis SWOT tentang bagaimana menerapkan analisis SWOT ini ke dalam sebuah strategi. Kalau kita lihat dari video-video pembelajaran sebelumnya tentang bagaimana mengukur kekuatan-kelemahan, demikian juga menimbang antara peluang dan ancaman, maka kita bisa mengetahui apakah posisi kita itu banyak kekuatannya atau lebih banyak kelemahannya dan apakah lebih banyak peluangnya atau sebaliknya malah lebih banyak ancamannya. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa posisi kita itu memiliki kekuatan yang lebih baik (Strengths-nya tinggi, dan ooportunity-nya tinggi), dengan demikian strategi yang dipakai yaitu strategi yang disebut dengan SO atau Strengths Opportunity, dimana strategi yang menggunakan kekuatan kita untuk bisa memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Ini adalah strategi yang pertama, yaitu Strategi SO.

Kemungkinan yang lain adalah, kita mungkin tidak punya kekuatan yang banyak. Artinya dibandingkan kompetitor kita, kita cenderung lebih banyak weaksesses-nya. Tapi sebetulnya peluang yang ada itu bagus. Maka strategi yang diambil adalah strategi Wo (Weaknesses Opportunity). Yaitu strategi dimana kita bisa meninimalkan kelemahan-kelemahan yang ada tetapi kita bisa memanfaatkan peluang.

Kadang-kadang perusahaan kita tidak seberuntung itu, yaitu lebih banyak Threats-nya. Tapi di sisi lain kita punya kekuatan. Dibandingkan pesaing yang ada kita lebih unggul. Maka strateginya adalah Strengths Threats, yaitu strategi yang menggunakan kekuatan kita untuk menghadapi ancaman-ancaman yang ada. Jadi kita berasaha mengatasi dengan kekuatan-kekuatan kita karena kalau kita bisa mengatasi hal ini tentunya ini akan membuat produk kita lebih baik.

Yang terakhir, posisi kita mugkin buruk sekali. Yaitu dalam posisi yaitu banyak kelemahan dan juga banyak ancaman. Artinya WT (Weaknesses Threats). Nah, memang ini ada strategi dimana meminimalkan kekurangan yang ada, bagaimana kita segera melakukan peningkatan atau mengimprove diri kita supaya lebih baik, dan kita harus pandai-pandai untuk menghindari ancaman yang ada. Ada strategi dimana ketika ada ancaman, itu bukan dihadapi karena tentu saja kalau kita misalnya tahu di depan kita ada ancaman yang besar, apabila kita lemah, maka cara terbaik adalah menghindar. Yaitu bisa strategi gerilya danm lain sebagainya.

Ada juga strategi marketing yang sifatnya ofensif. Itu biasanya dilakukan oleh yang kuat dan berpeluang besar. Tapi ada yang difensif, misalnya adalah ancamannya banyak tapi dia kuat. Dia akan defensif. Demikian juga yang tadi, banyak kelemahan dan banyak ancaman, startegi yang paling baik adalah dengan bergerilya. Itu juga dilakukan dalam bentuk-bentuk kemiliteran ketika menghadapi lawan yang lebih kuat, tapi peluangnya tipis maka kita tidak bisa berhadapan langsung, namun kita harus melakukan cara-cara cerdik.

Memang kalau kita tahu kekuatan dan kelemahan kita, tahu kekuatan dan kelemahan pesaing kita juga, kite lebih juga membuat strategi dan juga taktik dalam hal melakukan pemasaran.

Salam entrepreneur.










Komunikasi Diam

Diam sejam menyimak I'Talk (Innovation Talk) yang disampaikan oleh Ersa Sanjaya tentang Komunikasi Diam tanggal 30 Juni 2015 di kampus Universitas Ciputra. Ada banyak hal yang menarik dari bincang-bincang ini karena komunikasi memegang peranan yang sangat penting dalam hubungan antar manusia.

Ersa mengawalinya dengan mengutip dari Stephen Covey, "Kebanyakan orang tidak mendengarkan dengan maksud untuk memahami, mereka mendengarkan dengan maksud untuk menjawab." Betapa pentingnya diam itu dalam berkomunikasi karena dengan diam kita bisa menyimak. Ada 3 hal yang penting untuk dilakukan dalam komunikasi diam.

Pertama adalah nondefensive listening. Artinya mendengar tanpa perlawanan. Seringkali kita dalam bicara itu maunya mengalahkan lawan bicara atau ingin suara kita yang didengar. Memang, untuk ini perlu self control (pengendalian diri). Padahal, adalah baik kalau kita bisa fokus pada apa yang dikatakan orang lain. Yang kedua adalah Active Listening. Kita mendengar secara aktif, perlihatkan dalam bentuk gestur (gerak gerik) tubuh kita bahwa kita memang mendengarkan. Di sini perlu dilakukan silent probing, artinya menggali lebih banyak dengan diam. Kata-kata Ersa yang menarik perhatian saya adalah, "Waktu mendengar adalah waktu terbaik untuk belajar." Yang ketiga, adalah editing. Tidak semua harus diomongkan. Walau kita jujur, bukan berarti harus semua diomongkan. Ini untuk menjaga perasaan orang lain. Kita perlu berhati-hati dalam mengungkapkan sesuatu. 

Selanjutnya Ersa juga memberikan tips berkomunikasi yang baik, yaitu: Connect, Discover & Respond. Kita harus bis amenjalin koneksi atau hubungan dengan orang lain, selanjutkan galilah dan dapatkan banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang yang kita ajak bicara. Lalu, lakukan tanggapan/reaksi atau respon sesuai dengan konteksnya. Jangan ketika diajak bicara A, malah responnya adalah B.

Acara I'Talk ini diselenggarakan oleh Universitas Ciputra Library Team.