Mau berubah ada penghalang? Buang penghalang itu!

Waktu ikut seminar kewirausahaan di Malang, 16 Nov 2014 lalu, pembicaranya Johan Yan, motivator yang menggantikan pak Dahlan Iskan karena harus ke Shanghai, mengatakan bahwa berubah itu memang tidak mudah. Saat itu peserta yang sekitar 700 orang lebih dibagi dalam dua kelompok. Kebetulan memang ada dua kelompok yang duduk di bagian kiri dan kanan sebab ada karpet merah di tengah untuk lewat. Terus diinstruksikan kalau ada perintah "berubah" maka yang duduk di sebelah kiri harus pindah ke sebelah kanan dan yang di sisi kanan pindah di sisi kiri. Langsung saja setelah ada perintah itu, ruangan jadi ribut, orang pada berpindah, berdesakan dan berusaha duduk di sisi sebelah. 

Lalu setelah itu, Johan Yan bertanya, apa yang menjadi penghambat? Ada yang bilang kursi. Johan Yan bilang, kan cuma disuruh pindah, tidak disuruh pindah duduk, jadi kalau kursi jadi penghalang maka pergikanlah penghalang itu. Ayo, pindahkan kursinya. Maka semua lantas meminggirkan kursi. Setelah itu diberi aba-aba lagi untuk pindah, maka ramai lagi suasana, pada berdesakan, sikut sana sikut sini, mendesak karena ada arus balik yang juga sama besarnya. Setelah semua selesai, Johan Yan berkata, "Begitulah kehidupan sesungguhnya, ketika kita mau berubah, pasti ada yang enggan pindah. Ada yang tetap malas bergerak. Ada yang sudah bergerak kemudian mendapat desakan dan didorong, dihalangi. Tapi yang berusaha akan berhasil pindah."

Nah, resep pindah dan berubah ini membekas di pikiran saya. Kalau ada penghalang, pergikanlah penghalang itu. Jangan karena repot dengan barang bawaan, lantas enggan berubah. Kalau ada kursi jadi penghalang, pergikanlah kursi itu. Apapun yang jadi penghalang, kalau determinasi kita untuk berubah sungguh-sungguh kuat, maka segala penghalang harus disingkirkan. Semoga pengalaman ikut seminar yang menginspirasi saya ini bisa juga memberi inspirasi bagi yang lain.

Kelas Online Startup Mindset (minggu 1)

Pembelajaran Startup Mindset dengan referensi buku Startup Mindset telah dimulai tanggal 15 November 2014. Materi minggu pertama bisa disimak dalam bentuk video di mana membahas apa yang ada dalam bab 1 buku Startup Mindset.









Materi bacaan dari Bab 1 buku Startup Mindset



Startup Mindset

Sering menjadi pertanyaan mendasar, apa yang membuat seseorang memilih menjadi seorang entrepreneur. Sudah sering kita membaca bahwa seorang entrepreneur itu perlu kemampuan dan kebiasaan melakukan inovasi, namun ketika kita memberi pelatihan atau mengajar kewirausahaan, yang kemudian segera mengambil keputusan untuk action masih sangat sedikit. Walau hampir bisa dipastikan, sesaat setelah mengikuti seminar itu, semangat terasa membara dan berkobar. Tapi berjalannya waktu, hal ini kemudian surut kembali, larut dalam kebiasaan kehidupan kita sehari-hari seperti sebelumnya.

Sebagai seorang pengajar entrepreneurship, tentunya diharapkan menjadi seorang entrepreneur enabler, yakni menjadi pengaktif seseorang menjadi entrepreneur. Ini karena diyakini bahwa entrepreneurship itu bisa diajarkan, dapat ditularkan dan mampu dikembangkan. Tapi, kembali lagi, mengapa ada satu yang dengan cepat segera action untuk berbisnis, sementara yang lain tidak? Tidak sesederhana menekan tombol lantas orang berubah. 

Apa faktor yang menjadi pendukung yang membedakan mereka? Apakah jangan-jangan yang segera bertindak itu adalah mereka yang memang dalam dirinya sudah ada bibit atau bakat menjadi entrepreneur? Pendidikan hanya memoles dan memperkuat hal itu? Namun saya tak percaya jika ada orang benar-benar tidak punya potensi menjadi entrepreneur. Sejarah panjang perkembangan kehidupan manusia di bumi ini menunjukkan kemampuannya dalam beradaptasi, memenuhi kebutuhannya untuk survive dan menempuh segala resiko di lingkungan yang sangat tidak bersahabat ini. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, mengapa sikap mental  ini meredup?

Buku ini membahas pentingnya pola pikir atau mindset untuk berani mengambil resiko secara cerdas untuk membuat usaha. Tentu sangat dibutuhkan untuk fokus pada usaha uang sesuai minat maupun passion. Untuk itu perlu dibedakan antara apakah minat itu dengan hobby. Banyak orang keliru memilih bidang bisnis karena yang dikerjakan adalah yang menjadi hobbynya. Padahal yang penting adalah mengetahui apa minatnya. Bagaimana juga menumbuhkan passion untuk berbisnis. Tanpa passion berbisnis, maka keinginan untuk melakukan startup action juga tidak akan sungguh-sungguh.

Pemesanan buku bisa ke:
Bina Grahita Mandiri
Jl. Krembangan Barat 31-I Surabaya
Telp +6231 3526207, 3542570
Fax +6231 3559283

Harga buku Rp 35.000,- 

Belum termasuk ongkos kirim. 

Harga di Hong Kong $50 
Preview buku:
 

Antara Hobby dan Passion


Banyak nasihat yang mengatakan bahwa bekerjalah sesuai passion yang kita miliki. Steve Jobs juga mengatakan, “satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya hebat adalah dengan mencintai apa yang Anda kerjakan.”  Anda harus menemukan apa yang Anda cintai. Konghucu juga mengemukakan, “Pilihlah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah merasa harus bekerja seumur hidupmu.” Nampaknya, passion telah menjadi sebuah kunci utama dalam bekerja. Tapi, ada juga yang berpendapat sinis terhadap passion. Untuk apa harus mengikuti passion? Yang penting adalah kerja dan segera action. Namun Mike Rowe mengatakan: “Jangan hanya Follow Your Passion, tapi hiduplah di dalamnya.

Memang, tidak semua orang berhasil menemukan passion yang dimilikinya. Apakah passion itu sebenarnya?  Banyak orang mengartikan passion ini secara berbeda-beda. Ada yang menyebutkan bahwa passion adalah hobby yang menghasilkan. Passion adalah kombinasi antara kenikmatan, makna dan perasaan. Yang lain mengatakan passion adalah aktivitas yang paling kita cintai. Sementara ada juga yang menjelaskan passion adalah di mana kita akan mengorbankan segala hal untuk mencapai itu.

Menurut pandangan saya, passion adalah sesuatu yang membuat kita bergairah untuk melakukannya, memikirkan terus menerus dan mempunyai sebuah kekuatan emosional yang luar biasa. Dengan banyaknya pengertian tentang passion ini, orang sering mencampuradukkan antara passion dengan hobby. Ya, memang hobby adalah sebuah aktivitas yang kita sukai. Tapi seringkali kita terperangkap bila memaknai passion itu sama dengan hobby. Penting untuk disadari bahwa passion tidak sama dengan hobby. Lalu apa bedanya?

Hobby adalah kegiatan yang kita sukai dan dilakukan diwaktu senggang kita. Misalnya, saya punya hobby membaca, maka kegiatan membaca itu saya lakukan ketika saya memiliki waktu luang. Contoh lain, ada yang punya hobby berenang, mendagi gunung, menonton film, atau bermain musik. Nah apa bedanya dengan passion? Passion tidak dilakukan di waktu luang. Passion dilakukan terus menerus, tanpa henti mengusik pikiran kita akan hal tersebut. Jika Anda punya passion terhadap sesuatu, maka Anda akan memikirkannya siang dan malam. Anda akan melakukannya tanpa kenal lelah. Contoh yang sederhana, kalau Anda gandrung (cinta) dengan kekasih Anda, maka Anda juga akan memikirkannya terus dan tak mungkin merasa lelah ketika diminta untuk mendampinginya. Inilah bedanya dengan hobby. Hobby dilakukan di waktu senggang, sementara passion itu totalitas.
 
Persoalan yang sering dihadapi, jika passion itu membuat kita selalu memikirkannya, sementara dalam kehidupan sehari-hari kita tersibukkan oleh pekerjaan kita, maka lama kelamaan kita tidak ingat lagi apa yang menjadi passion kita. Kita akan bekerja sesuai tuntutan pekerjaan dan jika ada waktu luang, entar saat weekend, kita baru melakukan apa yang menjadi hobby kita, bukan passion kita.

Barangkali karena itu, ada orang yang kemudian merasa bahwa ajakan untuk mengikuti passion itu adalah sesuatu yang percuma. Memang, tidak mudah menemukan passion kita. Tidak mudah kita mencari apa yang membuat kita sangat jatuh cinta terhadap sesuatu. Yang terjadi adalah banyak yang kemudian mengira hobbynya adalah passionnya. Ketika itu kemudian menjadi pilihannya untuk bekerja atau berwirausaha, maka akan banyak masalah yang dihadapi. Ingat, hobby hanya sekedar dilakukan di waktu senggang. Belum tentu itu menarik jika dilakukan terus menerus. Hobby itu bersifat menyenangkan, passion belum tentu selalu menyenangkan karena passion membuat kita harus berjuang keras untuk melakukannya. Tapi, dengan passion, kita melakukannya tanpa merasa terpaksa. Ingat, dalam bahasa Inggris kuno, kata passion itu berarti penderitaan (suffering).

Nah, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau kita menyadari perbedaan antara hobby, minat dan passion, maka saran yang harus diingat adalah: ketika kita mencari passion kita, itu bukanlah menemukan apa yang kita sukai, namun melainkan di hal apa Anda siap menderita untuk terus melakukannya. Di sinilah akan muncul determinasi dengan sendirinya. Hobby tidak akan memunculkan determinasi.  Anda akan menemukan passion Anda, ketika Anda ingin melakukan hal itu dan terus menerus Anda tetap usahakan untuk lakukan. Tak peduli apa rintangannya, Anda akan tetap berusaha dan selalu berusaha mengerjakannya. Kalau Anda sudah menyerah, barangkali itu bisa menjadi tanda bahwa itu bukan passion Anda yang sebenarnya. (nur agustinus)


Zona nyaman yang menghambat

Ketika kita memutuskan untuk membuka usaha dan membicarakan hal itu ke keluarga kita, boleh jadi tidak semuanya berjalan mulus. Banyak dari kita justru menghadapi perlawanan atau penolakan dari keluarga, entah orang tua atau pasangan hidup kita. Alasannya bisa banyak, mulai dari kekhawatiran uangnya habis, merasa tidak ada penghasilan tetap, tidak ada dalam sejarah keluarga yang menjadi pebisnis, hingga apa kata orang kok Cuma jualan seperti itu.

Ya, pertentangan inilah yang akan menunjukkan sejauh mana determinasi yang kita miliki. Determinasi adalah sebuah ketetapan hati untuk terus melakukannya. Determinasi adalah kata ajaib yang bisa mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik. Tapi, sayangnya, banyak juga di antara kita yang kemudian surut dan mengurungkan niatnya. Merasa bukan menjadi anak yang berbakti jika mengabaikan nasihat orang tua, atau dianggap sebagai keras kepala.

Memang, berwirausaha adalah sebuah pilihan. Bagi yang berasal dari keluarga pebisinis, tentu hal ini sudah biasa dan akan mendapatkan dukungan. Namun jika kita bukan berasal dari keluarga pengusaha, tentu sulit membayangkan bagaimana bakal hidup sebagai seorang wirausaha. Ibaratnya, anak petani akan menjadi petani, anak guru akan menjadi guru, anak nelayan akan jadi nelayan, anak tentara juga akan jadi tentara. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi, bagaimana jika seorang anak petani, anak nelayan, anak guru, punya keinginan menjadi seorang wirausaha? Ini berarti dia sudah melihat masa depannya di luar kotak yang membatasi pikirannya. Dia sudah berpikir out of the box. Tentu ini tidak mudah.

Sebenarnya, mengapa orang sekitar kita, khususnya keluarga, tidak mendukung cita-cita sang anak? Kunci sebenarnya adalah karena mereka berada di zona nyaman. Kalau dipikir benar-benar, zona nyaman ini sebenarnya belum tentu merupakan zona yang aman. Di setiap kondisi pasti ada resiko. Nah, kalau kita menyadari bahwa orang di sekitar kita berada di zona nyaman dan masih sulit untuk mau keluar dari kondisi itu, adalah tugas kita untuk menyadarkan mereka. Kalau kita kemudian yang mengurungkan niat, maka kita akan masuk dalam zona nyaman itu dan tak akan pernah membuat sebuah perubahan. Jangan pernah ragu untuk memulai perubahan. Keraguan hanya membawa kita pada keberhasilan yang selalu tertunda. (nur agustinus)


Kunjungan ke Pusdakota Ubaya bersama mahasiswa Social Entrepreneurship UC

Rabu, 3 September 2014, mahasiswa Social Entrepreneurship (E5 Sosial) Universitas Ciputra melakukan kunjungan ke Pusdakota Ubaya (Pusat Pemberdayaan Komunitas Kota Universitas Surabaya). Diterima oleh Bu Laila dan bertemu dengan Pak Cahyo Suryanto, pimpinan Pusdakota Ubaya. Mahasiswa belajar tentang bagaimana berbisnis sosial dengan melibatkan komunitas. Ada pembuatan tas dari bahan sampah bekas pembungkus, ada juga budidaya tanaman organik, pembuatan kompos, dan masih banyak lainnya.








Dilatih UC, TKI Tak Balik ke Hongkong

Jawa Pos, 15 Agustus 2014

Dilatih UC, TKI Tak Balik ke Hongkong


SURABAYA - Universitas Ciputra (UC) melaksanakan pelatihan wirausaha bagi tenaga kerja Indonesia (TKI). Pelatihan kali kedua ini bertujuan agar para TKI bisa sukses berwirausaha selelah bertahun-tahun mengais rezeki di negeri orang.

Kegiatan tersebut berlangsung Selasa hingga Karnis (12-14/8). Direktur Akademik Universitas Ciputra Entrepreneurship Online Nur Agustinus menyatakan, peiatihan itu merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) UC. Biasanya, saat Lebaran banyakTKI yang pulang kampung. Jadi, UC memberikan kesempatan mereka belajar berwirausaha. Kali inl ada 25 TKI. Rata-rata mereka bekerja di Hongkong.

Mereka menerima beragam materi. Mulai cara mengubah mindset, identifikasi pasar, sampai pengembangan usaha. Selain di kelas, para TKI diajak ke Pasar Tugu Pahlawan untuk melakukan identifikasi pasar.

"Salah satu yang sulit adalah mengubah mindset," papar dosen pengampu mata kuliah social entrepreneurship tersebut. Sebab, selama ini mereka terbiasa berpikir sebagai konsumen.

Setelah pelatihan tiga hari itu, mereka juga menerima kelanjutan lewat pelatihan online selama enam bulan.

Salah seorang TKI yang mengikuti pelatihan saat itu adalah Sujiati. Perempuan 40 tahun asal Madiun tersebut sudah pulang pada Februari. Dia bekerja 10 tahun di Hongkong. Dia juga telah membuka toko sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari di rumahnya. “Sudah selesai kerjanya. Saya ingin berjualan di rumah bersama suami dan anak saja. Usaha saya harus berkembang,” tutumya. (lna/cl9/roz)

Kiat bagi BMI yang ingin berentrepreneur

Kukuh Luky
Waktu acara Bootcamp BMI di UC (12-14 Agustus 2014), ada Pak Kukuh Luky yang pernah menjadi TKI di Jepang menceritakan pengalamannya. Pak Kukuh sekarang sudah punya usaha dan menjadi entrepreneur yang mengajar di Universitas Ciputra. Pak Kukuh mengatakan, BMI (Buruh Migran Indonesia) kalau pulang, secepat mungkin -paling tidak 2 minggu- sudah berwirausaha. Jika bingung usaha apa, lihatlah sekitar kita. Itulah sebabnya, UC mengajarkan bagaimana mengidentifikasi peluang. Kalau ditunda, pasti uang akan habis buat belanja dan untuk hal lain.

Pak Kukuh juga bilang, tentu ada kemungkinan usaha tidak berhasil. Tapi kalau usaha sudah dilakukan dan uang habis, jangan kemudian langsung berpikiran untuk cari modal lagi dengan bekerja di luar negeri. Kalau kita sudah berbisnis, maka kita sudah punya modal kepercayaan dari orang lain. Dengan kata lain, kita bisa tetap melanjutkan usaha tanpa modal. Modalnya adalah kepercayaan. Kita bisa mengambil barang untuk usaha dengan bayar belakang karena selama bisnis kita bisa dipercaya.

Memang, hambatan utamanya adalah dari keluarga. Biasanya kalau mau mulai usaha, pasti banyak yang mengatakan, "masa sudah kerja di luar negeri, uang banyak, trus jualan telor di pinggir jalan." Pak Kukuh waktu itu memutuskan untuk usaha jual telor. Tapi omongan seperti itu diabaikan oleh Pak Kukuh. Dia tetap dengan semangat berjualan hingga kemudian usahanya makin besar. Dia sendiri pernah gagal juga, namun bangkit kembali. Kini dia juga punya perusahaan konstruksi. Pak Kukuh mengatakan bahwa harus berani melakukan usaha. Kalau ragu-ragu dan takut memulai apalagi menunda-nunda, maka hasilnya juga tanda tanya.

Yang terakhir, ini yang paling penting: TIDAK ADA SUKSES YANG INSTAN. Semua itu butuh waktu. Kesuksesan tidak bisa langsung. Pak Kukuh mengatakan butuh waktu 5 tahun. Mungkin orang bilang, kok lama sekali 5 tahun? Ya, pak Ciputra sendiri juga butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan pengusaha sukses manapun akan butuh waktu untuk sukses. Kalau Anda tidak sabar, maka pasti akan segera memilih jalan lain. Kalau kita jalani, sebenarnya waktu juga berjalan tak terasa. Bukankah ada yang sudah bertahun-tahun kerja di luar negeri tanpa terasa? Mungkin awalnya cuma mau kontrak 2 tahun, tapi tak terasa sudah 6 tahun, 8 tahun atau bahkan lebih dari 10 tahun kerja di luar negeri.

Nah, kalau kita wirausaha, 5 tahun itu juga tak terasa. Saya pikir benar juga, saya sendiri tak terasa sudah bekerja 4 tahun di Universitas Ciputra. Kalau kita jalani apa yang menjadi passion kita, maka waktu akan tak terasa, semangat dan energi juga terus ada. Memang, kata pak Kukuh, tinggal di luar negeri itu lebih enak. Tapi kalau kita bisa membangun usaha sendiri di tempat tinggal kita, bukankah itu lebih baik.

Pak Kukuh tinggal di Malang namun kantornya di Surabaya. Saat ini sedang menyelesaikan studi S3 program doktor di Universitas Brawijaya Malang.

Terima kasih untuk pak Kukuh atas kesediaannya berbagi pengalaman dan tips berbisnis.

Salam entrepreneur dan sukses bagi yang berani memutuskan untuk segera berwirausaha!

Gamification

Gamification (Gamifikasi) adalah penerapan teknik dan strategi dari sebuah permainan ke dalam konteks nonpermainan untuk menyelesaikan suatu masalah. Metode ini bekerja dengan cara membuat materi atau teknologi menjadi lebih menarik dengan mendorong pengguna untuk ikut terlibat dalam perilaku yang diinginkan.Berikut beberapa video presentasi tentang gamification.

Gamification - 1. Introduction


What is Gamification? A Few Ideas.


Gamifying Sustainability - Changing Behavior with Fun: Christian Kaufmann at TEDxYouth@Adliswil


TEDxKids@Brussels - Gabe Zichermann - Gamification


Gamification to improve our world: Yu-kai Chou at TEDxLausanne


TEDxSantaCruz: Catherine Aurelio - Gamification


The Future of Creativity and Innovation is Gamification: Gabe Zichermann at TEDxVilnius


The Gamification of Education: Gavin Pouliot at TEDxYouth@IFTA


Jane McGonigal: Gaming can make a better world

Meja makan



Ada satu inspirasi saat membaca buku komik tentang Ahok yang judulnya Gebrakan Ahok, yaitu tentang fungsi meja makan. Selama ini memang ada masalah yang saya hadapi, yaitu anak-anak tidak punya ruang makan serta belajar yang baik. Seringkali hal itu dilakukan di kamar tidur yang mana saya memikirkan dampaknya antara lain kurang disiplin dan keterdekatan dengan keluarga mungkin terpengaruh. Inilah bagian komik yang memberi pencerahan itu.

Nah, saat membaca komik itu, saya merasa bahwa harus dicari solusinya. Memang ada satu ruangan di lantai satu (kamar-kamar ada di lantai dua), tapi kondisinya tidak nyaman. Dijadikan ruang makan juga kurang pas, ruang tamu juga semerawut. Tapi itu satu-satunya ruangan yang bisa dipakai. Saya ingin ada meja di sebuah ruangan yang bisa jadi tempat makan, tempat belajar sekaligus bisa juga jadi ruang keluarga dan ruang tamu.

Akhirnya diputuskan membuat model lesehan (saung). Bikin rangkanya  pakai kayu, multipleks, yang dikerjakan tiap hari minggu pas libur. Lalu saat mau cari meja, kok mahal, akhirnya bikin sendiri juga. Setelah selesai diberi lapisan vinyl agar lebih nyaman.

Kini kalau makan selalu di ruang tersebut. Tiko juga kalau belajar di sana.





 
 



Sukses butuh berani ambil resiko dan bertindak cepat




Dalam perjalanan ke kantor, sambil merenungkan pidato Pak Jokowi, "Mulai sekarang, petani kembali ke sawah. Nelayan kembali melaut. Anak kembali ke sekolah. Pedagang kembali ke pasar. Buruh kembali ke pabrik. Karyawan kembali bekerja di kantor", saya menghubungkan dengan mimpi pak Ciputra di mana
anak petani, anak nelayan, anak guru, anak buruh, anak pegawai negeri, anak polisi, anak tentara menjadi entrepreneur. Memang, entrepreneurship bisa membawa perubahan bagi bangsa ini. Namun memang tidak semudah itu membuat semua orang bisa menjadi entrepreneur. Lalu, bagaimana jika kita memilih menjadi seorang karyawan? Atau menjadi petani atau nelayan? 

Mengajar entrepreneurship bisa dilakukan baik oleh dosen maupun praktisi wirausaha. Namun jika tujuannya adalah mengubah seseorang menjadi entrepreneur, di situlah sering menjadi pertanyaan, sejauh mana keberhasilan sebuah pembelajaran entrepreneurship. Pengalaman dalam mengajar entrepreneurship kepada orang banyak, mungkin hanya 1% saja yang kemudian benar-benar memutuskan untuk menjadi pengusaha. Banyak yang masih bingung mau usaha apa, atau semangatnya jadi kendur ketika melihat lingkungan keluarganya tidak mendukungnya. Bahkan jika mau jujur, kebanyakan yang akhirnya memutuskan berentrepreneur adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah mencoba usaha sendiri tapi gagal. Jadi, kalau dipikir, jangan-jangan sudah ada bibit keentrepreneuran dalam dirinya. Lalu bagaimana dengan yang lain?

:Lalu saya mencoba mecari jawabannya, apa yang kira-kira dibutuhkan seseorang untuk berentrepreneur? Atau, kalau dia misalnya memilih untuk tidak menjadi pengusaha, namun bekerja yang lain, bagaimana sebaiknya sikap dan mindset yang harus dimiliki untuk menjadi pribadi yang entrepreneurial.
 
Ada sebuah kalimat yang menarik, dikemukakan oleh Andre Malraux (1901-1976), sejarawan Prancis, ”Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah bukan karena yang satu memiliki kemampuan dan ide lebih baik, tapi karena dia berani mempertaruhkan ide, menghitung risiko, dan bertindak cepat.” Menurut saya ini pas sekali dan menjadi jawaban atas pertanyaan saya tadi. 

Ada empat hal yang penting menurut saya dari kalimat yang diungkapkan oleh Andre Malraux di atas. Pertama adalah ide itu sendiri, kedua adalah keberanian mempertaruhkan ide, ketiga menghitung resikonya dan yang keempat adalah bertindak cepat. 

Kalau kita bicara ide, menurut saya tentu ini yang dimaksud adalah ide yang inovatif. Sebuah ide yang baru, yang lebih baik dan orisinil. Kalau kita anggap bahwa entrepreneur itu orang yang sukses, maka tidak salah jika kita mau tidak mau harus melatih diri untuk menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif. Peter Drucker mengatakan bahwa inovasi merupakan fungsi utama dalam proses kewirausahaan.

Nah, persoalannya, banyak orang yang tidak berani mengemukakan idenya. Takut dikatakan keminter, takut nanti dia yang disuruh mengerjakannya, atau sejumlah alasan lainnya. Kalau mengutarakan idenya saja tidak mau atau tidak bisa, bagaimana dapat mempertaruhkan idenya? Ini jelas membutuhkan sebuah determinasi diri. Determinasi diri adalah keteguhan hati untuk menentukan nasibnya sendiri. Ini memang dekat dengan pengertian wiraswasta itu sendiri, di mana merupakan orang yang berani bersikap, berpikir dan bertindak menurut kemampuan dan keberanian untuk menciptakan pekerjaan sendiri, mencari nafkah dan berkarir dengan sikap mandiri. Nah, mau tidak mau, hal ini merupakan langkah awal untuk mengubah cara pikir, cara pandang dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bisa menghasilkan ide dan berani mengutarakan serta memperjuangkannya. Hal yang satu ini saja belum tentu semua orang bisa melakukannya sebab tantangannya sangat besar.

Ketika Andre Malraux mengatakan bahwa orang sukses itu juga mereka yang menghitung resiko, saya juga setuju. Akan tetapi ini tidak cukup kalau tidak disertai dengan "bertindak cepat". Artinya, melakukan action. Tanpa action, itu berani kita tidak berani memulai. Artinya, itu hanya akan berhenti sampai pada niat saja. Dahlan Iskan mengatakan, itu berarti niatnya belum sungguh-sungguh.

Memang,  menjadi orang yang punya ide cemerlang, determinasi kuat, berani mengambil resiko dan segera bertindak, akan memiliki banyak tantangan. Sebab orang seperti ini pasti akan membuat perubahan. Orang sukses memang pasti akan membawa perubahan. Problemnya, banyak orang yang mungkin tidak siap dengan perubahan. Banyak di antara kita yang kemudian mengendurkan niatnya karena menjadi ragu-ragu setelah mendapat tentangan dari beberapa pihak. Tapi itu akan kembali lagi pada diri masing-masing, sejauh mana determinasi diri kita. Sejauh mana kita yakin bahwa kita mampu melakukannya. 

Kalau memang kita belum siap untuk berwirausaha,  ada baiknya kita mengembangkan kemampuan diri kita untuk lebih percaya diri, berlatih menghasilkan ide-ide baru. Seperti kata Pak Ciputra, ketika kita melihat hendaklah kita berpikir, sebab banyak yang melihat tapi tidak berpikir. Berpikir kreatif adalah satu hal yang sangat penting. Kita perlu juga membiasakan diri untuk berani mengusulkan ide-ide kita, tidak takut dengan resiko karena sudah kita kalkulasikan sebelumnya. Namum jangan sampai kita terbelenggu karena takut dianggap kurang ajar, atau merasa masih junior, sok keminter dan lainnya. Kita harus punya mental yang berani dan jangan hanya sekedar wacana saja, melainkan segera bertindak. Kadang, hal seperti itu sebenarnya bisa kita lakukan, terutama saat kita kepepet. Tapi apakah kita harus selalu kepepet baru bertindak? Aristoteles, filsuf Yunani kuno mengatakan, kesuksesan adalah akibat dari kebiasaan. Jadi, biasakanlah untuk itu.

Salam entrepreneur!

Menerima dan menyikapi kritik



Banyak orang tidak tahan dikritik. Saran para ahli ialah: jangan marah kalau dikritik. Pakailah sebagai sarana untuk tumbuh dan mencapai keberhasilan, baik dalam pekerjaan, maupun hidup pribadi. Percayalah, kritik dapat kita manfaatkan secara lebih menguntungkan. Tidak seorang pun bisa menerima kritik dengan senyum lebar dan mata berbinar. Meskipun disampaikan dengan kata-kata manis atau dikemas dengan istilah "konstruktif". Kritik tetap saja terasa pedas dan menyengat. Tapi marah tanpa perhitungan karena dikritik juga rugi sendiri.

Bagaimana cara terbaik menghadapi kritik? Para ahli memberi resep jitu seperti di bawah ini. Kita biasanya cenderung emosi dan tak mampu mengendalikan diri kalau menghadapi situasi yang menekan atau dituduh tidak bertanggung jawab. Padahal, menurut Dr. Peter Brill, direktur Pusat Studi Perilaku Orang Dewasa, segala bentuk reaksi emosional seperti marah, air mata, ogah mundur, berdalih, sangat merugikan. Kita akan mendapat cap negatif: terlalu perasa, terlalu emosional, mudah tersinggung; bahkan lebih celaka lagi; cengeng seperti wanita.

Lalu, bagaimana cara terbaik untuk menghadapi kritik yang tak terduga, tanpa reaksi emosional? Sikap langsung yang terbaik ialah tidak memberi reaksi sama sekali. Tahan reaksi anda sampai mendapat kesempatan untuk menjalankan refleksi pribadi. Pada saat itu, anda cukup mengatakan, "Saya belum yakin bagaimana sebaiknya menanggapi masalah itu. Saya minta waktu untuk memikirkannya."
Pria biasanya mampu menanggapi kritik secara lebih baik. Menurut Dr. Matti Gershenfeld, seorang psikolog Amerika, yakin bahwa pria bisa menerima kritik karena mereka dulu terbiasa menerima teguran dari pelatih atau rekan-rekan tim olahraga sekolah. Mereka lalu memeriksa diri: Di mana kesalahanku? Apa yang harus kulakukan untuk memenuhi syarat?

Sebaliknya, wanita tidak pernah terlatih merasakan kritik kelompok. Maka setiap kali menerima kritik dia selalu menganggap segalanya ditujukan pada dirinya pribadi. Sebagian besar di antara mereka tidak terbiasa membedakan antara kritik terhadap tugas dari kritik itu sendiri. Mereka mencampuradukkan antara kritik dengan teguran terhadap diri mereka sendiri.

Dr. Pat Wisch, direktur Philadelphia's Institute of Awareness, menegaskan bahwa kritik hanya sekadar mencerminkan perbedaan pandangan. Atasan atau rekan kerja yang banyak mengritik tidak otomatis benar atau salah. Mungkin mereka hanya menganut sudut pandang yang berlainan.

Orang yang menjadi tegang dan gelisah kalau menerima kritik, biasanya tidak bisa menangkap tujuan utamanya, yakni tindakan evaluatif. Ada baiknya bila kita minta penjelasan kalau menerima kritik. "Banyak orang takut dicap nyinyir kalau terlalu njelimet, sehingga tidak mau bersusah-susah minta penjelasan terinci. Padahal penjelasan itu sering bisa menjernihkan persoalan."
Pakar psikologi mengelompokkan kritik atas tiga kategori: tepat, diragukan, tidak tepat. Kritik yang tergolong tepat (dan biasanya kita bisa langsung tahu) harus kita terima secara sportif, dan kita pergunakan sebagai titik awal perubahan.

Kalau anda dikritik karena terlambat menyerahkan laporan, misalnya, jangan mencari-cari dalih. Jawablah dengan mengaku terus terang, "Ya, saya memang mengalami kesulitan untuk selesai waktunya. Tetapi saya masih terus menggarapnya." Kita tidak perlu bersilat lidah.
Jika kita meragukan apakah suatu kritik patut dilaksanakan, jangan segan-segan mendatangi sumbernya, dan minta penjelasan lebih terinci. Kita bisa menyatakan keraguan itu kepada rekan yang bisa kita andalkan.
Kritik yang tidak tepat dan tidak pada tempatnya paling sulit diatasi. Namun, ada beberapa cara untuk menghindari kekesalan. Salah satu di antaranya ialah "menelan" saja "pil pahit" itu dan kemudian tidak menghiraukannya. Pendekatan itu akan lebih mudah kalau kita memusatkan pikiran pada sasaran jangka panjang.

Kemampuan untuk menanggapi kritik berkaitan erat dengan percaya diri. Kelompok umur 18 - 34 tahun biasanya peka terhadap kritik, karena sebagian besar di antara mereka masih dalam tahap membangun jati diri. Salah satu cara untuk menguatkan kesadaran diri dalam pekerjaan ialah dengan mengumpulkan penilaian orang lain tentang prestasi kita. Kritik informatif tentang pelaksanaan tugas selalu bermanfaat besar, dan merupakan pembangkit motivasi yang ampuh. Tidak ada salahnya minta keterangan, selama kita tidak kelihatan raguragu atau terlalu membutuhkan persetujuan orang lain untuk hal-hal kecil.

Hadapilah penilaian itu dengan sikap positif. Katakan kepada atasan, "Pekerjaan ini sangat penting artinya bagi saya, Saya ingin memupuk segi kekuatan saya, dan menyadari titik kelemahan saya. Sudahkah saya menjalankan tugas saya dengan baik? Bagaimana saya bisa meningkatkan diri?" Kalau atasan anda hanya memberi jawaban samar-samar dan umum ("Anda tentu bisa lebih baik lagi"), desaklah sampai dia menyebutkan contoh-contoh kongkret.

Belajar berani banyak bertanya tidak lepas dari rasa aman dalam pekerjaan. Semakin kita merasa yakin, semakin mudah jadinya untuk memanfaatkan kritik sebagai motivasi positif untuk mengubah diri. Mengetahui kelemahan dan kekuatan diri merupakan langkah pertama untuk bekerja lebih efektif dan produktif.
Bagaimanapun, kalau kita bisa saling memberitahu kelemahan yang lain, dan berupaya untuk memperbaiki diri, maka hasil kerja akhir pasti bisa lebih baik lagi. Hanya saja, sampaikan kritik dengan baik, dengan rasa hormat dan saling menghargai.
Ada baiknya kita juga memiliki pandangan bahwa berbuat salah itu manusiawi. Setiap orang terkadang melakukan kebodohan, tetapi tidak ada yang sengaja merencanakan kesalahan, begitu kata Dr. Wisch. Kritik hanya berarti bahwa apa yang telah kita lakukan mungkin sia-sia atau merugikan. Setiap orang sebaiknya maklum, bahwa seseorang tidak menjadi jelek karena melakukan kesalahan.

Sekali kita bisa menerima kritik sebagaimana adanya, kita akan bisa menyingkirkan rasa sakit hati atau tersinggung, lalu menelaah isi kritik itu. Kita bisa menimbang-nimbang kritik tersebut tanpa emosi.

Bingung mau usaha apa


Oleh: Nur Agustinus

Seseorang barangkali telah mengikuti pelatihan entrepreneurship hingga beberapa kali. Semangatnya sudah luar biasa. Keinginannya untuk segera membuka usaha sendiri telah menggebu-gebu. Tapi, yang menjadi masalah, ternyata mereka tidak juga memulai usaha. Ketika saya bertanya, jawabannya sangat umum, yakni ternyata mereka belum tahu mau usaha apa.

Banyak teori maupun mentoring diberikan. Tapi ternyata tidak mampu menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Uang untuk modal bahkan sudah terkumpul, tapi action nyata untuk menjadi entrepreneur tidak juga dilakukan. Mengapa? Padahal sudah banyak pelatihan atau motivasi untuk berbisnis tanpa modal (uang), atau bahkan ada teori efektuasi yang mengatakan bahwa modal utama itu adalah diri sendiri, yaitu siapa kita, apa yang bisa kirta lakukan dan siapa yang kita kenal. Tiga hal ini sebenarnya cara mudah untuk menemukan, bisnis apa yang bisa kita masuki dengan mudah. Tapi lagi-lagi, itu masih menjadi masalah.

Memang, ada juga yang  sudah melakukan bisnis, bahkan kemudian sukses. Tapi kalau kita bicara prosentase, sebenarnya itu tidak banyak. Kalau mau jujur, ada jauh lebih banyak yang masih menunggu saat yang tepat. Masih menunda dengan alasan mengumpulkan modal. Atau masih terikat kontrak kerja. Yang dikhawatirkan, semangat yang berkobar-kobar saat ini, barangkali bisa padam di kemudian hari, terlena dengan penghasilan rutin yang diterima. Terlebih iming-iming bonus dan THR sering orang menunda untuk berhenti bekerja. Ya, godaan itu memang luar biasa.

Bingung mau usaha apa, itu juga menjadi momok yang harus dicarikan jalan keluar. Orang banyak mempertimbangkan soal seberapa besar keuntungan yang bakal didapat, seberapa keras usaha yang harus dilakukan, bahkan juga masalah gengsi. Ada banyak yang merasa masih belum mampu. Dalam psikologi, hal ini disebut efikasi dirinya kurang. Kurang memiliki keyakinan bahwa bisa. Ini membuat ragu-ragu, membuat tidak berani nekad untuk maju terus pantang mundur.

Menurut pengamatan saya, problem seperti ini biasanya tidak terjadi pada mereka yang punya hobby. Ketika saya melihat acara Kick Andy yang mewawancara seorang pengusaha budidaya cacing dan juga seorang yang berbisnis di bidang telur semut (kroto), mereka bermula dari hobby. Ada yang karena hobby mancing kemudian berbisnis kroto. Ketika kita punya hobby dan sangat menjiwai, ibaratnya sudah menjadi passionnya, maka dia akan berusaha mencari tahu informasi selengkap-lengkapnya. Apa yang dilihatnya bisa menjadi inspirasi baginya. Hobby ini bisa sangat sepele, tapi kalau kita mendalaminya, ada banyak peluang di sana.

Namun sekali lagi, ini tidak sesederhana dikatakan. Barangkali hanya ada satu dua orang saja yang kemudian terjun ke bisnis berawal dari hobbynya. Yang lain mungkin mencoba meniru kesuksesan orang lain namun tidak dilengkapi dengan minat yang sama kuatnya.

Mereka yang masih bingung mau usaha apa, seringkali problemnya juga adalah tidak fokus. Ketika ada teman yang sukses di bisnis tertentu, dia ingin terjun ke usaha serupa. Ketika dia kenal dengan seseorang dan orang itu menjanjikan bisa menjadi supplier, maka dia lantas beralih rencana. Kebingungan karena tidak fokus ini membuat orang tidak segera memulai usahanya. Makin banyak pilihan bukannya bagus malah sebaliknya membuat bingung.

Melakukan fokus ini juga tidak mudah. Sebenarnya, dengan passion dan focus, itu sudah merupakan modal yang luar biasa. Ini akan membuat seluruh energi dan pikiran kita bisa mendorong ke arah kesuksesan. Tapi kalau kita asal ikut-ikutan dan bingung sehingga salah pilih, maka bakal menjadi masalah.

Contoh yang ada di Kick Andy juga menceritakan bahwa bisnis yang dilakukan belum tentu langsung berhasil. Pengusaha budidaya cacing ini, sebelumnya berbisnis belut, tapi gagal. Namun karena belut ini makanannya adalah cacing, maka dia kemudian banting setir bisnis cacing dan kemudian sukses.

Kita tidak tahu apakah kita sukses atau tidak. Bahkan meskipun kita sudah kerja ekstra luar biasa, juga tidak ada jaminan sukses. Namun kuncinya adalah tidak menyerah. Gagal yang satu, bangkit untuk berusaha lagi.

Tapi, sebelum mau memulai bisnis sendiri, sebenarnya ada pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Benarkah Anda ingin sungguh-sungguh menjadi entrepreneur? Sebab ada banyak yang termotivasi karena baru ikut seminar. Semangat luar biasa tumbuh seketika, tapi biasanya juga padam bersamaan dengan berlalunya waktu. Ada lima hal yang mesti Anda uji pada diri Anda sendiri, apakah pilihan menjadi entrepreneur itu memang cocok untuk Anda, yaitu:

1. Apakah saya punya produk atau jasa yang hendak ditawarkan dan saya memiliki passion yang kuat di bidang tersebut?

Jika Anda belum punya bayangan apa yang akan Anda jual, itu berarti angan-angan Anda masih sebatas mimpi.

2. Seberapa besar tolerasi saya terhadap resiko?

Menjadi entrepreneuer itu tidak ada jaminan pasti sukses. Jika Anda saat ini sedang bekerja dan selalu ragu untuk berhenti dari pekerjaan Anda meski pikiran Anda sudah mengangankan untuk berusaha sendiri, berarti sebenarnya toleransi Anda terhadap resiko tergolong rendah.

3. Apakah saya bagus dalam membuat keputusan?

Berwirausaha artinya berusaha sendiri. Jadi semuanya nanti akan diputuskan oleh Anda. Mulai dari memutuskan untuk mencari pegawai, memutuskan akan membuka kantor atau toko di mana, apakah saya akan pinjam uang ke keluarga atau mengunakan seluruh tabungan? Semua ini butuh keberanian untuk membuat keputusan. Kalau selama ini Anda cenderung ragu-ragu atau belum berani membuat keputusan sendiri, sepertinya menjadi entrepreneur perlu dipikirkan ulang atau cobalah Anda berusaha meningkatkan keyakinan diri, keberanian dan ketegasan untuk membuat keputusan.

4. Apakah saya siap menerima tanggung jawab di berbagai bidang?

Kalau kita menjadi pekerja, tanggung jawab kita biasanya hanya spesifik. Ketika Anda menjadi entrepreneur, maka semua bidang akan menjadi tanggung jawab Anda. Baik soal pemasaran, produksi, pelayanan, personalia, strategi bisnis, dan banyak lainnya. Bahkan termasuk ketika usaha menurun, Anda mesti memikirkan solusinya. Kondisi perekonomian juga perlu menjadi perhatian Anda. Ini karena sebagai seorang pemilik usaha, Anda telah menjadi seorang "Jenderal".

5. Apakah saya dapat menghindari terkena burn out?

Burn out adalah sebuah kondisi di mana seseorang merasa dirinya kehabisan waktu dan tenaga karena pekerjaan yang dilakukannya. Ibaratnya diri seperti terbakar habis. Ini bisa membuat seseorang menjadi stress dan kemudian tak berdaya. Kita tahu bahwa seorang entrepreneur itu bukan orang yang kerjanya hanya santai-santai saja kemudian dapat uang dengan sendirinya. Mereka harus bekerja keras, melebihi kerja umumnya seorang pegawai. Ibaratnya kerja tak kenal waktu, hari liburpun perlu memikirkan usahanya. Kalau Anda mudah stress dan kemudian burn out, berarti Anda belum cocok jadi entrepreneur. Belakangan banyak nasihat mengatakan, untuk apa kerja keras? Yang penting adalah kerja cerdas. Pendapat ini menurut saya bisa menyesatkan. Kerja keras itu penting. Tapi jangan kerja keras yang itu-itu saja. Kreativitas sangat penting dan bekerjalah dengan antusiasme kerja yang tinggi.

Kelima hal ini memang berat untuk dilakukan. Kalau ada yang bilang menjadi entrepreneur itu mudah. Menurut saya itu omong kosong. Itu hanya motivasi yang bisa membuai diri Anda, tapi ketika Anda sendiri harus memulainya, maka banyak problem yang baru terlihat.

Kalaupun Anda masih bingung, tak apa, sebab Anda tidak sendiri. Mereka yang telah sukses pasti bercerita banyak yang bisa membangkitkan semangat kita. Tapi  mereka adalah pribadi yang sudah teruji. Kita memang masih harus melewati berbagai ujian, untuk membuktikan bahwa kita memang cocok menjadi seorang entrepreneur. Terlepas dari semua itu, tulisan ini bukan membuat Anda patah semangat, tapi justru tempalah diri Anda. Menjadi entrepreneur, sekali lagi bukan hal yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan.

Salam entrepreneur!





Referensi: http://guides.wsj.com/small-business/starting-a-business/how-to-decide-if-entrepreneurship-is-right-for-you/

Daun, Pohon dan Angin


Daun terbang bukan karena angin tapi karena pohon tak lagi memintanya untuk tinggal.

Pahami aturan berbisnis dan apa yang dipertaruhkan


Ada pepatah Tiongkok kuno yang mengatakan, "Jika kamu harus bermain, putuskan berdasarkan tiga hal ini saat mulai: 1. aturan dari permainan, 2. apa yang dipertaruhkan, 3. waktu untuk keluar dari permainan." Ketika saya membaca hal ini, saya lantas berpikir bahwa apa yang dikemukakan ini sangat besar sekali pembelajaran di dalamnya, terutama dalam entrepreneurship. Kenapa bisa begitu?

Kalau kita amati, banyak orang yang terjun ke suatu hal, belum memahami benar aturan dari permainan yang ada. Misalnya, kalau kita mau bermain catur, mestinya kita tahu aturan permainannya. Demikian juga kalau kita mau berbisnis, maka aturan mainnya harus kita ketahui dengan baik. Nah, banyak orang yang melakukan bisnis, entah karena ikut-ikutan teman yang dilihatnya sukses, atau nekad berwirausaha, namun sebenarnya belum memahami betul aturan dalam berusaha. Akibatnya, banyak yang mengalami masalah karena tidak tahu cara mengelola usaha dengan baik.

Hal yang sama sebenarnya kita bisa lihat di jalan raya, ada banyak orang yang bisa mengendari kendaraan, tapi tidak bisa berlalu lintas dengan baik. Mereka bisa mengoperasikan kendaraan, tahu cara belok, tahu cara mengemudi, tapi tidak paham dengan rambu-rambu lalu lintas serta aturan yang ada. Akibatnya, kemungkinan bisa terjadi kecelakaan.

Nah, menjadi pengusaha jangan semata karena ingin atau passion saja, tapi kuasai juga aturan mainnya atau bagaimana mengelolanya. Pemahaman tentang manajemen itu perlu. Ada banyak orang yang mengatakan, tidak perlu banyak bicara atau belajar teori, yang penting action. Ya, mungkin mereka bisa membuka usaha, tapi bisa diramalkan nanti akan banyak yang gulung tikar.

Yang kedua, adalah apa yang dipertaruhkan. Hidup ini penuh resiko. Usaha juga penuh resiko. Setiap resiko itu ada bahaya sekaligus ada peluangnya. Sama halnya kita naik motor, itu ada resikonya, yakni mengalami kecelakaan di jalan raya yang akibatnya bisa fatal. Tapi dengan naik motor, kita bisa pergi ke suatu tempat tujuan dengan cepat dan efisien. Saat berusaha juga sama, ada hal-hal yang dipertaruhkan. Entah itu modal uang, tenaga, pikiran bahkan juga nama baik.

sebagai entrepreneur, mengelola resiko itu perlu. Kita juga harus mengkalkulasi resiko dengan baik. Jadi, benar seperti pepatah tadi, kita harus tahu apa yang dipertaruhkan. Namun sebaiknya, selain tahu apa yang dipertaruhkan, kita juga harus siap kehilangan apa yang kita pertaruhkan itu. Oleh karenanya, kita harus bisa mengukur seberapa banyak kita siap untuk rugi. Jika kita ragu, jangan lakukan. Ketahui batas mana kita siap untuk kehilangan. Ketika sudah melakukannya, jangan ragu-ragu lagi dan jangan hanya coba-coba. Berbisnislah dengan keyakinan. Ibarat kalau kita bermain, setelah tahu aturan main dan tahu apa yang dipertaruhkan, maka bermainlah dengan baik dan serius. Jangan mempermainkan permainan.

Yang terakhir, kita harus tahu kapan waktu untuk berhenti. Ini bukan berarti kita harus meninggalkan usaha kita. Tapi jika kondisi sudah tidak memungkinkan atau justru sebaliknya, ada peluang yang jauh lebih baik, maka sebaiknya kita keluar dari permainan itu. Terlebih kalau usaha kita sudah tidak menguntungkan lagi karena memang tidak bisa dikendalikan. Jangan terperangkap untuk terus mempertahankan sehingga kerugian menjadi semakin besar sehingga jauh melebihi dari apa yang kita mampu. Coba bayangkan, banyak penjudi yang karena ingin menang maka membesarkan taruhannya. Atau ketika dia kalah, maka terus berjudi dengan pikiran untuk menebus kekalahannya. Akibatnya justru kerugian makin besar yang dideritanya. Pepatah lama mengatakan, orang bijak tahu saat untuk berhenti.

Dari nasihat ini, sebenarnya kita bisa mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana berbisnis dan mengkalkulasi resiko. Ketika kita mau terjun ke sebuah bisnis, pikirkan tiga hal itu. Pertama tahu aturan mainnya. Seorang pengusaha meubel harus tahu benar aturan main yang ada dalam bisnis itu. Demikian juga untuk bisnis yang lain. Jangan melakukan bisnis yang Anda tidak paham aturan mainnya. Kedua, ketahui apa yang harus Anda pertaruhkan, dan ketika itu sudah melebihi dari batas yang bisa Anda hadapi, Anda harus berani memutuskan untuk berhenti atau keluar dari bisnis ini. Tentu, kalau bisnis tersebut makin maju dan besar, lanjutkan dan kembangkan lebih baik lagi.

Semoga bermanfaat, salam entrepreneur!


Belajar dari pelanggan yang kecewa


Pelanggan Anda yang paling tidak puas adalah sumber terbaikmu untuk belajar. ~ Bill Gates

Jadi kalau ada pelanggan yang marah atau kecewa, jangan dijauhi atau bahkan ikut emosi serta menutup diri. Jadikan pelajaran berharga untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas produk dan layanan.

Fokuslah pada pelanggan Anda


Mengapa harus fokus pada lawan atau pesaing? Jack Ma, pendiri Alibaba justru mengatakan lupakan itu Fokuslah pada pelanggan Anda. Jaga kualitas produk dan layanan Anda serta jangan berhenti berinovasi. Itu jauh lebih penting!

Memaknai hidup

Kita tidak bisa hanya bekerja atau bertindak berdasarkan passion saja, kita butuh tujuan hidup yang dapat memaknai keseharian kita. Banyak dari kita yang merasa sudah melakukan apa yang kita sukai tapi akhirnya masuk dalam pusaran rutinitas yang membuat kita kehilangan arah bahkan merasa tersesat dalam hidup.

Sebenarnya, hal yang lebih utama dalam hidup ini adalah kemana kita mau menuju. Pertanyaan yang selalu ada dalam diri manusia adalah siapakah aku, dari mana aku, mau kemana dan apa tujuanku. Memang, banyak yang kemudian meninggalkan pertanyaan ini karena tidak mudah untuk mencari jawabannya. Kita lantas melakukan apa saja yang kita senangi. Alih-alih menjalani hidup sesuai kemana air mengalir, tapi kita kemudian bingung saat aliran itu tidak benar-benar seperti yang kita inginkan.


Dalam hidup ini, ada banyak dilosofi hidup yang membantu memberikan pencerahan bagi manusia untuk memperoleh arti hidupnya. Salah satunya dalam filosofi Kejawen ada yang berbunyi “Sangkan Paraning Dumadi”. Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahui kemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat. Ini menandakan betapa pentingnya manusia untuk mengetahui kemana aah hidup kita.

Mengetahui tujuan hidup ini sebenarnya merupakan langkah awal untuk memaknai hidup kita. Kalau kita ditanya, apa gunanya kita hidup, jawabannya bisa beraneka ragam. Tapi kalau jawaban itu tidak murni dari hati kita, atau sekedar asal, ini biasanya yang membuat kita tidak bisa bahagia.

Viktor E. Frankl, psikiater yang mengembangkan Logoterapi mengemukakan bahwa kekuatan motivasi utama dari seorang individu adalah untuk menemukan makna hidup. Menurut Frankl, seseorang dapat menemukan makna dalam hidupnya dalam tiga cara yang berbeda, yang pertama adalah dengan menciptakan pekerjaan atau melakukan perbuatan. Hal ini tergantung juga dari nilai hidup yang dianut oleh seseorang. Yang kedua, orang dapat memaknai hidupnya dengan mengalami sesuatu atau menghadapi seseorang; dan yang ketiga berdasarkan oleh sikap yang kita ambil menuju dihindari penderitaan dari orang lain. Intinya sebenarnya adalah kalau kita merasa hidup ini berguna, entah bagi diri sendiri atau orang lain, maka hidup kita bermakna. Untuk bisa berguna, kita perlu menetapkan tujuan hidup yang jelas. 

Viktor Frankl dalam bukunya Man's Search for Meaning, mengemukakan: "Jangan mengejar sukses – semakin dikejar dan semakin dijadikan target, semakin kita akan kehilangan dia. Karena sukses, seperti halnya kebahagiaan, tidak dapat dikejar. Ia harus terlahir dengan sendirinya, dan hal itu hanya terjadi sebagai dampak sampingan yang tidak direncanakan dari dedikasi pribadi seseorang kepada suatu tujuan yang lebih besar daripada dirinya sendiri atau sebagai produk sampingan dari penyerahan diri seseorang kepada seseorang yang lain daripada dirinya sendiri."

Untuk bisa lebih memaknai hidup, kita juga perlu melihat apa yang telah terjadi di masa lalu.  Menghubungkan titik-titik dalam kehidupan kita. Connecting the dots, seperti yang pernah dikatakan oleh Steve Jobs. Namun kita jangan terpaku pada masa lalu. Kita harus punya tujuan hidup yang jelas. Apa yang menjadi mimpi untuk kita capai.

Membuka usaha, dari mana modalnya?

Modal usaha sebenarnya tidak hanya uang. Tapi ini yang sering menjadi penghambat orang untuk segera memulai usaha. Banyak yang bekerja di tempat lain untuk mengumpulkan uang atau modal. Ada yang bisa mengelola keuangannya dengan baik, tapi ada yang perilakunya boros sehingga seberapa lamapun dia bekerja, modal juga belum terkumpul banyak.

Bisnis, bagaimanapun, perlu modal uang. Hanya saja, itu tidak harus uang sendiri. Bisa juga uang orang lain, artinya mengajak pihak lain menjadi investornya. Bisa bekerja sama bagi hasil,. atau mungkin juga mengajukan pinjaman ke bank atau sejenisnya.

Lalu, kalau misalnya kita sudah memiliki niat yang sungguh-sungguh menjadi seorang entrepreneur, memiliki sikap dan ketrampilan yang memadai, bagaimana kita bisa memperoleh modal finansial ini?


Modal untuk membuka usaha secara umum memang bisa dengan tiga jalan, pertama: uang sendiri: kedua: pinjam dari orang lain atau bank; ketiga: modal dari orang lain (bisa join atau berpartner dengan investor lain). Pilihan pinjam uang ke bank barangkali enak kalau ada yang bisa dijaminkan. Namun pilihan pinjam uang ke bank tidak disarankan untuk start-up (memulai usaha baru). Pinjam yang ke bank bagus untuk mengembangkan usaha (scale-up).

Kalau punya modal sendiri, itu lebih baik, karena sebagai usaha yang baru dirintis, Anda memegang sendiri kendali usaha. Ini karena start-up perlu gerak cepat dan sangat baik jika gerak usaha bisa lincah. Kalau memang memerlukan menjual tanah, yang penting gunakan prinsip affordable loss, artinya, seberapa besar anda siap atau rela rugi. Tentu ini sudah Anda hitung kelayakan usaha Anda dari aspek keuangan dan pemasarannya.

Kalau memang bisa dirintis kerja sama dengan pihak lain, maka partnership atau mencari pemodal juga menjadi pilihan yang baik. Misalnya juga kerja sama dengan orang yang punya tempat dan menggunakan sistem bagi hasil.

Jadi, ini kembali kepada bagaimana nanti Anda mau menjalankan usaha. Apakah Anda siap bermitra dengan orang lain, atau Anda lebih suka sendiri. Tapi untuk usaha baru, disarankan tidak menggunakan modal pinjaman dari bank. Baru kalau sudah nampak ada kemajuan, pinjam bank bagus untuk mengembangkan usaha.

Iblis, si Ular Tua itu, apakah sungguh ada atau cuma mitos saja?

(Oleh: Nur Agustinus)

Dalam beberapa ajaran agama dikenal adanya tokoh iblis (satan). Peran iblis ini diketahui sejak awal ketika menggoda manusia (Adam dan Hawa) di Taman Eden. Tafsiran dari Kitab Kejadian menunjukkan bahwa ular itu adalah iblis yang menyamar atau iblis menggunakan ular tersebut sebagai medianya.

Yang jadi pertanyaan, apa maksud penulis cerita itu. Anggaplah mitos tentang manusia pertama dan diusirnya manusia dari tempat yang enak ke tempat yang susah (bumi) ini diadopsi serta diadaptasi dari mitos yang ada sebelumnya, mengapa ular menjadi tokoh yang penting? "Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah." (Kejadian 3:1)

Saat ini, kita tahu bahwa ular bukan binatang yang cerdik. Simpanse justru dianggap binatang di darat yang paling cerdik. Mengapa bukan binatang itu yang dipakai? Mengapa harus ular? Yesus sendiri rupanya punya pendapat yang sama tentang ular : "Hendaklah kamu cerdik seperti ular" (Matius 10:16).

Pemujaan terhadap ular memang ada. Coba perhatikan ayat ini: Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan. (2 raja 18:4) Pemujaan terhadap ular ini, rupanya "warisan" dari Musa yang bermula dari peristiwa di padang gurun setelah bangsa Israel keluar dari Mesir. Perhatikan ayat ini: Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bilangan 21:9)

Orang Mesir kuno, lambang salah satu dewa mereka adalah ular. Ini terlihat dari simbol ular kobra dengan matahari, yang juga sering terdapat di topi atau tongkat kerajaan mereka. Bukan tidak mungkin, Musa sebagai seorang bekas pangeran Mesir, terpengaruh kepercayaan ini.

Kalau membaca surat rasul Paulus, memang di ular dianggap memperdaya Hawa (baca di 2 Korintus 11:3). Hanya saja, label yangdiberikan kepada ular dalam terjemahan bahasa indonesia adalah "licik" sementara sebelumnya, ular memiliki label "cerdik". Bahasa Inggrisnya adalah "cunning" yang memang bisa berarti "kelicikan" dan juga "Kecerdikan". Namun hal itu bisa berbeda arti.Kata yang sama, yakni "cunning" juga digunakan di Kejadian 3:1 (menurut The New American Bible).

Uniknya, kalau kita membaca Al Quran, terutama soal siapa yang menggoda Adam dan hawa, tidak lagi dikatakan ular, melainkan sudah menjadi "syaitan" (satan). Mengapa menjadi "syaitan" bukan tetap sebagai ular? Kata Arab untuk ular adalah afa'รข. Ular memang jadi perhatian bagi manusia jaman dahulu, kemampuannya ganti kulit dihubungkan dengan hidup abadi, sebagai lambang perlindungan sekaligus kejahatan (apopis) bagi bangsa Mesir kuno. Bagi orang Kanaan, ular adalah lambang kesuburan.
Trauma bangsa Israel dengan ular ini nampaknya membekas, terutama ketika berada di padang gurun selama 40 tahun. Boleh jadi, dari situ kemudian berkembang ular menjadi musuh (lawan = iblis) bagi bangsa itu. Tapi apakah memang demikian? Atau ada penjelasan lain?

Dalam sebuah diskusi di milis Parokinet sekitar tahun 1999, Noordin Salim pernah memberi komentar mengenai perkembangan tafsiran mengenai Setan ini. Menurutnya, tidak perlu sampai waktu Muhammad (tahun 600-an), kitab-kitab yang beberapa ratus tahun sebelum masehi saja sudah mulai memperkenalkan adanya Setan. Apalagi sesudah New Testament, berapa kali kata Satan diucapkan. Jadi memang interpretasi Muhammad itu tidak unik, karena memang pada saat itu memang begitu interpretasinya. Bahkan menurutnya, ada kemungkinan idea tentang Iblis atau Lucifer ini muncul setelah pembuangan umat Israel ke Babylonia?

Kalau memang konsep Satan itu belum jelas sebelum Babylonia, jelaslah bahwa kita semua meminjam konsep dari Zoroaster. Umat Yahudi tidak begitu memperdulikan Satan. Juga umat protestan (walaupun ada kelompok protestan yang mempedulikan satan juga). Tetapi bagi katolik, ini penting, sampai masuk dalam rumusan baptis, demikian juga bagi umat Islam.

Ditambahkan lagi oleh Noordin Salim mengenai ular, di Taurat Jahudi, dalam bahasa Inggrisnya, mereka menterjemahkan Musa mengubah tongkat menjadi... buaya, bukan ular. Dan memang buaya ini lambang Pharaoh.

P.F. Runtuwene yang juga ikut berdiskusi di milis Parokinet mengamati soal figur yang menggoda Hawa (Eva).  "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kej.3:15).  Menurutnya, ini merupakan pernyataan strategis yang tidak mungkin di tujukan kepada binatang. Juga tidak ditujukan kepada  "buah pikiran" Eva. Pastilah kepada suatu pribadi yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu. Nah, pribadi inilah yang selanjutnya di-identifikasikan atau dikenal dengan nama Satan yang artinya "resister" atau penentang.

Noordin Salim menanggapi bahwa itu merupakan interpretasi yang muncul belakangan. Kemudian resister itu dipersonafikasi menjadi sesuatu yang semakin jelas, The Beast. Ditambahkan juga bahwa ular itu lambang kekuasaan, Pharaoh Mesir menggunakan ular untuk mahkotanya. Orang Cina punya binatang paling powerful bentuknya ular besar, bisa terbang lagi, namanya Dragon (naga). Apalagi di Amerika Latin, Anakonda itu disembah-sembah. Nah, ular itulah lambang keinginan manusia untuk berkuasa, untuk menyaingi Tuhan. Kita bisa langsung menginterpretasikan soal ular itu tanpa perlu mempersonafikasikan ular menjadi Satan yang akhirnya dipandang sebagai kekuatan yang menyaingi Tuhan. Masalahnya adalah antara manusia dan Tuhan, Satan itu diadakan hanya sebagai kambing hitam, azazel.

Menurut saya, figur Setan ini boleh jadi memang tidak ada dalam kebudayaan waktu itu. Namun makhluk-makhluk dimensi lain yang disebut demon (sejenis spirit atau bisa dianggap sebagai jin) ini ada dan sudah dikenal. Konsep roh-roh ini (spiritual beings) ini muncul juga di masa Yesaya. Israel kuno, nampaknya mengadopsi kepercayaan bangsa mesopotamia tentang demon ini. Salah satu demon yang terkenal adalah Lilith. Lilith ini menurut mitosnya adalah istri Adam yang pertama (sebelum dengan Hawa). Namun, apakah ada kesamaan antara mitos Lilith ini dengan si Lucifer? Dia yang menolak tunduk kepada Adam sehingga dibuang dan dikutuk jadi jahat.

Lalu, mengapa diadakan permusuhan antara manusia dengan ular? Siapakah ular itu? Meski banyak yang menganggap cuma kisah atau dongeng saja, kitab kejadian menyebutkan bahwa ular sebagai binatang yang paling cerdik yang ada di darat. Mitos ular ini dikenal sejak lama, mulai dari amerika latin (Quetzalcoatl), Babylonia, Yunani (Medusa), Mesir sampai ke Cina.



Noordin Salim menambahkan, bahkan dalam polytheis, tidak begitu jelas mana yang god, mana yang demon. Karena god juga bisa berbuat jelek, bandingkan dengan mitologi Yunani. Dalam masyarakat kuno, polytheisme juga terkadang berbareng dengan animisme, setiap pohon-pohon tinggi, atau gunung, dan sebagainya juga punya "penunggu". Nah, monotheisme yang dibakukan oleh Musa itu untuk bangsa Israel itu, meniadakan dewa-dewa lainnya, dan sekalian memperkenalkan sifat "moral" dari Tuhan monotheis itu.

Tetapi monotheisme Musa itu tidak langsung berarti bahwa dibarengi dengan "monodemonisme". Jadi menciptakan personafikasi Super Demon yang mengatasi semua demon-demon, seperti Tuhan mengatasi dewa-dewa lain.  Super Demon tersebut dikenal dalam keyakinan Zoroaster, pertentangan Kebaikan dengan Kejahatan. Juga di Mesir Kuno, antara Osiris dan Seth, saudaranya yang menjadi penguasa kegelapan.

Tentang Lilith ini (Lilithu : sumerian), dia tidak dipandang sebagai lawan dari Tuhan. Tetapi Lilith itu lawan dari manusia, lawan dari Adam. Kebencian Lilith adalah pada Adam, bukan Tuhan. Karena itu Lilith itu tidak bisa kita pandang sebagai personafikasi dari Satan, yang dipandang sebagai lawan dari Tuhan (anti-Tuhan).

Satan, dipersonafikasi sebagai anti-Tuhan. Manusia ada di tengah-tengah permainan antara Tuhan dan Satan. Lilith itu dimitoskan diciptakan Tuhan dengan bahan yang lain dengan Adam. Kalau Adam dari debu (dust), maka Lilith dari kotoran. Dari hubungan seksual dengan Lillith, lahirlah Asmodeus, dan demon-demon lainnya, banyak sekali. Nah, bangsa-bangsa di Timur Tengah (sumeria, babilonia, yahudi) takut dengan yang demon-demon seperti ini. Karena Lilith itu bencinya dengan pria, dia suka memangsa pria. Asmodeus itu tidak muncul di Kitab Suci Protestan, tetapi ada dalam Kitab Suci  Katolik, yakni di Kitab Tobit. Mungkin gara-gara Asmodeus ini, kelihatannya diragukan kebenarannya oleh gereja protestan, karena itu kitab Tobit dianggap apokripa.

Dalam Kitab Suci Katolik, di Tobit 3:8, dikatakan Asmodeus membunuh suami-suami Sarah, sampai tujuh kali berturut-turut. Akhirnya oleh malaikat Rachael, Asmodeus dibuang ke Upper Egypt.  Mitos-mitos semacam ini memang memberikan gambaran tersendiri dalam Kitab Suci. Jika kita jeli, kita lebih mampu menangkap gambaran Tuhan dalam Kitab Suci, dengan mengenali asal muasal bagian mitos.

Namun, sebelum lebih jauh menelusuri tentang setan, kita mesti mengkaji dahulu, apa yang dimaksud dengan setan itu. Satan itu bahasa Yunani dari Iblis (Iblis adalah berasal dari bahasa Ibrani). Acuan perjanjian lama tentang iblis jarang sekali, bahkan bisa dianggap tidak ada. Iblis ini sering dianggap sebagai "penguasa dunia" (Yoh 14:30) atau "penguasa kerajaan angkasa" (Ef 2:2)

Ada beberapa istilah, misalnya "roh jahat" atau dalam bahasa inggrisnya "unclean spirit", namun bisa juga disebut dengan "demon". Demon ini yang sering juga disebut atau diterjemahkan dengan sebutan setan atau roh jahat.

Coba perhatikan ayat ini: Dan ketika anak itu mendekati Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya. Tetapi Yesus menegor roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya. (Lukas 9:42)

Di ayat tersebut, kata "demon" diterjemahkan sebagai "setan", sementara "unclean spirit" sebagai "roh jahat". Namun dari apa yang dikatakan Yesus, nampaknya penulis beranggapan bahwa roh jahat itu adalah sinonim setan (ayat di atas bukanlah pendapat atau perkataan Yesus melainkan ungkapan kata-kata dari penulis). Penggunaan istilah "mengusir roh jahat" (dalam Matius 10:1) dan juga istilah "mengusir setan" nampaknya menunjukkan bahwa setan itu adalah sama dengan roh jahat.

Konsep setan (demon) sebagai roh jahat (unclean spirit) nampaknya sudah ada sejak Israel kuno, bahkan kalau dianggap warisan dari Mesir kuno maupun mesopotami kuno, tentunya orang Israel mengenal adanya konsep setan, walau bahasanya mungkin tidak disebut dengan "setan". Namun, adakah konsep pemimpin (penghulu) dari setan yang sering kita menyebutnya sebagai Lucifer itu?

Di perjanjian baru, muncul pembicaraan antara orang Farisi dengan Yesus soal penghulu setan (baca di Matius 19:24) yang disebut oleh mereka sebagai Beelzebul. Siapakah Beelzebul ini? Apakah Beezebul ini sama dengan Lucifer (bintang timur) yang disebut dalam Yesaya 14:12? Menurut saya tidak.



Beelzebul (dewa dari Ekron) ini nampaknya berkaitan dengan "Bel" (dalam bahasa Ibrani disebut ba'al), nama dewa utama Babilonia dan juga disembah oleh orang Kanaan, yang juga sering disebut sebagai Marduk. Marduk (Merodakh, baca di Yeremia 50:2) ini menurut mitologi babilonia adalah naik seekor naga. Di sini nampak jelas bahwa karena latar belakang historis, yakni orang Israel yang pernah dijajah dan diasingkan ke Babilonia, membenci dewa utama bangsa itu sehingga menganggapnya sebagai lawan dari "dewa / tuhan" mereka yakni YHWH.

Oleh sebab itu, konsep tentang raja setan (roh jahat) itu, mestinya tidak ada. Namun konsep makhluk spirit dari dimensi lain yang sering membuat masalah atau menganggu, ada dalam masyarakat waktu itu. Persoalannya, orang kena gangguan jiwa, seperti paranoid, scizophrenia, sering dianggap sebagai kerasukan roh jahat. Yang pasti, ini diceritakan dalam kisah Raja Saul (raja pertama orang Israel). Di situ disebutkan "roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul" (Baca di 1 Samuel 16).

Dengan kata lain, kita ini terjebak dalam suatu konsep bangsa Israel yang pernah dijajah oleh Babilonia, sehingga mereka beranggapan bahwa dewa utama bangsa penjajah adalah musuh (iblis) bagi dewa mereka. Dewa mereka bernama YHWH, sementara dewa bangsa penjajah bernama Bel atau Marduk. Dewa ini menunggang ular (naga). Yang mesti direnungkan, kalau kita beranggapan bahwa dewa bangsa Mesopotamia kuno itu cuma berhala alias cuma dongeng atau omong kosong belaka, mengapa kita mesti takut? Tapi, apakah dewa itu memang tidak ada? Kalau kita pikir, nampaknya Yesus berpikir (punya persepsi) bahwa Beelzebul itu ada, dengan sanggahannya kepada orang Farisi yang menyebutkan bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.

Apakah Beelzebul (Bel, dewa orang Babilonia) memang ada? Kalau tidak ada, apakah Yesus keliru? Apakah Beelzebul memang lawan (iblis) bagi YHWH? Ataukah itu cuma karena Israel pernah dijajah oleh Babilonia. Dan kita saat ini begitu percaya akan hal itu?