16 Mei 2013

REE Asia 2012 di Bangkok (2/3)

Hari kedua, 2 Februari 2012
Kami berempat, saya, Michael & Michael, dan Ivan Sandjaja, naik taxi menuju ke hotel dan sampai sekitar jam 10 lebih sedikit. Untunglah acara belum dimulai juga dan ternyata ada sisi positifnya, kami diminta untuk menempati meja di depan sendiri sebab meja itu rupanya masih kosong. Ternyata kebiasaan duduk agak jauh dari pembicara ada di mana-mana. :)
 
Duduk dekat pembicara membuat saya lebih mudah untuk melakukan perekaman dengan handycam. Tujuan saya agar rekan-rekan yang lain juga bisa mendengar isi materi dari apa yang disampaikan oleh pembicara. Kualitas suara dan gambar memang tidak istimewa karena perangkat yang saya gunakan juga tidak tergolong canggih, bahkan saat batery handycam saya habis, saya sambung memvideonya dengan kamera hp. 
 
Sesi pertama pagi itu dibawakan oleh Saras D. Sarasvathy menyampaikan tentang Effectuation. Saya sendiri belum paham benar tentang apa itu effectuation. Pendekatan Saras mengenai effectuation ini sebenarnya lebih pada sifat, jadi mestinya bisa lebih mudah saya pahami dengan latar belakang psikologi. Menurut Saras, yang agak berbeda dengan kebanyakan cara pandang lainnya, entrepreneur tidak dimulai dengan kebutuhan pasar, akan tetapi mulai dengan melihat ke dalam diri sendiri. Pertama, melihat siapa diri mereka (nilai-nilai, harapan, kepribadian). Hal berikutnya adalah menggali apa saja yang mereka ketahui, baik itu berupa pengetahuan, pengalaman, maupun keterampilan. Terakhir, kemampuan memanfaatkan siapa yang mereka ketahui yaitu network yang sudah dimiliki.  Terjadi tanya jawab yang cuku seru mengenai effectuation ini. Rekaman video yang saya buat cukup panjang, jika berminat bisa mengcopy di tempat saya.
Acara berikutnya adalah presentasi dari John Stayton mengenai aspek sustainability. Menurutnya untuk bisa sustain, harus ada sistem yang baik. Presentasinya memang disampaikan dengan kurang begitu menarik dan dilakukan di jam setelah makan siang (setelah 13.30). Tentu bisa dibayangkan betapa ngantuk-ngantuknya saat itu. John kemudian membuat acara lebih menarik dengan membuat sebuah workshop menggali permasalahan serta solusi. Di tiap-tiap meja ada kertas plano yang di tengah-tengahnya ada topik yang berbeda-beda antara setiap meja. Topiknya misalnya ada yang tentang energi, ada yang mengenai pendidikan, ada yang tentang orang miskin, dan lain-lain.
Setiap orang dalam kelompok di meja, kemudian membuat mirip mind mapping tapi bukan, sebuah ide yang berkaitan dengan topik tersebut. Semua anggota dalam kelompok harus berpartisipasi menambahkan ide-ide di kertas plano tersebut. Lalu setelah sekitar sepuluh menit, kelompok diminta untuk pindah ke meja lain dan meneruskan apa yang ditulis oleh kelompok sebelumnya. Jadi tiba-tiba kita dihadapkan dengan topik baru dan mesti menambahkan ide-ide di kerta kelompok lain. Saat itu kita mesti berkeliling hingga lima kelompok dan mengisi berbagai topik yang berbeda-beda, hingga akhirnya kita kembali ke meja semula. Sebuah ide proses pembelajaran yang menarik dalam rangka brainstorming serta memikirkan ide-ide secara luas. Setelah itu, kelompok menuliskan kata-kata yang yang banyak muncul di kertas plano, dan kemudian membuat sebuah solusi inovatif.
 
Acara selanjutnya diisi oleh pembicara dari India, yakni Parimal Merchant, director Center for Family Managed Business dan Rukaiya Joshi, Profesor PGCDM. Keduanya suami istri yang bekerja di S.P. Jain Institute of Management & Research. Presentasinya berkaitan dengan family managed business (FMB) dan pentingnya dalam entrepreneurship. Sementara yang satu lagi membahas mengenai program pasca sarjana dalam pengengambangan manajemen. Kita telah mendapatkan file presentasi dari kedua pembicara tersebut.

Sesi terakhir hari kedua diisi oleh Alistair Fee dan Peter Russo, tentang Global REE Long Term Thinking. Modelnya lebih bersifat workshop dengan setiap meja mendapat tugas untuk mencari isu-isu yang berkenaan dengan topik tertentu, misalnya tentang kesehatan, energi, hukum, komunikasi, pendidikan, logistik, dan lainnya. Kita diminta untuk mencari sebanyak-banyaknya isu, kalau bisa hingga 50 isu. Lalu dari isu-isu yang banyak itu, disuruh mencari 3 yang paling dianggap penting dan kemudian membuat sebuah pernyataan. Mungkin tujuan dari pembelajaran ini adalah dalam setiap persoalan (isu) terdapat peluang.
 
Jam 5 sore acara selesai dan akan dilanjutkan esok hari dengan dimulai jam 9 pagi.
 
 




 

Popular Posts