23 Apr 2009

Membuka biro psikologi

Saya dulu ikut ISPSI (Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia) yang sekarang menjadi HIMPSI. Saya jadi anggota dan saya ikut beberapa pertemuannya. Saya sebenarnya bukan tipe pembelot bahkan punya konformitas yang cukup baik. Nah, pada suatu pertemuan, saya bertanya: "Apakah seorang psikolog diperkenankan promosi?" dijawab oleh salah seorang pengurus, "Boleh" Lalu pertanyaan kedua, "apakah seorang psikolog boleh mendesain alat tes sendiri." Dijawab, "Itu bahkan bagus dan sangat dianjurkan."

Nah, saya di tahun 1990, setelah saya lulus, saya buka biro psikologi dengan nama Bina Grahita Mandiri. Biro psikologi saya memang tergolong agak berbeda untuk masa itu, karena saya dibekali dengan ilmu manajemen yang saya peroleh di program MBA yakni khususnya ilmu marketing. Sekalian mau bagi pengalaman, ilmu marketing itu ada yang namanya 4P, yaitu Price (harga), Place (tempat), Promotion (promosi) dan Product (produk). Saya mengutak-atik keempat hal itu karena itu merupakan kunci dari keberhasilan pemasaran (menurut Kotler).

Maka, harga saya buat bersaing, lebih murah. Ini wajar, sebagai pendatang baru, apalagi di kota surabaya yang masyarakatnya suka menuntut sesuatu itu murah tapi bagus, jadi harga harus diperhatikan. Kedua, saya punya tempat yang cukup strategis. Kelebihan saya waktu itu adalah, klien bisa mengirimkan peserta untuk tes kapan saja dan tidak perlu harus janjian. Kebanyakan psikolog lain punya pekerjaan lain, entah jadi dosen atau apa, sehingga mereka baru bisa melayani psikotes di sore hari atau harus janjian dulu. Selanjutnya, hasil tesnya selesai dalam 1 atau 2 hari. Cukup cepat dan saya tahu bahwa kebutuhan klien adalah hasil yang cepat karena itu dibutuhkan mereka untuk membuat keputusan. Ini yang saya dicela oleh pengurus ISPSI waktu saya dipanggil untuk disidang. Katanya nggak mungkin bisa selesai secepat itu. Saya bilang, saya diajarkan waktu kuliah, tes hari ini bikin laporannya juga hari ini. Kalau nunggu satu minggu baru selesai, saya mungkin sudah lupa dengan orang yang bersangkutan. Yang lebih hebat lagi, hasil tesnya itu saya kirimkan ke kantor klien saya. Saya merasa bahwa perusahaan saya adalah perusahaan jasa, oleh karena itu, service adalah hal yang penting.

Soal promosi, kebetulan saya dekat dengan media Jawa Pos, Liberty dan saya pernah bekerja di Suara Indonesia (group jawa pos). Saya nulis di sana, barter iklan. Saya mengisi kolom psikologi dan manajemen. Kliping tulisan saya masih ada semua. Memang saya tidak jadi ngetop seperti Hermawan Kertajaya, karena saya kemudian mau lebih low profile sebab waktu itu banyak psikolog senior yang kurang suka dengan kiprah saya.

Soal produk, bentuk laporan saya berbeda dengan kebanyakan laporan psikotes waktu itu yang cuma selembar atau dua lembar kertas. Bentuk laporan saya berupa buku. Idenya saya peroleh ketika ayah saya, almarhum Basuki Soejatmiko, konsultasi ke dokter jantung dan mendapat report hasil EKG-nya yang saya lihat kok bagus dan ingin saya terapkan di laporan psikologi saya. Hasilnya, dengan harga lebih murah, pelayanan lebih bagus, produk lebih bagus dan saya punya metode khusus untuk mengetahui potensi seseorang, maka setiap setahun, kira-kira pertambahan perusahaan klien saya sekitar 100 perusahaan. Jadi, setelah 17 tahun berdiri, klien saya leih dari 1500 perusahaan dan setiap hari ada saja perusahaan yang mengirim orang untuk psikotes.

Mengenai ijin praktek. Jujur saja, saya sudah mau pensiun dan lebih senang bermain-main internet serta mengurusi hobby nyeleneh saya, yakni UFO. Jadi, kalau memang UU yang ngurusi psikologi itu gol, saya pikir akan seperti apotek yang punya apoteker. Saya akan merekrut lulusan yang punya ijin praktek.

Sementara ini, selama UU belum ada, saya tidak bisa dianggap melanggar. Di Indonesia tidak ada kewajiban organisasi tunggal Dengan kata lain, bisa saja ada HIMPSI tandingan atau organisasi profesi psikologi lain. Dan itu tidak dilarang menurut undang-undang ke-ormas-an. Memang HIMPSI berusaha menggolkan undang undang itu. Dan kalau memang itu ada, ya saya akan patuh. Tapi saya yakin, sudah bertahun-tahun HIMPSI berusaha kearah sana. Bahkan mungkin bisa dianggap sudah belasan tahun. Namun masih saja tidak ada kepastian. Yang ada justru lulusan diombang-ambingkan. Kalau dulu perlu mengikuti program pendalaman psikodiagnostik, kemudian diubah mengikuti S1 plus, sekarang diubah menjadi S2 profesi.

Jadi, buat saya, saya mau pensiun saja. Tapi kalau memang perlu, saya tinggal mengubah biro saya menjadi sebuah lembaga konsultasi manajemen sumber daya manusia (bukan lembaga psikologi). Dan istilah yang saya pakai bukan lagi psikotes, tapi personal assessment. Direkturnya saya pasang saja istri saja yang magister manajemen. Yang tanda tangan buat laporan bisa saja dia, kan tidak menyalahi aturan. Bahwa klien-klien biro saya masih terus saja mengirimkan calon pegawai atau pegawainya ke tempat saya, baik untuk tes maupun konsultasi, tentu itu menunjukkan adanya level kepercayaan yang cukup baik.
(nur agustinus - 13 Maret 2007)

Temper tantrum

Temper tantrum atau biasa disebut tantrum adalah kondisi di mana anak mudah secara eksplosif marah sebab dia belum mampu mengendalikan emosinya. Temper tantrum bisa bermacam-macam bentuk, mulai dari merengek, menangis, berteriak-teriak, menendang, memukul atau menahan napas. Pada umumnya sama saja pada anak lelaki atau perempuan dan biasanya terjadi pada anak usia satu sampai enam tahun. Beberapa anak mungkin sering mengalami tantrum, ada pula yang hanya beberapa kali atau jarang. Sebenarnya, tantrum adalah cara anak batita melepaskan emosinya yang tidak bisa dikendalikannya. Jika kita menanggapinya dengan kemarahan atau cara-cara tidak tepat lainnya, dampaknya bisa merugikan anak.

Martina Rini S. Tasmin, SPsi. pernah menulis di e-psikologi.com bahwa tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Selanjutnya, Martina juga menjelaskan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.

Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.

Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.

Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua

Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Perlu dibedakan dengan tantrum manipulatif. Ini yang sering dikatakan sebagai perilaku enabling orang tua (dalam kasus anak Bapak adalah mengikuti keinginan anak) bisa berakibat buruk. Tantrum manipulatif dilakukan anak sebagai 'alat' untuk mencapai tujuan. Terhadap tantrum jenis ini, beberapa pakar menyarankan orang tua untuk mengabaikannya (artinya jangan enabling). Menurut mereka, cara ini mengisyaratkan kepada anak bahwa tantrumnya tak mempan dan ini adalah bagian dari pendisiplinan anak kecil. Berbeda dengan tantrum manipulatif, tantrum frustratif adalah tantrum yang dialami anak kala frustrasi. Anak batita frustrasi terutama karena tak bisa mengungkapkan perasaan. Maklumlah, kemampuan berkomunikasi mereka amat terbatas. Para pakar sering menyarankan orang tua menanggapi tantrum jenis ini dengan penuh empati.
(nur agustinus - 22 Maret 2007)

Atribusi dan kemungkinan kesalahannya

Apakah atribusi itu? Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Ada 2 golongan yang menjelaskan suatu perilaku, yaitu berasal dari orang yang bersangkutan (atribusi internal) dan yang berasal dari lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan (atribusi eksternal). Bagaimanapun, pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu dapat bersumber pada beberapa hal, salah satunya adalah "kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error)", yaitu kecenderungan untuk selalu memberi nilai internal.

Perlu dicatat juga, atribusi tidak sama dengan strereotipi. Banyak orang yang kurang paham soal atribusi, mengira bahwa hal ini sama dengan stereotipi atau prasangka. Tapi benar, bahwa stereotipi bisa mempengaruhi atribusi sehingga menjadi bias. Maka tak heran jika atribusi itu bisa menyebabkan kesalahpahaman.

Ada yang cukup penting dalam proses atribusi, yaitu kesan pertama. Apa maksudnya? Contohnya begini... pernahkah Anda merasa bahwa dosen atau guru Anda itu sepertinya pilih kasih? Dengan murid tertentu dia baik, tapi dengan murid tertentu lainnya, sepertinya justru cari kesalahannya? Para pimpinan perusahaan atau atasan juga sering melakukan seperti itu. Ini biasanya karena faktor kesan pertama.

Kesan pertama memang menentukan. Bisa menggoda, tapi yang pasti akan membekas. Kesan kedua tidak akan begitu diperhatikan. Nah, kalau misalnya ada murid/mahasiswa yang sejak awal memberi kesan baik, maka gurunya jika mencoba menerangkan perilaku anak didiknya itu, maka kalau semisal perilakunya untuk negatif, akan diatribusi eksternal, dan kalau perilakunya baik akan diatribusi internal. Contohnya apa? Misalnya kalau kesan pertama baik, maka misalnya si murid kemudian datang terlambat masuk kelas atau misalnya dapat nilai jelek, maka guru akan berpikir, "ah jangan-jangan di jalan macet" atau "mungkin ada masalah di keluarganya." Tapi, kalau seandainya kesan pertama guru itu kepada muridnya dalah negatif, maka dia akan berpikir sebaliknya, "ah dasar pemalas" atau "memang goblok". Jika kesan pertama kita negatif, maka atribusi akan dilakukan dalam bentuk internal atribusi (dasar si dia memang begitu dari sononya), dan kalau misalnya berperilaku positif, maka akan diatribusi eksternal (ah dia bisa naik pangkat cepat karena kawin dengan anaknya pimpinan).

Di sini, banyak orang malu menunjukkan prestasi karena khawatir dianggap sombong. Maka dia mengatribusi dirinya secara khusus. Misalnya kalau dia dapat prestasi, maka dia akan mengatakan bahwa itu karena dukungan atasan (atribusi eksternal) dan mengatakan dia sendiri adalah orang bodoh (atribusi internal). Mantan presiden RI dulu juga mengatakan bahwa dia mau menjadi presiden bukan karena kehendak dirinya tapi karena permintaan rakyat (atribusi eksternal). Menilai diri sendiri secara positif dengan atribusi internal bisa dianggap sombong.

Kadang, kita juga sering salah melakukan penilaian karena kesalahan atribusi ini. Itu wajar saja, tapi konsekuensinya, bisa terjadi salah paham karena kesalahan atribusi ini. Apalagi, jika ini kemudian dihubungkan dengan persepsi, di mana persepsi itu ada persepsi primer dan sekunder. Apa itu? Primer adalah persepsi kita, sementara sekunder adalah persepsi orang lain tentang kita. Dalam pengasuhan anak ini juga terjadi. Misalnya ketika kita membelikan mainan atau buku, maka persepsi kita anak bakal senang, namun apakah benar persepsi pada anak (sekunder) itu benar-benar senang? Belum tentu.

Manusia memang multi dimensional. Seringkali sulit ditebak. Bahkan suami istri yang hidup sudah puluhan tahunpun, kadang tidak mengenal baik pasangannya.
(nur agustinus - 30 Oktober 2008)

22 Apr 2009

Mengenang sahabatku, Wiranto Budisusetyo


Semula memang tidak ada rencana untuk menulis ini. Tadi pagi saya bangun dengan sebuah mimpi yang cukup aneh. Saya bermimpi tentang sahabat karib saya waktu SMA yang telah tiada. Dalam mimpi itu, saya sadar bahwa dia, Wiranto Budisusetyo, telah tiada. Saat itu saya merasa bahwa hari ini adalah ulang tahunnya. Padahal saya sama sekali tidak tahu atau ingat akan hari ulang tahunnya. Saya hanya mimpi seakan hari ini adalah hari ulang tahunnya dan saya datang ke rumahnya.

Ketika di rumahnya (rumah ini tidak mirip dengan rumah yang saya kenal sebagai rumahnya dulu), saya ditanya ingin bertemu siapa. Saya bingung menjawab apa, sebab saya tahu kalau Wiranto telah tiada. Saya jawab, "Saya hanya ingin bertamu saja." Tak lama kemudian, ada banyak orang keluar dari dalam ruangan, salah satunya ada ayahnya. Saya menyalaminya dan berbicara dengannya. Tak ingat apa yang dibicarakan.

Kelanjutan mimpi itu tidak jelas. Tapi hal itu mengusik perasaan saya. Mengapa saya memimpikannya? Sudah sangat lama saya tidak mengingat dia atau keluarganya. Mengapa tiba-tiba muncul dalam mimpi saya di pagi hari menjelang bangun tidur.

Wiranto satu SMA dengan saya. Ketika tahun 1983, kami bersama-sama memenangkan lomba karya ilmiah remaja yang diselenggarakan oleh LIPI-TVRI. Saya satu kelas di atasnya dan kami banyak bersama-sama ketika menyelenggarakan kelompok ilmiah remaja di SMAK Frateran Surabaya dulu.

Mimpi yang tidak biasanya ini membawa saya mencoba menelusuri dirinya lewat internet. Tak banyak situs tentang dirinya. Satu di arsip LIPI dan satu lagi dari tempat kuliahnya di Amerika dulu. Saya membaca namanya di sebuah jurnal yang diterbitkan tahun 2001. Saya cukup terkejut. Bukankah Wiranto sudah meninggal dunia tahun 1989 lalu? Mengapa ada jurnal terbitan tahun 2001 yang mencantumkan namanya sebagai salah satu penulisnya? Saya mencoba menghubungi alamat email penulis utamanya tadi pagi. Malam ini saya membaca jawaban darinya. Sebagai kenangan akan sahabatku, Wiranto, ijinkan saya menyampaikan email dari dosennya tersebut.

Nur agustinus - 29 Mei 2007



Dear Nur, (Memorial Day, May 28, 2007)

The Wiranto Budisusetyo whose name appeared on the paper was indeed your friend. He studied two years at the University of Minnesota where he took and fell in love with Organic Chemistry (not everybody's cup of tea). When he transferred to the Massachusetts College of Pharmacy and Health Sciences in the fall of 1986, he began to visit my office daily to talk about chemistry even though he wasn't taking a course with me. I was (and still am) the teacher of Organic here at the College. His personality and friendliness were so unusual that I soon had him helping me computerize my grades for the first time. By Christmas he had convinced me that I should buy an Apple computer, and then he served as a 24 hour a day phone consultant about how to operate the thing. (I'm still using Apple computers today).

Wiranto loved chemistry, he loved computers, and he loved to travel. On one trip home he visited Egypt and bought a gold pendant with his name in hieroglyphics. His father Rudsy visited Wiranto twice and we dined together on each occasion. He told me to look after his son.

But in the summer of 1988 a new love took hold of your friend, Wiranto-it was the love of flying. He began to take flying lessons. Because money was no object for him, he took the lessons rapidly, became an apprentice co-pilot on a small commercial (propeller-driven) airline which flew from Bedford Massachusetts to Albany New York. As soon as he earned a pilot's license (already in October), he rented a small aircraft and flew from Bedford to Maine and to Cape Cod on some weekends. He would call me and say
"Guess where I am?"

By the next spring he felt that he was very experienced as a pilot, but he had only been flying for 8 months. On March 25, 1989, the evening before Easter, he used his beautiful magnetic personality to induce three members of the college community to accompany him on a flight to Albany New York in a rented plane. One of the passengers was my graduate student, Kwabena Ansu, from Ghana. It was Kwabena's sister that the group was to visit for an Easter dinner the next day. The other two passengers were the registrar of the College and a mathematics teacher. The weather was really nasty and stormy during that Saturday, but by 5 PM is had calmed down in Bedford and the group (Wiranto the pilot) decided to fly. Apparently they misjudged the fuel and landed in Springfield Massachusetts after dark to try to purchase more-but they found the airport services were closed on a Saturday night with the lousy flying conditions. Unadvisedly, they took off again in the direction of Albany, but either through low fuel or low altitude they crashed into the woods of a state park on a windy mountainside (only about 1600 ft in altitude). I got a call in my home about 10 PM that night from the police. On Monday, I drove to Springfield where the bodies were taken, and I officially identified the Wiranto and Kwabena from the photographs of their dead bodies. Kwabena had a look of terror frozen on his face. Your friend Wiranto looked different in death, he looked as if he had experienced a great disappointment-he had let his friends down.

His father and mother came to Boston for his funeral, and his ashes were place in an urn and were spread by his sometimes girlfriend, Julie Irish (now Ph.D.) on the waters of the Boston harbor somewhere near the shore where the John F. Kennedy Memorial Library stands. His father gave me many mementos of Wiranto, and from that day until this, I have worn around my neck the hieroglyphic pendant and gold chain which he wore in the fatal crash.

I feel sad to have to bring you such news. But I am the only person outside his family who knows the complete story of what happened. Wiranto was an absolutely magnificent human being. The world lost a powerful force of good in this sad crash. I have not yet met another student so spontaneously generous and so enthusiastic about life as your dear friend.

I have one thing about which I feel guilty. That is that I have not contacted Wiranto's father about the existence of the publication from which you got my address. Do you have an email contact for him or for either of Wiranto's twin sisters? I would really like to send them a copy of the published manuscript.

Yours truly,
Charles J. Kelley

Bisnis, antara motivasi dan kompetisi


Umumnya orang mengatakan bahwa dengan mengetahui keinginan masyarakat, seorang pengusaha biasanya baru akan menentukan mau jualan apa di pasar tersebut. Menurut saya ini bisa menjadi bumerang. Sebaiknya usaha diawali dari passion yang dimiliki. Jadi, tentukan mau jualan apa dulu. Pengusaha yang hebat bisa bisnis apa saja dalam kondisi apapun.

Kenapa begitu?

Banyak orang berpendapat, melihat peluang pasar ada yang bagus, maka terjun ke sana. Tapi itu biasanya juga mengikuti falsafah "ada gula ada semut". Sekarang lagi rame apa, orang pada usaha itu. Kadang orang memilih bisnis tertentu karena merasa sedang booming, sementara dia tidak punya keahlian atau pengalaman di bidang itu. Pikirnya, itu bisa dilakukan dengan membayar orang yang ngerti.

Kalau saya agak berbeda. Pertama tentuin dulu kemampuan kita apa. Kelebihan dan kekurangan kita apa. Ini yang namanya analisa SWOT. Kita bisanya terjun di bisnis apa. Katakanlah bekal pendidikan kita adalah sarjana psikologi. Maka kita analisa, kemampuan kita sejauh mana. Kalau kita mau jadi juragan, apakah kita punya sebuah modal yang paling penting, yakni enterpreneurship.

Kalau sudah ditentukan, seandainya mau melakukan bisnis di daerah tertentu, maka lakukan analisa pasar. Lakukan segmentasi, penentuan target pasar dan posisi pasar (positioning). Jika ini dilakukan, maka berarti kemudian kita melakukan apa yang dinamakan marketing mix (bauran pasar). Sebenarnya kalau kita membahas marketing mix itu sudah saya ulas kemarin yaitu yang dikenal dengan 4P. http://en.wikipedia.org/wiki/Marketing_mix

Jika itu sudah dilakukan, baru mulai membuat atau menyusun rencana usaha. Memang hal-hal seperti ini tidak diajarkan di fakultas psikologi.

Penting juga untuk diingat bahwa marketing itu tidak sama dengan jualan. Mengapa orang membeli sebuah produk?

Secara umum ada dua sebab, yaitu dia butuh atau ingin. Kebutuhan dan keinginan ini berbeda. Manusia butuh makan, tapi saya kadang-kadang ingin makan kare kambing. Tapi, mengapa saya harus makan kare kambing Soponyono di Pusat Grosir Surabaya yang parkirnya adzubilah ruwetnya dan mesti naik tangga sampai 5 tingkat (pulang rumah pasti sudah lapar lagi), sementara kare kambing yang lain ada di mana-mana?

Bicara soal kebutuhan, itu ada teori psikologinya. Psikolog lulusan perguruan tinggi pasti kenal dengan teorinya Maslow atau Glasser. Tapi, marketing tidak bermain di ranah kebutuhan manusia, melainkan pada keinginan manusia. Jadi, ini juga tugasnya ahli perilaku manusia, yaitu memotivasi agar tumbuh keinginan untuk menggunakan produk yang kita jual.

Sebelum membuat usaha, kita perlu menentukan terlebih dahulu, kita mau jadi sebesar apa. Sebagai contoh begini. Kalau Anda misalnya mau jadi petinju, apa target yang hendak dicapai? Apakah ingin menjadi juara dunia? Apakah cuma sekedar ikut-ikutan jadi petinju? Dalam dunia bisnis ada 4 tipe perusahaan, yaitu:
1. Pemimpin pasar
2. Penantang
3. Pengikut
4. Pemain ceruk (niche)

Apakah semua perusahaan harus jadi pemimpin pasar? Tidak. Tidak semua orang berambisi menjadi best of the best. Contoh, kalau kita ditanya, siapa pemimpin pasar di bidang otomotif di Indonesia itu? Anda pasti bisa jawab. Lalu, siapa penantangnya? Apa ciri penantang? Penantang adalah perusahaan (atau bos) yang ingin menjadi pemimpin pasar. Ibarat saat ini sudah ada juara dunia, maka penantang adalah orang yang ingin merebut gelar juara dunia itu.

Kalau Mike Tyson jadi juara dunia tinju saat ini, dan Anda terjun dalam kancah pertarungan tinju, apakah Anda ingin melawan Mike Tyson? :-) Belum tentu. Bisa-bisa baru lima detik, kepala Anda sudah menghujam matras pertandingan.

Jadi, pertimbangkan dulu ambisi menjadi pemimpin pasar.

Mengenai pengikut pasar adalah para pemain yang ikut saja apa kata pasar, sementara pemain ceruk adalah pemain di tempat yang aman. Strategi paling jitu di tempat ceruk adalah gerilya.

Memang, ada orang yang ingin menjadi pemimpin pasar dengan mudah, yaitu masuk dan bermain di pasar yang belum ada pemainnya. Maka dia akan serta mereta menjadi pemimpin pasar di sana. Tapi, berhati-hatilah. ada gula ada semut. Anda sukses, banyak orang yang akan ikut meniru. Penantang baru akan muncul. Jika Anda kalah kuat, Anda bisa dilibas dengan sekali pukul.

Strategi seorang pemimpin adalah defence, bertahan. Sementara strategi seorang penantang adalah attack, menyerang. Walau ada juga yang berkata, strategi bertahan yang paling baik adalah menyerang, itu juga tidak salah.

Ada sebuah contoh kasus yang sering saya ceritakan saat saya menjadi dosen dulu, yakni persaingan antara dua media di jawa timur, yakni jawa pos dan surya di tahun 1990-an. Saat itu, Surya berambisi mengalahkan Jawa Pos. Sebagai kelompok Kompas/Gramedia, tentu sudah terbiasa bermain menjadi pemimpin. Melihat sebuah perusahaan yang sifatnya daerah seperti Jawa Pos, tentu orang-orang penting yang ada di sana menganggapnya ini bukan musuh yang patut ditakuti.

Saat itu, Jawa Pos terkenal dengan kekuatan penjaja koran di lampu-lampu setopan (traffic light). Surya berusaha merebut hati para loper koran ini dengan memberi kaos bertuliskan Surya. Namanya diberi, ya harus dipakai. Jadi, nama Surya akan serta merta menghiasi kota Surabaya. Sebuah taktik promosi yang bagus.

Tapi, apa yang dilakukan Jawa Pos? Apakah mereka menyuruh para lopernya mencopot kaos-kaos pemberian Surya itu? Ternyata tidak. Jawa Pos justru membuat rompi yang bertuliskan Jawa Pos. Para loper semakin bergaya dengan menggunakan rompi. Rompi ini sekaligus menutupi kaos Surya sehingga tulisannya tidak lagi kelihatan. Berapa duit yang dikeluarkan Surya untuk membuat kaos itu, hilang lenyap tidak ada manfaatnya.

Itu sekilas cerita persaingan bisnis.

Memang marketer yang baik adalah yang mampu menciptakan pasar. Kita tidak perlu melihat, masyarakat atau pasar ingin apa. Namun, buatlah masyarakat itu ingin atau bahkan butuh produk yang kita buat. Ambil contoh ketika pak Tirta membuat Aqua. Siapa yang pikir bahwa orang akan mau beli air minum dalam botol, yang harganya lebih mahal ketimbang bensin? Tapi ternyata ide itu berjalan. Masyarakat dari yang tidak ingin menjadi butuh, dan kalau tidak minum Aqua (atau sejenisnya) malah merasa sakit perut atau tidak sehat.

Itu semua, pikiran-pikiran gila seperti itu, muncul pada orang-orang yang punya potensi enterpreneurship. Saya tidak tahu, apa hal ini dilahirkan atau muncul dalam proses. Apakah nature atau nurture. Banyak teori atau bahasan soal ini.

Trauma kebakaran

Tadi saya bersama anak saya yang kecil, Tiko, melihat tayangan dvd tokoh Elmo, The Sesame Street, tentang pemadam kebakaran. Langsung pikiran saya teringat dengan hawa panas yang terjadi akhir-akhir ini. Di Los Angeles, gara-gara panas, berhektar-hektar hutan bisa terbakar. Kemudian saya teringat dengan pengalaman masa lalu saya.

Saya punya pengalaman pribadi tentang kebakaran. Di awal tahun 1995, saat itu saya sudah pindah rumah karena telah menikah, pagi-pagi ditelepon bahwa rumah di sebelah rumah ibu saya yang saya gunakan juga sebagai kantor perusahaan saya, terbakar hebat. Ibu saya menelpon saya dengan suara panik, mirip nadanya ketika saya ditelepon dulu waktu ayah saya meninggal dunia. Mendengar kabar itu, kelas langsung kaget dan segera meluncur ke kantor/rumah ibu saya yang jaraknya sekitar 14 km dari rumah saya.

Di kejauhan, ketika masih melewati jalan tol, sudah terlihat asap membumbung tinggi. Waduh, gimana ya keadaannya. Trus saja mobil saya pacu dan makin dekat ke lokasi, makin ramai dan jalan sudah ditutup. Saya mencoba masuk lewat jalan lain, parkir agak jauh dan jalan kaki menuju ke kantor.

Sebelah kantor saya (rumah ibu saya) adalah sebuah tempat percetakan. Banyak kertas-kertas di sana dan rumahnya panjang ke belakang sehingga menyulitkan untuk pemadaman. Model rumahnya adalah bekas rumah Belanda yang kuno dan kokoh. Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kebakaran melalui kantor saya. Lokasi kantor saya adalah rumah sudut. Bekas kamar yang saya tinggali semasa bujang, terbuat dari triplek dan seng di lantai dua dan posisinya bersebelahan dengan rumah tetangga yang terbakar. Petugas kebakaran masuk lewat kamar saya itu dan mendobrak dinding tripleknya serta melakukan pembahasan ke rumah tetangga yang sedang terbakar hebat. Saya ikut masuk menyaksikan sembari mencoba mengamankan barang-barang yang bisa diungsikan.

Api terlihat menjilat-jilat tinggi. Kondisi rumah saya dan tetangga itu mirip sebuah rumah susun. Dari luar kelihatan ada dua tingkat, tapi tingkat yang atas bukan tempat saya yang mendiami. Ada banyak keluarga yang berada di rumah besar itu. Semacam kotak-kotak, di mana saya menempati sudut kiri yang bawah.

Rumah tetangga yang terbakar memang ada tangga untuk menuju ke lantai dua, tempat keluarga lain tingga. Api membesar dari bawah dan menyebar ke atas. Jadi seperti huruf "T", di mana tetangga saya kebakaran, namun rumah kiri dan kanan yang lantai 1 aman tidak kena imbas kebakaran, namun seluruh bagian atas hangus dilalap api. Rumah ibu saya atau kantor saya secara ajaib, luput dari kebakaran. Tidak ada kerugian material bangunan yang berarti. Seluruh barang tak ada yang terbakar. Yang hilang kalau tidak salah Cuma sebuah radio, ketika diungsikan ke rumah tetangga lain, waktu kembali sudah tidak ada. Entah terselip di mana. Sebagian buku dan dokumen saya memang rusak kena air, tapi secara umum masih utuh.


Api memang padam hari itu, tetapi di tumpukan bekas kebakaran, mudah sekali api muncul kembali. Saya, dengan teman dan keluarga saya, bergantian menjaga dan kalau terlihat ada barang yang membara dan mengeluarkan api, segera menyiram air kembali. Rumah tetangga memang bisa terlihat bebas dari loteng rumah saya karena bagian belakangnya yang dulunya hanya atap seng, sudah tidak ada lagi karena kebakaran.

Namun dampak kebakaran bukan hanya itu saja. Listrik diputus kabelnya dari tiangnya sehingga selama beberapa minggu tidak ada aliran listrik. Padahal kegiatan usaha mau tidak mau harus terus berlangsung. Sempat saya pindahkan ke lokasi lain, namun akhirnya membeli sebuah mesin genset untuk mengatasi hal itu.

Namun dampak yang terberat justru adalah dampak psikologi, berupa trauma. Saya pikir saya bukan orang yang mudah trauma, tapi ternyata saya baru menyadari bagaimana sebuah alam bawah sadar bekerja.

Sudah berhari-hari lewat, berminggu-minggu, tapi kalau saya tidur, saya memang pakai AC dan ada sebuah stop kontak yang punya lampu indikator warnanya merah. Sering saya terbangun dan berteriak, api-api sambil menunjuk ke cahaya lampu merah di kamar saya yang gelap itu. Itu terjadi beberapa kali. Padahal, kalau sehari-hari, saya tidak merasa trauma. Saya tidak takut dengan api atau kebakaran, tapi saya jadi berpikir, mengapa ketika saya tidur, saya bisa "melihat" lampu indikator merah itu dan kemudian berteriak seakan panik akan adanya bahaya kebakaran.

Ya, sekarang saya sudah tidak lagi mengalami seperti itu. Tidak sampai beberapa bulan saya sudah santai kembali dan tidak terganggu. Mungkin karena sebelum tidur malah saya pandangi lampu merah itu dan seakan menantangnya. "Awas kalau kamu ganggu tidurku lagi." :-)

Ya, begitu kira-kira cerita trauma kebakaran. Memberi pemahaman baru tentang alam bawah sadar, meski saya tidak tahu secara pasti...bagaimana cara kerjanya.
(nur agustinus - 5 Nopember 2008)

Bad Sex vs Good Sex

Menyikapi disahkannya UU Pornografi, saya melakukan sedikit penambahan pada deskripsi milis psikologi ini dengan kalimat: "Milis Psikologi ini bertujuan sebagai milis pendidikan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi (pikiran dan perilaku manusia)." Tujuannya adalah agar jika seandainya ada pembahasan yang bertemakan seksualitas, maka hal itu tidak melanggar UU Pornografi karena dilakukan dalam koridor pendidikan dan/atau pengembangan keilmuan. 

Saya sendiri beberapa waktu lalu ditugaskan oleh LSM GAYa Nusantara untuk menjadi Direktur Program Kursus Gender dan Seksualitas. Dengan maraknya dunia seksualitas di masyarakat Indonesia, mulai dari yang poligami, homoseksualitas, pedofilia, perselingkuhan, dan lain-lain, sampai lahirnya UU Pornografi, masalah seksualitas perlu diedukasi dengan baik. Banyak orang yang tidak paham soal seksualitas karena selama ini selalu berusaha untuk ditutup-tutupi, dianggap vulgar, tabu dan dihindari dalam pembicaraan terbuka. Namun, orang sering kemudian membicarakan secara bisik-bisik dengan pengetahuan yang belum tentu benar. Untuk itu, dalam kesempatan ini, saya tertarik untuk menyampaikan sebuah pandangan yang disebut sebagai Queer Theory. 

Kalau kita bicara seksualitas, maka hal yang satu ini tidak lepas dari hegemoni yang ada di masyarakat. Hegemoni itu sendiri bisa berasal dari berbagai pihak, misalnya negara, agama, budaya, media bahkan ilmu pengetahuan. Seringkali ada tarik menarik atau bahkan persaingan di antara hegemoni ini. Ambil contoh kasus, homoseksualitas tidak dinyatakan sebagai kelainan atau gangguan dari sisi ilmu pengetahuan, khususnya psikiatri dan psikologi, namun dari sisi agama masih dianggap sebagai hal yang buruk. Kalau kita cermati apa yang terjadi di masyarakat, maka pandangan masyarakat pada umumnya bisa dibedakan antara pandangan akan seksualitas yang baik (good sex) dan seksualitas yang buruk (bad sex). 

Sebagai contoh, ketika ada seorang berusia dewasa menikahi seorang anak kecil berusia belum 15 tahun, dalam pandangan masyarakat secara umum, hal itu akan dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Tapi tidak itu saja, seorang perempuan yang sudah tua, katakanlah yang berusia 60 tahun, kemudian ingin menikah dengan seorang pria muda berusia 20 tahun, maka masyarakat bisa heboh dan menggunjingkannya siang dan malam. Apalagi kalau mereka adalah selebriti. "Good sex" dan "bad sex" mewarnai kehidupan kita. Budaya kita mau tidak mau terpengaruh secara global dengan budaya-budaya serta aturan-aturan yang ada di tempat lain. Misalnya saja, bagaimana pandangan kita terhadap poligami? Baik atau buruk? Maka kita secara umum, kebanyakan akan menganggap yang baik itu adalah monogami. 

Tentu kita punya segudang alasan bahwa monogami itu adalah baik, misalnya demi perkembangan anak, demi kesejahteraan istri, dan lain sebagainya. Sebelum lebih jauh, mari kita coba telusuri, apa saja yang dianggap sebagai "good sex" dan "bad sex". Menurut Gayle S Rubin yang mengemukakan Queer Theory dalam esainya yang berjudul "Thinking Sex: Notes for a Radical Theory of the Politics of Sexuality", mengatakan bahwa masyarakat memandang yang termasuk seks yang baik, normal, sehat dan suci itu adalah: monogami, menikah, heteroseksual, natural, reproduksi, di rumah, sebaya (sepantaran usianya). Kita tentu sudah paham akan arti monogami. Kita hanya punya satu orang sebagai pasangan kita. Hubungan seksual yang baik dalam pandangan "good sex" adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan (heteroseksual) dan sudah menikah. Apa arti menikah? Tentu ini bisa berbeda-beda sudut pandangnya, sebab di budaya kita ada yang disebut sebagai kawin secara resmi dan menikah di bawah tangan (kawin siri). Namun secara prinsip, menikah umumnya dalam budaya kita adalah diketahui oleh kedua belah pihak keluarga. Seks yang dilakukan pra marital (sebelum nikah) atau extra marital (di luar nikah seperti peselingkuhan) akan dianggap buruk. Demikian juga seks yang dilakukan dengan orang lain di tempat pelacuran atau bertemu dengan seseorang di sebuah tempat yang kemudian menjadi sebuah acara "one night stand" yang boleh jadi tak terlupakan seumur hidup seperti di film "Before Sunset". 

Lalu, apa yang dimaksud dengan natural? Alami adalah sebuah hubungan seksual yang tanpa alat atau tanpa bantuan lainnya. Alat kelamin laki-laki bertemu dengan alat kelamin perempuan. Penis melakukan penetrasi ke dalam vagina. Itu adalah yang dianggap natural. Jadi, kalau misalnya ada alat kelamin yang kemudian bertemu dengan organ lain, misalnya mulut, anus, atau lainnya, itu dianggap tidak natural. Oral atau anal dianggap sebagai "bad sex". Selain itu, yang dianggap natural juga tanpa menggunakan alat bantu, misalnya tidak boleh ada yang namanya sex toys, dildo, cambuk, borgol atau barang-barang lain yang membangkitkan gairah, termasuk film-film atau gambar pornografi. Sex harus berlangsung secara natural, itu yang dianggap baik. 

Reproduksi adalah bertujuan untuk menghasilkan keturunan. Sebenarnya ada satu tujuan lagi dari sebuah hubungan seksual, yaitu rekreasi. Rekreasi ini sering diabaikan karena dianggap hanya mencari kenikmatan semata. Kenikmatan bahkan bisa ditabukan atau tidak dipedulikan, sehingga banyak juga perempuan yang barangkali seumur hidupnya tidak pernah mengalami orgasme karena pasangannya tidak peduli atau tidak paham dengan faktor rekreasi dari istrinya. 

Kemudian, yang juga dianggap baik adalah jika itu dilakukan di rumah, tentunya di kamar tidur dan di atas ranjang. Walau boleh-boleh saja melakukan di dapur atau di kamar mandi, namun di kamar tidur di rumah adalah tempat yang dianggap "baik". Sehingga, hubungan seksualitas yang dilakukan di taman, di pantai, di dalam gedung bioskop, di dalam mobil, atau di atas motor, bahkan mungkin di hotel, akan dianggap sebagai tindakan yang tidak baik. Yang terakhir, hubungan yang baik adalah hubungan yang usianya kira-kira sebaya. Dunia artis kita pernah cukup heboh ketika (alm) Suzanna menikahi Clift Sangra. Suzanna saat itu berusia 41 tahun dan Clift berusia 21 tahun, dengan beda usia 20 tahun di mana laki-laki jauh lebih muda. Masyarakat sontak terkejut waktu itu namun Suzanna jalan terus. Demikian juga ketika seorang pejabat penting negara yang saat berusia 50 tahun, menikah lagi dengan seorang perempuan berusia 20 tahun. Nampaknya masyarakat sudah tidak begitu mempersoalkan hubungan yang beda usianya sangat jauh. Entah apa karena masyarakat sudah biasa, atau karena yang melakukannya adalah seorang pejabat penting. Tapi kita tersontak kaget kembali dengan hadirnya sosok Pujiono, 43, yang menikahi perempuan berusia 12 tahun. Memang mulai terjadi pergeseran antara apa yang dianggap "good sex" dan "bad sex". 

Dalam ilmu psikologi sosial, ada teori yang mengatakan, jika di dalam kelompok atau keluarga ada yang sudah melakukan hal yang dianggap kurang baik (misalnya ada yang bercerai), maka jika kemudian terjadi perceraian lagi di dalam kelompok itu, maka makin banyak akan dianggap makin biasa dan tidak dipersoalkan. Tapi jika itu masih merupakan kasus pertama, misalnya pacaran dengan orang asing, maka boleh jadi yang bersangkutan akan butuh upaya ekstra untuk memperjuangkan kebahagiaannya atau akhirnya menyerah pada aturan keluarga. Melakukan sesuatu yang dianggap "bad sex" bisa mempengaruhi perjalanan hidup. Karier mungkin terhambat, bisnis bisa macet. Tak jarang orang akhirnya dipecat karena misalnya dia ternyata homoseksual atau melakukan poligami. AA Gym yang menikah lagi, nampaknya juga mengalami hal serupa, beberapa bisnisnya mengalami kemunduran. Hal itu yang kemudian menyebabkan orang tidak berani terbuka dengan kehidupan seksualitasnya. Kawin lagi secara diam-diam atau pura-pura menggandeng atau bahkan menikahi seorang perempuan padahal dirinya adalah gay. Tentunya, baik dan buruk itu adalah sebuah penilaian, di mana hal ini tidak bisa dianggap bahwa akan berlaku selamanya. Penilaian bisa berubah dan apa yang dulu dianggap baik, bisa kemudian dianggap buruk. Perempuan Bali di masa lalu adalah wajar jika bertelanjang dada, namun sekarang tidak lagi. Kalau di masa kini di Indonesia, berciuman di tempat umum akan dianggap tidak bermoral dan sering dikatakan, "seperti tidak ada tempat saja", maka belum tentu hal yang sama juga berlaku di masa depan. 

Kadang kita merasa harus menjaga yang dianggap baik itu tetap baik selamanya. Ketakutan itu seringkali akhirnya harus diwujudkan dalam sebuah bentuk peraturan yang punya konsekuensi hukuman jika dilanggar. Memang, dengan semangat agar tidak terjadinya kemerosotan moral, ada upaya untuk membuat urusan seksual ini dari "semua diperbolehkan kecuali yang dilarang" menjadi "semua dilarang kecuali yang diperbolehkan". Rhoma Irama juga pernah bernyanyi "Kenapa semua yang enak-enak itu diharamkan? Kenapa semua yang asyik-asyik itu yang dilarang?" Katanya itu adalah "perangkap syetan." Maka tak heran pula jika kemudian Rhoma Irama mengharamkan goyangan Inul dan Anisa. 

Akhir kata, ini bukan soal baik atau buruk. Ini adalah soal pilihan. Masalah seksualitas harusnya adalah masalah privat, namun negara, agama bahkan orang lain termasuk orangtua dan keluarga, ingin masuk ke kamar tidur kita, mengaturnya dan mengendalikannya. Bahkan bukan hanya itu, mereka juga ingin mengendalikan tubuh kita, bagaimana kita bergoyang, bagaimana kita berbusana, bagaimana kita berperilaku. Oleh karena itu, apapun yang kita lakukan, selama kita yakin bahwa itu benar, maka banggalah dengan seksualitas yang Anda miliki. Be proud of your sexuality! It's a part of you. (nur agustinus - 1 Nopember 2008)

Popular Posts