17 Feb 2023

Save the best for the last


Sejak kecil aku suka sekali makan yang namanya telur ceplok atau telur mata sapi. Kebiasaanku waktu makan selalu menghabiskan dulu nasinya, baru terakhir menikmati telurnya. Bukan cuma telur, namun saat makan lainnya, misal ayam goreng, maka nasinya habis duluan, baru setelah itu ayamnya. Belakangan setelah aku besar, aku kemudian dengar istilah, “save the best for the last”. Menyisakan hal paling baik untuk yang terakhir. 

Aku tidak tahu, apakah itu kebiasaan yang baik atau tidak. Apakah ini juga mirip dengan peribahasa,  'Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian'? Entahlah. Sepertinya juga tidak sama persis, karena makan nasi bukanlah penderitaan. Apakah dengan makan nasi dulu ini supaya kenyang lalu setelah itu baru menikmati yang enak? Atau, jika seandainya aku makan telurnya dulu dan habis, apakah aku akan bisa menikmati saat menghabiskan nasinya? 

Nasi adalah makanan pokok buat kebanyakan orang Indonesia. Makanan sumber karbohidrat yang berguna sebagai sumber tenaga harian. Walau kini banyak himbauan agar mengurangi karbohidrat. Aku sendiri sudah sejak usia sekitar 40an, dinyatakan mengidap diabetes tipe 2. Papiku juga penderita diabetes. Itu sebabnya ada yang bilang bahwa penyakit ini adalah turunan. Opa dan Omaku, orangtua papiku, keduanya diabetes. Semua anak-anaknya atau saudara papiku, menderita diabetes tipe 2. Namun aku juga sadar betul bahwa kalau aku saat ini memiliki penyakit gula, itu juga karena pola makan dan gaya hidupku yang kata banyak orang, tidak sehat. Apalagi aku juga tidak suka olah raga.

Aku waktu kecil tidak suka sayur. Makanan dan minuman saat itu sudah mulai banyak yang manis-manis serta porsinya banyak. Menu di Surabaya itu biasanya banyak, Orang mengatakan porsi kuli. Saat aku kuliah, rumah makan waralaba fast food mulai banyak muncul, seperti CFC, KFC, McD, pizza dan lain sebagainya. Minuman soda seperti coke atau lainnya juga menjadi minuman pelengkap resto cepat saji ini. Bahkan dengan tambah uang sedikit, bisa dapat porsi minuman yang lebih besar. Tentang minuman soda ini sendiri memang sudah ada sejak aku kecil. Saat itu ada yang namanya limun bermerk F&N. Aku paling suka yang rasa coffee beer. Ada juga Green Spot, Seven Up, Mirinda dan lain sebagainya. Enak semua. Aku dulu juga suka Fanta rasa nanas. Namun minuman rasa ini tidak lama dipasarkan, entah kenapa.

Kembali ke “Save the best for the last”, saat makan ceplok, sampai hari ini, aku juga lebih suka memakan putihnya dulu, baru terakhir menghabiskan kuningnya. Jelas yang kuning lebih gurih dan enak daripada yang putih. Sepertinya banyak juga yang seperti aku cara makannya. Kenapa ya? Apakah ada penjelasan teori psikologi untuk hal ini? Mengapa orang suka menyisakan yang dirasakan paling enak untuk saat terakhir?

Tentu saja, kebiasaan ini tidak semua orang melakukannya. Yang aku tahu, salah satu anakku, Krista, punya kebiasaan makan telurnya dulu. Atau setidaknya dimakan sembari dengan nasinya. Kalau dipikir, harusnya ini yang betul. Nasi dimakan dengan lauknya. Nah karena Ferdinand jika makan ambil nasinya banyak, maka sering telurnya sudah habis duluan dan nasinya masih ada.  Tapi dia bisa menghabiskan nasinya meski lauknya sudah habis.

Saya lantas ingat dengan salah satu eksperimen marshmallow di Stanford. Eksperimen ini adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda. Percobaan ini dilakukan Mischel pada tahun 1960an. Hal ini kemudian juga dihubungkan dengan kecerdasan emosional. Eksperimen ini dilakukan pada anak-anak usia pra sekolah dan dihadapannya ada sebuah marsmallow (permen kenyal). Si anak diberitahu, bahwa dia akan ditinggal sendirian untuk sementara waktu (sekitar 15 menit), lalu jika nanti si petugas datang kembali dan si anak bisa menahan dirinya untuk tidak mengambil dan memakan marsmallow itu, maka dia akan dihadiahi satu marsmallow lagi. Hasil dari percobaan tersebut adalah sekitar sepertiga dari anak-anak tersebut langsung dengan segera memakan marshmallow, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow, sementara sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Eksperimen ini memang berkenaan dengan pengendalian diri anak.  

Apakah eksperimen ini bisa menjelaskan fenomena “save the best for the last”? Aku belum mendalaminya lebih lanjut. Namun dari pengalamanku, cara makanku sepertinya begitu. Misalnya saat makan sate, biasanya satenya aku sisakan untuk yang terakhir. Aku bisa menikmati makan nasi dengan bumbunya. Tapi herannya, saat aku makan kacang rebus misalnya, aku justru mengambil dulu kacang-kacang yang besar. Justru saat-saat terakhir, aku melihat yang ada tersisa adalah kacang-kacang yang kecil dan tidak menarik. Padahal aku mengambilnya tidak selalu dengan melihat dulu. Apakah tanganku dengan meraba bisa memilih yang terbaik lebih dulu? Tapi kenapa tidak berlaku “save the best for the last”? Apakah kalau makan camilan seperti kacang rebus ini terbiasa dimakan bersama banyak orang lain sehingga terjadi semacam kompetisi agar jangan sampai aku mendapatkan kacang rebus yang kecil dan jelek sebab yang bagus-bagus akan diambil oleh yang lain? 

Aku pernah mengikuti seminar Financial Planning dari Bapak Dr. Denny Bernardus, teman kuliahku di S3 dulu yang sekaligus menjadi bossku saat aku bergabung dengan Universitas Ciputra. Beliau mengajarkan juga prinsip “save the best for the last” ini dalam mengelola keuangan. Prinsip ini penting untuk pengeluaran yang besar.  Dari pengalaman, beliau mengatakan, kebanyakan orang kalau memakan telur mata sapi ini, biasanya yang dimakan adalah putihnya dahulu baru kemudian yang terakhir adalah kuningnya. Save the best for the last. Aku setuju sekali karena aku melakukan seperti itu. 

Menurut Pak Denny, ini sebenarnya hanya bisa dilakukan kalau kita benar-benar tahu apa yang kita inginkan di masa mendatang. Misalnya, mau punya rumah. Orang sering tidak sabar dan salah dalam membuat keputusan. Seperti di eksperimen marsmallow tadi ini sebenarnya prinsip belajar menahan nafsu atau kontrol diri. Jadi pertanyaannya, sanggupkan kita menahan diri untuk mencapai apa yang kita cita-citakan dan tidak tergoda untuk membeli barang-barang yang sebenarnya hanya kita inginkan tapi tidak kita butuhkan? Sepertinya soal cara makan ini adalah hal yang sepele saja. Tapi mungkin bisa mempengaruhi perilaku serta keputusan kita juga. Dalam ilmu perilaku ekonomi, memang banyak keputusan yang kita ambil itu dilakukan secara emosional dan tidak rasional.

Mengakhiri cerita soal makan ini, aku teringat dengan pengalaman seorang temanku. Dia cerita punya pengalaman yang membagongkan gara-gara menerapkan prinsip save the best for the last. Saat itu dia bersama keluarganya makan di sebuah rumah makan. Dia pesan ayam goreng. Seperti biasa, nasinya dihabiskan dulu. Lalu setelah semua sudah selesai makan dan kemudian balik ke parkiran mobil untuk pulang, dia baru ingat kalau ayam gorengnya belum dia makan. Kelupaan. Ya, ini risiko gara-gara save the best for the last…

Salam sehat untuk semua, jangan lupa bahagia.

Sayur


Kali ini cerita tentang sayur. Ini sebenarnya tentang masa kecilku. Oh ya, katanya, kalau suka cerita tentang masa kecil, tandanya sudah tua,  hahaha… 😃 Tapi mau cerita masa depan juga bingung, ntar dikira bermimpi.

Kenapa dengan sayur? Waktu aku kecil, aku paling tidak suka makan sayur. Mamiku sering masak sayur, biasanya ada sayur bayam, sayur asem, dan juga urap-urap. Orang Surabaya menyebut kata sayur itu dengan “jangan”, jadi masakan jangan bayam, jangan asem, jangan lodeh dan sebagainya. 

Saat itu di keluargaku ada makanan untuk siang dan malam yang berbeda. Biasanya kalau pagi akan makan makanan malam sisa kemarin. Nah makanan siang ini menunya sayur-sayuran. Kalau malam, bisa rawon, pindang (ini bukan ikan pindang, tapi seperti garang asem), sop merah, opor ayam atau lainnya. Makanan kesukaanku, sop merah apalagi kalau ada lidah. Lidah sapi makanan favorit.

Waktu itu, aku sama sekali tidak suka makan sayuran. Apa sebabnya? Aku tidak tahu. Yang pasti tidak suka aja. Hingga seingatku, mamiku pernah bikin aturan, kalau dapat nilai jelek, harus makan sayur. Mudah-mudahan ingatan ini benar, bukan false memory.  Kalaupun terpaksa makan sayur, di mulutku terasa tidak enak.

Tapi entah mulai kapan, rasanya setelah dewasa, aku mulai suka sayuran. Mungkin diawali dengan suka nasi pecel, trus sayuran kesukaanku adalah sayur asem, yang ada kacang dan jagung rebusnya. Kalau makan nasi pecel, aku minta tambah bendoyo (krai, sejenis timun yang direbus). Selanjutnya, mungkin karena beberapa kali pernah makan nasi tumpeng, mulai suka yang namanya urap-urap. Saat inipun bisa makan yang namanya sayur lodeh, karena aku pikir mirip nasi gudeg. Aku juga suka kangkung ditumis. Namun untuk sayur bayam, walau saat ini bisa makan, bukan menu yang bisa menambah nafsu makan.

Padahal, di sekolah dulu diajarkan tentang empat sehat lima sempurna. Salah satunya tentu harus makan sayur-sayuran. Untunglah sekarang ini sudah bisa makan sayur, tapi tetap kalau ke kondangan yang menu prasmanan, lalu bila di sana ada menu bistik atau semur lidah, pasti bolak balik nambah. 

Ini cerita singkatku hari ini, mungkin karena itu juga, aku tidak bisa menjadi seorang vegan…

Komik

Komik adalah bagian dari budaya popular. Keberadaannya memang agak tersisihkan oleh animasi dan film. Masa kecilku hingga remaja, diwarnai oleh banyak komik, baik komik dalam negeri maupun dari luar, khususnya komik Eropa. Ini juga tidak lepas dari keberadaan majalah anak-anak dan remaja seperti Bobo dan Hai. Bahkan aku bisa mengetahui cerita lengkap dari sebuah karya sastra kelas dunia lewat Album Cerita Ternama yang diterbitkan oleh Gramedia. 

Waktu kecilku, aku suka sekali membaca komik, terutama komik superhero dan yang bernuansa sains fiksi. Komik dagelanpun suka seperti Petruk Gareng. Beberapa komik silat, tergantung komikusnya, misalnya aku suka karya Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Aku malah belum pernah sama sekali membaca buku cerita karya Ko Ping Hoo. Namun komik wayang karya RA Kosasih, aku sangat suka. Ini juga yang membuat aku suka wayang dan tahu ceritanya lewat baca komik. Dari komik yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, membuat aku tahu cerita lengkap dari Alkitab. 

Karena di masa kecilku lebih banyak baca komik lokal, maka aku lebih kenal dan menggemari tokoh seperti Godam, Gundala, Pangeran Mlar, Masa Sang Penakhluk, Aquanus dan lainnya. Superhero luar yang aku kenal saat itu seperti Superman, Batman dan Robin, Green Lantern hingga Flash Gordon. 

Tapi bukan tentang komiknya yang aku ingin ceritakan kali ini. Tadi aku menyebutkan bahwa aku lebih banyak mengkonsumsi komik lokal. Nah ini ada sebabnya dan ini yang aku ingin ceritakan. 

Tak jauh dari rumahku, mungkin sekitar 350 meter, tepatnya di jalan yang namanya Jagaraga, ada orang yang membuka usaha persewaan komik. Tempatnya sederhana, kecil tapi buku komiknya banyak. Dikelola oleh seorang perempuan, entah apakah mbak-mbak atau ibu-ibu. Karena waktu itu aku masih kecil, aku melihatnya dia sudah dewasa. Nama persewaan komiknya adalah Shinta. Sepertinya itu dari namanya. 

Aku sering meminjam komik di sana. Seri komik karya Hasmi, Wid NS dan lain-lainnya adalah yang paling aku suka. Memang di masa kecilku, di tahun 70-an, lahirlah tokoh-tokoh superhero kita. Misalnya baru saja aku baca di Wikipedia, Godam adalah tokoh komik ciptaan Wid NS, muncul pertama kali dalam judul Memburu Doktor Setan pada tahun 1969. Gundala, tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik "Gundala Putra Petir" pada tahun yang sama. Aku belum sempat bertemu dengan Win NS, Beliau meninggal di tahun 2003. Namun aku sempat berjumpa dengan pak Hasmi (Harya Suryaminata) di Yogyakarta pada tahun 2016, beberapa bulan sebelum beliau tutup usia.

Kembali ke persewaan komik Shinta ini, saat ini sudah tidak ada. Menurut kabar, rumahnya yang dulu jadi tempat persewaan komik sekarang kosong, tak ada yang menempati. Kemarin aku potong rambut di Pak Nasir, dekat pasar Krembangan, beliau cerita kalau anak-anaknya Shinta saat ini semua sukses, kerja di bank dan tinggal di daerah Benowo. Pastinya aku tidak begitu tahu. Namun, setiap aku lewat jalan Jagaraga ini, aku teringat dengan persewaan komik tersebut. Bagaimanapun, komik-komik ini benar-benar mengisi dan membentuk diriku seperti saat ini. Untuk yang usianya hampir sama, aku cukup yakin, pasti komik punya peran besar dalam kehidupan kita.

Padahal, komik saat itupun dianggap sebagai barang yang tabu dan dilarang. Setiap generasi pasti ada yang dikuatirkan. Kalau sekarang orang tua dan guru mencemaskan anak-anak yang tergantung dengan gawainya, Jaman aku kecil dulu, kalau ketahuan membaca komik, terlebih di sekolah, bisa dirampas. 

Soal komiknya, memang komik lokal kita menjadi tersisih dengan hadirnya komik import, baik dari Eropa, Amerika maupun Jepang. Bisa juga karena aspek marketing maupun manajemennya. Diawali dengan komik Tintin, Tanguy and Laverdure, Smurf, Storm, Trigan, dan masih banyak lainnya, yang diterbitkan saat itu oleh Indira dan Misurind. Disusul serbuan komik asal Jepang seperti Doraemon, Tsubasa, Dragon Ballz, Sinchan  dan lain sebagainya. Yang pasti, komik ini memang luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan manusia.

Persewaan komikpun berjaya di tahun-tahun 80 hingga akhir tahun 2000 dan ada di berbagai sudut kota. Kini di Surabaya boleh dibilang amat sangat jarang. Terakhir aku menyewa komik, novel atau majalah di persewaan yang ada di jalan Waspada, seberang Pasar Atum. Banyak yang kemudian beralih menjadi persewaan VCD dan DVD, yang diawali dengan persewaan kaset Betamax atau VHS, sampai akhirnya karena mereka umumnya menyewakan barang illegal (bajakan), kemudian ditertibkan. 

Aku merindukan masa kecilku dulu, yang bisa menyewa komik dan membacanya tanpa harus membelinya. Mungkin karena itu, sebagian dari orang-orang seperti aku, saat ini mulai mengumpulkan kembali komik-komik bacaan di masa lalu. Lalu ada yang menjadi kolektor komik, yang membuat harga komik menjadi melonjak tinggi.

Itu ceritaku hari ini… Salam cergam buat semua pecinta komik.

Dear Bagong


Aku yakin sejak dulu banyak anak yang mengalami pembulian saat kecil. Ada yang masih dalam kategori biasa hingga sampai traumatik. Seorang anak bisa dibully karena bentuk tubuhnya, bisa juga karena namanya, atau tampangnya. Mungkin juga karena sikap, perilakunya, bahkan bisa karena keadaan ekonomi serta pekerjaan orangtuanya. Banyak penelitian tentang hal ini sekarang. Terlebih karena makin banyak korban perundungan yang membuat kerusakan pada perkembangan jiwa seseorang.

Apakah aku dulu pernah mengalami pembulian? Tentu saja. Tapi untungnya aku banyak tidak pedulinya dengan gangguan-gangguan seperti ini. Waktu kecil aku sering dipanggil dengan sebutan Bagong. Panggilan ini ada di dalam keluarga. Asal mula dipanggil Bagong sepertinya karena aku waktu kecil termasuk gemuk. Dulu merasa lucu saja dipanggil Bagong. Kalaupun merasa tidak suka, tapi karena merasa tidak berdaya untuk mengatasinya, ya akhirnya dibawa santai saja.

Bagong adalah saudaranya Petruk dan Gareng. Salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan. Dia memiliki tubuh pendek, gemuk, mata bulat, hidung pesek, dan bibir tebal. Sepintas, Bagong mirip dengan Semar. Karakter Bagong ini katanya pendiam, lugu, lancing, namun sekali bicara membuat orang tertawa. 

Aku tidak punya ingatan banyak untuk diceritakan tentang panggilan Bagong ini. Namun aku pikir ini menjadi salah satu bagian dari kehidupan masa kecilku dulu. Hingga saat ini, aku suka dengan tokoh2 punakawan ini, Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. 

Jarak Antara Hidup dan kematian


Aku bersama Ari setelah beberapa hari ia dilahirkan.

Kematian sejatinya adalah peristiwa yang sering terjadi di sekitar kita. Seseorang bisa mempunyai pemikiran filosofis yang berbeda-beda tentang hal ini. Ada banyak penafsiran dan pandangan. Orang bisa berdebat panjang lebar. Baik menurut keyakinannya maupun pemikiran rasionalnya. Ada juga yang dengan gigih menyampaikan berbagai bukti yang diyakininya ilmiah. Tapi bukan hal ini yang hendak aku bahas. Aku ingin cerita tentang adik sepupuku. Aku memanggilnya Ari. Nama lengkapnya Yohanes Ari Budiman Soedjatmiko.

Ari adalah anak pertama dan Om Johnny, adik paling bungsu dari papiku. Aku dekat dengan saudara-saudara papiku, mulai dari Tante Vonny, Om Leo dan Om Johnny. Semuanya saat ini sudah meninggal dunia. Keluarga papiku berasal dari Probolinggo. Om Leo dan Om Johnny adalah adik dari papiku, sementara tante Vonny adalah kakaknya, anak tertua dari opa dan omaku. 

Om Leo dan Om Johnny pernah tinggal di rumah keluargaku saat mereka belum menikah. Om Johnny suka sekali dengan fotografi. Kamarnya bisa dijadikan kamar gelap, tempat mencuci dan mencetak foto hitam putih. Om Leo bekerja sebagai detailer, sekarang istilahnya lebih sering disebut Medical Representative, di sebuah perusahaan Farmasi, Kalbe Farma.

Setelah Om Leo dan Om Johnny menikah, mereka tinggal di rumahnya masing-masing. Aku punya beberapa adik sepupu. Dalam tulisan ini, aku ingin cerita tentang Ari, anak sulung Om Johnny.

Ari lahir tanggal 15 Mei 1980. Saat itu berarti aku kelas 3 SMP. Om Johnny dan tante Maudy, istrinya, beserta Ari, tinggal di rumah kontrakan di jalan Sanggar. Rumah ini tidak jauh dari rumahku. Kalau aku ke sekolah, jalan kaki, aku pasti melewati rumah Om Johnny. Biasanya aku sering mampir. Aku memang jadi keponakan yang lumayan disayang oleh om dan tanteku dari pihak papiku, mungkin karena aku adalah keponakan pertama. 

Sayangnya, Ari tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia pada tanggal 4 Mei 1988. Masih berusia akan 8 tahun. Saat itu aku sudah kuliah. Om Johnny dan keluarga juga sudah tinggal di rumah sendiri di kawasan Darmo Permai. Ari meninggal karena sakit demam berdarah. Saat sakit, dokter yang memeriksanya waktu itu hanya mendignosa ia sakit gabagen. Ternyata di hari kelima memburuk dan oleh seorang mantri kenalan Om Johnny yang tinggal dekat rumahnya, disuruh segera dibawa ke UGD Dr. Soetomo. Saat itu kondisinya sudah kritis, tak sadarkan diri. Aku dikabari dan menyusul ke rumah sakit. Di sana aku bertemu Ari, tapi hanya bisa melihatnya terbaring tak berdaya. Menurut dokter. Ari sudah mengalami pendarahan internal. Sebelum Ari menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sempat membuka matanya, melihat papinya, lalu memejamkan mata untuk selamanya. Mungkin ia ingin berpamitan kepada papinya. Aku berada di sampingnya waktu itu.

Kelanjutannya mungkin tak perlu aku ceritakan. Kesedihan luar biasa pada keluarga Om Johnny. Kami semua sedih, tak mengira hal ini bisa terjadi. Namun ada hal lain yang ingin aku ceritakan setelahnya.

Saat dimakamkan di Kembang Kuning, Ari dikubur di area pemakaman anak-anak. Aku melihat banyak batu nisan dari anak-anak yang telah meninggal dunia. Ada yang usianya hanya setahun, ada yang dua tahun, ada juga yang hidup hanya beberapa hari, bahkan ada juga yang meninggal di hari yang sama dengan kelahirannya. 

Yohanes Ari Budiman Soedjatmiko

Aku kemudian merenung, berpikir, mencoba merasa, bagaimana jika seandainya aku dulu mati saat usia sehari? Atau setidaknya umur setahun? Apakah aku akan pernah merasa bahwa aku ini pernah ada di dunia ini? Seperti yang aku pahami saat belajar filsafat, “aku berpikir maka aku ada”, bagaimana aku bisa menyadari keberadaan diriku jika aku belum bisa berpikir? Lebih jauh aku kemudian bertanya-tanya dalam hati, apakah janin-janin yang mati karena ibunya mengalami keguguran, tak pernah punya kesempatan lagi untuk merasa ada dalam dunia ini? Ataukah masih punya kesempatan sebagai “AKU” di tubuh yang lain. Ini tidak bisa aku jawab. Memang ada banyak pandangan agama, spiritual ataupun metafisika tentang hal ini. Namun jawaban yang ada masih belum bisa memuaskan aku. Apa yang dirasakan hatiku sering kali masih aku ragukan dengan nalarku. Ini membuat aku gelisah.

Tempat Ari dimakamkan bersama papinya

Kematian memang tidak bisa dihindarkan. Suatu saat pasti terjadi. Gelisahku bukan karena aku takut mati. Memang betul, siapa yang tidak takut mati? Manusia pasti takut akan sesuatu yang dianggapnya “unknown”, yang tidak diketahuinya. Gelisahku ini lebih pada, bagaimana nasib para “aku” yang ketika masih bayi sudah meninggal dunia. Walau aku juga sadar, kita ini merasa ada juga karena adanya memori. Aku tak punya ingatan saat usia di bawah 5 tahun. Jadi, aku kemudian berpikir, seandainya aku mati saat itu, apakah aku akan pernah sadar bahwa aku pernah ada?

Bagi orang lain, mungkin buat apa hal ini dipusingkan. Hidup ya dijalani saja. Kalau sudah waktunya tiba, yang ada hanya tinggal kenangan bagi orang-orang dekatnya. Atau mungkin juga kehampaan. Sama seperti keadaan sebelum aku dilahirkan. Misteri...  Menjadi manusia itu sendiri adalah sebuah misteri.

Barangkali karena aku suka membaca tentang filsafat eksistensialisme, aku juga tertarik dengan bahasan kematian. Kita hanya bisa tahu saat orang lain mengalaminya. Seperti ada sebuah dialog di film yang berjudul “The King” (2019): "All men are born to die. We know it. We carry it with us always. If your day be today, so be it. Mine will be tomorrow. Or mine today and yours tomorrow. It matters not." ("Semua manusia dilahirkan untuk mati. Kita mengetahuinya. Kita selalu membawanya bersama kita. Jika harimu adalah hari ini, jadilah itu. Hariku bisa saja besok. Atau waktuku hari ini dan saatmu besok. Itu tidak masalah.")

Maaf jika ceritaku kali ini agak bikin suasana muram. Tapi ah sudahlah… hidup ini kuat dilakoni, ra kuat ditinggal ngopi …

What If...

Kemarin (18/1/23) aku mengantar Maria kontrol seperti biasa ke poliklinik di RS. Kali ini lama sekali dan lumayan melelahkan karena mulai jam 11 siang dan baru selesai sekitar jam 4 sore. Mulai menunggu diperiksa hingga ambil antrian di farmasi. Aku baca di pengumuman, sepertinya memang ada keterlambatan layanan karena sedang ada migrasi sistem manajemen informasi di rumah sakit tersebut. Tapi aku lihat memang pasien kemarin banyak sekali. Biasanya sekitar 1 atau 2 jam sudah selesai. Ini hampir 5 jam.

Setelah selesai, kami kemudian makan siang yang boleh dibilang terlambat. Selanjutnya pulang ke rumah. Karena capek, aku tak lama kemudian tertidur. Hampir tengah malam, jam 11, aku terbangun. Aku mengira sudah pagi, ternyata masih belum ganti hari. Yang ingin aku cerita adalah soal mimpi. Tapi mimpi ini berdasarkan kisah nyata. Aku tidak tahu kenapa memimpikan ini, sebab dalam mimpi ini, aku berpikir bahwa ini bisa dibuat jadi tulisan. Memang aku sempat ragu, apakah perlu diceritakan atau tidak. Namun aku juga berpikir, tak ada yang kebetulan di dunia ini. There is no coincidence... 

Mungkin timbul tanda tanya, kok bisa mimpi ini adalah kisah nyata? Dalam mimpi ini aku sepertinya sedang berbicara dengan Om Johnny, adik dari papiku. Aku cerita tentang kejadian lama, yaitu saat aku dulu pernah hampir punya tanah yang dijual oleh temanku yang bernama Raymond (alm). Hanya saja, aku tidak jadi membelinya karena papiku melarang dan disuruh mengembalikan. Alasannya, tanah itu dekat kuburan. Tanah itu sendiri masih Petok D. Lokasinya di daerah Kenjeran, kalau sekarang sepertinya dekat dengan jalan menuju jembatan Suramadu.

Waktu aku bangun, aku memang heran. Kenapa kok mimpi ini? Apakah karena belum dapat ide untuk menulis sehingga pikiranku teringat ke masa lalu? Apa yang muncul di mimpi itu memang kejadian nyata. Kejadian yang pernah aku alami dulu. Aku lupa persisnya tahun berapa. Namun karena papiku meninggal dunia tahun 1990, mestinya ini terjadi antara tahun 1988 hingga 1990. Aku mulai kerja di sebuah cold storage udang tahun 1988.

Waktu itu, Raymond, seorang teman yang lumayan dekat denganku sejak SD hingga SMA, menghubungi aku dan kemudian dia datang ke rumah. Dia menawarkan sebuah tanah yang masih Petok D. Lokasinya aku sudah tidak ingat persis di mana. Tapi kira-kira di daerah Bulak, Kenjeran. Aku pernah melihat tempatnya dulu. Sudah 30 tahun lebih dan kini berubah banyak karena sudah ada pelebaran jalan untuk ke jembatan Suramadu, penduduknya juga makin padat. Jadi kalau disuruh mencari lagi, sudah pasti tidak bisa.

Temanku mau menjual dengan harga satu juta. Aku sendiri tidak begitu paham harga itu wajar atau tidak. Luasnya mungkin sekitar 200 meter. Aku tidak ingat persis. Tapi buat aku yang masih bujangan, belum punya asset apa-apa, berpikir akan menarik sekali jika punya tanah sendiri. Aku menyetujuinya dan terjadi transaksi. 

Namun setelah aku memberitahu papiku, ternyata papiku tidak setuju. Alasannya adalah karena berdasarkan denah yang ada, letak tanah itu dekat sekali, kalau tidak bersebelahan, dengan kuburan. Papiku memang mengasuh rubrik hongsuinipun di majalah Liberty yang saat itu dikelola Jawa Pos. Konon secara hongsui, tanah yang lokasinya dekat kuburan adalah tidak bagus. Intinya, aku disuruh membatalkan dan kalau bisa meminta kembali uangnya. Aku tidak tahu, apa sekedar itu alasannya, atau mungkin papiku ragu dengan status tanah itu. Memang, jual belinya tanpa notaris, hanya di bawah tangan saja. 

Temanku nampaknya juga tidak ada masalah membatalkan transaksi. Jadi jual beli ini kemudian batal tanpa ada keributan. Yang pasti, aku tidak jadi punya tanah. Kalau aku pikir, saat ini mestinya tanah itu pasti mahal harganya karena sudah ada jembatan Suramadu. Memang dulu ada sedikit menyesal kenapa aku dilarang membeli tanah itu oleh papiku. Tapi aku pikir, papiku pasti punya pertimbangan yang baik.

Aku tidak tahu, kenapa aku baru saja memimpikan hal ini. Aku memang masih ingat dengan kejadian itu, tapi bukan peristiwa yang menghantui pikiranku. Buat aku, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya.  Everything happens for a reason.  Nasihat ini selalu membuat aku tenang. Tidak menyesali apapun yang terjadi kemudian. No regrets. Mungkin, di semesta paralel yang lain, seperti di film Marvel, What If, ada cerita lain tentang aku, yang tetap punya tanah itu…

Filsafat

Tahun 1983, aku masuk kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Salah satu mata kuliah yang aku suka adalah Filsafat. Entah kenapa aku menikmati kuliah ini, sementara teman-teman seangkatan mengatakan merasa tidak mudah paham. Bagi kebanyakan, belajar statistik masih lebih mudah daripada filsafat. 

Mungkin ada beberapa sebab kenapa aku suka dengan filsafat di awal kuliahku dulu. Sepertinya karena dosennya menarik cara mengajarnya. Namanya Pak Poerwadi, Lic.  Lengkapnya R.M. Gregorius Poerwadi, Lic. Saat masuk kuliah, beliau adalah Pembantu Dekan III. Dekat dengan mahasiswa, sering nongkrong bareng di kantin kampus. Bertahun-tahun kemudian, saat bekerja di Universitas Ciputra, aku pernah mengikuti sebuah workshop menjadi dosen yang professional, Ibu Prof. Dr. Anita Lie yang menjadi narasumbernya mengatakan, pengajar yang baik itu adalah yang bisa menginspirasi, yang bisa membuat muridnya ingin tahu lebih banyak dan menyukai pelajarannya. Tak ada pelajaran yang sulit jika murid itu tertarik dengan dengan ilmu tersebut, dan ketertarikan itu datang lewat guru yang menginspirasi.

Pertama kali menjadi mahasiswanya, aku sudah tertarik dengan apa yang dikatakannya. Aku masih ingat bahwa beliau berkata, “Setiap kepala itu bisa berfilsafat. Ada seribu kepala maka ada seribu filsafat.” Cara berpikir orang memang berbeda-beda. Dunia dipenuhi dengan berbagai macam cara pandang, Kami juga diberitahu definisinya, Filsafat dari kata Philia dan Sophia, yang artinya mencintai kebijaksanaan.

 R.M. Gregorius Poerwadi, Lic. 

Buku yang dipakai sebagai pegangan adalah Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat, karya Harry Hamersma. Pertanyaan yang ada di awal buku ini benar-benar membuat aku berpikir. Memang sudah lama aku bertanya-tanya tentang  “Siapa Aku? Dari mana Aku berasal? dan ke mana Aku akan pergi?”  Pertanyaan ini barangkali muncul di setiap benak manusia. Ada yang terus mencari, namun ada juga yang kemudian mengabaikan karena ada hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan maupun dikerjakan. Lalu, mungkin juga hampir sama dengan kebanyakan mahasiswa, aku juga terpesona dengan kata-kata Rene Descartes, “Cogito ergo sum”,  aku berpikir maka aku ada. Belakangan saat kuliah di S3 aku akhirnya tahu, lewat dosen filsafat Romo Armada Riyanto, bahwa kata-kata itu lengkapnya adalah  “dubito, ergo cogito, ergo sum” yang artinya, "Saya ragu, maka saya berpikir, maka saya ada".  

Ada juga dua buku sastra yang ditugaskan oleh Pak Poerwadi untuk dibaca. Pertama adalah Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan kedua adalah Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Buku yang terakhir ini buatku luar biasa. Bercerita tentang kisah Ramayana, dan aku terpikat dengan tokoh Anoman di dalamnya. Satu penggalan cerita dalam buku itu yang membekas adalah:

”Trijata, bolehkah aku mencintaimu?” tanya Anoman.

Tiada terdengar jawaban. Hanya terasa sebuah ciuman mesra di pipi Anoman. Ciuman yang meninggalkan sentuhan hati yang dalam. Ciuman yang mengusir segala bayang-bayang. Maka terdengarlah suara burung tadahasih yang sedang berkasih-kasihan di waktu malam, bagai menyanyikan harapan, rasa sayang tiada akan lenyap meski pagi telah mengundang bayang-bayang.

”Trijata, tidakkah aku hanya seekor kera?” tanya Anoman.

”Tapi hatimu lebih dari manusia, Anoman,” jawab Trijata.

Pada saat inilah Anoman merasa apa artinya hidup sebagai manusia. Manusia itu bukan lagi suatu kerinduan, saat ia menerima cinta. Dan wujud apa pun, bahkan seekor kera, bukan lagi suatu kekurangan, ketika sesama makhluk menerima dan mengakui keluhurannya. Tiada kebahagiaan seperti malam yang indah itu bagi Anoman.

Kembali ke soal filsafat, entah kenapa juga, aku lebih suka filsafat eksistensialisme ketimbang yang lain. Mungkin ini berkenaan dengan makna hidup manusia sebagai bagian dari semesta ini. Karena itu pula, aku menyukai tokoh psikologi Viktor E. Frankl dengan logoterapinya. Tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme yang aku juga suka baca karya-karyanya adalah Kierkegaard, Heidegger, Nietzsche, Karl Jaspers, Sartre, Erich Fromm, Gabriel Marcel. Buku filsafat waktu itu yang menarik perhatianku seperti Manusia Multi Dimensional (M. Sastrapratedja) dan masih banyak yang lainnya. Aku punya banyak buku di rumah, karena saat aku menyukai sebuah ilmu, maka aku terobsesi untuk membeli buku dan membacanya. 

Saat semester dua, mata kuliah filsafat adalah logika. Aku tak ada kesulitan dengan pelajaran ini. Tentang silogisme, true false dan lainnya. Selanjutnya di semester berikutnya belajar tentang Filsafat Manusia. Buku yang digunakan adalah Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal karya Louis Leahy. Buku ini juga membuatku makin tertarik ke dunia filsafat. Saat itu, kurikulum psikologi di kampusku ada 4 semester dan aku selalu dapat nilai A dari Pak Poerwadi.

Pak Poerwadi wafat pada tanggal 4 April 2003. Bagiku, beliau adalah dosen yang luar biasa dan sangat berpengaruh dalam kehidupanku.

Aku ingin menutup ceritaku kali ini dengan kutipan dari Gabriel Marcel. “Cinta adalah sebuah seruan hati: "Hendaklah engkau hidup bersama denganku."


Popular Posts