3 Agu 2013

From Zero to Hero, Perjalanan hidup 24 orang Buruh Migran Indonesia


Ketika saya memberi pelatihan entrepreneurship di Hong Kong di hadapan sekitar 300 Buruh Migran Indonesia, saya yakin tidak ada satupun yang di saat belia ingin bercita-cita menjadi buruh di tanah negeri orang lain. Walau banyak alasan mengapa bekerja di luar negeri, namun saya melihat bahwa langkah yang ditempuh ini jelas tidak mudah di awalnya. Cerita bagaimana berada di tempat agen, menunggu proses pengiriman dan tidur bersama yang lain dalam kegelapan, terbayang wajah keluarga, terutama yang sudah punya anak, yang akan ditinggalkan untuk sekian lama membuat harus menahan isak tangis agar tidak terdengar yang lain.  

Bekerja di luar negeri adalah sebuah keputusan besar yang harus diambil untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Mungkin ada yang harus berangkat karena keluarga terjerat utang, atau bisnis yang dibangun ternyata gagal dan menguras ekonomi rumah tangga, atau sebagai suatu bentuk pelarian dari kondisi di tempat asal yang carut marut. Apapun itu, berangkat bekerja di luar negeri, menjadi sebuah pilihan yang dengan sejumlah harapan.

Ya, harapan… harapan untuk tidak berada dalam kondisi yang sama terus menerus. Harapan akan adanya sebuah perubahan yang lebih baik. Ketika tolok ukur lebih baik adalah kesejahteraan, maka bekerja di luar negeri dengan pendapatan yang bisa berkali-kali lipat ketimbang bekerja di Indonesia, adalah jalan keluar yang sangat menjanjikan.

Tapi perjuangan tidak akan berhenti sampai di sana. Bertahun-tahun bisa berlalu dengan cepat. Bahkan mungkin ada yang hingga belasan tahun bekerja di luar negeri. Mungkin demi adik-adik agar bisa sekolah lebih baik, atau untuk biaya orang tua yang sedang sakit. Bekerja di luar negeri, boleh jadi menjadi sebuah pengorbanan tersendiri.

Banyak yang telah kembali, bisa berhasil di tempat asalnya. Tapi ada juga yang setelah kembali, merasa tidak lagi cocok dengan keadaan di desanya, lalu kembali lagi bekerja di luar negeri. Maka salah satu jalan adalah berwirausaha. Persoalannya, menjadi wirausaha itu bisa kaya raya, tapi bisa juga miskin sekali. Terpanggil untuk ini, banyak pendidikan entrepreneurship diberikan untuk membekali baik semangat maupun kecakapan untuk berusaha sendiri. Saya sendiri mendapat kesempatan tak terduga menjadi ikut melatih kewirausahaan di komunitas BMI.

Ketika saya berjumpa dengan murid kelas online entrepreneurship di Hong Kong, saya melihat jelas bahwa kesungguhan mereka belajar sangat melebihi dari mahasiswa saya yang ada di kampus. Beda ini jelas karena dengan belajar ada sebuah cita-cita yang ingin dicapai. Ada harapan yang sedang dipegang. Harapan bahwa masa depannya akan jauh lebih baik. Dalam mengajar, saya memperlakukan mereka sebagai sahabat.
Ketika saya membaca pengalaman hidup yang dikemukakan dengan tulus oleh para sahabat, saya sangat berharap agar kisah tersebut bisa diterbitkan dan dibaca orang lain. Bukan untuk mencari sensasi atau mendramatisir kehidupan. Namun perjuangan yang dilalui ini perlu untuk dibagi agar diketahui dan dipahami banyak orang.  Ketika mengetahui bahwa buku ini akan dicetak, bahkan dengan biaya bersama dari mereka sendiri, saya makin kagum dengan kesungguhan ini. Bahwa apa yang dilakukan ini adalah untuk membuat perubahan besar dalam kehidupan mereka. 

From Zero to Hero, saya kira ini bukan berlebihan. Bukan sekedar menjadi pahlawan devisa yang sering kali dikemukakan dengan tanpa rasa empati, tapi sejatinya mereka adalah pahlawan bagi keluarganya. Walau kadang, tak jarang ada yang harus kecewa karena di rumah, terjadi hal lain yang membuat kisah hidup makin memilukan. Saya yakin kisah-kisah dalam buku ini, yang disusun dengan linangan air mata, bisa memberi inspirasi bagi banyak orang dan makin menghargai apa yang telah dilakukan.

Saya bangga telah menjadi bagian dari kehidupan para sahabat-sahabat yang telah berani berbagi kisah hidupnya di sini. Saya yakin ini tidak mudah. Perjuangan yang sesungguhnya adalah ketika kembali ke tanah air karena bekerja di luar negeri bukanlah cita-cita, melainkan hanya sebagai jalan keluar untuk sebuah angan-angan dan rencana. Sukses akan menanti para sahabat, hadapi hidup dengan semangat. Jangan ragu untuk menuju ke jenjang kehidupan berikutnya. 

Semoga para pembaca juga bisa mengambil hikmah dari refleksi yang dituangkan dalam buku ini.

Surabaya, 26 Juni 2013
Nur Agustinus

Popular Posts