23 Nov 2013

Mengelola barang di toko: FIFO, LIFO dan FEFO

Jika menjalankan bisnis ritel, dalam mengelola persediaan barang, umumnya dikenal ada model FIFO dan LIFO. FIFO adalah First In First Out. Yang masuk pertama kali, maka dia keluar pertama kali. Misalnya, anda jual beras, maka yang anda jual terlebih dahulu adalah beras yang pertama kali masuk ke toko anda. Anda tidak benar jika menjual beras yang belakangan masuk. Jika Anda melakukan itu, maka beras yang awal masuknya, akan makin lama dan bisa rusak. Gampangnya, kalau anda punya tempat penyimpanan beras (dispenser beras), maka kalau anda menuangkan beras ke dalamnya, maka nanti ketika anda mengeluarkannya, maka yang awal dulu anda masukkan akan keluar lebih dulu. Jadi tidak mungkin ada beras lama yang tetap saja berada di dalam dtempat itu kalau yang terakhir masuk malah keluar duluan. Itu bisa juga pada penjualan barang-barang lain, misalnya rokok, sabun, shampo, termasuk juga misalnya telur. Contoh lain FIFO adalah kalau Anda datang antri dokter, maka yang datang duluan akan dilayani lebih dulu.
 
Kalau LIFO, Last In First Out. Barang yang terakhir masuk harus dikeluarkan/dijual lebih dahulu. Contohnya toko buku. Mereka akan memajang buku baru di depan. Buku baru adalah buku yang datang belakangan atau last in/terakhir datang. Demikian juga toko baju. Dia akan mengusakan yang terakhir masuk akan terjual lebih dahulu. Kalau dia menjual yang duluan masuk, maka barang yang baru akan lama keluarnya dan khawatirnya jadi ketinggalan mode. Jadi yang terakhir masuk harus pertama kali keluar.
 
Selain FIFO dan LIFO, ada juga pengelolaan persediaan dengan sistem FEFO, yaitu First Expired First Out. Ini berarti yang kadaluarsa terlebih dahulu harus keluar lebih dulu. Sistem ini biasanya dilakukan apotik, khususnya penjualan obat, atau bisa juga ritel yang menjual makanan (misalnya makanan kaleng) atau minuman yang ada masa kadaluarsanya. Jadi, walaupun barang itu datang duluan atau datang belakangan, kalau barang itu masa kadaluarsanya sudah paling dekat, maka itu yang harus dijual duluan. Ini bisa diandaikan kalau kita datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) di rumah sakit, apabila misalnya ada orang yang lebih gawat, maka ia akan dilayani lebih dulu walaupun datang belakangan dari Anda yang sudah antri duluan tapi dinilai kalah gawat darinya. Jadi persediaan barang yang punya masa kadaluarsa terlebih dahulu akan ditempatkan di posisi yang di depan agar diambil dulu oleh pelanggan, atau yang kadaluarsanya masih lama, mungkin masih disimpan di gudang.

25 Okt 2013

Solusi inovatif adalah peluang

Sering kita mendengar, di mana ada masalah, di sana ada peluang. Ya, itu benar. Ketika seseorang mempunyai masalah, maka dia membutuhkan solusi. Tentu saja, jika solusi diberikan secara tepat, orang akan rela untuk membayarnya.

Saya coba ambil contoh sebuah produk yang saat ini sudah tidak asing lagi, yakni power bank. Alat ini isinya adalah batery, yang bisa digunakan untuk mengisi ulang (recharge) batery handphone. Kalau kita tidak punya alat ini, maka handphone kita ketika baterynya habis akan mati dan mesti mencari colokan listrik untuk mengisi ulang tenaga baterynya. Itu akan menyulitkan jika kita sedang dalam perjalanan atau lupa membaca charger.

Nah, pertanyaan yang muncul, mengapa alat yang begitu berguna ini baru muncul sekitar setahun lalu? Mengapa poduk yang inovatif ini tidak ada sejak lama? Jawabannya sederhana, karena dulu orang belum butuh. Kini, dengan hadirnya smartphone dan Blackberry yang membuat ponsel tersebut selalu terhubung dengan internet, membuat boros batery. Ini beda dengan masa lalu, ketika ponsel hanya digunakan untuk telepon dan SMS. Batery bisa awet sampai berhari-hari. Kita masih ingat bagaimana produk ponsel bersaing dengan memberi informasi daya tahan baterynya, termasuk kalau digunakan untuk bicara dan jika hanya standby. Bahkan di masa lalu, orang siap membawa batery cadangan jika memang punya kebiasaan bertelepon lama-lama atau sering.

Perubahan jaman membuat gaya hidup berubah. Perkembangan teknologi juga menuntut sesuatu yang berbeda. Ponsel pintar (smartphone) membutuhkan koneksi internet terus menerus. Orang ingin melakukan update status serta menyimak informasi hampir setiap saat. Ini menimbulkan masalah. Batery handphone kita tidak lama akan segera habis, sementara kita belum bisa mengisi ulang. Apalagi kalau kita selalu bergerak (mobile), tentu akan sulit harus menunggu batery handphone kita dicharge ulang. Ini masalah... dan kita ingat, di setiap masalah, di situ ada peluang.

Saya tidak tahu, siapa yang punya ide power bank. Barangkali ketika sebuah ponsel dicolokkan ke laptop untuk transfer data, ternyata sekaligus bisa mengisi daya baterynya, muncul ide kalau sebuah batery yang bertenaga bisa dimanfaatkan untuk mengisi batery ponsel.

Inilah contoh sebuah solusi yang inovatif. Ketika ada masalah, muncul ide kreatif. Power bank adalah barang yang sangat berguna. Namun dia memang menjadi solusi atas masalah yang memang muncul belakangan ini. Ketika orang makin sering menggunakan ponselnya untuk berinternet, melakukan chatting baik melalui whatsapp, blackberry messenger atau lainnya, masalahnya adalah baterynya cepat habis. Power bank adalah solusi inovatif sehingga saat ini hampir tiap pengguna ponsel akan merogoh koceknya juga untuk membeli alat ini. Tentu di masa depan mungkin akan ada masalah lain. Saat itu pula akan muncul solusi inovatif yang bisa menjadi peluang bisnis.

Mari melatih diri peka terhadap perubahan. Dengan mindset entrepreneur, bukan sekedar konsumen, kita coba melihat masalah apa yang bakal muncul. Dari sana, kita bisa berpikir kreatif untuk menghasilkan solusi yang inovatif. Ini juga yang dikatakan, entrepreneur harus bisa melihat, berpikir, berkesan dan bertindak.

Salam entrepreneur!

27 Sep 2013

Opportunity creation

Orang biasanya berkata bahwa seorang entrepreneur itu harus pandai menemukan peluang. Tapi sesungguhnya hal yang lebih baik kalau kita bisa menciptakan peluang. Apa bedanya mencari peluang dengan menciptakan peluang?

Kalau kita mencari peluang, sebenarnya kita berusaha menemukan apa kebutuhan pasar. Namun, kalau memang pasar membutuhkan produk itu, umumnya juga sudah banyak pengusaha lain yang tahu. Jadi, ketika peluang itu ditemukan, maka berbondong-bondong orang berusaha memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Tapi bagaimana dengan menciptakan peluang? Ini kondisinya agak berbeda, bahwa pasar belum menyadari kebutuhannya, tapi kita menciptakan akan kebutuhan itu.

Saya coba memberikan ilustrasi yang semoga bisa memberi pemahaman bagaimana menemukan peluang dengan menciptakan perluang bisa berbeda hasilnya.

Beberapa tahun yang lalu, di Indonesia masuk motor produksi dari Cina. Harganya relatif lebih murah dengan model yang sama. Tujuannya adalah merebutkan pasar yang sudah ada. Permintaan sudah ada dan penawaran produk sejenis yang lain juga sudah banyak. Akibatnya, daya tarik yang ditawarkan adalah menjual motor tersebut lebih murah. Tapi ternyata hasilnya tidak semulus yang dibayangkan. Entah karena urusan kredit yang lebih sulit (karena pihak leasing ragu karena harga setelah setahun, motor tersebut turun drastis), maka motor produk Cina ini tidak bisa mengalahkan motor dari Jepang yang sudah membanjiri pasar sebelumnya.

Nah, entrepreneur meski gagal akan berusaha bangkit kembali. Benarkah pasar motor Cina memang tidak bisa berhasil? Inilah pentingnya kreativitas dan inovasi. Bagaimana dengan hal ini bisa menciptakan peluang. Apa yang kemudian dilakukan? Sudah sejak beberapa tahun ini kita mengenal motor roda tiga atau motor gerobak. Motor gerobak yang bisa mengangkut barang ini laris untuk usaha. Segmen yang berbeda, yakni para pengusaha kecil menjadi salah satu segmen pasar yang cukup besar. Jadi, dalam opportunity creation ini, atau penciptaan peluang, pasarnya yang semula belum terpikirkan serta produknya juga belum ada, menjadi sebuah peluang yang luar biasa.

Seperti diberitakan di berbagai media, pasar kendaraan bermotor roda tiga atau motor niaga di dalam negeri mulai mengalami peningkatan yang cukup meningkat. Bahkan Kementerian Perindustrian memprediksi, permintaan kendaraan roda tiga lokal bakal terus meningkat. Mereka tidak bersaing dengan merk-merk motor lain di pasar yang sudah ada, melainkan membuat pasar dengan segmen pasar tersendiri. Bahkan produknya sebelumnya tidak terpikirkan. Tentu, kini motor niaga ini sudah menjadi hal yang umum. Mulai banyak pebisnis yang masuk di bidang ini. Tapi inilah contoh sebuah kreativitas dan inovasi, yang menciptakan peluang. Bahkan karena motor yang jenis ini untuk niaga, maka proses kredit lebih mudah.

Bahwa dulu motor produksi Cina tidak laku, namun akhirnya bisa laris dalam bentuknya yang dimodifikasi. Ini seperti dalam strategi blue ocean, ada yang dikurangi, ada yang ditambahkan, dan semuanya ini untuk membuat value meningkat dengan cost yang bisa diturunkan. Tentu saja, produk ini akhirnya diterima oleh pasar. Jadi, jika suatu ketika Anda berbisnis mengalami kegagalan, jangan menyerah, bangkit lagi dan berinovasilah.

Salam entrepreneur.


9 Sep 2013

Semangat sebuah kepedulian

Siang ini baru bisa membuka laptop lagi, ada status di facebook, ada tulisan yang cukup panjang, lalu klik "see more", ternyata ada nama saya di sana.... Mungkin ini respon dari status saya pagi ini, "Jika terlalu peduli kepada orang lain memang membuat hidup jadi repot. Haruskah lebih baik menjadi seorang yang tidak peduli?" Terima kasih untuk Vivi Dwi Andriani yang telah berempati dan memberi semangat. Berikut saya salin dari status di FBnya:

Bila keadaan hidupmu menjadi sulit dan terasa berat,
Itu semua adalah hal wajar, karena engkau sedang menanjak tinggi ...

Maka kurangi beban dipundakmu,
Lepaskan yang tidak perlu, agar lebih ringan langkah kakimu ....

Buang segala keluh kesahmu
Semua pedih perihmu
Sejuta rintih tangismu,
Ikhlaskan tertinggal di masalalu ...
Lalu teruslah berlalu, menuju istana impianmu ....

Bila dalam perjalananmu engkau berpeluh debu,
Terganjal batu, dan duri tajam menusuk tubuh, usah kau hiraukan itu,
Teruslah berlalu, menuju puncak kerajaanmu ...

Namun jika keresahaan terus menggelayuti jiwamu,
Beristirahatlah sejenak ...
Sandarkan semua harapanmu
Dan lepaskan lelah jiwamu dalam pelukan kasih sayang-NYA ....

Selamat pagi dan tetap semangat Pak Nur Agustinus.

(10 September 2013)

2 Sep 2013

Inovasi Oreo

Inovasi dalam hal makanan, baik itu mulai dari makanan kecil, snack, kue, atau masakan hingga restoran, itu tidak hanya pada produknya saja, tapi bisa dari banyak aspek... termasuk cara memakannya. Salah satu contoh adalah burger McD... dulu pada awalnya, burger itu berbentuk roti persegi. Sama seperti roti tawar yang bujur sangkar, lalu dua roti di tengahnya diberi daging dan selada serta bahan lainnya. Tapi dalam perkembangannya, bentuk roti burger ini diinovasi dengan membuatnya bulat agar orang lebih mudah memakannya. Dengan betuk yang bundar, orang bisa memegang dan memakan dari arah manapun.

Contoh lain, semua pasti tahu oreo. Apa hebatnya atau uniknya oreo? Oreo terkenal dengan cara memakannya, yakni: diputar, dijilat dan dicelupin. Kalau kita lihat, oreo sebagai biskuit, itu tak ada bedanya dengan biskuit lainnya. Tapi mengapa bisa demikian terkenal? Itu terletak pada inovasi iklannya serta bagaimana mereka membudayakan cara makan yang berbeda. Inovasi cara memakan oreo, membuat orang menjadi ingat akan oreo, bukan biskuit lain. Bagi anak-anak, ini adalah menarik dan merupakan penerapan dari teori psikologi yang namanya fun theory (kegiatan memutar, menjilat dan mencelup ini menyenangkan).

Kini oreo juga melakukan inovasi secara tidak langsung, yakni membuat para penjualan minuman juice atau kedai kopi, menggunakan oreo sebagai salah stau campurannya, misalnya juice dengan oreo maupun roti dengan oreo.
Di McD juga ada es cream oreo. Bahkan kita bisa mendapatkan banyak resep yang menggunakan oreo sebagai salah stau bahan makanan atau minuman di internet.

Unggul, Langgeng, Tumbuh



Bagaimana sebuah bisnis bisa sukses? Menurut ilmu manajemen strategi yang saat ini banyak dianut, kesuksesan sebuah bisnis syaratnya ada tiga:

1. Memiliki keunggulan dalam bersaing
2. Memiliki kelanggengan hidup yang baik (sustainabilitasnya bagus).
3. Bertumbuh (growth).

Bagaimana supaya unggul dalam bersaing? Tentu supaya unggul dalam persaingan, usaha kita harus memiliki keunggulan, kelebihan atau keistimewaan tertentu dibandingkan pesaing. Inilah pentingnya inovasi. Tapi juga harus memperhatikan soal sumber daya yang dimiliki. Kalau dalam Business Model Canvas (BMC), maka key resources ini menjadi penting. kalau kita punya sumber daya yang lebih baik dari pesaing, maka kita bisa lebih unggul.

Nah, unggul dalam bersaing saja tidak cukup. Ibarat seperti manusia yang ingin hidup langgeng, maka bisnis yang kita bangun juga diharapkan bisa hidup lama atau sustain (langgeng). Kunci supaya usaha langgeng biasanya harus memiliki kinerja yang baik. Tentu saja kriteria kinerja yang baik ini bisa bermacam-macam, misalnya menghasilkan profit, dipercaya oleh pelanggan, atau lainnya.

Nah yang ketiga, kalau kita umur panjang tapi kondisi tidak sehat, maka akan membawa masalah. Bisnis akan lebih sukses kalau usaha kita bisa terus bertumbuh. Tumbuh di sini ukurannya biasanya bisa market share (pangsa pasar) yang makin besar, aset yang dimiliki makin banyak namun yang lebih utama adalah profit yang terus meningkat.

Bagaimana kita bisa mengembangkan usaha kita atau lebih dikenal dengan istilah scale-up? Ada tiga cara untuk bisa meningkatkan usaha. Pertama adalah modal. Kalau Anda punya modal banyak, usaha bisa lebih cepat berkembang. Kedua, network, kalau Anda punya relasi yang luas, ini bisa membantu pengembangan usaha Anda. Termasuk dalam hal ini adalah partnership. Nah yang ketiga adalah penggunaan teknologi. Bisnis bisa berkembang dengan memanfaatkan teknologi yang ada, misalnya saja teknologi komputer, alat-alat teknologi yang bisa membantu produksi.

Hal-hal ini harus dipelajari, bagaimana mengelola usaha dengan baik. Seringkali orang membuka bisnis baru (start-up), bahkan bisa mengembangkan secara pesat, namun akhirnya mengalami kegagalan karena tidak bisa mengelola manajemennya dengan baik. Banyak yang ingin segera action, tapi melupakan pengetahuan manajemen, akhirnya kewalahan ketika usahanya makin besar. Untuk itu, jangan abaikan ilmu manajemen. Membuka bisnis memang sebuah langkah besar, namun manajemen perlu agar usaha kita bisa unggul, langgeng dan terus berkembang.


1 Sep 2013

Entrepreneur harus scale-up

Diskusi entrepreneur vs pedagang masih belum selesai... Kalau memang entrepreneur itu sama dengan pedagang, maka apa tujuan dari belajar entrepreneurship? Apa yang membedakan belajar entrepreneurship dengan belajar bisnis? Banyak artikel yang membahas soal perbedaan antara pedagang dan entrepreneur. Dikatakan bahwa tidak semua pedagang adalah entrepreneur. Ada pedagang yang entrepreneurial dan ada yang tidak. Teori dan definisi entrepreneur memang macam-macam. Salah satu pendapat ada yang menulis seperti di sini.

 
Ini memang soal pengertian bahasa atau definisi. Apakah entrepreneur itu seorang pengusaha? Apakah businessman itu seorang pengusaha? Sepertinya, dua-duanya juga pengusaha. Dengan begitu, ada pengusaha yang entrepreneur dan da pengusaha yang businessman. Kita yang belajar entrepreneurship, biasanya mengatakan, pengusaha yang bukan entrepreneur adalah sebagai pengusaha yang SEKEDAR menjadi businessman (atau pedagang). Tapi, pedagang dalam hal ini sebagai pengusaha, tetap ada pedagang yang entrepreneurial dan ada juga pedagang yang "biasa". Namun sebenarnya kalau dikupas tuntas, tidak sesederhana hitam dan putih...



Coba lihat ilustrasi di atas, bukankah ibu penjual ayam itu seorang wirausaha? Bukankah dia berusaha sendiri... lalu, mengapa dia dibilang bukan entrepreneur? Jadi, jika pedagang belum tentu entrepreneur... maka pengusaha juga belum tentu entrepreneur... kemarin ada yang bilang, seorang bisnisman aja belum tentu entrepreneur... Nah, ini yang dari kemarin saya tanyakan, untuk bisa disebut entrepreneur itu bagaimana? Sebagian besar dengan pengetahuannya mengatakan untuk menjadi entrepreneur itu perlu invasi. Memangnya kita yakin bahwa pedagang, pengusaha atau bisnisman tersebut tidak berinovasi? Bahkan ada yang bilang, kalau cuma sekedar di kaki lama, itu belum entrepreneur. Atau, kalau masih di pasar tradisional, itu bukan entrepreneur... nah, nggak salah kalau si ibu lantas bilang, "Emangnya entrepreneur itu seperti apa sih? kok kesannya spesial dan hebat banget?"

Saya menemukan info yang menarik di internet untuk menjelaskan perjalanan seorang pengusaha. Kita bisa melihat di awal mula biasanya seorang ingin berusaha sendiri. Hal yang sama mungkin juga bisa mewakili kondisi ibu penjual ayam potong ketika pertama kali buka usaha. Di sini dikategorikan sebagai "exploring entrepreneurs". Lalu dia mulai buka warung, di mana ini menunjukkan dirinya sudah menjadi solo-preneur. Bisa jadi ibu penjual ayam itu juga sudah termasuk solo-preneur. Biasanya solo-preneur ditandai dengan keterlibatan teman, keluarga dan bootstraping.

Nah, jika dia ingin mengembangkan usahanya (scale-up), untuk itu butuh pinjaman modal agar usahanya berkembang, maka dia menjadi "Normal Growth Company". Di sini si pengusaha mulai memikirkan peningkatan revenue (pendapatan). Artinya, dia sudah ingin memperoleh lebih banyak lagi. Ada orang yang berhenti di solo-preneur... tapi ada juga yang berhenti di "Normal Growth Company". Ini akan balik kepada diagram jenis usaha yang tergantung berat ringannya masalah dan juga sedikit atau banyaknya masalah.

Kalau kemudian pengusaha tersebut mulai melebarkan sayap, buka cabang di banyak kota, maka dia bisa dianggap sebagai "High Growth Company". Penghasilan per tahunnya bisa miliaran (kalau sukses). Menarik bukan? Anda ingin menjadi apa? Tidak semua berani bermimpi menjadi "Extreme High Growth Company".

Are you an Entrepreneur?
Don't delay! 
Do it Today! 
Whatever it is...
Scale-up!

Popular Posts