17 Feb 2023

Les

Aku dan papiku

Saat aku kecil, waktu itu masih sekolah dasar, aku pernah dileskan oleh kedua orangtuaku. Uniknya, aku dileskan bukan pada mata pelajaran di sekolah. Awalnya aku ingat pernah dulu les menggambar, yudo dan piano. Waktu aku mau mulai menulis ini, aku tiba-tiba ingat bahwa aku juga pernah ikut les bahas belanda. Yang mengajar adalah guru SDku kelas 1 di SDK Aloysius. Nama beliau adalah Bu Lily (Alm), seorang keturunan Indo Belanda. Waktu itu tinggal di sebelah Gereja Kelsapa, jl. Kepanjen Surabaya, yang kini telah dibangun menjadi Balai Paroki. 

Aku jadi terkenang waktu les bahasa Belanda ini. Aku tak pernah mahir dalam soal bahasa. Ingatnya saat ini hanya een, twee, drie, vier… hehehe. Aku lupa berapa kali dalam seminggu, mungkin dua kali. Saat itu ada juga beberapa teman-temanku yang ikut les bahasa Belanda.  Tak ingat jumlahnya berapa. Entah kenapa aku dileskan bahasa Belanda, mungkin karena bahasa ini menjadi bahasa yang dipakai oleh mamiku dan makku (nenek). Mereka kalau di rumah sering berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Tapi seperti aku bilang tadi, otakku sepertinya tidak berbakat dalam hal bahasa. Kalau aku ikut tes singkat, sepertinya aku dominan otak kanan. Konon untuk fungsi berbahasa ini yang berperan adalah otak kiri.

Entah tahun berapa waktu itu. Aku kelas 1 SD pada tahun 1971. Mungkin aku les sekitar tahun itu atau setelahnya. Bisa jadi tahun 1972. Sepertinya di tahun 1972 itu aku cukup sibuk dengan berbagai les. Salah satunya yang aku ingin ceritakan lebih detil adalah les menggambar.

Aku les menggambar di sebuah gang di jalan Jagalan. Persisnya sudah lupa. Yang aku ingat, di jalan jagalan ada gang masuk ke kiri dan kalau tidak salah masuk dua belokan lagi di dalamnya. Guru les gambar, aku memanggilnya dengan nama Om Rukang. Entah benar atau tidak. Nama itu adalah nama Tionghoa, Mungkin Ru Kang. Aku tidak ingat berapa usianya waktu itu. Aku tak pandai mengira-ngira usia orang. Mungkin 30an atau 40an. 

Dari les gambar ini, memang aku akhirnya bisa menggambar. Apakah aku hobby menggambar? Entahlah. Entah kenapa juga dulu aku dileskan menggambar. Mungkin mami dan papiku ingin anaknya mengembangkan bakat lukis. Kalau adik-adikku, mereka dileskan balet. Aku ingat saat diajarkan bagaimana menggambar orang, mulai dari bulat telur untuk kepala, posisi mata, alis, telinga, hidung dan mulut. Lalu juga postur tubuh, ukuran kepala, dibuat 7,5 kali untuk laki-laki. Maksudnya, ukuran kepala dianggap satu ukuran, maka ukuran keduanya adalah putting susu, kemudian pusar, lalu keempat adalah daerah pangkal paha. Berikutnya setengah, baru satu lagi adalah dengkul. Kemudian untuk betis hingga telapak kaki ada dua ukuran. Kalau untuk perempuan agak beda, kalau tidak salah, tidak pakai setengah. Ini aku tidak ingat persis.

Apakah aku berbakat menggambar? Sekali lagi aku tidak bisa menjawab pasti. Namun aku suka melukis, membuat gambar. Kini juga dipermudah dengan berbagai software dan aplikasi. Dulu waktu les berawal dengan menggambar sketsa, kemudian dengan pensil, lalu menggunakan cat air. Pernah juga sekali belajar menggunakan kanvas dan cat minyak. Aku tidak tahu berapa biaya orang tuaku meleskan aku ke Om Rukang. Namun memang aku tidak menjadi pelukis handal, cukup sekedar hanya bisa menggambar saja saat ini. Aku juga tak ingat berapa lama aku les gambar.  

Selain les gambar, aku juga dileskan bela diri Yudo. Aku ingat betul, aku tidak suka les ini, bahkan pernah bilang ke mamiku, kalau bisa aku tidak ikut lagi les Yudo. Aku ada beberapa fotoku saat les Yudo, sepertinya waktu itu sedang acara kenaikan tingkat. Aku tidak lama ikut les Yudo ini. Sabukku mungkin cuma sampai oranye saja.  Aku dulu les di tempatnya Om Pantouw di jalan Bawean, Surabaya. Salah satu fotoku saat Yudo ini tertulis tahun 1972, berarti waktu itu aku masih kelas 2 SD. Saat ini, di album folder yang ada di lemariku, ada ijazah dari Persatuan Yudo Surabaya, bertanggalkan 1 Oktober 1973. Rasanya tidak lama aku les Yudo. Papiku sendiri dulu cukup aktif di Karate Kyokushinkai. Mungkin papiku ingin anak lakinya juga bisa bela diri. Namun, aku merasa bukan orang yang tipe kinestetik. Aku sangat buruk dan malas dalam berolah raga. 


Les berikutnya yang ingin aku ceritakan adalah les piano. Ini aku dan adik-adikku dileskan piano. Tapi rupanya tidak ada yang jadi pianis semua. Kata mamiku, dulu waktu mudanya, mamiku ingin sekali bisa piano. Jadi anak-anaknya dileskan. Belajar piano memang susah-susah gampang. Secara dasar-dasarnya masih ingat sampai sekarang. Saat itu aku dan adik-adikku dileskan ke seseorang yang kami memanggilnya dengan Tante Elly. Rumahnya saat itu di Jl. Perak Barat. Tante Elly adalah istri dari Om Willem (atau William), teman papiku. Aku les piano ini sepertinya sudah agak besar, mungkin sudah kelas 6 atau mungkin juga SMP. Aku tidak ingat pastinya. Setelah les di Tante Elly, pernah juga orangtuaku memanggil guru les piano ke rumah. Kemudian saat SMA, aku pernah ikut les organ (electone) di Yayasan Musik Victor Indonesia. Ada sebuah ijazah yang dikeluarkan YMVI tanggal 14 Maret 1982. Ini berarti saat itu aku kelas 2 SMA. Ditanda tangani direkturnya, Om Bubi Chen.

Tante Elly (kanan)

Aku tidak begitu berbakat dalam seni musik. Pernah belajar gitar dan tidak pernah bisa. Boleh dibilang, semua les yang aku ikuti hasilnya tidak maksimal. Aku pikir, ini karena aku bukan orang yang tekun. Bisa juga karena aku mudah bosan. Atau memang, bidang-bidang ini bukan yang aku minati secara sungguh-sungguh. Walau demikian, aku senang pernah ikut les aneka ragam itu. Saat kuliah, seingatku aku juga pernah ikut lagi ikut latihan beladiri Karate Perguruan Kala Hitam. Latihannya waktu itu di jl. Dinoyo. 

Satu-satunya yang masih sering aku lakukan saat ini adalah menggambar dan melukis. Memang tidak menjadi profesi utama. Apakah bisa disebut hobby, sepertinya juga tidak. Hampir sama seperti menulis, aku akan lakukan ketika aku ingin. Kalau yang bisa disebut hobby, sepertinya adalah menonton film. Oh ya, mungkin juga ada satu les lagi yang baru saja teringat. Mungkin aku dulu pernah les berenang juga. Entah siapa yang mengajar, apakah memang les khusus atau diajarkan oleh orang tuaku. Bisa berenang ini menurutku bagus dan perlu. Dulu kami sekeluarga sering berenang di pemandian yang namanya Porakta. Ini berada di wilayah Akademi Angkatan Laut (AAL) Bumimoro. Sekarang namanya Kolam Renang Jala Krida Tirta.

Ini yang sementara kuingat tentang les yang aku ikuti semasa kecilku dulu. Namanya juga anak jaman dulu, dileskan apa saja ya mesti nurut. Kalau dipikir-pikir, memang apa yang disediakan papi mamiku saat itu merupakan kesempatan yang istimewa. Pernah juga waktu kecil aku diikutkan psikotes ke psikolog, namanya Pak Noerhadi (Alm). Beliau dari Angkatan Laut. Mungkin dari hasil tes itu ingin dikembangkan bakat-bakat apa saja yang menonjol, Yang aku ingat nasihat dari Pak Noerhadi, sukses seseorang bukan dari kepandaiannya, tapi dari ketekunannya. Aku jadi berpikir kini, di mana ya bisa les untuk menjadi orang yang tekun?  

Wonder Boy

Aku dengan mamiku

Aku mau cerita tentang diriku. Mamiku sering menyebutku “wonder boy”. Mungkin karena aku sering bisa membetulkan peralatan yang rusak, atau sekedar mencarikan ebook yang mamiku butuhkan. Tapi aku punya cerita yang mungkin berbeda dengan anak-anak lain saat kecil pada umumnya. 

Aku dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Kami tidak kekurangan dan juga tidak berlebih. Hidup sehari-hari dengan layak. Bisa makan dengan wajar, setiap malam minggu papiku mengajak kami sekeluarga ke toko buku yang ada di Surabaya. Seringnya ke Sari Agung, juga ke Indira dan Grafiti. Ke toko buku boleh dibilang acara rutin. Aku anak tertua, punya dua adik perempuan. Uniknya, yang paling gila dan suka beli buku adalah aku. Memang, tidak semua buku sudah aku baca. Tapi itu bisa jadi kisah tersendiri yang mungkin akan aku ceritakan lain kali.

Dulu aku dan adik-adikku punya kamar sendiri-sendiri. Kamarku, kata mamiku, ibarat kapal pecah. Lantai penuh dengan barang-barang rongsokan, penuh benda-benda yang aku bongkar dan berserakan di mana-mana. Jalan harus hati-hati mencari celah agar tidak menginjak benda yang ada. Mainan juga tidak awet karena sering jadi eksperimenku, seperti mobil-mobilan aku tabrakkan ke tembok lalu lepas berantakan. Atau pernah model kit pesawat aku bakar, padahal itu plastik. Kini aku bisa dibilang termasuk kidult, suka beli mainan, juga bisa digolongkan sindrom tsundoku, banyak buku yang aku beli belum sempat aku baca.

Aku memang bukan anak yang berprestasi di sekolah. Nilai, untungnya, cukup untuk sekedar naik kelas atau lulus. Apalagi aku bukan anak yang nakal atau kurang ajar di sekolah, tidak mbolosan serta bayar uang sekolah teratur. Biasanya, selama tidak ada masalah itu, akan naik kelas.

Ada suatu masa, yang aku lupa apa penyebabnya, aku mulai mengubah kebiasaanku. Saat itu, aku mulai berpikir, kalau aku bisa membongkar, aku harus bisa mengembalikannya seperti semula. Aku masih ingat, aku lebih terbiasa memutar obeng untuk membuka daripada memasangnya. Tapi perlahan mencoba mengembalikan benda yang aku bongkar itu menjadi kebiasaan. Prinsipku waktu itu, kalau misal barang itu sudah rusak, dan aku bongkar lalu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membetulkannya, maka aku akan kembalikan lagi tanpa memperparah kerusakan yang ada.

Saat SMP, di sekolah ada pelajaran elektronika. Aku bukan siswa yang gampang mengerti dan hafal dengan warna-warna resistor. Gurunya namanya Pak Aziz. Pelajarannya cukup menyenangkan, mulai membuat adaptor, lampu flip flop, sirene hingga radio. Aku pikir, bisa elektro itu bekal yang bagus.

Ketika lulus SMA, di tahun 1983, komputer mulai marak meski harganya masih mahal. Kalau mau lebih murah, mesti beli komputer jangkrik atau rakitan. Ini membuat aku cukup bisa merakit sendiri sebuah PC dan juga menginstal software, yang tentu saja, bajakan. Baik program maupun game yang waktu itu masih dalam bentuk disket.

Jika mengacu pada apa yang pernah dikatakan Steve Jobs saat pidato di Stanford, dalam hidup manusia ini ada titik-titik yang kemudian terhubung sehingga menjadi seperti apa diri kita saat ini. Istilahnya, connecting the dots.  "You can't connect the dots looking forward, you can only connect them looking backwards.". Aku pikir, satu keuntungan buatku adalah, aku tidak pernah ditegur orang tuaku saat membongkar mainan atau barang-barang yang ada di kamarku. Yang tidak boleh justru memasang poster gambar perempuan sexy dari majalah Aktuil. Sempat dulu papiku lihat di kamarku tertempel banyak poster itu, lalu dicopot dan dirobek, hehehe. 

Kalau aku renungkan, mungkin yang membuat aku seperti sekarang ini, pertama adalah rasa ingin tahuku yang sangat besar. Aku suka membaca, menulis dan menonton film terutama sains fiksi. Kalau olah raga justru tidak. Waktu SMP aku sudah sering nonton sendiri ke gedung bioskop yang cukup banyak di dekat rumahku. Ada Surabaya teater, Jaya, Bima, Kusuma, lebih jauh dikit ada Arjuna, Mitra, Presiden. Tiketnya seingatku lima ratus rupiah dan kalau pakai kartu pelajar bisa separuh harga. Selain itu juga sering naik sepeda ke jalan semarang, tempat banyak orang jual buku bekas di sana. 

Kedua, aku tidak pernah merasa takut salah. Mungkin ini karena aku cuek, masa bodo, tapi apa yang aku lakukan, kalau hasilnya tidak baik, aku terima saja dan tidak aku sesali. Sikapku ini kemudian diperkuat oleh salah seorang dosenku saat aku kuliah doktoral (namun aku tidak lulus), menurut beliau, tidak ada keputusan yang benar atau salah, yang ada ialah konsekuensi. Kalau siap menghadapi apapun konsekuensinya, maka untuk apa takut. Nothing to lose. Tidak takut salah ini membuat aku berani berinisiatif. Bahkan kalau aku sudah punya mau, maka biasanya aku segera lakukan. 

Yang ketiga, aku belajar dari seorang yang dulu bagiku, dia adalah orang sukses. Beliau bilang bahwa punya prinsip: “Memang sulit, tapi bukan berarti tidak bisa.” Ini kemudian aku pegang juga. Aku sering latihan dengan cara membuka tali rafia yang sudah diikat mati. Harus bisa, kataku dalam hati. Memang sulit tapi bukan berarti tidak bisa. Biasanya aku tambahi juga dengan kata-kata afirmasi, kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak. Memang, dalam hidupku, aku tidak selamanya berhasil. Orang pasti bertanya, kenapa menyerah? Mungkin juga aku mencari pembenaran dari sebuah kutipan, “Orang bijak tahu kapan harus berhenti.” 🙂 

Ini ceritaku hari ini. Aku memang orang yang suka belajar dan mengeksplor hal-hal baru. Internet membuat aku begitu senang. Buku-buku juga. Aku bisa betah berlama-lama di toko buku. Saat ini, aku merasa bisa belajar banyak hal lewat internet seperti youtube, melalui channel seperti TedX, video podcast para pakar dan lain sebagainya. Mungkin dua puluh tahun lalu, informasi di internet yang remeh temeh dalam bahasa Indonesia masih sangat jarang. Kini, mau cari apa saja bisa dapat dengan mudah. Yang penting tahu menggunakan kata kunci untuk mencarinya serta bisa menyeleksi dengan baik. Misalnya beberapa waktu lalu aku mencari cara membetulkan rice cooker dan dapat di youtube.

Aku jelas bukan pribadi yang sempurna. Tapi aku senang menjadi wonder boy bagi mamiku. Anak akan selalu tetap anak di mata ibunya… 

Love you, Mom.

Menulis

Mesin ketik kenangan

Salah satu ketrampilan yang aku punya adalah menulis. Tapi menulis di sini bukan berarti membuat tulisan dengan pena. Tulisan tanganku termasuk jelek. Yang ingin aku ceritakan di sini adalah kenapa aku suka dan bisa membuat tulisan, seperti prosa, esai, opini, feature, artikel. 

Kalau mengenang masa lalu, kebiasaan menulis ini tidak lepas dari gemblengan dari papiku, Basuki Soejatmiko, yang juga seorang wartawan dan redaktur di majalah Liberty. Aku tidak ingat betul, tulisanku pertama itu yang mana. Namun sepertinya saat itu aku punya buku cerita tipis dalam bahasa Inggris yang kemudian aku coba terjemahkan. Ceritanya tentang hewan berang-berang di sungai. Papiku kemudian memuatnya di majalah Liberty. Kemudian ada juga cerita cowboy, aku sudah lupa judulnya apa, yang juga aku terjemahkan. Karena dimuat di majalah, aku diberi honor. Lupa berapa honor waktu itu. Saat itu aku masih SMP, jadi sekitar tahun 1978.

Dapat uang honor rasanya senang sekali. Aku bisa menonton bioskop sendiri dengan uang yang aku dapatkan. Beli buku yang aku suka. Saat itu aku kelas 2 SMP. Menulis lantas jadi kebiasaanku. Sekitar tahun 1979, aku kemudian mulai tertarik dengan UFO. Saat itu juga mulai banyak buku-buku UFO diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit dari Bandung. Aku suka membelinya, membaca dan kemudian membuat tulisan. Artikel-artikel tentang misteri UFO ini kemudian dimuat juga oleh papiku di majalah Liberty. Aku mengumpulkan klipingnya dan masih ada sampai sekarang.

Peran papiku sangat besar dalam mengarahkan aku untuk aktif menulis. Aku pernah bertanya kepada papiku, apakah kalau tulisanku dimuat di majalah Liberty itu bukan namanya nepotisme? Papiku menjawab, “Tidak. Kalau kamu tidak bisa menulis, atau jika tulisanmu tidak bagus, namun papi paksakan untuk dimuat, itu baru namanya nepotisme.” Itu cara papiku memberi semangat dan tetap mendorong aku untuk menulis. Mungkin kalau jaman sekarang, ini namanya privilege…

Setelah kuliah di psikologi di tahun 1983, aku mulai menulis tentang psikologi. Apa yang aku baca, biasanya kemudian aku buat jadi sebuah tulisan. Dimuat di majalah, dapat honor, trus beli buku. Begitu terus berputar. Honor dari menulis ini juga bisa membuat aku kemudian membiayai kuliahku sendiri. Seingatku, saat itu honor sekali menulis adalah dua puluh lima ribu rupiah. Sebulan aku bisa dapat sekitar seratus ribu, kadang lebih. Lumayan untuk waktu itu, di tahun 80an.

Aku memang tidak terlalu bisa membuat cerpen. Pernah satu dua kali menulis cerpen dan cerber. Dulu juga pernah berangan-angan membuat novel berkisahkan tentang pembangunan Borobudur. Namun kelemahanku, aku sering terlena dalam melakukan riset, mencari data dan informasi, sehingga akhirnya penulisan ceritanya tidak terwujud. Aku lebih sering menulis artikel ketimbang cerita fiksi.

Papiku meninggal dunia tanggal 17 Juni 1990 karena sakit. Sebelum itu, sekitar lima tahun, ayahku bergabung di Jawa Pos. Saat Jawa Pos mengakuisisi Liberty, ayahku ditugaskan di sana. Aku kemudian banyak juga menulis di rubrik opini Jawa Pos dan artikel tentang psikologi di Liberty. Setelah kepergian ayahku, aku sempat bergabung kerja di group Jawa Pos, yaitu di Harian Bisnis Suara Indonesia yang berkantor di Jl. Karah Agung.  

Papiku, Basuki Soejatmiko

Aku memang tidak lama bekerja sebagai wartawan di sana, lalu menawarkan untuk menulis beberapa rubrik seperti manajemen dan inspirasi bisnis. Saat itu aku sudah sambil membuka usaha sendiri, yakni sebuah biro psikologi yang bernama Bina Grahita Mandiri. Awalnya aku dapat gaji bulanan, namun aku kemudian menawarkan untuk barter dengan iklan saja. Itu cara bootstrapping-ku untuk mengembangkan bisnis. Ini juga berkat ilmu yang aku pelajari di program MBA Universitas Dr. Soetomo, aku lumayan paham tentang manajemen dan bisnis. 

Setelah itu, aku memang jarang sekali menulis lagi di media massa. Memang benar, peran ayahku besar dan kepergiannya seakan menurunkan motivasi untuk menulis. Tujuh tahun kemudian, di tahun 1997, saat aku mulai masuk dunia internet, semangat menulis ini muncul kembali. Aku mulai membuat tulisan-tulisan lagi, kini kebanyakan tentang UFO dan tidak lagi mengejar mencari honor. Menulis nampaknya sudah menjadi bagian dari kebutuhanku untuk aktualisasi diri…

Miss You Dad… 

Nyolong umur

Aku saat masih di TK kelas nol kecil.

Pertama kali aku sekolah, di Taman Kanak-Kanak, aku dimasukkan oleh papiku ke TK nol kecil saat usia 4 tahun. Entah kenapa aku disekolahkan sejak umur itu. Mestinya, saat itu aku belum cukup umur. Lalu kemudian, entah bagaimana ceritanya, aku didaftarkan dengan usia beda lebih tua satu tahun. Yang semestinya lahir di tahun 1966, ditulis 1965. 

Setelah selesai TK nol kecil, ternyata aku tidak diikutkan di kelas nol besar, melainkan langsung dimasukkan ke Sekolah Dasar. Dengan demikian, aku kelas 1 SD di usia 5 tahun. Padahal, teman-teman sekelasku umumnya usianya dua tahun di atasku, yaitu 7 tahun. Mereka kelahiran 1964 bershio naga, sementara aku bershio kuda.

Apa yang aku alami ini, istilahnya disebut dengan nyolong umur. Saat itu ya aku tidak tahu apa-apa. Namanya juga masih anak kecil, disekolahkan ya nurut aja. Asyik-asyik aja ke sekolah, belajar dan bertemu dengan teman-teman yang lain.

Nah, di ijazahku, mulai SD sampai lulus kuliah, akhirnya selalu dengan tahun kelahiran 1965 itu. Buat aku setelah lulus memang tidak terasa menjadi masalah. Aku pernah bekerja di dua perusahaan, yang pertama perusahaan cold storage udang, kedua adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jual beli rumah. Keduanya tidak mempermasalahkan ijazahku. Padahal, sejak aku punya KTP, dengan akta kelahiran yang ada, maka data tahun kelahiranku yang dicantumkan adalah yang sebenarnya.

Kemudian sejak tahun 1990, aku buka usaha sendiri, dan tidak pernah memikirkan bahwa ijazah itu adalah hal yang penting. Hal ini berlangsung lama, lebih dari 20 tahun, baru terasa ada hal yang perlu dibenahi. 

Tahun 2011 aku bergabung di Universitas Ciputra. Sebagai dosen, selain mengajar, tugas yang harus dilakukan adalah penelitian. Biasanya ada hibah untuk melakukan riset ini. Namun untuk itu, diperlukan adanya NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional). Nah di sini yang kemudian menjadi masalah, sebab data antara KTP dengan Ijazah berbeda.

Untuk menyelesaikan masalah ini, ternyata harus mengurus ke pengadilan. Singkat cerita, akhirnya dikeluarkanlah keputusan dari pengadilan bahwa aku yang ber-KTP ini dengan Ijazah itu, adalah orang yang sama. Prosesnya juga tidak berbelit-belit. Aku disuruh menghadirkan dua orang saksi yang bukan keluarga untuk membuktikan tentang hal itu.

Mengenai perbedaan data kelahiran ini, dari awal aku sudah memberitahu pihak universitas saat wawancara masuk kerja. Mungkin juga waktu itu dianggap tidak begitu penting karena tugasku adalah membangun departemen distance learning untuk memberikan pengajaran entrepreneurship bagi Pekerja Migran Indonesia yang ada di luar negeri, khususnya di Hong Kong. Saat itu memang tidak perlu mengurus NIDN. 

Nyolong umur ini memang punya pengaruh dalam kehidupanku. Saat di sekolah, usiaku selalu dua tahun lebih muda dari teman-teman sekelasku. Tapi pengaruhnya, untungnya tidak sampai menghambat diriku. Aku juga tidak mempermasalahkan kenapa dulu dicolongkan umur. Mungkin papiku ingin aku cepat sekolah, cepat selesai sekolahnya. 

Teleskop


Aku ingin bercerita tentang teleskop. Saat itu aku kelas 2 SMP. Aku bersekolah di SMPK Angelus Custos, di Jl. Niaga Dalam 5. Ini adalah masa di mana tahun pelajaran berlangsung selama satu setengah tahun. Saat itu tahun 1978, jadi aku di kelas dua sampai pertengahan tahun 1979. 

Entah apa sebabnya, aku sendiri tidak tahu pasti, aku kemudian suka dengan yang namanya bintang-bintang di langit. Mungkin juga dipengaruhi oleh film proyektor yang dimiliki papiku saat dulu dan yang sering diputar adalah film dokumenter pendaratan Apollo XI di bulan. Bisa juga dari bacaan waktu itu, ada majalah Bobo dan Hai, yang berisi cerita bergambar bernuansa fiksi ilmiah. Aku tidak ingat, apakah waktu itu sudah ada film Star Trek atau belum. Namun aku suka sekali memandang langit, melihat bintang-bintang. Naik ke ataP. Waktu itu atap rumahku adalah seng, berbaring di sana berjam-jam dan menikmati begitu indahnya langit di malam hari. Sering ditemani oleh Om Johnny atau Om Leo juga.

Hingga suatu saat, ketika aku mau ulang tahun, aku ditanya ingin hadiah apa? Aku spontan menjawab: “Teleskop!” Kedua orang tuaku ingin menyenangkan anaknya. Berusaha mencari-cari toko yang menjual teleskop. Saat ulang tahun, aku sangat gembira mendapatkan teleskop. Hadiah yang istimewa buatku. Dengan teleskop, aku bisa melihat kawah di bulan, melihat planet Jupiter dengan empat satelitnya serta mengamati cincin planet Saturnus. Memang pembesarannya tidak istimewa, masih hanya 60x, tapi sudah cukup untuk bisa melihat itu semua. 

Teleskopku memang sudah tidak ada saat ini. Setelah dewasa, aku kemudian memiliki teleskop yang lain. Namun teleskop masa remajaku ini membuatku makin cinta dengan dunia astronomi. Sayang, memang aku tidak melanjutkan kuliah di astronomi, bahkan saat ikut Proyek Perintis waktu itu, aku justru memilih jurusan Meteorologi dan Geofisika. Hasilnya tidak diterima. Ya, memang aku tidak bagus dalam pelajaran matematika dan fisika. Aku akhirnya masuk kuliah Psikologi. 

Kalau aku kilas balik ke masa kecilku sebelumnya, sepertinya aku sudah suka dengan yang berbau ruang angkasa. Saat itu saudara sepupuku, Dédé Oetomo, kalau aku tidak salah ingat, memperkenalkan aku pada buku “History of Rocketry & Space Travel”. Aku suka sekali buku ini. Bahkan di tahun 70an, mungkin tahun 1973, saat masih SD, persisnya aku tidak ingat, saat ke Toko Buku Sari Agung, aku pertama kalinya diperbolehkan memilih buku sendiri oleh mamiku. Buku yang aku pilih berjudul “Jet dan Roket dan Bagaimana Kerjanya”. Barangkali aku lebih tertarik dengan teknologi luar angkasa, ketimbang mempelajari secara khusus tentang astronomi. Tepatnya, kalau saat ini disebut hanya sebagai astronomi amatir saja.

Dengan teleskop juga, aku bisa melihat bintik matahari. Caranya tidak melihat secara langsung, nemun menggunakan kertas untuk membiaskan sinar lewat teleskop. Aku kemudian juga mendapatkan buku tentang bagaimana melihat planet dan bintang-bintang. Sepertinya buku ini masih ada di perpustakaanku saat ini. Dari buku ini aku mengetahui bahwa selain teleskop, peralatan yang dibutuhkan adalah binocular. Khusus untuk pengamatan astronomi, menurut buku tersebut, yang cocok adalah dengan spesifikasi 7x50. Pembesaran 7 kali dengan lensa 50 mm. Aku minta binocular ini sebagai hadiah di ulang tahunku yang berikutnya. Aku kemudian tahu bahwa orangtuaku membelikan teleskop dan binocular ini di toko di daerah Tanjung Anom dekat Tunjungan.

Aku suka mengamati langit, membaca tentang luar angkasa, dan untuk selanjutnya di tahun 1979, aku mulai menyukai soal UFO. Ini menjadi hobbyku selain menonton.

Aku memang tidak berhasil menjadi seorang astronom secara akademik. Idolaku adalah Carl Sagan. Aku suka membaca majalah Mekatronika yang terbit di waktu itu. Kemudian ada juga majalah yang namanya Aku Tahu. Majalah-majalah sains yang menurutku luar biasa di masa remajaku. Juga Scientiae. Sayang sekali, majalah-majalah sains ini kini tidak ada lagi. Anak muda saat ini mungkin tidak begitu banyak yang suka. Tapi barangkali juga masalah pasar. Majalah ini sulit laku saat ini. Apalagi informasi bisa didapat mudah dari internet sekarang.

Aku rindu dengan teleskop. Di Surabaya, dengan kondisi langit saat ini yang penuh dengan polusi cahaya, sudah tidak memungkinkan lagi melakukan star gazing (menatap bintang). Rumahku sendiri saat ini juga sulit untuk bisa naik ke atas atap. Beberapa hari ini, aku ditanya oleh salah satu anakku, Vito, tentang teleskop. Rupanya ia cukup tertarik dengan astronomi. Dia sempat tanya, kalau belajar astronomi itu apa hanya di Bandung? Aku jawab, “Di Sulawesi sepertinya juga ada.  Tapi papa belum pasti. Namun kalau mau masuk astronomi, matematika dan fisika mesti kuat.” Trus dia Tanya, “Apa itu fisika?” Lalu aku cerita soal energi, gelombang dan gerak. Dia Cuma manggut-manggut sambil menggumam, ooo… “Nanti, kalau Vito sudah SMP dan SMA, pasti akan belajar soal itu. Dulu di SMP, papa ada pelajaran yang namanya Ilmu Falak. Juga ada buku pelajaran yang namanya Bumi dan Antariksa. Entah sekarang masih ada atau tidak pelajaran itu. Kalau tidak, bisa belajar sendiri lewat internet dan buku-buku yang ada di perpustakaan.”

Kini, sambil istirahat rebahan, membayangkan serasa berada di bintang-bintang. Katanya, orang-orang yang suka melamunkan ini adalah Starseed. Bagiku itu tidak penting. Menjadi manusia saat ini saja sudah merupakan misteri. Aku lantas ingat yang pernah dikatan Carl Sagan,  “We are made of star-stuff. We are a way for the universe to know itself.”


10 Mei 2022

Memori menggambar katak



Nostalgia... Dulu waktu SD, mungkin saat kelas 3, pelajaran menggambar, aku bikin gambar katak mencontoh dari buku pelajaran. Menurutku bagus plus aku warnai (waktu kecil pernah dileskan menggambar sama orangtua) ... Tapi Bu guruku nggak percaya itu gambar buatanku. Trus aku bilang kalau bisa gambar lagi persis dan aku menggambar di depan guruku. Cuma kali ini aku pakai arsiran pensil (hitam putih) karena tidak bawa pensil warna. Hasil akhirnya dikasih nilai 6! Jengkelnya minta ampun, marah karena dianggap bohong dan kok cuma dikasih nilai segitu... Ingatnya sampai sekarang meski nggak dendam.. hiks.. dan terobsesi nyari buku pelajarannya bertahun2. Beberapa kali beli salah buku... Akhirnya hari ini dapat... Begitu besar dampak guru terhadap anak didiknya. Kali ini mau coba bikin gambarnya lagi setelah sekitar 50 tahun berlalu...






Popular Posts