11 Mei 2013

Mengapa mencintai pekerjaan itu penting?


Oleh: Nur Agustinus

Ada cukup banyak pegawai yang datang ke kantor dengan wajah kurang berseri-seri. Pekerjaan yang dilakukannya dirasakannya sebagai suatu beban. Dari tingkah lakunya, dapat dilihat bahwa ia mengalami stres. Namun belum tentu pekerjaannya tidak beres. Orang-orang ini akan tampak selalu lelah, karena secara psikis mereka harus bekerja dengan energi yang jauh lebih besar. Apa yang terjadi sesungguhnya?

Ada suatu kesan yang biasanya diberikan oleh orang tua kepada anaknya yang hendak masuk ke tempat pekerjaannya yang baru: "Jadilah orang yang jujur, bekerjalah sebaik mungkin dan cintailah pekerjaanmu". Dalam nasihat ini sebenarnya terkandung tiga pesan utama ini: integritas, kompeten dan konsisten. Memang sulit sekali menjadi loyal bila ia tidak jujur, baik jujur terhadap orang lain maupun terhadap dirinya sendiri. Dan orang juga tidak mungkin dapat konsisten dalam bekerja bila ia tidak mencintai apa yang ia kerjakan.

Seseorang hanya dapat berhasil dalam pekerjaannya bila ia punya beberapa dasar yang kuat, antara lain adalah: Ketekunan, motivasi dalam bekerja, minat terhadap pekerjaan serta bakat yang dimiliki apakah menunjang atau tidak. Tanpa ketekunan, sesuatu pekerjaan akan dilakukan dengan tergesa-gesa dan sembrono. Tanpa minat, seseorang akan terlihat ogah-ogahan. Tanpa bakat, seorang pekerja akan selalu melakukan kesalahan dan canggung dalam melakukan tugasnya. Di sinilah letak fungsi dari seleksi yang dilakukan pada awal penerimaan karyawan. Apabila karyawan diterima tanpa melalui prosedur seleksi yang ketat dengan psikotes serta tes kemampuan pekerjaan, maka kita bisa menerima orang yang salah.


Seseorang memang bisa saja bekerja untuk tujuan mencari uang semata-mata, sehingga mengabaikan perasaan dan kepuasan kerjanya. Ia bisa bekerja dengan mengacuhkan segala suasana, datang selalu tepat waktu, pekerjaan selalu beres, tetapi ada satu hal yang pasti, ia tidak akan berprestasi lebih. Kariernya juga tidak akan pernah meningkat. Hal ini disebabkan, sebenarnya ia bukan "the right person in the right place".

Begitu banyak manusia yang menjadi korban dari pekerjaannya sendiri. Boleh dibilang ia sudah tidak betah dan setiap hari tubuhnya digerogoti oleh stres. Namun untuk sampai pada keputusan berhenti kerja, ia tak berani. Mereka tidak berani mengambil keputusan untuk menjadi penganggur. Hal ini sangat beralasan, karena keluarga mereka juga butuh makan. Sambil mencoba memasukkan surat lamaran ke sana kemari, baru bila ada panggilan yang dirasakan cocok, ia kemudian pindah kerja.

Padahal, bila ia bisa menerima kenyataan hidup sementara sebagai penganggur, mungkin sekali hidupnya bisa lebih bahagia. Tidak dalam keadaan tertekan dan sementara menganggur, ia mungkin bisa mengisi waktunya untuk kegiatan hobi atau mengikuti kursus. Bahkan mungkin bisa mencari penghasilan tambahan melalui menulis artikel, memperantarakan penjualan rumah, menjadi broker dan sebagainya. Selain itu, masa menganggur adalah waktu yang sangat tepat bila digunakan untuk evaluasi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ada sebuah sajak yang menarik sekali tentang hal ini yang menggambarkan keadaan seseorang dalam bekerja:



Jika kamu tidak menyukai pekerjaanmu,
Kamu akan membutuhkan tiga kali tenaga!
Untuk mendorong dirimu untuk bekerja,
untuk menahan segala ketegangan,
dan akhirnya bekerja susah payah.

Jika kamu mencintai pekerjaanmu,
Hasratmu besar untuk mengerjakannya.
Ibarat seperti angin berhembus,
mendorong dan mempercepat laju kapal,
tanpa harus banyak mengeluarkan tenaga.

Jika kamu menyukai pekerjaanmu,
Kamu bekerja tanpa habis-habisnya.
Akan bekerja, apabila kamu menyukainya.
Tetapi cobalah untuk menikmatinya.

Jika kamu menikmati pekerjaamu,
kamu akan bekerja dan bekerja.
Tanpa memperhatikan jam lagi
dan kamu akan peroleh dan nikmati,
lebih banyak hasil dari sebelumnya.


Namun ternyata tak selamanya bila orang menikmati pekerjaannya itu baik. Biasanya keluarga yang akan mendapatkan masalah. Tak heran, bila ada orang yang terlalu menikmati pekerjaannya, ia bisa lupa waktu. Baginya pekerjaan boleh dibilang yang paling utama. Bahkan tak jarang keluarga menjadi berantakan karena ini. Pulang sampai larut malam, dirumah pun masih mengerjakan tugas-tugas kantor, bahkan malam hari terkadang tiba-tiba bangun untuk kemudian berpikir dan mengerjakan tugasnya. Apabila hal ini terjadi, maka bukan yang baik yang didapat tetapi suatu bahaya.


Dalam disiplin ilmu psikologi dikenal istilah ergomania, yakni orang yang gila kerja. Istilah lainnya adalah "work alcoholic" atau ketagihan kerja. Sementara ada orang yang malas bekerja, golongan yang ini malah tidak bisa berdiam diri. Bahkan kalau perlu ia bekerja 24 jam penuh. Keadaan fisiknya tidak diperhatikan lagi. Umumnya, kalau mereka merasakan tubuhnya melemah, mereka menggunakan obat perangsang semacam kokain untuk menambah semangat mereka. Hasilnya, banyak di antara mereka yang kecanduan dan ketagihan pada obat-obatan. Ini adalah salah satu bentuk penyakit yang banyak melanda kalangan eksekutif di negara maju.

Siapa pun ingin agar hidup yang tidak lama di dunia ini bisa dinikmati dengan sebaik-baiknya. Setiap orang pasti berkeinginan hidup bahagia dan layak. Kerja juga adalah suatu bagian dari hidup manusia. Karena kerja sesungguhnya adalah suatu gerakan atau usaha untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Dengan demikian, ada baiknya bila setiap minggu kita mengadakan introspeksi diri, apakah kerja yang telah kita lakukan selama seminggu telah membawa diri kita menjadi lebih baik atau tidak? Apakah hidup kita makin sejahtera? Apakah keluarga kita makin gembira? Atau apakah diri kita makin sakit? Deepak Chopra dalam bukunya "7 Kunci Kebahagiaan Sejati"  mengemukakan bahwa tubuh kita terus-menerus berbicara kepada kita melalui sinyal kenyamanan dan ketidaknyamanan, kesenangan dan rasa sakit, tarikan dan tolakan. Ketika kita dalam kondisi tidak selaras dengan irama universal, sinyal yang datang kepada kita adalah rasa tidak nyaman, apakah itu fisik, mental atau emosional.

Steve Jobs juga pernah mengatakan, "Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang Anda kerjakan. Jika Anda belum menemukan itu, carilah terus, jangan diam. Anda akan tahu jika telah menemukannya."

Surabaya, 15 November 2012

Setiap Orang Butuh Mentor



Kata "mentor" di masa saya sekolah dulu masih belum umum. Dulu lebih kenal dengan istilah guru atau dosen. Mentor bukan seperti guru atau dosen. Memiliki mentor adalah salah satu upaya kita untuk menjamin bahwa usaha yang kita lakukan dapat berjalan sukses. Mentor biasanya adalah seseorang yang lebih berpengalaman, tetapi tidak selalu orang yang lebih tua. Banyak pengusaha sukses menyarankan bagi pemula dalam dunia usaha, agar memiliki mentor.

Saya membaca di sebuah situs, menurut mitologi Yunani, “Mentor” adalah anak dari Alcimus atau Anchialus. Dia adalah sahabat setia dari Odysseus  yang sangat dipercaya untuk membimbing anaknya Telemachus selama berangkat ke perang Trojan. Selama itu Mentor bertugas untuk membina dan mengembangkan sang pangeran ketika ayahnya berjuang di medang perang Trojan. Karena Telemachus kelak akan menjadi penguasa kerajaan menggantikan Odysseus, maka dia harus dipersiapkan dengan baik. Kisah Bhagawadgita adalah juga merupakan mentoring Krishna kepada Arjuna.

Saat ini, kata “mentor” tersebut mengalami perluasan makna dari nama sahabat Odysseus tersebut, sesuai dengan penggunaan katanya. Seperti dalam dunia olahraga, mentor dikenal sebagai “pelatih” dan tidak ada satu atlit pun di dunia ini, termasuk yang professional, yang memasuki arena olimpiade tanpa didampingi oleh mentor. Begitu juga dengan kita yang akan menjadi seorang pengusaha, kita perlu mentor untuk menghadapi “pertempuran” bisnis yang penuh persaingan. Memang, sebenarnya ada beda antara coach dengan mentor, antara sebagai pelatih dan penasihat. Kalau menurut saya, coach mengajarkan bagimana sesuatu dilakukan dengan benar, sementara mentor mememberi saran untuk melakukan hal yang benar. Antara "Do the Right Things, Do the Things Right".

Saya merasa, ketika saya membuka usaha sendiri, saya tidak memiliki mentor. Mungkin ada, tapi saya tidak menyadarinya. Ayah saya waktu itu baru meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya. Saya tidak punya mentor secara khusus dan karena saya cenderung introvert, saya juga jarang bertemu dan bertanya kepada orang lain. Belakangan saya sungguh menyayangkan bahwa saya tidak memiliki mentor saat itu. Seandainya ada, saya yakin pasti akan lebih baik lagi dalam mengelola bisnis.

Beberapa bulan lalu, kampus tempat saya mengajar mengundang Inul Daratista. Ia bercerita tentang pengalaman hidupnya serta suka dukanya. Ternyata, dari kisahnya, ada seorang tokoh luar biasa di balik kesuksesannya yang menjadi mentornya, yakni Titiek Puspa. Peran seorang mentor sangat besar sekali dalam mengarahkan gerak langkah seseorang. Dari cerita sederhana itu, saya kemudian menyadari bahwa memiliki mentor itu perlu, bahkan wajib hukumnya.

Menyadari bahwa saya butuh mentor, membuat saya teringat akan teman saya. Dia dulu pernah bekerja di perusahaan saya dan kini menjadi sahabat baik. Ternyata, saya baru sadar bahwa saya adalah mentor bagi dirinya. Ketika dia ada masalah atau ada rencana pindah tempat kerja, dia selalu menelepon saya atau datang berkunjung lalu curhat masalahnya. Lalu saya memberi pendapat sesuai dengan apa yang saya bisa berikan. Saya lantas makin yakin, bahwa tiap orang butuh mentor. Tapi juga sekaligus, tiap orang bisa menjadi mentor bagi orang lain.

Nah, pernah suatu ketika saya ditanya, "Kalau Pak Nur, siapa mentornya?" Kalau pertanyaan ini diajukan lima tahun lalu, saya pasti bingung menjawabnya. Tapi setelah mengetahui apa itu mentor dan esensinya, saya sudah punya jawabannya. Saya tidak tiap hari menemui mentor saya. Bahkan juga boleh dibilang jarang. Mentor saya adalah tukang cukur rambut saya, tempat saya potong rambut dekat pasar tradisional di kawasan krembangan.

Pak Nazir, demikian namanya, adalah pemangkas rambut yang sudah saya kenal sejak saya SMP. Dia telah memotong rambut saya, ayah saya dan juga anak-anak saya. Awalnya saya berpikir bahwa saya suka ke sana karena harganya yang murah. Sampai saat ini, kalau potong di tempatnya tidak sampai sepuluh ribu rupiah. Tapi saya rasa bukan itu alasannya. Saya pernah potong rambut di salon yang harganya puluhan ribu, tapi merasa ada yang kurang. Tempat usaha potongnya pak Nazir ini jauh lebih sederhana, berukuran hanya 2 x 3 meter, hanya kipas angin kecil untuk membuat udara di ruangan tidak panas. Saya sendiri bukan orang yang rajin potong rambut. Hanya ketika sudah panjang dan mulai mengganggu dan panas, saya ke tempatnya untuk memotong rambut.

Adalah menyenangkan ketika potong rambut ke pak Nazir. Dia selalu menanyakan keadaan saya, dan banyak bercerita. Kalau saya bertanya, dia bisa memberi jawaban yang bijaksana. Saya tidak tahu latar belakang pendidikannya, tapi yang pasti bukan sarjana. Pengalaman hidupnya yang saya tahu, dia pernah bekerja untuk seorang bos di perusahaan kayu, selebihnya yang saya ketahui adalah dia memang punya usaha pangkas rambut. Sepertinya, gaya dari marketing dia adalah bercerita dan berkomunikasi.

Ketika saya bertanya kepadanya, barangkali saya juga sudah tahu jawaban yang ingin saya lakukan. Belakangan setelah saya bergabung di sebuah perguruan tinggi, saya banyak berdiskusi dan bertanya kepadanya. Terutama tentang apa yang sebaiknya saya lakukan. Jawaban yang diberikan sering justru di luar dugaan saya dan luar biasa. Seperti misalnya ketika saya tanya, perlukah saya menerima tawaran bekerja sebagai pegawai sementara saya sudah belasan tahun berwirausaha sendiri? Dia menjawab, "Kalau usahamu bisa dijalankan oleh istrimu dan tidak mengalami penurunan, maka terimalah tawaran itu. Tapi kalau menurun, tinggalkan pekerjaanmu dan kembali uruslah usahamu sendiri." Jujur saya tercengang dengan jawaban ini. Sederhana tapi mengena.

Banyak hal, saya juga bertanya kepadanya jika saya mengalami kegalauan dalam bekerja. Dia bisa memberi pandangan yang mencerahkan. Saya pikir salah satu kunci mentor yang baik adalah tidak fokus pada dirinya. Dia tidak pernah mengatakan, "Sama, saya juga begitu...." Hebatnya dia dalam berkomunikasi, dia fokus pada orang yang diajak bicara dan langsung pada solusi cerdas yang membuat saya merasa diperhatikan. Tentu, pak Nazir bukan satu-satunya mentor saya. Ada juga orang-orang lain yang berpengaruh dalam hidup saya, terutama ibu saya tercinta.

Memilih mentor memang harus yang sesuai dengan diri Anda. Kalau salah pilih memang bisa berakibat kurang baik juga. Pilihlah mentor yang memang memiliki pengalaman lapangan dalam mengembangkan bisnis, bukan orang yang memang profesinya sebagai pengajar bisnis. Jadi mentor yang dipilih haruslah yang pernah membuat suatu usaha baru dan mengembangkannya dengan segala jatuh bangunnya. Karena yang paling penting diambil dari seorang mentor itu bukan hanya kesuksesannya tetapi juga pengalamannya di lapangan, bagaimana jatuh bangunnya, bagaimana sikap mentalnya menghadapi kegagalan yang terjadi, yang akan memberikan gambaran kepada kita tentang how to manage your business.

Hari ini, rambut saya sudah panjang kembali, dan saya ingin menemui mentor saya.  :)

Semangat pagi semua.

Surabaya, 18 November 2012
nur agustinus

Menjadi bahagia itu pilihan


Oleh: Nur Agustinus

Orang bilang, kalau kebutuhan kita terpenuhi, maka kita akan bahagia. Namun, kebutuhan manusia terus menerus berubah. Dengan kata lain, manusia nampaknya tidak bisa dalam keadaan terus menerus bahagia.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:

Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.
Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.
Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.
Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.
Sophocles: Success is dependent on effort.

dan masih banyak lagi lainnya....

Dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.

Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsang agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.

Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia. Menjadi bahagia itu pilihan. Semua orang ingin bahagia, bahkan kalau kita nonton film atau membaca novel, menginginkan akhir cerita yang bahagia. Tapi, bagaimana orang bisa bahagia namun tidak sukses? Mungkinkah seorang yang merasa hidupnya gagal bisa tetap bahagia?

Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "Seven Spiritual Laws of Success". Sukses dalam hidup dapat didefinisikan sebagai perluasan terus-menerus dari kebahagiaan dan realisasi progresif terhadap tujuan yang berharga. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?

Apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation." Menurut saya, kalimat ini bukan berarti kita mengubah tujuan kita, tapi mengubah cara, sebab dengan cara yang bisa kita tempuh, maka akan selalu ada harapan. Selama ada harapan maka kebahagiaan bisa kita peroleh.

Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony."

Bahan bacaan:
1. http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html
2. http://henkykuntarto.wordpress.com/2010/06/03/the-seven-spiritual-laws-of-success/

Brain, Body & Nerve

Pernah dulu di tahun 90an saya melihat iklan Hugo Boss di televisi swasta. Hugo Boss adalah produk asesori untuk pria, dan iklan itu menekankan tiga aspek yang dibutuhkan oleh seorang Boss. Saya terkesan dengan iklan ini karena menyangkut hal yang penting dalam diri seseorang. Ketiga hal itu adalah brain, body dan nerve. Nampaknya, ketiga hal itu yang perlu ada dalam diri seorang yang mau menjadi pemimpin.

Seorang pemimpin perlu orang yang cerdas, mampu mengantisipasi masalah, kreatif dan cerdik. Bahkan cerdas saja tidak cukup, tapi ia harus juga cerdik. Cerdik artinya banyak akal dan bisa selalu keluar dari masalah. Pemimpin yang tidak cerdas akan ditinggalkan pengikutnya. Salah satu alasan mengapa orang mau menjadi pengikut seseorang adalah karena orang itu dianggap cerdas, punya visi  dan tahu bagaimana mencapainya.

Selain itu, kondisi fisik atau tubuh, juga merupakan satu hal yang utama. Kalau kita amat-amati, seorang boss atau eksekutif, boleh dibilang ia jarang sekali sakit. Mungkin kalau sekali sakit harus sampai opname beberapa hari akibat kerja terlalu lelah. Tapi karyawan yang terpaksa harus tidak masuk karena sakit akan lebih banyak. Dan seringnya, karyawan tidak masuk hanya karena sakit perut, pusing atau flu (tidak enak badan). Sementara sang Boss, walau sakit kepala, ia tetap saja masuk kantor. Apalagi cuma flu, dianggapnya remeh. Ini mungkin bedanya antara pemimpin dengan yang bukan, yaitu terletak dari bagaimana ia mendayagunakan fisik yang ada.

Aspek yang ketiga, nerve adalah masalah saraf. Saraf ini juga sangat penting bagi seorang eksekutif. Ia tidak boleh mudah stress, tahan terhadap segala macam hambatan dan tantangan. Tidak boleh mudah putus asa dan bisa selalu siap tempur menghadapi para pesaing. Itu mungkin juga bedanya dengan karyawan yang daya tahan dan perhatiannya terhadap pesaing kurang begitu besar. Kekuatan saraf ini merupakan satu hal yang tidak boleh diabaikan. Banyak orang yang cerdas, berfisik kuat, tapi mudah sekali stress. Artinya, secara fisik ia baik namun justru mudah down.


The Magic of Mentoring


Waktu di kantor sedang bersih-bersih berkas lama yang sudah tidak terpakai, Saya menemukan majalah-majalah Toastmaster edisi lama. Saya melihat di majalah ini banyak artikel praktis pengembangan diri yang menarik. Daripada dibuang, saya ambil. Salah satu edisi majalahnya ada artikel yang berjudul "The Magic of Mentoring" (February 2010). Saya scan artikelnya dan upload di http://www.slideshare.net/nur2008/the-magic-of-mentoring

Dalam artikel ini dijelaskan bagaimana sebaiknya kualitas dari seorang mentor. Menjadi seorang mentor, kita harus:

1. Available, artinya mau meluangkan waktu untuk mentee. Teman-teman pasti merasa tidak suka jika saat bertanya ke dosen, kemudian tidak direspon. Tapi akan lebih suka jika ada orang yang mau menyediakan waktu bagi kita saat dibutuhkan bantuannya. Jadi, sebagai mentor, kita juga harus menyediakan diri (avaliable). Tentu ini bukan berarti 24 jam setiap hari, tapi setidaknya ada waktu yang kita sisihkan untuk membantu orang lain.

2. Patient (sabar). Orang belajar dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda sehingga kebutuhan untuk pembimbingannya berbeda-beda. Kalau Anda tidak sabar, maka Anda akan menjadi emosi saat menghadapi mentee yang butuh bimbingan lebih. Jangan pernah membandingkan mentee yang bisa belajar cepat dengan yang tidak.

3. Sensitiive, ini artinya kemampuan kita mengetahui perasaan yang ada di mentee. Dengan kata lain, kita mesti mampu berempati. Beberapa mentee ada yang malu dan ragu-ragu. Ketika mereka diam, bukan berarti mereka sudah pasti bisa. Kita perlu memberi dorongan kepada mereka yang pasif dan jangan hanya memperhatikan mentee yang rajin atau banyak berkomentar.

4. Respectfull, bersikap hormat. Setiap orang adalah unik dan kita perlu menghargai segala kekurangan yang ada. Jangan terlalu memaksa dengan keras dan berilah dorongan agar mentee mau melakukan usahanya dengan lebih kuat.

5. Flexible. Kadang mentee mengalami masalah dan kita mesti bisa fleksibel dengan kondisi yang dialami mentee.

6. Supportive, memberi dorongan dan dukungan. Tunjukkan kebangganmu kepada usaha yang dilakukan oleh mentee.

7. Knowledgeable, punya pengetahuan. Intinya, bisa jadi tempat tumpuan bertanya. Memang tidak harus tahu semua hal, namun mentee mengharapkan mentornya bisa memberikan solusi atas masalahnya. Dengan demikian, kita harus berpikiran terbuka untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuan yang kita miliki.

8. Confident. Sebagai mentor harus percaya diri namun tidak sombong. Kita harus bersikap sebagai teman dan mentee merasa bahwa kita bersedia membantu dirinya.

9. Listening. Kita mesti bisa mendengarkan dan jangan berbicara sendiri. Ini adalah demi perkembangan mentee, bukan kita sebagai mentor. Jadi kita harus melihat persoalan yang ada dari sisi mentee. Ibaratnya, jangan memaksakan memakaikan baju kita kepada mentee. Jadilah pendengar yang baik agar kita benar-benar tahu akar masalahnya.

10. Concerned. Anda mesti benar-benar tulus mau membantu orang lain.

Tugas mentor adalah menjalin hubungan yang baik dengan menteenya dan membuat semacam "aturan main" dalam proses mentoring. Berilah arahan kepada mentee agar tahu bagaimana bisa memperoleh sumber daya yang berguna untuk mengatasi problemnya. Ibaratnya, jangan memberikan ikan, tapi ajari memancing dan beri tahu di mana memancing yang baik.

Mentor yang baik akan mendorong menteenya bisa bertindak lebih baik. Ibaratnya mendorong mentee untuk melakukan sebuah lompatan quantum leap. Mentor yang baik akan mendorong menteenya mengembangkan kapasitas kepemimpinannya sehingga suatu saat yang bersangkutan juga bisa menjadi sebagai mentor juga.

Semoga artikel ini bermanfaat dan meningkatkan pemahaman dan ketrampilan kita menjadi seorang mentor.

Majalah Toastmaster, Februari 2010.
Catatan:
Mentor adalah seseorang yang bisa melihat dan mengetahui dimana posisi mentee berdiri sekarang, menjelaskan alternatif jalan yang ada, membantu mentee mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri, memberikan blueprint/peta detil untuk menuju tempat yang ingin dituju dan lalu membimbing Anda langkah demi langkah dalam proses perjalanan tersebut. Mentor juga seringkali memberikan motivasi dan semangat jika mengalami tantangan dalam perjalanan tersebut.

Mentee adalah yang mendapat bimbingan dari mentor atau asisten mentor.

Sukses dengan KASIH


Siapa yang tidak ingin sukses? Sukses tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sukses juga tidak bisa terjadi begitu saja dalam waktu singkat. Sukses merupakan sebuah perjalanan. Bahkan sebenarnya sukses itu juga sebuah pilihan. Walau kebanyakan orang ingin sukses, namun ternyata apa yang dilakukannya jauh dari jalan menuju sukses tersebut. Plato, filsuf Yunani kuno pernah mengatakan, “Human behavior flows from three main sources: desire, emotion, and knowledge.”
Memang kriteria kesuksesan itu beraneka ragam. Lawan dari sukses adalah gagal. Kita akan tahu bahwa kita gagal jika kita mempunyao tujuan dan tidak berhasil mencapainya. Tanpa adanya tujuan, sebenarnya kita tidak akan pernah gagal. Namun itu juga berarti tidak akan pernah sukses. Kesuksesan mengandalkan sebuah usaha dan kegigihan, bukan karena sebuah kebetulan. Kita berhasil bukan karena nasib kita kebetulan beruntung semata, atau gagal disebabkan kesialan belaka. 
Ada banyak tips dan nasihat untuk menjadi sukses. Beraneka buku telah ditulis maupun seminar untuk memberi inspirasi sekaligus pencerahan bagaimana menjadi sukses. Tapi bagi saya, sukses bukan tujuan. Sukses adalah bagian dari perjalanan hidup.

Kesuksesan akan terjadi jika kita terus menerus berusaha melakukan sesuatu menuju yang diinginkan. Untuk ini, diperlukan adanya kebiasaan atau habit untuk menunjang kesuksesan. Mengapa habit ini penting? Hanya orang yang punya kebiasaan (habit) yang tepat, dia bisa mencapai kesuksesan dari apa yang ingin dicapainya. Misalnya, seorang penulis yang sukses adalah orang yang mempunyai kebiasaan atau habit menulis. Kalau habitnya tidak menunjang, misalnya dia justru punya kebiasaan bermain, tentu dia tidak akan sukses menjadi penulis.

Bagaimana habit ini bisa terwujud? Dalam bukunya yang terkenal, “The 7 habits of highly effective people”, Stephen Covey mengemukakan bahwa habit itu gabungan dari tiga hal, yakni knowledge (pengetahuan), skills (kerampilan) dan desire (gairah/keinginan). Tiga hal ini akan membuat orang melakukan apa yang disukainya berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Tapi untuk menjadi sukses tidak cukup hanya mempunyai kebiasaan (habit) yang sesuai.

Satu hal yang sangat penting dalam perjalanan kesuksesan adalah sikap (attitude). Memang kebanyakan orang untuk meraih kesuksesannya, cenderung lebih memusatkan perhatian pada keahlian yang ingin ditekuninya, namun sebenarnya ada hal yang jauh lebih penting dari itu kadang justru terabaikan, yakni sikap. Sikap yang membawa pada kesuksesan ini sendiri ada tentu banyak macamnya. Misalnya sikap yang tak pernah mengeluh, sikap untuk selalu mau belajar, bertanggung jawab, tepat waktu, senang memberi dan melayani, serta masih banyak lainnya.

Sukses ini adalah bagaimana kita membawa diri kita saat berada di lingkungan sosial. Kesuksesan itu ibarat sebuah inovasi, hanya berarti jika kesuksesan yang ada diterima oleh orang lain. Dengan kata lain, sukses menjadi pencuri tentu bukan kesuksesan. Sukses kaya raya hasil korupsi juga tak ada gunanya. Sukses mensyaratkan penerimaan positif dari masyarakat atau orang lain dan itu harus ditunjang dengan sikap yang kita miliki. Maka saya menganjurkan ada 5 hal untuk menuju sukses, yakni Knowledge, Attitude, Skills, Interest dan Habit. Kelima hal ini untuk mudahnya saya singkat dengan KASIH.

Untuk menuju sukses kita harus memiliki pengetahuan. Tanpa pengetahuan kita tidak akan tahu apa yang hendak kita tuju serta mengapa. Kalau kita sudah memiliki pengetahuan, maka sikap adalah hal yang penting. Jika karena kita merasa sudah pandai lantas menjadi sombong, itu akan percuma. Einstein mengatakan, "Weakness of attitude becomes weakness of character." Zig Ziglar juga mengatakan bahwa yang menentukan keberhasilan kita itu bukan bakat kita melainkan sikap kita. Jadi,sikap ini adalah hal yang penting, namun tentu saja harus ditunjang dengan pengetahuan yang baik. Lalu, kita perlu meningkatkan apa yang bisa kita lakukan. Jangan berhenti pada apa yang kita ketahui saja, tapi latihlah diri kita agar semakin banyak yang bisa kita lakukan.

Manusia memiliki sejumlah potensi. Tapi potensi hanya akan tetap menjadi bakat yang tak berguna jika kita tidak menghasilkan sesuatu. Kita harus mengubahkan menjadi sesuatu atau mengaktualitaskan potensi yang dimiliki. Bakat menyanyi tidak akan terlihat kalau kita tidak menyanyi. Semakin kita berlatih menyanyi, maka kita semakin trampil. Menjadi semakin ahli dan hebat di bidangnya. Tapi mengapa ada orang yang berbakat namun tidak melakukan hal itu? Biasanya ini dikarenakan dia tidak mempunyai keinginan atau minat yang kuat. Kita mesti bertanya dan menjawab dengan jujur, sejauh mana kita benar-benar ingin? Kita harus memiliki sebuah minat (interest) yang kuat agar menjadi sebuah gairah (desire atau passion). Tanpa keinginan yang kuat, tak akan ada motivasi dari dalam diri yang bisa menggerakkan kita untukmelakuan hal itu dengan sungguh-sungguh. Jika hal ini ada, maka semuanya ini akan menjadi sebuah kebiasaan (habit). Seperti yang diungkapkan Brian Tracy, “Successful people are simply those with successful habits.”

Nah, kalau Anda merasa belum sukses, barangkali kebiasaan yang Anda lakukan memang tidak membawa Anda ke sana. Untuk itu ubahlah kebiasaan Anda. Caranya, ubahlah apa yang menjadi minat atau gairah Anda. Einstein juga pernah berkata, "Insanity: doing thesame thing over and over again and expecting different results." Kegilaan adalahmelakukan hal yang sama berulang-ulang namun mengharapkan hasil yang beda. Anda ingin mengubah hidup Anda menjadi sukses? Lakukan dengan KASIH dan bertumbuhlah serta jalani hidup dengan sukses.

Surabaya, 5 Mei 2013

1 Apr 2013

Ikuti Entrepreneurship Online Course: Ciputra Way

Bergabunglah bersama lebih dari 10.000 peserta kelas entrepreneurship online, langsung dengan Guru Entrepreneurship Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Ciputra, yang diselenggarakan oleh Universitas Ciputra Entrepreneurship Online.

Kunjungi: Universitas Ciputra Entrepreneurship Online






Popular Posts