Bermain ke luar rumah

Milis Psikologi, 26 September 2006
From: "Jusni Hilwan" <hilwan@rogers.com>

Theory dari psikolog perkembangan anak Judith Harris, mantan pengarang buku teks child development psychology -> cari/pindah rumah. Menurut sang teori, seorang anak bukanlah dididik oleh ortunya tetapi oleh anak-anak tetangganya alias lingkungannya. Jadi kalau ia pindah, misal, ke Jalan Cendana, niscaya anaknya akan berperilaku seperti keluarga Cendana :-), kalau ia pindahnya ke daerah kumuh, terjadilah yang sebaliknya. Itu sih kata Judith Harris.


Saya mau sharing tentang masa kecil saya.

Ibu saya, tidak setuju saya (anak pertama) bermain-main keluar rumah. Hal ini sebenarnya juga berlaku buat anak kedua dan ketiga (adik-adik saya) namun karena saya mulai bermain keluar rumah ke tetangga sejak smp kelas 3, maka adik-adik saya ikutan bermain keluar rumah juga. Adik saya yang terkecil, saat itu berusia 9 tahun.

Mengapa ibu saya tidak setuju saya bermain keluar rumah? Menurut penjelasan ibu saya, katanya ibu saya kuatir saya terjadi apa-apa di luar pengetahuannya. Padahal ibu saya dulu waktu kecil suka sekali bermain-main di luar rumah, di sungai dan lain-lain. Saya pernah protes bahwa apa yang dilakukan ibu saya tidak adil. :-)

Walau saya tidak diperkenankan bermain di luar rumah, namun saya diperkenankan mengajak teman-teman sekolah ke rumah. Hasilnya, saya tidak punya banyak teman dan hanya beberapa teman SD yang sampai saat ini masih berhubungan dengan saya. Saya kemudian terbiasa bermain sendiri sehingga hal ini (barangkali) membentuk saya jadi introvert. Padahal keinginan untuk berafiliasi juga besar. Barangkali itu juga membuat saya meski suka bekerja sendiri tapi juga mudah merasa kesepian.

Balik ke soal pengaruh tetangga pada proses pendidikan anak, saya setuju sekali dengan teori tersebut. Namun saat ini, bukan tetangga saja yang penting (berbeda dengan masyarakat di amerika), anak-anak di sini lebih suka bermain dengan teman-teman sekolahnya. Mereka terbiasa untuk berkunjung ke rumah temannya, selain bermain, biasanya juga untuk belajar bersama. Kecuali kalau SMA, biasanya mulai banyak teman-teman yang dekat dengan rumahnya (jika rumahnya dekat dengan sekolahnya, karena banyak teman-teman yang mondok/kost dekat sekolah/rumahnya)

Adalah benar bahwa orang bisa mengikuti pola hidup teman-temannya. Kalau mau jadi boss, banyak-banyaklah berkumpul dengan para boss. Kalau teman-temannya berandal, ya bisa diperkirakan bakal jadi anak berandal.

Hanya saja, di sekolah-sekolah yang agak campuran (mengikuti kurva normal dalam status ekonomi), biasanya yang anak-anak yang kaya membentuk kelompok sendiri. Kalaupun ada yang mau 'lintas kasta' maka akan menjadi 'orang suruhan' saja. Memang kalau di sekolah terjadi klik-klik yang biasanya terbentuk dengan kesamaan status, entah berdasarkan taraf ekonomi, sosial budaya, agama atau jenis kelamin. Itu tergantung dari kebutuhan yang ada pada diri mereka. Yang cantik kadang berteman dengan yang nggak seberapa cantik supaya dia tampak seperti bunga indah di tengah semak-semak. :-))

Saya sering merasa iri dengan teman-teman yang anak keluarga kaya. Mereka kini dengan modal yang ada, melakukan sinergi (join) membentuk perusahaan yang bisa langsung besar. Membuat saya yang merintis dari bawah, jadi bingung... apakah anak saya harus saya buat menjadi "anak keluarga kaya" supaya berteman dengan yang kelasnya kaya atau biarlah dia mengalami mirip dengan apa yang terjadi pada saya dulu...

Oh ya, ketika kita menimang-nimang anak, biasanya kita akan mengatakan harapan kita pada anak kita tersebut. Entah menjadi anak yang baik, menjadi anak yang sholeh, menjadi anak yang berbakti. Tak banyak yang kemudian mengatakan, semoga kamu jadi orang yang kaya raya.
(nur agustinus)

0 Komentar:

Posting Komentar