Menjadi bahagia itu pilihan


Oleh: Nur Agustinus

Orang bilang, kalau kebutuhan kita terpenuhi, maka kita akan bahagia. Namun, kebutuhan manusia terus menerus berubah. Dengan kata lain, manusia nampaknya tidak bisa dalam keadaan terus menerus bahagia.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:

Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.
Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.
Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.
Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.
Sophocles: Success is dependent on effort.

dan masih banyak lagi lainnya....

Dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.

Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsang agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.

Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia. Menjadi bahagia itu pilihan. Semua orang ingin bahagia, bahkan kalau kita nonton film atau membaca novel, menginginkan akhir cerita yang bahagia. Tapi, bagaimana orang bisa bahagia namun tidak sukses? Mungkinkah seorang yang merasa hidupnya gagal bisa tetap bahagia?

Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "Seven Spiritual Laws of Success". Sukses dalam hidup dapat didefinisikan sebagai perluasan terus-menerus dari kebahagiaan dan realisasi progresif terhadap tujuan yang berharga. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?

Apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation." Menurut saya, kalimat ini bukan berarti kita mengubah tujuan kita, tapi mengubah cara, sebab dengan cara yang bisa kita tempuh, maka akan selalu ada harapan. Selama ada harapan maka kebahagiaan bisa kita peroleh.

Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony."

Bahan bacaan:
1. http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html
2. http://henkykuntarto.wordpress.com/2010/06/03/the-seven-spiritual-laws-of-success/

0 Komentar:

Posting Komentar