8 Sep 2021

Buku UFOs Are Real, They Are Here


 

UFOs Are Real, They Are Here
Penulis: Nur Agustinus

ISBN: 978-602-71493-6-6

Penerbit:
Bina Grahita Mandiri
Jl. Krembangan barat 31-I
Surabaya 60175
Telp. (031) 3526207
Email: binagrahita@gmail.com

Cetakan pertama: September 2021
isi: xii + 124 Halaman

Harga Rp 60.000,-

Pemesanan bisa via WA 0818307319 dengan Nur Agustinus
Untuk ongkir di luar Jawa-Bali bisa hubungi terlebih dahulu nomor WA di atas.
Transfer via BCA 6190005231
an. Agustinus Nur Pratidina S.

 

 





 

Sampul belakang



Segera terbit:
 


29 Jul 2021

Hybrid dan Transfer Soul Alien


I, Frankenstein


Oleh: Nur Agustinus

Membahas tentang alien abduction memang banyak hal yang bisa dibilang kontroversial. Fenomena ini ada yang mengatakan bahwa sudah terjadi sejak lama dan sering dikaitkan dengan aktivitas demon. Memang, perkembangan penyelidikan yang ada membuat para peneliti mau tidak mau akan kembali menengok ke penjelasan metafisika atau paranormal. Ada ruang kajian yang bersinggungan, ibarat kalau dalam budaya populer, ini bisa masuk ke genre science fiction maupun horror.

Ada sebuah film yang cukup menarik bagi saya, judulnya "I, Frankenstein", bercerita tentang Adam, ciptaan Dr. Victor Frankenstein yang merupakan makhluk hidup tapi tidak punya soul. Dia menjadi rebutan antara pihak demon (iblis) dan gargoyle. Gargoyle ini mitosnya adalah penjaga manusia dan mereka berperang melawan demon di bumi ini.  Gargoyle ini patungnya sering ada di atap-atap gereja atau bangunan kuno. Mereka makhluk bersayap, ada yang bersayap seperti kelelawar, tapi ada juga yang sayapnya seperti sayap malaikat atau burung. Makhluknya seperti batu, tetapi mereka juga bisa shape shifting, berubah wujud seperti manusia.

Para demon ini sudah berinteraksi hidup bersama manusia, punya bisnis dan komunitas. Demikian juga para gargoyle. Demon ini aslinya bentuknya seperti makhluk yang kita kenal sebagai reptilian. Mereka juga shape shifter, bisa berwujud seperti manusia. Dalam visualisasi di film "I, Frankenstein" ini, mereka terkesan seperti Men In Black. Barangkali ada pesan yang ingin disampaikan bahwa MIB adalah alien atau demon.

 

Pangeran Naberius, pemimpin demon.


Pimpinan demon ini, pangeran Naberius, ingin mempelajari ilmunya Frankenstein, yaitu membuat mayat menjadi hidup. Tujuannya, kalau mereka berhasil menghidupkan mayat menjadi makhluk hidup yang tanpa soul seperti Adam, maka soul-soul demon bisa naik dari tempat mereka yang ada di bawah bumi, untuk mengisi tubuh-tubuh tersebut. Jadi, mayat yang hidup ini akan menjadi container yang bisa dipakai mereka.

Saya teringat pada sebuah kasus alien abduction yang dialami oleh Linda Porter. Kasusnya diteliti oleh Linda Moulton Howe. Linda menceritakan bahwa ia berulang diculik oleh alien, salah satu alien yang menjumpainya adalah tipe mantis. Linda juga ditunjukkan sebuah proses pembuatan hybrid dan juga kloning, termasuk ada alat yang bisa mengeluarkan soul seseorang dan dimasukkan ke tubuh kloningannya atau hybrid yang berada di dalam tabung lain.

Pengalaman Linda Porter daat diculik alien.

 
Proses perpindahan soul yang dilihat oleh Lina Porter.
 
 

Hal ini nampaknya sama seperti yang ada di film "I, Frankenstein" ini. Bahwa tubuh-tubuh itu merupakan wadah atau container untuk diisi soul. Jadi, apakah agenda alien abduction adalah seperti itu? Membuat makhluk hybrid untuk menjadi wadah bagi para etheric beings yang saat ini ada di bumi atau dimensi lain? Lalu untuk apa makhluk-makhluk ini? Ada yang mengatakan bahwa mereka menjadi budak atau pekerja. Ada juga yang mengatakan bahwa makhluk hybrid ini akan menggantikan manusia. Jadi ini semacam agenda invasi oleh alien. Saya belum bisa menarik kesimpulan itu, namun berdasar dari banyak informasi, termasuk yang banyak dipaparkan di budaya populer, memang makhluk-makhluk hybrid ini direncanakan untuk menggantikan kita, sebagai suatu proses evolusi. Atau... jangan-jangan kita sendiri yang saat ini berkuasa di bumi ini, dulunya juga makhluk hybrid yang menggantikan spesies cerdas yang ada di bumi ini sebelumnya, seperti manusia neanderthal dan lainnya. 

(Surabaya, 29 Juli 2021)

Identified Flying Objects (IFO)

Kemarin, 29 Juli 2021, ada video yang viral, katanya sejumlah ufo yang sangat banyak nampak di Bandung. Saya saat melihat videonya, langsung teringat pada pengalaman saya sendiri sekitar 3 tahun lalu. Saat itu, tanggal 1 Juli 2018, sekitar jam 1:45 siang. Saya yang saat itu ada di lantai dua di kamar anak saya, melihat ada sejumlah bola-bola putih terbang di langit.

Sontak saja saya terkejut. Wah saya akhirnya lihat UFO! Lalu, saya buru-buru turun ke bawah, bawa HP untuk motret dan keluar rumah untuk melihat langit yang lebih luas. Beberapa kali saya memotret obyek tersebut, sebagian besar hasilnya kabur, namun ada beberapa yang jelas. Akan tetapi... setelah saya amati dengan seksama, obyek-obyek yang bergerombol terbang lambat searah itu saya pastikan adalah balon gas.

Waktu itu hari Minggu. Di dekat rumah saya ada gereja dan besar kemungkinan ada yang lagi melepaskan balon di acara pernikahan. Ya,kecewa juga ternyata itu bukan pesawat alien hehehe.... Dengan pengalaman ini, saya menduga kuat bahwa yang terekam video di Bandung itu adalah balon. Tapi itu pendapat saya. Kalau mau bilang itu UFO, ya silahkan. 

 
Foto-foto yang saya pasang di bawah ini adalah foto yang saya ambil tanggal 1 Juli 2018, di depan rumah saya, jalan Gatotan, Surabaya.
 
 
 
 



9 Nov 2020

Mengapa saya kuliah di psikologi?

Kalau mengenang akan hal ini, maka ingatan saya akan kembali ke masa saya masih sekolah di SMP dan SMA. Saat SMP, saya memiliki minat yang tinggu terhadap dunia astronomi. Saya beruntung orang tua saya memperhatikan hobby saya dan saat ulang tahun (waktu itu kelas dua SMP), saya diberi hadiah teleskop. Tentu hal ini membuat saya makin suka meneropong langit tiap malam. Naik ke atap dan menikmati pemandangan bintang-bintang di langit yang saat itu masih bisa diamati di Surabaya. Paman saya yang juga saat itu tinggal serumah, dan beliau hobby fotografi, mengajarkan ke saya memotret bintang-bintang dengan kameranya yang bisa diatur bukaan lensanya selama beberapa detik sehingga bisa menghasilkan gambar bintang-bintang yang begitu banyak.

Saat itu, dengan teropong yang saya miliki, yang kemampuannya memang masih rendah, pembesaran kalau tidak salah hanya maksimal 60x, saya sudah bisa melihat cincin saturnus, empat satelit Jupiter dan juga kawah-kawah di bulan. Sampai lulus SMP, saya tetap berangan-angan menjadi seorang astronom. Saya juga berkirim surat kepada penulis di majalah Mekatronika dan juga dosen di astronomi ITB.

Saat SMA kelas 1, saya mendapat pelajaran sejarah dari seorang frater, namanya Frater Fidelis. Beliau mengajarnya begitu menarik. Dengan segera menjadi guru idola di sekolah saya. Banyak yang menyukainya. Gara-gara ini, saya sempat tertarik untuk nantinya kuliah di arkeologi. Mungkin juga saya terpengaruh dengan bacaan buku karya Eric von Daniken yang menulis tentang kunjungan astronaut dari bintang lain di masa lalu. Tapi Frater Fidelis mengatakan, buat apa kuliah di sana, nggak ada duitnya. Saya hanya senyam senyum saja waktu itu. Tapi memang, keinginan untuk menempuh studi di arkeologi tidak lama dan kemudian pupus.

Saat di SMA, saya bukan pelajar yang pandai, khususnya untuk mata pelajaran IPA. Walau saya masuk jurusan IPA, namun untuk pelajaran seperti Fisika, Kimia dan juga matematika, boleh dibilang nilai-nilainya termasuk jelek. Sering kalau ulangan fisika, saya hanya dapat nilai 20 untuk ongkos nulis. Pernah guru fisika saya bertanya ke saya, saya ingin kuliah apa, saya jawab ingin masuk astronomi. Beliau lantas ketawa dan bilang, mana bisa? Saya ya maklum, nilai-nilai pelajaran fisika saya memang buruk.

Saya tidak ingat persis tahun berapa, tapi kemungkinan saat saya kelas 3, ayah saya mendapat promosi di tempat kerjanya. Ayah saya oleh pimpinannya diangkat menjadi orang kepercayaannya untuk mengelola majalah Liberty. Saat itu berarti sekitar tahun 1982 atau awak tahun 1983. Ayah saya yang juga seorang jurnalis, memang sudah puluhan tahun kerja di majalah Liberty, penuh antusias mengelola majalah ini. Saat itu, ayah saya memang pernah bilang dan menyarankan agar saya kuliah di psikologi. Menurut ayah saya, kalau saya kuliah di psikologi, nanti saya akan bisa membantu beliau dalam mengelola perusahaan majalah Liberty ini. Saya mengiyakan saja, dan memang karena alasan ini, saya juga mendaftar di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Selain mendaftar di sana, untuk pendaftaran Proyek Perintis I (untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri), saya akhirnya malah tidak memilih astronomi sebagai pilihan pertama, melainkan saya memilih ke Meteorologi dan Geofisika di ITB. sebenarnya saya bisa masuk ke IPB secara langsung tanpa tes (jalur khusus) karena saya memenangkan juara II di Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI-TVRI tahun 1983, namun karena saya tidak meminati bidang biologi dan pertanian, jadi saya tidak memilihnya. Selain itu, saya juga mendapat di FKIP jurusan FMIPA di Unika Widya Mandala. Baik di Ubaya dan di WM, diterima. Namun saya akhirnya memilih di Psikologi Ubaya. Saya tetap ingat, dengan tujuan saya bisa membantu ayah saya setelah lulus nanti.

Sekitar tahun 1985, ada peristiwa yang tidak begitu baik di tempat kerja ayah saya. Perusahaan majalah Liberty ternyata dijual oleh pemiliknya ke orang Jakarta. Dan dari pemilik baru ini, sepertinya tidak suka dengan ayah saya. Mungkin juga ingin mengisinya dengan orang-orang baru yang bisa diatur mereka. Ayah saya memang idealis orangnya. Jadi ayah saya akhirnya disingkirkan. Ini membuat ayah saya depresi, sakit. Pertolongan kemudian datang dari Pak Dahlan Iskan, yang kemudian menawari ayah saya untuk bekerja di Jawa Pos. Waktu ayah saya berhenti dari majalah Liberty, saya sempat bertanya ke ayah saya, buat apa saya kuliah psikologi? Ayah saya bilang, " jadilah orang dewasa... orang dewasa itu like or dislike. akan menyelesaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya." Jadi saya tetap menekuni psikologi, menyelesaikan kuliah. Jawa Pos sendiri memang kemudian membeli majalah Liberty, dan ayah saya kemudian ditugaskan mengelola kembali majalah Liberty. Saya bisa melihat ada kebanggan pada ayah saya bisa kembali lagi ke kantor Liberty. Walau sakit, tetap dipaksakan bekerja. Ayah saya tidak ingin mengecewakan Pak Dahlan Iskan yang telah membantunya dari keterpurukan. Ayah saya tidak menghiraukan kondisinya yang sakit diabates dan paru-paru. Kata dokter memang harus istirahat total agar sembuh. Tapi ayah saya tidak bisa diam. Tidak bisa disuruh istirahat. Hingga akhirnya setelah lima tahun ikut Jawa Pos, di tahun 1990, ayah saya meninggal dunia.

Saat itu, sebelum ayah saya meninggal dunia, sebenarnya saya sudah lulus kuliah psikologi bahkan juga sudah lulus kuliah MBA. Saya lulus psikologi (ujian lokal tahun 1988) lalu mengambil kuliah MBA dibiayai seorang teman ayah saya yang merasa berutang budi ke ayah saya. Lulus MBA tahun 1990, cuma saat itu kemudian lulusan MBA tidak diakui negara, dan orang harus kuliah MM lagi agar gelarnya diakui. Saya tidak ada biaya untuk itu, jadi ya tetap pakai gelar sarjana psikologi dan MBA.

Namun saat itu... setelah lulus saya tidak bekerja. Saya memang menghasilkan uang dari honor menulis. Sebelumnya saya memang pernah bekerja di tahun 1988 sebagai staf personalia di sebuah pabrik cold storage udang di sidoarjo, kemudian saya bergabung ke perusahaan real estate yang bossnya membiaya saya kuliah MBA, namanya Pak Hartono Wibowo. Namun saat itu keadaannya krisis, ada Pakto 88 yang kemudian disusul dengan kencangkan ikan pinggang. Bisnis real estate banyak yang rontok, termasuk usaha boss saya. Jadi saat itu saya menganggur di rumah, namun saya tetap rutin menulis artikel di Jawa Pos dan majalah Liberty. Honor yang saya terima lumayan. Saya sudah sejak SMP menulis di majalah, sehingga waktu kuliah juga biaya sendiri dari honor menulis. Nah, saat itu, ayah saya yang sedang sakit memanggil saya, bertanya kepada saya begini, " Kalau adikmu ditanya teman-temannya, kakakmu kerja apa? Apa yang akan mereka jawab? Mereka bisa malu kalau bilang kakaknya menganggur. Memang kamu punya penghasilan, tapi orang akan melihat kamu pengangguran." Sebelumnya memang saya pernah dipanggil wawancara di beberapa perusahaan, tapi gajinya kecil dan masih lebih banyak dari honor saya menulis. Juga kerjanya menurut saya tidak cocok. Jadi saya belum menerima pekerjaan itu. Menjawab pertanyaan ayah saya itu, saya diam sebentar, lalu kemudian saya menjawab, "Nur mau buka usaha sendiri, boleh?" Ayah saya menjawab boleh. Lalu, malamnya saya merenung di garasi yang gelap, sambil memikirkan, nama apa yang akan saya pakai untuk usaha yang saya buat. Hasilnya saya mendapatkan nama Bina Grahita Mandiri. Grahita itu artinya mental atau jika. Jadi kalau diartikan, membina jiwa mandiri. 

Saya kemudian mulai terima jasa konsultasi. Saya juga menulis rubrik psikologi di majalah Liberty dan itu memudahkan saya mempromosikan diri sehingga ada yang kemudian datang untuk berkonsultasi. Ada suami istri yang ingin bercerai, ada anak yang hiperaktif, dan lain sebagainya. Namun kemudian, di bulan Juni ayah saya meninggal. Setelah itu saya membukan usaha saya lebih gencar lagi. Memang bukan perusahaan besar, tapi bisa menghindupi keluarga hingga saat ini. Setelah selang beberapa tahun kemudian, saya kemudian mengambil kuliah S2 Psikologi juga. Setelah lulus, Ibu saya yang menjabat sebagai Direktur Pasca Sarjana di Unika Widya Mandala, membuka program S3 Manajemen. Saya kemudian tertarik ikut juga. Ada teman yang juga ikut bersama, namanya Ragil Sugiharto. Sayang teman saya kemudian meninggal dunia dan saya sendiri kemudian terlalu asyik bekerja di Universitas Ciputra, sehingga meski saya sudah menjadi kandidat doktor, tapi saya tidak berhasil menyelesaikan disertasi saya. 

Saat kerja di kampus, saya memegang distance learning khusus untuk mendidik para Buruh Migran Indonesia yang ada di luar negeri, khususnya di Hong Kong, walau ada juga yang dari Korea Selatan, Malaysia. taiwan dan juga di Kanada. Saya sempat juga dipercaya memimkpin departemen Social Entrepreneuship, yang memberi pelatihan bersama dinas koperasi dan dinas sosial Pemkot, untuk melatih entrepreneurship para pedagang kaki lima, anak-anak risiko putus sekolah, remaja nakal hingga mantan pekerja seks. Saya kemudian ambil  keputusan untuk tidak meneruskan kuliah S3 saya. Saya sendiri kemudian di tahun 2016 berhenti dari tempat kerja saya, mengelola kembali usaha saya, Bina Grahita Mandiri, yang selama itu tetap berjalan dikelola istri saya. Entah di kemudian hari, jika masih ada kesempatan dan niat, mungkin saya akan kuliah S3 lagi. Mungkin untuk saat ini, saya lebih baik menekuni kembali dunia UFO, juga bila mungkin, membuat legacy yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

16 Feb 2020

UFO fans in Indonesia on why extraterrestrial life should be taken seriously in a country wedded to the occult

Members of Beta-UFO Indonesia, the country’s biggest online UFO enthusiast community, with 13,000 active Facebook group members. Most Indonesians are more likely to ascribe unexplained phenomena to the occult than to extraterrestrial beings.






Lifestyle 

Sunday, 16 February 2020

UFO fans in Indonesia on why extraterrestrial life should be taken seriously in a country wedded to the occult

  • Just 13,000 strong, Indonesian Facebook group of believers in alien life, Beta-UFO, are up against a widespread belief in ghosts in nation of 265 million
  • They talk about what convinces them UFOs exist, and why Indonesia should take them seriously and launch its own space programme to investigate further



Dino Michael has spent a lot of time looking up at the stars in the night sky, ruminating on the possibilities of life out there. If there were extraterrestrial life forms, what would they look like? What would they be doing? And, maybe most importantly, when would they make contact with humans?
“Then I thought, maybe they already did and we just didn’t realise it. After all, there are historical notes that indicate this is the case,” he muses.
Michael, a 49-year-old Indonesian office worker, is a UFO enthusiast.
While it remains a niche interest, research into unidentified flying objects has been slowly evolving from a nerdy pastime into a phenomenon that is being examined closely by scientists.

Indonesians interested in UFOs, like Michael, are likely to be followers of Beta-UFO, the largest online UFO enthusiast community in the Southeast Asian country with more than 13,000 active Facebook group members. Beta stands for Benda Terbang Aneh (Indonesian for unidentified flying objects).

Members report mysterious sightings in the night sky and discuss extraterrestrial-related topics, such as foo fighters (not the rock band, but a second world war term for mysterious aerial phenomena) and plans by the American space agency Nasa and its associates, including the Artemis programme’s aim to send 13 astronauts to Mars.

Beta-UFO members believe it is time to take the possibility of extraterrestrial life seriously.
“We live in a time where many countries, such as China and India, are focused on space exploration, including the possibility of life out there,” says Michael, who thinks Indonesia needs to play a part too.
The Beta-UFO group, initially established in 1997 as a mailing list, has seen Indonesian interest in UFOs expand over the last two decades. Since its inception, founder Nur Agustinus has worked to bring UFOs into mainstream conversation. His community has published fanzines dedicated to UFOs, conducted surveys and held regular gatherings and seminars where senior members of the group pass on their knowledge to a younger generation.
Children of BETA-UFO research group members look through a telescope at a recent meet-up.
Beta-UFO members actively blog and vlog on YouTube. The group’s website, betaufo.org, includes an exhaustive list of hundreds of UFO sightings around Indonesia, from 1883 until the present.
Despite members’ enthusiasm, their 265 million fellow Indonesians remain largely indifferent to UFOs. They take more of an interest in equally mysterious matters – the occult.
“Indonesians are often sceptical [about UFOs and aliens], not because of scientific reasoning but because they are more inclined to think that any unexplained happening must involve the mystical,” says Agustinus, who is a psychologist. “For them, it is easier to believe in ghosts.”
As well as diligently posting updates and answering queries on the community’s Facebook page and website, Agustinus, 53, still frequently blogs about his passion. He says he is enamoured with the idea that other beings exist in space, and that unknown extraterrestrials will one day reach out to humans.

He says he got hooked on the notion of alien contact when he read a 1978 Indonesian newspaper article that encouraged him to read books by Desmond Leslie and George Adamski, who jointly wrote Flying Saucers Have Landed. That book, published in 1953, “was a very intriguing and extraordinary read for me at the time”, Agustinus recalls. He acknowledges that most investigators have since concluded Adamski, an American who purported to have travelled on alien spacecraft, was a con artist.

"To seek intelligent life beyond us, if we are serious about it, will benefit Indonesia. It will encourage us to engineer spacecraft of our own, and to dive deeper into scientific and technological studies," Dino Michael, 49, UFO enthusiast

Beta-UFO group founder Nur Agustinus gives a lecture about the community in Malang
The psychologist became engrossed in the idea of alien visitors after reading Swiss writer Erich von Daniken’s popular book Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past. The bestseller posited that the technologies and religions of ancient civilisations were actually brought to Earth by extraterrestrial visitors, who were believed by our ancestors to be gods.
Published in 1968, Chariots was popular for a long time, selling millions of copies in numerous languages and spawning sequels from the prolific Von Daniken, including The Gods Were Astronauts and The Gods Never Left Us. But the writer’s premise has now been dismissed by many academic experts and his so-called proof discredited as fraudulent.
Even so, the influence of the original Chariots book is still sporadically seen in science fiction – most recently in the 2012 blockbuster film Prometheus, directed by Ridley Scott.

Agustinus has also read the work of English astronomy science writer and UFO sceptic Ian Ridpath, who wrote the 1988 book Star Tales, among other scientific works.
Far from being a cult or simply a hobby collective, Agustinus’s Beta-UFO community includes members driven to proving that an interest in worlds beyond the Earth can be both credible and worthwhile. The impetus for these members isn’t mere curiosity, but the chance to help their country progress scientifically.
“To seek intelligent life beyond us, if we are serious about it, will benefit Indonesia,” says Michael. “It will encourage us to engineer spacecraft of our own, and to dive deeper into scientific and technological studies.”

For instance, he believes the planet Saturn’s largest moon, Titan, has enormous potential for human settlement and that further investigation is urgently needed. Many Indonesian scientists, he adds, are already assisting with this sort of high-level scientific work around the world.
“A lot of our people abroad are involved in important physics discoveries such as work on quarks and the Higgs boson particle,” he says.
Anugerah Sentot Sudono is a senior Beta-UFO member who has been part of the community since its early days. He says the development of scientific knowledge is integral to the study of UFOs.

An IT learning development manager, Anugerah has expanded his interest in UFOs and outer space into related subjects in the fields of humanity, astronomy, biology, physics, geology and palaeontology. Like many of his fellow space enthusiasts, he says he is obsessed with books on these subjects and always keen to learn more. An avid collector of UFO and alien literature, he often resorts to photocopying articles if he cannot buy the publications.
Senior members of Beta-UFO are fascinated by the philosophical questions surrounding the possibility of extraterrestrial existence. Anugerah says these questions are deep and difficult, and they awaken musings on the nature of the human race, where humanity is heading in the vast expanse of the universe, how humans might deal with alien beings, and the potential for either immense leaps forward or utter disaster.
They are questions that he has been exploring since 1990, the year he says he first saw a UFO with his own eyes.

“It was June or July in Bogor [a city in West Java] around midnight,” he says. “I was there for my high-school farewell party. Our class was staying at a house there in the hilly area. I fell asleep but was awakened for some reason. I went outside and saw a bright, white, oval-shaped object slowly manoeuvring downwards.
“It was not the moon because the moon was on the other side. Three of my friends and myself stared at it for about five minutes before it flew off and disappeared on the other side of the hill.”
Anugerah says he has not been blinded by his experience despite his enduring personal interest in UFOs. He describes it an “anti-mainstream” interest and readily admits that a lot of UFO research is “pseudo science” at worst, and “debatable” at best. “You cannot force someone to start getting into this,” he says.

For his part, Michael says that on the balance of probabilities, it does not seem as though humans are alone in the universe.
“These extraterrestrial beings appear to be very intelligent,” he says, explaining that his conclusion is drawn from the many books and articles he has read and the documentaries he has watched on the subject.
“We can learn a lot from them, especially about their technological capabilities. If we can overcome all of the barriers, then we will be ready to look for aliens in the 21st century – right alongside all the other countries that have gone to space before us.”

* * *

Marcel is a Jakarta-based journalist and writer who covers everything from culture, lifestyle, to business for the Nikkei Asian Review, Rolling Stone, VICE, The Jakarta Post, and more.








12 Feb 2020

Apa mungkin alien adalah manusia masa depan yang time travel?



Ya, memang teori seperti ini memang ada. Karena ada banyak informasi yang beredar, yang konon info tersebut datang dari alien sendiri. Namun umumnya mereka mengatakan datang dari universe yang berbeda. Jadi ada dunia paralel. Selain itu, ada juga pendapat bahwa time travel akan membuat alternate reality. Kalau saya pribadi, saya tidak meyakini teori alien adalah manusia masa depan. Penjelasan saya adalah sebagai berikut:


Ada teori, saya tidak tahu apa namanya, yang mengatakan bahwa waktu ini tidak linear. Artinya saat ini, masa depan dan masa lalu, itu sebenarnya ada bersama-sama. Teori ini dikomunikasikan dengan baik di film Interstellar. Nah, menurut teori yang meyakini bahwa ada alien dari masa depan, itu memang ada dua kemungkinan, pertama dia kembali ke masa lalu dengan artian menuju ke titik semacam "restore point"; atau dia hanya melintas ke masa yang lain dan masa ini ada bersama-sama. Ini memang lebih sulit membayangkan, misalnya saat di mana saya lahir dengan saat saya matipun ada berada bersama. Jadi, menurut pandangan para alien yang bisa menyeberang waktu itu, dia melihat bahwa ada semua pilihan waktu yang tersedia, tinggal dia memilih saja mau yang mana lalu menuju ke sana. Tentu pertanyaannya, ketika dia entah kembali ke masa lalu, atau memilih masuk ke waktu yang dipilihnya, apakah masa depan akan berubah? Menurut pendapat yang pertama, ada alternate universe. Ini sering diandaikan dengan film Terminator. Bagaimana jika seseorang ke masa lalu dan membunuh orang tuanya (paradoks penjelajah waktu). Namun pada kemungkinan kedua, di mana semua waktu itu ada bersama-sama, maka memilih suatu "masa" itu seperti orang pelesir ke suatu tempat. Tidak akan ada yang berubah. Bahkan ketika dia masuk ke masa itu, hal itu sudah ada juga sebelumnya (artinya di masa itu terjadi dia masuk ke masa itu)...   Apakah ini semua mungkin atau tidak? Bagi saya, mesin waktu atau menjelajah waktu itu belum bisa saya terima konsepnya sebagai realitas, namun bisa saya bayangkan sebagai sebuah konsep.



Berikut ada video yang bisa kita simak tentang time travel dalam film fiksi ilmiah.



Patala: Dunia di bawah bumi (Inner earth Civilization)



Dalam kepercayaan India , Patala (bahasa Sansekerta : पाताल, pātāla, apa yang ada di bawah kaki) atau Pathalam , menunjukkan alam bawah tanah alam semesta - yang terletak di bawah bumi. Patala sering diterjemahkan sebagai dunia bawah atau dunia bawah. Patala digambarkan lebih indah dari pada Svarga (surga). Patala digambarkan dipenuhi dengan perhiasan indah, kebun dan danau yang indah dan gadis-gadis iblis yang cantik. Aroma manis ada di udara dan menyatu dengan musik yang manis. Tanah di sini putih, hitam, ungu, berpasir, kuning, berbatu dan juga dari emas. Patala पाटल adalah air tawar. Paathaala पाताल adalah neraka.

Dalam kosmologi Hindu, alam semesta terbagi menjadi tiga dunia: Svarga (surga), Prithvi atau Martya (bumi / dunia fana) dan Patala ( duniabawah ). Patala terdiri dari tujuh wilayah atau lokas , ketujuh danterendah dari mereka juga disebut Patala atau Naga-loka , wilayah Naga.Para Danavas (putra iblis Danu ), Daityas (putra iblis dari Diti ), Yaksha , dan orang ular Nagas hidup di ranah Patala.




Dalam Bhagavata Purana dan Padma Purana , mereka disebut Atala, Vitala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala dan Patala. Yang menarik, Atala diperintah oleh Bala - putra Maya - yang memiliki kekuatan mistis. Pada suatu waktu menguap, Bala menciptakan tiga jenis wanita - svairiṇī ("keinginan sendiri"), yang suka menikahi pria dari kelompok mereka sendiri; kāmiṇī ("bernafsu"), yang menikahi pria dari kelompok mana pun,  dan punshchaly ("mereka yang sepenuhnya menyerahkan diri"), yang terus berganti pasangan. Ketika seorang pria memasuki Atala, para wanita ini memikatnya dan menyajikan minuman ganja memabukkan yang merangsang energi seksual pada pria tersebut. Kemudian, para wanita ini menikmati permainan seksual dengan para pelancong, yang merasa lebih kuat dari sepuluh ribu gajah dan lupa akan kematian yang akan datang.

(Ini mirip legenda Siren dalam kisah Odysseus)


Apakah ini petunjuk tentang fenomena hubungan seksual dengan alien dan hollow earth?

Referensi: Wikipedia Patala

Popular Posts