Trauma kebakaran

Tadi saya bersama anak saya yang kecil, Tiko, melihat tayangan dvd tokoh Elmo, The Sesame Street, tentang pemadam kebakaran. Langsung pikiran saya teringat dengan hawa panas yang terjadi akhir-akhir ini. Di Los Angeles, gara-gara panas, berhektar-hektar hutan bisa terbakar. Kemudian saya teringat dengan pengalaman masa lalu saya.

Saya punya pengalaman pribadi tentang kebakaran. Di awal tahun 1995, saat itu saya sudah pindah rumah karena telah menikah, pagi-pagi ditelepon bahwa rumah di sebelah rumah ibu saya yang saya gunakan juga sebagai kantor perusahaan saya, terbakar hebat. Ibu saya menelpon saya dengan suara panik, mirip nadanya ketika saya ditelepon dulu waktu ayah saya meninggal dunia. Mendengar kabar itu, kelas langsung kaget dan segera meluncur ke kantor/rumah ibu saya yang jaraknya sekitar 14 km dari rumah saya.

Di kejauhan, ketika masih melewati jalan tol, sudah terlihat asap membumbung tinggi. Waduh, gimana ya keadaannya. Trus saja mobil saya pacu dan makin dekat ke lokasi, makin ramai dan jalan sudah ditutup. Saya mencoba masuk lewat jalan lain, parkir agak jauh dan jalan kaki menuju ke kantor.

Sebelah kantor saya (rumah ibu saya) adalah sebuah tempat percetakan. Banyak kertas-kertas di sana dan rumahnya panjang ke belakang sehingga menyulitkan untuk pemadaman. Model rumahnya adalah bekas rumah Belanda yang kuno dan kokoh. Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kebakaran melalui kantor saya. Lokasi kantor saya adalah rumah sudut. Bekas kamar yang saya tinggali semasa bujang, terbuat dari triplek dan seng di lantai dua dan posisinya bersebelahan dengan rumah tetangga yang terbakar. Petugas kebakaran masuk lewat kamar saya itu dan mendobrak dinding tripleknya serta melakukan pembahasan ke rumah tetangga yang sedang terbakar hebat. Saya ikut masuk menyaksikan sembari mencoba mengamankan barang-barang yang bisa diungsikan.

Api terlihat menjilat-jilat tinggi. Kondisi rumah saya dan tetangga itu mirip sebuah rumah susun. Dari luar kelihatan ada dua tingkat, tapi tingkat yang atas bukan tempat saya yang mendiami. Ada banyak keluarga yang berada di rumah besar itu. Semacam kotak-kotak, di mana saya menempati sudut kiri yang bawah.

Rumah tetangga yang terbakar memang ada tangga untuk menuju ke lantai dua, tempat keluarga lain tingga. Api membesar dari bawah dan menyebar ke atas. Jadi seperti huruf "T", di mana tetangga saya kebakaran, namun rumah kiri dan kanan yang lantai 1 aman tidak kena imbas kebakaran, namun seluruh bagian atas hangus dilalap api. Rumah ibu saya atau kantor saya secara ajaib, luput dari kebakaran. Tidak ada kerugian material bangunan yang berarti. Seluruh barang tak ada yang terbakar. Yang hilang kalau tidak salah Cuma sebuah radio, ketika diungsikan ke rumah tetangga lain, waktu kembali sudah tidak ada. Entah terselip di mana. Sebagian buku dan dokumen saya memang rusak kena air, tapi secara umum masih utuh.


Api memang padam hari itu, tetapi di tumpukan bekas kebakaran, mudah sekali api muncul kembali. Saya, dengan teman dan keluarga saya, bergantian menjaga dan kalau terlihat ada barang yang membara dan mengeluarkan api, segera menyiram air kembali. Rumah tetangga memang bisa terlihat bebas dari loteng rumah saya karena bagian belakangnya yang dulunya hanya atap seng, sudah tidak ada lagi karena kebakaran.

Namun dampak kebakaran bukan hanya itu saja. Listrik diputus kabelnya dari tiangnya sehingga selama beberapa minggu tidak ada aliran listrik. Padahal kegiatan usaha mau tidak mau harus terus berlangsung. Sempat saya pindahkan ke lokasi lain, namun akhirnya membeli sebuah mesin genset untuk mengatasi hal itu.

Namun dampak yang terberat justru adalah dampak psikologi, berupa trauma. Saya pikir saya bukan orang yang mudah trauma, tapi ternyata saya baru menyadari bagaimana sebuah alam bawah sadar bekerja.

Sudah berhari-hari lewat, berminggu-minggu, tapi kalau saya tidur, saya memang pakai AC dan ada sebuah stop kontak yang punya lampu indikator warnanya merah. Sering saya terbangun dan berteriak, api-api sambil menunjuk ke cahaya lampu merah di kamar saya yang gelap itu. Itu terjadi beberapa kali. Padahal, kalau sehari-hari, saya tidak merasa trauma. Saya tidak takut dengan api atau kebakaran, tapi saya jadi berpikir, mengapa ketika saya tidur, saya bisa "melihat" lampu indikator merah itu dan kemudian berteriak seakan panik akan adanya bahaya kebakaran.

Ya, sekarang saya sudah tidak lagi mengalami seperti itu. Tidak sampai beberapa bulan saya sudah santai kembali dan tidak terganggu. Mungkin karena sebelum tidur malah saya pandangi lampu merah itu dan seakan menantangnya. "Awas kalau kamu ganggu tidurku lagi." :-)

Ya, begitu kira-kira cerita trauma kebakaran. Memberi pemahaman baru tentang alam bawah sadar, meski saya tidak tahu secara pasti...bagaimana cara kerjanya.
(nur agustinus - 5 Nopember 2008)

0 Komentar:

Posting Komentar