Berhutang dengan niat tidak membayar

Bank Al dari milis psikologi bertanya, "Salah satu budaya bangsa Indonesia sejak dulu kala yang sampai saat ini masih dilestarikan adalah 'Berhutang dengan niat tidak membayar'... Ada yg bisa mencerahkan saya?"

Saya mencoba menanggapi pertanyaan yang menarik ini. Menurut sudut pandang psikologi, memang membayar hutang bukan merupakan prioritas pertama atau utama. Misalnya, kita punya hutang pada seseorang atau pihak tertentu. Trus kita kebetulan dapat rejeki atau dapat bonus. Maka biasanya orang akan menempatkan prioritas untuk membayar hutangnya pada nomor sekian.

Lalu, kenapa prioritas membayar hutang ini bukan yang nomor satu?

Ada dua tipe manusia dalam mengelola keuangannya, yaitu yang berani hutang dan tidak suka hutang. Yang tidak suka hutang ini biasanya punya kebiasaan untuk menabung sementara yang suka hutang biasanya tidak punya kebiasaan menabung. Walau orang yang suka menabung belum tentu orang yang tisak suka hutang, artinya bisa saja orang itu punya kebiasaan menabung tapi tetap melakukan hutang jika memang uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membeli sesuatu.

Namun orang yang punya kebiasaan menabung, jika dia berhutang, biasanya dia tidak tenang. Dia cenderung ingin segera membayar lunas hutang-hutangnya. Sementara orang yang suka berhutang, cenderung untuk membayar minimal atau kalau bisa nggak bayar sebab hal itu dianggapnya merupakan sebuah keuntungan.

Kalau Bank Al bilang itu budaya indonesia, menurut saya tidak cuma di indonesia saja. Di Indonesia ada budaya bahwa seorang boss (pimpinan) itu baru dianggap boss kalau dia mau meminjami uang. Kalau nggak akan dianggap pelit. Namun kebiasaan berhutang ini melanda banyak kalangan ekonomi lemah atau orang miskin.

Mengapa orang indonesia suka berhutang? Karena ini berhubungan dengan harga diri. Harga diri adalah perbandingan antara apa yang diharapkan dengan yang dimiliki (atau cita-cita dibanding kesuksesan/kegagalannya). Kalau harapannya tinggi sementara dia miskin maka dia cenderung sensitif harga dirinya. Untuk itu, dia perlu menyesuaikan antara harapan dan kenyataannya. Tidak mudah bagi orang untuk menurunkan harapan atau angan-angannya. Jadi, mau tidak mau, dia berusaha untuk memenuhi kebutuhannya (berkaitan dengan harga diri, supaya dianggap mampu atau derajadnya tinggi). Itu sebabnya, barangkali, yang membuat orang kita suka berhutang.... sekaligus korupsi.
(nur agustinus - 19 September 2006)

0 Komentar:

Posting Komentar