12 Mei 2013

Sun Tzu: Strategi 'Perang' Bisnis Dari Timur (3/8)

Memenangkan Persaingan Secara Efektif

-Oleh: Nur Agustinus-

Berbicara soal persaingan usaha, mungkin tidak banyak beda dengan peperangan antar dua negara. Keunggulan atau kemenangan suatu peperangan sangat tergantung banyak faktor. Seperti telah dibahas minggu lalu, peranan panglima juga sangat besar. Namun bagaimana cara memenangkan peperangan secara efektif? Serta, mungkinkah hal ini diterapkan dalam dunia bisnis?

Sun Tzu mengemukakan suatu pernyataan yang sederhana tentang perang. Menurutnya, "Perang adalah kegiatan yang penuh tipu muslihat". Dari satu pernyataan ini saja, sebenarnya terkandung makna yang luar biasa. Memang kalimat itu tidak berhenti di situ saja. Sun Tzu melanjutkan, "untuk itulah digunakan siasat."

Kalau hal ini dicoba untuk diterapkan di bidang bisnis, maka bisa diartikan, persaingan adalah kegiatan yang penuh tipu muslihat dan untuk itulah digunakan siasat. Satu hal yang dinasehatkan oleh Sun Tzu, "Siasat untuk mencapai kemenangan tidak boleh sekali-kali bocor terlebih dahulu."

Tak heran bila banyak eksekutif yang selalu berusaha merahasiakan langkah-langkahnya dalam persaingan. Mereka takut bila ketahuan "siasat"nya, maka lawan bisa segera mengantisipasi dan mengadakan perlawanan. Sulitnya, dijaman yang termasuk era informasi serta banyak perusahaan yang go public, maka kerahasiaan ini sulit terjaga. Hanya untuk perusahaan keluarga yang masih tertutup saja, umumnya segala rencana bisa dirahasiakan dengan rapi.

Namun tentu saja, tentang cara memenangkan peperangan atau persaingan ini tidak semata dari kepintaran membuat siasat. Yang penting menurut Sun Tzu adalah, bagaimana kita bisa menang dalam waktu singkat. "Menang dalam waktu yang singkat adalah tujuan perang," demikian tulisnya dalam buku The Art of War. Kalau hal ini kita pelajari, sebenarnya dapat menjadi nomor satu dari perusahaan atau menjadi yang paling unggul dalam waktu secepatnya adalah tujuan persaingan. Terlalu lama berada dalam posisi persaingan akan membuat lelah dan menghabiskan banyak sumber daya.

Hal yang menarik dari cara berpikir Sun Tzu tentang perang adalah, seorang yang ahli dalam seni perang akan menundukkan tentara musuh tanpa berperang. Memang, seorang yang ahli dalam pemasaran akan bisa mengalahkan produk pesaingnya tanpa harus bersaing langsung. Namun bagaimana caranya?

Untuk itu, Sun Tzu hanya mengingatkan pada satu hal, yaitu kenalilah lawanmu dan kenalilah dirimu sendiri. Nah pertanyaannya, benarkah Anda sudah mengenali diri Anda sendiri? Lebih jauh lagi, seberapa banyak Anda mengetahui tentang pesaing?

Banyak perusahaan yang mengalami kemunduran karena terlalu over-estimate terhadap diri sendiri. Ia menilai bahwa dirinya yang paling hebat sementara lawan-lawannya tidak ada apa-apanya. Kebiasaan "sindrom juara" ini sangat berbahaya. Ketidak-obyektifan pemikiran bisa berakibat fatal.

Mengenali diri sendiri tidak mudah, sebab orang cenderung menilai dirinya yang terbaik. Sebenarnya secara tidak langsung, Sun Tzu mengajarkan pada kita untuk melakukan analia SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity and Threat). Bagaimana kita mengukur kekuatan dan kelemahan yang kita miliki serta menelusuri adanya ancaman serta peluang di sekitar perusahaan yang datang dari pihak pesaing.

Sun Tzu dengan tegas mengatakan, jika engkau tidak mengenal lawanmu tapi mengenal dirimu sendiri, kalah dan menangmu seimbang. Sementara itu, jika engkau tidak mengenal lawanmu dan tidak mengenal diri sendiri, dalam setiap pertempuran selalu berada dalam keadaan bahaya. Yang penting, seperti diungkapkan oleh Sun Tzu, bila engkau mengenal lawanmu dan mengenal diri sendiri, engkau dapat memutuskan untuk bertempur atau tidak.

Itulah sebabnya, ketahuilah posisi perusahaan Anda dan bandingkan dengan kekuatan lawan. Anda sebagai seorang eksekutif atau "panglima" dari perusahaan yang Anda pimpin, harus benar-benar tahu akan diri sendiri dan lawan. Setidaknya dengan menyadari akan kekuatan dan kelemahan baik dari diri sendiri maupun lawan, Anda bisa memutuskan mau bersaing secara langsung atau tidak.

Kesalahan strategi karena tidak sadarnya akan keadaan diri sendiri dan lawan bisa menyebabkan kehancuran. Berpikir terlalu hebat bisa menyebabkan melakukan persaingan tanpa kendali. Tragisnya kalau mendapat lawan yang jauh lebih kuat. Dana yang sudah keluar begitu banyak bisa menjadi tidak ada artinya.

Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan? Kalau kita ternyata sudah mempelajari kondisi yang ada di perusahaan dan keadaan pesaing, langkah apa yang akan ditetapkan?

Sun Tzu tidak melupakan hal ini. Ada empat langkah yang bisa menjadi alternatif. Yang pertama, Sun Tzu mengajarkan, kita bertahan karena keadaan kita tidak dapat dikalahkan, kita menyerang karena keadaan lawan yang dapat dikalahkan, bertahan kalau syarat untuk menang belum cukup dan menyerang kalau lebih dari cukup.

Kalau dipikir, apa yang dikemukakan oleh Sun Tzu sebenarnya logis dan harusnya kita sudah mengetahuinya. Namun sekali lagi persoalannya, banyak keputusan yang diambil ternyata keliru. Misalnya melakukan penyerangan sementara keadaan lawan tidak dapat dikalahkan atau syarat untuk memang belum cukup. Atau justru sebaliknya, di saat kondisi sedang optimal atau puncak, kita justru berada di posisi bertahan, bukannya menyerang. Mungkin pandangan Sun Tzu ini bisa menyadarkan langkah yang telah kita lakukan. 


(Bersambung)

Popular Posts