27 Apr 2014

Pemikiran Logis tentang UFO




(Oleh: Nur Agustinus)

Jika kita mengamati fenomena UFO, maka kita mempunyai dugaan sekaligus harapan bahwa mereka datang dari luar angkasa. Alam semesta yang berisikan galaksi, bintang-bintang dan planet-planet, tentu menimbulkan tanda tanya, apakah hanya di planet Bumi ini saja ada kehidupan cerdas. Rasa ingin tahu ini seakan terjawab dengan hadirnya sejumlah UFO yang telah terlihat oleh sekian banyak saksi mata, bahkan ada yang sempat memotret atau mengambil gambar videonya. Namun banyak orang masih ragu akan keberadaannya. Terlebih karena pada umumnya para ilmuwan bersikap skeptis terhadap fenomena UFO ini.

Sekarang marilah kita berangkat dengan sebuah asumsi terlebih dahulu. Asumsi ini bukan kesimpulan, tapi dasar yang akan kita gunakan sebagai bahan pemikiran. Oleh karena itu, kita tidak perlu mempertanyakan mengenai kebenaran asumsi, melainkan ini hanya sebagai sebuah pengandaian saja.

Marilah kita berasumsi bahwa UFO itu ada atau dengan bahasa lain, jika UFO itu ada, maka tentunya akan banyak hal yang secara logis harus terjadi. UFO yang dimaksud di sini tentunya adalah sebuah kendaraan yang dipergunakan oleh makhluk cerdas dari luar planet bumi. Kita tidak berasumsi tentang UFO atau makhluk yang datang dari dimensi lain atau dari waktu yang berbeda, namun marilah kita batasi asumsi kita dengan makhluk luar bumi atau makhluk luar angkasa.

1. Mereka tidak datang hanya sekarang

Apakah mereka baru saja datang ke planet bumi ini? Adalah sebuah kebetulan jika saat ini kita memiliki teknologi ruang angkasa lalu kemudian kita juga menerima tamu yang datang dari planet lain. Menurut pendapat saya, kedatangan mereka sangat mungkin sudah sejak masa lalu. Hanya saja kemampuan pemahaman manusia berbeda-beda dari masa ke masa.

Dengan asumsi ini, maka kedatangan mereka sudah sejak masa lalu dan jika itu memang terjadi, maka besar kemungkinan ada di antara mereka yang telah berbaur dengan manusia bumi di jaman dahulu.


2. Mereka tidak hanya datang ke Bumi

Jika kita berasumsi bahwa mereka berasal dari luar bumi, tentunya, kita dapat memastikan bahwa mereka tidak hanya mengunjungi planet bumi saja. Artinya, bumi bukan merupakan satu-satunya tempat tujuan. Jika mereka berasal dari luar tata surya kita, menurut pendapat saya, mereka pasti juga akan mengunjungi benda-benda angkasa lain yang ada di tata surya kita, terutama benda-benda langit yang menarik perhatian mereka.

Hal ini berarti, jika mereka telah mengunjungi bumi, sudah pasti mereka juga pergi ke bulan, ke planet Mars, Venus, Jupiter, satelit-satelit Jupiter, demikian juga planet yang lainnya.

Ini sebuah pemikiran logis saja. Tentu saya tidak akan menghadirkan bukti-bukti keberadaan UFO di planet Mars, misalnya, namun merupakan sebuah hal yang masuk akal jika mereka juga mengunjungi Mars.

3. Membangun pangkalan

Lalu, yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah mereka hanya berkunjung saja? Apakah hanya sekedar lewat, melakukan pengamatan atau melakukan sesuatu di sana, dan kemudian pergi lagi? Menurut saya tentu tidak demikian. Besar kemungkinan mereka akan melakukan pendaratan, mencoba bisa tinggal di sana, tentunya dengan membangun sebuah pangkalan atau koloni. Hal yang paling mudah dalam membangun sebuah pangkalan di mana kondisi permukaan tidak sesuai dengan kebutuhan fisik, adalah membuat pangkalan di bawah tanah. Pangkalan bawah tanah jelas memiliki tingkat keamaan yang baik, kerahasiaan terjamin dan pengaturan sistem habitatnya juga mudah. Di permukaan sering menghadapi beberapa masalah seperti cuaca, jatuhnya meteor atau serangan dari pihak lain. Di bawah permukaan secara umum memiliki keunggulan trategis.

Jika kita kaitkan dengan kehadiran mereka di planet-planet lain, serta mereka telah lama melakukan pengembaraan di luar angkasa, maka sangat mungkin pula mereka sudah tinggal lama sekali (ribuan tahun) selain di bumi, jika di planet-planet sekitar kita. Maka tak heran jika mereka yang tinggal di sebuah planet tertentu, keturunannya sudah merasa menjadi penduduk planet tersebut. Hal ini membuat saya masih bisa menerima jika ada klaim yang mengatakan bahwa mereka dari planet Venus atau Mars, misalnya. Padahal, jika kita amati planet Venus maupun Mars, maka jelas tidak mungkin bisa ada makhluk hidup di sana, apalagi yang cerdas. Namun, menurut pendapat saya, bukan mustahil suatu saat manusia juga pergi ke planet Venus dan mencoba tinggal di sana.

4. Bahaya penyakit

Manusia bisa sakit karena ulah sebuah mikro-organisme, baik berupa baksil, bakteri maupun virus. Ketika kita mengamati cerita "The War of The Worlds", kita sering dibuat kecewa mengenai akhir dari kisah serangan aliens yang ternyata selesai begitu saja saat aliens keluar dari pesawat mereka dan kemudian mati dengan sendirinya karena ulah mikro-organisme yang ada di bumi ini. Namun, bagaimana dengan sebaliknya?

Ketika astronaut NASA ke bulan, mereka memasuki sebuah ruangan karantina untuk mencegah adanya mikro-organisme yang ikut terbawa dari luar angkasa ke bumi, yang dikhawatirkan berbahaya untuk manusia. Lalu, bagaimana dengan makhluk luar angkasa yang datang ke bumi? Apakah mereka paham akan prosedur karantina? Apakah mereka cukup hati-hati untuk tidak membawa mikro-organisme mereka ke bumi? Bisa saja hal itu aman untuk mereka namun tidak untuk makhluk di bumi. Di planet bumi ini berulang kali terjadi wabah yang luar biasa. Apakah mungkin jika salah satunya disebabkan karena virus atau bakteri yang ikut terbawa oleh makhluk UFO? Sejauh ini tidak ada perhatian serius tentang hal ini, terutama sejauh mana orang yang melakukan kontak atau korban penculikan oleh alien, diperiksa dengan seksama, apakah mereka membawa kuman penyakit yang berbahaya dari luar angkasa?

Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 5 November 1918, wabah influenza mulai menyebar di Islandia yang dicurigai dibawa oleh para penumpang kapal Botnia dari Denmark. Banyak orang jatuh sakit pada beberapa hari pertama dan secara cepat penyakit ini menyebar di Islandia. Dalam dua minggu saja, di kota Reykjavik, ibu kota Islandia, 10.000 orang tewas akibat penyakit ini.

Tahun 1918-1919 adalah tahun ketika wabah influenza menyebar luas di Eropa. Pada musim semi tahun 1918, penyakit tersebut menyebar di Perancis dan dikenal dengan nama Flu Spanyol. Pada musim panas tahun itu, di Amerika, ribuan tentara tewas akibat flu Spanyol ini. Pada akhir musim panas, influenza menyebar ke Jerman dan lebih dari 400.000 warga Jerman tewas. Di Inggris, influenza mulai muncul pada bulan Mei 1918 dan menyebar dengan cepat hingga menewaskan 228.000 orang. Diperkirakan, di seluruh dunia lebih dari 70 juta orang tewas akibat wabah ini. Wabah ini seakan menambah penderitaan setelah perang dunia pertama (1914-1918).

Mengapa tiba-tiba saja ada virus yang mematikan ini? Bisa saja wabah ini akibat adanya pembuatan senjata biologi berupa virus mematikan selama perang dunia pertama. Namun apakah mungkin ini merupakan virus yang dibawa bersama dengan kehadiran makhluk dari luar angkasa di bumi? Apa yang terjadi sebelum itu? Jika dikaitkan dengan kehadiran makhluk ET, maka pada tahun 1917, kita bisa mendapatkan data tentang penampakan Fatima di Portugal. Penampakan ini menurut pengamatan para ufolog saat ini, sangat mirip dengan penampakan UFO beserta perjumpaan dengan makhluk dari luar angkasa. Francisco Marto, salah seorang dari tiga anak yang melihat penampakan itu, meninggal dunia tahun 1919, sementara adiknya yang juga menyaksikan, yakni Jacinta Marto, meninggal tahun 1920. Tentu saja, kita tidak bisa dengan gegabah mengatakan bahwa kehadiran makhluk ET ini adalah yang membawa wabah mematikan. Di sisi lain, masyarakat tradisional Indonesia sendiri sering mengkaitkan munculnya fenomena aneh di langit dengan adanya pagebluk (wabah penyakit yang menyerang secara massal).

Selain itu, penampakan UFO memang juga muncul di tahun 1916 saat penerbang Letnan J. E. Morgan sedang terbang di ketinggian 5000 kaki, dia melihat sebuahy deretan sinar. Menduga bahwa itu adalah Zeppelin Jerman, dia menembak dengan pistol Webley Scott pistol. Sinar itu kemudian naik dan secara cepat menghilang. Ini merupakan catatan pertama dari penampakan benda terbang aneh dari pesawat terbang. Jangan lupa juga dengan peristiwa ledakan Tunguska, Siberia, pada tahun 1908. Jika itu memang merupakan sebuah ledakan UFO yang jatuh (ada juga teori lain tentang ledakan Tunguska ini), maka kita mesti memikirkan bahwa ada konsekuensi dari kehadiran makhluk ET, yakni mikro-organisme lain yang ikut bersama mereka, yang mungkin tidak berbahaya untuk mereka, tapi bisa mematikan bagi makhluk bumi.

 5. Motivasi mereka

Jika mereka pertama kali datang ke bumi, barangkali motivasi mereka adalah untuk melakukan eksplorasi. Seperti kalimat yang muncul di awal film seri Star Trek: "Space, the final frontier. These are the voyages of the Starship Enterprise. It's ongoing mission: to explore strange new worlds, to seek out new life and new civilizations, to boldly go where no one has gone before."

Apakah makhluk ET yang datang ke bumi ini bertujuan hanya sekedar eksplorasi luar angkasa? Manusia dengan sejarah panjangnya yang penuh dengan peperangan, selalu mempunyai bayangan bahwa jika ada makhluk ET ke bumi, bukan mustahil mereka akan melakukan invasi. Hanya saja, di sisi lain ada pertanyaan, jika teknologi mereka begitu hebat, mengapa kita masih aman-aman saja sampai sekarang? Ataukah, kita saat ini sudah menjadi jajahan mereka tanpa kita sadari?

Kalau kita bandingkan dengan manusia di bumi, ada beberapa tipe manusia yang ada berdasarkan nilai yang dianutnya. Secara teorinya ada 6 tipe, yakni manusia agama, manusia pengetahuan, manusia politik, manusia seni, manusia sosial dan manusia ekonomi. Apakah sistem nilai di komunitas ET juga sama? Apakah ada di antara mereka yang berjiwa dagang? Atau mungkin berambisi untuk berkuasa? Atau seperti peneliti yang haus akan pengetahuan? Dan lain sebagainya.

Manusia yang baru mencapai prestasi di bidang perjalanan luar angkasa, umumnya yang berangkat ke luar angkasa adalah dari kalangan militer atau mantan militer. Mengapa? Apakah ini karena mereka secara fisik lebih baik? Atau ada hal lain yang dipertimbangkan, misalnya maslaah kerahasiaan teknologi? Bersama dengan tim militer, biasanya ikut tim peneliti (manusia pengetahuan). Belakangan memang ada manusia ke luar angkasa hanya sekedar untuk berwisata. Namun, barangkali belum ada manusia dengan nilai (value) agama pergi ke luar angkasa. Mungkin suatu saat mereka juga akan ke sana.

Jika makhluk ET mempunyai sistem nilai yang hampir mirip dengan manusia di bumi, tentu menarik untuk mempelajari motivasi mereka. Kita ketahui berdasarkan apa yang terjadi di publik, ada beberapa aliran kepercayaan yang berdasarkan hasil komunikasi dengan makhluk ET. Ini biasanya terjadi melalui proses yang disebut dengan channeling. Terlepas dari benar atau tidaknya isi pesan maupun apakah benar memang manusia dikontak oleh makhluk ET, menarik jika makhluk ET datang jauh-jauh dari planet mereka hanya untuk menyebarkan ajaran moral dan kebijaksanaan. Para misionaris dari luar angkasa ini dengan gigih mengajarkan agar manusia sadar akan kekeliruannya dan hidup damai sehingga bisa masuk ke tahapan dimensi berikutnya. Tentu saja, tidak semua orang bisa percaya akan hal ini.

Motivasi makhluk ET memang tidak bisa dijelaskan dengan pasti, terlebih jika makhluk ET yang datang ke bumi tidak hanya satu kelompok saja. Bisa saja mererka yang datang ke bumi ini dari tempat yang berbeda beda, saling tidak mengenal satu sama lain, dan baru bertemu di sini. Masing-masing mungkin punya misi atau motivasi yang berbeda. Bagaimana jika ada konflik di antara mereka? Hal ini biasanya terlewatkan dari pemikiran para ufolog.

Kita di bumi ini yang mendapat edukasi dari film Star Trek, bahwa federasi tidak boleh campur tangan di sebuah planet yang secara teknologi belum mencapai teknologi perjalanan antar bintang, mengira bahwa sikap sembunyi-sembunyi dari UFO ini adalah bagian dari aturan antar galaktik itu. Tapi apakah mereka juga menonton Star Trek?

6. Teknologi

Makhluk UFO datang dari tempat yang jauh, dari gugusan bintang-bintang yang jaraknya sangat fantastis untuk ukuran manusia saat ini. Bagi kita yang sudah mengenal teknologi, jelas untuk bisa mengarungi ruang angkasa membutuhkan teknologi yang tidak sederhana. Tak heran jika banyak peneliti bahkan juga dinas rahasia negara yang berusaha memperoleh teknologi itu.
Bagaimana caranya?

Meskipun banyak negara, termasuk Amerika Serikat, membantah adanya UFO, namun tak dapat disangkal bahwa mereka sering melakukan upaya penyergapan serta berusaha menembak jatuh pesawat makhluk luar angkasa itu. Beberapa memang jatuh, seperti yang terjadi di Afrika Selatan, tepatnya di gurun Kalahari. Demikian pula dengan jatuhnya UFO di Roswell dan Aztec, New Mexico. Belum lagi pernah ada berita bahwa ada UFO yang jatuh di Siberia. Singkat kata, insiden jatuhnya UFO bukan hanya satu atau dua kali saja.

Lalu, apa yang bisa diperoleh dari temuan reruntuhan pesawat itu? Teknologi apa yang bisa diambil? Mungkinkah membuat pesawat serupa dengan bahan yang ada di bumi? Atau, setidaknya, adakah perangkat-perangkat khusus di pesawat UFO yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia?

 Tentu tak ada bukti kuat, teknologi apa saja yang diambil dari reruntuhan UFO itu. Berikut adalah beberapa peralatan yang diduga berasal dari teknologi UFO. Sumbernya adalah buku "The Day After Roswell" karya Kolonel Phil Corso.

  • Integrated circuit chips
  • Fibre optics
  • Lasers
  • Night-vision equipment
  • Super-tenacity fibers (such as Kevlar plastic Armour)
  • Psychotropic devices, yang dapat menterjemahkan pikiran manusia menjadi signal untuk mengontrol mesin.
  • Stealth aircraft technology
  • Star Wars particle-beam devices.


Lihat: http://www.phils.com.au/corso.htm


7. Perilaku yang berbeda

Kita sering berpikir bahwa makhluk cerdas harusnya seperti manusia. Padahal belum tentu. Bahasa dan perilaku yang ditampilkan bisa dimaknai berbeda. Tertawa bagi kita, belum tentu artinya sama untuk mereka. Seperti yang pernah dipertanyakan, apakah alien tersenyum?

Manusia dengan segala kompleksitasnya, memang sulit dimengerti makhluk lain. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Alex Collier, makhluk luar angkasa heran dengan emosi manusia. Bagaimana seorang polisi bisa menembak seorang penjahat, lalu kemudian dengan segera menolongnya agar tidak sampai mati. Hal seperti ini mengherankan mereka.

Namun, yang menarik adalah, apakah makhluk ET mempelajari budaya manusia? Apakah mereka bisa menikmati musik-musik karya kita? Melihat film yang dibuat para sineas kita? Atau, mereka seperti kucing, yang tidak akan bergoyang-goyang kaki meski ada musik merdu? Apakah aliens juga memutar DVD player dan melihat film-film box office? Apakah ada televisi di sana, atau setidaknya radio dan memantau berita atau keadaan di bumi? Sejauh yang diceritakan oleh para korban penculikan oleh alien, tak ada seperti itu, bahkan bisa saja makhluk UFO tidak menggunakan kamera (tidak menyimpan foto/gambar).

Ketika makhluk UFO tidak mau mendarat terbuka, maka kita bertanya-tanya mengapa? Apa tujuan atau sebab mereka menghindari perjumpaan secara terbuka? Barangkali memang sudah itu bawaan mereka? Seperti anak autis yang enggan bertemu dengan orang lain.

Di sisi lain, ada satu yang istimewa dari mereka, yakni kemampuan mereka menjaga rahasia. Belum pernah ada makhluk UFO yang bisa diiming-iming uang atau hal lain untuk membocorkan rahasia yang ada. Maka menjadi tanda tanya, apakah mungkin makhluk UFO membocorkan rahasia bahwa mereka memiliki pangkalan di Segitiga Bermuda? Apakah mereka membocorkan rahasia bagaimana sistem kerja pesawat mereka. Sama sekali tidak pernah. Mereka begitu erat menjaga kerahasiaannya. Tak ada makhluk UFO yang bisa disuap, apalagi korupsi. Ini mungkin karena sistem ekonomi mereka berbeda. Selain itu, barangkali saja sistem kesadaran mereka bersifat kolektif, yang terangkai satu dengan yang lain melalui sistem seperti telepati. Singkat kata, psikologi ala manusia belum tentu bisa diterapkan secara universal kepada makhluk UFO.

8. Pertahanan Keamanan

Sejarah manusia di planet bumi tidak pernah berhenti dari peperangan. Walau bisa jadi lebih banyak manusia yang mendambakan perdamaian, namun kenyataan perang tetap berlangsung dari waktu ke waktu. Pengalaman perang dunia pertama dan kedua yang cukup fatal tidak mengubah kebiasaan itu, bahkan sangat mungkin munculnya pesawat UFO yang dianggap canggih akan menjawab ambisi untuk berkuasa. Artinya, siapa yang menguasai teknologi UFO boleh jadi akan menjadi negara paling hebat di planet ini.

Namun ini bukan masalah teknologi semata. Seperti Ronald Reagan pernah mengatakan di tahun 1988, "occasionally think how quickly our differences, worldwide, would vanish if we were facing an alien threat from outside this world", jelas ini merupakan pemikiran logis tentang adanya bahaya dari makhluk luar angkasa.

Tentu kita berharap agar makhluk luar angkasa yang datang ke planet bumi ini adalah pelancong antariksa yang membawa misi damai. Tapi bagaimana jika tidak?

Menurut Carl Sagan, (dalam buku yang berjudul Kosmos, yang sudah diterbitkan dlm bhs indonesia) kemungkinan adanya peradaban yang setara di alam semesta ini adalah sangat kecil. Artinya, kehidupan cerdas seperti dan setara manusia ini, boleh jadi saat ini merupakan satu-satunya. Yang lain, mungkin masih merupakan bentuk kehidupan yang sangat primitif, atau memang bisa juga ada satu peradaban yang sudah sangat-sangat maju.

Carl Sagan berpendapat bahwa dalam proses perkembangan kecerdasan dan peradaban, sangat mungkin makhluk cerdas akan melewati masa "saling bermusuhan", ingin menguasai satu dengan yang lainnya, di mana hal ini menyebabkan terjadinya penindasan, peperangan dan kehancuran peradaban mereka sendiri. Yang tidak menyadari akan hal ini, maka peradaban mereka akan hancur dan punah dengan sendirinya. Artinya, secara alamiah, setiap makhluk cerdas mengalami masa kritis yang mengarah kepada kehancuran dan kemusnahan ras mereka sendiri.

Namun, jika mereka berhasil melalui masa kritis itu dan menyadari bahwa hakikat kehidupan mereka tidak untuk menguasai dan menindas, maka mereka akan selamat. Persoalannya, jika mereka sudah masuk dalam fase seperti ini, maka mereka adalah "makanan empuk" bagi ras cerdas yang masih dalam tahap "agresor". Jadi, yang mungkin dilakukan oleh ras makhluk cerdas yang sudah melewati masa kritis itu jika menjumpai makhluk cerdas yang masih "biadab", harusnya mereka menghindari kontak (demi keamanan mereka sendiri) atau mereka mencoba memberi pelajaran atau bantuan supaya bisa melwati masa kritis itu dengan baik.

Memang, mungkin saja kita menjumpai makhluk cerdas dari luar angkasa (atau dimensi lain) yang memiliki sifat agresif (sama seperti kita). Dan bila ini terjadi, maka konflik antar planet akan dengan mudah terjadi. Saat ini, jika kita bertemu dengan mereka, banyak yang beranggapan kita mirip suku indian primitif bersenjatakan panah atau sumpit melawan sebuah ras dengan senjata api. Namun Carl Sagan skeptis akan hal ini. Jika ada alien yang bertujuan menguasai bumi, mengapa hal itu tidak dilakukan segera sebab jika memang ada, hal itu mudah dilakukan oleh mereka.

Memang, proses evolusi makhluk cerdas belum tentu mengarah kepada sifat "damai". Jika ada ras yang super dan selalu "menang" dan berhasil menguasai ras yang lain, maka mereka sampai hari ini, meskipun usianya sudah sangat-sangat tua, maka mereka tetap saja bersikap sebagai "penyerang". Artinya, meski tingkatan evolusinya sudah dianggap maju, bisa saja mereka tetap memiliki spirit warrior.

Saat ini, di bumi berkembang berbagai macam peradaban. Dan sulit rasanya membayangkan kalau di bumi ini semua makhluk cerdasnya (manusia) adalah golongan spiritualis (dianggap mencapai kesadaran spiritual tinggi). Bagaimanapun, pasti akan tetap ada yang memilih sebagai pedagang, prajurit, seniman, dan lain-lain. Dan saya yakin, di ras-ras yang berkembang di luar angkasa-pun, juga ada jenis-jenis seperti itu di setiap kehidupan mereka. Persoalannya, berdasarkan pengalaman manusia sendiri, golongan yang meluncur ke luar angkasa, adalah golongan "ksatria", atau tentara. Meski tentara untuk bisa mewujudkan ambisi menguasai luar angkasa itu membutuhkan bantuan para ilmuwan dan pengusaha, namun biasanya yang "berangkat" pertama kali adalah dari golongan militer. Dominasi militer dalam penjelajahan luar angkasa, bagaimanapun mungkin juga dilakukan oleh ras-ras alien dari luar bumi. Jika seandainya mereka menemukan sebuah planet seperti bumi ini, yang mungkin dianggap makmur oleh mereka, apakah mereka akan bertindak mirip bangsa spanyol saat mendarat di amerika tengah? Atau yang datang adalah kelompok seperti Florence Nightingale atau Ibu Theresa yang siap membantu segala macam kelaparan, bencana, penyakit yang ada di bumi ini?

Tak heran jika manusia di bumi, terutama negara yang memiliki kemampuan persenjataan yang hebat serta teknologi luar angkasa, mau tidak mau harusnya memikirkan kemungkinan datangnya makhluk dari luar angkasa. Apa yang harus dilakukan? Apakah kita akan memperkuat pertahanan kita? Seperti ada pepatah, "A "strong fence makes good neighbors" dan jangan lupa semboyan militer ini. "Si Vis Pacem Para Bellum" yang artinya dalam bahasa Inggris "If you seek peace, prepare for war" (Jika kamu menginginkan perdaimaian, bersiaplah untuk perang).

9. Duta Antariksa

Kebaradaan makhluk cerdas dari luar bumi memberi implikasi terjalinnya hubungan kerja sama antara berbagai pihak. Hubungan itu bisa dalam bentuk pertukaran teknologi, budaya, kerja sama perdagangan dan banyak hal lainnya. Di sisi lain, dalam sebuah hubungan bisa juga terjadi konflik, di mana jika tidak ada kata sepakat maka bisa terjadi putusnya hubungan bahkan kemungkinan perperangan.

Jika suatu saat telah terjadi hubungan secara terbuka, maka tidak mustahil akan ada duta antariksa. Apa yang ditayangkan di film fiksi ilmiah seperti Babylon 5 atau Star Trek, boleh jadi akan menjadi sebuah kenyataan di masa mendatang. Manusia akan menempatkan wakilnya di planet lain dan makhluk dari planet lain juga akan menunjuk duta antariksanya.

Yang menarik adalah, saat ini ada beberapa orang yang mengatakan bahwa dirinya telah ditunjuk sebagai duta bagi mereka. Mengapa mereka tidak menunjukkan satu di antara mereka sendiri menjadi duta atau perwakilan mereka di bumi? Mengapa justru mereka menunjuk manusia untuk menjadi wakil mereka. Sebagian memang dikatakan bahwa mereka yang ditunjuk itu adalah masih "keturunan mereka" atau spirit yang ada dalam tubuh itu sebenarnya berasal dari mereka (semacam walk-ins atau wanderer).

Salah satu yang mengatakan bahwa dirinya adalah duta yang ditunjuk makhluk dari planet lain adalah Phillip Krapf, yang menceritakan tentang hal ini dalam bukunya yang berjudul "The Contact Has Begun". Krapf mengaku ditunjuk sebagai duta saat bertemu makhluk dari planet Verdant. Alex Collier juga menyebut dirinya sebagai duta (ambassador/messenger) dari Andromedans. Claude Vorilhon dari Raelian juga mengaku sebagai duta dari Elohim (Ambassador of the Elohim). Jelaila Starr adalah duta dari Nibiru. Billy Meier sendiri mengatakan dirinya sebagai "earthly ambassador to the Pleiadians".

Tentu banyak yang skeptik tentang hal ini. Jika keberadaan makhluk ET ini masih dipertanyakan, mengapa ada banyak orang yang mengaku sebagai duta antariksa dari berbagai planet yang berbeda? Lebih jauh lagi, kalangan skeptik juga tentu meragukan, sebab mereka yang terpilih sebagai "duta" adalah orang yang biasa-biasa saja. Itu sebabnya, di kalangan ufologi juga mempertanyakan hal yang sama. Apa agenda alien dengan menempatkan duta-duta antariksanya di bumi serta memilih orang yang biasa saja?

Eric Ouellet Ph.D. dalam artikelnya yang berjudul "The Political Sociology of Alien Encounters" mengemukakan bahwa salah satu alasan alien mengontak orang yang biasa saja adalah mencegah terjadinya histeria massa. Persoalannya, orang yang biasa ini, tentu tidak mempunyai akses yang khusus untuk berkuasa atau membuat keputusan, dan biasanya hanya mendapat pesan-pesan untuk kemanusiaan.

Memang, akhirnya komunitas-komunitas yang terbentuk dari orang-orang yang "mengikuti " para duta ini bisa jadi akan menjadi sebuah  komunitas pemujaan (cult). Di mana hal ini jauh sekali dari gambaran duta antariksa yang ada di film-film sci-fi saat ini.

Implikasi logis dari kehadiran makhluk asing ini memang tidak lepas dari keberadan duta antariksa ini. Pertanyaannya adalah, mana klaim yang dapat dipercaya dan mana yang tidak. Untuk mengetahui hal ini, barangkali kita harus mengetahui, siapa saja entitas asing yang "bermain" di planet bumi ini, dan apa agenda mereka.

10. Siapa saja mereka?

Mengamati banyaknya laporan UFO yang masuk, uniknya, jarang sekali ada bentuk UFO yang sama persis. Begitu banyak jenis atau bentuk UFO yang terlihat. Model yang beraneka ragam, kemampuan terbang yang berbeda-beda, menjadi tanda tanya, apakah pengunjung yang datang ke planet bumi ini berasal dari satu tempat atau lebih?

Ada juga laporan bahwa makhluk yang muncul saat UFO mendarat juga beraneka ragam jenisnya. Ini makin menjadi tanda tanya, siapa saja mereka? Apakah mereka merupakan satu perkumpulan atau masing-masing punya kelompok dan agenda sendiri-sendiri?

Kita mungkin masih terbiasa berpikir secara sentral, terutama dulu manusia juga pernah mengira bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Kini juga manusia mengira bahwa planet bumi ini begitu istimewa sehingga para alien datang untuk mengunjungi bumi. Barangkali bumi hanya sekedar tempat biasa di alam semesta yang luas ini, yang tidak ada istimewanya sama sekali bagi mereka. Mereka hanya berkunjung sebentar, atau bumi merupakan tempat transit untuk mengisi bahan bakar pesawat mereka. Siapa tahu bahan bakar yang mereka butuhkan adalah bahan yang sangat banyak di planet ini, misalnya air.

Namun, aktivitas yang meningkat akhir-akhir ini makin membuat tanda tanya. Banyak kasus-kasus unik yang terjadi di planet bumi ini. Misalnya kasus penculikan manusia oleh alien, kasus mutalasi hewan ternak, munculnya tanda-tanda aneh di ladang yang disebut dengan crop circle, termasuk juga adanya orang-orang yang mengaku telah dikontak secara khusus, baik secara fisik maupun telepati oleh entitas yang mengaku berasal dari luar angkasa.

Tidak mudah untuk menjawab, siapa saja mereka dan apakah informasi yang ada benar-benar akurat bisa dipercaya atau tidak. Namun menurut pendapat saya, makhluk cerdas yang telah memiliki kemampuan penjelajahan antar bintang, pastilah bisa membuat koloni di mana saja di sebuah planet dalam kondisi apapun. Mereka bisa membangun pangkalan di bawah tanah/permukaan, yang tentunya secara kondisi akan sama saja di mana saja meski di atas permukaan, kondisinya sangat berbahaya.

Saat ini di kalangan ufologi diketahui ada salah satu jenis makhluk ET yang diberi julukan sebagai "greys". Makhluk ini berbadan kurus, kepala besar, tidak berambut dan matanya besar berwarna hitam. Kulitnya yang pucat membuat mereka nampak keabu-abuan sehingga disebut "grey".

Sejak peristiwa penculikan oleh alien terhadap pasangan suami istri barney dan Betty Hill, mereka dianggap berasal dari gugusan bintang Zeta 2 Reticuli. Namun asal usul makhluk ET yang diketahui saat ini ada sangat banyak. Dari bintang-bintang yang kita ketahui namanya, ada yang mengaku berasal dari Sirius, Pleiades, Orion, Alpha Centauri, dari Lyra, Vega dan lain sebagainya. Planet lain yang tidak kita kenal, misalnya ada yang mengaku dari planet Ummo, dari planet Verdant, dan lainnya. Tentu ini makin membuat bingung. Antara percaya atau tidak, sebab ada juga kemungkinan orang yang bercerita itu melakukan kebohongan atau mungkin juga fantasi mereka yang berlebihan sehingga dianggapnya sebagai kenyataan.

Lalu, di kalangan peneliti masalah UFO, juga mengetahui adanya ras reptilian yang termasuk salah satu dari makhluk yang sering dikaitkan dengan UFO. Ada juga makhluk yang mirip dengan menusia namun dengan ukuran sedikit lebih kecil. Beberapa bentuknya agak aneh, mungkin ketika muncul, mereka menggunakan pakaian khusus yang tidak dikenali oleh manusia atau bisa saja yang keluar adalah sejenis robot.

Apapun itu, menurut saya, cukup banyak entitas yang datang ke bumi. Bisa saja di antara mereka merupakan sekutu erat, namun tidak menepis juga kemungkinan bahwa di antara mereka telah terjadi permusuhan.

Saat ini kita memang hidup di jaman serba teknologi dan manusia sudah berhasil menuju ke bulan dan menerbangkan pesawat antariksa menuju ke luar sistem tata surya. Manusia juga membangun fasilitas untuk mencari keberadaan makhluk cerdas di luar bumi dengan piring antena raksasa yang bisa
mendengarkan gelombang radio dari bintang yang jauh. Hanya saja, manusia yang tinggal di planet bumi ini, tentu harus memikirkan segala dampak yang baik maupun buruk atas adanya UFO. Entitas yang ada di balik UFO itu, bisa saja tidak peduli dengan keberadaan manusia. Mereka hanya ingin menjadi pengamat yang tidak turut campur. Tapi, siapa tahu ada juga yang memiliki sifat agresif dan ingin menguasai atau bahkan membuat kekacauan. Walau juga tidak menutup kemungkinan, ada entitas yang mau ikut campur membantu manusia, baik dalam perkembangan teknologi maupun sisi kemanusiaan.

Banyak hal yang menarik bisa dipelajari dari fenomena UFO ini. Banyak aspek-aspek yang terkait, mulai dari biologi, psikologi, eksopolitik, fisika, dan lainnya. Jika mereka sudah ada sejak dulu, maka kita mesti bertanya, apakah artefak yang ditemukan oleh para arkeolog mempunyai hubungan dengan makhluk ET di masa lampau? Semua itu tentu menarik untuk dipelajari. Di film Contact, yang dibuat berdasarkan novel karya Carl Sagan, tokoh dalam cerita Ellie Arroway berkata, "The universe is a pretty big place. It's bigger than anything anyone has ever dreamed of before. So if it's just us... seems like an awful waste of space." Akhirnya, saya teringat pada slogan yang ada di film Close Encounters of The Third Kind yang penah saya lihat, "We are not alone."

* * *
Surabaya, 9 November 2008


Asal mulai konspirasi alien





(Oleh: Nur Agustinus)

"I occasionally think how quickly our differences, worldwide, would vanish if we were facing an alien threat from outside this world." - Mantan Presiden AS Ronald Reagan, dalam pidatonya bersama Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, di tahun 1988. Reagan juga membuat pernyataan yang mirip di berbagai kesempatan termasuk saat berbicara di sidang PBB.

"The phenomenon of UFOs does exist, and it must be treated seriously." -Mantan preseiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev (Soviet Youth, 4 Mei , 1990)

Benarkah pemerintah tertentu menjalin kerja sama rahasia dengan makhluk dari luar bumi?

Benarkah ada konspirasi alien? Bagaimana sampai ada teori konspirasi alien ini?

Mudah-mudahan uraian yang saya sampaikan ini bisa memberi sedikitgambaran.  Pertama, jangan merasa bingung atau merasa aneh. Sebab ada beberapa hal yang harus dianggap benar atau diasumsikan benar. Misalnya, diasumsikan bahwa alien atau makhluk ET itu ada. Tanpa mengakui hal ini, otomatis juga tidak akan bisa menerima adanya teori konspirasi alien.

Nah, alien atau makhluk ET ini sudah ada di bumi sejak beberapa tahun lalu. Pastinya tidak jelas, tapi diperkirakan bahwa pada permulaan tahun 1900, ada satu jenis alien yang muncul di muka bumi ini. Bahkan kemungkinan sejak tahun tahun sebelumnya. Soal kronologi waktu ini hanyalah perkiraan saya saja berdasarkan serangkaian informasi yang saya peroleh.

Alien ini sebenarnya sudah ada di bumi sejak lama, mungkin sekali ada hubungannya dengan kisah-kisah dewa-dewa di masa lalu. Alien ini selama ribuan tahun berada sumbunyi atau bahkan mungkin terperangkap di daerah kutub. Sejak tahun 1900, mereka mulai keluar. Entah apa karena "dibebaskan" dari perangkapnya atau keadaan alam menyebabkan mereka berubah. Bisa saja mereka melakukan hibernasi sehingga mereka bangun kembali dari tidur panjangnya selama ribuan tahun. Dugaan saya, kemunculan mereka ada hubungannya dengan ledakan Tunguska (1908). Mereka berada di daerah kutub itu setelah perang besar yang mereka alami (di antara sesama alien).

Siapakah mereka? Mereka adalah kelompok alien yang dikenal sebagai alien nordics. Namun alien nordic ini, yang kemudian juga dikenal sebagai Ashtar command, melakukan kerja sama dengan pihak draconian. Mereka punya hubungan yang kuat dengan rekan-rekan mereka yang tinggal (mengkoloni) planet Venus dan berasal dari Pleiades. Teknologi mereka cukup tinggi, mempunyai armada piring terbang. Mampu melakukan perjalanan antar planet.

Mereka merasa bahwa mereka ada penguasa planet bumi ini. Bumi ini adalah koloni mereka, semacam daerah kekuasaan mereka. Selama masa hibernasi, mereka kehilangan kekuasaan. Mereka dikalahkan dalam peperangan sebelumnya yang menyebabkan terjadinya air bah di planet bumi ini. Pusat koloni mereka di daerah kutub utara dihancurkan dengan senjata pemusnah massal sehingga menyebabkan banyak es yang mencair dan daerah kutub utara menjadi sebuah kawah raksasa.

Pada masa perang dunia kedua, alien ini melakukan kerja sama dengan pihak NAZI Jerman. Mereka membutuhkan wakil mereka untuk menjadi penguasa di bumi dan memerintah sebagai boneka mereka. Mereka juga berupaya mecari jejak-jejak keturunan mereka yang ada di planet bumi ini, yang tersebar sejak perang antar alien di masa lalu itu. Mereka mau menciptakan (melalui Hitler) ras aryan dan juga ras naga. Manusia dengan kemampuan super. Rencana itu tidak berjalan mulus. Jerman kalah perang.

Percobaan bom atom dan peledakan bom atom di Jepang menarik perhatian ras alien lain untuk ke bumi. Ras alien ini tersebar di koloni mereka yang ada di planet Mars dan juga bulan. Beberapa pesawat mereka memasuki atmosfir bumi untuk melakukan pengamatan. Beberapa dari mereka terlihat sebagai Foo Fighter. Kehadiran mereka tidak mengganggu. Hingga suatu saat, setelah perang dunia berakhir, mulai banyak pesawat (UFO) mereka jatuh. Termasuk di antaranya adalah yang di Roswell. Pada tahun 1952, terjadi puncak penampakan UFO di planet bumi.

Alien yang ada di bumi, yang dulu berada di balik Nazi Jerman, tidak senang dengan kehadiran alien pendatang ini. Mereka kemudian menemui sejumlah pemimpin negara untuk mengadakan perjanjian bahwa manusia bumi jangan sampai berhubungan dengan alien pendatang itu sebab mereka berbahaya. Alien yang ada di bumi akan menjaga, asal pihak pemerintah mau menghentikan proyek senjata atom atau nuklir). Pemerintah AS waktu itu yang dipimpin oleh Eisenhower menolak mentah-mentah usulan itu. Usulan itu yang kemudian dikenal dengan istilah 'Alternatif three'. Beberapa utusan dari mereka
datang, di antaranya yang kemudian dikenal dengan nama Valiant Thor, berasal dari Venus. Sejauh ini, saya belum tahu pasti, apakah alien nordics-draconian yang ada di bumi ini berada sejalan dan segaris dengan alien dari Venus. Apakah agenda mereka sama atau berlainan, saya masih belum punya jawabannya. Bisa jadi berbeda. Yang pasti, Venusian sama sekali tidak menawarkan transfer teknologi, namun hanya perlindungan saja.

Alien dari venus ini memperingatkan bahwa akan ada serangan alien ras lain (grey). Mereka hendak menyerang bumi karena merasa terhina dan tidak terima sebab manusia bumi melakukan autopsi atas mayat alien rekan mereka. Mereka sedang menyusun kekuatan di bulan tapi serangan itu masih ditangguhkan karena ada campur tangan pihak Venusian.

Penolakan usulan dari Venusian ini kemudian diikuti dengan datangnya duta besar alien grey ke Amerika, mendarat di pangkalan AFB Edward. Duta besar ini kemudian yang dikenal dengan nama Krill (Krll). Grey menawarkan transfer teknologi dengan imbalan bahwa mereka boleh melakukan eksperimen dengan manusia bumi (yang tanpa membahayakan jiwa orang yang diambil/diculik). Perjanjian itu dibuat dengan Eisenhower juga pada tahun 1954 dan sejak itu mulai marah terjadi kasus penculikan alien, di mana terkadang manusia bumi juga terlibat. Penculikan dilakukan dan dibawa ke pangkalan rahasia (Dulce).  Dari sinilah terjalin kerja sama antara pemerintah AS dengan alien yang dilakukan secara rahasia.

* * *
Surabaya, 22 Mei 2004

Merumuskan Metode Penelitian Ufologi


(Oleh: Nur Agustinus)

Perkembangan ufologi tidak lepas dari sejauh mana pemikiran dan penelitian mengenai fenomena ufo. Ada banyak spekulasi dan teori tentang UFO yang bisa kita baca. Akan tetapi, apakah teori-teori itu benar? Untuk menguji kebenaran secara ilmiah diperlukan upaya penelitian. Tentu saja untuk itu diperlukan metodologi penelitian yang benar secara ilmiah.

Bagaimana merumuskan sebuah metodologi penelitian di bidang ufologi? Hal ini sungguh penting karena tidak mudah merumuskan sebuah metodologi penelitian yang sesuai untuk ufologi. Sebagian besar dari kita tentu percaya bahwa ufo itu ada. Tapi banyak orang juga tidak percaya akan adanya ufo. Bahkan kebanyakan masih berpendapat bahwa ufo adalah pseudoscience, jadi bagaimana metode penelitiannya bisa dianggap ilmiah?



Fenomena ufo memang diakui tidak dapat diuji dalam sebuah laboratorium ilmiah. Hal ini juga diakui oleh organisasi UFO di Amerika Serikat seperti yang didirikan oleh J. Allen Hynek, yakni CUFOS, yang mengemukakan, "Many researchers (called 'ufologists') have theories about what UFOs might be, but because no one can examine a UFO in a scientific laboratory, all of these ideas are really only educated guesses." Lalu, bagaimana cara meneliti ufo? Apa metodologi penelitian yang bisa digunakan untuk meneliti fenomena ufo?


Apakah penelitian itu?


Penelitian bisa mempunyai dua arti. Pertama adalah riset yang dalam bahasa Inggris disebut research, artinya mencari kembali (re-search), dan yang kedua adalah investigasi yang sebenarnya bermakna penyelidikan. Dalam hubungan dengan riset, maka penelitian bisa merupakan sebuah pengujian hipotesis. Dengan kata lain, penelitian merupakan suatu upaya penyelidikan atau pengujian yang dilakukan secara teliti dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip serta menggunakan langkah-langkah tertentu.Berdasarkan tujuannya, sebuah penelitian merupakan sebuah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

Agak berbeda pengertiannya dengan investigasi, yang umum digunakan dalam terminologi jurnalistik, dan dikalangan ufologi dikenal juga istilah ufo investigator, sebuah kegiatan investigasi adalah upaya penelitian, penyelidikan, pengusutan, pencarian, pemeriksaan dan pengumpulan data, informasi, serta temuan lainnya untuk mengetahui atau membuktikan kebenaran atau bahkan kesalahan sebuah fakta yang kemudian menyajikan kesimpulan atas rangkaian temuan dan susunan kejadian.

Penelitian dimulai dari pertanyaan yang belum dapat dijawab oleh seorang peneliti. Untuk ini diperlukan adanya motivasi yang berupa rasa ingin tahu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk melihat dengan jelas tujuan dan sasaran penelitian, perlu diadakan identifikasi masalah dan lingkungan masalah itu. Masalah penelitian selanjutnya dipilih dengan kriteria, antara lain apakah penelitian itu dapat memecahkan permasalahan, apakah penelitian itu dapat diteliti dari taraf kemajuan pengetahuan, waktu, biaya maupun kemampuan peneliti sendiri. Semua ini harus dikembalikan pada obyek penelitian yaitu fenomena ufo.

Penelitian ilmiah pada dasarnya untuk mencari kebenaran ilmiah. Ada tiga sifat dasar kebenaran ilmiah yaitu (1) strutur kebenaran ilmiah yang rasional-logis, yakni kebenaran ilmiah selalu dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis dan rasional dari proposisi atau premis-premis tertentu. Proposisi-proposisi dapat berupa teori atau hukum ilmiah yang telah terbukti benar dan diterima sebagai benar atau dapat pula mengungkapkan data atau fakta baru tertentu. Proposisi yang menjadi kesimpulan yang dianggap benar dapat diperoleh melalui deduksi atau induksi. Kebenaran ilmiah bersifat rasional dan berlaku universal. (2) Sifat empiris, bahwa bagaimanapun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kebenaran yang yang ada, (3) Sifat pragmatis, artinya menggabungkan sifat kebenaran ilmiah yang rasional/logis dan sifat kebenaran empiris. Sebuah pernyataan dianggap benar secara logis dan empiris, jika pernyataan tersebut juga berguna dalam kehidupan manusia yaitu berguna membantu memecahkan berbagai persoalan dalam hidup manusia.

Mencari kebenaran

Ada hal yang sama antara riset dengan investigasi, keduanya berhubungan dengan "kebenaran". Dari kecil, manusia selalu bertanya dan punya rasa ingin tahu. Manusia selalu ingin mencari kebenaran. Jika seandainya pengertian atau pengetahuan seseorang sesuai dengan apa yang diketahuinya (dengan realitas), maka dikatakan bahwa orang tersebut pengetahuannya benar. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya. Lalu, apakah sesungguhnya "kebenaran" itu? Bagaimana kita bisa memperoleh "kebenaran" jika kebenaran ada di luar sana, seperti slogan film seri X-Files, "The truth is out there"? Apakah dalam ufologi kita menemukan kebenaran dengan cara riset, atau dengan investigasi?

Kata-kata "The Truth is Out There" memang terkenal, namun kalau dipikir serius, kalimat ini sebenarnya tidak membawa optimisme pada studi ufologi. Mengapa? Karena jika kebenaran ada di luar sana, bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran tersebut? Apakah dengan cara kita berada di luar sana? Bagaimana cari kita berada di luar sana? Apakah di luar sana adalah di luar realtitas? Sementara kebenaran adalah "yang ada" dalam realitas.

Ada yang mengatakan bahwa realitas itu adalah apa yang ada dalam persepsi seseorang. Oleh karena itu kebenaran akan "sesuatu yang-ada" dalam hal ini adalah ufo, adalah juga relatif tergantung persepsi tiap orang. Namun persoalannya adalah, ketika berada dalam persepsi seseorang, apakah sesungguhnya obyek tersebut benar ada? Definisi kebenaran yang dianggap standard adalah kesesuaian antara pikiran dan kenyataan/realitas. Jika di depan saya ada sapi, maka sapi itu adalah benar sapi karena dalam pikiran saya, sapi bentuknya seperti itu dan kenyataannya juga seperti itu. Jadi keberadaan sapi itu benar. Apakah keberadaan ufo itu benar?

Dalam kaitannya dengan ini, ada yang dinamakan konsep "evidensi". Dengan adanya evidensi ini, kenyataan/realitas memaksakan diri kepada saya dan saya harus merespon evidensi ini. Semakin jelas evidensi yang ada, semakin tidak perlu diragukan validitasnya. Namun di satu sisi, manusia memiliki kemungkinan meragukan sebuah eviden (bukti atau "yang-ada" yang menyatakan dirinya). Ada dua sikap ekstrem manusia menanggapi kebanaran, pertama adalah pesimisme dan di sisi lain adalah optimisme.

Sikap pesimisme terjadi saat orang tidak percaya akan kemampuan akal budi manusia untuk memahami kebenaran. Bentuk pesimisme yang paling umum adalah skeptisisme. Berbeda dengan optimisme, merupakan sikap yang menekankan bahwa kita mengetahui kebenaran secara tuntas, total, langsung, jelas. Optimisme yang ekstrem membuat orang kurang obyektif dan merasa yakin akan kebenaran yang dipersepsi olehnya. Dua sikap ekstrem ini menunjukkan bagaimana orang bersikap terhadap kebenaran, dari yang ekstrem menerima begitu saja hingga meragukannya.

Sikap terhadap eviden berbeda dengan sikap terhadap kebenaran itu sendiri. Dua kutub ekstrem sikap terhadap evidensi ini adalah cinta dan kecongkakan. Cinta membuka dan menyediakan kehendak untuk mendengar apa yang dinyatakan oleh kenyataan sehingga bersedia menaati tuntutan dan kenyataan. Dengan sikap cinta, kita membiarkan kenyataan untuk menyatakan dirinya. Sementara sikap congkak tidak bersedia mendengar apa yang dikatakan oleh kenyataan dan memberi isi menurut keinginannya sendiri, menolak pengabdian, menolak ketaatan dan kebaktian terhadap kenyataan serta cenderung untuk menguasainya. Sikap ini membahayakan keterbukaan bagi kenyataan yang menyatakan diri.Di kalangan ufologi, sikap seperti ini biasa pada para debunker. Jadi di sini adalah kesediaan memperoleh bukti atau sebaliknya menolak bukti yang ada.

Sikap yang ekstrem pada umumnya dianggap kurang baik. Meneliti fenomena ufo sebaiknya dengan sikap open-minded skeptic. Kita terbuka sekaligus meragukan, yang berarti kita tidak serta merta menerima begitu saja apa yang ada, namun berusaha untuk mengkritisi sehingga terbuka kemungkinan untuk dikoreksi. Hal itu juga diperlukan sikap cinta terhadap fenomena ufo, sehingga ada kesediaan untuk menerima evidensi yang dihadirkan oleh realitas. Tanpa sikap-sikap ini, akan sulit untuk memulai sebuah penelitian di bidang ufologi.

Jika tujuannya adalah mencari kebenaran, maka hal ini berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Setiap pengetahuan yang dimiliki seseorang yang mengetahui suatu obyek ditinjau dari bagaimana pengetahuan itu dibangun. Pengetahuan tersebut bisa berupa: (1) pengetahuan biasa yang sifatnya subyektif, (2) pengetahuan ilmiah yang bersifat relatif, (3) pengetahuan filosofi yang sifatnya absolut-intersubyektif, dan (4) pengetahuan agama yang bersifat absolut.

Tentu saja dalam rangka mencari kebenaran bisa terjadi ketidaksepakatan. Kebenaran pengetahuan yang dibangun oleh tiap-tiap orang dapat mengalami kesulitan untuk menacapi titik temunya. Manusia dalam membangun pengetahuannya bisa melalui melalui (1) inderawi (sense experience), (2) akal budi, rasio atau intuitif, serta (3) kepercayaan atau keyakinannya. Perbedaan pengalaman hidup, keyakinan dan proses berpikir menyebabkan akan ada banyak variasi pengetahuan, yang pada akhirnya membuat kebenaran menjadi begitu beraneka di tiap-tiap individu.

Kata Yunani untuk kebenaran adalah alètheia, yang artinya ”ketaktersembunyian adanya” atau ”ketersingkapan adanya”. Kita belum berjumpa pada kebenaran jika “adanya” masih tersembunyi. Kebenaran dapat didefinisikan sebagai “conformity of mind with reality” atau kesesuaian antara pikiran dan realitas. Oleh karena itu, kebenaran sebenarnya adalah adalah persamaan antara pikiran (thought) dan sesuatu (thing).

Mengkonstruksi teori

Teori adalah hubungan antara dua konsep/konstruk atau lebih. Seperti misalnya, ada teori bahwa alien adalah nenek moyang manusia. Di sini "alien" adalah "nenek moyang manusia" merupakan hubungan anara dua konsep "alien" dan "nenek moyang manusia". Pada dasarnya kita tidak menyebut teori itu benar atau salah, melainkan ialah teori yang kuat dan lemah. Teori akan kuat jika didukung dengan bukti-bukti, sementara lemah jika kurang didukung data empiris (bukti). Teori yang sangat lemah dukungan empirisnya akan menjadi pseudoscience jika masih ada yang mengikuti teori itu. Proses analisisnya bisa melalui proses berpikir logis dengan deduksi dan induksi.

Teori yang tidak didukung oleh bukti empiris dan ditinggalkan akan menjadi sejarah, misalnya teori bahwa matahari yang mengitari bumi. Teori yang lemah, sebenarnya merupakan hipotesis yang masih harus didukung oleh bukti-bukti empiris. Tak dipungkiri bahwa banyak sekali teori di kalangan ufologi yang masih belum memiliki dukungan bukti empiris yang kuat. Sifatnya cenderung spekulatif meski beberapa analisis nampaknya masuk akal. Untuk menjadi sebuah teori yang kuat, ukti empiris harus dicari melalui kaidah ilmu pengetahuan dan metodologi riset yang baku.

Sebelum masuk pada sebuah konstruksi teori, adalah perlu untuk menyamakan konsep. Dengan kata lain, persoalan definisi menjadi sangat penting. Kata definisi berasal dari bahasa Latin definitio yang artinya pembatasan. Definisi adalah suatu bagian yang menjelaskan makna sebuah istilah (kata, frase atau simbol). Setiap definisi terdiri dari dua bagian, yaitu definiendum dan definiens. Definiendum adalah kata atau kelompok kata yang didefinisikan. Definiens adalah kata atau susunan kata yang mendefinisikan. Contoh: ufo adalah pesawat makhluk asing. Term “ufo” disebut definiendum dan susunan kata-kata “pesawat makhluk asing” disebut definiens.

Definisi merupakan langkah pertama untuk menghindari kekeliruan, terutama kekeliruan yang disebabkan oleh faktor bahasa. Pada hakekatnya, definisi merupakan komponen dari ilmu pengetahuan yang merumuskan dengan singkat dan tepat tentang sesuatu objek. Definisi yang disusun dan disepakati menjadi alat dan prasyarat untuk berfikir dengan logis.

Dalam mengkonstruksi sebuah teori, hal itu tidak lepas dari pengetahuan yang dimiliki. Kehidupan sehari-hari telah menyimpan dan menyediakan kenyataan, sekaligus pengetahuan yang membimbing perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari menampilkan realitas obyektif yang ditafsirkan oleh individu, atau memiliki makna-makna subyektif.

Mengkonstruksi teori sama dengan membuat model konseptual yang bisa menjelaskan sebuah fenomena. Dengan demikian, sebuah teori tentang ufo harus bertujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena ufo itu sendiri. Pada umumnya untuk mengkonstruksi teori, jika tujuan model untuk menjelaskan keadaan/situasi, maka asumsi harus mendekati realitas.

Realitas dan Kenyataan

Apakah ufo merupakan sebuah realitas? Atau eksistensi ufo masih misteri? Misteri adalah sesuatu yang belum diketahui dengan pasti dan menarik keingintahuan orang-orang. Misteri biasanya dikaitkan dengan kejadian-kejadian supernatural. Akan tetap, Oscar Wilde berkata, “The true mystery of the world is the visible, not the invisible.”

Jika kita mempelajari sejarah ilmu pengetahuan, maka yang di masa lalu dianggap sebagai misteri, ternyata bisa dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Gunung meletus bukan dikarenakan dewa sedang marah, tetapi karena gerakan magma bumi yang menghasilkan erupsi karena tekanan yang kuat dari dalam.

Ini mendasari sebuah harapan, bahwa misteri ufo suatu saat bisa dipecahkan oleh sains. Omne ens est intelligibile, yang artinya tiap kenyataan terbuka untuk dikenal. Persoalannya, sains membutuhkan bukti empiris. Carl Sagan bahkan pernah berkata, "Extraordinary claims require extraordinary evidence.”

Tentu saja masih banyak orang yang sulit menerima ufo sebagai sebuah realitas dan kenyataan. Kenyataan disebut benar berarti kenyataan itu bersifat intelligible, artinya terbuka bagi budi dan masuk akal. Dalam banyak hal, fenomena ufo sering dianggap tidak masuk akal. Ada sejumlah pertanyaan logis yang sulit dijawab yang membuatnya meragukan untuk dipercaya sebagai sebuah kenyataan.

Dalam rangka menguak misteri dan menyatakan relaitasnya, kenyataan mempunyai diri terhadap subyek yang mengenalinya. Norma kebenaran dengan demikian tidak terletak pada sains semata, melainkan juga pada kenyataan yang menyatakan diri. Aktivitas dari subyek bersifat mendengarkan, yaitu aktivitas yang reseptif.

Evidensi kenyataan menjadi norma kebenaran dan kenyataanlah yang menyatakan diri pada subyek. Jadi untuk sampai pada pengetahuan yang benar, manusia sebagai subyek harus membiarkan kenyataan berbicara. Evidensi yang obyektif menjadi ukuran dan batu ujian kebenaran.


Mencari jawaban lewat referensi agama

Manusia adalah makhluk yang bertanya. Manusia merasa heran akan sekelilingnya lalu dia bertanya. Setiap kali manusia bertanya dan memperoleh jawaban maka selalu akan muncul pertanyaan baru. Manusia bingung maka untuk itu dia memerlukan refleksi. Dalam refleksinya manusia berdiskusi baik dengan dirinya sendiri maupun juga dengan sesamanya. Dalam diskursus itu manusia bersepakat tentang jawaban-jawaban. Jadi, manusia sejak awal adalah makhluk yang berdiskusi, bermusyawarah dan bersepakat. Hanya saja, sering kali ada yang berusaha memaksakan pendapatnya akan kebenaran menurut dirinya.

Nico Syukur Dister, seoran teolog, mengemukakan bahwa agama memiliki fungsi emotif-afektif, fungsi sosio-moral dan juga fungsi intelektual-kognitif. Fungsi yang terakhir ini membuat agama sebagai sarana untuk memuaskan intelek manusia manakala manusia diliputi pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya fundamental. Sebagai misal, ketika manusia bertanya tentang hakikat penciptaan dan tujuan keberadaan mereka di muka bumi ini. Nico menjelaskan ada dua sumber kepuasan dapat ditemukan dalam agama oleh intelek. Pertama, agama dapat menyajikan pengetahuan yang sifatnya rahasia, dan kedua, memberikan kepuasan dalam pertanyaan-pertanyaan etis.

Karena ufo adalah misteri, maka tak heran jika agama kemudian digunakan sebagai referensi dalam diskusi ufo. Pertanyaannya, apakah hal itu harus dihindari atau sesuatu yang tak perlu dicegah? Jika kita membahas dari sudut pandang agama, pada dasarnya yang dilakukan adalah melakukan tafsir atas teks agama. Tak dipungkiri bahwa tarik-menarik kepentingan tafsir agama yang dibumbui pemutlakan kebenaran atas tafsir agama masing-masing.

Doktrin yang banyak tertanam dalam pikiran dan perilaku umat beragama adalah bahwa kebenaran agama bersifat tunggal, pasti, dan tuntas. Mereka menganggap, bahwa agama adalah wilayah yang harus disucikan dari kreatifitas dan kritik manusia. Hal ini dikarenakan agama adalah wilayah milik Tuhan yang terjamin kebenarannya. Orang yang berani mengkritik agama justru dianggap orang yang gila, aneh, jauh dari kebenaran. Ali Harb, pemikir Islam kontemporer asal Libanon mengemukakan bahwa kebenaran agama adalah relatif. Kebenaran sering menjadi suatu bentuk pengklaiman dari berbagai pihak secara subyektif dan menjadi konsep tunggal dan sederhana atau teologis metafisik yang sangat jauh dari wilayah penelitian dan pemikiran.


Keyakinan dan sikap

Persoalan ufo seringkali dipertanyakan antara fakta dengan fiksi, antara nyata dengan fantasi. Ada dua hal yang harus diperhatikan saat membahas fenomena ini, yakni antara keyakinan dan sikap. Keyakinan ini berkaitan dengan fakta atau kejadian, misalnya apakah kita yakin bahwa fakta itu benar atau tidak, atau kejadian tersebut benar terjadi atau tidak.

Sebagai contoh, saat ada yang bersaksi mengalami peristiwa diculik oleh alien, apakah kita yakin bahwa kejadian yang dialami oleh saksi tersebut benar atau tidak. Keyakinan kita tentu tidak serta merta menunjukkan kebenaran akan peristiwa itu, sebab keyakinan kita yang menentukan apakah itu benar atau tidak. Pada tataran keyakinan ini, tiap orang bisa berbeda-beda hasilnya. Lalu, bagaimana melakukan penelitian untuk menentukan keyakinan mana yang benar?

Tentu tidak mudah untuk membuat penilaian atas sebuah pernyataan. Mengacu kepada Aristoteles, filsuf Yunani kuno, kualitas dari sebuah argumen tergantung dari tiga aspek pembuktian, yaitu logika, etika dan emosional. Ini menyangkut kredibilitas penyampai informasi, yakni kecerdasan, karakter dan niat baiknya.

Di kalangan ufologi, penyampai berita yang memiliki motif finansial, kurang mendapat dukungan. Misalnya, ketika seseorang yang memiliki foto atau video ufo namun meminta sejumlah uang sebagai imbalannya. Namun, penting untuk diuji sejauh mana karakter dan kejujuran dari orang yang melaporkan pengalamannya tersebut. Mengingat bahwa kebenaran itu sangat tergantung dari pengalaman masing-masing penilai, maka orang bisa tidak sepakat dalam hal keyakinan mengenai benar tidaknya sebuah peristiwa yang dilaporkan.

Hal yang kedua adalah sikap. Sikap seseorang bisa berbeda dengan yang lain. Mungkin dua orang bisa sepakat dalam hal keyakinan, namun sikapnya berbeda. Seseorang memandang alien itu baik sementara yang lain sebaliknya. Sebagai contoh, sering dikatakan bahwa alien jenis reptilian mempunyai agenda yang tidak baik untuk manusia, namun tentu saja bisa terjadi ketidaksepakatan sikap di antara para pengamat ufo tentang hal ini. Mereka sama-sama yakin bahwa alien reptilian itu ada, tapi berbeda sikap tentangnya.

Dikarenakan fenomena ufo ini masih misteri dan pengujian kebenarannya tidak semudah membuktikan apakah benar terjadi kecelakaan mobil di jalan raya “A” tadi pagi, maka seringkali ketidaksepakatan dalam hal keyakinan dan sikap ini bisa berlarut-larut tanpa ada satupun yang bisa dengan pasti membuat pernyataan bahwa dirinya yang benar. Sebagai contoh, ada yang menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Billy Meier adalah sebuah kebohongan, namun tetap saja ada yang yakin itu benar terjadi. Demikian juga mengenai apa yang dilaporkan oleh George Adamski. Banyak sekali orang yang mengaku mendapat kontak dari alien, baik langsung maupun melalui proses medium (channeling), diyakini benar terjadi oleh satu pihak, sementara ada pihak lain yang meragukannya atau bahkan menganggap orang-orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Oleh karena itu, jalan keluar atas hal ini tidak pernah mudah.

Penggunaan teks agama sebagai sebuah evidensi (bukti) tentang penampakan atau kejadian yang berhubungan dengan makhluk cerdas bukan manusia di masa lalu juga bisa menimbulkan ketidaksepakatan dalam hal keyakinan dan sikap. Orang bisa yakin bahwa teks tersebut benar terjadi, sementara ada yang tidak meyakininya peristiwa itu pernah terjadi. Namun demikian, dengan asumsi bahwa apa yang ada dalam teks agama itu merupakan catatan sejarah, maka hal itu bisa digunakan sebagai catatan sebuah peristiwa. Hanya saja, sekali lagi, meski kebenaran agama itu absolut, tetapi hanya berlaku kepada yang mengimaninya saja.

Maka sebuah penelitian di bidang ufologi sangat mudah terjadi kekeliruan dan kesalahan pada keputusan atau kesimpulan. Apa beda kekeliruan dan kesalahan? Kekeliruan terletak pada penilaian manusia, bukan pada bendanya sendiri. Manusialah yang membuat penilaian secara gegabah. Dengan keputusan, kita mengadakan afirmasi atau negasi mengenai sesuatu, dan bisa jatuh dalam kekeliruan. Sementara mengenai kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut. Menyadari kekeliruan belum dengan sendirinya menemukan yang benar, namun menyadari kesalahan merupakan langkah yang tepat untuk menuju kebenaran.


Tak ada teori yang mutlak benar

Penelitian sudah seharusnya mensyaratkan penekunan pada kenyataan dan pengetahuan. Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang tidak dapat kita tiadakan dengan angan-angan). Di sisi lain, pengetahuan adalah kepastian bahwa fenomen-fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Sementara itu yang juga berperan penting adalah common sense, yaitu pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatan rutin yang normal, dan sudah jelas dengan sendirinya, dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang berusaha membuat sebuah teori atau kesimpulan terhadap fenomena ufo ini, maka hal itu kembali kepada sejauh mana ufo itu merupakan realitas baginya. Bagi sains realitas adalah segala sesuatu yang bisa diobservasi, bagi filsafat realitas adalah segala sesuatu yang bisa dipikirkan. Karena "realitas" adalah dunia sejauh dianggap benar, maka realitas harus dikonstitusi oleh kesadaran.

Tujuan penelitian itu sendiri adalah mengkonstruksi teori yang bisa menjelaskan fenomena. Lalu, apakah dalam penelitian tentang ufo ini tidak hanya menghasilkan teori-teori yang sifatnya spekulatif saja? Karl Popper mengatakan, ”Perkembangan suatu ilmu pengetahuan dimulai dengan hipotesa dari proposal imajinasi, sesuatu yang berasal dari sebuah pengertian individu dan tak dapat diprediksi…”

Bagi Popper segala pengetahuan bersifat sementara, maka terbuka untuk dikatakan salah. Karena itu, menurut Popper kita harus meninggalkan usaha untuk mencari kepastian mutlak dalam pengetahuan manusia. Pengetahuan kita selamanya bersifat konjektural, tentatif, dan selalu harus diuji. Ini mempunyai implikasi metodologis, yakni bahwa suatu teori harus dirumuskan sejelas mungkin sehingga terbuka terhadap penyangkalan. Jadi, ilmu pengetahuan dalam pandangan Popper, merupakan suatu sistem yang terbuka dinamis, dan tak pernah final.

Popper mengatakan bahwa ilmiah tidaknya suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada kemampuannya terhadap ketahanan uji (testability), bisa disalahkan (falsibility) dan bisa disangkal (refutability). Apabila teori dapat diuji dan memenuhi kompenen untuk disangkal maka ia telah memenuhi syarat keilmuan. Prinsip falsifikasi adalah upaya untuk membantah, menyangkal dan menolak teori. Menurut Popper, hal ini adalah prinsip ilmu sejati dan seorang ilmuwan sejati tidak boleh takut untuk menghadapi penolakan, bantahan, kritik, terhadap hipotesa yang dikemukakannya. Bahkan sebaliknya, ia akan terus mengharapkan sanggahan untuk tercapai kebenaran sejati. Menurut Popper, baik memverifikasi maupun mengkonfirmasi suatu teori itu mudah, tapi membuktikan bahwa teori itu salah (falsified) itu yang lebih penting.

Problemnya, orang sering terjebak pada logosentrisme. Ingin kebenaran yang pasti dan mutlak. Di sisi lain, kita juga punya pola pikir skeptisisme, meragukan (skeptis), bahkan meragukan pikirannya sendiri. Meragukan segala sesuatu sebenarnya membuat kita berpikir, mempertanyakan. Ini adalah kunci menuju pencerahan adalah berani berpikir sendiri. Maka adalah penting untuk mencari kebenaran akan fenomena ufo ini berangkat dari diri sendiri. Imanuel kant, seorang filsuf pernah mengatakan "sapere aude" yang artinya "beranilah berpikir sendiri" ("Have courage to use your own understanding!"). Namun sekaligus harus siap menghadapi adanya sanggahan bahwa apa yang Anda pikir benar itu ternyata bisa saja keliru. Sikap inilah yang dibutuhkan sebagai peneliti ufo, yakni open-minded skeptic. Galileo Galilei berkata, “All truths are easy to understand once they are discovered; the point is to discover them.”

* * *

Surabaya, 20 Agustus 2011

13 Apr 2014

Berani Mengambil Resiko dengan Perhitungan


Banyak orang ingin membuka usaha sendiri. Tapi seringkali ragu-ragu untuk memulainya. Entah apa pun alasannya. Misalnya, modal belum cukup, atau mungkin pengalaman juga masih kurang. Tapi pada umumnya mengapa mereka tidak berani bertindak? Karena mereka masih memikirkan resiko-resiko yang akan dihadapinya. Orang takut menghadapi resiko karena yang kita hadapi adalah sebuah masa depan yang tidak pasti. Entrepreneur selalu menghadapi keadaan di masa depan yang tidak pasti. Oleh karena itu bagaimana kita mengatur supaya kita bisa mengkalkulasi resiko itu dengan sebaik-baiknya.

Setiap Entrepreneur tahu bagaimana dia mengkalkulasi sebuah resiko. Artinya begini. Resiko pada satu orang akan dipersepsi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melihat resiko itu dia sanggup hadapi, ada yang juga melihat bahwa dia tidak sanggup mengahadapinya. Ini tergantung dari pengalaman yang bersangkutan dan sejauh mana frekuensi atau akibat kepada yang bersangkutan juga.

Ada sebuah teori yang dikembangkan oleh profesor Saras D. Sarasvathy tentang teori Efektuasi. Teori efektuasi ini punya lima prinsip. Salah satu prinsip yang paling utama adalah apa yang kita punya, karena Entrepreneur berangkat dari apa yang dia miliki, siapa dia, dan apa yang bisa dia lakukan. Tapi mengapa ada orang yang merasa bisa melakukan tapi tidak mau melakukan? Ya, karena masalah resiko ini. Nah, Profesor Saras D. Sarasvathy mengatakan bahwa Entrepreneur yang sukses itu melakukan usahanya dengan sistem Affordable Loss. Artinya, dia tahu apa yang dia lakukan atau dia keluarkan, baik itu modal, baik itu tenaga, pikiran, itu dia siap menanggung kerugiannya. Kalaupun rugi atau gagal, dia tidak masalah dan bisa bangkit lagi.

Contoh, ketika ada orang mau menjadi caleg, dan dia mengeluarkan banyak uang karena sangat ingin jadi anggota legislatif, maka pertanyaannya, apakah dia melakukan prinsip affordable loss ini atau tidak? Bagaimana jika dia tidak terpilih? Kalau dia tidak siap, bisa saja mengalami gangguan kejiwaan. Nah, hal yang sama dala dunia bisnis, prinsip ini harus diperhatikan baik-baik. Seberapa besar affordable loss yang Anda miliki?

Bagaimana orang menanggung kerugian itu berbeda-beda. Bagi satu orang mungkin sepuluh juta sudah luar biasa berat, bagi orang lain mungkin sepuluh juta tidak ada masalah. Kita bisa melihat bahwa resiko itu ada beraneka ragam. Pada prinsipnya ada dua macam resiko. Yaitu resiko finansial, dan resiko non finansial. Seperti kita ketahui, resiko finansial tentunya bahwa setiap kali usaha yang kita lakukan tentu bisa berakibat kerugian daripada uang yang telah kita berikan untuk usaha kita.

Di sini masalah persepsi terhadap resiko memegang peranan penting. Juga bagaimana kecenderungan kita dalam mengambil resiko. Kalau kita banyak mengalami kegagalan, maka ini mempengaruhi persepsi kita. Banyak orang yang kemudian trauma atau takut memulai lagi. Tapi kalau kita mengalami keberhasilan atau mendapatkan hasil yang baik, maka hal ini meningkatkan kecenderungan kita untuk mengambil resiko. Ini membentuk perilaku kita dan bagaimana sikap kita jika diberi tantangan atau resiko. Kalau kita sering mengalami kedua hal ini, baik berhasil maupun gagal, maka ini melatih kita untuk mengambil resiko dengan penuh perhitungan.

Nah, bagaimana kita mengkalkulasi resiko itu? Tentunya mudah sekali kita membuat sebuah rencana bisnis. Bahwa nanti akan ada pendapatannya sekian, keuntungannya sekian. Tapi bagaimana kalau itu tidak terjadi? Sebab kita sebagai Entrepreneur tahu bahwa masa depan tidak bisa diprediksi. Kalau kita amati sebetulnya kesuksesan seorang Entrepreneur tidak lepas dari kemampuan dia untuk meningkatkan sumber daya yang dia miliki. Bagaimana dia mengajak orang lain, mengajak partnernya untuk berbisnis, karena mungkin kalau dia hanya sendiri mungkin dia mudah sekali ragu-ragu atau takut mengambil resiko. Tapi dengan adanya partner dia akan lebih berani untuk bertindak. Ini namanya membagi resiko sehingga bebannya lebih ringan.

Demikian juga satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah masalah mentor. Seorang yang ingin berhasil, dia perlu sekali mentor. Mentor tidak harus selalu orang yang cerdas, sukses. Tapi orang yang bisa memberi dia support, dukungan, pengarahan, tahu arah mana yang harus dituju supaya dia bisa berhasil. Sebab kadangkala orang melihat sebuah resiko dengan persepsinya dia, bisa berbeda kalau dilihat oleh persepsi orang lain. Nah, cara-cara seperti ini harus dilakukan. Kita tidak mungkin sukses dengan seorang diri. Kita membutuhkan orang lain. Kita harus bisa meningkatkan apa yang kita punya supaya kita berhasil.

Salam entrepreneur.


12 Apr 2014

Tingkatkan profit, perkuat brand dan perbanyak pelanggan


Setiap pengusaha pasti ingin usahanya makin besar dan maju. Nah, ada tiga hal yang bisa mendongkrak usaha kita. Pertama adalah network yang kita miliki atau siapa saja yang kita kenal. Jaringan yang kita punya. Semakin banyak orang atau pihak yang bisa dijalin kerja sama, tentu ini akan membawa manfaat bagi usaha kita.

Yang kedua adalah uang alias modal. Dengan uang tentunya bisa untuk investasi akan bisa menghasilkan sebuah kontribusi buat usaha kita. Artinya, kalau uang berlebih tapi digunakan untuk perilakukonsumtif, ya percuma saja. Modal uang jika dimanfaatkan secara tepat akan sangat baik untuk membesarkan usaha. Modal uang ini belum tentu harus milik kota sendiri, bisa berupa pinjaman ke bank atau lainnya.

Hal ketiga adalah penggunaan teknologi. Teknologi ini bisa mempermudah pekerjaan, bisa menambah produktivitas dan sebagainya. Dengan teknologi, ada banyak yang bisa dihemat. Jika kita bisa memanfaatkan teknologi dengan baik, pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih efisien dan dapat dikerjakan secara otomatis. Proses ini akan membuat pekerjaan jauh lebih cepat, mudah dan bisa mendongkrak kredibilitas usaha. Contoh sederhana, sekarang orang jual sapi sudah memanfaatkan teknologi. Sapinya difoto dan dipasang di social media, entah twitter, facebook atau lainnya.

Ketiga hal ini tentunya tujuannya adalah untuk menghasilkan profit lebih besar lagi. Sebagai pengusaha tentunya kita ingin untung. Sebab tanpa keuntungan, mustahil usaha kita bisa berkembang. Bagaimana cara kita meningkatkan keuntungan?

Secara umum, ada tiga hal atau tiga cara untuk meningkatkan keuntungan yaitu yang pertama adalah menaikkan harga. Yang kedua adalah kita harus melakukan penghematan atau efisiensi. Dan yang ketiga adalah kita menjual lebih banyak. Tiga cara ini sebetulnya berawal dari rumus bahwa profit adalah pendapatan dikurangi biaya. Ketika pendapatan kita lebih besar daripada biaya maka kita akan mendapatkan keuntungan. Jadi, kita harus bisa memperbesar beda antara pendapatan dengan biaya tersebut. Ini adalah cara meningkatkan profit karena perusahaan yang mendapatkan profit adalah perusahaan yang mempunyai peluang untuk bertumbuh.




Kalau kita sudah tahu bahwa bagaimana cara kita untuk meningkatkan profit atau laba usaha kita, maka sebenarnya ada tiga cara untuk mengembangkan usaha yang perlu diperhatikan. Pertama adalah cobalah untuk meningkatkan atau memperbanyak jumlah pelanggan Anda. Pelanggan kita misalnya anggap saja 100 orang. Cobalah Anda lakukan strategi atau cara untuk membuat pelanggan Anda semakin banyak. Misalnya menjadi 200, menjadi 300, dan seterusnya. Berlipat-lipat lebih banyak. Di sini penting untuk memperkuat brand usaha agar makin banyak orang tahu siapa Anda dan tertarik membeli produk atau jasa Anda.

Yang kedua, kalau pelanggan Anda misalnya ada seratus, cobalah tingkatkan frekuensi pembeliannya. Misalnya, buatlah pembelian yang dilakukan oleh pelanggan Anda itu menjadi lebih sering. Misalnya, kalau dulunya satu pelanggan itu membelinya seminggu sekali, buatlah dia bisa membeli dalam seminggu dua kali atau lebih sering. Ini berarti Anda harus menjaga dan meningkatkan loyalitas pelanggan Anda.

Dan yang ketiga, tingkatkan jumlah unit barang yang dijual. Artinya, buat pelanggan bisa beli lebih banyak atau perbanyak jenis barang yang Anda jual. Jadi, kalau misalnya Anda sebelumnya menjual hanya beberapa item barang, lebih banyaklah supaya pembelu atau pelanggan Anda mempunyai pilihan-pilihan untuk membelanjakan lebih banyak lagi. Tentunya ini tidak lepas dari sumber daya yang kita miliki sebagai pemilik usaha. Berkaitan dengan hal ini, Anda harus kreatif dalam menciptakan peluang, yakni mencari apa saja yang dibutuhkan pelanggan Anda.

Setelah kita mengetahui tiga hal untuk mengembangkan usaha tadi, ada lima hal yang perlu untuk dilakukan. Pertama adalah, perhatikan masalah kapasitas usaha yang Anda miliki. Kapasitas usaha ini contohnya dalah sebagai berikut. Misalnya ada seorang pengusaha mikro, dia usahanya berjualan nasi bungkus dengan motor, dengan gerobaknya. Di mana satu gerobaknya itu dia hanya bisa membawa maksimum lima puluh atau anggaplah seratus nasi bungkus. Maka kalaupun misalnya ada permintaan dua ratus, dua nggak akan bisa. Karena apa? Karena kapasitasnya memang sudah begitu. Untuk bisa membuat atau mengembangkan usahanya, dia harus mengubah atau menambah kapasitas usahanya itu. 

Seringkali kapasitas usaha juga tergantung dari seberapa besar tempat yang kita miliki. Misalnya kita punya rumah makan, rumah makan itu luasnya sekian meter persegi. Kemudian itu hanya bisa ditempati oleh beberapa orang sekaligus. Kadang-kadang ketika begitu banyak permintaan, akhirnya kita tidak bisa menampungnya dengan baik. Atau juga misalnya saja kita berusaha di bidang sablon. Kapasitas sablon kita misalnya satu hari sekian banyak kos misalnya. Begitu melebihi kapasitas mungkin akan menjadi persoalan. Kalau kita mau mengembangkan usaha, memang kapasitas usaha ini harus ditingkatkan juga.

Yang berikutnya adalah cobalah untuk membuat orang lebih banyak membeli. Jadi artinya kita membuat daya tarik itu makin besar sehingga pelanggan itu makin banyak yang datang kepada kita. Ini ada banyak cara. Promosi dan sebagainya. Lalu cobalah untuk melakukan upgrade pelanggan yang sudah ada. Yang biasanya beli lima puluh cobalah untuk membeli seratus kemudian yang beli seminggu sekali buatlah menjadi seminggu dua kali. 

Lalu yang paling penting, ketika proses pengembangan usaha ini ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu masalah internal usaha. Yaitu Anda perlu meningkatkan moral kerja internal. Artinya, staff atau pegawai Anda termotivasi dan terinspirasi sebab mereka tanpa mengerti apa untungnya buat mereka dengan besarnya atau makin besarnya usaha ini, mereka juga akan tidak begitu termotivasi. Saat ini, aspek pelayanan tidak boleh diabaikan. Untuk menjaga kepuasan pelanggan, perlu service yang baik. Tentu pemberian service ini tidak bisa lepasa dari unsur manusia. Ini perlu ada kriteria, standard dan dilakukan bersama-sama dengan penuh komitmen. Jadi, di sini unsur leadership atau kepemimpinan sangat penting, sebab tanpa pemimpin yang baik, akan sulit terwujud kerja sama yang solid. 

Lalu, buat juga pilihan usaha yang lebih baik. Lebih banyak juga. Jika perlu lakukan diversifikasi usaha. Buka usaha baru. Jadi semuanya adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk membangun usaha, mengembangkan usaha supaya menjadi lebih besar.

Salam entrepreneur!

11 Apr 2014

Miliki mindset untuk bertumbuh




Ada sebuah buku yang sangat menarik yang berjudul dengan Change Your Mindset, Change Your Life. Pengarang buku ini Carol S. Dweck, mengatakan ada dua jenis mindset. Pertama adalah mindset yang bersifat tetap atau fixed mindset, dan growth mindset. Apa bedanya? Mari kita simak bersama-sama.

Pertama, orang yang mempunyai fixed mindset itu ciri-cirinya biasanya orang itu selalu berusaha untuk sempurna dan biasanya juga takut untuk gagal sehingga dia merasa bahwa dirinya sudah seperti itu, harusnya seperti itu. Ini berbeda dengan seorang yang memiliki mindset untuk bertumbuh di mana dia terus menerus ingin belajar, selalu ingin mencoba, dan memiliki kualitas untuk yang selalu ditempa, artinya dia selalu menempa dirinya menjadi lebih baik, dan lebih baik.

Ini adalah perbedaan. Kita bisa melihat dua tipe orang ini yang menunjukkan mana yang fixed mindset dan mana yang growth mindset. Kita tahu ada banyak sekali dalam pembahasan tentang gelas yang berisi air namun hanya setengahnya saja. Ada orang yang mengatakan ini air atau gelas berisi setangah penuh, atau setengah kosong? Ini juga membedakan minset orang tersebut. Orang yang mengatakan setengah penuh, berbeda dengan yang mengatakan setengah kosong. 

Ada sebuah cerita lain yang berhubungan dengan mindset ini. Mungkin kita pernah tahu bahwa gajah di sirkus atau mungkin di kebun binatang itu hanya diikat oleh tali dan dipasang di sebuah pasak. Sebagai seekor gajah yang sangat besar tentunya dia sangat mudah sekali untuk melepaskan dirinya dari ikatan itu. Tapi karena gajah itu sudah dari kecil dia diikat seperti itu dan dia tidak bisa bergerak karena masih kecil, ketika makin besar, makin besar, dia tetap merasa bahwa dirinya tidak bisa bebas. Ini adalah mindset juga. Gajah yang sedemikian besar, hanya dengan seutas tali yang kecil takhluk. Dia tidak bisa, tidak punya keberanian untuk membebaskan dirinya.

Ada banyak cerita lain.Perumpamaan-perumpamaan seperti seekor anak elang yang dirawat atau hidup di antara anak-anak ayam. Dia tidak tahu bahwa dirinya adalah seekor elang. Dia melihat elang di langit, oleh teman-temannya atau saudaranya yang lain dikatakan, “Hati-hati dengan elang di atas itu, dia akan mengambil kamu dan memakan”. Padahal dia adalah elang. Dan dia tidak akan pernah bisa terbang karena dia berada di kumpulan para anak-anak ayam itu.

Bagaimana kita mengubah mindset? Inilah yang dijelaskan oleh Carol dalam bukunya mindset, bahwa kita harus punya mindset betumbuh. Ada orang yang mengatakan bahwa kecerdasan itu sifatnya tetap, tidak berubah. Orang yang dengan mindset bertumbuh punya keyakinan yang berbeda. Dia yakin bahwa kecerdasan itu bisa berubah. Dia yakin bahwa dengan pengalaman, dengan belajar, semuanya bisa berubah. Yang penting adalah sebuah dorongan hati ingin berubah. Karena tanpa itu perubahan juga tidak akan terjadi.

Orang-orang yang memiliki fixed mindset atau mindset yang tidak mau berubah, bisanya mereka selalu menjauhi atau menghindari tantangan. Sangat mudah sekali untuk menyerah. Ada hambatan sedikit sudah langsung menyerah. Dan buruknya, kalau dia dikritik, cenderung diabaikan atau cenderung tersinggung. Dan kalau ada tugas, dia akan cenderung  memilih tugas-tugas yang mudah. Cenderung defensif, seperti saya sebutkan tadi mudah tersinggung. Dan yang lebih buruk, berbuat curang. Ini berbeda dengan orang yang memiliki mindset untuk bertumbuh. Ada hal yang buruk pada orang-orang yang selalu mengalami kesuksesan yaitu justru orang-orang ini takut mengahadapi resiko. Mengapa? Karena mereka tidak terbiasa mengahadapi kegagalan. Banyak orang-orang yang di level, “Kamu itu orang-orang yang hebat, jenius, rajin”. Justu dalam hal keentrepreneuran mungkin akan mengalami hambatan karena orang-orang ini justru takut mengahadapi resiko, takut berusaha atau takut sampai dia kemudian dianggap tidak lagi pintar. Ini adalah sebuah hambatan. Termasuk salah satu bentuk dari sebuah fixed mindset.

Padahal seorang entrepreneur itu perlu mengembangkan sikap berani mengambil resiko. Tentunya yang terukur. Berani untuk mengubah. Artinya dia tidak mau sekedar hanya itu-itu saja. Memberikan sebuah harapan entah bagi dirinya sendiri, keluarganya orang lain, masyarakat, bangsa, bahwa dengan apa yang dia lakukan bisa membawa sebuah perubahan. Ini adalah hal-hal yang dibutuhkan atau harus ada pada seorang yang memiliki mindset bertumbuh. Orang-orang dengan minset bertumbuh mempunyai sikap yang persistance terhadap usahanya. Dia tidah mudah menyerah. Dia belajar dari kritik-kritik yang dilontarkan kepadanya. Kritik bukan dianggap sebuah serangan, tetapi jusutru memacunya untuk introspeksi menghasilkan yang lebih baik karena dia tidak menjauhi tantangan, tetapi justru dia menghadapi tantangan itu dengan lebih baik.

Bagi orang yang memiliki mindset untuk bertumbuh, kecerdasan itu merupakan hasil dari tempaan hidup dan selalu punya keinginan untuk mempelajari hal yang baru sehingga dia tidak mau hanya itu-itu saja. Dia tidak mau terikat dalam keadaan yang status quo. Dia selalu cari tantangan. Dia adalah pekerja yang keras dan ia bangga katanya. Kalaupun dia mengahadapi kegagalan, berbeda dengan orang yang mempunyai fixed mindset, atau mindset yang tidak mau bertumbuh, yang cenderung dia sendiri menyalahkan orang lain atau pihak lain, atau mengatakan bahwa ini bukan salahku, tapi orang yang memiliki mindset bertumbuh, dia selalu berkata atau berintrospeksi “Apa yang bsia saya pelajari dari pengalaman ini?” Ini bedanya.

Nah, bukankah kita ingin menjadi sosok yang memiliki mindset bertumbuh? Sebab kita jangan terkungkung dalam sebuah mindset yang tidak bertumbuh. Kita harus yakin bahwa kita memang mau menjadi lebih baik. Artinya, kita percaya bahwa hidup kita itu tidak sekedar ini-ini saja. Kita percaya bahwa sesuatu itu bisa kita raih dengan ebih baik. Kita percaya bahwa kita bisa mengubah diri kita. Kita percaya bahwa kita bisa belajar dari pengalaman. Itu sebabnya gagal sepuluh kali, bangkit sebelas kali. Dan kegagalan itu kita hadapi dengan sikap yang positif, artinya apa yang bisa kita pelajari. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama.

Tentu ada beberapa orang yang memiliki mindset yang tidak mau berubah. Ada yang mewujudkannya dalam sikap yang angkuh, tapi ada juga yang negatif. Misalnya ketika dia mengalami kegagalan dia akan mengatakan, “Ya, saya ini memang bodoh. Saya ini memang tidak bisa”. Nah, sebagai seorang yang ingin bertumbuh, jangan melakukan hal itu. Kita harus bisa mengubah. Memang kita mungkin melakukan kesalahan, tapi jangan terpuruk atau jangan kemudian mengulang-ulang, “Ini adalah salahku”. Atau mungkin sebaliknya, “Ini bukan salahku”. Tapi apa yang bisa kita pelajari supaya kita melakukan perbaikan, perbaikan, dan perbaikan.

Inilah yang dikatakan oleh Carol S. Dweck, dalam bukunya. Bahwa, kalau kita bisa mengubah mindset kita, kita bisa mengubah hidup kita. Kita yakin kalau kita ditanya apakah Anda tidak ingin bertumbuh? Apakah usaha Anda tidak ingin lebih besar? Semua orang akan menjawab, “Ya, saya ingin lebih besar. Saya ingin menjadi lebih baik”. Tapi kadang-kadang kita itu terkungkung sendiri oleh mindset kita. Mindset inilah yang membatasi. Kita tahu bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Kalau itu kita sudah paham. Tapi, kita juga kadang-kadang acah tak acuh atau membiarkan diri kita terbawa oleh musuh besar kita itu sendiri. Bagaimana kita melakukan perubahan? Bagaimana kita mempunyai mindset untuk bertumbuh?

Dalam buku ini juga dikatakan kalau kita memiliki mindset yang bertumbuh, kita akan bisa meraih sukses. Tentu sekali lagi, bukan hal yang mudah. Karena mengubah mindset itu juga tidak segampang yang diomongkan dalam banyak seminar, training, atau banyak motivasi-motivasi, tetapi kalau kita punya keyakinan dan punya keinginan yang sangat besar, sangat sungguh-sungguh, maka itu akan pasti bisa. Saya ingin memberikan satu contoh dalam buku ini dikatakan bahwa salah satunya adalah rasa malu. “Rasa malu yang dimiliki manusia dapat mencegah mereka dari upaya mencari teman dan mengembangkan hubungan”. Padahal kita tahu sebagai seorang entrepreneur, perlu kita itu menjalin network.

Nah, ada orang yang kemudian mengatakan bahwa, “Ya, saya ini memang tidak bisa berteman dengan orang lain, saya ini memang tidak bisa memulai percakapan”. Ini adalah contoh fixed mindset. Dia merasa bahwa dia sudah sejak lahirnya atau ketika dia saat ini tidak bisa membuat sebuah hubungan dengan orang lain. Padahal kalau kita punya growth mindset, atau mindset yang bertumbuh, kita punya keyakinan bahwa kita bisa mengubah diri kita, kita bisa melatih diri kita untuk menjadi lebih percaya diri, lebih berani menjalin sebuah hubungan, sehingga kita bisa lebih sukses dalam berentrepreneur.

Kita tahu contoh yang lain, Einstein, fisikawan terkemuka, ketika masih kecil atau masih sekolah gurunya mengatakan bahwa, “Ah, kamu itu mana bisa sukses? Nilai pelajaranmu jelek!” Tapi Einstein membuktikan bahwa itu tidak benar. Dia bisa berubah. Kalau seseorang punya mindset bertumbuh, dia bisa berubah. Itu prinsip yang penting. Artinya apa? Seringkali kalau kita punya bisnis dan kemudian bertemu dengan teman, terutama dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, kemudian melihat bahwa kita sudah sukses berbisnis dan kemudian dia mengatakan bahwa, “sebetulnya kalau saya lihat kamu itu bisa lho lebih sukses dari sekarang”. “Ah, buat apa? Sekarang saya merasa sudah cukup”. Berarti kembali lagi fixed mindset. Tapikalau kita yakin bukan sekedar kita cari untung lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak. Bukan. Tapi bagaimana kita punya mindset bahwa kita ini adalah manusia yang selalu bertumbuh, itu lah yang penting. Mindset bertumbuh itu akan membawa pengaruh pada keentrepreneuran kita membawa usaha kita menjadi lebih besar. Lebih besar berarti juga membawa manfaat buat orang lain.

Inilah intisari dari bagaimana kita mempunyai mindset yang bertumbuh. Para entrepreneur yang sukses selalu mengatakan bahwa mindset itu adalah satu hal yang sangat penting. Jadi, jika Anda ingin mengembangkan usaha, milikilah mindset untuk bertumbuh.

Salam Entrepreneur..

Popular Posts