Temper tantrum

Temper tantrum atau biasa disebut tantrum adalah kondisi di mana anak mudah secara eksplosif marah sebab dia belum mampu mengendalikan emosinya. Temper tantrum bisa bermacam-macam bentuk, mulai dari merengek, menangis, berteriak-teriak, menendang, memukul atau menahan napas. Pada umumnya sama saja pada anak lelaki atau perempuan dan biasanya terjadi pada anak usia satu sampai enam tahun. Beberapa anak mungkin sering mengalami tantrum, ada pula yang hanya beberapa kali atau jarang. Sebenarnya, tantrum adalah cara anak batita melepaskan emosinya yang tidak bisa dikendalikannya. Jika kita menanggapinya dengan kemarahan atau cara-cara tidak tepat lainnya, dampaknya bisa merugikan anak.

Martina Rini S. Tasmin, SPsi. pernah menulis di e-psikologi.com bahwa tantrum biasanya terjadi pada anak yang aktif dengan energi berlimpah. Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap "sulit", dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
2. Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
3. Lambat beradaptasi terhadap perubahan.
4. Moodnya (suasana hati) lebih sering negatif.
5. Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/kesal.
6. Sulit dialihkan perhatiannya.

Selanjutnya, Martina juga menjelaskan tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.

Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan, seperti pada contoh kasus di awal.

2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri.

Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.

3. Tidak terpenuhinya kebutuhan.

Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum. Contoh lain: anak butuh kesempatan untuk mencoba kemampuan baru yang dimilikinya. Misalnya anak umur 3 tahun yang ingin mencoba makan sendiri, atau umur anak 4 tahun ingin mengambilkan minum yang memakai wadah gelas kaca, tapi tidak diperbolehkan oleh orangtua atau pengasuh. Maka untuk melampiaskan rasa marah atau kesal karena tidak diperbolehkan, ia memakai cara Tantrum agar diperbolehkan.

4. Pola asuh orangtua

Cara orangtua mengasuh anak juga berperan untuk menyebabkan Tantrum. Anak yang terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan, bisa Tantrum ketika suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh orangtuanya, sekali waktu anak bisa jadi bereaksi menentang dominasi orangtua dengan perilaku Tantrum. Orangtua yang mengasuh secara tidak konsisten juga bisa menyebabkan anak Tantrum. Misalnya, orangtua yang tidak punya pola jelas kapan ingin melarang kapan ingin mengizinkan anak berbuat sesuatu dan orangtua yang seringkali mengancam untuk menghukum tapi tidak pernah menghukum. Anak akan dibingungkan oleh orangtua dan menjadi Tantrum ketika orangtua benar-benar menghukum. Atau pada ayah-ibu yang tidak sependapat satu sama lain, yang satu memperbolehkan anak, yang lain melarang. Anak bisa jadi akan tantrum agar mendapatkan keinginannya dan persetujuan dari kedua orangtua.

5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.

6. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Perlu dibedakan dengan tantrum manipulatif. Ini yang sering dikatakan sebagai perilaku enabling orang tua (dalam kasus anak Bapak adalah mengikuti keinginan anak) bisa berakibat buruk. Tantrum manipulatif dilakukan anak sebagai 'alat' untuk mencapai tujuan. Terhadap tantrum jenis ini, beberapa pakar menyarankan orang tua untuk mengabaikannya (artinya jangan enabling). Menurut mereka, cara ini mengisyaratkan kepada anak bahwa tantrumnya tak mempan dan ini adalah bagian dari pendisiplinan anak kecil. Berbeda dengan tantrum manipulatif, tantrum frustratif adalah tantrum yang dialami anak kala frustrasi. Anak batita frustrasi terutama karena tak bisa mengungkapkan perasaan. Maklumlah, kemampuan berkomunikasi mereka amat terbatas. Para pakar sering menyarankan orang tua menanggapi tantrum jenis ini dengan penuh empati.
(nur agustinus - 22 Maret 2007)

0 Komentar:

Posting Komentar