Mengapa saya suka UFO?

Kemarin saya jalan-jalan ke pasar buku loak, biasa... hunting buku atau majalah lama, siapa tahu ada yang tentang UFO. Dapat beberapa majalah Mekatronika edisi lama tentang UFO juga beberapa majalah Hai edisi khusus tempo dulu. Ada juga semacam buku berukuran majalah UFO terbitan tahun 80-an berbahasa indonesia. Sebenarnya yang satu ini sudah punya, namun yang punya saya sampulnya sudah agak kumal, sementara yang ini masih bagus. Jadinya ya ikut dibeli. Ada juga buku saku Jane's mengenai satelit. Cukup menyenangkan kemarin, meski capeknya minta ampun karena tas ransel yang harus saya bawa jadi berat. Sore harinya sampai ketiduran karena kelelahan dan malamnya agak sakit. Pagi ini sudah baikan kembali.

Tapi bukan hal di atas yang terutama ingin saya sharing ...

Saya sebenarnya selalu ingin mencari jawaban... mengapa saya suka dengan fenomena UFO? Memang agak sulit mengingat atau menggali memori masa lalu, terutama awal saya menyukai misteri ini.

Sehubungan dengan kemarin hunting buku di pasar buku loak di pasar Blauran dan jalan Semarang, Surabaya, saya menemukan 2 cergam (komik) lama. Sebenarnya keduanya sudah terbitan ulang, tapi keduanya ini saya baca dulu waktu saya masih SMP kalau tidak salah. Pertama adalah komik Storm dan satunya lagi Trigan. Komik Trigan dan Storm saya kenal awalnya dari majalah Hai. Kebetulan di komik Trigan ini, ada cerita sebuah pesawat asing (berbentuk piring terbang) yang mendekati planet Elekton dan dari sana keluar 3 bulatan sinar (makhluk hidup) yang bisa menyusup ke makhluk hidup lain yang sedang tidur lewat telinganya. Sementara yang komik Storm, karena yang ada waktu itu edisi pertama, saya jadi minat beli sebab saya masih ingat ceritanya ketika Storm dengan pesawat luar angkasanya masuk ke dalam bintik merah di planet Jupiter.

Lalu, sambil membaca itu kemarin yang sampai ketiduran di kursi, saya jadi mikir.... apakah karena komik-komik seperti ini saya menjadi suka akan luar angkasa? Majalah Hai memang majalah yang populer saat itu untuk remaja laki-laki saat itu. Banyak cergamnya yang berbau luar angkasa, seperti Arad dan Maya, yang saya juga suka. Dari sini saya juga bertanya, apakah karena saya suka akan luar angkasa sehingga suka cerita komik seperti itu, atau saya suka luar angkasa karena keseringan membaca komik-komik tersebut?

Namun saya sebenarnya saya suka hampir semua komik. Mulai jamannya Godam, Gundala, Roel Djikstra, Asterix, Tintin dan lain-lain, termasuk cergam album cerita ternama yang dulu mesti dikirim oleh loper koran langganan keluarga saya setiap terbitnya. Ada 2 loper koran langganan yang selalu datang, saya masih ingat namanya, yakni pak Sanan dan pak Musa. Bahkan beberapa hari lalu, saya senang bukan main setelah mendapat 5 nomor pertama dari seri petualangan Teddy Beruang, sebuah buku cerita yang saya baca saat saya masih SD, yang saya beli dari sebuah penjual buku bekas online di internet, di mana dulu orangtua saya memberi hadiah saya saat sinterklas (dulu kira memang sinterklas yang beri hadiah :-)) Istimewanya, bukunya masih bagus sekali dan saya baca sambil bernostalgia masa kecil saya dulu.

Saya memang suka hal-hal yang berada di angkasa. Entah kenapa... apa karena seperti yang pernah dibilang paranormal Ki Dyoti, bahwa saya ini reinkarnasi dari makhluk yang ada di bulan (kerennya semacam walk-ins ya?). Namun saya ingat betul, ketika saya pertama kali diijinkan oleh ibu saya membeli buku pilihan saya sendiri (keluarga saya dulu punya kebiasaan ke toko buku Sari Agung - sayangnya toko ini sudah tidak ada sekarang karena sepi dan kalah bersaing dengan toko buku lain - setiap malam minggu), dan yang saya pilih adalah sebuah buku tentang sejarah dan ilmu peroketan. Judul persisnya tidak ingat, namun bukunya dengan warna dasar biru, agak lebih besar dikit dari buku ukuran biasa, harga rp 600,- yang boleh dibilang lumayan juga waktu itu. Saya tidak ingat, usia berapa saya waktu itu. Seandainya buku itu masih ada, mungkin saya bisa melacak tahun penerbitannya.

Kelas 2 SMP, saat ulang tahun, saya minta hadiah teleskop. Saya beruntung mempunyai orangtua yang peduli dengan minat saya. Sementara di jaman sekarang, anak saya lebih suka dibelikan playstation atau kaset gameboy :-). Setelah punya teleskop, saya punya kebiasaan naik atap rumah dan melakukan peneropongan bintang serta bulan di malam hari. Cita-cita saya ingin masuk astronomi waktu itu. Ya, saya lebih suka ke bintang-bintang lebih dulu daripada fenomena UFO. Waktu saya SMP kelas 2, saya mengalami sekolah satu setengah tahun. Waktu itu ada peralihan tahun ajaran dari yang semula dimulai awal Januari, berubah menjadi pertengahan tahun.

Saya memang ingat, ada sebuah peristiwa yang bisa saya anggap sebagai awal saya menyukai fenomena UFO, yaitu ketika saya melihat di surat kabar, kalau tidak salah mungkin Sinar Harapan kalau bukan Kompas (atau keduanya), yang memuat foto-foto UFO. Bentuk UFOnya hanya berupa bulatan-bulatan besar yang tidak jelas. Awalnya saya sudah lupa, di mana foto itu diambil dan tahun berapa. Saya sempat mengira bahwa itu foto UFO di New York, namun ketika saya cari di internet, saya tidak menemukannya. Saya lalu mencoba mengira-ngira tahunnya, kemungkinan 1979 atau 1980. Kemudian saya juga buka kliping-kliping lama yang saya peroleh dari salah seorang teman saya, yaitu Ali Soeryanto, ternyata ada satu foto yang memicu ingatan saya. Ternyata bukan di New York, melainkan di New Zealand. Peristiwanya terjadi pada 30 Desember 1978 dan diberitakan di koran-koran awal januari 1979. Foto itu saya kenali dan kemudian saya cari lewat internet. Ya, saya kemudian yakin bahwa itu foto-foto UFO yang saya lihat di koran dulu ... dan saya ingat juga bahwa sejak saat itu saya mulai tertarik soal UFO.


Tapi, kenapa setelah melihat foto itu saya kemudian suka UFO? Bukankah ada banyak orang lain yang melihat dan membaca berita itu namun menganggapnya sambil lalu saja? Ataukah karena saya sebelumnya sudah suka astronomi? Memang saya baca di internet, banyak orang yang suka akan astronomi atau bahkan juga yang punya cita-cita jadi penerbang, dulunya suka soal UFO atau suka baca Flash Gordon.

Barangkali kalau tidak ada penerbitan buku-buku UFO dalam bahasa Indonesia di tahun 1979, minat saya akan terkubur begitu saja. Di tahun 1979, terbit buku karangan Desmon Leslie dan George Adamski yang berjudul "Pendaratan Piring Terbang di Atas Bumi." Buku yang sangat menarik dan luar biasa buat saya waktu itu. Meski saat ini banyak yang mengatakan kalau Adamski itu hoax atau penipu, saya harus akui bahwa pengalaman Adamski yang diceritakan di bukunya itu membuat saya makin tertarik dengan fenomena UFO. Buku itu diterbitkan oleh "Harapan Baru" yang berdomisili di Bandung.

Kemudian disusul dengan buku karangan Ian Ridpath yang berjudul "Apakah Benar Ada Kehidupan di Luar Bumi?" di bulan April 1979. Setiap buku yang saya beli, biasanya kemudian saya bikin sebuah artikel dan saya kirimkan ke majalah Liberty. Dibantu oleh ayah saya, almarhum Basuki Soedjatmiko, yang menjadi wakil pemimpin di majalah tersebut, tulisan saya dimuat dan saya dapat honor. Honornya saya belikan buku lagi atau nonton bioskop yang waktu itu masih rp 500,-.

Lalu yang menghebohkan adalah terbitnya terjemahan dari bukunya Erich von Daniken, Chariots of The Gods, yang diterbitkan oleh Yayasan Tanadi dari Bandung dengan judul "Adakah Makhluk Lain dari Angkasa Luar?" (1979) Buku ini banyak mempengaruhi pendapat banyak orang. Teorinya maupun spekulasinya tentang nenek moyang kita yang berhubungan dengan pendatang dari luar angkasa begitu mencengangkan. Harian Suara Karya kalau tidak salah pernah memuat tulisan Erich von Daniken di tahun 1974 namun saat itu saya belum tahu dan hanya mempunyai buku yang diterbitkan kemudian.

Dari membaca teori Daniken, minat saya meluas ke bidang arkeologi. Saya sempat mikir mau masuk kuliah nantinya ke arkeologi. Apalagi waktu saya SMA kelas 1, guru sejarah saya, Frater Fidelis, sangat hebat dalam mengajarnya sehingga saya makin jatuh cinta pada arkeologi. Hal itu membuat saya saat jalan-jalan ke buku loak di Jl Semarang, Surabaya, ada 2 buku yang harus saya pilih. Yang satu buku UFO, yang satunya tentang bangsa Maya. Keduanya buku saku (seukuran novel), berbahasa Inggris, namun saya punya uang hanya cukup untuk membeli satu buku saja. Penjualnya masih ada sampai sekarang. Buku yang satu jelas tentang UFO, ada foto-foto UFO. Nah, anehnya dan yang juga kemudian saya jadi heran sendiri, yang saya pilih adalah buku tentang bangsa Maya tersebut. Seminggu kemudian saya mencari kembali buku UFO tersebut di tempat yang sama, ternyata sudah tidak ada. Buku "The Maya" karangan Michael D. Coe, terbitan Pelican Book, masih ada sampai sekarang.

Di tahun-tahun itu, saya juga sering mendapat kiriman majalah UFO dari Amerika, yang dikirim oleh kakak sepupu saya, Dede Oetomo. Darinya saya juga dapat "warisan" buku "History of Rocketry and Space Travel" karangan Wernher von Braun. Kemarin di pasar loak, saya juga melihat buku itu, dijual dengan harga rp 150 ribu. Saya waktu SMA sering mengadakan percobaan meluncurkan roket dibantu oleh paman saya, almarhum Leo Soedjatmiko dan dibimbing juga oleh Ir. Pradipto (alm), dosen Unika Widya Mandala, yang dikenalkan oleh ibu saya, Wuri Soedjatmiko, yang juga dosen di sana.

Ketika lulus SMA, saya tidak memilih masuk ke astronomi maupun arkeologi. Waktu itu pilihan saya di Proyek Perintis I (semacam Sipenmaru atau SPMB sekarang) adalah justru Meteorologi dan Geofisika. Tapi saya tidak diterima. Saya sadar diri sebab nilai fisika dan kimia saya sangat buruk waktu SMA, lulus dengan pas-pasan. Bahkan saya sempat ditertawakan guru fisika saya dulu ketika saya mengatakan ingin masuk astronomi. Saya maklum karena saya dapat nilainya seringkali hanya untuk imbalan menulis alias dapat nilai 20 saja. Untungnya saya siswa yang baik dan nurut serta tidak pernah bolos maupun terlambat bayar uang sekolah, jadinya ya ditolong hingga naik kelas.

Pilihan saya kemudian untuk kuliah adalah atas saran ayah saya, yaitu masuk ke psikologi. Sebuah bidang studi yang sama sekali tidak pernah saya impikan atau bayangkan. Saran ayah saya, kalau saya kuliah di psikologi, nanti saya bisa membantu ayah saya bekerja di majalah Liberty. Sayangnya, ayah saya yang dekat dengan karyawan, justru didepak dari majalah Liberty ketika diakuisisi oleh orang Jakarta. Ayah saya yang sudah bekerja 25 tahun kemudian sempat depresi dan sakit diabetes. Beruntung ayah saya kemudian dibantu oleh Dahlan Iskan yang memimpin Jawa Pos dan kemudian dikontrak untuk bekerja di harian Jawa Pos. Saya sendiri sempat merasa, apa gunanya lalu saya kuliah psikologi? Tapi saya selalu ingat pesan ayah saya, seorang yang dewasa tidak bertindak atas dasar "like or dislike". Apa yang sudah dipilih, itu yang harus dituntaskan.

Selama periode kuliah sejak tahun 1983 hingga saya mengenal dunia internet di tahun 1997, saya mengesampingkan minat saya soal UFO. Apalagi kemudian di tahun 1988 saya kuliah program MBA yang membuat saya lebih menekuni bidang manajemen. Baru setelah tahun 1997, iseng-iseng cari informasi dan rekan yang juga suka soal UFO, ternyata banyak juga yang diperoleh.

Ya, itu sedikit pengalaman masa lalu saya. Sekedar coretan yang saya buat di pagi hari sambil bernostalgia.

(nur agustinus - 27 Agustus 2007)

0 Komentar:

Posting Komentar