Atribusi dan kemungkinan kesalahannya

Apakah atribusi itu? Atribusi adalah memperkirakan apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Ada 2 golongan yang menjelaskan suatu perilaku, yaitu berasal dari orang yang bersangkutan (atribusi internal) dan yang berasal dari lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan (atribusi eksternal). Bagaimanapun, pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu dapat bersumber pada beberapa hal, salah satunya adalah "kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error)", yaitu kecenderungan untuk selalu memberi nilai internal.

Perlu dicatat juga, atribusi tidak sama dengan strereotipi. Banyak orang yang kurang paham soal atribusi, mengira bahwa hal ini sama dengan stereotipi atau prasangka. Tapi benar, bahwa stereotipi bisa mempengaruhi atribusi sehingga menjadi bias. Maka tak heran jika atribusi itu bisa menyebabkan kesalahpahaman.

Ada yang cukup penting dalam proses atribusi, yaitu kesan pertama. Apa maksudnya? Contohnya begini... pernahkah Anda merasa bahwa dosen atau guru Anda itu sepertinya pilih kasih? Dengan murid tertentu dia baik, tapi dengan murid tertentu lainnya, sepertinya justru cari kesalahannya? Para pimpinan perusahaan atau atasan juga sering melakukan seperti itu. Ini biasanya karena faktor kesan pertama.

Kesan pertama memang menentukan. Bisa menggoda, tapi yang pasti akan membekas. Kesan kedua tidak akan begitu diperhatikan. Nah, kalau misalnya ada murid/mahasiswa yang sejak awal memberi kesan baik, maka gurunya jika mencoba menerangkan perilaku anak didiknya itu, maka kalau semisal perilakunya untuk negatif, akan diatribusi eksternal, dan kalau perilakunya baik akan diatribusi internal. Contohnya apa? Misalnya kalau kesan pertama baik, maka misalnya si murid kemudian datang terlambat masuk kelas atau misalnya dapat nilai jelek, maka guru akan berpikir, "ah jangan-jangan di jalan macet" atau "mungkin ada masalah di keluarganya." Tapi, kalau seandainya kesan pertama guru itu kepada muridnya dalah negatif, maka dia akan berpikir sebaliknya, "ah dasar pemalas" atau "memang goblok". Jika kesan pertama kita negatif, maka atribusi akan dilakukan dalam bentuk internal atribusi (dasar si dia memang begitu dari sononya), dan kalau misalnya berperilaku positif, maka akan diatribusi eksternal (ah dia bisa naik pangkat cepat karena kawin dengan anaknya pimpinan).

Di sini, banyak orang malu menunjukkan prestasi karena khawatir dianggap sombong. Maka dia mengatribusi dirinya secara khusus. Misalnya kalau dia dapat prestasi, maka dia akan mengatakan bahwa itu karena dukungan atasan (atribusi eksternal) dan mengatakan dia sendiri adalah orang bodoh (atribusi internal). Mantan presiden RI dulu juga mengatakan bahwa dia mau menjadi presiden bukan karena kehendak dirinya tapi karena permintaan rakyat (atribusi eksternal). Menilai diri sendiri secara positif dengan atribusi internal bisa dianggap sombong.

Kadang, kita juga sering salah melakukan penilaian karena kesalahan atribusi ini. Itu wajar saja, tapi konsekuensinya, bisa terjadi salah paham karena kesalahan atribusi ini. Apalagi, jika ini kemudian dihubungkan dengan persepsi, di mana persepsi itu ada persepsi primer dan sekunder. Apa itu? Primer adalah persepsi kita, sementara sekunder adalah persepsi orang lain tentang kita. Dalam pengasuhan anak ini juga terjadi. Misalnya ketika kita membelikan mainan atau buku, maka persepsi kita anak bakal senang, namun apakah benar persepsi pada anak (sekunder) itu benar-benar senang? Belum tentu.

Manusia memang multi dimensional. Seringkali sulit ditebak. Bahkan suami istri yang hidup sudah puluhan tahunpun, kadang tidak mengenal baik pasangannya.
(nur agustinus - 30 Oktober 2008)

0 Komentar:

Posting Komentar