17 Feb 2023

Save the best for the last


Sejak kecil aku suka sekali makan yang namanya telur ceplok atau telur mata sapi. Kebiasaanku waktu makan selalu menghabiskan dulu nasinya, baru terakhir menikmati telurnya. Bukan cuma telur, namun saat makan lainnya, misal ayam goreng, maka nasinya habis duluan, baru setelah itu ayamnya. Belakangan setelah aku besar, aku kemudian dengar istilah, “save the best for the last”. Menyisakan hal paling baik untuk yang terakhir. 

Aku tidak tahu, apakah itu kebiasaan yang baik atau tidak. Apakah ini juga mirip dengan peribahasa,  'Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dulu, bersenang-senang kemudian'? Entahlah. Sepertinya juga tidak sama persis, karena makan nasi bukanlah penderitaan. Apakah dengan makan nasi dulu ini supaya kenyang lalu setelah itu baru menikmati yang enak? Atau, jika seandainya aku makan telurnya dulu dan habis, apakah aku akan bisa menikmati saat menghabiskan nasinya? 

Nasi adalah makanan pokok buat kebanyakan orang Indonesia. Makanan sumber karbohidrat yang berguna sebagai sumber tenaga harian. Walau kini banyak himbauan agar mengurangi karbohidrat. Aku sendiri sudah sejak usia sekitar 40an, dinyatakan mengidap diabetes tipe 2. Papiku juga penderita diabetes. Itu sebabnya ada yang bilang bahwa penyakit ini adalah turunan. Opa dan Omaku, orangtua papiku, keduanya diabetes. Semua anak-anaknya atau saudara papiku, menderita diabetes tipe 2. Namun aku juga sadar betul bahwa kalau aku saat ini memiliki penyakit gula, itu juga karena pola makan dan gaya hidupku yang kata banyak orang, tidak sehat. Apalagi aku juga tidak suka olah raga.

Aku waktu kecil tidak suka sayur. Makanan dan minuman saat itu sudah mulai banyak yang manis-manis serta porsinya banyak. Menu di Surabaya itu biasanya banyak, Orang mengatakan porsi kuli. Saat aku kuliah, rumah makan waralaba fast food mulai banyak muncul, seperti CFC, KFC, McD, pizza dan lain sebagainya. Minuman soda seperti coke atau lainnya juga menjadi minuman pelengkap resto cepat saji ini. Bahkan dengan tambah uang sedikit, bisa dapat porsi minuman yang lebih besar. Tentang minuman soda ini sendiri memang sudah ada sejak aku kecil. Saat itu ada yang namanya limun bermerk F&N. Aku paling suka yang rasa coffee beer. Ada juga Green Spot, Seven Up, Mirinda dan lain sebagainya. Enak semua. Aku dulu juga suka Fanta rasa nanas. Namun minuman rasa ini tidak lama dipasarkan, entah kenapa.

Kembali ke “Save the best for the last”, saat makan ceplok, sampai hari ini, aku juga lebih suka memakan putihnya dulu, baru terakhir menghabiskan kuningnya. Jelas yang kuning lebih gurih dan enak daripada yang putih. Sepertinya banyak juga yang seperti aku cara makannya. Kenapa ya? Apakah ada penjelasan teori psikologi untuk hal ini? Mengapa orang suka menyisakan yang dirasakan paling enak untuk saat terakhir?

Tentu saja, kebiasaan ini tidak semua orang melakukannya. Yang aku tahu, salah satu anakku, Krista, punya kebiasaan makan telurnya dulu. Atau setidaknya dimakan sembari dengan nasinya. Kalau dipikir, harusnya ini yang betul. Nasi dimakan dengan lauknya. Nah karena Ferdinand jika makan ambil nasinya banyak, maka sering telurnya sudah habis duluan dan nasinya masih ada.  Tapi dia bisa menghabiskan nasinya meski lauknya sudah habis.

Saya lantas ingat dengan salah satu eksperimen marshmallow di Stanford. Eksperimen ini adalah sebuah percobaan yang dilakukan oleh Walter Mischel dari Universitas Stanford untuk mempelajari mengenai kepuasan tertunda. Percobaan ini dilakukan Mischel pada tahun 1960an. Hal ini kemudian juga dihubungkan dengan kecerdasan emosional. Eksperimen ini dilakukan pada anak-anak usia pra sekolah dan dihadapannya ada sebuah marsmallow (permen kenyal). Si anak diberitahu, bahwa dia akan ditinggal sendirian untuk sementara waktu (sekitar 15 menit), lalu jika nanti si petugas datang kembali dan si anak bisa menahan dirinya untuk tidak mengambil dan memakan marsmallow itu, maka dia akan dihadiahi satu marsmallow lagi. Hasil dari percobaan tersebut adalah sekitar sepertiga dari anak-anak tersebut langsung dengan segera memakan marshmallow, sepertiga lainnya menunggu hingga Mischel kembali dan mendapatkan dua marshmallow, sementara sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda. Eksperimen ini memang berkenaan dengan pengendalian diri anak.  

Apakah eksperimen ini bisa menjelaskan fenomena “save the best for the last”? Aku belum mendalaminya lebih lanjut. Namun dari pengalamanku, cara makanku sepertinya begitu. Misalnya saat makan sate, biasanya satenya aku sisakan untuk yang terakhir. Aku bisa menikmati makan nasi dengan bumbunya. Tapi herannya, saat aku makan kacang rebus misalnya, aku justru mengambil dulu kacang-kacang yang besar. Justru saat-saat terakhir, aku melihat yang ada tersisa adalah kacang-kacang yang kecil dan tidak menarik. Padahal aku mengambilnya tidak selalu dengan melihat dulu. Apakah tanganku dengan meraba bisa memilih yang terbaik lebih dulu? Tapi kenapa tidak berlaku “save the best for the last”? Apakah kalau makan camilan seperti kacang rebus ini terbiasa dimakan bersama banyak orang lain sehingga terjadi semacam kompetisi agar jangan sampai aku mendapatkan kacang rebus yang kecil dan jelek sebab yang bagus-bagus akan diambil oleh yang lain? 

Aku pernah mengikuti seminar Financial Planning dari Bapak Dr. Denny Bernardus, teman kuliahku di S3 dulu yang sekaligus menjadi bossku saat aku bergabung dengan Universitas Ciputra. Beliau mengajarkan juga prinsip “save the best for the last” ini dalam mengelola keuangan. Prinsip ini penting untuk pengeluaran yang besar.  Dari pengalaman, beliau mengatakan, kebanyakan orang kalau memakan telur mata sapi ini, biasanya yang dimakan adalah putihnya dahulu baru kemudian yang terakhir adalah kuningnya. Save the best for the last. Aku setuju sekali karena aku melakukan seperti itu. 

Menurut Pak Denny, ini sebenarnya hanya bisa dilakukan kalau kita benar-benar tahu apa yang kita inginkan di masa mendatang. Misalnya, mau punya rumah. Orang sering tidak sabar dan salah dalam membuat keputusan. Seperti di eksperimen marsmallow tadi ini sebenarnya prinsip belajar menahan nafsu atau kontrol diri. Jadi pertanyaannya, sanggupkan kita menahan diri untuk mencapai apa yang kita cita-citakan dan tidak tergoda untuk membeli barang-barang yang sebenarnya hanya kita inginkan tapi tidak kita butuhkan? Sepertinya soal cara makan ini adalah hal yang sepele saja. Tapi mungkin bisa mempengaruhi perilaku serta keputusan kita juga. Dalam ilmu perilaku ekonomi, memang banyak keputusan yang kita ambil itu dilakukan secara emosional dan tidak rasional.

Mengakhiri cerita soal makan ini, aku teringat dengan pengalaman seorang temanku. Dia cerita punya pengalaman yang membagongkan gara-gara menerapkan prinsip save the best for the last. Saat itu dia bersama keluarganya makan di sebuah rumah makan. Dia pesan ayam goreng. Seperti biasa, nasinya dihabiskan dulu. Lalu setelah semua sudah selesai makan dan kemudian balik ke parkiran mobil untuk pulang, dia baru ingat kalau ayam gorengnya belum dia makan. Kelupaan. Ya, ini risiko gara-gara save the best for the last…

Salam sehat untuk semua, jangan lupa bahagia.

Sayur


Kali ini cerita tentang sayur. Ini sebenarnya tentang masa kecilku. Oh ya, katanya, kalau suka cerita tentang masa kecil, tandanya sudah tua,  hahaha… 😃 Tapi mau cerita masa depan juga bingung, ntar dikira bermimpi.

Kenapa dengan sayur? Waktu aku kecil, aku paling tidak suka makan sayur. Mamiku sering masak sayur, biasanya ada sayur bayam, sayur asem, dan juga urap-urap. Orang Surabaya menyebut kata sayur itu dengan “jangan”, jadi masakan jangan bayam, jangan asem, jangan lodeh dan sebagainya. 

Saat itu di keluargaku ada makanan untuk siang dan malam yang berbeda. Biasanya kalau pagi akan makan makanan malam sisa kemarin. Nah makanan siang ini menunya sayur-sayuran. Kalau malam, bisa rawon, pindang (ini bukan ikan pindang, tapi seperti garang asem), sop merah, opor ayam atau lainnya. Makanan kesukaanku, sop merah apalagi kalau ada lidah. Lidah sapi makanan favorit.

Waktu itu, aku sama sekali tidak suka makan sayuran. Apa sebabnya? Aku tidak tahu. Yang pasti tidak suka aja. Hingga seingatku, mamiku pernah bikin aturan, kalau dapat nilai jelek, harus makan sayur. Mudah-mudahan ingatan ini benar, bukan false memory.  Kalaupun terpaksa makan sayur, di mulutku terasa tidak enak.

Tapi entah mulai kapan, rasanya setelah dewasa, aku mulai suka sayuran. Mungkin diawali dengan suka nasi pecel, trus sayuran kesukaanku adalah sayur asem, yang ada kacang dan jagung rebusnya. Kalau makan nasi pecel, aku minta tambah bendoyo (krai, sejenis timun yang direbus). Selanjutnya, mungkin karena beberapa kali pernah makan nasi tumpeng, mulai suka yang namanya urap-urap. Saat inipun bisa makan yang namanya sayur lodeh, karena aku pikir mirip nasi gudeg. Aku juga suka kangkung ditumis. Namun untuk sayur bayam, walau saat ini bisa makan, bukan menu yang bisa menambah nafsu makan.

Padahal, di sekolah dulu diajarkan tentang empat sehat lima sempurna. Salah satunya tentu harus makan sayur-sayuran. Untunglah sekarang ini sudah bisa makan sayur, tapi tetap kalau ke kondangan yang menu prasmanan, lalu bila di sana ada menu bistik atau semur lidah, pasti bolak balik nambah. 

Ini cerita singkatku hari ini, mungkin karena itu juga, aku tidak bisa menjadi seorang vegan…

Komik

Komik adalah bagian dari budaya popular. Keberadaannya memang agak tersisihkan oleh animasi dan film. Masa kecilku hingga remaja, diwarnai oleh banyak komik, baik komik dalam negeri maupun dari luar, khususnya komik Eropa. Ini juga tidak lepas dari keberadaan majalah anak-anak dan remaja seperti Bobo dan Hai. Bahkan aku bisa mengetahui cerita lengkap dari sebuah karya sastra kelas dunia lewat Album Cerita Ternama yang diterbitkan oleh Gramedia. 

Waktu kecilku, aku suka sekali membaca komik, terutama komik superhero dan yang bernuansa sains fiksi. Komik dagelanpun suka seperti Petruk Gareng. Beberapa komik silat, tergantung komikusnya, misalnya aku suka karya Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Aku malah belum pernah sama sekali membaca buku cerita karya Ko Ping Hoo. Namun komik wayang karya RA Kosasih, aku sangat suka. Ini juga yang membuat aku suka wayang dan tahu ceritanya lewat baca komik. Dari komik yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, membuat aku tahu cerita lengkap dari Alkitab. 

Karena di masa kecilku lebih banyak baca komik lokal, maka aku lebih kenal dan menggemari tokoh seperti Godam, Gundala, Pangeran Mlar, Masa Sang Penakhluk, Aquanus dan lainnya. Superhero luar yang aku kenal saat itu seperti Superman, Batman dan Robin, Green Lantern hingga Flash Gordon. 

Tapi bukan tentang komiknya yang aku ingin ceritakan kali ini. Tadi aku menyebutkan bahwa aku lebih banyak mengkonsumsi komik lokal. Nah ini ada sebabnya dan ini yang aku ingin ceritakan. 

Tak jauh dari rumahku, mungkin sekitar 350 meter, tepatnya di jalan yang namanya Jagaraga, ada orang yang membuka usaha persewaan komik. Tempatnya sederhana, kecil tapi buku komiknya banyak. Dikelola oleh seorang perempuan, entah apakah mbak-mbak atau ibu-ibu. Karena waktu itu aku masih kecil, aku melihatnya dia sudah dewasa. Nama persewaan komiknya adalah Shinta. Sepertinya itu dari namanya. 

Aku sering meminjam komik di sana. Seri komik karya Hasmi, Wid NS dan lain-lainnya adalah yang paling aku suka. Memang di masa kecilku, di tahun 70-an, lahirlah tokoh-tokoh superhero kita. Misalnya baru saja aku baca di Wikipedia, Godam adalah tokoh komik ciptaan Wid NS, muncul pertama kali dalam judul Memburu Doktor Setan pada tahun 1969. Gundala, tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik "Gundala Putra Petir" pada tahun yang sama. Aku belum sempat bertemu dengan Win NS, Beliau meninggal di tahun 2003. Namun aku sempat berjumpa dengan pak Hasmi (Harya Suryaminata) di Yogyakarta pada tahun 2016, beberapa bulan sebelum beliau tutup usia.

Kembali ke persewaan komik Shinta ini, saat ini sudah tidak ada. Menurut kabar, rumahnya yang dulu jadi tempat persewaan komik sekarang kosong, tak ada yang menempati. Kemarin aku potong rambut di Pak Nasir, dekat pasar Krembangan, beliau cerita kalau anak-anaknya Shinta saat ini semua sukses, kerja di bank dan tinggal di daerah Benowo. Pastinya aku tidak begitu tahu. Namun, setiap aku lewat jalan Jagaraga ini, aku teringat dengan persewaan komik tersebut. Bagaimanapun, komik-komik ini benar-benar mengisi dan membentuk diriku seperti saat ini. Untuk yang usianya hampir sama, aku cukup yakin, pasti komik punya peran besar dalam kehidupan kita.

Padahal, komik saat itupun dianggap sebagai barang yang tabu dan dilarang. Setiap generasi pasti ada yang dikuatirkan. Kalau sekarang orang tua dan guru mencemaskan anak-anak yang tergantung dengan gawainya, Jaman aku kecil dulu, kalau ketahuan membaca komik, terlebih di sekolah, bisa dirampas. 

Soal komiknya, memang komik lokal kita menjadi tersisih dengan hadirnya komik import, baik dari Eropa, Amerika maupun Jepang. Bisa juga karena aspek marketing maupun manajemennya. Diawali dengan komik Tintin, Tanguy and Laverdure, Smurf, Storm, Trigan, dan masih banyak lainnya, yang diterbitkan saat itu oleh Indira dan Misurind. Disusul serbuan komik asal Jepang seperti Doraemon, Tsubasa, Dragon Ballz, Sinchan  dan lain sebagainya. Yang pasti, komik ini memang luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan manusia.

Persewaan komikpun berjaya di tahun-tahun 80 hingga akhir tahun 2000 dan ada di berbagai sudut kota. Kini di Surabaya boleh dibilang amat sangat jarang. Terakhir aku menyewa komik, novel atau majalah di persewaan yang ada di jalan Waspada, seberang Pasar Atum. Banyak yang kemudian beralih menjadi persewaan VCD dan DVD, yang diawali dengan persewaan kaset Betamax atau VHS, sampai akhirnya karena mereka umumnya menyewakan barang illegal (bajakan), kemudian ditertibkan. 

Aku merindukan masa kecilku dulu, yang bisa menyewa komik dan membacanya tanpa harus membelinya. Mungkin karena itu, sebagian dari orang-orang seperti aku, saat ini mulai mengumpulkan kembali komik-komik bacaan di masa lalu. Lalu ada yang menjadi kolektor komik, yang membuat harga komik menjadi melonjak tinggi.

Itu ceritaku hari ini… Salam cergam buat semua pecinta komik.

Dear Bagong


Aku yakin sejak dulu banyak anak yang mengalami pembulian saat kecil. Ada yang masih dalam kategori biasa hingga sampai traumatik. Seorang anak bisa dibully karena bentuk tubuhnya, bisa juga karena namanya, atau tampangnya. Mungkin juga karena sikap, perilakunya, bahkan bisa karena keadaan ekonomi serta pekerjaan orangtuanya. Banyak penelitian tentang hal ini sekarang. Terlebih karena makin banyak korban perundungan yang membuat kerusakan pada perkembangan jiwa seseorang.

Apakah aku dulu pernah mengalami pembulian? Tentu saja. Tapi untungnya aku banyak tidak pedulinya dengan gangguan-gangguan seperti ini. Waktu kecil aku sering dipanggil dengan sebutan Bagong. Panggilan ini ada di dalam keluarga. Asal mula dipanggil Bagong sepertinya karena aku waktu kecil termasuk gemuk. Dulu merasa lucu saja dipanggil Bagong. Kalaupun merasa tidak suka, tapi karena merasa tidak berdaya untuk mengatasinya, ya akhirnya dibawa santai saja.

Bagong adalah saudaranya Petruk dan Gareng. Salah satu tokoh punakawan dalam kisah pewayangan. Dia memiliki tubuh pendek, gemuk, mata bulat, hidung pesek, dan bibir tebal. Sepintas, Bagong mirip dengan Semar. Karakter Bagong ini katanya pendiam, lugu, lancing, namun sekali bicara membuat orang tertawa. 

Aku tidak punya ingatan banyak untuk diceritakan tentang panggilan Bagong ini. Namun aku pikir ini menjadi salah satu bagian dari kehidupan masa kecilku dulu. Hingga saat ini, aku suka dengan tokoh2 punakawan ini, Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. 

Jarak Antara Hidup dan kematian


Aku bersama Ari setelah beberapa hari ia dilahirkan.

Kematian sejatinya adalah peristiwa yang sering terjadi di sekitar kita. Seseorang bisa mempunyai pemikiran filosofis yang berbeda-beda tentang hal ini. Ada banyak penafsiran dan pandangan. Orang bisa berdebat panjang lebar. Baik menurut keyakinannya maupun pemikiran rasionalnya. Ada juga yang dengan gigih menyampaikan berbagai bukti yang diyakininya ilmiah. Tapi bukan hal ini yang hendak aku bahas. Aku ingin cerita tentang adik sepupuku. Aku memanggilnya Ari. Nama lengkapnya Yohanes Ari Budiman Soedjatmiko.

Ari adalah anak pertama dan Om Johnny, adik paling bungsu dari papiku. Aku dekat dengan saudara-saudara papiku, mulai dari Tante Vonny, Om Leo dan Om Johnny. Semuanya saat ini sudah meninggal dunia. Keluarga papiku berasal dari Probolinggo. Om Leo dan Om Johnny adalah adik dari papiku, sementara tante Vonny adalah kakaknya, anak tertua dari opa dan omaku. 

Om Leo dan Om Johnny pernah tinggal di rumah keluargaku saat mereka belum menikah. Om Johnny suka sekali dengan fotografi. Kamarnya bisa dijadikan kamar gelap, tempat mencuci dan mencetak foto hitam putih. Om Leo bekerja sebagai detailer, sekarang istilahnya lebih sering disebut Medical Representative, di sebuah perusahaan Farmasi, Kalbe Farma.

Setelah Om Leo dan Om Johnny menikah, mereka tinggal di rumahnya masing-masing. Aku punya beberapa adik sepupu. Dalam tulisan ini, aku ingin cerita tentang Ari, anak sulung Om Johnny.

Ari lahir tanggal 15 Mei 1980. Saat itu berarti aku kelas 3 SMP. Om Johnny dan tante Maudy, istrinya, beserta Ari, tinggal di rumah kontrakan di jalan Sanggar. Rumah ini tidak jauh dari rumahku. Kalau aku ke sekolah, jalan kaki, aku pasti melewati rumah Om Johnny. Biasanya aku sering mampir. Aku memang jadi keponakan yang lumayan disayang oleh om dan tanteku dari pihak papiku, mungkin karena aku adalah keponakan pertama. 

Sayangnya, Ari tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia pada tanggal 4 Mei 1988. Masih berusia akan 8 tahun. Saat itu aku sudah kuliah. Om Johnny dan keluarga juga sudah tinggal di rumah sendiri di kawasan Darmo Permai. Ari meninggal karena sakit demam berdarah. Saat sakit, dokter yang memeriksanya waktu itu hanya mendignosa ia sakit gabagen. Ternyata di hari kelima memburuk dan oleh seorang mantri kenalan Om Johnny yang tinggal dekat rumahnya, disuruh segera dibawa ke UGD Dr. Soetomo. Saat itu kondisinya sudah kritis, tak sadarkan diri. Aku dikabari dan menyusul ke rumah sakit. Di sana aku bertemu Ari, tapi hanya bisa melihatnya terbaring tak berdaya. Menurut dokter. Ari sudah mengalami pendarahan internal. Sebelum Ari menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sempat membuka matanya, melihat papinya, lalu memejamkan mata untuk selamanya. Mungkin ia ingin berpamitan kepada papinya. Aku berada di sampingnya waktu itu.

Kelanjutannya mungkin tak perlu aku ceritakan. Kesedihan luar biasa pada keluarga Om Johnny. Kami semua sedih, tak mengira hal ini bisa terjadi. Namun ada hal lain yang ingin aku ceritakan setelahnya.

Saat dimakamkan di Kembang Kuning, Ari dikubur di area pemakaman anak-anak. Aku melihat banyak batu nisan dari anak-anak yang telah meninggal dunia. Ada yang usianya hanya setahun, ada yang dua tahun, ada juga yang hidup hanya beberapa hari, bahkan ada juga yang meninggal di hari yang sama dengan kelahirannya. 

Yohanes Ari Budiman Soedjatmiko

Aku kemudian merenung, berpikir, mencoba merasa, bagaimana jika seandainya aku dulu mati saat usia sehari? Atau setidaknya umur setahun? Apakah aku akan pernah merasa bahwa aku ini pernah ada di dunia ini? Seperti yang aku pahami saat belajar filsafat, “aku berpikir maka aku ada”, bagaimana aku bisa menyadari keberadaan diriku jika aku belum bisa berpikir? Lebih jauh aku kemudian bertanya-tanya dalam hati, apakah janin-janin yang mati karena ibunya mengalami keguguran, tak pernah punya kesempatan lagi untuk merasa ada dalam dunia ini? Ataukah masih punya kesempatan sebagai “AKU” di tubuh yang lain. Ini tidak bisa aku jawab. Memang ada banyak pandangan agama, spiritual ataupun metafisika tentang hal ini. Namun jawaban yang ada masih belum bisa memuaskan aku. Apa yang dirasakan hatiku sering kali masih aku ragukan dengan nalarku. Ini membuat aku gelisah.

Tempat Ari dimakamkan bersama papinya

Kematian memang tidak bisa dihindarkan. Suatu saat pasti terjadi. Gelisahku bukan karena aku takut mati. Memang betul, siapa yang tidak takut mati? Manusia pasti takut akan sesuatu yang dianggapnya “unknown”, yang tidak diketahuinya. Gelisahku ini lebih pada, bagaimana nasib para “aku” yang ketika masih bayi sudah meninggal dunia. Walau aku juga sadar, kita ini merasa ada juga karena adanya memori. Aku tak punya ingatan saat usia di bawah 5 tahun. Jadi, aku kemudian berpikir, seandainya aku mati saat itu, apakah aku akan pernah sadar bahwa aku pernah ada?

Bagi orang lain, mungkin buat apa hal ini dipusingkan. Hidup ya dijalani saja. Kalau sudah waktunya tiba, yang ada hanya tinggal kenangan bagi orang-orang dekatnya. Atau mungkin juga kehampaan. Sama seperti keadaan sebelum aku dilahirkan. Misteri...  Menjadi manusia itu sendiri adalah sebuah misteri.

Barangkali karena aku suka membaca tentang filsafat eksistensialisme, aku juga tertarik dengan bahasan kematian. Kita hanya bisa tahu saat orang lain mengalaminya. Seperti ada sebuah dialog di film yang berjudul “The King” (2019): "All men are born to die. We know it. We carry it with us always. If your day be today, so be it. Mine will be tomorrow. Or mine today and yours tomorrow. It matters not." ("Semua manusia dilahirkan untuk mati. Kita mengetahuinya. Kita selalu membawanya bersama kita. Jika harimu adalah hari ini, jadilah itu. Hariku bisa saja besok. Atau waktuku hari ini dan saatmu besok. Itu tidak masalah.")

Maaf jika ceritaku kali ini agak bikin suasana muram. Tapi ah sudahlah… hidup ini kuat dilakoni, ra kuat ditinggal ngopi …

What If...

Kemarin (18/1/23) aku mengantar Maria kontrol seperti biasa ke poliklinik di RS. Kali ini lama sekali dan lumayan melelahkan karena mulai jam 11 siang dan baru selesai sekitar jam 4 sore. Mulai menunggu diperiksa hingga ambil antrian di farmasi. Aku baca di pengumuman, sepertinya memang ada keterlambatan layanan karena sedang ada migrasi sistem manajemen informasi di rumah sakit tersebut. Tapi aku lihat memang pasien kemarin banyak sekali. Biasanya sekitar 1 atau 2 jam sudah selesai. Ini hampir 5 jam.

Setelah selesai, kami kemudian makan siang yang boleh dibilang terlambat. Selanjutnya pulang ke rumah. Karena capek, aku tak lama kemudian tertidur. Hampir tengah malam, jam 11, aku terbangun. Aku mengira sudah pagi, ternyata masih belum ganti hari. Yang ingin aku cerita adalah soal mimpi. Tapi mimpi ini berdasarkan kisah nyata. Aku tidak tahu kenapa memimpikan ini, sebab dalam mimpi ini, aku berpikir bahwa ini bisa dibuat jadi tulisan. Memang aku sempat ragu, apakah perlu diceritakan atau tidak. Namun aku juga berpikir, tak ada yang kebetulan di dunia ini. There is no coincidence... 

Mungkin timbul tanda tanya, kok bisa mimpi ini adalah kisah nyata? Dalam mimpi ini aku sepertinya sedang berbicara dengan Om Johnny, adik dari papiku. Aku cerita tentang kejadian lama, yaitu saat aku dulu pernah hampir punya tanah yang dijual oleh temanku yang bernama Raymond (alm). Hanya saja, aku tidak jadi membelinya karena papiku melarang dan disuruh mengembalikan. Alasannya, tanah itu dekat kuburan. Tanah itu sendiri masih Petok D. Lokasinya di daerah Kenjeran, kalau sekarang sepertinya dekat dengan jalan menuju jembatan Suramadu.

Waktu aku bangun, aku memang heran. Kenapa kok mimpi ini? Apakah karena belum dapat ide untuk menulis sehingga pikiranku teringat ke masa lalu? Apa yang muncul di mimpi itu memang kejadian nyata. Kejadian yang pernah aku alami dulu. Aku lupa persisnya tahun berapa. Namun karena papiku meninggal dunia tahun 1990, mestinya ini terjadi antara tahun 1988 hingga 1990. Aku mulai kerja di sebuah cold storage udang tahun 1988.

Waktu itu, Raymond, seorang teman yang lumayan dekat denganku sejak SD hingga SMA, menghubungi aku dan kemudian dia datang ke rumah. Dia menawarkan sebuah tanah yang masih Petok D. Lokasinya aku sudah tidak ingat persis di mana. Tapi kira-kira di daerah Bulak, Kenjeran. Aku pernah melihat tempatnya dulu. Sudah 30 tahun lebih dan kini berubah banyak karena sudah ada pelebaran jalan untuk ke jembatan Suramadu, penduduknya juga makin padat. Jadi kalau disuruh mencari lagi, sudah pasti tidak bisa.

Temanku mau menjual dengan harga satu juta. Aku sendiri tidak begitu paham harga itu wajar atau tidak. Luasnya mungkin sekitar 200 meter. Aku tidak ingat persis. Tapi buat aku yang masih bujangan, belum punya asset apa-apa, berpikir akan menarik sekali jika punya tanah sendiri. Aku menyetujuinya dan terjadi transaksi. 

Namun setelah aku memberitahu papiku, ternyata papiku tidak setuju. Alasannya adalah karena berdasarkan denah yang ada, letak tanah itu dekat sekali, kalau tidak bersebelahan, dengan kuburan. Papiku memang mengasuh rubrik hongsuinipun di majalah Liberty yang saat itu dikelola Jawa Pos. Konon secara hongsui, tanah yang lokasinya dekat kuburan adalah tidak bagus. Intinya, aku disuruh membatalkan dan kalau bisa meminta kembali uangnya. Aku tidak tahu, apa sekedar itu alasannya, atau mungkin papiku ragu dengan status tanah itu. Memang, jual belinya tanpa notaris, hanya di bawah tangan saja. 

Temanku nampaknya juga tidak ada masalah membatalkan transaksi. Jadi jual beli ini kemudian batal tanpa ada keributan. Yang pasti, aku tidak jadi punya tanah. Kalau aku pikir, saat ini mestinya tanah itu pasti mahal harganya karena sudah ada jembatan Suramadu. Memang dulu ada sedikit menyesal kenapa aku dilarang membeli tanah itu oleh papiku. Tapi aku pikir, papiku pasti punya pertimbangan yang baik.

Aku tidak tahu, kenapa aku baru saja memimpikan hal ini. Aku memang masih ingat dengan kejadian itu, tapi bukan peristiwa yang menghantui pikiranku. Buat aku, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya.  Everything happens for a reason.  Nasihat ini selalu membuat aku tenang. Tidak menyesali apapun yang terjadi kemudian. No regrets. Mungkin, di semesta paralel yang lain, seperti di film Marvel, What If, ada cerita lain tentang aku, yang tetap punya tanah itu…

Filsafat

Tahun 1983, aku masuk kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Salah satu mata kuliah yang aku suka adalah Filsafat. Entah kenapa aku menikmati kuliah ini, sementara teman-teman seangkatan mengatakan merasa tidak mudah paham. Bagi kebanyakan, belajar statistik masih lebih mudah daripada filsafat. 

Mungkin ada beberapa sebab kenapa aku suka dengan filsafat di awal kuliahku dulu. Sepertinya karena dosennya menarik cara mengajarnya. Namanya Pak Poerwadi, Lic.  Lengkapnya R.M. Gregorius Poerwadi, Lic. Saat masuk kuliah, beliau adalah Pembantu Dekan III. Dekat dengan mahasiswa, sering nongkrong bareng di kantin kampus. Bertahun-tahun kemudian, saat bekerja di Universitas Ciputra, aku pernah mengikuti sebuah workshop menjadi dosen yang professional, Ibu Prof. Dr. Anita Lie yang menjadi narasumbernya mengatakan, pengajar yang baik itu adalah yang bisa menginspirasi, yang bisa membuat muridnya ingin tahu lebih banyak dan menyukai pelajarannya. Tak ada pelajaran yang sulit jika murid itu tertarik dengan dengan ilmu tersebut, dan ketertarikan itu datang lewat guru yang menginspirasi.

Pertama kali menjadi mahasiswanya, aku sudah tertarik dengan apa yang dikatakannya. Aku masih ingat bahwa beliau berkata, “Setiap kepala itu bisa berfilsafat. Ada seribu kepala maka ada seribu filsafat.” Cara berpikir orang memang berbeda-beda. Dunia dipenuhi dengan berbagai macam cara pandang, Kami juga diberitahu definisinya, Filsafat dari kata Philia dan Sophia, yang artinya mencintai kebijaksanaan.

 R.M. Gregorius Poerwadi, Lic. 

Buku yang dipakai sebagai pegangan adalah Pintu Masuk Ke Dunia Filsafat, karya Harry Hamersma. Pertanyaan yang ada di awal buku ini benar-benar membuat aku berpikir. Memang sudah lama aku bertanya-tanya tentang  “Siapa Aku? Dari mana Aku berasal? dan ke mana Aku akan pergi?”  Pertanyaan ini barangkali muncul di setiap benak manusia. Ada yang terus mencari, namun ada juga yang kemudian mengabaikan karena ada hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan maupun dikerjakan. Lalu, mungkin juga hampir sama dengan kebanyakan mahasiswa, aku juga terpesona dengan kata-kata Rene Descartes, “Cogito ergo sum”,  aku berpikir maka aku ada. Belakangan saat kuliah di S3 aku akhirnya tahu, lewat dosen filsafat Romo Armada Riyanto, bahwa kata-kata itu lengkapnya adalah  “dubito, ergo cogito, ergo sum” yang artinya, "Saya ragu, maka saya berpikir, maka saya ada".  

Ada juga dua buku sastra yang ditugaskan oleh Pak Poerwadi untuk dibaca. Pertama adalah Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan kedua adalah Anak Bajang Menggiring Angin karya Sindhunata. Buku yang terakhir ini buatku luar biasa. Bercerita tentang kisah Ramayana, dan aku terpikat dengan tokoh Anoman di dalamnya. Satu penggalan cerita dalam buku itu yang membekas adalah:

”Trijata, bolehkah aku mencintaimu?” tanya Anoman.

Tiada terdengar jawaban. Hanya terasa sebuah ciuman mesra di pipi Anoman. Ciuman yang meninggalkan sentuhan hati yang dalam. Ciuman yang mengusir segala bayang-bayang. Maka terdengarlah suara burung tadahasih yang sedang berkasih-kasihan di waktu malam, bagai menyanyikan harapan, rasa sayang tiada akan lenyap meski pagi telah mengundang bayang-bayang.

”Trijata, tidakkah aku hanya seekor kera?” tanya Anoman.

”Tapi hatimu lebih dari manusia, Anoman,” jawab Trijata.

Pada saat inilah Anoman merasa apa artinya hidup sebagai manusia. Manusia itu bukan lagi suatu kerinduan, saat ia menerima cinta. Dan wujud apa pun, bahkan seekor kera, bukan lagi suatu kekurangan, ketika sesama makhluk menerima dan mengakui keluhurannya. Tiada kebahagiaan seperti malam yang indah itu bagi Anoman.

Kembali ke soal filsafat, entah kenapa juga, aku lebih suka filsafat eksistensialisme ketimbang yang lain. Mungkin ini berkenaan dengan makna hidup manusia sebagai bagian dari semesta ini. Karena itu pula, aku menyukai tokoh psikologi Viktor E. Frankl dengan logoterapinya. Tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme yang aku juga suka baca karya-karyanya adalah Kierkegaard, Heidegger, Nietzsche, Karl Jaspers, Sartre, Erich Fromm, Gabriel Marcel. Buku filsafat waktu itu yang menarik perhatianku seperti Manusia Multi Dimensional (M. Sastrapratedja) dan masih banyak yang lainnya. Aku punya banyak buku di rumah, karena saat aku menyukai sebuah ilmu, maka aku terobsesi untuk membeli buku dan membacanya. 

Saat semester dua, mata kuliah filsafat adalah logika. Aku tak ada kesulitan dengan pelajaran ini. Tentang silogisme, true false dan lainnya. Selanjutnya di semester berikutnya belajar tentang Filsafat Manusia. Buku yang digunakan adalah Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal karya Louis Leahy. Buku ini juga membuatku makin tertarik ke dunia filsafat. Saat itu, kurikulum psikologi di kampusku ada 4 semester dan aku selalu dapat nilai A dari Pak Poerwadi.

Pak Poerwadi wafat pada tanggal 4 April 2003. Bagiku, beliau adalah dosen yang luar biasa dan sangat berpengaruh dalam kehidupanku.

Aku ingin menutup ceritaku kali ini dengan kutipan dari Gabriel Marcel. “Cinta adalah sebuah seruan hati: "Hendaklah engkau hidup bersama denganku."


Les

Aku dan papiku

Saat aku kecil, waktu itu masih sekolah dasar, aku pernah dileskan oleh kedua orangtuaku. Uniknya, aku dileskan bukan pada mata pelajaran di sekolah. Awalnya aku ingat pernah dulu les menggambar, yudo dan piano. Waktu aku mau mulai menulis ini, aku tiba-tiba ingat bahwa aku juga pernah ikut les bahas belanda. Yang mengajar adalah guru SDku kelas 1 di SDK Aloysius. Nama beliau adalah Bu Lily (Alm), seorang keturunan Indo Belanda. Waktu itu tinggal di sebelah Gereja Kelsapa, jl. Kepanjen Surabaya, yang kini telah dibangun menjadi Balai Paroki. 

Aku jadi terkenang waktu les bahasa Belanda ini. Aku tak pernah mahir dalam soal bahasa. Ingatnya saat ini hanya een, twee, drie, vier… hehehe. Aku lupa berapa kali dalam seminggu, mungkin dua kali. Saat itu ada juga beberapa teman-temanku yang ikut les bahasa Belanda.  Tak ingat jumlahnya berapa. Entah kenapa aku dileskan bahasa Belanda, mungkin karena bahasa ini menjadi bahasa yang dipakai oleh mamiku dan makku (nenek). Mereka kalau di rumah sering berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Tapi seperti aku bilang tadi, otakku sepertinya tidak berbakat dalam hal bahasa. Kalau aku ikut tes singkat, sepertinya aku dominan otak kanan. Konon untuk fungsi berbahasa ini yang berperan adalah otak kiri.

Entah tahun berapa waktu itu. Aku kelas 1 SD pada tahun 1971. Mungkin aku les sekitar tahun itu atau setelahnya. Bisa jadi tahun 1972. Sepertinya di tahun 1972 itu aku cukup sibuk dengan berbagai les. Salah satunya yang aku ingin ceritakan lebih detil adalah les menggambar.

Aku les menggambar di sebuah gang di jalan Jagalan. Persisnya sudah lupa. Yang aku ingat, di jalan jagalan ada gang masuk ke kiri dan kalau tidak salah masuk dua belokan lagi di dalamnya. Guru les gambar, aku memanggilnya dengan nama Om Rukang. Entah benar atau tidak. Nama itu adalah nama Tionghoa, Mungkin Ru Kang. Aku tidak ingat berapa usianya waktu itu. Aku tak pandai mengira-ngira usia orang. Mungkin 30an atau 40an. 

Dari les gambar ini, memang aku akhirnya bisa menggambar. Apakah aku hobby menggambar? Entahlah. Entah kenapa juga dulu aku dileskan menggambar. Mungkin mami dan papiku ingin anaknya mengembangkan bakat lukis. Kalau adik-adikku, mereka dileskan balet. Aku ingat saat diajarkan bagaimana menggambar orang, mulai dari bulat telur untuk kepala, posisi mata, alis, telinga, hidung dan mulut. Lalu juga postur tubuh, ukuran kepala, dibuat 7,5 kali untuk laki-laki. Maksudnya, ukuran kepala dianggap satu ukuran, maka ukuran keduanya adalah putting susu, kemudian pusar, lalu keempat adalah daerah pangkal paha. Berikutnya setengah, baru satu lagi adalah dengkul. Kemudian untuk betis hingga telapak kaki ada dua ukuran. Kalau untuk perempuan agak beda, kalau tidak salah, tidak pakai setengah. Ini aku tidak ingat persis.

Apakah aku berbakat menggambar? Sekali lagi aku tidak bisa menjawab pasti. Namun aku suka melukis, membuat gambar. Kini juga dipermudah dengan berbagai software dan aplikasi. Dulu waktu les berawal dengan menggambar sketsa, kemudian dengan pensil, lalu menggunakan cat air. Pernah juga sekali belajar menggunakan kanvas dan cat minyak. Aku tidak tahu berapa biaya orang tuaku meleskan aku ke Om Rukang. Namun memang aku tidak menjadi pelukis handal, cukup sekedar hanya bisa menggambar saja saat ini. Aku juga tak ingat berapa lama aku les gambar.  

Selain les gambar, aku juga dileskan bela diri Yudo. Aku ingat betul, aku tidak suka les ini, bahkan pernah bilang ke mamiku, kalau bisa aku tidak ikut lagi les Yudo. Aku ada beberapa fotoku saat les Yudo, sepertinya waktu itu sedang acara kenaikan tingkat. Aku tidak lama ikut les Yudo ini. Sabukku mungkin cuma sampai oranye saja.  Aku dulu les di tempatnya Om Pantouw di jalan Bawean, Surabaya. Salah satu fotoku saat Yudo ini tertulis tahun 1972, berarti waktu itu aku masih kelas 2 SD. Saat ini, di album folder yang ada di lemariku, ada ijazah dari Persatuan Yudo Surabaya, bertanggalkan 1 Oktober 1973. Rasanya tidak lama aku les Yudo. Papiku sendiri dulu cukup aktif di Karate Kyokushinkai. Mungkin papiku ingin anak lakinya juga bisa bela diri. Namun, aku merasa bukan orang yang tipe kinestetik. Aku sangat buruk dan malas dalam berolah raga. 


Les berikutnya yang ingin aku ceritakan adalah les piano. Ini aku dan adik-adikku dileskan piano. Tapi rupanya tidak ada yang jadi pianis semua. Kata mamiku, dulu waktu mudanya, mamiku ingin sekali bisa piano. Jadi anak-anaknya dileskan. Belajar piano memang susah-susah gampang. Secara dasar-dasarnya masih ingat sampai sekarang. Saat itu aku dan adik-adikku dileskan ke seseorang yang kami memanggilnya dengan Tante Elly. Rumahnya saat itu di Jl. Perak Barat. Tante Elly adalah istri dari Om Willem (atau William), teman papiku. Aku les piano ini sepertinya sudah agak besar, mungkin sudah kelas 6 atau mungkin juga SMP. Aku tidak ingat pastinya. Setelah les di Tante Elly, pernah juga orangtuaku memanggil guru les piano ke rumah. Kemudian saat SMA, aku pernah ikut les organ (electone) di Yayasan Musik Victor Indonesia. Ada sebuah ijazah yang dikeluarkan YMVI tanggal 14 Maret 1982. Ini berarti saat itu aku kelas 2 SMA. Ditanda tangani direkturnya, Om Bubi Chen.

Tante Elly (kanan)

Aku tidak begitu berbakat dalam seni musik. Pernah belajar gitar dan tidak pernah bisa. Boleh dibilang, semua les yang aku ikuti hasilnya tidak maksimal. Aku pikir, ini karena aku bukan orang yang tekun. Bisa juga karena aku mudah bosan. Atau memang, bidang-bidang ini bukan yang aku minati secara sungguh-sungguh. Walau demikian, aku senang pernah ikut les aneka ragam itu. Saat kuliah, seingatku aku juga pernah ikut lagi ikut latihan beladiri Karate Perguruan Kala Hitam. Latihannya waktu itu di jl. Dinoyo. 

Satu-satunya yang masih sering aku lakukan saat ini adalah menggambar dan melukis. Memang tidak menjadi profesi utama. Apakah bisa disebut hobby, sepertinya juga tidak. Hampir sama seperti menulis, aku akan lakukan ketika aku ingin. Kalau yang bisa disebut hobby, sepertinya adalah menonton film. Oh ya, mungkin juga ada satu les lagi yang baru saja teringat. Mungkin aku dulu pernah les berenang juga. Entah siapa yang mengajar, apakah memang les khusus atau diajarkan oleh orang tuaku. Bisa berenang ini menurutku bagus dan perlu. Dulu kami sekeluarga sering berenang di pemandian yang namanya Porakta. Ini berada di wilayah Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumimoro. Sekarang namanya Kolam Renang Jala Krida Tirta.

Ini yang sementara kuingat tentang les yang aku ikuti semasa kecilku dulu. Namanya juga anak jaman dulu, dileskan apa saja ya mesti nurut. Kalau dipikir-pikir, memang apa yang disediakan papi mamiku saat itu merupakan kesempatan yang istimewa. Pernah juga waktu kecil aku diikutkan psikotes ke psikolog, namanya Pak Noerhadi (Alm). Beliau dari Angkatan Laut. Mungkin dari hasil tes itu ingin dikembangkan bakat-bakat apa saja yang menonjol, Yang aku ingat nasihat dari Pak Noerhadi, sukses seseorang bukan dari kepandaiannya, tapi dari ketekunannya. Aku jadi berpikir kini, di mana ya bisa les untuk menjadi orang yang tekun?  

Wonder Boy

Aku dengan mamiku

Aku mau cerita tentang diriku. Mamiku sering menyebutku “wonder boy”. Mungkin karena aku sering bisa membetulkan peralatan yang rusak, atau sekedar mencarikan ebook yang mamiku butuhkan. Tapi aku punya cerita yang mungkin berbeda dengan anak-anak lain saat kecil pada umumnya. 

Aku dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Kami tidak kekurangan dan juga tidak berlebih. Hidup sehari-hari dengan layak. Bisa makan dengan wajar, setiap malam minggu papiku mengajak kami sekeluarga ke toko buku yang ada di Surabaya. Seringnya ke Sari Agung, juga ke Indira dan Grafiti. Ke toko buku boleh dibilang acara rutin. Aku anak tertua, punya dua adik perempuan. Uniknya, yang paling gila dan suka beli buku adalah aku. Memang, tidak semua buku sudah aku baca. Tapi itu bisa jadi kisah tersendiri yang mungkin akan aku ceritakan lain kali.

Dulu aku dan adik-adikku punya kamar sendiri-sendiri. Kamarku, kata mamiku, ibarat kapal pecah. Lantai penuh dengan barang-barang rongsokan, penuh benda-benda yang aku bongkar dan berserakan di mana-mana. Jalan harus hati-hati mencari celah agar tidak menginjak benda yang ada. Mainan juga tidak awet karena sering jadi eksperimenku, seperti mobil-mobilan aku tabrakkan ke tembok lalu lepas berantakan. Atau pernah model kit pesawat aku bakar, padahal itu plastik. Kini aku bisa dibilang termasuk kidult, suka beli mainan, juga bisa digolongkan sindrom tsundoku, banyak buku yang aku beli belum sempat aku baca.

Aku memang bukan anak yang berprestasi di sekolah. Nilai, untungnya, cukup untuk sekedar naik kelas atau lulus. Apalagi aku bukan anak yang nakal atau kurang ajar di sekolah, tidak mbolosan serta bayar uang sekolah teratur. Biasanya, selama tidak ada masalah itu, akan naik kelas.

Ada suatu masa, yang aku lupa apa penyebabnya, aku mulai mengubah kebiasaanku. Saat itu, aku mulai berpikir, kalau aku bisa membongkar, aku harus bisa mengembalikannya seperti semula. Aku masih ingat, aku lebih terbiasa memutar obeng untuk membuka daripada memasangnya. Tapi perlahan mencoba mengembalikan benda yang aku bongkar itu menjadi kebiasaan. Prinsipku waktu itu, kalau misal barang itu sudah rusak, dan aku bongkar lalu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membetulkannya, maka aku akan kembalikan lagi tanpa memperparah kerusakan yang ada.

Saat SMP, di sekolah ada pelajaran elektronika. Aku bukan siswa yang gampang mengerti dan hafal dengan warna-warna resistor. Gurunya namanya Pak Aziz. Pelajarannya cukup menyenangkan, mulai membuat adaptor, lampu flip flop, sirene hingga radio. Aku pikir, bisa elektro itu bekal yang bagus.

Ketika lulus SMA, di tahun 1983, komputer mulai marak meski harganya masih mahal. Kalau mau lebih murah, mesti beli komputer jangkrik atau rakitan. Ini membuat aku cukup bisa merakit sendiri sebuah PC dan juga menginstal software, yang tentu saja, bajakan. Baik program maupun game yang waktu itu masih dalam bentuk disket.

Jika mengacu pada apa yang pernah dikatakan Steve Jobs saat pidato di Stanford, dalam hidup manusia ini ada titik-titik yang kemudian terhubung sehingga menjadi seperti apa diri kita saat ini. Istilahnya, connecting the dots.  "You can't connect the dots looking forward, you can only connect them looking backwards.". Aku pikir, satu keuntungan buatku adalah, aku tidak pernah ditegur orang tuaku saat membongkar mainan atau barang-barang yang ada di kamarku. Yang tidak boleh justru memasang poster gambar perempuan sexy dari majalah Aktuil. Sempat dulu papiku lihat di kamarku tertempel banyak poster itu, lalu dicopot dan dirobek, hehehe. 

Kalau aku renungkan, mungkin yang membuat aku seperti sekarang ini, pertama adalah rasa ingin tahuku yang sangat besar. Aku suka membaca, menulis dan menonton film terutama sains fiksi. Kalau olah raga justru tidak. Waktu SMP aku sudah sering nonton sendiri ke gedung bioskop yang cukup banyak di dekat rumahku. Ada Surabaya teater, Jaya, Bima, Kusuma, lebih jauh dikit ada Arjuna, Mitra, Presiden. Tiketnya seingatku lima ratus rupiah dan kalau pakai kartu pelajar bisa separuh harga. Selain itu juga sering naik sepeda ke jalan semarang, tempat banyak orang jual buku bekas di sana. 

Kedua, aku tidak pernah merasa takut salah. Mungkin ini karena aku cuek, masa bodo, tapi apa yang aku lakukan, kalau hasilnya tidak baik, aku terima saja dan tidak aku sesali. Sikapku ini kemudian diperkuat oleh salah seorang dosenku saat aku kuliah doktoral (namun aku tidak lulus), menurut beliau, tidak ada keputusan yang benar atau salah, yang ada ialah konsekuensi. Kalau siap menghadapi apapun konsekuensinya, maka untuk apa takut. Nothing to lose. Tidak takut salah ini membuat aku berani berinisiatif. Bahkan kalau aku sudah punya mau, maka biasanya aku segera lakukan. 

Yang ketiga, aku belajar dari seorang yang dulu bagiku, dia adalah orang sukses. Beliau bilang bahwa punya prinsip: “Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.” Ini kemudian aku pegang juga. Aku sering latihan dengan cara membuka tali rafia yang sudah diikat mati. Harus bisa, kataku dalam hati. Memang sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Biasanya aku tambahi juga dengan kata-kata afirmasi, kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak. Memang, dalam hidupku, aku tidak selamanya berhasil. Orang pasti bertanya, kenapa menyerah? Mungkin juga aku mencari pembenaran dari sebuah kutipan, “Orang bijak tahu kapan harus berhenti.” 🙂 

Ini ceritaku hari ini. Aku memang orang yang suka belajar dan mengeksplor hal-hal baru. Internet membuat aku begitu senang. Buku-buku juga. Aku bisa betah berlama-lama di toko buku. Saat ini, aku merasa bisa belajar banyak hal lewat internet seperti youtube, melalui channel seperti TedX, video podcast para pakar dan lain sebagainya. Mungkin dua puluh tahun lalu, informasi di internet yang remeh temeh dalam bahasa Indonesia masih sangat jarang. Kini, mau cari apa saja bisa dapat dengan mudah. Yang penting tahu menggunakan kata kunci untuk mencarinya serta bisa menyeleksi dengan baik. Misalnya beberapa waktu lalu aku mencari cara membetulkan rice cooker dan dapat di youtube.

Aku jelas bukan pribadi yang sempurna. Tapi aku senang menjadi wonder boy bagi mamiku. Anak akan selalu tetap anak di mata ibunya… 

Love you, Mom.

Menulis

Mesin ketik kenangan

Salah satu ketrampilan yang aku punya adalah menulis. Tapi menulis di sini bukan berarti membuat tulisan dengan pena. Tulisan tanganku termasuk jelek. Yang ingin aku ceritakan di sini adalah kenapa aku suka dan bisa membuat tulisan, seperti prosa, esai, opini, feature, artikel. 

Kalau mengenang masa lalu, kebiasaan menulis ini tidak lepas dari gemblengan dari papiku, Basuki Soejatmiko, yang juga seorang wartawan dan redaktur di majalah Liberty. Aku tidak ingat betul, tulisanku pertama itu yang mana. Namun sepertinya saat itu aku punya buku cerita tipis dalam bahasa Inggris yang kemudian aku coba terjemahkan. Ceritanya tentang hewan berang-berang di sungai. Papiku kemudian memuatnya di majalah Liberty. Kemudian ada juga cerita cowboy, aku sudah lupa judulnya apa, yang juga aku terjemahkan. Karena dimuat di majalah, aku diberi honor. Lupa berapa honor waktu itu. Saat itu aku masih SMP, jadi sekitar tahun 1978.

Dapat uang honor rasanya senang sekali. Aku bisa menonton bioskop sendiri dengan uang yang aku dapatkan. Beli buku yang aku suka. Saat itu aku kelas 2 SMP. Menulis lantas jadi kebiasaanku. Sekitar tahun 1979, aku kemudian mulai tertarik dengan UFO. Saat itu juga mulai banyak buku-buku UFO diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit dari Bandung. Aku suka membelinya, membaca dan kemudian membuat tulisan. Artikel-artikel tentang misteri UFO ini kemudian dimuat juga oleh papiku di majalah Liberty. Aku mengumpulkan klipingnya dan masih ada sampai sekarang.

Peran papiku sangat besar dalam mengarahkan aku untuk aktif menulis. Aku pernah bertanya kepada papiku, apakah kalau tulisanku dimuat di majalah Liberty itu bukan namanya nepotisme? Papiku menjawab, “Tidak. Kalau kamu tidak bisa menulis, atau jika tulisanmu tidak bagus, namun papi paksakan untuk dimuat, itu baru namanya nepotisme.” Itu cara papiku memberi semangat dan tetap mendorong aku untuk menulis. Mungkin kalau jaman sekarang, ini namanya privilege…

Setelah kuliah di psikologi di tahun 1983, aku mulai menulis tentang psikologi. Apa yang aku baca, biasanya kemudian aku buat jadi sebuah tulisan. Dimuat di majalah, dapat honor, trus beli buku. Begitu terus berputar. Honor dari menulis ini juga bisa membuat aku kemudian membiayai kuliahku sendiri. Seingatku, saat itu honor sekali menulis adalah dua puluh lima ribu rupiah. Sebulan aku bisa dapat sekitar seratus ribu, kadang lebih. Lumayan untuk waktu itu, di tahun 80an.

Aku memang tidak terlalu bisa membuat cerpen. Pernah satu dua kali menulis cerpen dan cerber. Dulu juga pernah berangan-angan membuat novel berkisahkan tentang pembangunan Borobudur. Namun kelemahanku, aku sering terlena dalam melakukan riset, mencari data dan informasi, sehingga akhirnya penulisan ceritanya tidak terwujud. Aku lebih sering menulis artikel ketimbang cerita fiksi.

Papiku meninggal dunia tanggal 17 Juni 1990 karena sakit. Sebelum itu, sekitar lima tahun, ayahku bergabung di Jawa Pos. Saat Jawa Pos mengakuisisi Liberty, ayahku ditugaskan di sana. Aku kemudian banyak juga menulis di rubrik opini Jawa Pos dan artikel tentang psikologi di Liberty. Setelah kepergian ayahku, aku sempat bergabung kerja di group Jawa Pos, yaitu di Harian Bisnis Suara Indonesia yang berkantor di Jl. Karah Agung.  

Papiku, Basuki Soejatmiko

Aku memang tidak lama bekerja sebagai wartawan di sana, lalu menawarkan untuk menulis beberapa rubrik seperti manajemen dan inspirasi bisnis. Saat itu aku sudah sambil membuka usaha sendiri, yakni sebuah biro psikologi yang bernama Bina Grahita Mandiri. Awalnya aku dapat gaji bulanan, namun aku kemudian menawarkan untuk barter dengan iklan saja. Itu cara bootstrapping-ku untuk mengembangkan bisnis. Ini juga berkat ilmu yang aku pelajari di program MBA Universitas Dr. Soetomo, aku lumayan paham tentang manajemen dan bisnis. 

Setelah itu, aku memang jarang sekali menulis lagi di media massa. Memang benar, peran ayahku besar dan kepergiannya seakan menurunkan motivasi untuk menulis. Tujuh tahun kemudian, di tahun 1997, saat aku mulai masuk dunia internet, semangat menulis ini muncul kembali. Aku mulai membuat tulisan-tulisan lagi, kini kebanyakan tentang UFO dan tidak lagi mengejar mencari honor. Menulis nampaknya sudah menjadi bagian dari kebutuhanku untuk aktualisasi diri…

Miss You Dad… 

Nyolong umur

Aku saat masih di TK kelas nol kecil.

Pertama kali aku sekolah, di Taman Kanak-Kanak, aku dimasukkan oleh papiku ke TK nol kecil saat usia 4 tahun. Entah kenapa aku disekolahkan sejak umur itu. Mestinya, saat itu aku belum cukup umur. Lalu kemudian, entah bagaimana ceritanya, aku didaftarkan dengan usia beda lebih tua satu tahun. Yang semestinya lahir di tahun 1966, ditulis 1965. 

Setelah selesai TK nol kecil, ternyata aku tidak diikutkan di kelas nol besar, melainkan langsung dimasukkan ke Sekolah Dasar. Dengan demikian, aku kelas 1 SD di usia 5 tahun. Padahal, teman-teman sekelasku umumnya usianya dua tahun di atasku, yaitu 7 tahun. Mereka kelahiran 1964 bershio naga, sementara aku bershio kuda.

Apa yang aku alami ini, istilahnya disebut dengan nyolong umur. Saat itu ya aku tidak tahu apa-apa. Namanya juga masih anak kecil, disekolahkan ya nurut aja. Asyik-asyik aja ke sekolah, belajar dan bertemu dengan teman-teman yang lain.

Nah, di ijazahku, mulai SD sampai lulus kuliah, akhirnya selalu dengan tahun kelahiran 1965 itu. Buat aku setelah lulus memang tidak terasa menjadi masalah. Aku pernah bekerja di dua perusahaan, yang pertama perusahaan cold storage udang, kedua adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual beli rumah. Keduanya tidak mempermasalahkan ijazahku. Padahal, sejak aku punya KTP, dengan akta kelahiran yang ada, maka data tahun kelahiranku yang dicantumkan adalah yang sebenarnya.

Kemudian sejak tahun 1990, aku buka usaha sendiri, dan tidak pernah memikirkan bahwa ijazah itu adalah hal yang penting. Hal ini berlangsung lama, lebih dari 20 tahun, baru terasa ada hal yang perlu dibenahi. 

Tahun 2011 aku bergabung di Universitas Ciputra. Sebagai dosen, selain mengajar, tugas yang harus dilakukan adalah penelitian. Biasanya ada hibah untuk melakukan riset ini. Namun untuk itu, diperlukan adanya NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). Nah di sini yang kemudian menjadi masalah, sebab data antara KTP dengan Ijazah berbeda.

Untuk menyelesaikan masalah ini, ternyata harus mengurus ke pengadilan. Singkat cerita, akhirnya dikeluarkanlah keputusan dari pengadilan bahwa aku yang ber-KTP ini dengan Ijazah itu, adalah orang yang sama. Prosesnya juga tidak berbelit-belit. Aku disuruh menghadirkan dua orang saksi yang bukan keluarga untuk membuktikan tentang hal itu.

Mengenai perbedaan data kelahiran ini, dari awal aku sudah memberitahu pihak universitas saat wawancara masuk kerja. Mungkin juga waktu itu dianggap tidak begitu penting karena tugasku adalah membangun departemen distance learning untuk memberikan pengajaran entrepreneurship bagi Pekerja Migran Indonesia yang ada di luar negeri, khususnya di Hong Kong. Saat itu memang tidak perlu mengurus NIDN. 

Nyolong umur ini memang punya pengaruh dalam kehidupanku. Saat di sekolah, usiaku selalu dua tahun lebih muda dari teman-teman sekelasku. Tapi pengaruhnya, untungnya tidak sampai menghambat diriku. Aku juga tidak mempermasalahkan kenapa dulu dicolongkan umur. Mungkin papiku ingin aku cepat sekolah, cepat selesai sekolahnya. 

Teleskop


Aku ingin bercerita tentang teleskop. Saat itu aku kelas 2 SMP. Aku bersekolah di SMPK Angelus Custos, di Jl. Niaga Dalam 5. Ini adalah masa di mana tahun pelajaran berlangsung selama satu setengah tahun. Saat itu tahun 1978, jadi aku di kelas dua sampai pertengahan tahun 1979. 

Entah apa sebabnya, aku sendiri tidak tahu pasti, aku kemudian suka dengan yang namanya bintang-bintang di langit. Mungkin juga dipengaruhi oleh film proyektor yang dimiliki papiku saat dulu dan yang sering diputar adalah film dokumenter pendaratan Apollo XI di bulan. Bisa juga dari bacaan waktu itu, ada majalah Bobo dan Hai, yang berisi cerita bergambar bernuansa fiksi ilmiah. Aku tidak ingat, apakah waktu itu sudah ada film Star Trek atau belum. Namun aku suka sekali memandang langit, melihat bintang-bintang. Naik ke ataP. Waktu itu atap rumahku adalah seng, berbaring di sana berjam-jam dan menikmati begitu indahnya langit di malam hari. Sering ditemani oleh Om Johnny atau Om Leo juga.

Hingga suatu saat, ketika aku mau ulang tahun, aku ditanya ingin hadiah apa? Aku spontan menjawab: “Teleskop!” Kedua orang tuaku ingin menyenangkan anaknya. Berusaha mencari-cari toko yang menjual teleskop. Saat ulang tahun, aku sangat gembira mendapatkan teleskop. Hadiah yang istimewa buatku. Dengan teleskop, aku bisa melihat kawah di bulan, melihat planet Jupiter dengan empat satelitnya serta mengamati cincin planet Saturnus. Memang pembesarannya tidak istimewa, masih hanya 60x, tapi sudah cukup untuk bisa melihat itu semua. 

Teleskopku memang sudah tidak ada saat ini. Setelah dewasa, aku kemudian memiliki teleskop yang lain. Namun teleskop masa remajaku ini membuatku makin cinta dengan dunia astronomi. Sayang, memang aku tidak melanjutkan kuliah di astronomi, bahkan saat ikut Proyek Perintis waktu itu, aku justru memilih jurusan Meteorologi dan Geofisika. Hasilnya tidak diterima. Ya, memang aku tidak bagus dalam pelajaran matematika dan fisika. Aku akhirnya masuk kuliah Psikologi. 

Kalau aku kilas balik ke masa kecilku sebelumnya, sepertinya aku sudah suka dengan yang berbau ruang angkasa. Saat itu saudara sepupuku, Dédé Oetomo, kalau aku tidak salah ingat, memperkenalkan aku pada buku “History of Rocketry & Space Travel”. Aku suka sekali buku ini. Bahkan di tahun 70an, mungkin tahun 1973, saat masih SD, persisnya aku tidak ingat, saat ke Toko Buku Sari Agung, aku pertama kalinya diperbolehkan memilih buku sendiri oleh mamiku. Buku yang aku pilih berjudul “Jet dan Roket dan Bagaimana Kerjanya”. Barangkali aku lebih tertarik dengan teknologi luar angkasa, ketimbang mempelajari secara khusus tentang astronomi. Tepatnya, kalau saat ini disebut hanya sebagai astronomi amatir saja.

Dengan teleskop juga, aku bisa melihat bintik matahari. Caranya tidak melihat secara langsung, nemun menggunakan kertas untuk membiaskan sinar lewat teleskop. Aku kemudian juga mendapatkan buku tentang bagaimana melihat planet dan bintang-bintang. Sepertinya buku ini masih ada di perpustakaanku saat ini. Dari buku ini aku mengetahui bahwa selain teleskop, peralatan yang dibutuhkan adalah binocular. Khusus untuk pengamatan astronomi, menurut buku tersebut, yang cocok adalah dengan spesifikasi 7x50. Pembesaran 7 kali dengan lensa 50 mm. Aku minta binocular ini sebagai hadiah di ulang tahunku yang berikutnya. Aku kemudian tahu bahwa orangtuaku membelikan teleskop dan binocular ini di toko di daerah Tanjung Anom dekat Tunjungan.

Aku suka mengamati langit, membaca tentang luar angkasa, dan untuk selanjutnya di tahun 1979, aku mulai menyukai soal UFO. Ini menjadi hobbyku selain menonton.

Aku memang tidak berhasil menjadi seorang astronom secara akademik. Idolaku adalah Carl Sagan. Aku suka membaca majalah Mekatronika yang terbit di waktu itu. Kemudian ada juga majalah yang namanya Aku Tahu. Majalah-majalah sains yang menurutku luar biasa di masa remajaku. Juga Scientiae. Sayang sekali, majalah-majalah sains ini kini tidak ada lagi. Anak muda saat ini mungkin tidak begitu banyak yang suka. Tapi barangkali juga masalah pasar. Majalah ini sulit laku saat ini. Apalagi informasi bisa didapat mudah dari internet sekarang.

Aku rindu dengan teleskop. Di Surabaya, dengan kondisi langit saat ini yang penuh dengan polusi cahaya, sudah tidak memungkinkan lagi melakukan star gazing (menatap bintang). Rumahku sendiri saat ini juga sulit untuk bisa naik ke atas atap. Beberapa hari ini, aku ditanya oleh salah satu anakku, Vito, tentang teleskop. Rupanya ia cukup tertarik dengan astronomi. Dia sempat tanya, kalau belajar astronomi itu apa hanya di Bandung? Aku jawab, “Di Sulawesi sepertinya juga ada.  Tapi papa belum pasti. Namun kalau mau masuk astronomi, matematika dan fisika mesti kuat.” Trus dia Tanya, “Apa itu fisika?” Lalu aku cerita soal energi, gelombang dan gerak. Dia Cuma manggut-manggut sambil menggumam, ooo… “Nanti, kalau Vito sudah SMP dan SMA, pasti akan belajar soal itu. Dulu di SMP, papa ada pelajaran yang namanya Ilmu Falak. Juga ada buku pelajaran yang namanya Bumi dan Antariksa. Entah sekarang masih ada atau tidak pelajaran itu. Kalau tidak, bisa belajar sendiri lewat internet dan buku-buku yang ada di perpustakaan.”

Kini, sambil istirahat rebahan, membayangkan serasa berada di bintang-bintang. Katanya, orang-orang yang suka melamunkan ini adalah Starseed. Bagiku itu tidak penting. Menjadi manusia saat ini saja sudah merupakan misteri. Aku lantas ingat yang pernah dikatan Carl Sagan,  “We are made of star-stuff. We are a way for the universe to know itself.”


Popular Posts