11 Mei 2013

Menjadi bahagia itu pilihan


Oleh: Nur Agustinus

Orang bilang, kalau kebutuhan kita terpenuhi, maka kita akan bahagia. Namun, kebutuhan manusia terus menerus berubah. Dengan kata lain, manusia nampaknya tidak bisa dalam keadaan terus menerus bahagia.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:

Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.
Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.
Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.
Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.
Sophocles: Success is dependent on effort.

dan masih banyak lagi lainnya....

Dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.

Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsang agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.

Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia. Menjadi bahagia itu pilihan. Semua orang ingin bahagia, bahkan kalau kita nonton film atau membaca novel, menginginkan akhir cerita yang bahagia. Tapi, bagaimana orang bisa bahagia namun tidak sukses? Mungkinkah seorang yang merasa hidupnya gagal bisa tetap bahagia?

Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "Seven Spiritual Laws of Success". Sukses dalam hidup dapat didefinisikan sebagai perluasan terus-menerus dari kebahagiaan dan realisasi progresif terhadap tujuan yang berharga. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?

Apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation." Menurut saya, kalimat ini bukan berarti kita mengubah tujuan kita, tapi mengubah cara, sebab dengan cara yang bisa kita tempuh, maka akan selalu ada harapan. Selama ada harapan maka kebahagiaan bisa kita peroleh.

Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony."

Bahan bacaan:
1. http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html
2. http://henkykuntarto.wordpress.com/2010/06/03/the-seven-spiritual-laws-of-success/

Brain, Body & Nerve

Pernah dulu di tahun 90an saya melihat iklan Hugo Boss di televisi swasta. Hugo Boss adalah produk asesori untuk pria, dan iklan itu menekankan tiga aspek yang dibutuhkan oleh seorang Boss. Saya terkesan dengan iklan ini karena menyangkut hal yang penting dalam diri seseorang. Ketiga hal itu adalah brain, body dan nerve. Nampaknya, ketiga hal itu yang perlu ada dalam diri seorang yang mau menjadi pemimpin.

Seorang pemimpin perlu orang yang cerdas, mampu mengantisipasi masalah, kreatif dan cerdik. Bahkan cerdas saja tidak cukup, tapi ia harus juga cerdik. Cerdik artinya banyak akal dan bisa selalu keluar dari masalah. Pemimpin yang tidak cerdas akan ditinggalkan pengikutnya. Salah satu alasan mengapa orang mau menjadi pengikut seseorang adalah karena orang itu dianggap cerdas, punya visi  dan tahu bagaimana mencapainya.

Selain itu, kondisi fisik atau tubuh, juga merupakan satu hal yang utama. Kalau kita amat-amati, seorang boss atau eksekutif, boleh dibilang ia jarang sekali sakit. Mungkin kalau sekali sakit harus sampai opname beberapa hari akibat kerja terlalu lelah. Tapi karyawan yang terpaksa harus tidak masuk karena sakit akan lebih banyak. Dan seringnya, karyawan tidak masuk hanya karena sakit perut, pusing atau flu (tidak enak badan). Sementara sang Boss, walau sakit kepala, ia tetap saja masuk kantor. Apalagi cuma flu, dianggapnya remeh. Ini mungkin bedanya antara pemimpin dengan yang bukan, yaitu terletak dari bagaimana ia mendayagunakan fisik yang ada.

Aspek yang ketiga, nerve adalah masalah saraf. Saraf ini juga sangat penting bagi seorang eksekutif. Ia tidak boleh mudah stress, tahan terhadap segala macam hambatan dan tantangan. Tidak boleh mudah putus asa dan bisa selalu siap tempur menghadapi para pesaing. Itu mungkin juga bedanya dengan karyawan yang daya tahan dan perhatiannya terhadap pesaing kurang begitu besar. Kekuatan saraf ini merupakan satu hal yang tidak boleh diabaikan. Banyak orang yang cerdas, berfisik kuat, tapi mudah sekali stress. Artinya, secara fisik ia baik namun justru mudah down.


The Magic of Mentoring


Waktu di kantor sedang bersih-bersih berkas lama yang sudah tidak terpakai, Saya menemukan majalah-majalah Toastmaster edisi lama. Saya melihat di majalah ini banyak artikel praktis pengembangan diri yang menarik. Daripada dibuang, saya ambil. Salah satu edisi majalahnya ada artikel yang berjudul "The Magic of Mentoring" (February 2010). Saya scan artikelnya dan upload di http://www.slideshare.net/nur2008/the-magic-of-mentoring

Dalam artikel ini dijelaskan bagaimana sebaiknya kualitas dari seorang mentor. Menjadi seorang mentor, kita harus:

1. Available, artinya mau meluangkan waktu untuk mentee. Teman-teman pasti merasa tidak suka jika saat bertanya ke dosen, kemudian tidak direspon. Tapi akan lebih suka jika ada orang yang mau menyediakan waktu bagi kita saat dibutuhkan bantuannya. Jadi, sebagai mentor, kita juga harus menyediakan diri (avaliable). Tentu ini bukan berarti 24 jam setiap hari, tapi setidaknya ada waktu yang kita sisihkan untuk membantu orang lain.

2. Patient (sabar). Orang belajar dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda sehingga kebutuhan untuk pembimbingannya berbeda-beda. Kalau Anda tidak sabar, maka Anda akan menjadi emosi saat menghadapi mentee yang butuh bimbingan lebih. Jangan pernah membandingkan mentee yang bisa belajar cepat dengan yang tidak.

3. Sensitiive, ini artinya kemampuan kita mengetahui perasaan yang ada di mentee. Dengan kata lain, kita mesti mampu berempati. Beberapa mentee ada yang malu dan ragu-ragu. Ketika mereka diam, bukan berarti mereka sudah pasti bisa. Kita perlu memberi dorongan kepada mereka yang pasif dan jangan hanya memperhatikan mentee yang rajin atau banyak berkomentar.

4. Respectfull, bersikap hormat. Setiap orang adalah unik dan kita perlu menghargai segala kekurangan yang ada. Jangan terlalu memaksa dengan keras dan berilah dorongan agar mentee mau melakukan usahanya dengan lebih kuat.

5. Flexible. Kadang mentee mengalami masalah dan kita mesti bisa fleksibel dengan kondisi yang dialami mentee.

6. Supportive, memberi dorongan dan dukungan. Tunjukkan kebangganmu kepada usaha yang dilakukan oleh mentee.

7. Knowledgeable, punya pengetahuan. Intinya, bisa jadi tempat tumpuan bertanya. Memang tidak harus tahu semua hal, namun mentee mengharapkan mentornya bisa memberikan solusi atas masalahnya. Dengan demikian, kita harus berpikiran terbuka untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuan yang kita miliki.

8. Confident. Sebagai mentor harus percaya diri namun tidak sombong. Kita harus bersikap sebagai teman dan mentee merasa bahwa kita bersedia membantu dirinya.

9. Listening. Kita mesti bisa mendengarkan dan jangan berbicara sendiri. Ini adalah demi perkembangan mentee, bukan kita sebagai mentor. Jadi kita harus melihat persoalan yang ada dari sisi mentee. Ibaratnya, jangan memaksakan memakaikan baju kita kepada mentee. Jadilah pendengar yang baik agar kita benar-benar tahu akar masalahnya.

10. Concerned. Anda mesti benar-benar tulus mau membantu orang lain.

Tugas mentor adalah menjalin hubungan yang baik dengan menteenya dan membuat semacam "aturan main" dalam proses mentoring. Berilah arahan kepada mentee agar tahu bagaimana bisa memperoleh sumber daya yang berguna untuk mengatasi problemnya. Ibaratnya, jangan memberikan ikan, tapi ajari memancing dan beri tahu di mana memancing yang baik.

Mentor yang baik akan mendorong menteenya bisa bertindak lebih baik. Ibaratnya mendorong mentee untuk melakukan sebuah lompatan quantum leap. Mentor yang baik akan mendorong menteenya mengembangkan kapasitas kepemimpinannya sehingga suatu saat yang bersangkutan juga bisa menjadi sebagai mentor juga.

Semoga artikel ini bermanfaat dan meningkatkan pemahaman dan ketrampilan kita menjadi seorang mentor.

Majalah Toastmaster, Februari 2010.
Catatan:
Mentor adalah seseorang yang bisa melihat dan mengetahui dimana posisi mentee berdiri sekarang, menjelaskan alternatif jalan yang ada, membantu mentee mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri, memberikan blueprint/peta detil untuk menuju tempat yang ingin dituju dan lalu membimbing Anda langkah demi langkah dalam proses perjalanan tersebut. Mentor juga seringkali memberikan motivasi dan semangat jika mengalami tantangan dalam perjalanan tersebut.

Mentee adalah yang mendapat bimbingan dari mentor atau asisten mentor.

Sukses dengan KASIH


Siapa yang tidak ingin sukses? Sukses tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sukses juga tidak bisa terjadi begitu saja dalam waktu singkat. Sukses merupakan sebuah perjalanan. Bahkan sebenarnya sukses itu juga sebuah pilihan. Walau kebanyakan orang ingin sukses, namun ternyata apa yang dilakukannya jauh dari jalan menuju sukses tersebut. Plato, filsuf Yunani kuno pernah mengatakan, “Human behavior flows from three main sources: desire, emotion, and knowledge.”
Memang kriteria kesuksesan itu beraneka ragam. Lawan dari sukses adalah gagal. Kita akan tahu bahwa kita gagal jika kita mempunyao tujuan dan tidak berhasil mencapainya. Tanpa adanya tujuan, sebenarnya kita tidak akan pernah gagal. Namun itu juga berarti tidak akan pernah sukses. Kesuksesan mengandalkan sebuah usaha dan kegigihan, bukan karena sebuah kebetulan. Kita berhasil bukan karena nasib kita kebetulan beruntung semata, atau gagal disebabkan kesialan belaka. 
Ada banyak tips dan nasihat untuk menjadi sukses. Beraneka buku telah ditulis maupun seminar untuk memberi inspirasi sekaligus pencerahan bagaimana menjadi sukses. Tapi bagi saya, sukses bukan tujuan. Sukses adalah bagian dari perjalanan hidup.

Kesuksesan akan terjadi jika kita terus menerus berusaha melakukan sesuatu menuju yang diinginkan. Untuk ini, diperlukan adanya kebiasaan atau habit untuk menunjang kesuksesan. Mengapa habit ini penting? Hanya orang yang punya kebiasaan (habit) yang tepat, dia bisa mencapai kesuksesan dari apa yang ingin dicapainya. Misalnya, seorang penulis yang sukses adalah orang yang mempunyai kebiasaan atau habit menulis. Kalau habitnya tidak menunjang, misalnya dia justru punya kebiasaan bermain, tentu dia tidak akan sukses menjadi penulis.

Bagaimana habit ini bisa terwujud? Dalam bukunya yang terkenal, “The 7 habits of highly effective people”, Stephen Covey mengemukakan bahwa habit itu gabungan dari tiga hal, yakni knowledge (pengetahuan), skills (kerampilan) dan desire (gairah/keinginan). Tiga hal ini akan membuat orang melakukan apa yang disukainya berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Tapi untuk menjadi sukses tidak cukup hanya mempunyai kebiasaan (habit) yang sesuai.

Satu hal yang sangat penting dalam perjalanan kesuksesan adalah sikap (attitude). Memang kebanyakan orang untuk meraih kesuksesannya, cenderung lebih memusatkan perhatian pada keahlian yang ingin ditekuninya, namun sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dari itu kadang justru terabaikan, yakni sikap. Sikap yang membawa pada kesuksesan ini sendiri ada tentu banyak macamnya. Misalnya sikap yang tak pernah mengeluh, sikap untuk selalu mau belajar, bertanggung jawab, tepat waktu, senang memberi dan melayani, serta masih banyak lainnya.

Sukses ini adalah bagaimana kita membawa diri kita saat berada di lingkungan sosial. Kesuksesan itu ibarat sebuah inovasi, hanya berarti jika kesuksesan yang ada diterima oleh orang lain. Dengan kata lain, sukses menjadi pencuri tentu bukan kesuksesan. Sukses kaya raya hasil korupsi juga tak ada gunanya. Sukses mensyaratkan penerimaan positif dari masyarakat atau orang lain dan itu harus ditunjang dengan sikap yang kita miliki. Maka saya menganjurkan ada 5 hal untuk menuju sukses, yakni Knowledge, Attitude, Skills, Interest dan Habit. Kelima hal ini untuk mudahnya saya singkat dengan KASIH.

Untuk menuju sukses kita harus memiliki pengetahuan. Tanpa pengetahuan kita tidak akan tahu apa yang hendak kita tuju serta mengapa. Kalau kita sudah memiliki pengetahuan, maka sikap adalah hal yang penting. Jika karena kita merasa sudah pandai lantas menjadi sombong, itu akan percuma. Einstein mengatakan, "Weakness of attitude becomes weakness of character." Zig Ziglar juga mengatakan bahwa yang menentukan keberhasilan kita itu bukan bakat kita melainkan sikap kita. Jadi,sikap ini adalah hal yang penting, namun tentu saja harus ditunjang dengan pengetahuan yang baik. Lalu, kita perlu meningkatkan apa yang bisa kita lakukan. Jangan berhenti pada apa yang kita ketahui saja, tapi latihlah diri kita agar semakin banyak yang bisa kita lakukan.

Manusia memiliki sejumlah potensi. Tapi potensi hanya akan tetap menjadi bakat yang tak berguna jika kita tidak menghasilkan sesuatu. Kita harus mengubahkan menjadi sesuatu atau mengaktualitaskan potensi yang dimiliki. Bakat menyanyi tidak akan terlihat kalau kita tidak menyanyi. Semakin kita berlatih menyanyi, maka kita semakin trampil. Menjadi semakin ahli dan hebat di bidangnya. Tapi mengapa ada orang yang berbakat namun tidak melakukan hal itu? Biasanya ini dikarenakan dia tidak mempunyai keinginan atau minat yang kuat. Kita mesti bertanya dan menjawab dengan jujur, sejauh mana kita benar-benar ingin? Kita harus memiliki sebuah minat (interest) yang kuat agar menjadi sebuah gairah (desire atau passion). Tanpa keinginan yang kuat, tak akan ada motivasi dari dalam diri yang bisa menggerakkan kita untukmelakuan hal itu dengan sungguh-sungguh. Jika hal ini ada, maka semuanya ini akan menjadi sebuah kebiasaan (habit). Seperti yang diungkapkan Brian Tracy, “Successful people are simply those with successful habits.”

Nah, kalau Anda merasa belum sukses, barangkali kebiasaan yang Anda lakukan memang tidak membawa Anda ke sana. Untuk itu ubahlah kebiasaan Anda. Caranya, ubahlah apa yang menjadi minat atau gairah Anda. Einstein juga pernah berkata, "Insanity: doing thesame thing over and over again and expecting different results." Kegilaan adalahmelakukan hal yang sama berulang-ulang namun mengharapkan hasil yang beda. Anda ingin mengubah hidup Anda menjadi sukses? Lakukan dengan KASIH dan bertumbuhlah serta jalani hidup dengan sukses.

Surabaya, 5 Mei 2013

1 Apr 2013

Ikuti Entrepreneurship Online Course: Ciputra Way

Bergabunglah bersama lebih dari 10.000 peserta kelas entrepreneurship online, langsung dengan Guru Entrepreneurship Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Ciputra, yang diselenggarakan oleh Universitas Ciputra Entrepreneurship Online.

Kunjungi: Universitas Ciputra Entrepreneurship Online






8 Jan 2013

Proyek Stargate

Proyek Stargate

Oleh: Nur Agustinus


Jika Anda mendengar kata “Stargate”, maka akan mengingat sebuah film sci-fi berjudul sama tentang sebuah artefak alien yang bisa digunakan untuk bepergian ke planet lain dalam sekejap. Semacam membuat “wormhole” atau lubang cacing, di mana seseorang masuk lewat stargate A akan muncul di stargate B yang lokasinya sangat jauh karena berada di planet gugusan bintang lain.

Namun proyek Stargate yang akan dibahas di sini berbeda dengan yang ada di film. Informasi yang ada di Wikipedia menyebutkan bahwa proyek Stargate adalah sebuah nama sandi salah satu dari beberapa proyek yang dibentuk oleh pemerintah federal Amerika Serikat untuk menginvestigasi realita, potensi militer dan aplikasi dalam negeri dari fenomena paranormal, khususnya “remote viewing” yaitu kemampuan mental untuk “melihat” kejadian, tempat, atau informasi dari jarak yang sangat jauh. Proyek ini aktif sejak tahun 1970an hingga 1995, dan menindak lanjuti riset awal di bidang psikik yang dilakukan di Stanford Research Institute (SRI), American Society for Psychical Research, dan tempat lain yang melibatkan penelitian laboratorium di bidang paranormal.

Mereka yang memiliki kemampuan remote viewing, bisa menggambarkan keadaan suatu tempat, bangunan atau pemandangan tertentu dari jarak jauh dengan kekuatan mentalnya. Mereka bisa mengetahui kondisi-kondisi geografis di suatu wilayah meskipun belum pernah melihatnya, apalagi mengunjunginya, seolah-olah mereka mengerti benar wilayah tersebut.

Russel Targ dan Hal Puthoff , ilmuwan yang melakukan penelitian di Stanford Research Institute, melakukan beberapa eksperimen untuk membuktikan hal itu. Ada beberapa tahap eksperimen yang dilakukan. Pertama, mereka memilih beberapa subjek penelitian berupa orang-orang yang sangat tertarik dengan eksperimen tersebut. Kedua, subjek penelitian diberitahu bahwa remote viewing adalah kemampuan yang sangat umum dimiliki orang. Ketiga, kontrak singkat dibuat dimana subjek setuju bahwa dalam waktu tertentu, satu atau beberapa peneliti akan keluar laboratorium, dan datang secara acak ke suatu tempat tertentu dan berada disana selama sekitar 15 menit untuk melihatnya, memikirkannya, menyentuhnya dan lainnya. Subjek diberi kesempatan untuk secara fisik berinteraksi dengan peneliti tersebut. Keempat, peneliti lain bersama subjek, berada di dalam laboratorium dan merekam kesan yang didapatkan subjek. Baik peneliti maupun subjek tahu bahwa peneliti yang keluar berada dalam radisu 20-30 menit naik kendaraan. Kelima, setelah kembali dari lokasi, peneliti yang keluar itu mengajak subjek ke lokasi sebenarnya untuk mencocokkan dengan kesan yang diperoleh subjek. Hasilnya, banyak kesan-kesan subjek cukup akurat.

Harold "Hal" Puthoff dan Russel Targ (kanan)

Hasil ini tentu saja menarik perhatian militer. Keseriusan terhadap hal ini dapat dilihat dari banyaknya riset yang dilakukan, lebih khusus lagi untuk kepentingan militer dan intelijen. Di Amerika banyak buku telah ditulis tentang pemanfaatan kemampuan Remote Viewing (RV) ini untuk kepentingan CIA maupun militer.
Jim Schnabel dalam bukunya "Remote Viewers: The Secret History of America's Psychic Spies" yang terbit pada tahun 1997 menguraikan berbagai informasi tentang program militer Amerika Serikat dalam penggunaan RV. Fenomena RV sendiri pertama kali diungkap oleh Upton Sinclair dalam buku ”Mental Radio” (1971), yang menceritakan eksperimen Sinclair dengan istrinya.  Eksperimen dilakukan dengan menggunakan 100 gambar berbeda yang dilihat istrinya bukan melalui penglihatan fisik (mata) secara langsung, tetapi melalui RV. Sinclair sendiri merasa heran dan takjub dengan hasil yang diperoleh dari eksperimennya. "Saya tidak tahu mengapa atau bagaimana itu terjadi, tetapi saya telah melihat istriku melakukan hal tersebut sangat sering, dengan begitu banyak fenomena yang berkaitan, di mana saya tahu di sana ada suatu hal yang terjadi namun tak dapat dijelaskan, dan saya berpikir orang seharusnya mengetahui tentang hal itu," katanya mengomentari hasil eksperimennya sendiri.

 Proyek Stargate mendesain sebuah protokol untuk membuat penelitian di bidang “clairvoyance” dan “out-of-body experiences” (OBE) lebih ilmiah dan meminimalkan kemungkinan gangguan dan ketidakakuratan. Kata "remote viewing" dipakai untuk menggambarkan pendekatan ke arah “clairvoyance”. Stargate hanya menerima misi setelah seluruh upaya intelijen, metode dan pendekatan lain dilakukan dan kehabisan upaya. Pada puncaknya, Stragte memiliki 14 laboratorium riset remote viewing.

Apa itu clairvoyance? Kata ini berasal dari abad 17 di Perancis, dengan kata “clair” yang berarti "clear" atau jernih dan “voyance” yang berarti "visibility" atau kemampuan melihat. Jadi pengertian umum adalah kemampuan melihat jernih atau secara jelas.  Dengan kata lain, nampak sebagai sebuah kemampuan untuk memperoleh informasi tentang sebuah obyek, lokasi atau kejadian lain melalui penginderaan yang di luar indera biasa. Dalam penelitian, sering disebut sebagai bentuk dari ESP (extra-sensory perception). Seseorang yang mengatakan bahwa dirinya mempunya kemampuan clairvoyance biasanya disebut sebagai seorang clairvoyant ("one who sees clear").

Penelitian tentang clairvoyance mendapat dukungan dana, baik dari pemerintah Amerika Serikat maupun Rusia selama dan setelah perang dingin. Kedua pemerintah berdaya upaya memaksimalkannya sebagai salah satu alat intelijen (kegiatan mata-mata).

Di Stanford Research Institute, pada tahun 1972, Harold Puthoff dan Russell Targ melakukan studi secara serius untuk menguji partisipan yang memiliki kemampuan melihat jarak jauh ini yang benar-benar akurat. Salah satu yang terpilih adalah Pat Price, seorang mantan petugas polisi dari Burbank, California. Pat Price berpartisipasi selama era perang dingin pada eksperimen remote viewing, termasuk dalam proyek SCANATE dan Star Project. Bekerja dengan peta dan fotografi yang disediakan oelh CIA, Price menyatakan bahwa dia bisa meneria informasi dari fasilitas yang ada di belakang garis pertahanan Soviet.  Salah satu yang paling terkenal adalah sketsa yang dibuatnya tentang sebuah derek dan kerangka peluncuran ternyata sangat cocok saat dikonfirmasi dengan hasil foto intelijen CIA. Sejak saat itu, pernyataan-pernyataannya diperhatikan dengan sangat serius oleh CIA.
Christopher Green, Pat Price, and Hal Puthoff. (kiri ke kanan)

Apa hubungan antara remote viewing ini dengan masalah UFO atau alien? Price meyakini bahwa aliens telah mendirikan empat pangkalan bawah tanah di bumi. Ia menawarkan laporan tentang lokasi-lokasi ini ke Harold E. Puthoff, mantan dari SRI International, pimpinan penyelidik ilmiah untuk Proyek SCANATE (scan by coordinate).

Ketika Lt. Fredrick Holmes'Skip' Atwater mulai ikut dalam US Army Remote Viewing Star Gate program di tahun 1978, awalnya ia tidak menduga bahwa ia akan ditugaskan untuk menyeldiki lebih jauh sebuah target seperti pangkalan bawah tanah UFO.  Untuk tugas ini, Atwater bekerja sama dengan Targ dan Puthoff di SRI serta dengan serius mempelajari pernyataan yang dibuat oleh Pat Price.

Mantan direktur CIA, Stansfield Turner, mendeskripsikan Pat Price sebagai, “seseorang yang dapat melihat apa yang tengah terjadi di mana saja di dunia ini melalui kekuatan psikirannya.”
Stansfield Turner di sampul majalah Time

Informasi tentang pangkalan UFO ini dimulai di suatu hari di tahun 1973. Price berjalan menuju kantor Puthoff, melempar sebuah dokumen ke mejanya dan berkata, “Kamu mungkin tertarik pada pangkalan UFO.”

Pat Price sendiri meninggal dunia dengan sebab yang misterius pada tanggal 14 Juli 1975. Apa yang ada dalam dokumen yang diterima oleh Puthoff? Sejauh mana informasi ini akurat? Puthoff memberikan dokumen yang sama ke Atwater di awal tahun 1980an, sembari berkata, “Kamu mungkin tertarik dengan ini.” Penting untuk diketahui bahwa informasi yang disampaikan oleh Pat price ini dilihat olehnya tanpa melalui protokol yang berlaku dan hasilnya tidak secara resmi dilaporkan serta Price tidak menggunakan amplop yang tersegel.

Laporan Price menyatakan bahwa tujuan utama dari pangkalan UFO bawah tanah ini adalah untuk mempekuat BTL (Bilateral tubal ligation) implant, mengangkut anggota rekrut baru dan melakukan fungsi pengawasan secara menyeluruh. Price juga melaporkan bahwa pangkalan itu didiami oleh makhluk seperti kita, homosapiens, namun berbeda dalam jantung, paru-paru dan mata. Ia melaporkan di tempat itu sangat dijaga untuk tidak sampai ditemukan dan memiliki teknologi yang sangat canggih. Ia juga mencatat bahwa mereka menggunakan “transfer pikiran untuk mengendalikan gerakan kita.”
Lalu, di mana pangkalan bawah tanah alien ini berada?

Empat lokasi yang ditunjuk oleh Pat Price adalah pegunungan Perdido di sebelah utara Spanyol, pegunungan Inyangani di Zimbabwe, pegunungan Hayes di  Alaska dan pegunungan Ziel di Australia .

Apa yang ada di Pegunungan Perdido?  Lokasi pangkalan yang pertama ini terletak di pegunungan Pyrenees , antara Perancis dan Spanyol.

“Sebuah kumpulan gua yang terkenal di Pyrenees terdapat lukisan pra-sejarah tentang ancient astronaut dan pesawat ruang angkasa,” Atwater menjelaskan. “Dan di sana juga tercatat sejumlah kasus penampakan UFO.”

Pegunungan Perdido, atau Pegunungan  Perdu, memiliki ketinggian 3.352 m dan termasuk yang tertinggi ketika di Pyrenees . Price melaporkan bahwa pangkalan utama dijaga sekitar perimeter 2 mil dengan detektor. Sejumlah pesawat berada di tempat peluncuran dan terlihat seperti menggunakan sistem propulsi medan elektromagnetik.

Pangkalan bawah tanah yang dikemukakan oleh Price berikutnya terletak di lokasi pegunungan Inyangani, pegunungan tertinggi (2.592 m) di Zimbabwe , Afrika.

“Sebenarnya, di situ lebih banyak difungsikan sebagai pusat teknologi dan pemeliharaan,” kata Price. “Pangkalan ini terlihat seperti tempat pemeriksaan dan pemeliharaan unit. Saya melihat banyak peralatan suku cadang. Bagian-bagian  tertentu disambung dengan semacam las di dalam sebuah area hampa udara dengan bagian jendela, kemudian disatukan. Semacam bubuk putih keabu-abuan dioleskan kedua bagian kemudian disatukan.”

Lokasi berikutnya ada di pegunungan Hayes , Alaska . Tempat itu nampaknya merupakan sebuah pusat geologi dan cuaca dan memiliki sistem keamanan yang mirip dengan temuan terdahulu. Ia mendeskripsikan “perlengkapan komputer” yang dilengkapi dengan sebuah “oskiloskop” di mana ada kotak kecil dengan antenna yang bisa berputar di atas puncak gunung.

Lokasi keempat adalam pegunungan Ziel, sebuah pusat personnel, di wilayah utara Australia ..

“Yang menarik dari pangkalan ini adalah memiliki banyak sekali personil. Di sana para personil yang datang dari ketiga lokasi, nampak seperti sedang istirahat dan berada dalam area rekreasi.”

Price melihat beberapa kendaraan dari pangkalan lain, yang masing-masing memiliki tanda pengenal yang menunjukkan asal lokasi dan fungsinya.

Menurut James Casbolt  yang menulis artikel berjudul “Mount Ziel Underground Facility in Australia's Northern Territory”, melalui informasi yang diperoleh dari kontaknya di NSA yang disebutnya sebagai “X3”, di pegunungan Ziel memang terdapat fasilitas bawah tanah dan merupakan sebuah fasilitas kembar yang menuju ke pangkalan Pine Gap di sebelah utara Australia. Dokumen yang diberikan oleh agen NSA “X3” itu nampaknya adalah hasil remote viewing dari Pat Price.

“Pangkalan bawah tanah di pegunungan Zeil adalah kubu Anunnaki. Anunnaki, yang berasal dari sistem bintang Sirius ini, mempunyai sebuah aliansi strategis lepas dengan Draco Prime Reptilian yang berasal dari sistem bintang Draconis. Kedua kelompok ET ini punya agenda dengan planet bumi ini untuk penyerangan dan pengambilalihan. Akan tetapi dengan adanya beberapa ras ET yang positif termasuk Pleiadian yang akan menolong manusia, saya tidak yakin bahwa hal ini akan terjadi.”

Pada tanggal 5 Maret 2000, Annual International UFO Congress yang berlangsung di River Palms Resort di Laughlin, Nevada , Leonard Buchanan mengkonfirmasi keberadaan keempat pangkalan ET ini. Buchanan menjelaskan latar belakang dirinya sebagai seorang militer yang bertugas sebagai controlled remote viewer (CEV). Di keempat lokasi pegunungan yang terdapat pangkalan rahasia ET ini dikabarkan memang sering terlihat UFO.

Pegunungan Perdido

Lokasi pegunungan Inyangani

Hasil penyelidikan lokasi-lokasi yang berkaitan dengan kehadiran makhluk ET dengan cara remote viewing ini tentu membuat penasaran. Apakah informasi yang ada bisa dipercaya? Salah satu partisipan dalam proyek Stargate adalah Ingo Swann. Satu temuannya yang sangat meyakinkan adalah, Ingo Swann di tahun 1973 “melihat” bahwa planet Jupiter memiliki sebuah cincin. Fakta ini belum diketahui oleh para astronom saat itu, dan baru dikonfirmasi oleh pesawat antariksa tak berawak Voyage I di tahun 1979. Ingo Swann juga mengatakan bahwa di sisi bulan yang tak pernah nampak dari bumi (farside), ada pangkalan ET.

Joseph McMoneagle, salah seorang remote viewer, memberi informasi tentang akan jatuhnya stasiun angkasa Skylab di tahun 1979, setahun sebelumnya, termasuk memberi koordinat letak jatuhnya dengan akurat. McMoneagle juga melihat adanya reruntuhan bangunan di planet Mars, bahkan keberadaan “Face of Mars” di area Cydonia sudah diketahui melalui remote viewing sebelum Viking Orbiter 1 di bulan Juli 1976 memotretnya.


Ingo Swann pernah diminta untuk melakukan pengelihatan dengan kemampuan psikiknya di beberapa target lokasi di bulan oleh seseorang bernama Axelrod, yang bekerja untuk pemerintah AS. Hal itu membawa Swann secara psikik melihat bahwa ada kehadiran makhluk ET di sana . Swan “melihat” melalui mata pikirannya, kawah-kawah dalam kegelapan, dan memutuskan untuk melihat lebih jauh apa yang tersembunyi di sisi balik bulan yang tidak pernah terlihat dari bumi.  Swann kemudian melihat semacam tanda jejak traktor dan Swann sendiri nampaknya agak bingung karena menyadari bahwa dirinya telah “melihat” aktivitas makhluk cerdas dan struktur bangunan di bulan.

Swann melihat bahwa di kedalaman kawah terdapat cahaya artifisial, menara yang tinggi. Makhluk ET yang ada di bulan juga memiliki kemampuan psikik dan mampu mendeteksi kehadiran Swann. Swann merasa bahwa secara psikik, dia diketahui keberadaannya oleh dua makhluk humanoid yang mendiami pangkalan di bulan itu. Swann mengungkapkan informasi ini melalui bukunya yang berjudul “Penetration: The Question of Extraterrestrial and Human Telepathy”.

Dalam buku itu, Swann menceritakan hasil kerjanya dengan seseorang dari pemerintah AS yang menyelidiki keberadaan makhluk ET. Ketika melihat pangkalan rahasia ET di sisi jauh bulan, ia terkejut melihat sosok makhluk bulan perempuan. Ia menyimpulkan bahwa makhluk ET telah tinggal di bumi dalam bentuk tubuh humanoid seperti manusia. Seorang teman memperingatinya bahwa ada banyak sekali makhluk ET, kebanyakan adalah “bio-android”, dan bagi mereka yang menjadi musuh utama di bumi adalah orang-orang berkemampuan psikik.

Selain Ingo Swann, orang yang memiliki kelebihan psikik yang pernah ikut dalam proyek Stargate ini adalah Uri Geller, yang terkenal dengan kemampuannya membengkokkan sendok. Uri Geller bergabung di tahun 1972. Yang menarik, Uri Geller mengatakan bahwa dia mendapatkan kekuatan psikik dari sebuah pesawat UFO yang bernama Spectra. Apakah memang kemampuan remote viewing ini berkaitan dengan keberadaan makhluk ET?

Ada juga yang lain seperti Mayor Ed Dames yang mengatakan bahwa UFO yang jatuh di Roswell adalah sebuah mesin waktu. Ed Dames melakukan tugas remote viewing selama sepuluh tahun hingga 1992. Informasi yang diprolehnya antara lain adalah, alien sedang membuat ras hibrid di bumi. Menurutnya, planet Mars adalah sangat penting bagi masa depan umat manusia.

Penelitian di SRI memang sudah berakhir. Menurut Rusell Targ, penghentian dana ini bukan karena kegagalan proyek, tapi karena setelah perang dingin berakhir, mereka tidak diperlukan lagi.  Tidak jelas apakah pemerintah AS menghentikan semua penyelidikannya tentang remote viewing ini, atau mengalihkan pada proyek lain yang masih dirahasiakan. Selain di SRI, penelitian tentang remote vieweing juga dilakukan di SAIC (Science Applications International Corporation).

Satu hal yang menarik adalah, presiden Ronald Reagan pernah berbicara di depan sidang umum PBB ke-42 di tanggal 21 September 1987 , “In our obsession with antagonisms of the moment, we often forget how much unites all the members of humanity. Perhaps we need some outside, universal threat to make us recognize this common bond. I occasionally think how quickly our differences worldwide would vanish if we were facing an alien threat from outside this world.”

Kita semua menjadi bertanya-tanya. Tentunya informasi keberadaan alien ini bukan hanya sekedar fantasi jika seorang presiden AS sampai berbicara seperti itu yang bisa mempengaruhi reputasinya. Reagan sendiri kemudian mengembangkan sistem pertahanan dengan program (SDI)  Star Wars. Program ini memang dibuat seakan untuk menghadapi serangan rudal balistik dari Soviet, namun menurut Dr. Carol Rosin, sebenarnya untuk menghadapi ancaman makhluk ET yang berniat menguasai planet bumi.

Informasi tentang proyek Stargate ini tidak lagi rahasia karena pemerintah AS berdasarkan FOIA telah menyampaikannya kepada publik.  Namun demikian, menurut Joseph McMoneagle, salah seorang remote viewer, apa yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak lebih dari dua persen dari informasi yang diperoleh selama penelitian itu berlangsung. Apa yang ada di sana ? Masa depan apa yang sedang kita hadapi? Dalam bukunya yang berjudul “Memoirs of a Psychic Spy: The Remarkable Life of U.S. Government Remote Viewer 001”, McMoneagle mengemukakan bahwa aksi teroris yang menghancurkan gedung World Trade Center di New York , sebenarnya sudah “terlihat” beberapa tahun sebelumnya. Tapi pertanyaan yang selalu mengusik, apakah kita dapat mengubah masa depan setelah kita mengetahui apa yang akan terjadi?

Kiri ke kanan: Dr. Hal Puthoff, Ingo Swann, Russell Targ
 
(Selesai)

24 Mei 2012

The B-Side Club: Menyikap Rahasia Piring Terbang







VIVAnews -- Para pemerhati UFO (Unidentified Flying Object) seluruh Indonesia dijadwalkan berkumpul di Jakarta pada malam hari ini. Mereka akan berdiskusi ringan tentang UFO dengan tajuk, "Menyingkap Rahasia Piring Terbang di Indonesia".

Diskusi ini menghadirkan Ranggi Ragatha selaku pengurus BETA UFO koordinator wilayah Indonesia Timur, Muhammad Irfan mewakili pengurus dan pendiri UFONESIA serta Alfi Zachkyelle, seorang komikus Vienetta dan animator Vatalla.

Diskusi tersebut merupakan kerjasama komunitas diskusi The B-Sides Discussion Club, BETA UFO dan UFONESIA.

Dalam siaran tertulisnya, Andyono Muharso, salah satu pegiat UFO mengajak para pemerhati dan pengamat dunia UFO untuk menghadiri pertemuan yang akan diselenggarakan di The Reading Room Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, 24 Mei 2012, pukul 19.00 sampai 21.00 WIB.

"Acara ini tidak dipungut biaya alias gratis," kata dia. Bagi yang ingin menghadiri diskusi ini diharapkan memakai busana kasual atau beratribut UFO.

Rasa penasaran dan ingin tahu masyarakat Indonesia terhadap mahluk angkasa luar sudah ada sejak lama. Salah satu yang mempercayai keberadaan mahluk cerdas di luar manusia adalah pendiri sekaligus mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Marsekal Muda TNI (Purn) Raden Jacob Salatun.

Pada tahun 1960, ia bahkan pernah menerbitkan buku berjudul, "Menjingkap Rahasia Piring Terbang". Juga buku, "UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini" yang terbit 1982 -- yang menceritakan pengalamannya menyaksikan benda bulat dan putih yang diduga piring terbang.

Selain itu, Salatun memperkenalkan istilah "beta" singkatan dari benda terbang aneh, sebagai padanan kata UFO dalam Bahasa Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, pada Jumat 3 Februari 2012, Salatun tetap mempercayai keberadaan UFO. Oleh para pengamat UFO Indonesia, ia dijuluki sebagai Bapak Ufologi Indonesia.

Di luar Indonesia, salah satu usaha untuk menemukan UFO secara serius dilakukan oleh SETI (Searching for Extra-Terrestrial Intelligence).

SETI didirikan astronom bernama Frank Drake pada 1960, SETI telah beroperasi sejak lima dekade lalu. Mereka memindai sinyal radio dari luar angkasa, yang bisa memberikan indikasi bahwa manusia bukan satu-satunya mahluk yang hidup di alam semesta raya ini.


Foto: VIVAnews/ Amal Nur Ngazis

Popular Posts