Waktu lulus dari program MBA, saya diajak teman-teman satu kelas di MBA itu untuk bikin usaha (sampai sudah ke notaris untuk bikin akte). Saya mau aja, tapi saya bilang, saya tidak punya uang namun saya yang akan kerja. Jadi, saya punya semacam saham kosong. Tapi teman yang lain tidak setuju, saya tetap harus nyetor duit. Nah, ada teman sekelas saya yang lain (yang tidak ikut dalam join itu), namanya pak Susanto, mau membantu saya dengan meminjamkan uang rp 1 juta kepada saya. Eh, tidak tahu kenapa, tiba-tiba teman-teman saya itu (lupa jumlahnya berapa, mungkin sekitar 6 orang), membatalkan niat kerja sama itu sehingga saya dipanggil lagi untuk datang ke notaris dalam rangka pembubaran badan usaha. Jadi, uangnya yang sudah terlanjur saya pinjam 1 juta itu akhirnya terpakai buat nambah modal untuk usaha sendiri, yaitu yang membuka sebuah biro psikologi. Saya sempat hanya mencicil 100 rb kepada teman saya dan berjanji akan membayar sisanya secara mencicil juga. Jadi, saya masih punya utang rp 900.000,-
Waktu berjalan berlalu, bertahun-tahun, saya tidak berjumpa dengan teman saya. Kurs mata uang sudah berubah. Nilai sejuta saat itu sudah berbeda dengan sekarang. Saya sempat berpikir, saya ingin mengembalikan uang dengan nilai kurs dolar yang disesuaikan. Sampai akhirnya saya bertemu dengan dia lagi saat kuliah S2 (dia malah kuliah S3). Waktu itu sempat menyapa. Pertemuan berikutnya yang tidak sengaja adalah saat di toko buku, dan saya bilang kalau saya masih punya utang kepadanya. Ternyata dia sudah lupa dan saya ingatkan detailnya lagi. Katanya, "ah sudahlah, nggak perlu dipikirin, sudah aku anggap lunas." Jadi lega...hilang beban yang saya bawa selama sepuluh tahun lebih... Saya hanya bisa membalas kebaikan itu dengan berusaha membantu orang lain yang memerlukan. Sebelumnya, waktu kuliah MBA itu juga dibayari oleh teman ayah saya yang nilainya juga sekitar 10 jutaan.
Saya teringat akan petuah paman saya. Saya pernah bertanya, “Bagaimana cara seorang anak membalas orangtuanya?” Beliau menjawab, "Balaslah dengan cara merawat dan mendidik anakmu dengan sebaik-baiknya." Budi baik seseorang hanya bisa dibayar dengan cara memberi kebaikan kepada orang yang lain lagi.
(nur agustinus - 27 Februari 2009)
23 Apr 2009
Perilaku utang
Dulu waktu kuliah S2, sempat soal pinjam meminjam uang ini mau aku jadikan topik penelitian untuk menulis thesis namun tidak jadi.
Di budaya jawa, memang orang kalau sudah meminta pinjam uang dan ditolak, rasa malunya besar sekali dan itu berubah jadi marah. Lah, mau pinjam uang, ditolak, malah marah... lucu bukan... Tapi itulah yang terjadi.
Kita juga sulit menolak dengan alasan tidak ada uang, orang tidak akan percaya.
Di sisi lain, orang yang pinjam uang, kalaupun dia dapat rejeki berlebih, maka prioritas membayar utang adalah yang terakhir.
Sebenarnya ada dua tipe pengutang, pertama yang ingin segera utangnya lunas, ini biasanya jarang utang dan kalau utang biasanya kalau terdesak saja. Kalau dia punya rejeki lebih, maka dia akan segera membayar. Utang akan membuatnya susah tidur.
Tipe yang lain, dia nyaman dengan utang, kalaupun ada rejeki lebih, dia tetap akan membayar sesuai dengan aturan, malah kalau bisa dijadwal ulang, akan diperpanjang. Tak jarang mereka akhirnya gali lubang tutup lubang.
(nur agustinus - 24 Februari 2009)
Di budaya jawa, memang orang kalau sudah meminta pinjam uang dan ditolak, rasa malunya besar sekali dan itu berubah jadi marah. Lah, mau pinjam uang, ditolak, malah marah... lucu bukan... Tapi itulah yang terjadi.
Kita juga sulit menolak dengan alasan tidak ada uang, orang tidak akan percaya.
Di sisi lain, orang yang pinjam uang, kalaupun dia dapat rejeki berlebih, maka prioritas membayar utang adalah yang terakhir.
Sebenarnya ada dua tipe pengutang, pertama yang ingin segera utangnya lunas, ini biasanya jarang utang dan kalau utang biasanya kalau terdesak saja. Kalau dia punya rejeki lebih, maka dia akan segera membayar. Utang akan membuatnya susah tidur.
Tipe yang lain, dia nyaman dengan utang, kalaupun ada rejeki lebih, dia tetap akan membayar sesuai dengan aturan, malah kalau bisa dijadwal ulang, akan diperpanjang. Tak jarang mereka akhirnya gali lubang tutup lubang.
(nur agustinus - 24 Februari 2009)
Apa manfaat psikologi?
Saya teringat ucapan dosen saya waktu saya kuliah dulu. Nama dosen saya adalah pak Ino Yuwono. Beliau mengatakan, psikologi itu adalah ibarat kembangan sebuah ban. Maksud "kembangan ban" itu adalah kalau sebuah ban itu gundul, maka mobil atau kendaraan yang berjalan akan bisa saja jalan, tapi keselamatannya bisa berbahaya. Bukan berarti tanpa "kembangan ban" pasti kecelakaan, namun kalau kita naik mobil yang bannya masih bagus, maka kita bisa lebih selamat.
Di sisi lain, sebenarnya mau tidak mau harus diakui bahwa psikologi banyak memberi manfaat dan membawa dampak yang sangat siginifikan bagi perkembangan budaya dan kualitas hidup manusia. Tentu saja, ibarat koin uang, psikologi bisa punya dua sisi yang berbeda, tergantung mau dipakai buat apa. Misalnya saja, dengan psikologi diketahui bahwa ada dampak tayangan televisi pada seseorang, sehingga itu bisa mengerem tayangan-tayangan yang sangat sadis tidak muncul di tv. Atau, perubahan pola asuh anak, proses belajar, juga karena sumbangan dari psikologi.
Ada banyak rumah tangga yang tidak jadi bercerai, atau mungkin akhirnya bercerai namun secara baik-baik, itu juga bisa karena bantuan dari psikolog. Walau tidak menutup kemungkinan, ada psikolog yang secara tak sengaja (atau mungkin sengaja) membuat kesalahan dalam penanganan sehingga hasilnya menjadi buruk.
Banyak perusahaan yang kemudian melakukan seleksi saat menerima pegawainya dengan bantuan dari psikologi. Walau karena ini pula, ada orang yang kemudian ciut nyalinya kalau mesti mengikuti psikotes. Atau kemudian sering merasa gagal dalam proses seleksi yang satu itu. Namun proses seleksi ini sudah ada sejak jaman bahuela. Kalau pernah baca di kitabnya orang kristen yang disebut bibel itu, di kitab Hakim-Hakim 4, saat itu Gideon jadi pemimpin bangsa Israel yang mau menggempur bangsa Midian dan Amalek, ada cerita bahwa Gideon menyaring tentaranya untuk dipilih mana yang bakal maju ke medan perang dan mana yang tidak. Caranya agak aneh dan tidak pernah dipakai dalam ilmu psikologi maupun strategi militer Sun Tzu, yakni Gideon menyuruh rakyatnya turun minum air ke sungai dan memilih serta memisahkan antara yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat dengan orang yang berlutut untuk minum. waktu itu, jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Yang dipilih maju perang adalah yang minum dengan cara menghirup pakai tangan.
Kalau dipikir.... apa kira-kira ada penjelasan ilmiahnya? Tapi ini barangkali merupakan sebuah "tes psikologi" paling awal yang tercatat dalam sebuah buku.
(nur agustinus - 14 Maret 2007)
Di sisi lain, sebenarnya mau tidak mau harus diakui bahwa psikologi banyak memberi manfaat dan membawa dampak yang sangat siginifikan bagi perkembangan budaya dan kualitas hidup manusia. Tentu saja, ibarat koin uang, psikologi bisa punya dua sisi yang berbeda, tergantung mau dipakai buat apa. Misalnya saja, dengan psikologi diketahui bahwa ada dampak tayangan televisi pada seseorang, sehingga itu bisa mengerem tayangan-tayangan yang sangat sadis tidak muncul di tv. Atau, perubahan pola asuh anak, proses belajar, juga karena sumbangan dari psikologi.
Ada banyak rumah tangga yang tidak jadi bercerai, atau mungkin akhirnya bercerai namun secara baik-baik, itu juga bisa karena bantuan dari psikolog. Walau tidak menutup kemungkinan, ada psikolog yang secara tak sengaja (atau mungkin sengaja) membuat kesalahan dalam penanganan sehingga hasilnya menjadi buruk.
Banyak perusahaan yang kemudian melakukan seleksi saat menerima pegawainya dengan bantuan dari psikologi. Walau karena ini pula, ada orang yang kemudian ciut nyalinya kalau mesti mengikuti psikotes. Atau kemudian sering merasa gagal dalam proses seleksi yang satu itu. Namun proses seleksi ini sudah ada sejak jaman bahuela. Kalau pernah baca di kitabnya orang kristen yang disebut bibel itu, di kitab Hakim-Hakim 4, saat itu Gideon jadi pemimpin bangsa Israel yang mau menggempur bangsa Midian dan Amalek, ada cerita bahwa Gideon menyaring tentaranya untuk dipilih mana yang bakal maju ke medan perang dan mana yang tidak. Caranya agak aneh dan tidak pernah dipakai dalam ilmu psikologi maupun strategi militer Sun Tzu, yakni Gideon menyuruh rakyatnya turun minum air ke sungai dan memilih serta memisahkan antara yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat dengan orang yang berlutut untuk minum. waktu itu, jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang, tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya berlutut minum air. Yang dipilih maju perang adalah yang minum dengan cara menghirup pakai tangan.
Kalau dipikir.... apa kira-kira ada penjelasan ilmiahnya? Tapi ini barangkali merupakan sebuah "tes psikologi" paling awal yang tercatat dalam sebuah buku.
(nur agustinus - 14 Maret 2007)
Apa gunanya hukuman?
Soal hubungan antara penjahat dengan hukuman, memang sepertinya kuat atau lemahnya hukuman tidak mempengaruhi banyak atau sedikitnya penjahat. Namun apa sih gunanya hukuman itu?
Kita coba bicara pada lingkup yang lebih sederhana, yaitu pada anak-anak. Ketika seorang anak sekolah melakukan pelanggaran, misalnya mencontek, dan hal itu diketahui oleh sang guru, maka dia akan mendapatkan hukuman. Apakah dengan adanya guru yang sangat tegas dan hukuman yang sangat berat akan membuat si tukang contek jera? Belum tentu. Barangkali si tukang contek akan terus menerus berpikir secara kreatif, bagaimana mengembangkan ilmu mencontek yang tidka ketahuan oleh gurunya. Namun, hukuman itu cukup efektif untuk mencegah anak lain yang bukan tukang contek untuk kemudian mencontek.
Ah, mungkin ada yang protes. Anak yang tidak suka mencontek, dia tetap tidak akan mencontek meski tidak ada hukuman. Bahkan tak ada guru yang mengawasipun, dia tetap tidak akan mencontek.
Ya, ini bisa benar. Hukuman ternyata tidak mempunyai makna apa-apa bagi mereka yang jujur. Dengan kata lain, ada hukuman atau tidak, dia tetap tidak akan mencontek.
Lalu, di mana fungsinya hukuman? Apakah hukuman hanya sekedar bentuk menunjukkan power dari pemberi hukuman kepada yang terhukum?
Bagi penjahat, fungsi hukuman bisa tidak hanya dengan harapan supaya dia jera, tapi selama dia dalam penjaranya, maka dia tidak akan melakukan tindak kriminalnya. Maka, hukuman paling efektif bagi siswa yang suka mencontek adalah menempatkannya duduk di paling depan yang sangat ketat pengawasannya. Dengan kata lain, fungsi hukuman bukan mengubah kebiasaan pelakunya, namun meniadakan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan perbuatannya itu.
Kita tentu pernah dihukum, mungkin oleh orangtua, oleh guru, atau bahkan oleh atasan maupun orang lain. Hukuman dibuat tidak menyenangkan karena secara teori dan secara akal sehat, mestinya, hal yang tidak menyenangkan cenderung untuk tidak diulang.
Ada yang mengatakan bahwa fungsi hukuman adalah untuk mencegah orang lain untuk melakukan perbuatan serupa. Di sini, diharapkan orang belajar melakukan melihat pengalaman orang lain yang melanggar aturan. Ini bisa efektif, terutama bagi yang 'bawaan'nya penakut dan punya kecenderungan untuk patuh (tingkat konformnya tinggi). Tapi tidak untuk mereka yang termasuk tipe pemberontak.
Dalam sebuah tayangan discovery health (discovery channel) tentang anak-anak yang memiliki gangguan perhatian yang disertai hiperaktif (ADHD), ternyata banyak penjahat yang kambuhan serta cenderung psikopat, mempunyai kecenderungan ADHD. Mereka pemarah, mudah kehilangan kontrol atas dirinya dan sangat agresif. Sebagian mungkin justru pendiam, pintar namun menggunakan kepintarannya untuk mencari celah-celah untuk menipu. Meski kita membaca bahwa ada banyak hacker yang ditangkap dan dihukum berat, namun hacker-hacker baru tetap bermunculan.
Kesimpulannya menurut saya, fungsi hukuman bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang untuk supaya dia jera, ada yang untuk supaya dia tidak melakukan apa yang dipikirkannya, atau agar dia tidak punya kebebasan untuk melakukan tindakannya.
Adalah menarik jika kita belajar dari perancis, dengan legiun tentara asingnya, di mana mereka memberi kesempatan kepada para kriminal dan penjahat untuk menjadi tentara yang dikirim ke medan perang dan kalau mereka selamat dan melaksanakan tugasnya dengan baik, maka kebebasan akan menanti dirinya. Dalam banyak hal, sepertinya ini cukup efektif.
(nur agustinus - 11 Januari 2007)
Kita coba bicara pada lingkup yang lebih sederhana, yaitu pada anak-anak. Ketika seorang anak sekolah melakukan pelanggaran, misalnya mencontek, dan hal itu diketahui oleh sang guru, maka dia akan mendapatkan hukuman. Apakah dengan adanya guru yang sangat tegas dan hukuman yang sangat berat akan membuat si tukang contek jera? Belum tentu. Barangkali si tukang contek akan terus menerus berpikir secara kreatif, bagaimana mengembangkan ilmu mencontek yang tidka ketahuan oleh gurunya. Namun, hukuman itu cukup efektif untuk mencegah anak lain yang bukan tukang contek untuk kemudian mencontek.
Ah, mungkin ada yang protes. Anak yang tidak suka mencontek, dia tetap tidak akan mencontek meski tidak ada hukuman. Bahkan tak ada guru yang mengawasipun, dia tetap tidak akan mencontek.
Ya, ini bisa benar. Hukuman ternyata tidak mempunyai makna apa-apa bagi mereka yang jujur. Dengan kata lain, ada hukuman atau tidak, dia tetap tidak akan mencontek.
Lalu, di mana fungsinya hukuman? Apakah hukuman hanya sekedar bentuk menunjukkan power dari pemberi hukuman kepada yang terhukum?
Bagi penjahat, fungsi hukuman bisa tidak hanya dengan harapan supaya dia jera, tapi selama dia dalam penjaranya, maka dia tidak akan melakukan tindak kriminalnya. Maka, hukuman paling efektif bagi siswa yang suka mencontek adalah menempatkannya duduk di paling depan yang sangat ketat pengawasannya. Dengan kata lain, fungsi hukuman bukan mengubah kebiasaan pelakunya, namun meniadakan kesempatan bagi pelaku untuk melakukan perbuatannya itu.
Kita tentu pernah dihukum, mungkin oleh orangtua, oleh guru, atau bahkan oleh atasan maupun orang lain. Hukuman dibuat tidak menyenangkan karena secara teori dan secara akal sehat, mestinya, hal yang tidak menyenangkan cenderung untuk tidak diulang.
Ada yang mengatakan bahwa fungsi hukuman adalah untuk mencegah orang lain untuk melakukan perbuatan serupa. Di sini, diharapkan orang belajar melakukan melihat pengalaman orang lain yang melanggar aturan. Ini bisa efektif, terutama bagi yang 'bawaan'nya penakut dan punya kecenderungan untuk patuh (tingkat konformnya tinggi). Tapi tidak untuk mereka yang termasuk tipe pemberontak.
Dalam sebuah tayangan discovery health (discovery channel) tentang anak-anak yang memiliki gangguan perhatian yang disertai hiperaktif (ADHD), ternyata banyak penjahat yang kambuhan serta cenderung psikopat, mempunyai kecenderungan ADHD. Mereka pemarah, mudah kehilangan kontrol atas dirinya dan sangat agresif. Sebagian mungkin justru pendiam, pintar namun menggunakan kepintarannya untuk mencari celah-celah untuk menipu. Meski kita membaca bahwa ada banyak hacker yang ditangkap dan dihukum berat, namun hacker-hacker baru tetap bermunculan.
Kesimpulannya menurut saya, fungsi hukuman bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang untuk supaya dia jera, ada yang untuk supaya dia tidak melakukan apa yang dipikirkannya, atau agar dia tidak punya kebebasan untuk melakukan tindakannya.
Adalah menarik jika kita belajar dari perancis, dengan legiun tentara asingnya, di mana mereka memberi kesempatan kepada para kriminal dan penjahat untuk menjadi tentara yang dikirim ke medan perang dan kalau mereka selamat dan melaksanakan tugasnya dengan baik, maka kebebasan akan menanti dirinya. Dalam banyak hal, sepertinya ini cukup efektif.
(nur agustinus - 11 Januari 2007)
Mempelajari filsafat
Dulu waktu saya kuliah di S1, saya beruntung diajar oleh seorang dosen filsafat yang menurut saya piawai, yakni pak Poerwadi (alm). Namun, kalau boleh saya bilang, sepertinya yang paling suka pelajaran filsafat waktu itu cuma saya seorang di antara sekitar seratusan mahasiswa yang ada bersama di kelas.
Tentu saya tidak akan menguraikan di sini apa itu filsafat. Anda mungkin sudah jenuh dengan mata kuliah yang menurut Anda tidak bermanfaat ini. Namun, kalau kita belajar sejarah psikologi, maka psikologi di awali melalui tokoh-tokoh filsafat yang membahas manusia. Filsafat juga mempelajari yang namanya filsafat logika, filsafat manusia dan juga filsafat ilmu. Hal mana yang penting menurut saya buat siapa saja, tidak terkecuali mahasiswa yang kuliah di psikologi.
Saya jadi teringat waktu saya kuliah dulu, saat belajar filsafat logika, ada banyak mahasiswa yang bingung soal silogisme, pemikiran deduktif dan induktif serta kesalahan-kesalahan logika. Padahal, sepertinya hal itu mudah-mudah saja. Orang sudah merasa sesuatu yang disebut "filsafat" itu sulit sehingga sudah ada hambatan.
Pak Poerwadi mengajarkan mahasiswanya tidak dengan mengharuskan membaca textbook filsafat yang tebal dan sulit dipahami. Namun dia menyuruh mahasiswanya membuat ringkasan buku, seperti buku novel "Anak Bajang Menggiring Angin", "Pengakuan Pariyem" dan sejenisnya. Melalui karya-karya seperti itu, beliau mengajak mahasiswanya untuk memahami, apa itu manusia.
Filsafat memang sepertinya momok, tapi sebenarnya tidak harus begitu. Belajar filsafat juga tidak membuat orang menjadi atheis. Seseorang seperti Jalaluddin Rumi juga bisa dikategorikan sebagai filsuf. Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana".
Belakangan, ketika saya kuliah S2, saya baru mendapatkan pencerahan bahwa tidak semua orang suka filsafat. Hal ini barangkali berkaitan dengan tipe kepribadian, dan saya melihatnya melalui tipe kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) yang dasarnya adalah tipe kepribadian menurut Carl G. Jung.
Pembagian dikotomi MBTI adalah sebagai berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator
Extraversion (E) >< Introversion (I)
Sensing (S) >< iNtuition (N)
Thinking (T) >< Feeling (F)
Judging (J) >< Perceiving (P)
Menurut dosen saya di S2, Prof. Dr. M. As'ad Djalali, SU., yang saat itu mengajar Filsafat Ilmu, saat saya bertanya apakah ada ciri tertentu seseorang itu suka berfilsafat, beliau menjawab barangkali hal itu berkaitan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung introversion (introvert), intuition (intuisi), Thinking (pemikir) dan Perceiving (pengamat) atau INTP. Walau ini tidak mutlak, namun ada kecenderungan seperti itu, sebab orang yang mau menyendiri dan merenung untuk berpikir (bukan melamun), biasanya adalah orang yang introvert + intuisi + pemikir. Seseorang yang "Perceiving" (pengamat) lebih mudah untuk menggali lebih jauh pada esensi ketimbang seorang judging (penilai) yang cenderung menentukan dan memberi label (memvonis).
Berdasarkan hal itu, saya jadi paham, mengapa tidak semua orang suka atau bisa diajak berfilsafat. Lebih jauh lagi, mahasiswa yang suka filsafat, sering dianggap "nerd" oleh teman-temannya... Beruntung saya tidak dianggap begitu saat itu...
(nur agustinus - 10 September 2008)
Tentu saya tidak akan menguraikan di sini apa itu filsafat. Anda mungkin sudah jenuh dengan mata kuliah yang menurut Anda tidak bermanfaat ini. Namun, kalau kita belajar sejarah psikologi, maka psikologi di awali melalui tokoh-tokoh filsafat yang membahas manusia. Filsafat juga mempelajari yang namanya filsafat logika, filsafat manusia dan juga filsafat ilmu. Hal mana yang penting menurut saya buat siapa saja, tidak terkecuali mahasiswa yang kuliah di psikologi.
Saya jadi teringat waktu saya kuliah dulu, saat belajar filsafat logika, ada banyak mahasiswa yang bingung soal silogisme, pemikiran deduktif dan induktif serta kesalahan-kesalahan logika. Padahal, sepertinya hal itu mudah-mudah saja. Orang sudah merasa sesuatu yang disebut "filsafat" itu sulit sehingga sudah ada hambatan.
Pak Poerwadi mengajarkan mahasiswanya tidak dengan mengharuskan membaca textbook filsafat yang tebal dan sulit dipahami. Namun dia menyuruh mahasiswanya membuat ringkasan buku, seperti buku novel "Anak Bajang Menggiring Angin", "Pengakuan Pariyem" dan sejenisnya. Melalui karya-karya seperti itu, beliau mengajak mahasiswanya untuk memahami, apa itu manusia.
Filsafat memang sepertinya momok, tapi sebenarnya tidak harus begitu. Belajar filsafat juga tidak membuat orang menjadi atheis. Seseorang seperti Jalaluddin Rumi juga bisa dikategorikan sebagai filsuf. Filsafat meninjau dengan pertanyaan "apa itu", "dari mana" dan "ke mana".
Belakangan, ketika saya kuliah S2, saya baru mendapatkan pencerahan bahwa tidak semua orang suka filsafat. Hal ini barangkali berkaitan dengan tipe kepribadian, dan saya melihatnya melalui tipe kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) yang dasarnya adalah tipe kepribadian menurut Carl G. Jung.
Pembagian dikotomi MBTI adalah sebagai berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Myers-Briggs_Type_Indicator
Extraversion (E) >< Introversion (I)
Sensing (S) >< iNtuition (N)
Thinking (T) >< Feeling (F)
Judging (J) >< Perceiving (P)
Menurut dosen saya di S2, Prof. Dr. M. As'ad Djalali, SU., yang saat itu mengajar Filsafat Ilmu, saat saya bertanya apakah ada ciri tertentu seseorang itu suka berfilsafat, beliau menjawab barangkali hal itu berkaitan dengan orang yang memiliki tipe kepribadian yang cenderung introversion (introvert), intuition (intuisi), Thinking (pemikir) dan Perceiving (pengamat) atau INTP. Walau ini tidak mutlak, namun ada kecenderungan seperti itu, sebab orang yang mau menyendiri dan merenung untuk berpikir (bukan melamun), biasanya adalah orang yang introvert + intuisi + pemikir. Seseorang yang "Perceiving" (pengamat) lebih mudah untuk menggali lebih jauh pada esensi ketimbang seorang judging (penilai) yang cenderung menentukan dan memberi label (memvonis).
Berdasarkan hal itu, saya jadi paham, mengapa tidak semua orang suka atau bisa diajak berfilsafat. Lebih jauh lagi, mahasiswa yang suka filsafat, sering dianggap "nerd" oleh teman-temannya... Beruntung saya tidak dianggap begitu saat itu...
(nur agustinus - 10 September 2008)
Menjadi bahagia
Orang bilang, kalau kebutuhan kita terpenuhi, maka kita akan bahagia. Namun, kebutuhan manusia terus menerus berubah. Dengan kata lain, manusia nampaknya tidak bisa dalam keadaan terus menerus bahagia.
Nampaknya ada teori yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:
Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.
Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.
Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.
Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.
Sophocles: Success is dependent on effort.
http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html
dan masih banyak lagi lainnya.... dan dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.
Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsangn agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.
Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia.
Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "seven spiritual laws of success". Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?
apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation."
Bahkan Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what
you think, what you say, and what you do are in harmony."
http://www.thehappyguy.com/definition-of-happiness.html
(nur agustinus - 10 Januari 2007)
Nampaknya ada teori yang mengatakan bahwa kebahagiaan berkaitan dengan masalah kesuksesan. Ada banyak definisi dan pengertian mengenai sukses ini. Ketika saya menelusuri situs-situs tentang "sukses", ada banyak pendapat tentang hal ini, misalnya:
Al Bernstein: Success is often the result of taking a misstep in the right direction.
Winston Churchill: Success is going from failure to failure without a loss of enthusiam.
Sam Ewing: Success has a simple formula: do your best, and people may like it.
Joe Paterno: Success without honor is an unseasoned dish; it will satisfy your hunger, but it won't taste good.
Sophocles: Success is dependent on effort.
http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_success.html
dan masih banyak lagi lainnya.... dan dari semua itu, apa yang dikatakan oleh mereka, dapat saya pahami bahwa apa yang ada di film Pursuit of happiness itu memang benar. Memang ketika sukses terjadi, terjadi reaksi kimia di otak yang menyebabkan orang bahagia. Saat dalam keadaan orang merasa sukses, otak mengeluarkan dopamin. Dopamin adalah drugs alamiah dari tubuh yang menghasilkan keadaan seperti ekstasi. Dopamine ini berperan penting dalam reaksi kimia dalam tubuh yang menimbulkan perasaan senang. Pelepasan dopamine pada sistem limbik (hypothalamus) inilah yang menyebabkan perasaan senang tadi.
Di sisi lain, ada hormon yang membuat orang susah, tegang dan cemas, yaitu cortisol. Cortisol diproduksi di kelenjar adrenal (dekat pinggang). Ada orang tertentu yang hidupnya stress sehingga dalam darahnya banyak terdapat cortisol. Orang ini dijamin tidak bahagia. Sementara orang yang dipenuhi (kalau bisa terus menerus) dengan dopamin, maka dia akan nampak bahagia. Namun, kadar ini tidak bisa terus menerus ada. Harus ada stimulan yang bisa merangsangn agar terproduksi secara alamiah. Persoalannya, manusia memiliki ambang yang terus menerus menerus meningkat. Tak jauh berbeda dengan orang yang sudah terbiasa menenggak pil ekstasi separuh, maka lama kelamaan kalau hanya separuh tidak cukup, dia butuh satu, kemudian butuh makin banyak lagi dosisnya. Itu sebabnya, dalam rangka mengejar kebahagiaan, manusia harus terus menerus meningkatkan harapan dan kebutuhannya.
Hanya saja, sukses dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sukses dan tidak bahagia. Bisa bahagia namun tidak sukses. Bisa sukses sekaligus bahagia, dan bisa pula tidak sukses dan tidak bahagia.
Bicara soal kesuksesan, saya teringat pada tulisan Deepak Chopra tentang "seven spiritual laws of success". Pertanyaannya, apakah kebahagiaan bisa tercapai dan bertahan ketika manusia tidak begitu berharap tinggi?
apakah kebahagiaan bisa tercapai dengan kepuasan? Apakah ketika seseorang merasa puas, maka dia juga mengalami kebahagiaan? Semisal, apakah kalau saya bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp 500 ribu sebulan, saya sudah bahagia? Atau orang untuk bisa bahagia itu harus berpenghasilan tertentu? Maka tak heran jika Bette Davis mengatakan, "You will never be happier than you expect. To change your happiness, change your expectation."
Bahkan Mahatma Gandhi juga pernah mengatakan, "Happiness is when what
you think, what you say, and what you do are in harmony."
http://www.thehappyguy.com/definition-of-happiness.html
(nur agustinus - 10 Januari 2007)
Budaya berontak
Kalau melihat sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara, sepertinya kejatuhan seorang pemimpin dikarenakan adanya kudeta atau suksesi dari bapak ke anaknya. Boleh dibilang hampir tidak ada cerita rakyat berontak. Kenapa? Barangkali ini karena masalah kasta yang telah ditanamkan sejak agama Hindu menjadi agama yang populer di Nusantara dulu. Boro-boro rakyat jelata mau jadi bangsawan. Tentu bagai mimpi seorang petani bisa jadi presiden.
Yang terjadi adalah, sebuah kerajaan hancur karena serbuan kerajaan lain. Bahkan Majapahit hancur karena serbuah dari Demak yang dimotori oleh anak raja Majapahit itu sendiri. Kudeta versi militer terjadi saat Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Namun Tunggul Ametung bukan raja, melainkan hanya penguasa Tumapel, di bawah kekuasaan raja Kediri, Kertajaya. Baru kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari dan berusaha menyerbu Kediri.
Oleh karena itu, tidak mudah rakyat Indonesia berontak. Mungkin yang bisa berontak hanya dari kalangan militer saja. Seperti misalnya peristiwa september 1965 dan juga di masanya Habibie jadi presiden, disinyalir ada upaya kudeta oleh sekelompok petinggi militer. Namun biasanya yang muncul adalah orang yang pandai mengambil peluang di tengah kekacauan. Aksi pemberontakan di Indonesia sebenarnya banyak juga.
Orang Indonesia tidak mudah disuruh untuk berontak, apalagi terhadap penguasa. Kecuali kalau dirinya secara langsung terkena imbasnya. Misalnya, konon pangeran Diponegoro berontak kepada belanda karena belanda membuat jalan baru yang akan dibangun melewati makam dan tanah leluhur Diponegoro. Hal itu membuat Diponegoro tersinggung.
Kalau berontak terhadap atasan, itu bisa saja. Bahkan berontak kepada pimpinan perusahaan juga tidak masalah. Berontak kepada raja itu lain cerita. Memang, semenjak tahun 1998, orang Indonesia lebih berani untuk berontak. Terbukti sudah berhasil membuat soeharto turun dari tahtanya. Bukan cuma itu, seorang Gus Dur juga berhasil dicopot dengan konsitusional. Bahkan kalau boleh dibilang, Indonesia merdeka tanpa berontak, namun saat mempertahankannya memang dibutuhkan pengorbanan banyak nyawa.
Untuk berontak butuh pemimpin. Sebab hanya pemimpin yang mampu membuat perubahan, sebab dia harusnya punya visi dan misi yang ingin dicapainya. Seperti di film Braveheart, bagaimana William Wallace (Mel Gibson) memimpin orang-orang skotland terhadap Inggris.
Dalam situasi yang tidak menyenangkan atau kacau, selalu saja akan ada orang yang memilih tinggal diam, tapi ada juga yang mungkin melakukan perubahan dan pemberontakan. Di sisi lain, ada juga yang memilih pindah ke tempat lain yang dirasa lebih nyaman. Ada yang menjadi pengungsi, ada juga yang menjadi imigran di negara lain.
(nur agustinus - 16 Februari 2007)
Yang terjadi adalah, sebuah kerajaan hancur karena serbuan kerajaan lain. Bahkan Majapahit hancur karena serbuah dari Demak yang dimotori oleh anak raja Majapahit itu sendiri. Kudeta versi militer terjadi saat Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Namun Tunggul Ametung bukan raja, melainkan hanya penguasa Tumapel, di bawah kekuasaan raja Kediri, Kertajaya. Baru kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari dan berusaha menyerbu Kediri.
Oleh karena itu, tidak mudah rakyat Indonesia berontak. Mungkin yang bisa berontak hanya dari kalangan militer saja. Seperti misalnya peristiwa september 1965 dan juga di masanya Habibie jadi presiden, disinyalir ada upaya kudeta oleh sekelompok petinggi militer. Namun biasanya yang muncul adalah orang yang pandai mengambil peluang di tengah kekacauan. Aksi pemberontakan di Indonesia sebenarnya banyak juga.
Orang Indonesia tidak mudah disuruh untuk berontak, apalagi terhadap penguasa. Kecuali kalau dirinya secara langsung terkena imbasnya. Misalnya, konon pangeran Diponegoro berontak kepada belanda karena belanda membuat jalan baru yang akan dibangun melewati makam dan tanah leluhur Diponegoro. Hal itu membuat Diponegoro tersinggung.
Kalau berontak terhadap atasan, itu bisa saja. Bahkan berontak kepada pimpinan perusahaan juga tidak masalah. Berontak kepada raja itu lain cerita. Memang, semenjak tahun 1998, orang Indonesia lebih berani untuk berontak. Terbukti sudah berhasil membuat soeharto turun dari tahtanya. Bukan cuma itu, seorang Gus Dur juga berhasil dicopot dengan konsitusional. Bahkan kalau boleh dibilang, Indonesia merdeka tanpa berontak, namun saat mempertahankannya memang dibutuhkan pengorbanan banyak nyawa.
Untuk berontak butuh pemimpin. Sebab hanya pemimpin yang mampu membuat perubahan, sebab dia harusnya punya visi dan misi yang ingin dicapainya. Seperti di film Braveheart, bagaimana William Wallace (Mel Gibson) memimpin orang-orang skotland terhadap Inggris.
Dalam situasi yang tidak menyenangkan atau kacau, selalu saja akan ada orang yang memilih tinggal diam, tapi ada juga yang mungkin melakukan perubahan dan pemberontakan. Di sisi lain, ada juga yang memilih pindah ke tempat lain yang dirasa lebih nyaman. Ada yang menjadi pengungsi, ada juga yang menjadi imigran di negara lain.
(nur agustinus - 16 Februari 2007)
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
UFO Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini Oleh J. Salatun Yayasan Idayu Jakarta, 1982 Download https://www.mediafire.com/ ?kd79l30kbkfy3c...
-
Hari Kamis, 23 September 2010, saya mengikuti kuliah filsafat yang disampaikan oleh Romo Adrian Adiredjo, OP. Kuliah filsafatnya meng...
-
Saya dulu ikut ISPSI (Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia) yang sekarang menjadi HIMPSI. Saya jadi anggota dan saya ikut beberapa pertemuanny...
-
Saat ini banyak yang membahas soal BMC, Business Model Canvas. Bentuk dari BMC memang macam-macam, bamun karena namanya canvas, secara pr...
-
Oleh: Nur Agustinus Pasti kita sudah sering melihat, sebuah perusahaan didirikan tapi tidak bertahan lama. Ada yang bangkrut, ada yang ...
-
Prinsip 1: Bird in hand Apa yang dimaksud dengan efektuasi? Bagaimana menjelaskan cara berpikir efektuasi ini dengan mudah supaya dapat...
-
Silsilah ini didapat dari buku keluarga yang dicatat oleh Liem Pheek Hwan (kakek saya) dan oleh ayah saya juga pernah dimuat dalam buku...
-
Bersama Profesor Saras D. Sarasvathy Banyak orang ketika ditanya, apakah ingin jadi pengusaha? Pasti banyak yang ingin. Namun ketik...
-
Pada tahun 1985-1986, Sinar Harapan menerbitkan 3 buku komik berukuran besar tentang UFO. terjemahan karya Jacques Lob (naskah) dan Robert ...
-
(Oleh: Nur Agustinus) Dalam beberapa ajaran agama dikenal adanya tokoh iblis (satan). Peran iblis ini diketahui sejak awal ketika me...






