1 Apr 2013

Ikuti Entrepreneurship Online Course: Ciputra Way

Bergabunglah bersama lebih dari 10.000 peserta kelas entrepreneurship online, langsung dengan Guru Entrepreneurship Indonesia, Dr. (H.C.) Ir. Ciputra, yang diselenggarakan oleh Universitas Ciputra Entrepreneurship Online.

Kunjungi: Universitas Ciputra Entrepreneurship Online






8 Jan 2013

Proyek Stargate

Proyek Stargate

Oleh: Nur Agustinus


Jika Anda mendengar kata “Stargate”, maka akan mengingat sebuah film sci-fi berjudul sama tentang sebuah artefak alien yang bisa digunakan untuk bepergian ke planet lain dalam sekejap. Semacam membuat “wormhole” atau lubang cacing, di mana seseorang masuk lewat stargate A akan muncul di stargate B yang lokasinya sangat jauh karena berada di planet gugusan bintang lain.

Namun proyek Stargate yang akan dibahas di sini berbeda dengan yang ada di film. Informasi yang ada di Wikipedia menyebutkan bahwa proyek Stargate adalah sebuah nama sandi salah satu dari beberapa proyek yang dibentuk oleh pemerintah federal Amerika Serikat untuk menginvestigasi realita, potensi militer dan aplikasi dalam negeri dari fenomena paranormal, khususnya “remote viewing” yaitu kemampuan mental untuk “melihat” kejadian, tempat, atau informasi dari jarak yang sangat jauh. Proyek ini aktif sejak tahun 1970an hingga 1995, dan menindak lanjuti riset awal di bidang psikik yang dilakukan di Stanford Research Institute (SRI), American Society for Psychical Research, dan tempat lain yang melibatkan penelitian laboratorium di bidang paranormal.

Mereka yang memiliki kemampuan remote viewing, bisa menggambarkan keadaan suatu tempat, bangunan atau pemandangan tertentu dari jarak jauh dengan kekuatan mentalnya. Mereka bisa mengetahui kondisi-kondisi geografis di suatu wilayah meskipun belum pernah melihatnya, apalagi mengunjunginya, seolah-olah mereka mengerti benar wilayah tersebut.

Russel Targ dan Hal Puthoff , ilmuwan yang melakukan penelitian di Stanford Research Institute, melakukan beberapa eksperimen untuk membuktikan hal itu. Ada beberapa tahap eksperimen yang dilakukan. Pertama, mereka memilih beberapa subjek penelitian berupa orang-orang yang sangat tertarik dengan eksperimen tersebut. Kedua, subjek penelitian diberitahu bahwa remote viewing adalah kemampuan yang sangat umum dimiliki orang. Ketiga, kontrak singkat dibuat dimana subjek setuju bahwa dalam waktu tertentu, satu atau beberapa peneliti akan keluar laboratorium, dan datang secara acak ke suatu tempat tertentu dan berada disana selama sekitar 15 menit untuk melihatnya, memikirkannya, menyentuhnya dan lainnya. Subjek diberi kesempatan untuk secara fisik berinteraksi dengan peneliti tersebut. Keempat, peneliti lain bersama subjek, berada di dalam laboratorium dan merekam kesan yang didapatkan subjek. Baik peneliti maupun subjek tahu bahwa peneliti yang keluar berada dalam radisu 20-30 menit naik kendaraan. Kelima, setelah kembali dari lokasi, peneliti yang keluar itu mengajak subjek ke lokasi sebenarnya untuk mencocokkan dengan kesan yang diperoleh subjek. Hasilnya, banyak kesan-kesan subjek cukup akurat.

Harold "Hal" Puthoff dan Russel Targ (kanan)

Hasil ini tentu saja menarik perhatian militer. Keseriusan terhadap hal ini dapat dilihat dari banyaknya riset yang dilakukan, lebih khusus lagi untuk kepentingan militer dan intelijen. Di Amerika banyak buku telah ditulis tentang pemanfaatan kemampuan Remote Viewing (RV) ini untuk kepentingan CIA maupun militer.
Jim Schnabel dalam bukunya "Remote Viewers: The Secret History of America's Psychic Spies" yang terbit pada tahun 1997 menguraikan berbagai informasi tentang program militer Amerika Serikat dalam penggunaan RV. Fenomena RV sendiri pertama kali diungkap oleh Upton Sinclair dalam buku ”Mental Radio” (1971), yang menceritakan eksperimen Sinclair dengan istrinya.  Eksperimen dilakukan dengan menggunakan 100 gambar berbeda yang dilihat istrinya bukan melalui penglihatan fisik (mata) secara langsung, tetapi melalui RV. Sinclair sendiri merasa heran dan takjub dengan hasil yang diperoleh dari eksperimennya. "Saya tidak tahu mengapa atau bagaimana itu terjadi, tetapi saya telah melihat istriku melakukan hal tersebut sangat sering, dengan begitu banyak fenomena yang berkaitan, di mana saya tahu di sana ada suatu hal yang terjadi namun tak dapat dijelaskan, dan saya berpikir orang seharusnya mengetahui tentang hal itu," katanya mengomentari hasil eksperimennya sendiri.

 Proyek Stargate mendesain sebuah protokol untuk membuat penelitian di bidang “clairvoyance” dan “out-of-body experiences” (OBE) lebih ilmiah dan meminimalkan kemungkinan gangguan dan ketidakakuratan. Kata "remote viewing" dipakai untuk menggambarkan pendekatan ke arah “clairvoyance”. Stargate hanya menerima misi setelah seluruh upaya intelijen, metode dan pendekatan lain dilakukan dan kehabisan upaya. Pada puncaknya, Stragte memiliki 14 laboratorium riset remote viewing.

Apa itu clairvoyance? Kata ini berasal dari abad 17 di Perancis, dengan kata “clair” yang berarti "clear" atau jernih dan “voyance” yang berarti "visibility" atau kemampuan melihat. Jadi pengertian umum adalah kemampuan melihat jernih atau secara jelas.  Dengan kata lain, nampak sebagai sebuah kemampuan untuk memperoleh informasi tentang sebuah obyek, lokasi atau kejadian lain melalui penginderaan yang di luar indera biasa. Dalam penelitian, sering disebut sebagai bentuk dari ESP (extra-sensory perception). Seseorang yang mengatakan bahwa dirinya mempunya kemampuan clairvoyance biasanya disebut sebagai seorang clairvoyant ("one who sees clear").

Penelitian tentang clairvoyance mendapat dukungan dana, baik dari pemerintah Amerika Serikat maupun Rusia selama dan setelah perang dingin. Kedua pemerintah berdaya upaya memaksimalkannya sebagai salah satu alat intelijen (kegiatan mata-mata).

Di Stanford Research Institute, pada tahun 1972, Harold Puthoff dan Russell Targ melakukan studi secara serius untuk menguji partisipan yang memiliki kemampuan melihat jarak jauh ini yang benar-benar akurat. Salah satu yang terpilih adalah Pat Price, seorang mantan petugas polisi dari Burbank, California. Pat Price berpartisipasi selama era perang dingin pada eksperimen remote viewing, termasuk dalam proyek SCANATE dan Star Project. Bekerja dengan peta dan fotografi yang disediakan oelh CIA, Price menyatakan bahwa dia bisa meneria informasi dari fasilitas yang ada di belakang garis pertahanan Soviet.  Salah satu yang paling terkenal adalah sketsa yang dibuatnya tentang sebuah derek dan kerangka peluncuran ternyata sangat cocok saat dikonfirmasi dengan hasil foto intelijen CIA. Sejak saat itu, pernyataan-pernyataannya diperhatikan dengan sangat serius oleh CIA.
Christopher Green, Pat Price, and Hal Puthoff. (kiri ke kanan)

Apa hubungan antara remote viewing ini dengan masalah UFO atau alien? Price meyakini bahwa aliens telah mendirikan empat pangkalan bawah tanah di bumi. Ia menawarkan laporan tentang lokasi-lokasi ini ke Harold E. Puthoff, mantan dari SRI International, pimpinan penyelidik ilmiah untuk Proyek SCANATE (scan by coordinate).

Ketika Lt. Fredrick Holmes'Skip' Atwater mulai ikut dalam US Army Remote Viewing Star Gate program di tahun 1978, awalnya ia tidak menduga bahwa ia akan ditugaskan untuk menyeldiki lebih jauh sebuah target seperti pangkalan bawah tanah UFO.  Untuk tugas ini, Atwater bekerja sama dengan Targ dan Puthoff di SRI serta dengan serius mempelajari pernyataan yang dibuat oleh Pat Price.

Mantan direktur CIA, Stansfield Turner, mendeskripsikan Pat Price sebagai, “seseorang yang dapat melihat apa yang tengah terjadi di mana saja di dunia ini melalui kekuatan psikirannya.”
Stansfield Turner di sampul majalah Time

Informasi tentang pangkalan UFO ini dimulai di suatu hari di tahun 1973. Price berjalan menuju kantor Puthoff, melempar sebuah dokumen ke mejanya dan berkata, “Kamu mungkin tertarik pada pangkalan UFO.”

Pat Price sendiri meninggal dunia dengan sebab yang misterius pada tanggal 14 Juli 1975. Apa yang ada dalam dokumen yang diterima oleh Puthoff? Sejauh mana informasi ini akurat? Puthoff memberikan dokumen yang sama ke Atwater di awal tahun 1980an, sembari berkata, “Kamu mungkin tertarik dengan ini.” Penting untuk diketahui bahwa informasi yang disampaikan oleh Pat price ini dilihat olehnya tanpa melalui protokol yang berlaku dan hasilnya tidak secara resmi dilaporkan serta Price tidak menggunakan amplop yang tersegel.

Laporan Price menyatakan bahwa tujuan utama dari pangkalan UFO bawah tanah ini adalah untuk mempekuat BTL (Bilateral tubal ligation) implant, mengangkut anggota rekrut baru dan melakukan fungsi pengawasan secara menyeluruh. Price juga melaporkan bahwa pangkalan itu didiami oleh makhluk seperti kita, homosapiens, namun berbeda dalam jantung, paru-paru dan mata. Ia melaporkan di tempat itu sangat dijaga untuk tidak sampai ditemukan dan memiliki teknologi yang sangat canggih. Ia juga mencatat bahwa mereka menggunakan “transfer pikiran untuk mengendalikan gerakan kita.”
Lalu, di mana pangkalan bawah tanah alien ini berada?

Empat lokasi yang ditunjuk oleh Pat Price adalah pegunungan Perdido di sebelah utara Spanyol, pegunungan Inyangani di Zimbabwe, pegunungan Hayes di  Alaska dan pegunungan Ziel di Australia .

Apa yang ada di Pegunungan Perdido?  Lokasi pangkalan yang pertama ini terletak di pegunungan Pyrenees , antara Perancis dan Spanyol.

“Sebuah kumpulan gua yang terkenal di Pyrenees terdapat lukisan pra-sejarah tentang ancient astronaut dan pesawat ruang angkasa,” Atwater menjelaskan. “Dan di sana juga tercatat sejumlah kasus penampakan UFO.”

Pegunungan Perdido, atau Pegunungan  Perdu, memiliki ketinggian 3.352 m dan termasuk yang tertinggi ketika di Pyrenees . Price melaporkan bahwa pangkalan utama dijaga sekitar perimeter 2 mil dengan detektor. Sejumlah pesawat berada di tempat peluncuran dan terlihat seperti menggunakan sistem propulsi medan elektromagnetik.

Pangkalan bawah tanah yang dikemukakan oleh Price berikutnya terletak di lokasi pegunungan Inyangani, pegunungan tertinggi (2.592 m) di Zimbabwe , Afrika.

“Sebenarnya, di situ lebih banyak difungsikan sebagai pusat teknologi dan pemeliharaan,” kata Price. “Pangkalan ini terlihat seperti tempat pemeriksaan dan pemeliharaan unit. Saya melihat banyak peralatan suku cadang. Bagian-bagian  tertentu disambung dengan semacam las di dalam sebuah area hampa udara dengan bagian jendela, kemudian disatukan. Semacam bubuk putih keabu-abuan dioleskan kedua bagian kemudian disatukan.”

Lokasi berikutnya ada di pegunungan Hayes , Alaska . Tempat itu nampaknya merupakan sebuah pusat geologi dan cuaca dan memiliki sistem keamanan yang mirip dengan temuan terdahulu. Ia mendeskripsikan “perlengkapan komputer” yang dilengkapi dengan sebuah “oskiloskop” di mana ada kotak kecil dengan antenna yang bisa berputar di atas puncak gunung.

Lokasi keempat adalam pegunungan Ziel, sebuah pusat personnel, di wilayah utara Australia ..

“Yang menarik dari pangkalan ini adalah memiliki banyak sekali personil. Di sana para personil yang datang dari ketiga lokasi, nampak seperti sedang istirahat dan berada dalam area rekreasi.”

Price melihat beberapa kendaraan dari pangkalan lain, yang masing-masing memiliki tanda pengenal yang menunjukkan asal lokasi dan fungsinya.

Menurut James Casbolt  yang menulis artikel berjudul “Mount Ziel Underground Facility in Australia's Northern Territory”, melalui informasi yang diperoleh dari kontaknya di NSA yang disebutnya sebagai “X3”, di pegunungan Ziel memang terdapat fasilitas bawah tanah dan merupakan sebuah fasilitas kembar yang menuju ke pangkalan Pine Gap di sebelah utara Australia. Dokumen yang diberikan oleh agen NSA “X3” itu nampaknya adalah hasil remote viewing dari Pat Price.

“Pangkalan bawah tanah di pegunungan Zeil adalah kubu Anunnaki. Anunnaki, yang berasal dari sistem bintang Sirius ini, mempunyai sebuah aliansi strategis lepas dengan Draco Prime Reptilian yang berasal dari sistem bintang Draconis. Kedua kelompok ET ini punya agenda dengan planet bumi ini untuk penyerangan dan pengambilalihan. Akan tetapi dengan adanya beberapa ras ET yang positif termasuk Pleiadian yang akan menolong manusia, saya tidak yakin bahwa hal ini akan terjadi.”

Pada tanggal 5 Maret 2000, Annual International UFO Congress yang berlangsung di River Palms Resort di Laughlin, Nevada , Leonard Buchanan mengkonfirmasi keberadaan keempat pangkalan ET ini. Buchanan menjelaskan latar belakang dirinya sebagai seorang militer yang bertugas sebagai controlled remote viewer (CEV). Di keempat lokasi pegunungan yang terdapat pangkalan rahasia ET ini dikabarkan memang sering terlihat UFO.

Pegunungan Perdido

Lokasi pegunungan Inyangani

Hasil penyelidikan lokasi-lokasi yang berkaitan dengan kehadiran makhluk ET dengan cara remote viewing ini tentu membuat penasaran. Apakah informasi yang ada bisa dipercaya? Salah satu partisipan dalam proyek Stargate adalah Ingo Swann. Satu temuannya yang sangat meyakinkan adalah, Ingo Swann di tahun 1973 “melihat” bahwa planet Jupiter memiliki sebuah cincin. Fakta ini belum diketahui oleh para astronom saat itu, dan baru dikonfirmasi oleh pesawat antariksa tak berawak Voyage I di tahun 1979. Ingo Swann juga mengatakan bahwa di sisi bulan yang tak pernah nampak dari bumi (farside), ada pangkalan ET.

Joseph McMoneagle, salah seorang remote viewer, memberi informasi tentang akan jatuhnya stasiun angkasa Skylab di tahun 1979, setahun sebelumnya, termasuk memberi koordinat letak jatuhnya dengan akurat. McMoneagle juga melihat adanya reruntuhan bangunan di planet Mars, bahkan keberadaan “Face of Mars” di area Cydonia sudah diketahui melalui remote viewing sebelum Viking Orbiter 1 di bulan Juli 1976 memotretnya.


Ingo Swann pernah diminta untuk melakukan pengelihatan dengan kemampuan psikiknya di beberapa target lokasi di bulan oleh seseorang bernama Axelrod, yang bekerja untuk pemerintah AS. Hal itu membawa Swann secara psikik melihat bahwa ada kehadiran makhluk ET di sana . Swan “melihat” melalui mata pikirannya, kawah-kawah dalam kegelapan, dan memutuskan untuk melihat lebih jauh apa yang tersembunyi di sisi balik bulan yang tidak pernah terlihat dari bumi.  Swann kemudian melihat semacam tanda jejak traktor dan Swann sendiri nampaknya agak bingung karena menyadari bahwa dirinya telah “melihat” aktivitas makhluk cerdas dan struktur bangunan di bulan.

Swann melihat bahwa di kedalaman kawah terdapat cahaya artifisial, menara yang tinggi. Makhluk ET yang ada di bulan juga memiliki kemampuan psikik dan mampu mendeteksi kehadiran Swann. Swann merasa bahwa secara psikik, dia diketahui keberadaannya oleh dua makhluk humanoid yang mendiami pangkalan di bulan itu. Swann mengungkapkan informasi ini melalui bukunya yang berjudul “Penetration: The Question of Extraterrestrial and Human Telepathy”.

Dalam buku itu, Swann menceritakan hasil kerjanya dengan seseorang dari pemerintah AS yang menyelidiki keberadaan makhluk ET. Ketika melihat pangkalan rahasia ET di sisi jauh bulan, ia terkejut melihat sosok makhluk bulan perempuan. Ia menyimpulkan bahwa makhluk ET telah tinggal di bumi dalam bentuk tubuh humanoid seperti manusia. Seorang teman memperingatinya bahwa ada banyak sekali makhluk ET, kebanyakan adalah “bio-android”, dan bagi mereka yang menjadi musuh utama di bumi adalah orang-orang berkemampuan psikik.

Selain Ingo Swann, orang yang memiliki kelebihan psikik yang pernah ikut dalam proyek Stargate ini adalah Uri Geller, yang terkenal dengan kemampuannya membengkokkan sendok. Uri Geller bergabung di tahun 1972. Yang menarik, Uri Geller mengatakan bahwa dia mendapatkan kekuatan psikik dari sebuah pesawat UFO yang bernama Spectra. Apakah memang kemampuan remote viewing ini berkaitan dengan keberadaan makhluk ET?

Ada juga yang lain seperti Mayor Ed Dames yang mengatakan bahwa UFO yang jatuh di Roswell adalah sebuah mesin waktu. Ed Dames melakukan tugas remote viewing selama sepuluh tahun hingga 1992. Informasi yang diprolehnya antara lain adalah, alien sedang membuat ras hibrid di bumi. Menurutnya, planet Mars adalah sangat penting bagi masa depan umat manusia.

Penelitian di SRI memang sudah berakhir. Menurut Rusell Targ, penghentian dana ini bukan karena kegagalan proyek, tapi karena setelah perang dingin berakhir, mereka tidak diperlukan lagi.  Tidak jelas apakah pemerintah AS menghentikan semua penyelidikannya tentang remote viewing ini, atau mengalihkan pada proyek lain yang masih dirahasiakan. Selain di SRI, penelitian tentang remote vieweing juga dilakukan di SAIC (Science Applications International Corporation).

Satu hal yang menarik adalah, presiden Ronald Reagan pernah berbicara di depan sidang umum PBB ke-42 di tanggal 21 September 1987 , “In our obsession with antagonisms of the moment, we often forget how much unites all the members of humanity. Perhaps we need some outside, universal threat to make us recognize this common bond. I occasionally think how quickly our differences worldwide would vanish if we were facing an alien threat from outside this world.”

Kita semua menjadi bertanya-tanya. Tentunya informasi keberadaan alien ini bukan hanya sekedar fantasi jika seorang presiden AS sampai berbicara seperti itu yang bisa mempengaruhi reputasinya. Reagan sendiri kemudian mengembangkan sistem pertahanan dengan program (SDI)  Star Wars. Program ini memang dibuat seakan untuk menghadapi serangan rudal balistik dari Soviet, namun menurut Dr. Carol Rosin, sebenarnya untuk menghadapi ancaman makhluk ET yang berniat menguasai planet bumi.

Informasi tentang proyek Stargate ini tidak lagi rahasia karena pemerintah AS berdasarkan FOIA telah menyampaikannya kepada publik.  Namun demikian, menurut Joseph McMoneagle, salah seorang remote viewer, apa yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak lebih dari dua persen dari informasi yang diperoleh selama penelitian itu berlangsung. Apa yang ada di sana ? Masa depan apa yang sedang kita hadapi? Dalam bukunya yang berjudul “Memoirs of a Psychic Spy: The Remarkable Life of U.S. Government Remote Viewer 001”, McMoneagle mengemukakan bahwa aksi teroris yang menghancurkan gedung World Trade Center di New York , sebenarnya sudah “terlihat” beberapa tahun sebelumnya. Tapi pertanyaan yang selalu mengusik, apakah kita dapat mengubah masa depan setelah kita mengetahui apa yang akan terjadi?

Kiri ke kanan: Dr. Hal Puthoff, Ingo Swann, Russell Targ
 
(Selesai)

24 Mei 2012

The B-Side Club: Menyikap Rahasia Piring Terbang







VIVAnews -- Para pemerhati UFO (Unidentified Flying Object) seluruh Indonesia dijadwalkan berkumpul di Jakarta pada malam hari ini. Mereka akan berdiskusi ringan tentang UFO dengan tajuk, "Menyingkap Rahasia Piring Terbang di Indonesia".

Diskusi ini menghadirkan Ranggi Ragatha selaku pengurus BETA UFO koordinator wilayah Indonesia Timur, Muhammad Irfan mewakili pengurus dan pendiri UFONESIA serta Alfi Zachkyelle, seorang komikus Vienetta dan animator Vatalla.

Diskusi tersebut merupakan kerjasama komunitas diskusi The B-Sides Discussion Club, BETA UFO dan UFONESIA.

Dalam siaran tertulisnya, Andyono Muharso, salah satu pegiat UFO mengajak para pemerhati dan pengamat dunia UFO untuk menghadiri pertemuan yang akan diselenggarakan di The Reading Room Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, 24 Mei 2012, pukul 19.00 sampai 21.00 WIB.

"Acara ini tidak dipungut biaya alias gratis," kata dia. Bagi yang ingin menghadiri diskusi ini diharapkan memakai busana kasual atau beratribut UFO.

Rasa penasaran dan ingin tahu masyarakat Indonesia terhadap mahluk angkasa luar sudah ada sejak lama. Salah satu yang mempercayai keberadaan mahluk cerdas di luar manusia adalah pendiri sekaligus mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Marsekal Muda TNI (Purn) Raden Jacob Salatun.

Pada tahun 1960, ia bahkan pernah menerbitkan buku berjudul, "Menjingkap Rahasia Piring Terbang". Juga buku, "UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini" yang terbit 1982 -- yang menceritakan pengalamannya menyaksikan benda bulat dan putih yang diduga piring terbang.

Selain itu, Salatun memperkenalkan istilah "beta" singkatan dari benda terbang aneh, sebagai padanan kata UFO dalam Bahasa Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, pada Jumat 3 Februari 2012, Salatun tetap mempercayai keberadaan UFO. Oleh para pengamat UFO Indonesia, ia dijuluki sebagai Bapak Ufologi Indonesia.

Di luar Indonesia, salah satu usaha untuk menemukan UFO secara serius dilakukan oleh SETI (Searching for Extra-Terrestrial Intelligence).

SETI didirikan astronom bernama Frank Drake pada 1960, SETI telah beroperasi sejak lima dekade lalu. Mereka memindai sinyal radio dari luar angkasa, yang bisa memberikan indikasi bahwa manusia bukan satu-satunya mahluk yang hidup di alam semesta raya ini.


Foto: VIVAnews/ Amal Nur Ngazis

17 Jan 2011

Komunitas BETA UFO: Susah Dapat, Begitu Dapat Dicemooh


Unidentified Flying Object (UFO) merupakan misteri yang belum terjawab sampai kini. Benarkah ada? Atau hanya sekada ilusi? Bagi yang meyakini ada, UFO diburu. Banyak komunitas pemburu UFO, salah satunya BETA UFO.

BETA UFO adalah sebuah kelompok atau organisasi yang mengamati masalah UFO di Indonesia. BETA merupakan singkatan dari Benda Terbang yang Aneh. Kelompok ini didirikan pada 26 Oktober 1997 dengan tujuan meneliti, mendata, dan menganalisis penampakan UFO di Indonesia. Awal terbentuknya komunitas ini adalah minat beberapa orang yang penasaran dengan benda angkasa tak dikenal itu.

Salah satu orang yang menggagas BETA UFO adalah Nur Agustinus. Seperti diceritakan di Intisari Januari 2010, Nur Agustinus sudah tertarik dengan UFO semenjak kecil. Saat masuk SMA, bersama teman-teman sekolahnya ia membentuk kelompok pengamat UFO yang diberi nama Organisasi Masyarakat Eksplorasi Gejala Antariksa (OMEGA). Kelompok ini mirip kelompok ilmiah remaja, yang mengkhususkan diri di bidang pengembangan sains, khususnya UFO dan antariksa. "Saya dan teman-teman mencoba membuat alat detektor UFO, dan juga melakukan eksperimen peluncuran roket."

Atas aktivitasnya itu, ia sering dicemooh banyak orang karena dianggap mengurusi hal-hal yang dianggap tidak perlu. Toh segala cemoohan tidak membuatnya surut. Meskipun, diakuinya bahwa ia belum pernah melihat UFO atau bahkan bertemu dengan alien. Namun Agustinus memiliki keyakinan, UFO itu ada. "Dari apa yang telah saya baca dan pelajari, saya menyimpulkan bahwa masalah UFO ini adalah hal yang serius. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pernah melakukan sidangnya untuk membahas soal UFO pada tahun 1978. Bahkan ahli UFO dari Amerika Serikat, J. Allen Hynek, pernah datang ke Indonesia memenuhi undangan Adam Malik, untuk bertemu ketua LAPAN waktu itu, J. Salatun. Pertemuan itu juga ditayangkan oleh TVRI."

Seiring maraknya internet, Agustinus dan kawan-kawan membentuk mailing list untuk berkomunikasi dengan mereka yang tertarik akan fenomena benda terbang tak teridentifikasi itu. Dinamakanlah komunitas itu BETA-UFO.

Usianya kini sudah lebih dari satu dekade. Kegiatannya sudah banyak. Misalnya mengunjungi sejumlah situs arkeologi seperti candi Sukuh, melakukan perburuan UFO di lokasi-lokasi yang tercatat sering muncul UFO, seperti di daerah Dago, Bandung. Beberapa anggota komunitas BETA-UFO pernah melihat UFO dan berhasil mengabadikannya. Namun, berhasil melihat UFO atau merekamnya dalam bentuk video tidak serta-merta menyenangkan. Orang bisa saja kemudian mengomentari yang negatif. Misalnya dianggap mabuk, berbohong, dan cemoohan lain yang tidak menyenangkan.

Memburu UFO memang tidak mudah. Kehadirannya tidak bisa diprediksi seperti jadwal dan rute penerbangan pesawat komersial. Biarpun mata selalu memperhatikan langit, belum tentu tampak UFO yang lewat. Di sisi lain, ketika berhasil melihat UFO, maka cemoohan yang diterima. Ini seakan tidak adil, sebab orang tidak pernah dipertanyakan kewarasannya ketika mengaku melihat makhluk halus, tapi ketika mengatakan melihat UFO atau alien, maka tanggapan berbeda yang diterima.

Tidak dipungkiri, ada banyak orang yang melakukan upaya cemoohan dengan membuat foto-foto UFO hasil rekayasa yang kemudian ditampilkan di internet. Ini juga salah satu suka dukanya. Sebab sering kali kami merasa senang mendapatkan sebuah bukti foto yang meyakinkan, namun ternyata foto itu palsu. Bahkan pembuatnya sering tertawa karena berhasil mengelabui orang lain.

Makanya komunitas BETA-UFO memiliki tim untuk menguji laporan penampakan UFO. Seperti misalnya di tahun 2008, pernah ada foto UFO yang beredar di internet, dan setelah diselidiki langsung di lapangan, dapat dipastikan foto UFO itu hanya bayangan lampu di kaca jendela.

Untuk berburu UFO diperlukan perlengkapan yang tidak terlalu istimewa. Cukup kamera yang memadai, binocular, kompas, dan peta. Jika memiliki alat semacam detektor UFO, hal itu juga bisa berguna. Namun efektivitas alat ini juga tergantung jarak UFO tersebut, dekat atau tidak.

Dari pengalaman yang ada, ternyata banyak orang yang pernah melihat UFO tetapi tidak mengerti bahwa itu UFO dan juga tidak tahu harus melaporkannya kemana/siapa. Bisa juga tanya kepada orang-orang yang sudah cukup umur, misalnya orangtua kita, atau kenalan kita, mungkin dari antara mereka ada yang pernah mengalami peristiwa penampakan benda aneh di langit. Selain itu, berbagai cerita rakyat yang ada di daerah setempat atau kebudayaan setempat, mungkin sekali ada kaitannya dengan pemunculan UFO.

Tertarik menjadi pemburu UFO? Ini alamat BETA UFO!
BETA-UFO INDONESIA
Jl. Krembangan Barat 31-I
Surabaya 60175, Indonesia
Telp. (031) 3526207, 3542570
Fax (031) 3559283
 
Sumber: http://intisari-online.com/read/komunitas-beta-ufo-susah-dapat-begitu-dapat-dicemooh
author : Agus Surono
Monday, 17 January 2011

31 Jul 2010

Mana yang kau inginkan, teman atau musuh?

Pada zaman Tiongkok Kuno ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli. Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.

Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, “Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?” Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga Anda tetap sebagai teman.” Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut. Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.

Di samping rasa terimakasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, “Cara Terbaik untuk mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih.”

31 Mei 2010

Melintas batas waktu

by Nur Agustinus (Notes) on Monday, May 31, 2010
Film seri Time Tunnel (1966)


Saya sangat suka dengan perbincangan soal mesin waktu. Tapi tentu saja tidak dengan rumus-rumus fisika namun lebih pada pemikiran filosofi maupun logikanya. Time travel yang sering dibicarakan mengandaikan sebuah kemampuan untuk mengubah masa lalu. Kalau time travel ke masa depan, apakah sejarah masa depan juga akan berubah?

Dari beberapa hari melihat film Shrek, Prince of Persia, plus salah satu episode serial The Outer Limits (A Stitch In Time) di SciFi Channel, mesin waktu yang mengubah sejarah bagi saya masih sangat absurd. Dapatkah kita mengubah masa kini kita dengan kembali ke masa lalu dan melakukan sesuatu yang berbeda? Jika kita melakukan itu, bagaimana efeknya terhadap orang lain? Jika seandainya ada mesin waktu dan saya punya alat itu, dan orang lain juga punya, maka akan berapa banyak perubahan masa lalu dan masa depan. Ini tentunya bisa sangat mengacaukan. Hidup menjadi tidak ada artinya dan hanya sebuah permainan saja. Ini tidak bisa saya terima menurut hati kecil saya.

Setelah menonton bioskop kemarin, saya berdiskusi dengan teman saya yang bersama saya nonton itu. Menyadari kompleksitas itu, jika ada pelancong waktu, nampaknya orang itu bisa melihat apa yang terjadi, tapi tidak bisa berinteraksi. Ibaratnya, dia akan menjadi semacam "hantu" yang bisa melihat kejadian tapi tidak bisa dilihat kehadirannya oleh orang itu. Sebab jika ada orang yang melihat kehadirannya, atau keberadaannya ada secara fisik di dunia waktu itu, maka secara langsung akan berakibat pada perubahan dan mengacaukan universe ini. Bahkan walau tidak bertemupun (tanpa kontak), pendatang dari waktu berbeda bisa membawa virus atau penyakit yang tidak ada di masa itu tapi ada di masanya dia.

Jadi, kesimpulannya, mesin waktu hanya bisa dibuat dan itu menjadi semacam vision bagi si pelancong. Semacam televisi atau kalau penyihir jaman dulu melihatnya di air dalam baskom. Pelacong bisa berada di sana, namun kebaradaannya saya ibaratkan seperti hantu. Dia bahkan bisa menembus tembok karena bukan materi, namun hanya energi.

Saya pikir, apa yang dilakukan di Montauk Project, itu juga sama. Perjalanan waktu tidak secara fisik kembali ke masa lalu atau ke masa depan. Demikian juga kapal di Philadelpia experiment, dia hanya "muncul" di masa atau tahun berbeda, namun keberadaannya tidak diketahui (tidak terlihat) oleh orang di jaman yang berbeda itu. Melihat masa lalu, masa depan, barangkali akan seperti seorang cenayang... sebuah vision. Dengan kata lain, bisa saja "time machine" ini bukan seperangkat teknologi dengan transistor atau reaktor fusi nuklir, tapi sekumpulan orang-orang dengan kemampuan psychic, sehingga jelas sekali kaitannya dengan mind control. Saya jadi ingat sebuah film tentang hal ini, kalau tidak salah judulnya Minority Report, di mana ada 3 manusia yang direndam dan bisa memprediksi masa depan karena mereka melihatnya. Itu adalah mesin waktu yang sebenarnya, menurut aku. Kita tidak akan pernah bisa mengubah masa lalu, tapi bisa mengubah masa depan...

Salam,
nur agustinus

nb. Jika ingin tahu tentang Montauk Project: http://en.wikipedia.org/wiki/Montauk_Project

31 Jan 2010

Suka Duka Para Pemburu UFO: Berburu UFO Dalam Diam

Tulisan ini pernah dimuat di di Majalah Intisari edisi Januari 2010 halaman 130-138 dengan judul "Suka Duka Para Pemburu UFO: Berburu UFO Dalam Diam"


Nama saya adalah Nur Agustinus. Saya lahir 26 April 1966 di Surabaya. Sejak tahun 1978, saat saya masih SMP, saya mulai menyukai segala hal yang berada di langit. Waktu itu hobby saya adalah meneropong bintang dengan teleskop yang dibelikan oleh orangtua saya. Ketika saya memandangi langit dengan taburan bintang yang mempesonakan, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah ada kehidupan lain di sana. Semenjak saya mengetahui bahwa matahari kita adalah juga sebuah bintang, maka saya menduga bahwa di bintang yang lain juga ada planet-planet yang mungkin juga berisi kehidupan. Pertanyaan itu terus muncul sampai suatu saat saya membaca berita di surat  kabar bahwa ada penampakan UFO di Selandia Baru dengan foto-fotonya yang spektakuler. Seakan menjawab pertanyaan saya, bahwa UFO-UFO itu adalah kendaraan makhluk dari planet lain, saya menjadi semakin penasaran untuk memburu UFO tersebut.

Begitulah awal mula saya tertarik dengan fenomena UFO. Saat itu, di tahun 1980-an, banyak sekali buku-buku tentang UFO dalam bahasa Indonesia. Salah satu yang terkenal saat itu adalah buku karangan Erich von Daniken. Daniken mempunyai teori bahwa nenek moyang kita telah berinteraksi dengan astronaut dari bintang lain. Bukti-bukti yang disampaikan adalah peninggalan artefak yang unik dan aneh, yang nampaknya bisa dikaitkan dengan keberadaan makhluk dari luar angkasa. Karena saya suka membaca, maka perburuan saya yang pertama adalah buku-buku UFO. Saya ingat waktu itu ada dua buku di lapak buku bekas, yang satu buku tentang UFO, satu lagi tentang bangsa Maya. Karena uang saya pas-pasan waktu itu (masih SMP), saya akhirnya memilih buku Maya. Sayangnya, ketika saya datang lagi, buku tentang UFO tersebut sudah tidak ada.

Selain membaca buku, saya juga punya hobby menulis dan hasil tulisan tersebut saya kirimkan ke sebuah majalah dan seringkali tulisan saya dimuat. Saya menerima honor yang kemudian saya gunakan untuk membeli buku kembali. Buku-buku tentang UFO ini sampai saat ini masih menempati lemari perpustakaan saya.

Saat mulai mengenal tentang apa itu UFO atau piring terbang, saya dijejali dengan berbagai informasi tentang kehidupan dari angkasa luar. Apalagi dengan membaca testimoninya George Adamski, yang bertemu dengan Orthon, makhluk dari planet Venus. Belum lagi ada yang mengatakan bertemu dengan makhluk Mars, Jupiter dan lain-lain. Di masa itu juga sedang ramai dibicarakan soal peluncuran pesawat antariksa tak berawak Pioneer dan Voyager yang menuju Jupiter, Saturnus dan kemudian mengarah ke alam raya yang luas ini. Di saat itu pula, film Star Trek, Lost in Space, Buck Rogers, sampai yang konyol seperti Mork and Mindy serta ALF, diputar di Televisi Republik Indonesia, satu-satunya stasiun TV yang ada. Film-film bertemakan UFO juga banyak hingga kini. UFO sudah merambah ke budaya populer dan penampilan makhluk angkasa luar yang paling sering ditampilkan adalah yang berkepala besar, botak, tubuh kecil, dengan mata hitam besar. Makhluk yang secara fisik lemah, namun diyakini memiliki teknologi yang luar biasa.

Tentu, setiap malam saya berangan-angan bisa berjumpa dengan makhluk cerdas dari luar angkasa, yang bersahabat dan mengajak saya berjalan-jalan ke alam semesta yang luas ini. Angan-angan seorang remaja, yang merasa dirinya mustahil menjadi astronaut lewat jalur NASA atau bahkan jadi pilot sebab sudah berkacamata dan giginya ada tambalannya. Angan-angan yang membuat hampir tiap malam naik ke atas atap rumah, tiduran di sana sambil membawa binocular (teropong) dan teleskop. Sesekali melihat planet Saturnus dengan cincinnya yang memukau atau melihat Jupiter dengan empat satelitnya. Bulan juga jadi sasaran dan lubang-lubang kawahnya tampak begitu artistik. Namum, tak ada UFO yang lewat di atas rumah saya. Tak ada juga ETs yang menyapa saya, meski saya sudah berulang-ulang mengirim pesan "telepati" ke mereka. Ini karena ada tulisan yang mengatakan bahwa komunikasi ET menggunakan telepati. Kalau mengenang masa lalu, terasa konyol memang. Tapi saya yakin, bukan saya sendiri yang melakukan hal-hal konyol seperti itu.

Majalah Mekatronika yang penuh dengan artikel ilmu dan teknologi sangat memperkaya pengetahuan saya. Terlebih sejak membaca edisi eksobiologi dengan Carl Sagan sebagai bintangnya, saya langsung menjadikannya sebagai idola saya.
Seakan dalam hati, saya ingin menjadi seperti Carl Sagan. Ada tiga buku Carls Sagan yang saya punya saat itu, The Cosmic Connection, Communication with Extraterrestrial Intelligence, dan The Dragons of Eden. Kini buku-buku Carl Sagan yang lain juga ada, seperti Contact, Cosmos, Comet dan juga The Demon Haunted World.

Di tahun 1981, ketika saya mulai masuk SMA, bersama teman-teman sekolah, saya membentuk kelompok pengamat UFO yang diberi nama OMEGA (Organisasi Masyarakat Eksplorasi Gejala Antariksa). Kelompok ini mirip kelompok ilmiah remaja, yang mengkhususkan diri di bidang pengembangan sains, khususnya UFO dan antariksa. Saya dan teman-teman saya mencoba membuat sebuah alat detektor UFO, dan juga melakukan eksperimen peluncuran roket.

Sebagai orang yang suka mengamati fenomena UFO, tak dipungkiri sering mendapat cemooh karena dianggap mengurusi hal-hal yang dianggap tidak perlu, tidak berguna buat nusa dan bangsa. Namun cemoohan tidak membuat saya surut. Sejauh ini saya pribadi masih bertahan dan fokus dengan minat saya akan UFO ini.
 
Saya pribadi belum pernah melihat UFO atau bertemu dengan alien. Walau demikian, saya memiliki keyakinan bahwa UFO itu ada. Dari apa yang telah saya baca dan pelajari, saya menyimpulkan bahwa masalah UFO ini adalah hal yang serius. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pernah melakukan sidangnya untuk membahas soal UFO pada tahun 1978. Bahkan ahli UFO dari Amerika Serikat, J. Allen Hynek, pernah datang ke Indonesia atas undangan dari Bapak Adam Malik, untuk bertemu dengan ketua LAPAN waktu itu, Bapak J. Salatun. Pertemuan itu juga ditayangkan oleh TVRI.

Sejak tahun 1997, dengan maraknya internet serta kemudahan mengakses informasi, maka makin banyak artikel dan berita tentang UFO yang bisa dipelajari. Saya dengan beberapa teman kemudian membentuk sebuah komunitas yang sama-sama tertarik soal UFO. Komunitas ini berbasis internet dan menggunakan mailing list sebagai sarana komunikasinya. Kami menamakan komunitas ini ETA-UFO, sebab kata BETA berasal dari singkatan Benda Terbang Aneh, dan UFO adalah singkatan dari Unidentified Flying Object. Komunitas milis ini kini telah berusia 12 tahun dan pernah melakukan berbagai kegiatan mengunjungi situs arkeologi seperti candi Sukuh, melakukan perburuan UFO di lokasi-lokasi yang tercatat sering muncul UFO, seperti di daerah Dago, Bandung. Beberapa anggota komunitas BETA-UFO pernah melihat UFO dan berhasil mengabadikannya. Namun berhasil melihat UFO atau merekamnya dalam bentuk video tidak serta merta menyenangkan, sebab bisa saja orang kemudian mengomentari yang negatif. Misalnya dianggap mabuk, berbohong bahkan mungkin cemoohan lain yang tidak menyenangkan.

Memburu UFO memang tidak mudah. Kehadirannya tidak bisa diprediksi seperti jadwal dan rute penerbangan pesawat komersial. Biarpun mata selalu memperhatikan langit, belum tentu nampak UFO yang lewat. Di sisi lain, ketika berhasil melihat UFO, maka cemoohan yang diterima. Ini seakan tidak adil, sebab orang tidak pernah dipertanyakan kewarasannya ketika mengaku melihat makhluk halus, tapi ketika mengatakan melihat UFO atau alien, maka respon yang berbeda yang akan diterimanya.

Memang tidak dipungkiri juga, ada banyak orang yang melakukan upaya cemoohan dengan membuat foto-foto UFO hasil rekayasa yang kemudian ditampilkan di internet. Ini juga merupakan salah satu suka dukanya. Sebab seringkali kami merasa senang mendapatkan sebuah bukti foto yang meyakinan, namun ternyata foto itu adalah palsu. Bahkan pembuatnya sering tertawa karena berhasil mengelabuhi orang lain. Untuk itu, komunitas BETA-UFO memiliki tim untuk menguji laporan penampakan UFO. Seperti misalnya di tahun 2008, pernah ada foto UFO yang beredar di internet, dan setelah diselidiki langsung di lapangan, maka dapat dipastikan bahwa foto UFO itu hanya bayangan lampu di kaca jendela.

Berburu UFO sendiri memerlukan perlengkapan yang tidak terlalu istimewa. Cukup kamera yang memadai, binocular, kompas dan peta. Jika memiliki alat semacam detektor UFO, hal itu juga bisa berguna. Namun efektivitas alat ini juga tergantung jarak UFO tersebut dekat atau tidak.

Penggemar fenomena UFO sendiri terbagi dalam beberapa tipe. Ada yang suka berburu UFO di lapangan, ada yang melakukan penyelidikan dengan wawancara atau investigasi lapangan. Ada juga yang melakukan riset dokumen-dokumen yang ada. Bahkan ada juga yang tertarik ingin menemukan teknologinya untuk merancang atau membuat pesawat sejenis. Tentu saja, hal itu tergantung dari minat dan potensi masing-masing.

Fenomena UFO sendiri belum masuk ranah ilmiah. Ada yang menganggap hal ini sebagai sebuah hobby, namun ada juga yang merasa bukan sekedar hobby. Sejauh ini, mengapa seseorang mempunyai minat yang mendalam soal UFO, bisa karena beberapa sebab. Pertama, mungkin karena dia pernah mengalami sendiri, entah melihat UFO, kontak dengan alien atau diculik oleh alien. Ada beberapa anggota BETA-UFO yang mengaku pernah kontak atau diculik oleh alien. Kedua, karena membaca dan kemudian tertarik. Ketiga, bisa karena kenal dengan seorang tokoh pengamat UFO, kemudian tertarik ikut juga. Terlepas dari hal ini, rasa ingin tahu akan UFO ini sebenarnya cukup besar. Walau biasanya jarang ada orang yang mau secara terang-terangan mengakui bahwa UFO itu ada atau secara serius mempelajarinya. Semua itu memang banyak dikarenakan adanya cemoohan, bahkan orang yang melaporkan bahwa dirinya telah melihat UFO, terkadang bisa mempengaruhi kariernya, sehingga akhirnya lebih baik baginya untuk diam saja.

 * * *

Popular Posts