31 Okt 2014

Startup Mindset

Sering menjadi pertanyaan mendasar, apa yang membuat seseorang memilih menjadi seorang entrepreneur. Sudah sering kita membaca bahwa seorang entrepreneur itu perlu kemampuan dan kebiasaan melakukan inovasi, namun ketika kita memberi pelatihan atau mengajar kewirausahaan, yang kemudian segera mengambil keputusan untuk action masih sangat sedikit. Walau hampir bisa dipastikan, sesaat setelah mengikuti seminar itu, semangat terasa membara dan berkobar. Tapi berjalannya waktu, hal ini kemudian surut kembali, larut dalam kebiasaan kehidupan kita sehari-hari seperti sebelumnya.

Sebagai seorang pengajar entrepreneurship, tentunya diharapkan menjadi seorang entrepreneur enabler, yakni menjadi pengaktif seseorang menjadi entrepreneur. Ini karena diyakini bahwa entrepreneurship itu bisa diajarkan, dapat ditularkan dan mampu dikembangkan. Tapi, kembali lagi, mengapa ada satu yang dengan cepat segera action untuk berbisnis, sementara yang lain tidak? Tidak sesederhana menekan tombol lantas orang berubah. 

Apa faktor yang menjadi pendukung yang membedakan mereka? Apakah jangan-jangan yang segera bertindak itu adalah mereka yang memang dalam dirinya sudah ada bibit atau bakat menjadi entrepreneur? Pendidikan hanya memoles dan memperkuat hal itu? Namun saya tak percaya jika ada orang benar-benar tidak punya potensi menjadi entrepreneur. Sejarah panjang perkembangan kehidupan manusia di bumi ini menunjukkan kemampuannya dalam beradaptasi, memenuhi kebutuhannya untuk survive dan menempuh segala resiko di lingkungan yang sangat tidak bersahabat ini. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah, mengapa sikap mental  ini meredup?

Buku ini membahas pentingnya pola pikir atau mindset untuk berani mengambil resiko secara cerdas untuk membuat usaha. Tentu sangat dibutuhkan untuk fokus pada usaha uang sesuai minat maupun passion. Untuk itu perlu dibedakan antara apakah minat itu dengan hobby. Banyak orang keliru memilih bidang bisnis karena yang dikerjakan adalah yang menjadi hobbynya. Padahal yang penting adalah mengetahui apa minatnya. Bagaimana juga menumbuhkan passion untuk berbisnis. Tanpa passion berbisnis, maka keinginan untuk melakukan startup action juga tidak akan sungguh-sungguh.

Pemesanan buku bisa ke:
Bina Grahita Mandiri
Jl. Krembangan Barat 31-I Surabaya
Telp +6231 3526207, 3542570
Fax +6231 3559283

Harga buku Rp 50.000,- 

Belum termasuk ongkos kirim.  
Bisa pesan bisa ke: Ainur Ridlwan Muthahhari, WA +6282136936631

Preview buku:
 

11 Sep 2014

Antara Hobby dan Passion


Banyak nasihat yang mengatakan bahwa bekerjalah sesuai passion yang kita miliki. Steve Jobs juga mengatakan, “satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya hebat adalah dengan mencintai apa yang Anda kerjakan.”  Anda harus menemukan apa yang Anda cintai. Konghucu juga mengemukakan, “Pilihlah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah merasa harus bekerja seumur hidupmu.” Nampaknya, passion telah menjadi sebuah kunci utama dalam bekerja. Tapi, ada juga yang berpendapat sinis terhadap passion. Untuk apa harus mengikuti passion? Yang penting adalah kerja dan segera action. Namun Mike Rowe mengatakan: “Jangan hanya Follow Your Passion, tapi hiduplah di dalamnya.”

Memang, tidak semua orang berhasil menemukan passion yang dimilikinya. Apakah passion itu sebenarnya?  Banyak orang mengartikan passion ini secara berbeda-beda. Ada yang menyebutkan bahwa passion adalah hobby yang menghasilkan. Passion adalah kombinasi antara kenikmatan, makna dan perasaan. Yang lain mengatakan passion adalah aktivitas yang paling kita cintai. Sementara ada juga yang menjelaskan passion adalah di mana kita akan mengorbankan segala hal untuk mencapai itu.

Menurut pandangan saya, passion adalah sesuatu yang membuat kita bergairah untuk melakukannya, memikirkan terus menerus dan mempunyai sebuah kekuatan emosional yang luar biasa. Dengan banyaknya pengertian tentang passion ini, orang sering mencampuradukkan antara passion dengan hobby. Ya, memang hobby adalah sebuah aktivitas yang kita sukai. Tapi seringkali kita terperangkap bila memaknai passion itu sama dengan hobby. Penting untuk disadari bahwa passion tidak sama dengan hobby. Lalu apa bedanya?

Hobby adalah kegiatan yang kita sukai dan dilakukan diwaktu senggang kita. Misalnya, saya punya hobby membaca, maka kegiatan membaca itu saya lakukan ketika saya memiliki waktu luang. Contoh lain, ada yang punya hobby berenang, mendagi gunung, menonton film, atau bermain musik. Nah apa bedanya dengan passion? Passion tidak dilakukan di waktu luang. Passion dilakukan terus menerus, tanpa henti mengusik pikiran kita akan hal tersebut. Jika Anda punya passion terhadap sesuatu, maka Anda akan memikirkannya siang dan malam. Anda akan melakukannya tanpa kenal lelah. Contoh yang sederhana, kalau Anda gandrung (cinta) dengan kekasih Anda, maka Anda juga akan memikirkannya terus dan tak mungkin merasa lelah ketika diminta untuk mendampinginya. Inilah bedanya dengan hobby. Hobby dilakukan di waktu senggang, sementara passion itu totalitas.
 
Persoalan yang sering dihadapi, jika passion itu membuat kita selalu memikirkannya, sementara dalam kehidupan sehari-hari kita tersibukkan oleh pekerjaan kita, maka lama kelamaan kita tidak ingat lagi apa yang menjadi passion kita. Kita akan bekerja sesuai tuntutan pekerjaan dan jika ada waktu luang, entar saat weekend, kita baru melakukan apa yang menjadi hobby kita, bukan passion kita.

Barangkali karena itu, ada orang yang kemudian merasa bahwa ajakan untuk mengikuti passion itu adalah sesuatu yang percuma. Memang, tidak mudah menemukan passion kita. Tidak mudah kita mencari apa yang membuat kita sangat jatuh cinta terhadap sesuatu. Yang terjadi adalah banyak yang kemudian mengira hobbynya adalah passionnya. Ketika itu kemudian menjadi pilihannya untuk bekerja atau berwirausaha, maka akan banyak masalah yang dihadapi. Ingat, hobby hanya sekedar dilakukan di waktu senggang. Belum tentu itu menarik jika dilakukan terus menerus. Hobby itu bersifat menyenangkan, passion belum tentu selalu menyenangkan karena passion membuat kita harus berjuang keras untuk melakukannya. Tapi, dengan passion, kita melakukannya tanpa merasa terpaksa. Ingat, dalam bahasa Inggris kuno, kata passion itu berarti penderitaan (suffering).

Nah, lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau kita menyadari perbedaan antara hobby, minat dan passion, maka saran yang harus diingat adalah: ketika kita mencari passion kita, itu bukanlah menemukan apa yang kita sukai, namun melainkan di hal apa Anda siap menderita untuk terus melakukannya. Di sinilah akan muncul determinasi dengan sendirinya. Hobby tidak akan memunculkan determinasi.  Anda akan menemukan passion Anda, ketika Anda ingin melakukan hal itu dan terus menerus Anda tetap usahakan untuk lakukan. Tak peduli apa rintangannya, Anda akan tetap berusaha dan selalu berusaha mengerjakannya. Kalau Anda sudah menyerah, barangkali itu bisa menjadi tanda bahwa itu bukan passion Anda yang sebenarnya. (nur agustinus)


10 Sep 2014

Zona nyaman yang menghambat

Ketika kita memutuskan untuk membuka usaha dan membicarakan hal itu ke keluarga kita, boleh jadi tidak semuanya berjalan mulus. Banyak dari kita justru menghadapi perlawanan atau penolakan dari keluarga, entah orang tua atau pasangan hidup kita. Alasannya bisa banyak, mulai dari kekhawatiran uangnya habis, merasa tidak ada penghasilan tetap, tidak ada dalam sejarah keluarga yang menjadi pebisnis, hingga apa kata orang kok Cuma jualan seperti itu.

Ya, pertentangan inilah yang akan menunjukkan sejauh mana determinasi yang kita miliki. Determinasi adalah sebuah ketetapan hati untuk terus melakukannya. Determinasi adalah kata ajaib yang bisa mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik. Tapi, sayangnya, banyak juga di antara kita yang kemudian surut dan mengurungkan niatnya. Merasa bukan menjadi anak yang berbakti jika mengabaikan nasihat orang tua, atau dianggap sebagai keras kepala.

Memang, berwirausaha adalah sebuah pilihan. Bagi yang berasal dari keluarga pebisinis, tentu hal ini sudah biasa dan akan mendapatkan dukungan. Namun jika kita bukan berasal dari keluarga pengusaha, tentu sulit membayangkan bagaimana bakal hidup sebagai seorang wirausaha. Ibaratnya, anak petani akan menjadi petani, anak guru akan menjadi guru, anak nelayan akan jadi nelayan, anak tentara juga akan jadi tentara. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi, bagaimana jika seorang anak petani, anak nelayan, anak guru, punya keinginan menjadi seorang wirausaha? Ini berarti dia sudah melihat masa depannya di luar kotak yang membatasi pikirannya. Dia sudah berpikir out of the box. Tentu ini tidak mudah.

Sebenarnya, mengapa orang sekitar kita, khususnya keluarga, tidak mendukung cita-cita sang anak? Kunci sebenarnya adalah karena mereka berada di zona nyaman. Kalau dipikir benar-benar, zona nyaman ini sebenarnya belum tentu merupakan zona yang aman. Di setiap kondisi pasti ada resiko. Nah, kalau kita menyadari bahwa orang di sekitar kita berada di zona nyaman dan masih sulit untuk mau keluar dari kondisi itu, adalah tugas kita untuk menyadarkan mereka. Kalau kita kemudian yang mengurungkan niat, maka kita akan masuk dalam zona nyaman itu dan tak akan pernah membuat sebuah perubahan. Jangan pernah ragu untuk memulai perubahan. Keraguan hanya membawa kita pada keberhasilan yang selalu tertunda. (nur agustinus)


3 Sep 2014

Kunjungan ke Pusdakota Ubaya bersama mahasiswa Social Entrepreneurship UC

Rabu, 3 September 2014, mahasiswa Social Entrepreneurship (E5 Sosial) Universitas Ciputra melakukan kunjungan ke Pusdakota Ubaya (Pusat Pemberdayaan Komunitas Kota Universitas Surabaya). Diterima oleh Bu Laila dan bertemu dengan Pak Cahyo Suryanto, pimpinan Pusdakota Ubaya. Mahasiswa belajar tentang bagaimana berbisnis sosial dengan melibatkan komunitas. Ada pembuatan tas dari bahan sampah bekas pembungkus, ada juga budidaya tanaman organik, pembuatan kompos, dan masih banyak lainnya.








15 Agu 2014

Dilatih UC, TKI Tak Balik ke Hongkong

Jawa Pos, 15 Agustus 2014

Dilatih UC, TKI Tak Balik ke Hongkong


SURABAYA - Universitas Ciputra (UC) melaksanakan pelatihan wirausaha bagi tenaga kerja Indonesia (TKI). Pelatihan kali kedua ini bertujuan agar para TKI bisa sukses berwirausaha selelah bertahun-tahun mengais rezeki di negeri orang.

Kegiatan tersebut berlangsung Selasa hingga Karnis (12-14/8). Direktur Akademik Universitas Ciputra Entrepreneurship Online Nur Agustinus menyatakan, peiatihan itu merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) UC. Biasanya, saat Lebaran banyakTKI yang pulang kampung. Jadi, UC memberikan kesempatan mereka belajar berwirausaha. Kali inl ada 25 TKI. Rata-rata mereka bekerja di Hongkong.

Mereka menerima beragam materi. Mulai cara mengubah mindset, identifikasi pasar, sampai pengembangan usaha. Selain di kelas, para TKI diajak ke Pasar Tugu Pahlawan untuk melakukan identifikasi pasar.

"Salah satu yang sulit adalah mengubah mindset," papar dosen pengampu mata kuliah social entrepreneurship tersebut. Sebab, selama ini mereka terbiasa berpikir sebagai konsumen.

Setelah pelatihan tiga hari itu, mereka juga menerima kelanjutan lewat pelatihan online selama enam bulan.

Salah seorang TKI yang mengikuti pelatihan saat itu adalah Sujiati. Perempuan 40 tahun asal Madiun tersebut sudah pulang pada Februari. Dia bekerja 10 tahun di Hongkong. Dia juga telah membuka toko sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari di rumahnya. “Sudah selesai kerjanya. Saya ingin berjualan di rumah bersama suami dan anak saja. Usaha saya harus berkembang,” tutumya. (lna/cl9/roz)

Kiat bagi BMI yang ingin berentrepreneur

Kukuh Luky
Waktu acara Bootcamp BMI di UC (12-14 Agustus 2014), ada Pak Kukuh Luky yang pernah menjadi TKI di Jepang menceritakan pengalamannya. Pak Kukuh sekarang sudah punya usaha dan menjadi entrepreneur yang mengajar di Universitas Ciputra. Pak Kukuh mengatakan, BMI (Buruh Migran Indonesia) kalau pulang, secepat mungkin -paling tidak 2 minggu- sudah berwirausaha. Jika bingung usaha apa, lihatlah sekitar kita. Itulah sebabnya, UC mengajarkan bagaimana mengidentifikasi peluang. Kalau ditunda, pasti uang akan habis buat belanja dan untuk hal lain.

Pak Kukuh juga bilang, tentu ada kemungkinan usaha tidak berhasil. Tapi kalau usaha sudah dilakukan dan uang habis, jangan kemudian langsung berpikiran untuk cari modal lagi dengan bekerja di luar negeri. Kalau kita sudah berbisnis, maka kita sudah punya modal kepercayaan dari orang lain. Dengan kata lain, kita bisa tetap melanjutkan usaha tanpa modal. Modalnya adalah kepercayaan. Kita bisa mengambil barang untuk usaha dengan bayar belakang karena selama bisnis kita bisa dipercaya.

Memang, hambatan utamanya adalah dari keluarga. Biasanya kalau mau mulai usaha, pasti banyak yang mengatakan, "masa sudah kerja di luar negeri, uang banyak, trus jualan telor di pinggir jalan." Pak Kukuh waktu itu memutuskan untuk usaha jual telor. Tapi omongan seperti itu diabaikan oleh Pak Kukuh. Dia tetap dengan semangat berjualan hingga kemudian usahanya makin besar. Dia sendiri pernah gagal juga, namun bangkit kembali. Kini dia juga punya perusahaan konstruksi. Pak Kukuh mengatakan bahwa harus berani melakukan usaha. Kalau ragu-ragu dan takut memulai apalagi menunda-nunda, maka hasilnya juga tanda tanya.

Yang terakhir, ini yang paling penting: TIDAK ADA SUKSES YANG INSTAN. Semua itu butuh waktu. Kesuksesan tidak bisa langsung. Pak Kukuh mengatakan butuh waktu 5 tahun. Mungkin orang bilang, kok lama sekali 5 tahun? Ya, pak Ciputra sendiri juga butuh waktu bertahun-tahun. Bahkan pengusaha sukses manapun akan butuh waktu untuk sukses. Kalau Anda tidak sabar, maka pasti akan segera memilih jalan lain. Kalau kita jalani, sebenarnya waktu juga berjalan tak terasa. Bukankah ada yang sudah bertahun-tahun kerja di luar negeri tanpa terasa? Mungkin awalnya cuma mau kontrak 2 tahun, tapi tak terasa sudah 6 tahun, 8 tahun atau bahkan lebih dari 10 tahun kerja di luar negeri.

Nah, kalau kita wirausaha, 5 tahun itu juga tak terasa. Saya pikir benar juga, saya sendiri tak terasa sudah bekerja 4 tahun di Universitas Ciputra. Kalau kita jalani apa yang menjadi passion kita, maka waktu akan tak terasa, semangat dan energi juga terus ada. Memang, kata pak Kukuh, tinggal di luar negeri itu lebih enak. Tapi kalau kita bisa membangun usaha sendiri di tempat tinggal kita, bukankah itu lebih baik.

Pak Kukuh tinggal di Malang namun kantornya di Surabaya. Saat ini sedang menyelesaikan studi S3 program doktor di Universitas Brawijaya Malang.

Terima kasih untuk pak Kukuh atas kesediaannya berbagi pengalaman dan tips berbisnis.

Salam entrepreneur dan sukses bagi yang berani memutuskan untuk segera berwirausaha!

31 Jul 2014

Gamification

Gamification (Gamifikasi) adalah penerapan teknik dan strategi dari sebuah permainan ke dalam konteks nonpermainan untuk menyelesaikan suatu masalah. Metode ini bekerja dengan cara membuat materi atau teknologi menjadi lebih menarik dengan mendorong pengguna untuk ikut terlibat dalam perilaku yang diinginkan.Berikut beberapa video presentasi tentang gamification.

Gamification - 1. Introduction


What is Gamification? A Few Ideas.


Gamifying Sustainability - Changing Behavior with Fun: Christian Kaufmann at TEDxYouth@Adliswil


TEDxKids@Brussels - Gabe Zichermann - Gamification


Gamification to improve our world: Yu-kai Chou at TEDxLausanne


TEDxSantaCruz: Catherine Aurelio - Gamification


The Future of Creativity and Innovation is Gamification: Gabe Zichermann at TEDxVilnius


The Gamification of Education: Gavin Pouliot at TEDxYouth@IFTA


Jane McGonigal: Gaming can make a better world

Popular Posts