Kurangkul Diriku Demi Merangkul Bahagiaku

Penulis: Toge Aprilianto
Penerbit: Kencana, 2008
ISBN: 978-979-1486-47-7
Halaman: 222
Ukuran: 13x25 cm

Buku ini diawali dengan sebuah kegelisahan. Sebuah ketidakmengertian akan kehidupan. Namun ada upaya untuk tidak menyerah begitu saja terhadap keadaan. Ada sebuah gejolak hati bahkan pantas jika disebut sebagai pemberontakan untuk menyatakan eksistensi diri. Ada semacam ketidakpuasan akan lingkungan, bahkan sebuah alienasi atau keterasingan. Memang, manusia mudah menjadi terasing saat ini, sehingga dirinya tak henti gelisah menghadapi dunia luar. Namun ada sebuah upaya untuk memaknai diri dan kehidupan, di mana Toge Aprilianto, penulis buku ini, mengajak pembacanya untuk bisa menikmati hidup.

Judul buku ini bisa membuat orang termenung. Kurangkul Diriku Demi Merangkul Bahagiaku. Memang, buku ini sendiri nampaknya merupakan hasil sebuah permenungan. Tentu saja, buku ini bukan sebuah buku filsafat. Buku ini lebih merupakan sebuah karya kontemplatif yang dihasilkan dari sebuah introspeksi diri. Bagi orang yang menyukai ranah psikologi, buku ini tentu lebih mudah dipahami. Tapi bukan berarti buku ini hanya khusus bagi psikologi.

Melihat penampilan fisik buku ini memang kurang menarik. Tapi orang bilang, jangan menilai buku dari sampulnya. Entah, apakah orang pemasaran setuju atau tidak? Tapi jika orang mau membuka lembaran-lembaran yang ada di dalamnya, buku ini bukan buku yang biasa. Memang terkesan agak sulit dipahami karena tulisan yang ada setidaknya membutuhkan sedikit pemahaman tentang psikologi dan filsafat.

Buku ini terbagi dalam empat bagian. Tiga bagian pertama barangkali menjadi pengantar pemikiran untuk bagian yang terakhir. Pada bagian pertama, pembaca akan dibawa untuk mengenali apa itu perilaku. Penulis mencoba memperkenalkan kepada pembaca melalui sebuah tokoh superhero, Fantastic Four, di mana dianggapnya bisa menjadi representasi dari keempat hal dalam perilaku manusia, yakni pikiran, perasaan, tindakan dan kondisi fisik. Selanjutnya, mengapa manusia itu berperilaku, secara singkat memang dikatakan bahwa hal itu adalah untuk kenyamanan. Pertanyaannya adalah, mengapa perilaku ini dianggap penting oleh penulis, dalam rangka menuju sebuah kebahagiaan? Hal ini akan terlihat pada bagian berikutnya.

Bagian kedua, bahasan tentang sebuah relasi mulai menunjukkan pentingnya faktor ini dalam urusan kebahagiaan. Membaca buku ini saya menjadi teringat kata-kata yang pernah diucapkan Bertrand Russel, yang kira-kira bunyinya, "Binatang bisa bahagia asal sehat dan cukup makan, tapi manusia tidak cukup hanya itu." Logikanya adalah manusia bisa lebih bahagia dari binatang karena manusia memiliki akal budi. Namun pada kenyataannya, manusia dalam masyarakat modern ini, justru mengalami sebuah relasi yang bisa membuatnya tidak bahagia. Tak heran jika ada manusia yang kemudian menjauhi relasi. Namun, sebagai makhluk sosial, manusia nampaknya mendambakan sebuah relasi yang nyaman.

Ada hal yang menarik dari buku ini. Sisipan puisi di antara tiap bagian seakan memberi pengantar untuk lebih mudah memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Puisi-puisinya terasa kental bernuansa eksistensialis. Sebagaimana nampaknya penulis juga menganut pemikiran Viktor Frankl, terutama tentang makna hidup.

Bagian ketiga sebenarnya sudah bisa merupakan inspirasi bagi pembaca. Penulis menunjukkan kaitan antara perilaku dan relasi dengan bahagia. Tentu saja tidak mudah untuk mencapai kondisi yang sangat menyenangkan sehingga membuat kita merasa sangat nyaman dan bahagia, sebab hal yang kita hadapi atau terima, seringkali tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Bagian ketiga ini sebenarnya tidak bisa lepas dari bagian keempat buku ini, di mana penulis mencoba memberikan tips atau saran-saran bagaimana merangkul kebahagiaan. Di sini dibahas hubungan relasi antara seseorang dengan kekasihnya, antara seorang pekerja dengan pimpinannya, antara kakak dengan adiknya, hingga antara manusia dengan Tuhannya.

Menjadi bahagia adalah sebuah impian, namun tak dapat dipungkiri, bahwa salah satu ketakutan manusia yang terbesar adalah tidak bahagia. Sungguh menarik ketika penulis memancing komentar sejumlah orang tentang "Bila gagal bahagia kala ajal tiba". Cukup banyak komentar yang diikut sertakan dalam buku ini sehingga memberi sebuah gambaran yang menarik dari berbagai sudut pandang.

Membaca buku ini mengingatkan saya saat menonton film "The Pursuit of Happyness". Kebahagiaan bukan datang dengan sendirinya. Kebahagian itu harus dicapai, dikejar. Tentu saja jika Anda membaca buku ini tidak akan serta merta menjadi bahagia. Toge mengajak pembaca agar sadar bahwa sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk memilih dan menentukan apa yang diinginkan. Why not kalau mau bahagia? Manusia itu unik, dinamis dan seorang Toge yakin bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik. Maka kebahagiaan sebenarnya adalah hak yang wajib untuk dirangkul dan bukan lagi hanya menjadi sebuah impian.

(nur agustinus - 18 September 2008)

0 Komentar:

Posting Komentar