24 Sep 2026

Artikel

 

Psikologi Transpersonal dan Kesadaran Kosmik dalam Konteks Pengalaman Interaksi dengan Entitas Ekstraterestrial

 

Oleh: Nur Agustinus

Studi UFO Nusantara

 

Abstrak

Saat ini, ada fenomena orang-orang yang percaya telah mengalami interaksi dengan entitas extraterrestrial (alien) menunjukkan adanya transformasi dalam kehidupan mereka, dan itu dapat dikategorikan sebagai sebuah revolusi kesadaran kosmik (cosmic consciousness). Kesadaran ini bersifat spiritual dan berkaitan dengan pentingnya menjaga alam. Meski kasus dapat bervariasi dalam hal detail, ada urutan kejadian yang umum dan konsisten, di mana orang merasakan pengalaman spiritual yang mendalam, disertai perasaan menyatu dengan Tuhan atau alam semesta. Perasaan ini merupakan kesadaran yang lebih besar akan keterhubungan dan kesakralan semua kehidupan. Subjek mengalami guncangan ontologis dan mengatakan bahwa merasa 'berubah' karena pengalaman mereka, memperluas pandangan dunia mereka, memberi kebijaksanaan untuk dibagikan, membuat peduli dengan jalur spiritual umat manusia dan memperluas realitas mereka. Perjumpaan dengan alien menjadi sebuah peristiwa transformatif. Studi dilakukan dengan metode fenomenologi dengan melakukan analisis naratif dari empat kasus perjumpaan yang ada di serial dokumenter Netflix, berjudul Encounters (2023). Netflix melakukan sejumlah wawancara kepada orang yang memiliki pengalaman fenomenal ini. Dari serial ini dapat disimpulkan adanya transformasi kesadaran kosmik pada mereka yang diwawancara. Untuk itu, orang-orang yang merasa telah diculik atau punya hubungan dengan entitas cerdas bukan manusia (non-human intelligence) harus didorong untuk lebih berani mengungkapkan pengalamannya dan tidak dihakimi sebagai orang yang sekadar mengalami halusinasi atau gangguan kepribadian.

Kata kunci: Kesadaran kosmik, ontological shock, extraterrestrial, encounters, psikologi transpersonal, spiritualitas, transformasi kesadaran.

 


 

 

Pendahuluan

Pada tahun 1950-an hingga 1960-an, fenomena piring terbang, yang saat ini dikenal sebagai Unidentified Aerial Phenomena (UAP) atau Unidentified Flying Object (UFO), mulai menarik perhatian publik dengan narasi yang sering kali dipenuhi dengan unsur religius dan mistis. Narasi-narasi ini menggambarkan kontak dengan makhluk luar angkasa, sering kali dalam konteks yang menakjubkan dan transendental.

Dalam konteks era modern yang semakin dipenuhi oleh narasi tentang UFO dan entitas ekstraterestrial, fenomena ini membuka pintu bagi pemahaman yang lebih luas tentang potensi kesadaran manusia. Kesadaran kosmik, sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi, menawarkan wawasan baru tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan entitas yang mungkin ada di luar batas pemahaman kita.

Melalui tinjauan dan analisis fenomenologis, tulisan ini berusaha memberikan pemahaman yang lebih kaya dan lebih bernuansa tentang bagaimana pengalaman-pengalaman luar biasa ini dapat memengaruhi individu, baik dari segi psikologis maupun spiritual. Dengan demikian, tulisan ini mengajak pembaca untuk mendekati topik ini dengan sikap terbuka dan empati, serta menghargai kompleksitas dan keunikan dari setiap pengalaman yang diceritakan.

Penelitian ini bertujuan menggali fenomena kesadaran kosmik melalui pengalaman interaksi dengan entitas ekstraterestrial. Fokus utama dari studi ini adalah memahami perubahan dalam kesadaran yang timbul akibat pengalaman tersebut, serta memberikan wawasan yang relevan bagi kajian spiritualitas dalam konteks zaman modern.

Fenomena Pengalaman Interaksi dengan Entitas Ekstraterestrial

Fenomena ini tidak hanya terbatas pada laporan penampakan UFO tetapi juga melibatkan kisah-kisah individu yang mengaku telah dihubungi oleh entitas ekstraterestrial. Mereka yang percaya telah mengalami kontak ini sering kali melaporkan pengalaman channeling dengan alien, di mana mereka merasa bahwa mereka menerima pesan atau petunjuk dari makhluk luar angkasa. Pengalaman ini sering kali digambarkan sebagai bentuk transendensi diri, di mana individu-individu ini merasa bahwa mereka telah mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi melalui kontak dengan entitas-entitas ini. Fenomena ini juga melahirkan subkultur baru yang terdiri dari orang-orang yang berbagi keyakinan dan pengalaman serupa.

Secara umum, fenomena piring terbang pada tahun 1950-an hingga 1960-an mencerminkan kecemasan dan harapan masyarakat pada masa itu. Narasi tentang kontak dengan makhluk luar angkasa memberikan sebuah pelarian dari ketakutan akan kiamat nuklir, serta menawarkan harapan akan adanya entitas yang lebih tinggi yang mungkin dapat membawa pengetahuan dan kedamaian bagi umat manusia.

Melinda Leslie, peneliti dan penulis tentang UFO, membuat 51 indikator orang yang pernah diculik oleh alien, di antaranya adalah punya kesadaran kosmik, minat pada ekologi, lingkungan, menjadi vegetarian, hingga merasa punya suatu misi tertentu dalam hidup yang tidak tahu dari mana rasa kompulsif itu berasal.  Melinda Leslie juga menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam memahami pengalaman ini, termasuk mempertimbangkan faktor psikologis, sosial, dan budaya yang mungkin memengaruhi laporan dan pengalaman korban (experiencers).

 

 

Cosmic Consciousness (Kesadaran Kosmik)

Studi psikologis pertama tentang "wakefulness“ atau kesadaran penuh—suatu kondisi keberadaan yang meluas dan berfungsi lebih tinggi—dilakukan oleh psikiater Kanada, Richard M. Bucke, dan diterbitkan pertama kali sebagai ‘Cosmic Consciousness: A Study in the Evolution of the Human Mind’ pada tahun 1901. Bucke (2009)  mengumpulkan 36 contoh orang yang ia yakini telah mencapai "kesadaran kosmik," termasuk tokoh-tokoh sejarah, seperti Buddha, Musa, Yesus, Dante, dan filsuf Swedia abad ke-18 Emanuel Swedenborg, dan sejumlah orang sezaman, beberapa di antaranya ia kenal secara pribadi.

Karakteristik utama kesadaran kosmik sebagaimana diidentifikasi oleh Bucke adalah kegembiraan; pencerahan akan makna, tujuan, dan keaktifan alam semesta; rasa keabadian; hilangnya rasa takut akan kematian; dan tidak adanya konsep dosa. Bucke juga menyoroti pentingnya cahaya. Kesadaran kosmik mungkin menampilkan pengalaman “tenggelam dalam api atau awan berwarna merah muda, atau mungkin lebih tepatnya perasaan bahwa pikiran itu sendiri dipenuhi dengan awan atau kabut seperti itu.”

Kesadaran adalah konsep yang kompleks dan memiliki banyak tingkat yang berbeda, yang dapat ditemukan di berbagai spesies di alam semesta. Dalam buku tersebut, Bucke menyatakan bahwa ia membedakan tiga bentuk, atau tingkatan, kesadaran:

  1. Kesadaran sederhana, dimiliki oleh hewan dan manusia
  2. Kesadaran diri, yang dimiliki oleh umat manusia, meliputi pikiran, akal, dan imajinasi
  3. Kesadaran kosmik, yang merupakan "bentuk kesadaran yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh manusia biasa"

1. Kesadaran Sederhana

Kesadaran sederhana adalah bentuk dasar kesadaran yang dimiliki oleh hewan dan manusia. Ini melibatkan kemampuan untuk merespons rangsangan eksternal dan internal, serta menjalani pengalaman sensorik. Hewan, dari serangga hingga mamalia, menunjukkan bentuk kesadaran sederhana ini. Mereka dapat merasakan lingkungan mereka, berinteraksi dengan objek, dan menjalankan perilaku instinktif untuk bertahan hidup. Manusia juga memiliki kesadaran sederhana ini, yang memungkinkan kita untuk merasakan dunia di sekitar kita dan menjalani pengalaman sensorik dasar.

2. Kesadaran Diri

Kesadaran diri adalah tingkat kesadaran yang lebih tinggi yang dimiliki oleh umat manusia. Ini melibatkan kemampuan untuk berpikir tentang diri sendiri, merencanakan masa depan, merenungkan masa lalu, dan menjalani pengalaman yang lebih kompleks. Kesadaran diri mencakup pikiran, akal, dan imajinasi. Manusia memiliki kemampuan unik untuk mempertanyakan eksistensi mereka, memahami identitas mereka, dan menciptakan konsep-konsep abstrak. Kesadaran diri memungkinkan kita untuk menjalani pengalaman yang lebih dalam dan bermakna, serta mengembangkan empati dan pemahaman terhadap orang lain.

3. Kesadaran Kosmik

Kesadaran kosmik adalah bentuk kesadaran yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh manusia biasa. Ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang alam semesta dan hubungan kita dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Kesadaran kosmik sering digambarkan sebagai pengalaman transendental, di mana individu merasa terhubung dengan entitas yang lebih tinggi atau dengan keseluruhan eksistensi. Orang yang mencapai kesadaran kosmik sering melaporkan perasaan damai yang mendalam, kebijaksanaan yang luar biasa, dan pemahaman yang lebih luas tentang realitas.

Kesadaran kosmik adalah tujuan yang dicari oleh banyak tradisi spiritual dan filosofis di seluruh dunia. Ini melibatkan perjalanan batin mendalam dan meditasi intens untuk mencapai keadaan kesadaran yang lebih tinggi. Beberapa orang melaporkan bahwa mereka mencapai kesadaran kosmik melalui pengalaman mistik, meditasi mendalam, atau kontak dengan entitas ekstraterestrial.

Secara keseluruhan, kesadaran adalah spektrum yang luas yang mencakup berbagai tingkat pengalaman. Dari kesadaran sederhana yang dimiliki oleh hewan, hingga kesadaran diri yang khas bagi manusia, hingga kesadaran kosmik yang hanya dicapai oleh sedikit orang, setiap tingkat kesadaran menawarkan wawasan yang unik tentang realitas dan eksistensi. Memahami dan menjelajahi berbagai tingkat kesadaran ini dapat membantu kita menghargai kompleksitas dan keajaiban dari kehidupan itu sendiri.

Metode Penelitian

Metodologi fenomenologi sebagai metode penelitian kualitatif mempelajari pengalaman hidup seseorang dan makna yang diberikannya terhadap fenomena tersebut. Fenomenologi pada dasarnya berfokus pada cara kita mempersepsikan dan menghayati berbagai fenomena yang muncul dalam dunia ini, khususnya dalam ranah kesadaran manusia. Salah satu permasalahan menarik yang muncul adalah bahwa fenomena-fenomena tersebut hadir dalam kesadaran setiap individu, dan ini sering kali menimbulkan dinamika yang kompleks.

Studi ini menggunakan informasi yang ada di dalam film serial dokumenter Netflix yang berjudul "Encounters" yang dirilis pada tahun 2023) Penulis mengamati dengan mencermati transkrip atau subtitle film dan mencari kesamaan pola yang dikemukakan oleh para saksi. Penulis menggunakan metode fenomenologi yang merupakan pendekatan penelitian kualitatif untuk menggambarkan pengalaman hidup seseorang. Metode ini berfokus mempelajari fenomena yang berdampak pada individu, mencoba menggambarkan arti sebuah pengalaman hidup untuk beberapa orang tentang sebuah konsep atau fenomena, dalam hal ini kaitan antara perjumpaan dengan entitas ekstraterestrial dengan meningkatnya kesadaran kosmik.

Dalam studi ini, penulis juga menggunakan analisis naratif yang berfokus pada penafsiran pengalaman manusia dalam bentuk cerita atau narasi, mencoba mengidentifikasi tema-tema umum di seluruh rangkaian narasi yang ada di serial Netflix tersebut dengan alasan bahwa kejadian yang disajikan sudah umum dan juga melalui proses seleksi dari pembuatan film. Dengan demikian, kasus kejadian penampakan atau perjumpaan dengan entitas ekstraterestrial yang dibahas setidaknya telah mempunyai kualifikasi yang layak untuk dilakukan studi.

Keunggulan serial ini memiliki fokus pada sisi kemanusiaan. Tidak hanya mencari kebenaran tentang alien, namun juga menyoroti bagaimana pengalaman trauma/keheranan tersebut mengubah kehidupan para saksi mata, keluarga, serta komunitas mereka. Selain itu didukung juga dengan kualitas sinematik yang baik. Sinematografi dan penyajian arsip dikemas secara profesional. Menghubungkan kesadaran kosmik (cosmic consciousness) dengan kasus-kasus yang disampaikan dalam episode serial Encounters menekankan bahwa manusia bukan satu-satunya entitas cerdas, melainkan bagian dari jaringan kesadaran universal yang saling terhubung. Penampakan UFO dalam serial ini sering kali berfungsi sebagai krisis eksistensial atau pemicu (catalyst) yang mendobrak batasan persepsi tersebut.

Analisis Naratif dari Serial Dokumenter Netflix “Encounters”

Serial dokumenter "Encounters" yang diproduksi Netflix pada tahun 2023 ini merupakan sebuah dokumenter yang mengeksplorasi berbagai laporan UFO dan pertemuan alien selama 50 tahun terakhir. Serial ini menampilkan wawancara dengan saksi mata, pakar, dan bukti baru yang memperkaya misteri UFO. Dengan menggunakan berbagai perspektif, serial ini mengajak penonton untuk merenungkan kemungkinan keberadaan kehidupan asing di luar Bumi. Serial ini terdiri dari 4 episode yaitu:

•       Episode 1, “Messengers”

•       Episode 2, “Believers”

•       Episode 3, “The Broad Haven Triangle”

•       Episode 4, “Lights Over Fukushima”

Episode 1, “Messengers”

Pada awal tahun 2008, penduduk di dan sekitar kota kecil Stephenville, Texas, Amerika Serikat, tengah mengalami sesuatu yang tidak dapat dijelaskan: penampakan UFO, dilaporkan oleh ratusan orang, termasuk para pemimpin bisnis lokal dan penegak hukum. Pemilik perusahaan angkutan truk Steve Allen menggambarkan cahaya yang menyilaukan dan perasaan damai yang luar biasa. Polisi Lee Roy Gaitan dan putranya menyaksikan sebuah bola muncul di langit dan kemudian tiba-tiba menjauh. Menurut salah satu mantan analis militer, peristiwa Stephenville dan data sekitarnya membuktikan bahwa kita tidak perlu lagi bertanya, “Apakah UFO itu nyata?” melainkan, “Apa versi realitas Anda?”

Transkrip/Subtitle Eps. 1

00:27:12,839 -->00:27:35,779

Yang terjadi pada Steve sama seperti pada banyak saksi. Kau punya perasaan terkendali. Lalu tiba-tiba, kau melihat sesuatu yang dekat denganmu, dan itu melakukan sesuatu yang sangat mustahil hingga itu mengguncang dasar pemikiran atas apa yang selalu mereka pikirkan tentang dunia.

Episode 1 "Messengers" dari serial TV "Encounters" mengilustrasikan bagaimana pengalaman kontak dengan UFO dapat memicu perubahan mendalam dalam kesadaran individu. Tema di dalam episode ini merupakan sebuah peretasan realitas konsensus (Disruption of Consensus Reality). Masyarakat lokal Stephenville yang didominasi warga religius, konservatif, dan pragmatis—menghadapi fenomena yang tidak bisa dijelaskan oleh dogma agama tradisional maupun narasi resmi pemerintah. Pengalaman ini mendobrak batas realitas yang selama ini disepakati (consensus reality). Ketika warga lokal melihat objek raksasa tersebut, persepsi mereka tentang batas kemampuan manusia dan teknologi langsung runtuh, memaksa mereka menerima realitas yang jauh lebih besar dan tak terjangkau.

Kutipan saksi Steve Allen, Pemilik Bisnis Lokal:

"I knew what I was looking at wasn't from here. It makes you feel very small, but at the same time, it makes you realize how much more there is to this universe than just our little daily lives." (Saya tahu apa yang saya lihat itu bukan berasal dari sini. Itu membuat Anda merasa sangat kecil, tetapi di saat yang sama, membuat Anda menyadari betapa banyaknya hal di alam semesta ini selain kehidupan kecil kita sehari-hari.)

Pengalaman yang dialami oleh Steve Allen dan Lee Roy Gaitan menunjukkan bahwa penampakan UFO tidak hanya mempengaruhi persepsi sensorik tetapi juga dapat mengguncang dasar pemikiran seseorang tentang dunia dan realitas. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran kosmik mungkin lebih mudah diakses melalui pengalaman transendental semacam ini. Dalam konteks penelitian ini, analisis fenomenologis seperti ini dapat membantu kita lebih memahami hubungan antara pengalaman UFO dan perubahan dalam kesadaran manusia.

Episode 2, “Believers”

Itu adalah hari yang cerah dan cerah di Ruwa, Zimbabwe, ketika 62 siswa muda di Sekolah Ariel melihat pesawat luar angkasa dan sosok humanoid aneh di taman bermain mereka. Pertemuan tahun 1994—yang dianggap oleh banyak orang sebagai pertemuan paling signifikan di abad ke-20—sangat mengubah kehidupan anak-anak, kepala sekolah, dan bahkan psikiater terkemuka Harvard yang datang untuk menyelidiki apa yang mereka lihat. Kisah ini menimbulkan beberapa pertanyaan penting dalam pencarian kebenaran: Apakah kesaksian anak-anak dapat diandalkan? Mengapa kesaksian saksi mata dalam kasus UFO tidak cukup menjadi bukti, padahal dalam banyak situasi lainnya? Dan yang terakhir, bagaimana kita dapat memberikan empati kepada para saksi yang dapat dipercaya, meskipun banyak dari kita masih berjuang untuk menerima kebenaran mereka?

Transkrip/Subtitle Eps. 2

00:08:20,875 --> 00:08:26,964

Aku berkedip, lalu aku melihat makhluk itu kurang dari satu atau dua meter dariku.

Makhluk itu berada... Begitu kami saling menatap, semua hal lain di sekitar kami menghilang.

00:09:34,031 --> 00:10:45,561

“Kau takut apa?”

Suaranya.

“Suara apa?”

Suara yang kami dengar di udara.

“Seperti apa suaranya?”

Seperti ada yang memainkan seruling. Ia tak menyentuhku, secara fisik. Namun rasanya, dengan tatapan itu, ia menyentuh setiap bagian tubuhku. Itu saat aku mulai merasakan pesan-pesan. Ide-ide itu datang begitu saja kepadaku, ke dalam diriku. Itu tak berbicara. Itu hampir seperti telepati. Itu hanya perasaan luar biasa tentang betapa pentingnya lingkungan. Kita harus memastikan bahwa lingkungan adalah prioritas utama, dan kita semua membuat pilihan yang tepat untuk lingkungan. Kita butuh udara bersih, tanaman indah, tanah bersih untuk hidup dan berkembang. Hewan, tanaman... Semua yang ada di sekitar kita.

Episode ini menghadirkan tema kesadaran, di mana terjadi komunikasi non-verbal (Telepati) dan Kesadaran Ekologis. Merupakan episode yang relevan dengan konsep kesadaran kosmik, saat 62 anak sekolah tidak hanya melihat entitas, tetapi menerima "pesan langsung" di dalam pikiran mereka tanpa kata-kata. Pesan tersebut berisi peringatan tentang kerusakan lingkungan akibat teknologi manusia. Fenomena di Ariel School memperlihatkan interaksi di tingkat kesadaran murni (pure consciousness). Penelitian Dr. John Mack menekankan bahwa fenomena UFO dapat bertindak sebagai mekanisme penyembuhan atau peringatan kosmik agar manusia kembali menyatu dan bertanggung jawab terhadap ekosistem bumi.

Kutipan saksi Salma Siddick, saat masih murid SD di Ariel School:

"It didn't speak with a mouth. The thoughts just appeared in my head... It felt like a warning that we are destroying our home, and that everything on Earth is connected." (Ia tidak berbicara dengan mulut. Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja di kepala saya... Rasanya seperti sebuah peringatan bahwa kita sedang merusak rumah kita, dan bahwa segala sesuatu di Bumi ini saling terhubung.)

Dalam konteks ini, pengalaman anak-anak di Sekolah Ariel menunjukkan bagaimana kontak dengan entitas ekstraterestrial dapat memicu perubahan mendalam dalam kesadaran mereka. Meskipun usia mereka masih muda, kesaksian anak-anak ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah kesaksian anak-anak dapat diandalkan? Mengingat bahwa anak-anak cenderung memiliki imajinasi yang lebih kaya, penting untuk menganalisis kesaksian mereka dengan bijaksana dan empati. Pengalaman mereka bisa mencerminkan kesadaran kosmik yang lebih besar yang mereka alami, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana dan lebih murni.

Transkrip di atas mengungkapkan bagaimana anak-anak merasakan pesan-pesan telepatis yang berhubungan dengan kepedulian terhadap lingkungan. "Itu hanya perasaan luar biasa tentang betapa pentingnya lingkungan. Kita harus memastikan bahwa lingkungan adalah prioritas utama, dan kita semua membuat pilihan yang tepat untuk lingkungan." Pesan-pesan ini mencerminkan bahwa kontak dengan entitas ekstraterestrial dapat membawa kesadaran yang lebih mendalam tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.

Episode kedua mengilustrasikan bagaimana pengalaman kontak dengan UFO dan entitas ekstraterestrial juga dapat memicu perubahan mendalam dalam kesadaran individu, termasuk anak-anak. Pengalaman ini membawa pesan-pesan penting tentang tanggung jawab lingkungan dan menantang kita untuk mempertimbangkan kembali pandangan kita tentang realitas dan keberadaan entitas di luar bumi. Melalui pendekatan fenomenologis, kita dapat lebih memahami hubungan antara pengalaman UFO dan perubahan dalam kesadaran manusia, serta pentingnya memberikan empati kepada mereka yang mengalami pengalaman luar biasa ini.

Episode 3, “The Broad Haven Triangle”

Pada tahun 1977, Perang Dingin sedang berkecamuk, sebuah film tentang UFO disutradarai oleh Steven Spielberg yang berjudul Close Encounters of the Third Kind diputar di bioskop, dan sekelompok anak laki-laki melihat pesawat luar angkasa berbentuk cerutu muncul dari pepohonan di luar taman bermain mereka. Tiba-tiba, daerah di sekitar kota pesisir Broad Haven di Welsh, Inggris, dicengkeram oleh lebih dari 450 laporan pertemuan UFO dan alien. Ini merupakan penampakan massal terbesar dalam sejarah Inggris. Ketika para penyelidik dan media menyelidiki penampakan tersebut, mereka menyadari bahwa banyak yang memiliki kemiripan dengan cerita rakyat dari masyarakat Welsh dan Celtic, di mana peri dikenal sebagai penipu dengan niat jahat. Pada saat itu, banyak orang yang menolak menyebutkan nama peri, mereka justru menyebutnya "orang kecil" atau "orang tersembunyi". Di Inggris, Mereka juga dapat hidup di bawah tanah, di dalam/atas air, di udara, dan peri digambarkan memiliki sayap atau tanpa sayap, ada yang baik dan cantik, namun ada pula yang mengerikan. Jadi, apakah pengunjung dari dunia lain di Broad Haven merupakan fenomena baru, atau apakah mereka sudah lama berada di sana, bersembunyi di laut dan di masyarakat lampai dipercaya sebagai peri?

Transkrip/Subtitle Eps. 3

00:49:00,562 --> 00:49:28,674

Kita masih, bahkan setelah itu, memiliki pemikiran bahwa mustahil bagi alien untuk datang mengunjungi kita. Bukan tidak mungkin. Bahkan, kurasa itu agak mungkin. Itu mungkin salah satu penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Bagaimana kau bisa mengabaikannya?  Hampir seperti menjadi pusat alam semesta lagi. Kita harus terus mempelajarinya, bahwa manusia bukan pusat alam semesta.

Transkrip tersebut menunjukkan pentingnya terus mempelajari fenomena ini dan mengakui bahwa manusia bukanlah pusat alam semesta. Kesadaran kosmik mengajak kita untuk memahami bahwa kita adalah bagian dari alam semesta yang lebih besar dan kompleks.

Kutipan saksi David Davies, saksi saat masih anak-anak di Broad Haven:

"There are no words in the human dictionary to describe what we saw. It was like looking into a reality that wasn't meant for us to comprehend yet." (Tidak ada kata-kata di kamus manusia untuk menggambarkan apa yang kami lihat. Itu seperti melihat ke dalam sebuah realitas yang belum ditakdirkan untuk kita pahami saat ini.)

 

Episode ketiga ini mengilustrasikan bagaimana pengalaman penampakan UFO massal dapat mempengaruhi kesadaran kolektif masyarakat. Tema kesadaran yang disampaikan berupa trauma kolektif dan batasan bahasa manusia. Kesaksian anak-anak dan warga desa yang melihat makhluk misterius di desa pesisir ini memicu ketakutan, namun sekaligus melahirkan ikatan pengalaman kolektif. Fenomena ini menunjukkan keterbatasan kapasitas psikologis dan bahasa manusia saat dihadapkan pada "Yang Lain" (The Other). Kesadaran kosmik di sini hadir sebagai bentuk kesadaran akan kerapuhan persepsi manusia—bagaimana akal sehat tergoncang ketika bertemu dengan entitas di luar struktur pengalaman bumi.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kesadaran kosmik dapat memengaruhi kelompok atau masyarakat secara keseluruhan, dan bahwa cerita-cerita tentang entitas ekstraterestrial mungkin telah menjadi bagian dari warisan budaya kita lebih lama daripada yang kita sadari. Melalui pendekatan fenomenologis, kita dapat lebih memahami hubungan antara pengalaman UFO dan perubahan dalam kesadaran manusia, serta pentingnya terus mempelajari fenomena ini dengan pikiran terbuka dan empati.

Episode 4, “Lights Over Fukushima”

Pada tahun 2011, kepala biksu Kuil Enmyoin di lepas pantai Jepang berjalan ke alun-alun kuil dan melihat apa yang dia gambarkan sebagai UFO yang tidak dapat disangkal. Tak lama kemudian, terjadi gempa bumi yang memicu tsunami besar yang memicu bencana pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Selama kejadian tersebut, banyak warga yang melihat bola cahaya misterius di atas reaktor setelah reaktor tersebut hancur, banyak yang percaya bahwa hal tersebut mengindikasikan adanya bentuk kehidupan asing.

Tema kesadaran yang diangkat dalam episode ini berupa koneksi transendental, bencana, dan spiritualitas. Pasca-bencana nuklir Fukushima, penampakan bola-bola cahaya (orbs) tidak hanya dilihat sebagai objek fisik, tetapi juga dikaitkan dengan trauma spiritual dan energi tempat tersebut. Budaya Jepang yang cenderung animistis dan holistik memandang fenomena ini bukan sebagai ancaman milititer, melainkan sebagai tanda interaksi antara energi alam, fenomena transendental, dan duka manusia. Ini mencerminkan puncak kesadaran kosmik: bahwa ruang, waktu, trauma, dan kehidupan universal saling terikat secara mendalam.

Transkrip/Subtitle Eps. 4

0:36:50,875 --> 00:38:05,825

Saat orang Jepang bicara tentang makhluk luar angkasa, UFO, atau alasan mereka di sini, kebanyakan tentang mencapai atau memulihkan keseimbangan.

Kehidupan modern itu tak harmonis. Dan pandangan yang baik adalah alien, apa pun kau ingin menyebutnya, datang, atau khawatir, dan mencoba memulihkan keseimbangan dunia.

"Penduduk Bumi, saudara dan saudari kami. Kalian mulai menggunakan energi nuklir. Luar biasa bahwa kalian telah banyak berevolusi, dengan teknologi kalian, tapi kami tak bisa meninggalkan kalian tanpa pengawasan.”

Tenaga nuklir bisa sangat berbahaya. Jika seorang anak pergi ke dapur dan mencoba memasak dengan wajan, jika itu anak berusia tiga tahun, itu berbahaya. Orang tua harus memastikan itu aman. Kurasa alien juga merasakan hal yang sama.

Pesan yang diungkapkan dalam transkrip menunjukkan bahwa makhluk luar angkasa mungkin prihatin dengan penggunaan teknologi nuklir oleh manusia. Ini mencerminkan pandangan bahwa kesadaran kosmik melibatkan pemahaman mendalam tentang bahaya dan potensi teknologi yang digunakan oleh manusia. Seperti halnya seorang orang tua memastikan bahwa seorang anak menggunakan wajan dengan aman, alien mungkin merasa berkewajiban untuk memantau dan membantu manusia menjaga keseimbangan alam. Dalam transkrip episode 4, narasi menyatakan bahwa ketika orang Jepang bicara tentang makhluk luar angkasa, UFO, atau alasan mereka ada di sini, seringkali berhubungan dengan mencapai atau memulihkan keseimbangan.

Kutipan saksi/tokoh spiritual lokal (Pendeta Shinichi Tsuboi):

"When tragedy strikes, the veil between this world and the unknown thins. Those lights were not an invasion; they were a reminder of the energy that connects life, death, and the cosmos." (Ketika tragedi melanda, tirai antara dunia ini dan yang tak diketahui menjadi tipis. Cahaya-cahaya itu bukanlah invasi; itu adalah pengingat akan energi yang menghubungkan kehidupan, kematian, dan kosmos.)

Kesadaran kosmik seringkali muncul dalam konteks bencana besar atau perubahan dramatis dalam kehidupan. Bencana Fukushima adalah contoh bagaimana kejadian yang mengancam kehidupan dapat memicu refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan teknologi. Bola cahaya misterius yang terlihat selama kejadian tersebut menjadi simbol dari kesadaran kosmik yang mengajak kita untuk memikirkan kembali peran kita dalam menjaga keseimbangan alam.

Dari episode keempat ini, kita bisa mendapatkan gambaran tentang bagaimana pengalaman melihat UFO dan fenomena bola cahaya misterius dapat memicu peningkatan kesadaran kosmik, terutama dalam konteks bencana besar. Pengalaman ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memahami potensi bahaya dari teknologi yang kita gunakan. Melalui pendekatan fenomenologis, kita dapat lebih memahami bagaimana pengalaman transendental semacam ini dapat memengaruhi cara pandang manusia tentang realitas dan hubungan kita dengan entitas di luar bumi. Episode ini juga menekankan pentingnya refleksi mendalam dan empati dalam menghadapi fenomena yang tidak dapat dijelaskan.

Psikologi Transpersonal, Ontological Shock dan Kesadaran Kosmik

Fenomena UFO dan kontak dengan entitas yang diduga berhubungan dengan UFO telah lama menjadi topik yang memicu perubahan kesadaran bagi orang-orang yang mengalaminya. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, banyak individu melaporkan pengalaman yang mendalam dan transformatif setelah merasa telah dihubungi oleh entitas ekstraterestrial.

Guncangan ontologis (Ontological shock) dalam konteks UFO dan Fenomena Anomali Tak Dikenal (UAP) merupakan krisis psikologis dan filosofis mendalam yang terjadi ketika pemahaman mendasar individu atau masyarakat mengenai realitas ditantang secara radikal oleh bukti adanya kecerdasan non-manusia atau kehidupan luar angkasa.  Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh teolog Kristen Paul Tillich dalam bukunya “Systematic Theology” (1951). Ia menggambarkannya sebagai keadaan di mana pikiran kehilangan keseimbangan struktur normalnya akibat pengalaman religius atau spiritual yang luar biasa.

Konsep Guncangan Ontologis dari Tillich adalah hilangnya keseimbangan karena pikiran terlempar dari keseimbangan normalnya dan struktur rasionalnya terguncang hebat. Akal budi manusia mencapai batas mutlaknya, berbalik kembali pada dirinya sendiri, dan menghadapi jurang ketiadaan. Ancaman ketiadaan (Non-Being) muncul dari kesadaran akan kerapuhan dan keterbatasan diri kita, serta kenyataan bahwa kita mungkin saja tidak ada sama sekali. Tillich berpendapat bahwa guncangan ini terjadi dalam keadaan ekstatis, sebuah perjumpaan yang luar biasa kuat dengan "dasar keberadaan" (ground of being) atau kehadiran ilahi yang sekaligus menimbulkan rasa gentar (mysterium tremendum) dan daya tarik yang memikat (mysterium fascinosum).

Dr. John E. Mack (1929–2004), seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School dan pemenang Pulitzer Prize yang memberikan kontribusi besar pada perkembangan psikologi transpersonal.  Ia mempopulerkan kembali istilah Ontological shock untuk menggambarkan kondisi psikologis pasiennya yang mengaku mengalami kontak dengan entitas cerdas bukan luar bumi (extraterrestrial). Pengalaman tersebut membuat mereka mempertanyakan ulang seluruh hukum fisika, sains, dan metafisika yang mereka ketahui.

Meskipun mengawali kariernya di jalur psikiatri arus utama yang berfokus pada psikologi anak, mimpi, dan kecanduan obat, ia kemudian mendedikasikan sebagian besar risetnya untuk menjembatani sains dengan dimensi spiritualitas dan kesadaran manusia.

Menurut John E. Mack, psikologi transpersonal membuktikan bahwa kesadaran manusia tidak terbatas pada otak atau tubuh fisik saja. Menurutnya, kesadaran manusia bersifat kosmis dan dapat terpisah dari tubuh, sehingga memungkinkan seseorang terhubung dengan realitas dan entitas di luar batas ego individual mereka.

Mack menjadi figur kontroversial ketika ia meneliti fenomena penculikan oleh alien (alien abduction) dari sudut pandang psikiatri. Ia menemukan bahwa bagi para korban (experiencers), fenomena ini bukan sekadar delusi klinis, melainkan sebuah pengalaman transpersonal yang transformatif. Pengalaman traumatis tersebut sering kali berujung pada perluasan kesadaran dan hilangnya batas ego egois, munculnya kesadaran ekologis yang mendalam untuk menjaga Bumi serta perasaan terhubung dengan dimensi spiritual alam semesta yang lebih luas (cosmic perspective).

Psikologi transpersonal melihat pengalaman manusia yang melampaui batas ego, identitas individu, dan batasan ruang-waktu biasa. Mack berargumen bahwa pengalaman interaksi dengan UFO bukan sekadar gangguan psikis (hallucination), melainkan bentuk kontak nyata dengan dimensi realitas yang berbeda (anomalous experience).

Pengalaman bertemu fenomena tak dikenal merusak kerangka acuan ego manusia (egoic frame). Saksi mata di Stephenville (Episode 1) dan Broad Haven (Episode 3) mengalami guncangan psikologis karena kenyataan baru tersebut menghancurkan keyakinan dasar mereka tentang dunia. Dalam psikologi transpersonal, ini disebut sebagai pemicu Ego Death dan Transformasi Diri, yang merupakan sebuah "krisis" dan menjadi langkah awal menuju pergeseran tingkat kesadaran yang lebih tinggi.

Pada kasus interaksi telepatis sebagai Non-Local Consciousness (Eps 2 kasus di Ariel School), menjelaskan bahwa kesadaran tidak terbatas di dalam kepala/otak manusia, melainkan bersifat universal dan saling terhubung (non-local). Komunikasi non-verbal yang dirasakan anak-anak di Zimbabwe mencerminkan bagaimana pesan spiritual/ekologis dapat ditransmisikan secara langsung antar-kesadaran tanpa perantara bahasa fisik. Pengalaman transpersonal sering kali memunculkan kepekaan baru terhadap lingkungan dan keberadaan makhluk lain. Para saksi tidak lagi melihat diri mereka sebagai individu terpisah, melainkan bagian dari jaring kehidupan universal.

Penelitian Mack dipenuhi dengan narasi yang mendalam dan personal dari individu-individu yang mengaku telah mengalami kontak dengan alien, dan ia mendapat cemoohan dari banyak koleganya. Mereka menyarankan bahwa orang-orang yang merasa mengalami kontak dengan alien harus ditangani seperti penderita schizophrenia, menunjukkan skeptisisme yang besar terhadap validitas pengalaman tersebut. Riset transpersonal Mack membuatnya sempat diinvestigasi oleh pihak Harvard Medical School pada tahun 1990-an. Paradigma sains barat saat itu sangat kaku pada materialisme (bahwa semua hal harus bisa diukur secara fisik), sedangkan pendekatan transpersonal Mack membuka ruang bagi realitas non-fisik. Harvard sendiri akhirnya menegaskan hak kebebasan akademik Mack untuk terus meneliti.

Pemikiran transpersonal Mack dituangkan secara eksplisit dalam dua buku terkenalnya yang meneliti transformasi manusia melalui fenomena luar biasa, yaitu Abduction: "Human Encounters with Aliens" (1994). Buku ini menjelaskan bagaimana fenomena ini memaksa manusia mendefinisikan ulang identitas mereka secara kosmis. "Passport to the Cosmos: Human Transformation and Alien Encounters" (1999) yang berfokus pada aspek spiritual, penyembuhan, dan transformasi kesadaran dari para subjek penelitiannya.Melalui yayasan yang ia dirikan, The John E. Mack Institute (sebelumnya Center for Psychology and Social Change), warisannya dalam menjembatani psikiatri, spiritualitas, dan eksplorasi kesadaran manusia terus dipelajari hingga hari ini.

Kasus serupa juga terjadi di Indonesia. Beberapa individu yang mengklaim telah mengalami kontak dengan makhluk luar angkasa seringkali menghadapi stigma sosial dan perlakuan yang tidak semestinya. Mereka sering dianggap mengalami gangguan kejiwaan atau dicap sebagai sesat oleh masyarakat sekitar. Akibatnya, individu-individu ini sering kali harus menghadapi penolakan dan perlakuan yang tidak adil dari lingkungan sekitar mereka.

Fenomena kontak dengan entitas UFO ini tidak hanya membawa dampak pada aspek psikologis dan sosial, tetapi juga memengaruhi cara pandang seseorang terhadap realitas dan eksistensi mereka. Banyak dari mereka yang melaporkan mengalami perubahan kesadaran yang mendalam setelah mengalami kontak, termasuk peningkatan rasa spiritualitas, pemahaman yang lebih luas tentang alam semesta, dan perasaan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.

Di Indonesia, beberapa kasus penculikan dan kontak dengan makhluk luar angkasa telah dilaporkan. Meskipun seringkali kurang mendapatkan perhatian media dan publik, cerita-cerita ini tetap menjadi bagian dari narasi pengalaman pribadi yang mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Stigma dan penolakan sosial sering kali membuat individu-individu ini enggan untuk berbicara secara terbuka tentang pengalaman mereka, tetapi di kalangan komunitas yang lebih kecil, mereka sering kali berbagi cerita dan mendukung satu sama lain.

Hubungan antara keruntuhan ego (ego dissolution/ego death) dan kesadaran kosmik terletak pada prinsip bahwa ego berfungsi sebagai "pembatas" persepsi. Agar kesadaran kosmik yang bersifat universal dapat masuk, pembatas tersebut harus runtuh terlebih dahulu. Secara psikologis, ego adalah struktur mental yang membangun identitas individual kita, seoerti nama, peran sosial, batasan tubuh fisik, serta pemisahan tegas antara "Saya" (subjek) dan "Dunia di Luar Saya" (objek). Hal ini menunjukkan bahwa ego bekerja seperti filter atau reducing valve (katup penurun), membatasi jumlah informasi sensorik dan psikis yang masuk ke pikiran agar manusia tidak mengalami beban informasi berlebih (information overload) dalam kehidupan sehari-hari. Filter ini menciptakan ilusi bahwa manusia adalah entitas terisolasi yang terpisah dari alam semesta.

Ketika seseorang mengalami peristiwa luar biasa, seperti guncangan eksistensial (ontological shock), perjumpaan transendental (kasus UAP/UFO), meditasi mendalam, atau trauma hebat, struktur ego bisa mengalami keruntuhan temporer. Ketika ego runtuh, pemisahan antara "Saya" dan "Luar Saya" mendadak hilang. Individu tidak lagi merasakan dirinya sebagai pengamat terpisah yang melihat alam semesta dari luar, melainkan merasakan diri mereka menjadi bagian langsung dari alam semesta itu sendiri.

Ketika filter ego mati, kesadaran individu "meluap" keluar dari batasan diri dan menyatu dengan medan kesadaran universal. Individu menyadari bahwa kesadaran yang ada di dalam dirinya adalah kesadaran yang sama yang menggerakkan seluruh kosmos. Ini disebut dengan pengalaman Oneness (Kemanunggalan).  Keruntuhan ego menghancurkan sifat egosentris. Rasa takut akan kematian berkurang, sementara empati terhadap sesama makhluk hidup dan kepekaan ekologis (seperti yang dialami anak-anak di Ariel School) meningkat drastis.

Mengalami atau memiliki kesadaran kosmik (cosmic consciousness) tidak berarti seseorang menjadi tidak realistis, kehilangan kontak dengan realitas, atau terjerumus dalam keabsurdan. Sebaliknya, dalam kajian psikologi transpersonal, filsafat, dan neurosains, kesadaran kosmik dipandang sebagai perluasan realitas (expanded sense of reality), bukan penolakan terhadap realitas. Orang yang mengalami kesadaran kosmik biasanya menjadi lebih realistis dalam menjalani hidup. Mereka menjadi lebih peduli pada lingkungan, menghargai hubungan antarmanusia, dan tidak mudah terjebak dalam nilai-nilai absurd seperti keserakahan materiil atau perselisihan egois yang destruktif.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, fenomena UFO dan kontak dengan entitas ekstraterestrial adalah topik yang kompleks dan kontroversial. Meskipun banyak yang meragukan validitas pengalaman ini, bagi mereka yang telah mengalaminya, perasaan dan perubahan kesadaran yang mereka alami adalah sangat nyata dan mendalam. Studi ini juga menyoroti bagaimana fenomena ini sering kali diiringi oleh guncangan ontologis, yang membuat perubahan signifikan dalam cara pandang dan kehidupan individu yang mengalaminya. Memang, pengalaman ini masih sering menghadapi skeptisisme dan stigma sosial, yang dapat memengaruhi cara individu-individu ini menceritakan dan memproses pengalaman mereka. Penting bagi kita untuk mendekati topik ini dengan sikap terbuka dan empati, serta menghormati pengalaman dan perspektif mereka yang telah melalui pengalaman yang luar biasa atau extraordinary ini.

Kesadaran kosmik, yang digambarkan sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi dari kesadaran manusia biasa, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan hubungan manusia dengan alam semesta. Pengalaman-pengalaman ini sering kali mencakup perasaan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, serta peningkatan spiritualitas dan pemahaman tentang eksistensi.

Implikasi kesadaran kosmik bagi pengembangan spiritualitas dan ilmu pengetahuan dapat meliputi beberapa hal penting, seperti kesadaran kosmik dapat memperdalam pemahaman tentang hubungan manusia dengan alam semesta, mendorong rasa kebersamaan dan harmoni, serta membuka ruang bagi penelitian tentang kesadaran yang lebih luas dan universal dalam ilmu pengetahuan. Ini juga dapat menginspirasi teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan yang melihat kesadaran sebagai fenomena lebih dari sekadar proses otak, tetapi sebagai aspek yang melintasi batas material dan fisik.

Melalui kesadaran kosmik, kita akan terdorong untuk mencari makna hidup yang lebih mendalam, dengan dampak positif pada kesejahteraan psikologis dan pengembangan spiritual, serta memengaruhi studi psikologi positif dalam ilmu pengetahuan. Hal itu juga berkaitan dengan kesadaran akan keterhubungan dapat mengubah pandangan etika, mendorong prinsip universal yang lebih menghargai semua bentuk kehidupan, yang juga berdampak pada studi perilaku manusia dan sosiologi.

Kesadaran kosmik juga akan membuat kita lebih terbuka akan kemungkinan untuk mengintegrasikan pendekatan ilmiah dan spiritual dalam memahami kesadaran, realitas, dan eksistensi, menciptakan paradigma baru yang lebih holistik. Di sisi lain, hal ini bisa mengarah pada pencarian lebih lanjut tentang kehidupan luar bumi dan kemungkinan kesadaran yang lebih tinggi, baik dalam konteks ilmiah maupun spiritual.

 

Daftar Rujukan

Agustinus, N. (2021, Agustus 15). Alien Abduction menurut Melinda Leslie. Retrieved Juli 5, 2024, from Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=PhxfqQrHhL4

Agustinus, N. (2017, Agustus 4). Alien dan Kehidupan Manusia. Retrieved Juli 5, 2024, from Let There Be Ligh: http://nur-agustinus.blogspot.com/2017/08/alien-dan-kehidupan-manusia.html

Bucke, Richard Maurice (2009). Cosmic Consciousness: A Study in the Evolution of the Human Mind. Mineola, New York: Dover Publications.

Melinda Leslie Returns to Tell Us about Military Abductions and Hybrids. (2021, September 17). Retrieved Juli 2, 2024, from Dreamland Podcast: https://www.unknowncountry.com/dreamland/ melinda-leslie-runs-ufo-sighting-tours-that-virtually-always-work-we-explore-the-reasons-why/

N Series Encounters. (2024). Retrieved Juli 1, 2024, from Netflix: https://www.netflix.com/id-en/title/81489034

Popova, M. (n.d.). The Six Steps to Cosmic Consciousness: A Pioneering Theory of Transcendence by the 19th-Century Psychiatrist and Adventurer Maurice Bucke. Retrieved Juli 1, 2024, from The Marginalian: https://www.themarginalian.org/2019/04/11/cosmic-consciousness-maurice-bucke/

Taylor, S. (2017, March 13). Cosmic Consciousness, The wakefulness of Walt Whitman. Retrieved Juli 5, 2024, from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/out-the-darkness/201703/cosmic-consciousness

 

28 Okt 2024

Komik UFO dari Sinar Harapan dari tahun 1985-1986

Pada tahun 1985-1986, Sinar Harapan menerbitkan 3 buku komik berukuran besar tentang UFO. terjemahan  karya Jacques Lob (naskah) dan Robert Gigi (gambar). Saya mendapatkan file hasil scan dari ketiga buku ini dari teman di sebuah whatsapp group, yang menurut penuturannya juga diperolehnya dari internet. Karena saya pikir ini penting untuk disimpan dan dibagikan untuk edukasi ufologi, saya kemudian memasangnya di blog ini. Jika tertarik untuk membacanya, klik caption yang ada di gambar untuk menuju situs Mediafire. Anda bisa mengunduhnya dengan mudah. Silahkan beritahu saya jika ada kesulitan saat mengunduh. Selamat membaca.




 

15 Okt 2024

Segitiga Bermuda, Pangkalan... Apa?

Di tahun 1980an, ada banyak buku dan majalah UFO berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Tanadi Group. Salah satunya adalah dalam bentuk seperti majalah berjudul Segitiga Bermuda: Pangkalan ... Apa?

Saya mengetahui buku/majalah ini sekitar beberapa tahun lalu, dijual di sebuah lapak online. Namun harga yang dipatok cukup mahal. Akhirnya buku/majalah tersebut dibeli oleh seorang teman saya. Saat berkunjung ke rumahnya, saya meminjam dan kemudian mendigitalisasi majalah tersebut. Saya hanya menggunakan kamera ponsel saya dan kemudian saya buat pdf-nya agar informasi yang terdapat di majalah tersebut dapat dibaca dan setidaknya terarsip secara digital.

Semoga bermanfaat.


Link download: 

Mediafire

Slideshare


14 Okt 2024

Pekan Ufologi dan Antariksa #2

Pekan Ufologi dan Antariksa #2 berlangsung tanggal 5 dan 6 Oktober 2024 dalam rangka ikut memeriahkan World Space Week (4 – 10 Oktober 2024). Kegiatan diselenggarakan di Monument UFO/Crop Circle, yang terletak di Suru Pitoe, Berbah, Sleman, Yogyakarta. 


Acara ini merupakan acara tahunan, yang pertama diadakan di tempat yang sama, namun ada berbagai kegiatan yang berbeda dari sebelumnya. Konsep pameran menampilkan karya lukisan dan diorama yang dari bahan bekas.  Respon pengunjung, antusias untuk diadakan terus tahun depan dengan menyelenggarakan acara yang lebih beragam. Ada model pesawat antariksa karya Eliyyah Srirachma, 10 tahun, siswi Kidsland Penagreen Internasional School, Solo, Jawa Tengah, kelas Primary 3. Membuat model pesawat luar angkasa untuk mengangkut penumpang antar planet. Materinya dari barang bekas, seperti botol, boks kacamata, botol minuman yang sudah tidak terpakai.

Eliyyah Srirachma

Kali ini selain ada Lomba Mewarnai yang diikuti oleh sekitar 40 anak-anak TK dan PAUD, ada juga pameran lukisan, diorama dan papercraft bertemakan UFO dan antariksa. Vito Pranaya, siswa SMPN2 dari Surabaya ikut memamerkan karya papercraftnya berupa pesawat Apollo yang mendarat di Bulan. 

Acara juga dimeriahkan dengan adanya peluncuran roket air dari Griya Antariksa. Memperkenalkan cara kerja roket kepada anak-anak untuk menumbuhkan minat akan sain dan antariksa. Selain itu, Hangno Hartono dari Omah Budaya Kahangnan memberikan workshop cara membuat wayang alien dari berbagai bahan daur ulang. 


Orang tua peserta antusias mengantarkan putra putrinya mengikuti lomba mewarnai yang diselenggarakan mulai jam 7 pagi hingga tengah hari. Peserta yang hadir diperkirakan sekitar 120 orang. Ada sekitar hampir 50 anak yang hadir. Orang yang dewasa sekitar 70 orang. Rentang usia mulai dari 3 hingga 6 tahun yang mengikuti lomba, dan sekitar 15-50 tahun yang hadir di acara tersebut melihat berlangsungnya lomba, workshop peluncuran roket air serta diskusi . Setelah lomba mewarnai selesai, diadakan acara diskusi santai membahas tema UFO.  Peserta yang hadir ada dari Temanggung, Solo hingga Surabaya. 

12 Okt 2024

Memperoleh penghargaan dari Betaufo Indonesia

Dalam rangka ulang tahun Betaufo Indonesia ke-27, diadakan acara pertemuan di Surabaya, dan saya menjadi salah satu nara sumber. Topik utamanya adalah Inter Space Dimensional. Saya mempresentasikan tentang Entitas Interdimensi. 

Setelah acara diskusi selesai, ada satu kejutan dari mas Mohammad Reza Wardhana, Ketua Betaufo Indonesia, yakni tiba-tiba memberi sebuah penghargaan kepada saya. Terima kasih banyak atas apresiasi yang diberikan, semoga Betaufo Indonesia di usianya yg ke 27 tahun ini, makin sukses dan terus berjaya.







13 Jul 2024

Antara, percaya, yakin dan dogma

 

Tulisan ngelantur gara2 ngelilir jam 2 dini hari... Baca di group WA, ada yang tanya: "Apakah percaya itu?"

Menurut saya [kalau Anda percaya dengan saya], percaya adalah merasa itu benar tapi tidak bisa atau tidak perlu dibuktikan.

Lalu, apa itu bukti? Bukti adalah sesuatu yg bisa kita indera sehingga kita yakin. Percaya dan yakin itu beda. Untuk yakin, Anda perlu bukti. Untuk percaya, itu pilihan dan tidak perlu bukti. Contoh, di persidangan, hakim perlu diyakinkan dengan bukti. Tidak cukup hanya percaya saja dengan omongan saksi.

Seseorang umumnya percaya pada apa yg disampaikan orang lain, karena:

1. Dia percaya pada orang tersebut. 

2. Apa yg dikatakan itu sesuai dengan pikirannya (koheren atau nyambung).

Pertanyaannya, apakah Anda ingin percaya atau ingin yakin?

Kalau ingin yakin, Anda akan mencari buktinya sampai ketemu.

Pertanyaan lanjutannya, apakah bukti itu? Balik ke atas, bukti itu HARUSnya, sesuatu yg bisa kita indera.

Masalahnya, banyak yang berdasar pada bukti yang bukan dari pengalaman indera, lalu merasa yakin, merasa tahu, bahwa itu sebuah kebenaran. Padahal sebenarnya itu masih di level percaya. 

Namun seperti yang saya percayai (bukan saya yakini) sebagai omongan Yesus,  "Berbahagialah orang yg tidak melihat namun percaya." 

Kenapa kok bahagia? Ya karena dia nggak perlu susah2 cari bukti untuk yakin.

Nah, ketika saya diharuskan yakin begitu saja tanpa bukti dengan apa yang saya percayai, itu namanya dogma...

6 Jul 2024

The Watchers


Film The Watchers ini bagus menurut saya, sayang nggak laku di sini. Mungkin karena saya suka cerita tentang makhluk mitos keturunan para peri. Mereka dulunya dianggap dewa,  perang dengan manusia, kemudian dihukum dikurung du bawah tanah. Mitos tentang watchers ini sama dengan Dark Fey di film Maleficent. Sosoknya mirip Mothman...





17 Okt 2023

Ruang, Waktu dan Peristiwa

1. Tak ada yang kebetulan

 

Saya mau kilas balik dulu. Tanggal 21 Juli 2023, ada sebuah acara yang istimewa, yaitu peresmian Kampung Alien. Ini sebagai rangkaian acara Indonesia UFO Festival 2023. Kampung Alien ini terletak di Kenteng, Kembang, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Ini kali kedua datang ke Yogyakarta di bulan itu setelah tanggal 15 mengikuti SETI Cenference yang juga bagian dari Indonesia UFO Festival. Namun ini nampaknya buat saya pribadi merupakan sebuah tipping point. Mengapa bisa begitu? Hal ini yang ingin saya ceritakan sebagai bagian dari refleksi saya atas perjalanan yang saya lalui.

 

Saya selalu percaya bahwa tak ada yang kebetulan dalam kehidupan ini. Semua terjadi pasti ada alasannya. Kalaupun saya tidak tahu itu kenapa, saya tetap percaya bahwa pasti ada sesuatu tujuan di balik itu. Namun saya tidak terlalu percaya kepada keberuntungan. Saya lebih meyakini bahwa sesuatu itu adalah merupakan sebab akibat. Kalaupun dianggap keberuntungan, itu merupakan perjumpaan antara persiapan dan kesempatan.

 

Barangkali tak ada yang meragukan minat dan passion saya di bidang UFO. Itu juga yang membuat saya mengusahakan untuk bisa ikut menghadiri SETI Conference walau baru saja menjalani operasi saluran kencing. Begitu juga saat peresmian Kampung Alien seminggu berikutnya. Sayang memang kondisi saya benar-benar tidak mengijinkan untuk ikut acara perkemahan UFO di akhir bulan. Namun tanggal 21 Juli itu, yang bertepatan dengan Hari UFO Nasional, nampaknya akan membuat perubahan yang sangat berarti.

 

Ketika saya sudah kembali ke Surabaya, tanggal 23 Juli 2023, saya ditawari untuk ikut bergabung di dalam sebuah WA Group AREA YMCA, adminnya ada mas Aris, mas Yonz, pak Abu dan mas Ipank. Tentu bagi saya tak ada yang kebetulan, walau juga cukup terkejut ketika tiba-tiba diberi link untuk join group. Sebagian besar yang ada di sana, saya sudah kenal, namun ada juga yang belum. Namun dengan bergabungnya saya ke group ini, sepertinya akan ada hal-hal lain yang akan saya lakukan tanpa saya rencanakan sebelumnya.

 

2. Bubarnya Kafe UFO

 

Sebelumnya, setelah saya tidak lagi menjadi ketua di sebuah komunitas UFO yang saya dirikan, saya membuat sebuah group WA yang bernama Kafe UFO. Sejujurnya, group ini adalah tempat saya menghibur diri. Topiknya beragam, bebas, bisa posting apa saja asal dalam batas-batas wajar. Bisa pamer sedang makan apa, atau hal-hal lain yang remeh temeh. Namun dari group ini juga pernah ada pembicaraan yang serius tentang UFO. Group ini saya buat tanggal 26 Juli 2021.

 

Menjelang akhir bulan Januari 2023, saya ikut menjadi admin dari sebuah WAG yang akhirnya diberi nama Studi UFO Nusantara. Saya menginginkan group yang ini lebih serius membahas UFO. Sementara Kafe UFO lebih bersifat bincang-bincang santai sebagaimana umumnya di sebuah kafe.

 

Ketika saya sudah bergabung di WAG AREA YMCA, entah kenapa, mungkin juga karena sebelumnya saya bertemu dengan banyak teman-teman di Yogyakarta saat SETI Conference dan peresmian Kampung Alien, saya merasa ingin serius kembali menekuni dunia perufoan ini. Mungkin juga karena makin banyak WAG yang saya ikuti, saya merasa pembicaraan di Kafe UFO menjadi kurang menarik lagi. Padahal, saya satu-satunya admin di sana. Saya juga tidak ingin menyerahkan WAG ini kepada orang lain. Maka kemudian, saya mengarahkan agar anggota yang ada di WAG Kafe UFO bisa bergabung dengan WAG Studi UFO Nusantara. Tanggal 2 Agustus 2023, WAG ini saya bubarkan dan semua anggotanya saya keluarkan. Banyak yang terkejut karena mengira dirinya ditendang, tapi saya jelaskan bahwa groupnya memang sudah tidak ada lagi.

 

Saya kemudian lebih banyak ikut di WAG group yang ada, dan saya tidak ada beban menjadi admin sendirian. Di WAG lain saya juga ikut sebagai anggota, bukan admin. Jadi saya pada dasarnya merasa tidak perlu pusing lagi memikirkan anggota yang beraneka ragam karakter dan sifatnya.

 

3. GMeet

 

Group AREA YMCA mempunyai beberapa WAG lain yang tergabung dalam UFO-ALIEN-PARANORMAL. Salah satunya adalah RV-AREA 57. Group ini untuk diskusi dan belajar tentang remote viewer dan lain-lainnya. Sepertinya, entah group yang mana, apakah AREA YMCA atau RV-AREA 57, nampaknya sering mengadakan GMeet di antara anggotanya. Sejauh itu saya belum pernah ikutan. Beberapa kali ajakan GMeet terlewatkan, entah karena saya sudah capek atau ada kegiatan lain.

 

Saya sendiri waktu itu memang punya keinginan untuk menyelesaikan buku saya. Ada beberapa buku yang saya rencanakan untuk bisa selesai di tahun 2023. Ini sudah menjadi resolusi di awal tahun dulu, tetapi rupanya selalu tertunda alias malas. Namun saya yakin ini juga bukan kebetulan, ada sebuah kejadian yang membuat saya termotivasi atau terprovokasi untuk bisa menyelesaikan buku ini di awal bulan Oktober. Bahkan kalau mungkin, di bulan November dan Desember akan bisa selesai masing-masing satu buku lagi. Ambisius memang, tapi kalau tidak ditantang, pasti juga akan ditunda-tunda lagi.

 

Tanggal 27 September malam, kalau tidak salah, ada lagi GMeet. Waktu itu saya juga capek sehingga tidur sore-sore. Namun sekitar jam 1 pagi, berarti sudah tanggal 28, saya bangun dan kemudian menghidupkan komputer untuk meneruskan penulisan buku saya. Pada dasarnya isi dari buku itu sudah rampung, namun masih perlu diedit dan ditata. Hal itu saya lakukan kalau tidak salah sampai jam setengah 3. Lalu saya melihat rupanya masih ada pembicaraan di WAG tentang GMeet dan saya nimbrung bahwa saya malah baru bangun. Mas Aris lantas bilang, masih ada nobar (nonton bareng). Saya sebenarnya ragu untuk ikut, tapi entah apa ini kehendak semesta, saya kemudian mengklik link Gmeet dan bergabunglah saya ikut nobar. Saya teruskan mengedit naskah buku saya di PC sambil ikut nobar di HP.

 

Nobar selesai ternyata dilanjutkan dengan obrolan. Di sinilah terjadi obrolan yang nampaknya membuat sebuah peristiwa akan terjadi. Ruang Gmeet, waktu subuh, di mana konon katanya energi semesta sedang jernih-jernihnya, nampaknya membuat sebuah bincang-bincang yang mestinya santai menjadi sesuatu yang serius.

 

4. Ke Yogyakarta

 

Saya memang punya rencana ke Yogyakarta, yaitu tanggal 7 Oktober 2023. Tujuan saya adalah untuk melihat pameran dari seorang teman yang bernama mas Faisal Amir. Karyanya berupa cukilan kayu dan banyak temanya tentang UFO dan alien. Saya berencana ingin melihatnya sekaligus menunjukkan support saya akan pamerannya. Tak ada motivasi lain. Awalnya hanya ingin datang, melihat pamerannya, kebetulan sorenya ada diskusi di sana, dan saya pikir, besoknya saya akan kembali pulang.

 

Lalu, di obrolan GMeet, memang ada terbersit keinginan, barangkali kalau buku sudah selesai, maka bisa dirilis pada hari Minggu, tanggal 8 Oktober. Bertemu dengan beberapa teman, ngobrol bareng, pasti menyenangkan. Tapi rupanya, tanggal 8 Oktober dianggap terlalu cepat. Tidak cukup waktu untuk menyiapkan hal itu.

 

Entah apa yang terjadi, malah diputuskan sebaiknya tanggal 15 Oktober saja. Memang ini karena banyak teman yang tidak bisa kalau tanggal 22 Oktober. Jadi tanggal 8 terlalu cepat sementara 22 juga banyak yang berhalangan. Akhirnya disepakati tanggal 15.

 

5. Pekan Ufologi dan Antariksa

 

Saya tidak perlu cerita detil apa yang terjadi saat di GMeet itu, namun entah kenapa, saat itu mas Ipank dengan arahan mas Venzha langsung inisiatif membantu membuat flyer acaranya. Menurut teman-teman, informasi acara ini harus segera disebarkan karena kalau ditunda-tunda nanti malah juga akan percuma. Dari yang semula rencana hanya rilis buku, ternyata berkembang dengan ide-ide acara lain. Muncul gagasan untuk pameran karya seni rupa yang pernah saya buat. Trus ada juga acara pengamatan benda langit karena saat itu mas Aris mengatakan akan ada gerhana matahari. Dari sana yang semua acara ufo ditambahkan dengan antariksa. Mengajak Griya Antariksa, Jogja Astro Club dan Teropong Bintang Mangunan. Ternyata, kebetulan juga di awal bulan Oktober itu merupakan World Space Week 2023. Jadi, dari sana kemudian direncanakan sebuah acara yang bernama Pekan Ufologi dan Antariksa.

 

Pembicaraan berlanjut hingga pagi, bahkan sempat jam 9 pagi saya minta ijin sambil mendampingi anak saya, Andre, belajar sepeda. Jadi saya tetap ikut GMeet di luar rumah. Direncanakan juga acara lomba menggambar, namun kemudian diubah menjadi lomba mewarnai karena pesertanya adalah anak-anak PAUD dan TK. Intinya, waktu itu spontanitas saja. Tak memikirkan bagaimana soal biayanya. Saya juga waktu itu belum memikirkan tentang hal itu. Orang bilang, yang penting yakin. Kalau semesta mendukung, nanti pasti akan ada saja jalannya.

 

Semula pameran rencananya berlangsung hanya 4 hari, yaitu tanggal 13 – 16 Oktober 2023. Namun saya bilang, saya sepertinya harus menyiapkan materi untuk dipajang di pameran pada tanggal 8 Oktober. Sehari setelah saya mengunjungi pamerannya mas Faisal. Trus ada usulan, kalau tanggal 8 sudah dipajang, bukankah lebih baik jika pameran dimulai tanggal 9 Oktober? Jadi pamerannya berlangsung pada tanggal 9 – 16 Oktober 2023. Saya iyakan saja. Dalam benak saya, kalau memang sudah dipasang tanggal 8, tak ada salahnya dan toh mengapa harus menunda untuk memulai tanggal 13?

 

6. Flyer disebar

 

Sebelum flyer disebar, tempat acara mesti dipastikan dulu. Awalnya direncanakan di Griya Antariksa, namun kemudian pindah ke Monumen UFO / Crop Circle di Berbah, Sleman, Yogyakarta. Tempat ini juga merupakan sebuah rumah makan dengan nama Kedai Suru Pitoe. Rupanya mereka pernah juga ketempatan lomba mewarnai, sehingga memberi gambaran bahwa pesertanya bisa ratusan. Waktu itu cukup kaget juga, sebab bayangannya, pesertanya 20 anak saja sudah bagus. Ini bakal ada ratusan. Bagaimana nanti mengaturnya? Tetapi sekali lagi, ini memang merupakan peluang. Kalau kita siap, maka ini akan menjadi sebuah keuntungan. Pihak Kedai Suru Pitoe sepakat untuk memberi hadiah tunai bagi pemenang. Sementara hal-hal lain disediakan oleh komunitas UFO, seperti trophy, piagam, kertas gambar, dan lain-lainnya. Untunglah, mbak Dian Graha punya pengalaman dalam mengadakan lomba mewarnai. Jadi kesiapan itu ada. Jadi, peluang ini bisa diharapkan menjadi sebuah kemeriahan dalam acara Pekan Ufologi dan Antariksa. Membayangkan bakal ada ratusan peserta lomba, sudah gembira sekali.

 

Flyer langsung disebar melalui media sosial, ke berbagai WAG dan Instagram sejak tanggal 29 September. Rencana yang baru digagas tanggal 28 pagi, besoknya sudah dipublikasikan. Tanpa ada proposal, tanpa ada rincian tertulis. Ibaratnya, yang penting yakin. Dalam benak saya, memang langsung mikir apa saja yang mesti dilakukan. Banyak sekali yang harus dikerjakan. Mempersiapkan pameran, menyelesaikan buku, membuat kaos, dan lainnya.

 

7. Buku

 

Buku harus selesai. Tanggal 2 Oktober, buku memang akhirnya selesai dan siap diproduksi. Namun saya masih belum merasa final. Saya kemudian membuat satu untuk proof cetak dulu. Saat itu tanggal 2 Oktober 2023. Sehari kemudian, satu buku itu selesai dan bisa saya lihat dulu untuk dilakukan perbaikan jika perlu. Dengan selesainya buku ini, saya memberanikan diri untuk mulai memasarkan buku ini dengan cara pre-order.

 

Ada dua cara untuk pre-order, pertama langsung pesan ke saya lewat WA, dan kedua bisa membeli lewat Tokopedia. Walau pembeli sudah membayar ke Toped, namun tentu saja uangnya akan baru saya terima saat buku sampai diterima pembeli. Jadi, tetap akan butuh modal nantinya buat produksi. Saya tidak tahu, apakah nanti akan siap biayanya atau tidak. Kalaupun tidak, maka perlu dipikirkan plan B, plan C atau yang lain. Pesanan yang masuk sudah cukup banyak. Tapi saya belum juga mengorderkan untuk mencetak dalam jumlah sesuai pesanan. Saya memang diberi waktu oleh Tokopedia sampai tanggal 16 Oktober untuk mengirim buku tersebut. Ini kejar-kejaran dengan waktu karena tanggal 14, saya sudah harus ke Yogjakarta lagi dan rilis buku. Artinya, sebelum tanggal 14, buku itu harus selesai cetak dan dikirim.

 

Persoalannya, saya ke Jogja tanggal 7 dan baru kembali ke Surabaya tanggal 10 Oktober. Ini karena tanggal 9 Oktober saya harus ada di tempat pameran untuk melakukan pembukaan. Saya membawa proof buku itu ke jogja untuk saya baca-baca. Berarti, kalau tanggal 10 saya balik, maka baru tanggal 10 sore saya bisa order untuk cetak dan harus selesai paling lambat tanggal 13. Cuma bisa berdoa agar itu bisa terjadi…

 

8. Persiapan pameran

 

Mengejar tanggal 7 Oktober, maka paling lambat tanggal 6 Oktober saya harus sudah siap dengan gambar dan rencana tampilan pamerannya. Pada tanggal 5 Oktober, saya memasukkan file digital untuk diprint dan baru bisa diambil tanggal 6. Tanggal 6 juga saya beli tripleks dan kayu untuk lis sebab nanti rencananya akan dipasang seperti dalam bentuk pigura. Print gambar itu sendiri ternyata tidak murah. Satu gambar biaya printnya Rp 30 ribu. Saya cetak ukuran A2. Total saat itu ada 22 gambar, jadi sekitar 600 rb an biayanya. Untuk tripleksnya butuh 3 lembar dan kayu lis sekitar 30 batang. Kira-kira butuh biaya 300 rb an.

 

Malam tanggal 6 Oktober, saya dan istri tidak tidur sama sekali untuk menggergaji tripleks dan kayu. Hingga pagi mengemasnya tapi kemudian saya ragu membawanya karena khawatir tidak diperbolehkan masuk ke kereta api. Jadinya, saya pikir, saya hanya membawa lisnya saja, sementara tripleksnya saya tinggal. Saya putuskan nanti akan beli di jogja dan bikin lagi di sana.

 

9. Bantuan biaya

 

Saya tidak pernah memimpikan, bahwa tiba-tiba ada yang memberi bantuan dana untuk kegiatan ini. Dari beberapa orang, akhirnya terkumpul dana saat itu sekitar 5 juta seratus ribu rupiah. Saya sangat bersyukur sebab ini bisa membuat saya tidak perlu menjalankan plan B dan seterusnya alias harus cari pinjaman uang. Dana yang terkumpul saya gunakan untuk mempersiapkan pameran, membeli perlengkapan dan beberapa peralatan yang nantinya dibutuhkan, membuat beberapa kaos yang rencananya akan saya berikan.  Selain itu juga untuk membeli tiket kereta api dan kemungkinan untuk biaya menginap di jogja. Bantuan lain datang dari teman-teman  yang membeli kaos dan buku namun dananya dilebihkan.

 

Orang mungkin bilang, ini sebuah kebetulan. Kebetulan ada yang memberi sumbangan. Kebetulan juga dana yang masuk boleh dibilang lumayan. Namun ini seperti ada yang mengatur. Orang bisa bilang ini kehendak Tuhan, semesta mendukung.  Apakah ini benar-benar bukan kebetulan? Bagaimana jika ternyata tidak ada yang memberi donasi? Saya tidak berani berpikir “what if”. Saya mensyukuri apa yang terjadi. Melakukan apa yang saya bisa perbuat dengan sebaik-baiknya. Pasti tidak akan sempurna, sebab saya tidak punya pengalaman pameran di luar kota, di tempat yang gudangnya para seniman. Siapalah saya? Tapi, the show must go on. Tidak ada lagi pikiran untuk mundur. Ini mesti dilakukan. Ada yang bilang, hasil tidak akan mengkhianati usaha.  Saya juga harus mengusahakan, dengan dana yang ada, harus bisa terlaksana dengan meriah meski tidak mewah.

 

10. Kolaborasi

 

Saya yakin, ini tidak mungkin dilakukan sendiri. Kata kuncinya adalah kolaborasi. Mesti kerja bareng. Kegembiraan acara ini harus dirasakan bersama-sama. Semua perlu merasa terlibat. Sejak awal membuat flyer sudah melibatkan banyak orang.  Ada 12 pihak yang ikut berkolaborasi dalam kegiatan ini. Saya ingat pepatah afrika, kalau mau pergi cepat, pergilah sendiri. Kalau mau pergi jauh, pergilah bersama-sama. Bagi saya, ini adalah sebuah perjalanan jauh. Jauh dalam artian beyond my imagination. Kalau dibilang cepat secara harafiah ya memang cepat. Ide pertama muncul tanggal 28 September. Lalu, tanggal 9 Oktober acara sudah dimulai. Berarti hanya 11 hari persiapannya. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

 

Ketika saya sampai di Jogja dan mesti mempersiapkan pameran dengan menggergaji lagi tripleks yang saya beli di jogja, saya dibantu mas Aris. Mas Ipank juga menyempatkan datang untuk membantu persiapan pameran.  Saat tiba di lokasi, sudah menunggu mas Yonz dan mbak Dian Graha. Lalu datang juga mas Hangno yang membantu memasang-masang panel pameran.

 

Singkat kata, acara berlangsung sesuai dengan rencana, bahkan di luar ekspektasi. Pameran bisa dibuka tanggal 9 Oktober. Mbak Ira bersedia menjadi kurator dan membuat tulisan yang sangat bagus. Acara rilis buku juga berjalan lancar. Mas Mutoha Arkanuddin datang dengan kawan-kawan dari Jogja Astro Club untuk melakukan pengamatan benda langit. Sayang cuaca berawan, namun pak Mutoha membawa alat yang menarik yang bisa melacak benda langit dan melakukan pemotretan.

 

Keesokan harinya, peserta lomba mewarnai yang ikut ternyata banyak juga. Ada 63 peserta TK dan 44 peserta dari PAUD. Total berarti ada 107 peserta. Acara begitu meriah, ada hiburan pagelaran Wayang Alien dari mas Hangno Hartono dan juga peluncuran roket air oleh mas Muhtoha Arkanuddin. Mas Tyok Sule juga hadir dalam tiap acara, mulai saat pembukaan, rilis buku dan juga acara puncak di hari minggu saat lomba mewarnai. Acara juga dimeriahkan dengan pembagian banyak door prize yang telah disiapkan oleh mbak Dian Graha dan mas Yonz.  Kolaborasi ini sungguh indah, semua senang dan rasa itu membuat kita semua melakukannya dengan suka rela serta suka cita.

 

11. Eksistensi

 

Saya teringat pembicaraan dengan mas Venzha, pada dasarnya setiap orang itu butuh eksistensi. Barangkali acara ini juga menjadi cara saya untuk menunjukkan eksistensi. Seperti kata mas Venzha juga kepada driver Gocar saat kami menuju Monumen Crop Circle. Orang pameran itu ya tujuannya untuk pamer. Ya, pasti saya akan dianggap pamer, berusaha menunjukkan eksistensi diri. Namun buat saya pribadi, ini sebenarnya juga merupakan sebuah ujian. Menguji  diri saya sendiri apakah saya masih mampu, terutama dalam hal tenaga. Usia saya sudah 57 tahun. Saya kagum juga dengan mas Hangno yang sudah 60 tahun tapi tetap penuh semangat. Mbak Dian Graha sempat komentar, generasi X ini memang beda dengan generasi Y. Kalau ada tantangan, selalu siap melakukannya. Tidak kebanyakan mikir.

 

 Beberapa orang ada yang bertanya, apakah acara Pekan Ufologi dan Antariksa ini akan berlangsung lagi? Apakah tahun depan akan diselenggarakan lagi? Tentu, harapannya begitu. Semoga bisa menjadi sebuah kerja bareng dan kolaborasi bersama agar persahabatan terus terjalin. Paling tidak, sudah ada rencana-rencana yang sempat muncul, seperti lomba peluncuran roket air, pengamatan bintang, menyelenggarakan kursus ufologi, dan lain sebagainya. Semua itu mesti dilakukan bersama. Sudah bukan lagi saatnya dikerjakan sendiri. Kita mau seperti Buzz Lightyear, to infinity and beyond.  Untuk itu kita perlu pergi bersama-sama.

 

Akhirnya, saya ingin mengutip kata-kata mas Tyok Sule kepada saya lewat WA: “Gazzz tetap semangat di jalur ini, pak Nur… Semoga selalu dilancarkan semua dan upaya, Berkah.”

 

Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, kiranya semesta selalu mendukung niat kita dan memberi kesempatan untuk mewujudkannya.

 

Surabaya, 18 Oktober 2023

Nur Agustinus

 

Sekali lagi terima kasih kepada seluruh sahabat dan komunitas yang telah berpartisipasi dan berkolaborasi dalam rangka Pekan Ufologi dan Antariksa 2023.

 

1. Kedai Suru Pitoe

2. Griya Antariksa

3. Info UFO

4. Studi UFO Nusantara

5. Jogja Astro Club

6. Extraterrestrial Indonesia

7. SUASU (Special Unit for Anomaly Surveillance of the Unknown)

8. UFO Investigator

9. Omah Budaya Kahangnan

10. House of kybalion

11. Area 57

12.Teropong Bintang Mangunan

 

Popular Posts